cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma.Bulian Km. 16 Muara Jambi Jambi 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : -
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin is an academic journal focusing on the sciences of the ushuluddin (principles of religion), published twice a year (June and December) by the Faculty of Ushuluddin and religious studies, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. It is a shared space to disseminate and publish the scholarly papers of those whose concern is the sciences of ushuluddin, such as, Islamic Philosophy, Tasawuf, Qur’anic and Hadith Studies, Comparative Religion, Islamic Thoughts and Political Islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 182 Documents
STUDI APLIKASI METODE KEMIRIPAN REDAKSI PERSPEKTIF FADEL SALEH AS SAMARRAI: Tafsir Surah Al-Tin Rahman, Syahrul; Nur, Afrizal; Abrar, Arsyad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.476 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.264

Abstract

This article intends to explain how Fadel as Samarrai applies the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method in interpreting surah at-Tin in his book Ta'bir al Qurany. Fadel as Samarrai is a contemporary Arabic language expert who actively teaches on campus and social media. This literature study employs a descriptive analysis method and a historical-philosophical approach. This study shows that the book at Ta'bir al Qurany predominantly used the tafsir bi arra'yi method, which is very strong with the nuances of its lughawi interpretation. This study concludes, first, that the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to use the method of interpreting the Qur’an with the Qur’an. For example, as Samarrai interprets verse 6 of surah at Tin by referring to verse 3 of surah al-Asr and also explains the editorial of verse 25 of al Insyiqaq. Second, the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to accommodate many verse meanings. Third, the more observant and thorough a mufassir looks at the similarity of the editorial of a verse, the more linguistic secrets are opened that may be closed to others. The more the similarity in the editorial side of the verses of the Qur’an is ignored, the more negative stigma towards the language of the Qur’an is opened. Artikel ini bermaksud menjelaskan bagaimana Fadel as Samarrai mengaplikasikan metode al Tasyabuh wa al ikhtilaf (persamaan dan perbedaan redaksi ayat) dalam menafsirkan surah at-Tin dalam kitabnya Ta’bir al Qurany. Fadel as Samarrai adalah seorang pakar bahasa Arab kontemporer yang aktif mengajar di kampus dan juga aktif di media social. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan historical-filosofi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kitab at Ta’bir al Qurany secara dominan menggunakan metode tafsir bi arra’yi yang sangat kuat dengan nuansa tafsir lughawinya. Penelitian ini menyimpulkan, pertama siapapun yang menerapkan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung menggunakan metode penafsiran al Quran dengan al Quran. Contohnya, as Samarrai menafsirkan ayat 6 surah at Tin dengan merujuk ayat 3 surah al Ashr dan juga menjelaskan redaksi ayat 25 al Insyiqaq, analisa as Samarrai menyimpulkan bahwa perbedaan redaksi ayat sejalan dengan konteks surah.  Kedua, menggunakan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung mengakomodir banyak makna ayat. Ketiga, semakin jeli dan teliti seorang mufassir melihat sisi kemiripan redaksi satu ayat, semakin terbuka rahasia-rahasia kebahasaan yang mungkin tertutup untuk orang lain. Semakin diabaikan sisi kemiripan redaksi ayat al Quran semakin terbuka hadirnya stigma negatif terhadap bahasa al Quran.
TANGGUNG JAWAB ORANG TUA KEPADA ANAK DALAM Q.S. LUQMAN AYAT 12-19 : (Telaah Penafsiran Al-Mawardi Dan Al-Maraghi) Gunawan, Nofri; Musli, Musli; Arifullah, Mohd; Setiawan, Heru
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.152 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.265

