cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma.Bulian Km. 16 Muara Jambi Jambi 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : -
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin is an academic journal focusing on the sciences of the ushuluddin (principles of religion), published twice a year (June and December) by the Faculty of Ushuluddin and religious studies, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. It is a shared space to disseminate and publish the scholarly papers of those whose concern is the sciences of ushuluddin, such as, Islamic Philosophy, Tasawuf, Qur’anic and Hadith Studies, Comparative Religion, Islamic Thoughts and Political Islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 182 Documents
STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN MAHMUD MUHAMMAD TAHA TENTANG KONSEP NASAKH AL-QUR’AN Fikri, Muhammad Al; Mustaniruddin, Ahmad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.31 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.230

Abstract

This article discusses one of the topics of the study of the Qur'anic science which was developed by one of the contemporary thinkers, namely Mahmud Muhammad Taha. He considered that the Islamic teachings contained in the madaniyah verses were irrelevant at this time because they contained values ​​that were less tolerant and even radical. Meanwhile, the Makiyah verses contain fundamental values ​​such as justice, equality, tolerance, democracy, and human rights. So, according to him, madaniyah verses need to be replaced with these makiyah verses. With such an inverted nasakh concept, he wants to carry out an evolution of sharia where according to him sharia is something historical that can change according to the situation and conditions that require it. The concept of nasakh al-Qur'an developed by Taha is different from the concept of nasakh agreed upon by the majority of scholars. Therefore, based on the critical analysis in this article, it can be said that the nasakh Taha concept still has a number of epistemological problems so that it is not valid for use in interpreting the verses of the Qur'an. Artikel ini mendiskusikan tentang topik kajian ilmu al-Qur’an yang dikembangkan oleh salah satu tokoh pemikir kontemporer yaitu Mahmud Muhammad Taha. Ia menilai bahwa ajaran Islam yang terkandung dalam ayat-ayat madaniyah tidak Sesuai dengan nilai – nilai kemanuasiaan dan masyarakat modern karena ayat madaniyah mengandung nilai radikalisme dan berlawanan dengan hak asasi manusia. Sementara ayat-ayat makiyah berisi tentang nilai-nilai fundamental seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, demokrasi, dan HAM. Sehingga, menurutnya, ayat-ayat madaniyah perlu di-nasakh dengan ayat-ayat makiyah tersebut. Dengan konsep nasakh terbalik seperti demikian ia ingin melakukan evolusi terhadap syariat di mana menurutnya syariat merupakan sesuatu yang bersifat historis yang dapat berubah sesuai situasi dan kondisi yang menghendakinya. Konsep nasakh al-Qur’an yang dikembangkan oleh Taha tersebut berbeda dengan konsep nasakh yang disepakati oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, berdasarkan analisis kritis dalam artikel ini dapat dikatakan bahwa konsep nasakh Taha tersebut masih terdapat sejumlah permasalahan epistemologis sehingga tidak valid untuk digunakan dalam penafsiran al-Qur’an.
REAKTUALISASI TOLERANSI BERAGAMA SURAH AL-KAFIRUN: (Telaah Perbandingan Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Maraghi) Hidayat, Rahmawati; Al Kadzim, Musa
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.962 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.232

