cover
Contact Name
Andi Safitri Sacita
Contact Email
jurnalperbal@gmail.com
Phone
+6281213302660
Journal Mail Official
jurnalperbal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kel. Wara Utara, Kota Palopo, 91913
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
ISSN : 23026944     EISSN : 25811649     DOI : https://doi.org/10.30605/perbal
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini berisi tentang lingkup ilmu-ilmu pertanian, dengan prioritas pada ilmu dan teknologi tanaman (pangan, perkebunan, hortikultura, dan kehutanan), termasuk aspek pascapanen, sosial ekonomi, maupun ketatawilayahan.
Articles 260 Documents
Analisis Fase Mitosis dan Kromosom Meristem Akar Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Berdasarkan Waktu Fiksasi: Analysis of Mitotic Phases and Chromosomes in Root Meristems of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Based on Fixation Time Hafizhah Al-Amanah; Andi Muliarni Okasa; Siti Halimah Larekeng; Devi Armita
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/f809aw64

Abstract

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang memerlukan pengembangan genetik berkelanjutan, namun kemajuan pemuliaannya sering kali terhambat oleh kendala teknis dalam analisis sitogenetika. Standardisasi protokol sitologi, khususnya waktu fiksasi, sangat krusial untuk mengatasi masalah ukuran kromosom yang kecil dan ritme pembelahan sel yang fluktuatif pada genus Capsicum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fase mitosis dan visualisasi kromosom meristem akar cabai rawit berdasarkan variasi waktu fiksasi. Menggunakan metode preparasi squash, sampel akar kecambah berumur 8 hari difiksasi pada interval pukul 09.00 hingga 12.00, dimaserasi dengan HCl 1M, dan diwarnai menggunakan aseto-orcein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh fase pembelahan sel (interfase hingga telofase) dapat diidentifikasi, namun kualitas visualisasinya sangat bergantung pada presisi waktu pengambilan sampel. Analisis dinamika seluler mengungkapkan bahwa puncak aktivitas mitosis (mitotic peak) dengan akumulasi fase metafase tertinggi serta penyebaran kromosom yang paling jelas tercapai secara konsisten pada waktu fiksasi pukul 11.00 hingga 11.30. Sebaliknya, populasi sel pada pukul 09.00–10.30 masih didominasi oleh fase interfase. Temuan ini menetapkan standar teknis baru dalam optimasi analisis sitologi C. frutescens, yang esensial bagi keberhasilan analisis kariotipe, evaluasi ploidi, dan program rekayasa kromosom di masa depan. Cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) is a strategic horticultural crop that requires continuous genetic improvement; however, breeding progress is often hindered by technical constraints in cytogenetic analysis. Standardizing cytological protocols, particularly fixation timing, is crucial for addressing the challenges of small chromosome size and fluctuating cell division rhythms inherent in the Capsicum genus. This study aimed to analyze the mitotic phase characteristics and chromosome visualization in C. frutescens root meristems across varying fixation intervals. Using the squash preparation method, root tips from 8-day-old seedlings were fixed between 09:00 and 12:00 WIB, macerated in 1M HCl, and stained with aceto-orcein. The results demonstrated that although all cell cycle phases could be identified, the visualization quality was strictly dependent on the sampling precision. Cellular dynamics analysis revealed that the mitotic peak, characterized by the highest metaphase accumulation and optimal chromosome spread, was consistently achieved at a fixation window of 11:00–11:30 WIB. In contrast, the cell populations sampled between 09:00 and 10:30 were predominantly in interphase. These findings establish a definitive technical baseline for optimizing C. frutescens cytological analysis, serving as an essential prerequisite for accurate karyotyping, ploidy evaluation, and future chromosome engineering.
Aplikasi Bakteri Fotosintesis dan Mikoriza Terhadap Produksi Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.): The Application of Photosynthetic Bacteria and Mycorrhiza on the Production of Gustav Variety Tomato Plants (Solanum lycopersicum L.) Muh. Dzulkifly Ashan; Kafrawi Kafrawi; Zahraeni Kumalawati; Hidayati Nurkhasanah; Irfan Irfan; Ikbal Ikbal
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/pnpwj014