Abstract

Moral education is the main foundation in Islamic teachings and the foundation of belief to be used as a basis for all attitudes and behavior given through parents. Children are a source of happiness and conditioning and the most significant trust Allah SWT gives to every parent in the world. Therefore, children are the responsibility of parents. However, including parents, humans are not immune from mistakes, mistakes, and forgetfulness. Many parents need to remember the responsibility of fulfilling their children's rights. This research is library research that uses various sources of literature as a source of research data. Primary data sources are al-Mawardi's commentary, Al-Nukat Wa Al-'Uyun's interpretation, and Mustafa al-Maraghi's interpretation of al-Maraghi. In contrast, secondary data sources in research are books, articles, magazines, newspapers, or other sources. The results of this study are Al-Maraghi and Al-Mawardi. Both of them were reluctant that a child should be taught to worship Allah alone and not associate anything with Him. Then the responsibility of parents in educating children, according to surah Luqman, is by instilling the concept of believing in Allah by not giving Him glory, believing in the Prophets and Messengers, believing in the Books, obeying Allah by praying and doing good to parents, amar ma'ruf nahi mungkar. Luqman forbade his son not to associate partners with Allah with anything because there is no greater injustice than associating partners with Allah with others. Pendidikan akhlak merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam dan dasar-dasar pokok kepercayaan untuk dijadikan pijakan dalam segala sikap dan tingkah lakunya yang diberikan melalui orang tua.Anak sebagai sumber kebahagian dan penyejuk hati, dan amanah terbesar yang Allah swt berikan kepada setiap orang tua di dunia. Karenanya, anak adalah tanggung jawab orang tua. Namun, Manusia tidak luput akan kesalahan, kesilapan dan kelupaan termasuk orang tua. Banyaknya, orang tua yang lupa dengan tanggung jawab dalam menunaikan hak-hak anaknya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research) yang menggunakan berbagai sumber kepustakaan sebagai sumber data penelitian. Sumber data primer adalah buku tafsir al-Mawardi yaitu tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyun dan tafsir al-Maraghi karangan Mustafa al-Maraghi, Sedangkan Sumber data sekunder dalam penelitian adalah buku, artikel, majalah, surat kabar, atau sumber lainnya. Hasil penelitian ini adalahAl-Maraghi dan Al-Mawardi. Keduanya telah sepakat, bahwa hendaklah seorang anak diajarkan untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak menurut surah Luqman yaitu dengan cara menanamkan konsep beriman kepada Allah dengan tidak menyukutakn-Nya, beriman kepada Nabi dan Rasul, beriman kepada Kitab-kitab, Ta’at kepada Allah dengan Shalat dan berbuat baik kepada orang tua, amar ma’ruf nahi mungkar, serta Luqman melarang putranya agar tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, karena tidak ada kazhaliman yang lebih besar daripada menyekutukan Allah dengan lainnya.
AUTHENTICITY OF SANAD HADITH ABOUT TAKBIR 'ĪDAIN IN MUHAMMADIYAH PERSPECTIVE Rohmansyah, Rohmansyah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.42 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.273

Abstract

Hadith is a reference that Muslims use as an explanation and reinforcement of the Qur'an. Judging from the quality and quantity of transmission, hadith must come from the Prophet. The scholars discussed the authenticity and validity of traditions not sourced from the Prophet SAW, such as the hadith about the Takbir of Eid al-Fitr and Eid al-Adha prayers. This paper aimed to explain the quality status and reasons for accepting hadith, according to Muhammadiyah. This study used a library research method with a descriptive-analytical approach. The research results are as follows; First, the hadiths about the Eid prayer Takbir and Eid al-Adha by Amr supported by Ansari, al-Muzanni, isyah, Abu Hurairah, and Amar are included in the hasan lighairihi hadith because many narrators have narrated the hadith. Second, Muhammadiyah believes that the hasan lighairihi hadith can be accepted and used as a reference in the implementation of Eid al-Fitr and Eid al-Adha takbir as long as the narrators mutually strengthen. This is based on the standardization of the validity of the hadith that meets the criteria of As-Sunnah al-Maqbullah. Hadis merupakan sumber rujukan bagi umat Islam dari masa lalu sampai masa kini. Hadis diposisikan sebagai sumber kedua setelah Alquran yang menjadi penjelas dan menjadi penguat. Sumber hadis harus benar-benar bersumber dari Nabi dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas periwayatan hadis. Namun tidak semua hadis benar bersumber Nabi SAW karena diperbincangkan oleh para ulama dari orisinilitas dan kesahihahannya, seperti hadis tentang takbir salat idul fitri dan idul adha. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang status kualitas hadis dan alasannya dalam penerimaan menurut Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan satu metode kepustakaan atau library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Hasil temuan dari penelitian ini adalah; Pertama, hadis-hadis tentang takbir dalam salat idul fitri dan idul adha disampaikan Amr bin Āṣ yang didukung oleh sahabat yang lain sebagai syāhid atau pendukung yakni Anṣāri, al-Muzanni, Āisyah, Abu Hurairah dan Amār sehingga termasuk kategori hadis ḥasan lighairihi karena banyak perawi yang meriwayatkan hadis. Kedua, menurut Muhammadiyah bahwa hadis ḥasan lighirihi dapat diterima dan dijadikan hujjah dalam pelaksanaan takbir idul fitri dan idul adha selama banyak jalurnya satu dengan lainnya saling menguatkan. Hal ini didasarkan kepada standarisasi kesahihan hadis yang memenuhi kriteria As-Sunnah al-Maqbūllah.
URGENSI PEMIMPIN IDEAL MENGHADAPI SEKULARISASI POLITIK DUNIA ISLAM : (Telaah Konsep Kepemimpinan Perspektif Ibn Taimiyah) Pramono, Muhammad Fajar; Jusmidar, Jusmidar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.851 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.281