Abstract

Indonesia recognizes several legitimate religions that can be embraced by its population through Pancasila and Number 1 from UU PNPSof 1965. However, according to BPIP RI, intolerance occurs every year and there is always an increase from time to time. Even the results of a survey conducted at the University of Brawijaya on its students show that the percentage of students with high tolerance character is still very small. These two things become the basis for the author to feel it is important that research related to tolerance is carried out. Utilizing the movement of the majority of the population who adheres to Islam, the author examines tolerance in parts of the Muslim holy book, especially in Surah al-Ka>firu>n as a complete sura to be studied. This research is a literature study on the interpretation of tolerance in surah al-Ka>firu>n with the comparative method of Tafsir al-Misbah by Quraish Shihab as a representative of exegetes with an Indonesian context and Tafsir al-Maraghi by Ahmad Mustofa al-Maraghi as a comparison. and perfect interpretation. This research aims to find the similarities and differences between the two commentators and also to find a creative synthesis from the results of the analysis of the two commentators. The results of the research in this paper are that Surah al-Ka>firu>n has three important teaching points for Muslims about tolerance. First, in religion, one must hold fast to what one holds. Second, the difference between God and worship is something that cannot be mixed up and cannot be forced. Third, this surah is an affirmation that every human being will be rewarded according to his deeds. In the Indonesian context, the teachings of tolerance are not only applied when they become a majority group, but also when they become a minority group in an area.   Indonesia mengakui beberapa agama sah yang dapat dianut penduduknya melalui Pancasila sebagai dasar negara dan UU PNPS No. 1 tahun 1965. Namun, menurut BPIP RI intoleransi setiap tahun terjadi dan selalu ada peningkatan dari waktu ke waktu. Bahkan, hasil survei yang dilakukan di Universitas Brawijaya terhadap mahasiswanya menunjukkan masih sangat kecil persentase mahasiswa berkarakter toleransi tinggi. Kedua hal tersebut menjadi landasan penulis merasa penting penelitian yang berhubungan dengan toleransi diangkat. Memanfaatkan pergerakan mayoritas penduduk yang menganut agama Islam, penulis meneliti toleransi pada bagian kitab suci umat islam, khususnya pada surah al-Ka>firu>n sebagai surah yang utuh untuk diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka tentang penafsiran toleransi pada surah al-ka>firu>n dengan metode komparatif Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab sebagai perwakilan mufasir berkonteks keIndonesiaan dan Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustofa al-Maraghi sebagai pembanding dan penyempurna penafsiran. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dari kedua mufasir dan juga menemukan sintesis kreatif dari hasil analisis kedua mufasir. Hasil penelitian pada tulisan ini adalah Surah al-Ka>firu>n memiliki tiga poin ajaran penting untuk umat islam tentang toleransi. Pertama, dalam beragama haruslah berpegang teguh pada yang dianut masing-masing. Kedua, perbedaan Tuhan dan ibadah merupakan hal yang tidak bisa dicampurbaurkan dan tidak bisa dipaksakan. Ketiga, surah ini merupakan penegasan bahwa setiap manusia akan diganjar sesuai dengan amal perbuatannya. Pada konteks ke-Indonesia-an, ajaran toleransi bukan hanya diterapkan pada saat menjadi kelompok yang mayoritas saja, tetapi juga pada saat menjadi kelompok minoritas pada suatu daerah.
SYIAH: POLITIK ATAU AGAMA? (Studi Analisis Perspektif Muhibuddin Al-Khatib) Muslih, M Kholid; Moh Shobirin, Munar; Dhiaul Fikri, Muhammad; Mahbubah, Khotimatul; Kaffah, Silmi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.546 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.235