Abstract

Aktivitas pertanian saat ini mengedepankan pemanfaatan mikroorganisme lokal untuk membantu pertumbuhan tanaman melalui peningkatan ketersediaan unsur hara. Mikoriza dan bakteri fotosintesis berpotensi meningkatkan hasil fotosintat, namun informasi mengenai aplikasi kombinasi keduanya pada tanaman tomat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian mikoriza dan bakteri fotosintesis secara tunggal maupun kombinasi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat. Rancangan yang digunakan adalah petak terpisah dengan petak utama berupa dosis bakteri fotosintesis (D0=0 mL/L, D1=10 mL/L, D2=20 mL/L) dan anak petak berupa dosis mikoriza (M0=0 g, M1=12 g, M2=24 g, M3=36 g per tanaman). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, waktu berbuah, jumlah buah, bobot buah per tanaman, diameter buah, luas buah, dan volume akar. Hasil menunjukkan interaksi nyata pada sebagian besar parameter kecuali jumlah daun dan diameter batang yang hanya dipengaruhi faktor tunggal. Kombinasi D2M1 menghasilkan tinggi tanaman tertinggi (164,3 cm) dan waktu berbuah tercepat (43 hari). Bobot buah tertinggi (31,95 g) dan luas buah terbesar (17,15 mm²) diperoleh pada kombinasi D1M3, sedangkan jumlah buah terbanyak (15,33 buah) dicapai D1M2 namun dengan bobot buah terendah (18,43 g) akibat kompetisi karbon. Diameter buah terbaik diperoleh dari mikoriza tunggal M1 atau M3 tanpa bakteri fotosintesis. Volume akar tertinggi (34,33 m³) dicapai D0M3. Rekomendasi utama budidaya tomat untuk bobot buah maksimal adalah D1M3 (bakteri fotosintesis 10 mL/L + mikoriza 36 g/tanaman); untuk panen cepat dapat digunakan D2M1; serta hindari D1M2 karena berpotensi adanya efek antagonis. Current agricultural activities prioritize the utilization of local microorganisms to support plant growth by enhancing nutrient availability. Mycorrhiza and photosynthetic bacteria have the potential to increase photosynthate yield; however, information regarding the combined application of both on tomato plants remains limited. This study aimed to analyze the effects of mycorrhiza and photosynthetic bacteria, applied singly or in combination, on the growth and production of tomato plants. A split-plot design was employed, with the main plot consisting of photosynthetic bacteria doses (D0 = 0 mL/L, D1 = 10 mL/L, D2 = 20 mL/L) and the subplot consisting of mycorrhiza doses (M0 = 0 g, M1 = 12 g, M2 = 24 g, M3 = 36 g per plant). The parameters observed included plant height, leaf number, stem diameter, fruiting time, fruit number, fruit weight per plant, fruit diameter, fruit area, and root volume. The results showed significant interactions in most parameters, except for leaf number and stem diameter, which were affected only by single factors. The D2M1 combination produced the highest plant height (164.3 cm) and the earliest fruiting time (43 days). The highest fruit weight (31.95 g) and largest fruit area (17.15 mm²) were obtained from the D1M3 combination, while the highest fruit number (15.33 fruits) was achieved by D1M2, but with the lowest fruit weight (18.43 g) due to carbon competition. The best fruit diameter was obtained from mycorrhiza alone (M1 or M3) without photosynthetic bacteria. The highest root volume (34.33 m³) was achieved by D0M3. The primary recommendation for maximizing fruit weight in tomato cultivation is D1M3 (10 mL/L photosynthetic bacteria + 36 g/plant mycorrhiza). For early harvest, D2M1 can be used; however, D1M2 should be avoided due to its potential antagonistic effect.
Implementasi Sistem Pakar dengan Certainty Factor untuk Identifikasi Akurat Hama dan Penyakit Tanaman Jagung di Provinsi Gorontalo : Implementation of an Expert System with Certainty Factor for Accurate Identification of Corn Pests and Diseases in Gorontalo Province Muhammad Iqbal Jafar; Zulfrianto Y Lamasigi; Indah Puspitasari; Mayasari Yamin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hkadzs91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji sistem pakar untuk mengidentifikasi hama dan penyakit pada tanaman jagung di Provinsi Gorontalo, Indonesia, dengan menerapkan metode Certainty Factor (CF). Sistem ini dibangun berdasarkan basis pengetahuan yang diperoleh dari wawancara mendalam dengan para ahli, termasuk akademisi, penyuluh pertanian, dan peneliti. Metode CF digunakan untuk mengatasi ketidakpastian dalam diagnosis dengan menghitung nilai kepercayaan dari kombinasi gejala yang diamati oleh pengguna (petani/penyuluh). Hasil uji menunjukkan kemampuan sistem untuk mendiagnosis penyakit seperti penggerek batang dengan tingkat kepercayaan hingga 98,5%. Analisis ini menegaskan efektivitas metode CF dalam memberikan diagnosis yang terukur dan akurat (>80%), yang difasilitasi oleh antarmuka yang ramah pengguna. Sistem ini berfungsi tidak hanya sebagai alat diagnostik cepat di lapangan tetapi juga sebagai media pendidikan, menjembatani kesenjangan pengetahuan antara para ahli dan petani. Keberhasilan implementasi merekomendasikan metode CF sebagai pendekatan yang layak untuk sistem identifikasi penyakit tanaman, dengan catatan bahwa basis pengetahuan memerlukan pembaruan berkala. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan upaya ketahanan pangan melalui deteksi dini yang tepat. This study aims to develop and test an expert system for identifying pests and diseases in corn crops in Gorontalo Province, Indonesia, by applying the Certainty Factor (CF) method. The system was built on a knowledge base derived from in-depth interviews with experts, including academics, agricultural extension workers, and researchers. The CF method was employed to address uncertainty in diagnosis by calculating confidence values from combinations of symptoms observed by users (farmers/extension workers). Test results demonstrated the system's capability to diagnose diseases such as stem borer with a confidence level of up to 98.5%. The analysis confirms the effectiveness of the CF method in providing measurable and accurate diagnoses (>80%), facilitated by a user-friendly interface. This system functions not only as a rapid diagnostic tool in the field but also as an educational medium, bridging the knowledge gap between experts and farmers. The successful implementation recommends the CF method as a viable approach for plant disease identification systems, with the note that the knowledge base requires periodic updates. This research contributes to enhancing food security efforts through precise early detection.
Pertumbuhan dan Produksi  Padi Sawah pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Phonska Cair: Growth and Production of Paddy Field at Various Concentrations of Liquid Phonska Fertilizer Andi Satna; Herman Nursaman; Hanapi Hanapi; Helda Ibrahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/c469fg95