Abstract

The notion of secularism is a challenging problem to avoid nowadays with civilization dominated by the west. The secular ideology that distances science from political life with religious matters is already rife, so it takes a leader who can uphold the teachings of Allah and His Apostle to avoid secular dangers. Ahmad Ibn Al-Halim Bin Abd As-Salam Ibn Abdullah Ibn Taimiyah is a very influential Muslim scientist science world concerned with politics, which is supported by his politically nuanced works, presenting several opinions regarding outstanding leadership in building good governance and Islam. The main problem of this paper's target is to avoid the dangers of secularism in the politics of the Islamic world; an ideal leader is the main object. This paper uses a literature study method (Library research), making Ibn Taimiyah the primary reference. From several research results conducted by the author, it can be seen that the dangers of worldly secularization and separating political affairs from religion can be avoided by having a leader who has an Islamic character and upholds the teachings of Allah SWT. Leaders who are obedient in their position and position (Quwwah) and are trustworthy are the solution to the dangers of secularization in the world of Islamic politics. Paham sekularisme merupakan sebuah problem yang tidak mudah untuk di hindari pada masa sekarang dengan peradaban yang didomonasi oleh barat. Paham secular yang menjauhkan ilmu pengetahuan hingga kehidupan politik sosial dengan urusan agama sudah marak terjadi, sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjunjung tunggi ajaran Allah dan Rasulnya untuk menghindari bahaya secular di tengah umat beragama. Ahmad Ibn Al-Halim Bin Abd As-Salam Ibn Abdullah Ibn Taimiyah merupakan seorang ilmuan muslim yang sangat berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan yang menaruh konsen dalam bidang politik yang didukung dengan karya-karyanya yang bernuansa politik, memaparkan beberapa pendapat mengenai kepemimpinan yang ideal dalam membangun pemerintahan yang baik dan islami. Problem utama yang menjadi sasaran tulisan ini adalah menghindari bahaya sekularisme dalam politik dunia Islam dan seoraang pemimpin ideal menjadi objek utamanya. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka (Library research) yang menjadika pemikiran Ibnu Taimiyah sebagai rujukan Primer. Dari beberapa hasil riset yang dilakukan penulis dilihat bahwa bahaya sekularisasi yang duniawi dan memisakan urusan politik dengan agama, dapat dihindari dengan adanya pemimpin yang memiliki karakter islami dan menjunjung tinggi ajaran Allah SWT. Dari hasil riset yang dilakukan penulis terlihat bahwa Ibn Taimiyah bahwa Pemimpin yang yang taat berpendirian dan berkedudukan (Quwwah), amanah, adil dan berilmu menjadi solusi dari bahaya sekularissasi dunia politik Islam.
TRANSFORMASI DIRI MELALUI PRAKTIK ‘UBUDIYYAH: (Studi Tafsir Maudhu’i Terhadap Tafsir Al-Azhar Buya Hamka) Rahman, Pathur
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.044 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.283