Abstract

Judging from the history of the emergence of Shia there are different views of Shia leaders. Some say that the early emergence of Shi'ism was just a political movement. This is seen by the support for Sayyidina Ali as caliph after the death of the Prophet. Another opinion states his appearance as a supporter and follower of Sayyidina Ali in the battle of Jamal and Shiffin. However, it is different from a contemporary thinker who wrote about Shi'ism in the book Al-Khututh al-'Aridhah Li Dini al-Syi‘ah, namely Muhibuddin al-Khatib. Departing from the contradiction of the emergence of Shi'ism itself, this paper aims to explore the opinion of Muhibuddin al-Khatib. This research is a qualitative study of literature. Sources of data were obtained from books, journals, articles, and everything relevant to this research. This research method uses a comparative method of the opinion of Shia leaders. As for the results of this research, according to Muhibuddin al-Khatib, the early emergence of Shiites in the first period was political and not religious, where the imams of the Ahl al-Bayt handed over all rights to all people in terms of power and deliberation, as well as the rights of all Muslims in choosing and nominating who entitled to the caliphate. However, there is an evolution in Shiite thought about the transformation of Shiite groups from politics to religion by the "Imamiyah" who link the idea of the "Imamah Ilahiyah". More than that, believing in the Imamate has been included in the pillars of faith. Muhibuddin al-Khatib concludes that the Shi'ites have made their priests like God. Thus, the theology becomes the core and principle of Shi'ism which changes from a political face to a theology. So, Muhibuddin al-Khatib concluded that Shi'ism is not just a school or sect, but has turned into a religion. This is because there are special beliefs that are not found in Muslims who follow the Qur'an and the Sunnah of the Prophet.   Dilihat dari sejarah kemunculan Syiah terdapat perbedaan pandangan dari para tokoh Syiah. Ada yang menyatakan bahwa awal kemunculan Syiah hanyalah gerakan politik. Ini dilihat dari dukungan terhadap Sayyidina Ali sebagai khalifah pasca wafatnya Nabi. Pendapat lain menyatakan kemunculannya sebagai pendukung dan pengikut Sayyidina Ali dalam pertempuran Jamal dan Shiffin. Akan tetapi, berbeda dengan seorang tokoh pemikir kontemporer yang menulis tentang Syiah dalam kitab Al-Khututh al-‘Aridhah Li Dini al-Syi‘ah, yakni Muhibuddin al-Khatib. Berangkat dari kontradiksi kemunculan Syiah itu sendiri, makalah ini bertujuan menelusuri pendapat Muhibuddin al-Khatib. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif pustaka. Sumber data diperoleh dari buku, jurnal, artikel dan segala hal yang relevan dengan penelitian ini. Metode penelitian ini menggunakan metode komparatif pendapat para tokoh Syiah. Adapun hasil penelitian ini adalah menurut Muhibuddin al-Khatib awal munculnya Syiah pada periode pertama bersifat politik bukan agama, di mana para imam Ahlul Bait menyerahkan seluruh hak kepada seluruh umat dalam hal kekuasaan dan musyawarah, serta hak semua muslim dalam pemilihan dan mencalonkan siapa yang berhak atas kekhalifahan. Akan tetapi, terdapat evolusi dalam pemikiran Syiah tentang transformasi kelompok Syiah dari politik ke agama oleh "Imamiyah" yang menghubungkan gagasan "imamah ilahiyyah". Lebih dari itu, mengimani imamah telah dimasukkan ke dalam rukun iman. Muhibuddin al-Khatib menyimpulkan bahwa Syiah telah menjadikan para imam-imam mereka seperti Tuhan. Sehingga, teologi tersebut menjadikan inti dan asas dari Syiah yang merubah dari wajah politik menjadi teologi. Maka, Muhibuddin al-Khatib berkesimpulan bahwa Syiah bukan hanya sekedar mazhab maupun sekte, akan tetapi sudah berubah menjadi agama. Ini dikarenakan terdapat kepercayaan khas yang tidak ditemukan pada orang Islam pengikut al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
INTEGRASI TEOLOGI ISLAM, SUFISME, DAN RASIONALISME HARUN NASUTION Ermagusti, Ermagusti; Syafrial, Syafrial; Tri Hadi, Rahmad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.197 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.237