Abstract

Padi merupakan komoditas pangan yang permintaannya terus meningkat setiap tahun. Pupuk merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi tanaman padi untuk meningkatkan produktivitasnya. Salah satu pupuk yang mampu menyediakan unsur hara makro yaitu pupuk majemuk Phonska cair. Penelitian bertujuan  untuk mengetahui pengaruh dosis  pupuk Phonska cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Pabbentengan, Kec. Bajeng, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Juni – Oktober 2025. Pengujian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan jumlah perlakuan sebanyak 12 (Dua belas) dan diulang 3 kali sehingga total plot sebanyak 36 plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Petroganik 500 kg + Urea 200 kg + Phonska 300 kg/ha (C) dan Phonska Cair 18 L/ha (12 mL/L) (L) memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah. Nilai RAE dari semua perlakuan menunjukkan bahwa kombinasi pemberian Petroganik 500 kg/ha + Urea 200 kg/ha + Phonska 300 kg/ha (C) dan Phonska Cair 18 L/ha (L) menunjukkan nilai RAE tertinggi, yaitu 129,1, dan rasio R/C 2,03. Rice is a food commodity whose demand continues to increase every year. Fertilizer is a vital need for rice plants to increase their productivity. One of the fertilizers that can provide macronutrients is Phonska liquid compound fertilizer. The study aims to determine the effect of Phonska liquid fertilizer doses on the growth and production of rice plants. The study was conducted in Pabbentengan Village, Bajeng District, Gowa Regency, South Sulawesi Province, from June to October 2025. The test used a Randomized Block Design (RBD) with 12 (twelve) treatments and 3 replications, resulting in a total of 36 plots. The results showed that the treatment of Petroganik 500 kg + Urea 200 kg + Phonska 300 kg/ha (C) and Phonska Liquid 18 L / ha (12 mL / L) (L) gave the best effect on the growth and production of lowland rice plants. The RAE value of all treatments showed that the combination of Petroganik 500 kg/ha + Urea 200 kg/ha + Phonska 300 kg/ha (C) and Phonska Cair 18 L/ha (L) showed the highest RAE value, namely 129.1, and R/C ratio of 2.03.
Evaluasi dan Karakterisasi Galur Jagung Hasil Persilangan Multiple Cross Generasi S6: Evaluation and Characterization of Corn Lines Resulting from Multiple Crossing of the S6 Generation Muh. Farid; Muhammad Azrai; Muhammad Fuad Anshori; Roy Efendy; Karlina Syahruddin; Amin Nur; Jekvy Hendra
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/rgh1k826