Abstract

This paper examines the method of self-transformation through ubudiyah practices. The main focus of this research is the meaning of worship in the interpretation of Al-Azhar by Buya Hamka. The purpose of this research is to know and offer to the general public the method of self-transformation through worship to Allah SWT, as written by Buya Hamka in the interpretation of Al-Azhar. This research is library research, using the maudhu'i interpretation research methodology. The primary source in this study is the book Tafsir Al-Azhar written by Haji Abdul Malik Karim Amrullah and published by the Jakarta Nurul Islam Foundation in 1982. Meanwhile, in data analysis, the author used the critical hermeneutic method. This study found that the method of self-transformation through the practice of ubudiyyah in Buya Hamka's view is not limited to carrying out the five pillars of Islam; shahadah, prayer, zakat, fasting, and pilgrimage, but taking wisdom or wisdom from the essence of worship itself, so that worship can lead a person to submit and obey whatever Allah wills and always be grateful for what Allah wants. This study also found that in interpreting the verses about worship Buya Hamka uses a tasawuf approach so that Buya Hamka's interpretation of worship is not limited to procedures in worship but can take lessons from the worship carried out. Tulisan ini mengkaji tentang metode transformasi diri melalui praktik ubudiyah. Fokus utama dalam penelitian ini adalah pemaknaan ibadah dalam tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui serta menawarkan kepada khalayak umum tentang metode transformasi diri melalui ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana yang dituliskan oleh Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan liblary research, dengan menggunakan metodologi penelitian tafsir maudhu’i. Sumber primer dalam penelitian adalah kitab Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam Jakarta pada tahun 1982. Sedangkan dalam analisis data penulis menggunakan metode hermeneutika kritis. Penelitian ini menemukan bahwa metode transformasi diri melalui praktik ubudiyyah dalam pandangan Buya Hamka adalah dengan cara tidak sebatas menjalankan lima pilar agama Islam; syahadah, salat, zakat, puasa dan haji, akan tetapi megambil hikmah atau kebijaksanaan dari esensi ibadah itu sendiri, sehingga ibadah yang dilakukan dapat mengantarkan seseorang untuk tunduk dan patuh atas apapun kehendak Allah serta senantiasa berterimakasih atas apa yang Allah kehendaki. Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat tentang ibadah Buya Hamka menggunakan pendekatan tasawuf, sehingga penafsiran Buya Hamka tentang ibadah tidak sebatas mengenai tatacara dalam ibadah, melainkan dapat mengambil hikmah atas ibadah yang dijalankan.
‘UZLAH SEBAGAI JALAN MENCARI KEBENARAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Akbar Imanuddin; Muhammad Iqbal Rahman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5080.44 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.284

Abstract

The massive development of technology in the era of the industrial revolution 4.0 has brought many social changes and, in practice, has changed human life at every level. The number of jobs that are delayed because of smartphones, the inequality of news on social media, and the truth that overflows and is obscured are examples of how life has changed significantly. This indicates that industrial revolution 4.0 does not only bring changes in a positive sense but also in a negative one. Obscurity and vagueness to the truth can, in turn, damage morality and erase human values. ‘Uzlah or separating oneself from humans, is one of the concepts in Sufism recommended by the Prophet Muhammad when slander has become rampant and riots can no longer be extinguished, which today can be seen by the existence of post-truth narratives or denial of truth. Some criticize that committing ‘uzlah is a cowardly act of running away from problems. This criticism cannot be fully justified and cannot be completely refuted – because textually, some have practiced 'uzlah (meditation in mountains, caves, away from crowds). However, 'uzlah has spiritual values ​​that can maintain emotional and mental stability for those who practice it. The paper seeks to contextualize ​​of 'uzlah according to the needs of the times. The results of this paper find that ‘uzlah can be applied today not only to practice spiritual values but also to strengthen one's stance, enjoy life, be happy at work, be measured in action, and promote objective truth. With these values, it is clear that 'uzlah can be used as one a step to find the truth in the post-truth era of the industrial revolution. Perkembangan teknologi yang begitu pesat di era revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan sosial yang jauh berbeda dan pada praktiknya telah mengubah kehidupan manusia di setiap lapisannya. Banyaknya pekerjaan yang tertunda sebab telepon pintar, ketimpangan berita di media sosial, kebenaran yang bertimpah dan terkaburkan, merupakan contoh betapa kehidupan telah berubah secara signifikan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan dalam arti positif, tapi juga negatif. Ketidakjelasan dan kekaburan terhadap kebenaran pada gilirannya dapat merusak moralitas dan menghapus nilai-nilai kemanusiaan. ‘Uzlah atau memisahkan diri dari manusia merupakan salah satu konsep dalam ilmu tasawuf yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika fitnah telah menjadi-jadi dan huru-hara tidak dapat dipadamkan lagi, yang dewasa ini dapat dilihat dengan adanya narasi post-truth atau ingkar kebenaran. Ada yang mengkritik bahwa beruzlah termasuk tindakan pengecut karena lari dari masalah. Kritik ini tidak bisa dibenarkan sepenuhnya dan tidak bisa dibantah seutuhnya–sebab ‘uzlah secara tekstual (menyendiri di gunung, gua, jauh dari keramaian) ada yang mempraktekkannya. Akan tetapi ‘uzlah memiliki nilai-nilai spriritual yang dapat menjaga kestabilan emosi dan pikiran bagi barang siapa yang mengamalkannya. Tulisan ini berupaya untuk mengkontekstualisasikan ‘uzlah sesuai kebutuhan zaman. Hasil dari tulisan ini menemukan bahwa uzlah dapat diaplikasikan dewasa ini tidak hanya untuk mengamalkan nilai-nilai spiritual, tapi juga dapat memperteguh pendirian, menikmati hidup, bahagia dalam bekerja, terukur dalam bertindak serta mengedepankan kebenaran objektif. Dengan nilai-nilai tersebut, terang bahwa ‘uzlah dapat dijadikan sebagai salah satu langkah mencari kebenaran di era post-truth revolusi industri 4.0.
METAMORPHOSIS INTEGRASI THEOLOGI ISLAM DENGAN SPIRIT WIRAUSAHA Elvia Zahra, Anzu; Mustaniruddin, Ahmad; Sobur, Kadir; Kusnadi, Edy; Mesalina, Juliana
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4648.781 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.285

