cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma.Bulian Km. 16 Muara Jambi Jambi 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : -
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin is an academic journal focusing on the sciences of the ushuluddin (principles of religion), published twice a year (June and December) by the Faculty of Ushuluddin and religious studies, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. It is a shared space to disseminate and publish the scholarly papers of those whose concern is the sciences of ushuluddin, such as, Islamic Philosophy, Tasawuf, Qur’anic and Hadith Studies, Comparative Religion, Islamic Thoughts and Political Islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 182 Documents
PERSINGGUNGAN TASAWUF DAN HADIS DI NEGERI BAWAH ANGIN PADA ABAD KE-17: Telaah Shurūṭ al-ʻārif al-Muḥaqqiq Karya Syaikh Yusuf al-Makassari Alhusni, Alhusni; Sulistio, Dody; Kurniawan, Edi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.304

Abstract

Indonesia-Malay scholars in the past have paid great attention to hadith, but a special work which prescribes hadiths with Sufism nuances, Shaykh Yusuf was the initial figure who started it. However, studies on Shaykh Yusuf’s tasawuf thought have so far focused more on tasawuf itself, paying little attention to hadith’s aspects. This article discusses the intersection of Sufism and hadith in Shurūṭ al-ʻĀrif al-Muḥaqqiq by Shaykh Yusuf, a work that elaborate two hadiths: qalb al-mu’min ʻarsh Allāh and man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah. This paper shows that from the hadith of qalb al-mu’min ʻarsh Allāh emerged the key terms such as al-qalb, al-insān al-kāmil, al-iḥāṭah, al-maʻiyyah, and conditions al-ʻārif al-muḥaqqiq borrowed from earlier Sufis such as Junayd al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibn ʻArabi and others. However, Shaykh Yusuf’s creativity lies in his elaboration of these five key terms as the basis for the intersection of hadith and tasawwuf in the hadith man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah i.e. those who know themselves, then realize that they do not exist, all that exists is Being al-Ḥaqq, so that he also proceeds to become a perfect person, al-insān al-kāmil. Para ulama nusantara telah menaruh perhatian besar terhadap hadis, tetapi suatu karya khusus yang mensyarahkan hadis-hadis bernuansa tasawuf, Syaikh Yusuf merupakan tokoh awal yang mengawalinya. Hanya saja, kajian-kajian terhadap pemikiran tasawuf Syaikh Yusuf selama ini lebih difokuskan pada tasawuf itu sendiri, kurang memperhatikan aspek hadis. Tulisan ini mendiskusikan persinggungan tasawuf dan hadis dalam Shurūṭ al-ʻĀrif al-Muḥaqqiq karya Syaikh Yusuf, sebuah karya yang mensyarahkan dua hadis: qalb al-mu’min ʻarsh Allāh dan man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah. Tulisan ini merupakan kajian pustaka dimana sumber utamanya dari bahan-bahan kepustakaan. Tulisan ini menyimpulkan bahwa dari hadis qalb al-mu’min ʻarsh Allāh muncullah istilah-istilah kunci seperti al-qalb, al-insān al-kāmil, al-iḥāṭah, al-ma‘iyyah, dan syarat-syarat al-‘ārif al-muḥaqqiq yang ia pinjam dari para sufi terdahulu seperi Junayd al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibnu ‘Arabi dan lain-lain. Hanya saja, kreatifitas Syaikh Yusuf terletak pada elaborasinya terhadap kelima istilah kunci tersebut sebagai landasan terhadap persinggungan hadis dan tasawuf pada hadis man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah, yakni orang yang kenal akan dirinya, maka sadar bahwa ia tidak ada, yang ada hanyalah Wujud al-Ḥaqq, sehingga ia berproses menuju insan paripurna, al-insān al-kāmil.
KONSEP ADAB ISTI’DZAN DALAM AL-QUR’AN MENURUT ABD AL-HAYY AL-FARMAWY: Pendekatan Tafsir Maudhui Hajar, Aprilita; Riyadi, Abdul Kadir; Syahida, Ashfia
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.309