Abstract

Jagung merupakan komoditas yang banyak memberikan kontribusi dalam penyediaan bahan pangan. Untuk menutupi kebutuhan industri setiap tahunnya yang juga dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli masyarakat, perlu dilakukan peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan galur inbrida unggul melalui persilangan multiple cross. Penelitian ini bertujuan memperoleh galur jagung hasil persilangan multiple cross dengan potensi produksi tinggi. Penelitian dilaksanakan di BRMP Serealia, Maros, Sulawesi Selatan dengan titik koordinat 4°59'09.0"S 119°34'34.6"E. yang dimulai pada bulan Juni sampai September 2025. Penelitian ini menggunakan rancangan bersekat (Augmented Design)  dengan 40 genotipe hasil persilangan multiple cross dengan 4 blok. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan genotipe berpengaruh signifikan pada beberapa karakter. Galur hasil persilangan multiple cross memiliki potensi hasil paling tinggi berdasarkan sidik ragam adalah G23.3 Terdapat perbedaan yang nyata pada karakter kualitatif dan kuantitatif di antara 40 galur jagung hasil persilangan multiple cross. Corn is a commodity that contributes significantly to the supply of food. To meet annual industrial needs, which are also influenced by rising purchasing power, productivity needs to be increased by using superior inbred lines through multiple crosses. This study aims to obtain corn lines resulting from multiple crosses with high production potential. The study was conducted at BRMP Serealia, Maros, South Sulawesi, at coordinates 4°59'09.0"S 119°34'34.6"E, from June to September 2025. This study used an Augmented Design design with 40 genotypes resulting from multiple crosses in four blocks. The analysis of variance results showed that genotype treatment significantly affected several traits. The line with the highest yield potential, based on analysis of variance, was G23.3. There were significant differences in qualitative and quantitative traits among the 40 maize lines resulting from multiple crosses.  
Profiling Metabolit Senyawa Volatil Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Asal Soppeng Sulawesi Selatan: Metabolite Profiling of Volatile Compounds in Cocoa Beans (Theobroma cacao L.) from Soppeng South Sulawesi Dian Magfirah Hala; Abdul Mutalib; Susi Indriani; Andi Ayu Nurnawati
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/17h1pr05