Abstract

This research is initiated by the economic contestation in both the Islamic and Western worlds. In the context of Islamic theology, there are several views which say that success is dependent on human’s effort and God's will. The purpose of this research is to explore the concept of entrepreneurial motivation that carried out by the Qolbu Management (QM), Emotional Spiritual Quotion (ESQ) and The Pattern of Allah's Help (PAH). It’s a qualitative approach. The source of data in this research are by analyzing books, videos, audio visuals such as Youtube, then by studying literature (library research). Scientific interviews will also be conducted with several individuals (academics and practitioners) as supporters of the distinction of Islamic theology with an entrepreneurial spirit. The findings were motivated by the emergence of the concept Qolbu Management, ESQ and PAH which is one of the efforts to integrate the teachings of Theological Tauhid into the concept of Islamic entrepreneurship. The similarities between the concepts of Qolbu Management, ESQ and PPA are Theological Tauhid. While the differences are the Qolbu Management Concept is closer to Asy Ariyah theology, ESQ is closer to the Mu'azilah theology concept, while PAH is more identical to the Jabariyah concept. The point of the concept of entrepreneurship, monotheism and the concept entrepreneurial of Qalbu Management, ESQ and PAH, namely: Guiding towards the maximum monotheism and teaching humans to try with their potentials and do not forget to surrender to Allah SWT Penelitian ini diawali dengan kontestasi perekonomian baik di dunia Islam maupun Barat. Dalam konteks teologi Islam ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa kesuksesan adalah tergantung dari usaha manusia dan kehendak Tuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendalami konsep motivasi wirausaha yang dilakukan oleh Manajemen Qalbu (MQ), Emotional Spritual Quotion (ESQ) dan Pola Pertolongan Allah (PPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dengan menganalisis buku-buku, video-video, audio visual seperti Youtube, kemudian dengan studi literatur (library research). Wawancara ilmiah juga akan dilakukan dengan beberapa individu (akademisi dan praktisi) sebagai pendukung distingsi ilmu teologi Islam dengan spirit wirausaha. Hasil temuan dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yang merupakan salah satu usaha untuk mengintegrasikan ajaran-ajaran Tauhid Teologis kedalam konsep wirausaha secara islami. Adapun persamaan dari konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yaitu Tauhid Teologis. Sedangkan perbedaannya Konsep Manajemen Qolbu Lebih mendekati teologi Asy Ariyah, ESQ mendekati Konsep teologi Mu’tazilah sedangkan PPA lebih identik dengan konsep Jabariyah. Titik temu konsep kewirausahaan dan ketaudhid dan konsep wirausaha manajemen Qalbu, ESQ dan PPA yakni : Membimbing terhadap ketauhidan yang maksimal dan mengajarkan manusia untuk berusaha dengan potensi yang dimiliki dan kemudian tidak lupa akan berpasrah diri kepada Allah SWT
THE CONCEPTS OF PERSONALITY AND SPIRITUALITY DEVELOPMENT IN PSYCHOLOGY : (Study Of Analysis Perspective Badi'uzzaman Said Nursi) Arroisi, Jarman; Fadhilah, Manzilatul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.478 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.291