Abstract

This article describes the integration of Islamic theology, Sufism, and rationalism from Harun Nasution's Islamic thought. The more developed human life and way of thinking, the more advanced science and paradigm. Of course, one science and another will be interrelated and related. However, in current developments, scientific developments experience a dichotomy of scientific hegemony. The cause of this observation is to investigate the combination of technological know-how and any other in order that its miles were hoping that it will likely be greater complete, systematic, and comprehensive to observe Harun Nasution's Islamic thought. The study's approach used is a descriptive-analytical technique with bayani (observation/text analysis), irfani (intuitionism), and burhani (rationalism), also, data from articles, books, and various other research results in various literary magazines. The results of the study show that: First, bayani (text observation/analysis) emphasizes the authority of texts/nash (al-Qur'an and Hadith) and is justified by the instinct of concluding (istidlal). Thus, Islamic theology is the authority for textual on the role of reason in confirming matters related to matters of religiosity or human religiosity. Second, irfani (intuitionism; Sufism) emphasizes the knowledge obtained through the irradiation of the essence by God to His servant (kasyf) according to love-based spiritual training (riyadhah). Third, burhani (rationalism) is a means of confirmation of sources originating from texts, social and religious realities or beliefs, as well as intuitive or inner experiences. Thus, the three sources are integrated and have relevant values ​​to the life of modern Indonesian society.   Artikel ini menjelaskan tentang integrasi teologi Islam, sufisme, dan rasionalisme dari pemikiran Islam Harun Nasution. Semakin berkembangnya kehidupan dan cara berpikir manusia, maka semakin berkembang pula keilmuan dan paradigmanya. Tentu, antara satu ilmu dengan keilmuan lainnya akan saling berkaitan dan berhubungan. Namun, pada perkembangan saat ini, perkembangan keilmuan justru mengalami dikotomi atau hegemoni keilmuan. Tujuan penelitian ini menganalisis integrasi antara satu keilmuan dengan keilmuan lainnya, supaya diharapkan lebih utuh, sistematis dan komprehensif untuk meneropong pemikiran Islam Harun Nasution. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan bayani (observasi/analisis teks), irfani (intuisisme), dan burhani (rasionalisme), dan data diperoleh menurut aneka macam literatur artikel jurnal, buku, dan aneka macam output penelitian lainnya. Hasil penelitian mengambarkan bahwa: Pertama, bayani (observasi/analisis teks) yang menekankan dalam otoritas teks/nash (al-Qur’an dan hadis) dan dijustifikasi sang insting penarikan kesimpulan (istidlal). Maka, teologi Islam menjadi otoritas keterangan nash terhadap kiprah logika pikiran pada mengkonfirmasi hal-hal yang terkait menggunakan soal-soal keberagamaan atau religiusitas manusia. Kedua, irfani (intuisisme; sufisme) yang menekankan dalam pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat sang Tuhan pada hamba-Nya (kasyf) sesudah adanya olah ruhani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar cinta. Ketiga, burhani (rasionalisme;) sebagai alat konfirmasi atas sumber yang berasal dari nash, realitas sosial dan keagamaan atau keyakinan, serta pengalaman intuitif atau batiniah. Sehingga, ketiga sumber tersebut saling terintegrasi satu sama lainnya, dan mempunyai nilai relevansi dengan kehidupan masyarakat modern Indonesia.
IDEOLOGICAL BIASES IN THE QURANIC EXEGESIS:: Nawawi al-Bantani and Muhammad Uthaimin’s Views on Heresy Fawaid, Ahmad; Karimah, Viatul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.913 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.239

Abstract

This paper aims to figure out Nawawi al-Bantani and Muhammad al-‘Uthaimin about the heresy verses in the Qur’an. This research stems from the problem of the scholar’s views and responses to the traditions that are considered heretical. From this controversy, this article attempts to analyze the meaning of heresy in Nawawi’s interpretation of Marāḥ Labīd and Muhammad al-‘Uthaimin’s interpretation of the Tafsīr Qur’ān al-Karīm. These two works of interpretation represent two different religious schools and regions. By using descriptive-analytical and comparative methods, this study produced two findings, 1) the mazhabiyyah paradigm adopted by the mufassir greatly influenced the results of tafsir; 2) despite using the same method of monitoring the Qur’an, both Nawawi al-Bantani and Muhammad al-‘Uthaimin made different restrictions because of their ideological influence. The results of this study also show that Nawawi al-Bantani in the interpretation of Marāḥ Labīd and the control of Muhammad al-‘Uthaimin in the interpretation of the Qur’an al-Karim about heresy in the Qur’an have different connotations. From the socio-historical context, the resources, methods, and styles used to have a significant influence so as to produce differences and similarities in the verse about heresy. The position of this research is the finding of Afif Suaidi (2021) regarding ideological tendencies in transliterating the Koran that the variety and translation of the Koran is caused by the religious understanding adopted by the author and aims to support ideology in its interpretation.   Tulisan ini bertujuan mengkaji penafsiran Nawawi al-Bantani dan Muhammad al-‘Utsaimin tentang ayat-ayat bid’ah. Penelitian ini berangkat dari perdebatan para ulama’ tentang sikap dan respon mereka terhadap sejumlah tradisi yang dianggap bid’ah. Berangkat dari kontroversi tersebut, artikel ini berusaha menganalisis makna bid’ah dalam tafsir Marāḥ Labīd karya Nawawi dan Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Muhammad al-‘Uthaimin. Dua karya tafsir ini merepresentasikan dua aliran keagamaan dan kawasan yang berbeda. Dengan menggunakan deskriprif-analitis dan metode komparatif, penelitian ini menghasilkan dua temuan, 1) bahwa paradigma mazhabiyyah yang dianut oleh mufassir sangat mempengaruhi pada hasil penafsirannya; 2)  meski menggunakan metode yang sama dalam menafsirkan al-Qur’an, baik Nawawi al-Bantani dan Muhammad al-‘Uthaimin mengasilkan penafsiran yang berbeda karena dipengaruhi ideologinya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penafsiran Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marāḥ Labīd dan penafsiran Muhammad al-‘Uthaimin dalam Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm tentang bid’ah dalam al-Qur’an memiliki konotasi yang berbeda. Dari konteks sosio-historis, sumber penafsiran, metode, dan corak yang digunakan memberikan pengaruh signifikan sehingga menghasilkan perbedaan serta persamaan dalam penafsiran ayat tentang bid’ah. Posisi penelitian ini adalah menegaskan temuan Afif Suaidi dkk (2021) tentang tendensi ideologis dalam transliterasi al-Qur’an bahwa ragam penafsiran maupun terjemahan atas al-Qur’an disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang dianut penulisnya dan bertujuan mempromosikan ideologi tertentu dalam tafsirnya.
EKSISTENSI FORUM BANGUN ACEH DALAM MENDAMPINGI LIVELIHOOD DISABILITAS: (Tinjauan Teologi Sosial) Maisun, Dara; Ulinnuha, Roma
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.35 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.242