Abstract

Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao di Indonesia. Akan tetapi, informasi mengenai kandungan volatil biji kakao asal Soppeng saat ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggunakan pendekatan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mendata profil metabolit senyawa volatil dari biji kakao fermentasi asal Soppeng dan mengungkap potensi keunggulan biji kakao tersebut. Penelitian ini menggunakan biji kakao terfermentasi asal Soppeng yang kemudian dipanggang dan dihaluskan hingga homogen. Biji yang telah dihaluskan kemudian dimaserasi menggunakan n-heksana, lalu dimurnikan filtratnya menggunakan metode destilasi dan senyawa n-pentana sebagai larutan penangkap senyawa volatil hasil destilasi. Filtrat kemudian dianalisis menggunakan GC-MS dan diidentifikasi senyawanya menggunakan data library dari NIST dan Wiley 9. Kromatogram GC-MS yang diperoleh menunjukkan munculnya 100 puncak metabolit yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok senyawa kimia utama, yaitu n-alkana, alkylpyrazine, lactone/ester, derivat lipid, fenolik, purin, asam amino, dan senyawa artifact/kontaminan yang tidak berasal dari sampel. Terdeteksinya senyawa pyrazine dan lacton serta senyawa derivat lipid pada biji kakao mengindikasikan adanya asosiasi dengan aroma yang unik, yaitu nutty, fruity, dan creamy dengan sedikit rasa seperti kelapa. Berdasarkan hasil penelitian ini, biji kakao asal Soppeng berpotensi menghasilkan profil aroma yang khas sehingga dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas biji kakao asal Soppeng dari tipe bulk menjadi tipe fine flavor cocoa (FFC). Soppeng Regency, South Sulawesi, is recognized as one of the major cocoa-producing regions in Indonesia. However, information regarding the volatile compound composition of cocoa beans originating from this region remains limited. Therefore, this study aimed to characterize the volatile metabolite profile of fermented cocoa beans from Soppeng using Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC–MS) and to explore their potential flavor characteristics. Fermented cocoa beans obtained from Soppeng were roasted and ground into a homogeneous powder. The powdered samples were subsequently macerated with n-hexane, and the resulting extract was purified through distillation using n-pentane as a trapping solvent for volatile compounds. The distillate was then analyzed using GC–MS, and compound identification was performed by comparison with the NIST and Wiley 9 mass spectral libraries. The GC–MS chromatogram revealed the presence of 100 metabolite peaks, which were classified into six major chemical groups, including n-alkanes, alkylpyrazines, lactones/esters, lipid derivatives, phenolic compounds, purines, amino acids, and artifact or contaminant compounds not originating from the cocoa bean samples. The detection of alkylpyrazines, lactones, and lipid-derived compounds suggests their potential association with desirable flavor attributes, including nutty, fruity, and creamy notes, and a hint of coconut-like flavor. These findings indicate that cocoa beans from Soppeng possess the potential to develop a distinctive and complex aroma profile. This study provides a preliminary characterization of the volatile metabolite composition of fermented cocoa beans from Soppeng and highlights their potential as a source of desirable flavor attributes. The findings may serve as a scientific basis for future quality improvement and value-added development strategies aimed at upgrading Soppeng cocoa from conventional bulk cocoa to fine flavor cocoa (FFC).
Pengaruh Skarifikasi dan Konsentrasi GA3 Terhadap Perkecambahan Benih Aren (Arenga pinnata Wurmb Merr): The Effect of Scarification and GA3 Concentration on the Germination of Sugar Palm Seeds (Arenga pinnata Wurmb Merr) Noprizal Noprizal; Siti Yuli Meilanda Sormin; Agung Primatara Marwan; Rizki Zulapriansyah; Maisharah Fadhina; Fathiah Rahmadani
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/717qyc66

Abstract

Tanaman aren (Arenga pinnata Wurmb Merr) memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tetapi dalam pengembangannya masih memiliki banyak kendala oleh lamanya dormansi benih dan rendahnya keseragaman perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh skarifikasi dan konsentrasi giberelin (GA3) terhadap perkecambahan benih aren. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Andalas pada bulan Maret hingga Agustus 2022 dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) faktorial, yaitu metode skarifikasi (kertas amplas, gerinda tangan, dan gerinda duduk) dan konsentrasi giberelin (0, 50, 100, dan 150 ppm). Adapun parameter yang diamati meliputi panjang apokol, panjang keleoptil, waktu muncul daun pertama, dan panjang akar primer. Data dianalisis menggunakan uji F dan dilanjutkan dengan uji DNMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan skarifikasi dan konsentrasi giberelin tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap panjang apokol, panjang keleoptil, waktu muncul daun pertama, dan panjang akar primer. Namun, pada konsentrasi giberelin berpengaruh nyata terhadap panjang keleoptil dengan konsentrasi 150 ppm. The sugar palm (Arenga pinnata Wurmb Merr) has high economic value, but its development still faces many obstacles due to long seed dormancy and low germination uniformity. This study aims to determine the effect of scarification and gibberellin (GA3) administration on sugar palm seed germination. This study was conducted at the Seed Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Andalas University from March to August 2022 using a factorial completely randomized design (CRD) method, namely scarification methods (sandpaper, hand grinder, and bench grinder) and gibberellin concentrations (0, 50, 100, and 150 ppm). The parameters observed included apocol length, celeopetile length, time to first leaf emergence, and primary root length. Data were analyzed using the F test followed by the DNMRT test at a 5% level. The results showed that scarification and gibberellin treatment did not significantly affect apocole length, coleoptile length, time to first leaf emergence, and primary root length. However, gibberellin treatment at a concentration of 150 ppm significantly affected coleoptile length.  
Optimalisasi Pengendalian Hayati Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella (Snellen) Menggunakan Cendawan Trichoderma harzianum dan Beauveria bassiana: Optimization of Biological Control of Cocoa Pod Borer (Conopomorpha cramerella Snellen) Using Trichoderma harzianum and Beauveria bassiana Muh. Reski Eskha M; Akmal Akmal; Dewi Marwati Nuryanti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/yecpcd90