Abstract

A recent discovery in psychology that is very amazing is that the central brain is active when a person's personality and spirituality can function as a balancer between the roles of the soul and the physical. In this context, Badiuzzaman Said Nursi initiated a concept of how to develop the development of one's personality and spirituality in psychology as a solution to the problems faced by humanity today in the form of globalization, westernization, secularization and liberalization which makes humans lose direction and grip on life. Therefore, human personality and spirituality are easily swayed. This research is a qualitative research, by taking library data as the object of research. The library data is in the form of books by Badiu'zzaman Said Nursi, as well as research works or notes that help in concluding the concept of personality development and spirituality in psychology from the perspective of Badiu'zzaman Said Nursi. Furthermore, using descriptive-analytic method as an analytical knife in drawing conclusions. The results of this study are that the development of a person's personality and spirituality cannot be separated from religious and divine aspects. According to Badiuzzaman Said Nursi, the concept of the development of one's personality in psychology is divided into four ways, namely: (1) Confession of one's helplessness before God Almighty, (2) Confession of self-poverty towards God Almighty, (3) Expecting God's love , (4) Doing reflection or meditation. While the concept of developing one's spirituality in psychology is also divided into four ways, namely: (1) Through the light of faith in God, (2) Through holistic devotion (worship) to God, (3) Manifesting God's asthma that is reflected in them, and (4) Following the way of the Qur'an or the way of nature. Sebuah penemuan terbaru dalam ilmu psikologi yang sangat mengagumkan adalah bahwa sentral otak bersifat aktif apabila kepribadian dan spiritualitas seseorang dapat berfungsi sebagai penyeimbang antara peran jiwa dan fisik. Dalam konteks ini, Badiuzzaman Said Nursi menggagas sebuah konsep bagaimana mengembangkan perkembangan kepribadian dan spiritualitas seseorang dalam ilmu psikologi sebagai solusi problematika yang dihadapi oleh umat manusia masa kini berupa arus globalisasi, westernisasi, sekularisasi, dan liberalisasi yang menjadikan manusia kehilangan arah dan pegangan hidup. Karenanya, kepribadian dan spiritualitas manusia mudah terombang ambing. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil data-data kepustakaan sebagai obyek penelitian. Data pustaka tersebut berupa buku-buku karya Badiuzzaman Said Nursi, serta karya-karya penelitian atau catatan-catatan yang membantu dalam menyimpulkan konsep perkembangan kepribadian dan spiritualitas dalam ilmu psikologi perspektif Badiu'zzaman Said Nursi. Selanjutnya menggunakan metode deskriptif-analitik sebagai pisau analisis dalam mengambil kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian ini adalah, perkembangan kepribadian dan spiritualitas seseorang tidak dapat dilepaskan dari aspek religi dan ketuhanan. Menurut Badiuzzaman Said Nursi, konsep perkembangan kepribadian seseorang dalam ilmu psikologi terbagi menjadi empat cara, yaitu: (1) Pengakuan ketidakberdayaan seseorang di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, (2) Pengakuan kemiskinan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (3) Mengharapkan cinta Tuhan, (4) Melakukan refleksi atau meditasi. Sedangkan konsep perkembangan spiritualitas seseorang dalam ilmu psikologi terbagi menjadi empat cara juga, yaitu: (1) Melalui cahaya keimanan kepada Tuhan, (2) Melalui pengabdian secara holistik (ibadah) kepada Tuhan, (3) Memanifestasikan asma Allah yang terefleksi dalam diri mereka, dan (4) Mengikuti jalan al-Qur’an atau jalan hakikat.
KHURUJ FI SABILILLAH: Gerakan Sufisme Jamaah Tabligh di Palembang Perspektif Gerakan Pembaharuan Islam Karim, Abdul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.828 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.293