Abstract

The purpose of this paper is to look at and reflect back on how religion, government, institutions, and society should view people with disabilities. The Bangun Aceh Forum is a facilitator for the sustainability of the livelihoods of people with disabilities so that they can continue to be productive and hone their abilities. This study applying a qualitative method, the study show that as a social institution and has a focus on developing marginalized communities towards a more secure direction, the provision of infrastructure is provided with the needs and conditions of disability. So far, the mention of disability describes disability in a broad context, even though people who experience mental problems can also be categorized as disabilities. There are no different ways of handling physical and non-physical disabilities. In the study of theology, persons with disabilities are a group of people who must be accepted in social life without labels and differences physically or mentally. However, in fact, the disabled until now continue to receive labels that are not good and have not changed from time to time where people think that people with disabilities are very dependent on humans with normal physical conditions and are not independent, and the talents they have are often neglected because they do not have the space and resources. place in people's lives. it is not uncommon to find people with disabilities who desperately choose to become beggars. Both physical and non-physical disabilities from time to time will continue to receive discriminatory treatment from the community, whether consciously or unconsciously. The provision, attention and understanding of disability self still needs to be improved in the socialization of social communities in order to understand the real concept and meaning of disability.   Tujuan tulisan ini adalah untuk melihat dan merefleksikan kembali bagaimana seharusnya agama, pemerintah, lembaga, dan masyarakat dalam memandang kaum disabilitas. Forum Bangun Aceh menjadi fasilitaor bagi keberlangsungan livelihood penyandang disabilitas agar terus produktif dan mengasah kemampuan yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, hasil menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial yang memiliki fokus untuk pengembangan masyarakat marjinal ke arah yang lebih menjamin, penyediaan sarana-prasarana yang diberikan dengan kebutuhan dan kondisi disabilitas. Di tengah kerancuan penyebutan disabilitas, orang dengan gangguan jiwa juga dapat dikategorikan sebagai disabilitas. Terlebih lagi cara penanganan penanganan yang dilakukan terhadap disabilitas fisik dan non-fisik tidak dibedakan. Pada kajian ilmu teologi, penyandang disabilitas adalah kelompok masyarakat yang harus diterima dalam kehidupan sosial tanpa label dan perbedaan secara fisik maupun secara mental. Namun nyatanya para difabel samapi saat ini terus mendapatkan labelling yang tidak baik dan tidak berubah darai masa kemasa di mana masyarakat menganggap kelompok diabilitas hidupnya sangat tergantung pada manusia dengan kondisi fisik yang normal dan tidak mandiri, dan bakat yang mereka miliki seringkali terabaikan karena tidak memiliki ruang dan tempat dalam kehidupan masyarakat. tak jarang menemukan para disabilitas yang putus asa memilih menjadi pengemis. Baik disabilitas fisik maupun non-fisik dari masa-kemasa akan terus mendapatkan perlakuan diskriminasi dari masyarakat baik dilakuan secara sadar maupun secara tidak sadar. Pembekalan, perhatian dan pemahaman akan diri disabilitas masih sangat perlu di tinggkatkan lagi bagi masyarakat sosial agar memahami konsep dan arti diri disabilitas yang sesungguhnya.
HUMANISTIC DERADICALIZATION BY ABRAHAM MASLOW APPROACH: (Terrorism Counter-measures Strategy in Lingkar Perdamaian Foundation) Muhammad Noor, Aditia; Fauziyah, Nailul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.572 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.244