Abstract

Penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) merupakan salah satu hama utama pada tanaman kakao yang menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas hasil. Pengendalian menggunakan pestisida sintetis yang dilakukan secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi hama dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan cendawan Trichoderma sp. dan Beauveria bassiana dalam pengendalian hayati penggerek buah kakao. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Mawa, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, pada Maret–April 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Aplikasi cendawan dilakukan melalui penyemprotan pada buah kakao dengan konsentrasi 10 g/L dan 20 g/L pada interval tujuh hari. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan, mortalitas hama, dan persentase kerusakan buah kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma sp. dan Beauveria bassiana mampu menekan intensitas serangan penggerek buah kakao dibandingkan kontrol. Intensitas serangan tertinggi ditemukan pada kontrol sebesar 63,48%, sedangkan perlakuan terbaik (Beauveria bassiana 20 g/L) menghasilkan intensitas serangan terendah sebesar 29,38% atau menurun 53,72% dibandingkan kontrol. Selain itu, perlakuan yang mengandung B. bassiana menunjukkan mortalitas hama yang lebih tinggi dan mampu menurunkan persentase kerusakan buah kakao. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Trichoderma sp. dan Beauveria bassiana berpotensi menjadi teknologi pengendalian hayati yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk menekan serangan C. cramerella pada tanaman kakao. The cocoa pod borer (Conopomorpha cramerella Snellen) is one of the major pests of cocoa, causing significant reductions in both yield quantity and quality. Continuous use of synthetic pesticides may lead to pest resistance and environmental pollution; therefore, environmentally friendly control alternatives are needed. This study aimed to optimize the use of Trichoderma sp. and Beauveria bassiana as biological control agents against the cocoa pod borer. The research was conducted in Mawa Village, Sendana District, Palopo City, from March to May 2026 using a Randomized Complete Block Design (RCBD) consisting of five treatments and three replications. Fungal applications were carried out by spraying cocoa pods with concentrations of 10 g/L and 20 g/L at seven-day intervals. The observed parameters included pest infestation intensity, pest mortality, and the percentage of cocoa pod damage. The results showed that the application of Trichoderma sp. and B. bassiana significantly reduced cocoa pod borer infestation compared with the control. The highest infestation intensity was recorded in the control treatment (63.48%), while the best treatment (B. bassiana at 20 g/L) resulted in the lowest infestation intensity (29.38%), representing a 53.72% reduction compared with the control. In addition, treatments containing B. bassiana resulted in higher pest mortality and reduced the percentage of cocoa pod damage. The study demonstrated that the combined use of Trichoderma sp. and B. bassiana has considerable potential as an effective, environmentally friendly, and sustainable biological control strategy for suppressing C. cramerella infestations in cocoa plantations.
Respon Pertumbuhan dan Kemampuan Serapan Nikel Tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam pada Lahan Sekitar Area Tambang : Growth Response and Nickel Absorption Ability of Corn (Zea mays L.) and Soybeans (Glycine max (L.) Merr.) Planted on Land Around the Mining Area Naima Haruna; Rosnina Rosnina; Rahmi Azizah Mudaffar; Ratna Rahim; Sitti Maryam Yasin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/90b0zv17