Abstract

This paper aims to find out the practice of khuruj fi sabilillah as a Sufism movement run by Jamaah Tabligh and to know the style of the khuruj fi sabilillah movement from the perspective of the Islamic renewal movement in the city of Palembang. This research is field research with primary data sources from observation, interviews, and documentation. Meanwhile, in data analysis techniques, the authors use the method proposed by Miles and Huberman. This study found that the tablighi congregation presented a new typology in the Islamic renewal movement: moderate radicalism with a Sufistic nuance. This study also found new facts, namely three periods of movement; the introduction period (1965-1985), consolidation period (1985-1992), and expansion period (1992-present). The teachings of Sufism carried out by Jama'ah Tabligh are believing in and realizing the essence of the sentence of thayyibah, khusyu' and khudu' prayers, knowledge, and remembrance, glorifying Muslims, improving intentions, and da'wah ilallah. This research is expected to make an academic contribution to the treasures of Islamic science, especially in the field of Sufism. It is expected to be able to enlighten the public about the Sufism movement or khuruj fi sabilillah, which the Tablighi Jamaat runs. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui praktik khuruj fi sabilillah sebagai gerakan sufisme yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh serta mengetahui corak gerakan khuruj fi sabilillah perspektif gerakan pembaharuan Islam di kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan sumber data primer yang dihasilkan dari proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam teknik analisis data, penulis meggunakan metode yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan bahwa jama’ah tabligh menampilkan tipologi baru dalam gerakan pembaharuan Islam, yaitu radikalisme-moderat yang bernuansa sufistik. Penelitian ini juga menemukan fakta baru, yaitu tiga periodisasi gerakan; periode perkenalan (1965-1985), periode konsolidasi (1985-1992), dan periode ekspansi (1992-sampai sekarang). Adapun ajaran tasawuf yang dijalankan oleh Jama’ah tabligh ialah meyakini dan mewujudkan hakikat kalimat thayyibah, salat khusyu’ dan khudu’, ilmu dan zikir, memuliakan umat muslim, memberbaiki niat, dan dakwah ilallah. Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi akademis bagi khazanah ilmu keislaman khususnya di bidang ilmu tasawuf serta diharapkan mampu memberi pencerahan kepada masyarakat tentang gerakan sufisme atau khuruj fi sabilillah yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh.
PENANGANAN KONFLIK AGAMA DI KOTA JAMBI BERBASIS KEBIJAKAN PUBLIK Halim, Abdul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.947 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.337

Abstract

This research seeks to analyze the policy of Jambi City Government in handling of religious conflict, especially the establishment of worship place, in Jambi City. This research adopted qualitative approach with case study of research type. Jambi City is a religiously plural area that has experienced conflicts over the establishment of worship places. Because of this, the Jambi City Government issued a policy of intensive coordination with religious leaders, peaceful conflict resolution, verification of permits for worship places and development of tolerance villages. These policies are intended so that religious conflicts that commonly occur in plural societies do not continue and threaten the harmonization of society. This research is scientifically and practically significant since it: Contributes to enriching the theoretical aspect of the academic studies on public policy in the reality of the government’s role and its use of this model in managing public areas, especially in religion. This research completely discussed the perceptions about the tracks of the government’s role and the extent of use of realism in public policy, especially in the religious conflict. As well as define the realist conditions, means, methods, and tools adopted by the researchers in strengthening the public policy theory to achieve study of government’s role in handling public problems, especially in religious conflict. Penelitian ini berupaya menganalisis kebijakan Pemerintah Kota Jambi dalam penanganan konflik agama khususnya pendirian rumah ibadah di Kota Jambi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Kota Jambi merupakan daerah yang majemuk beragama yang mengalami konflik pendirian rumah ibadah. Karena itu, Pemerintah Kota Jambi mengeluarkan kebijakan koordinasi intensif dengan tokoh agama, penyelesaian konflik secara damai, verifikasi izin tempat ibadah dan pengembangan kampung toleransi. Kebijakan tersebut dimaksudkan agar konflik keagamaan yang lazim terjadi dalam masyarakat majemuk tidak berlanjut dan mengancam harmonisasi masyarakat. Penelitian ini signifikan secara ilmiah dan praktis karena: Berkontribusi untuk memperkaya aspek teoretis kajian akademik tentang kebijakan publik dalam realitas peran pemerintah dan penggunaan model ini dalam mengelola ruang publik, khususnya dalam bidang agama. Penelitian ini secara lengkap membahas persepsi tentang jejak peran pemerintah dan sejauh mana penggunaan realisme dalam kebijakan publik, khususnya dalam konflik agama. Serta menentukan kondisi realis, cara, metode, dan perangkat yang digunakan peneliti dalam memperkuat teori kebijakan publik untuk mencapai kajian peran pemerintah dalam menangani masalah publik, khususnya dalam konflik agama.