Abstract

Deradicalization is interpreted as a step to return the paradigm of exclusivity towards an understanding of inclusiveness. However, in practice, deradicalization is only carried out at a normative level, namely changing the paradigm. In fact, if explored more deeply, deradicalization should touch the background of the involvement of terrorist groups. This study not only discusses the steps of deradicalism as a form of guidance and protection for former terrorists so that they can be rehabilitated but also provides an ideal deradicalization solution by exploring the motives of the aspects that influence it. This research was conducted at the Lingkar Perdamaian Foundation, one of the institutions that participated in the deradicalization program, thus presenting two questions; what is the deradicalization strategy at the Lingkar Perdamaian Foundation, and how the implications of this deradicalization are carried out. To obtain these answers, this study used descriptive qualitative methods by conducting interviews, observations, and documentation as data collection tools. This research shows the strategy carried out by the Lingkar Perdamaian Foundation into three things; first, through ideological development, assistance to families of ex-terrorist convicts, and economic recovery. All of these strategies are measured based on needs, as Abraham Maslow's theory regarding the hierarchy of needs, the availability of the above needs is intended so that they do not repeat the terror in their past, this will change the perspective of extremist ideology to a tolerant ideology. The implications of deradicalization at the Lingkar Peace Foundation are marked by the opening of an inclusive understanding that accepts all forms of differences in religious views and believes in the Unitary State of the Republic of Indonesia as the legitimate homeland.   Deradikalisasi dimaknai sebagai langkah untuk mengembalikan kembali paradigma ekslusifitas menuju pemahaman inklusifitas. Akan tetapi dalam praktiknya, deradikalisasi hanya dilakukan pada level yang normatif, yakni sekedar merubah paradigma. Padahal jika ditelusuri lebih dalam seharusnya deradikalisasi menyentuh latarbelakang keterlibatan kelompok teroris. Kajian ini bukan hanya membahas mengenai langkah deradikalisme sebagai bentuk pembinaan dan perlindungan bagi mantan teroris agar dapat direhabilitasi, tetapi juga memberi solusi deradikalisasi ideal dengan menelusuri motif aspek yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan di Yayasan Lingkar Perdamaian, salah satu lembaga yang turut melakukan program deradikalisasi, sehingga menghadirkan dua pertanyaan; bagaimana strategi deradikalisasi di Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), dan bagaimana implikasi deradikalisasi tersebut dilakukan. Untuk memperoleh jawaban tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai alat pengumpulan data. Penelitian ini menunjukan strategi yang dilakukan Yayasan Lingkar Perdamaian kedalam tiga hal; pertama, melalui pembinaan ideologi, pendampingan keluarga mantan napiter dan pemulihan ekonomi. Semua strategi ini diukur berdasarkan kebutuhan, sebagaimana teori Abraham Maslow mengenai hierarchy of need, ketersediaan kebutuhan di atas dimaksudkan agar mereka tidak kembali mengulangi teror di masa lalunya, hal ini akan mengubah cara pandang ideologi ekstrimis menuju ideologi toleran. Adapun implikasi dari deradikalisasi di Yayasan Lingkar Perdamaian di tandai dengan terbukanya pemahaman inklusif yang menerima segala bentuk perbedaan dalam pandangan agama serta meyakini NKRI sebagai tanah air yang sah.
THE EPISTEMOLOGY OF THE ULAMA OF THE LANDS BELOW THE WINDS' IN THE TWENTIETH CENTURY: A Study of Minhāj al-Umniyya Fī Bayān ‘Aqīdat Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘a of Tuan Guru Abdul Jalil Jambi Asad Isma; Edi Kurniawan; Mukhlas Nugraha; Massuhartono Massuhartono
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.038 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.248