Abstract

Penambangan nikel seringkali meninggalkan lahan terdegradasi dengan kandungan logam berat, termasuk nikel (Ni), yang dapat bersifat toksik bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk percobaan di Nursery PT.Vale selama enam bulan (Desember 2023 sampai Mei 2024) Tujuan penelitian untuk menganalisis respon pertumbuhan serta kemampuan serapan nikel pada tanaman jagung dan kedelai yang dibudidayakan di lahan sekitar area tambang nikel. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering biomassa, produksi serta kadar nikel dalam jaringan tanaman menggunakan spektrofotometri serapan atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung yang tumbuh pada media tanam dengan Ni rendah menghasilkan biomassa (bobot kering) dan produksi (biji) yang lebih banyak dibandingkan dengan yang ditanam pada media Ni tinggi, namun hasilnya masih sangat rendah dibandingkan pada kondisi media tanam Ni normal. Biji kedelai yang tumbuh pada media tanam dengan Ni tinggi mengandung logam Ni dalam jumlah lebih banyak yaitu 0.106 tan-1 melebihi nilai ambang batas logam Ni pada tanaman (Standar WHO) yaitu 10 µg g-1 berat kering sehingga tidak aman untuk dikonsumsi, sedang yang paling rendah adalah jagung yaitu 0.023 g kg-1.  Disimpulkan bahwa tanaman jagung dan kedelai tidak sesuai untuk dikembangkan di lahan pasca tambang karena produksi yang rendah. Nickel mining often leaves degraded land with heavy metal content, including nickel (Ni), which can be toxic to plants. This research was conducted in the form of an experiment at PT. Vale Nursery for six months (December 2023 to May 2024). The purpose of the study was to analyze the growth response and nickel absorption capacity of corn and soybean plants cultivated in the land around the nickel mining area. The parameters observed included plant height, number of leaves, dry weight of biomass, production and nickel levels in plant tissue using atomic absorption spectrophotometry (AAS). The results showed that corn plants grown in low Ni growing media produced more biomass (dry weight) and production (seeds) compared to those grown in high Ni media, but the results were still very low compared to normal Ni growing media conditions. Soybean seeds grown in high Ni growing media contained more Ni metal, namely 0.106 tan-1 exceeding the threshold value of Ni metal in plants (WHO Standard) which is 10 µg g-1 dry weight so it is not safe for consumption, while the lowest was corn, namely 0.023 g kg-1. It was concluded that corn and soybean plants were not suitable for development on post-mining land due to low production.
Eksplorasi Cendawan Filosfer yang Berasosiasi dengan Tanaman Jagung (Zea mays L.): Exploration of Philospheric Fungi Associated with Corn Plants (Zea mays L.) Paradillah Ilyas Mattola; Nurasiah Djaenuddin; Rahmi Azizah Mudaffar; M. Kurniawan; Ayuni Jamil; Rahman Hairuddin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/d7jv4047

Abstract

Filosfer merupakan seluruh permukaan bagian  tanaman, terutama daun yang menjadi tempat kolonisasi beragam mikroorganisme. Diantara beberapa jenis mikroba filosfer, cendawan memiliki beberapa peran penting karena dapat ditemukan dalam bentuk cendawan epifitik pada permukaan daun maupun cendawan endofotik di dalam jaringan daun. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan isolat cendawan filosfer daun pada jagung. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Mungkajang Kota Palopo untuk pengambilan sampel dan dilanjutkan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma, Identifikasi dilakukan di Laboratorium Penyakit Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Serealia Maros. Dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2025. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi, dengan menginventarisasi cendawan yang terdapat pada filosfer tanaman jagung. Sampel daun tanaman jagung yang sehat dipotong sepanjang 0,5 cm dan dimasukkan ke dalam wadah steril 10 ml lalu diberi label. Cendawan yang tumbuh disekitar potongan daun yang ditanam pada media PDA, kemudian dilakukan purifikasi untuk mendapat koloni murni, kemudian diidentifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi jamur menggunakan buku Illustrated Genera of Imperfect Fungi 4th Edition karya Barnett dan Hunter (1998) sampai tingkat genus. Hasil eksplorasi cendawan filosfer pada tanaman jagung didapatkan 10 isolat cendawan yang dikelompokkan menjadi tiga genus yaitu Penicillium sp., Aspergillus sp., dan Culvularia sp. The phyllosphere is the entire surface of the plant, especially the leaves, which are the colonization sites for various microorganisms. Among several types of phyllosphere microbes, fungi have several important roles because they can be found in the form of epiphytic fungi on the leaf surface and endophytic fungi in leaf tissue. The purpose of this study was to obtain isolates of leaf phyllosphere fungi in corn. This study was conducted in Mungkajang District, Palopo City for sampling and continued at the Laboratory of the Faculty of Agriculture, Andi Djemma University. Identification was carried out at the Disease Laboratory of the Maros Cereal Plant Instrument Standard Testing Center. It was carried out from May to August 2025. This study used an exploratory method, by inventorying fungi found in the phyllosphere of corn plants. Healthy corn leaf samples were cut 0.5 cm long and placed into sterile 10 ml containers and then labeled. Fungi growing around leaf cuttings planted on PDA media were then purified to obtain pure colonies, then identified using the fungal identification key using the book Illustrated Genera of Imperfect Fungi 4th Edition by Barnett and Hunter (1998) to the genus level. The results of the exploration of phyllosphere fungi in corn plants obtained 10 fungal isolates grouped into three genera, namely Penicillium sp., Aspergillus sp., and Culvularia sp.