Abstract

The arrival of Islam into the lands below the winds, the terminology used to designate the Malay-Indonesian world or the entire South East Asia, was inseparable from the influence of Māturidīyya and Ashāʿira in kalām. This influence was reflected in the translation works or the commentaries upon ʿAqāʾid al-Nasafī of Imam al-Nasafī in the seventeenth century. The eighteenth century and onwards also saw a rapid appearance of the translations, commentaries,ḥāshiya, and taʿlīq of Umm al-Barāhīn of Imam al-Sanūsī. In Jambi, in the early twentieth century, Tuan Guru Abdul Jalil synthesized the worldview of kalam of al-Māturidīyya and Ashāʿira in his work, Minhāj al-Umniyya fī Bayān ʿAqīdāt al-Ahl al-Sunna wa al-Jamāʿā. The result of his endeavor was an epistemology of kalām that was established upon the classical intellectual legacy of Islam. Amid the hegemony of the Western epistemology on the general modern epistemology and, specifically, that of Islam, this article attempts to discuss the epistemology of Tuan Guru Abdul Jalil in order to answer the bewilderment of the modern epistemology. After analyzing the work of Tuan Guru Abdul Jalil along with other relevant results, this article shows that the epistemology of Tuan Guru Abdul Jalil is powerfully relevant in the current debates about epistemology. Datangnya Islam ke ‘negeri bawah angin’, suatu istilah pada masa lalu yang merujuk kepada dunia Indonesia-Melayu atau Asia Tenggara secara keseluruhan, tidak terlepas dari pengaruh kalam Māturidīyyah dan Ashāʻirah. Hal ini tampak dari lahirnya karya-karya dalam bentuk terjemahan dan ulasan terhadap ʻAqāʼid al-Nasafī karya Imam al-Nasafī pada abad ke-17. Semenjak abad ke-18 dan seterusnya, muncul pula ulasan-ulasan terhadap Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī dalam bentuk terjemahan, ḥāshiyah, taʻlīq dan sebagainya secara masif. Di Jambi, pada awal abad ke-20, ada Tuan Guru Abdul Jalil yang mensintesiskan antara kalam Māturidīyyah dan Ashāʻirah dalam karyanya Minhāj al-Umniyyah fī Bayān ʻAqīdat Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʻah. Hasilnya, terbentuklah suatu epistemologi dalam bingkai kalam berlandaskan pada tradisi keilmuan Islam klasik. Di tengah hegemoni epistemologi Barat dalam bangunan epistemologi modern umumnya dan kajian keislaman khususnya, tulisan ini mendiskusikan epistemologi Tuan Guru Abdul Jalil untuk menjawab kerancuan-kerancuan epistemologis modern tersebut. Setelah menelaah karya Tuan Guru Abdul Jalil dan karya-karya yang relevan lainnya, tulisan ini menunjukkan bahwa epistemologi Tuan Guru Abdul Jalil masih sangat relevan dalam memberikan tawaran-tawaran epistemologis saat ini.
TASAWUF WUJUDIYAH: Hakikat Wujud dalam Ajaran Tasawuf Datu Abulung Abdillah, Faisal Ridho
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.849 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.256

Abstract

Discussions about the nature of being have developed into a hot topic of debate between supporters and opponents during Datu Abulung, leading to egregious accusations leveled at those who adhere to this school of thought. They are said to equate God with nature. The explanation in the Resale Sufism book may cause people to misunderstand  ​​the nature of being. Sufism Wujuiyah, which puts forward the idea of ​​the oneness of creatures and God, is clearly understood as a view contrary to the majority's opinion and is seen as such. As a result, the palace was very concerned when Sheikh Abdul Hamid explained this idea to the broader community. This research wants to take an in-depth look at Datu Abulung's Sufism teachings and complement the weaknesses of previous studies. This type of research uses library research. In general, in this library research, data sources are written materials consisting of primary data sources and secondary data sources, while the primary source is from the manuscript of the Resale of Sufism left by Datu Abulung and secondary sources in the form of books and several journals/magazines which contain contains the thoughts of Datu Abulung. The research results show that Datu Abulung's Sufism teachings can be accounted for, and the source is clear from the Qur'an and Hadith. The essence of being in Datu Abulung's Sufism teachings still explicitly recognizes the zahiriyah dualism between the servant and God. Diskusi tentang hakikat wujud telah berkembang menjadi topik perdebatan hangat antara pendukung dan penentang pada masa Datu Abulung, yang mengarah ke tuduhan buruk yang ditujukan pada mereka yang menganut aliran pemikiran ini. Mereka dikatakan menyamakan Tuhan dengan alam. Kemungkinan penjelasan dalam kitab Risalah Tasawuf  yang menyebabkan orang salah memahami gagasan hakikat wujud. Tasawuf wujudiyah yang mengemukakan gagasan tentang keesaan makhluk dan Tuhan, jelas dipahami sebagai pandangan yang bertentangan dengan pendapat mayoritas dan dipandang demikian. Alhasil, pihak istana sangat prihatin ketika Syekh Abdul Hamid memaparkan gagasan ini kepada masyarakat luas. Penelitian kali ini ingin melihat secara mendalam tentang ajaran tasawuf datu Abulung serta melengkapi kekuangan dari penelitian sebelumnya. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian pustaka (library research). Secara general, dalam penelitian kepustakaan (library research) ini, sumber data yang merupakan bahan tertulis terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder, adapun sumber primer dari naskah Risalah Tasawuf peningggalan Datu Abulung dan sumber sukender berupa buku dan beberapa jurnal/majalah yang didalamnya mengandung pemikiran dari Datu Abulung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran tasawuf Datu Abulung bisa dipertanggungjawabkan dan sumbernya jelas dari al-Qur’an dan Hadist. Hakikat wujud dalam ajaran tasawuf Datu Abulung masih secara eksplisit mengakui dualisme zahiriyah antara hamba dan Tuhan.
AL-DAKHIL DALAM TAFSIR ILMI: (Kajian Kritik Husein Al-Dhazabi Atas Kitab Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an) Ride, Ahmad Rozy; Riyadi, Abdul Kadir
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.228 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.262

Abstract

This study discusses Husein al-Dzahabi's criticism of dakhil in the interpretation of Tanthawi Jauhari, which in his interpretation, Tanthawi interprets many verses related to science (al-ayat al-Kauniyah) known by tafsir al-‘ilmi. Using the literature method (library research) and descriptive-qualitative approach, the author describes the data obtained from the book al-Tafsir wa al-Mufassirun and the book al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an as well as relevant data. So it can be concluded that in his interpretation, Tanthawi takes a considerable portion of the interpretation of al-ayat al-kauniyah (scientific interpretation) and is interpreted briefly and not infrequently also includes hikayat (saga), which refers to the Gospel of Barnabas or riwayat whose origin cannot be accounted for, his interpretation is also considered too excessive and imposing in relating it to developing science. So that the results of the interpretation are not appropriate or out of the meaning of the verses, and in this context, Al-Qur'an is not an object of research but as evidence and reinforcement of existing scientific findings and as an explanation of the miracles of the Al-Qur'an which was revealed for every age. Penelitian ini membahas kritikan Husein al-Dzahabi tentang dakhil dalam penafsiran Tanthawi Jauhari yang mana dalam penafsirannya, Tanthawi banyak menafsirkan ayat-ayat yang memiliki kaitan dengan ilmu sains (al-ayat al-Kauniyah) yang dikenal dengan tafsir al-‘ilmi. Dengan mengggunkan metode kepustakaan (library research) dan pendekatan deskriptif-kualitatif, penulis memaparkan data yang diperoleh dari kitab al-Tafsir wa al-Mufassirun dan kitab al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an serta data yang relevan. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penafsirannya, Tanthawi mengambil porsi yang sangat banyak atas penafsiran ayat al-kauniyah (tafsir ilmi) dan ditafsirkan secara singkat dan tidak jarang juga menyertakan hikayat yang merujuk kepada kitab Injil Barnabas atau periwayatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya, penafsirannya juga dianggap terlalu berlebihan dan memaksakan dalam mengaitkannya dengan ilmu-ilmu sains. Sehingga menjadikan hasil penafsirannya tidak sesuai atau keluar dari maksud ayat-ayat tersebut dan dalam konteks ini Al-Qur'an bukan sebagai objek penelitian tetapi sebagai bukti dan penguat temuan ilmiah yang ada dan sebagai penjelasan tentang keajaiban dan kemukjizatan Al-Qur'an yang diturunkan untuk setiap zaman.

Page 11 of 19 | Total Record : 182