Abstract

In this discussion, researchers get a contemporary problem related to the occurrence of some deviations, caused by the lack of knowledge about religious teachings and manners in this day and age, one of which is to ignore the business of asking permission, small things that are underestimated will cause other bad things, such as minors who fall into adultery, promiscuity, until moral damage. The result of accidentally seeing what is not yet supposed to be seen, due to lack of knowledge in terms of the importance of asking permission. Therefore, the researcher will study the concept of adab and the command to ask permission in the Qur'an, using the maudhui tafsir approach, which the researcher uses is a qualitative method using literature studies. Instructions in Surat An-Nur, according to Abd al-Hayy Al-Farmawi about ethics in doing isti'dzan is the obligation to first ask permission to the owner of the house if it will be a guest, say hello, and return home if the owner of the House does not want to receive guests, and there are also Ethics in entering public and special houses, especially in doing isti'dzan in private homes. As for the results obtained from this discussion, it is important to put forward all forms of procedures and ethics or morals in doing something, one of which is to get used to asking for permission, and follow all existing norms. Because if small things like this have been ignored, then there will be various forms of bigger problems, and various other deviations appear. Especially in the case of the isti'dan manners practiced in families living in one house. Because it is very fatal if from an early age it is not accustomed to start behaving with good morals. The urgency is to, avoid the presence of things that are not desirable, and maintain Muru'ah or honor of others. Pada tema ini peneliti mendapatkan sebuah permasalahan kontemporer terkait terjadinya beberapa penyimpangan, yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang ajaran agama dan sopan santun pada zaman sekarang ini, salah satunya adalah dengan menghiraukan urusan meminta izin, hal kecil yang disepelekan akan menimbulkan hal buruk lainnya, seperti anak di bawah umur yang terjerumus ke dalam perbuatan zina, pergaulan bebas, sampai kerusakan moral. Akibat tidak sengaja melihat apa yang belum seharusnya dapat dilihat, akibat kurangnya pengetahuan dalam hal pentingnya meminta izin. Oleh karena itu peneliti akan menelaah terkait konsep adab dan perintah untuk meminta izin dalam Al-Qur’an, menggunakan pendekatan tafsir maudhui, yang peneliti gunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Petunjuk dalam Surat An-Nur, menurut Abd Al-Hayy Al-Farmawi tentang etika dalam melakukan isti’dzan adalah kewajiban untuk terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik rumah jika akan sedang bertamu, mengucapkan salam, dan kembali pulang jika pemilik rumah tidak ingin menerima tamu, dan juga terdapat etika-etika dalam memasuki rumah umum dan khusus, terutama dalam melakukan isti’dzan dalam rumah pribadi. Adapun hasil yang diperoleh dari pembahasan ini adalah pentingnya untuk mengedepankan segala bentuk tata cara dan etika atau akhlak dalam melakukan sesuatu, salah satunya adalah dengan membiasakan diri untuk meminta izin, dan mengikuti segala norma-norma yang ada. Karena jika hal kecil seperti ini telah diabaikan, maka akan timbul berbagai bentuk permasalahan yang lebih besar, dan muncul berbagai penyimpangan-penyimpangan lainnya. Khususnya dalam adab isti’dzan yang dilakukan dalam keluarga yang tinggal di dalam satu rumah. Karena sangat berakibat fatal jika sejak dini tidak dibiasakan untuk memulai berakhlak dengan akhlak yang baik. Urgensinya adalah untuk, menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan, dan menjaga muru’ah atau kehormatan orang lain.
SUFIS’ UNDERSTANDING ON TWENTY ATTRIBUTES OF ALLAH IN MA'DIN AL-ASRĀR FI MANHAJ AL-ABRĀR MANUSCRIPT Hidayat, Rahmat; Pudjiastuti, Titik; Umi Kalsum, Nyimas; bin Haji Abdul Ranni, Haji Muhammad Yamin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.322

Abstract

In Islamic history of Palembang, manuscript has contributed to the transmission of knowledge. Religious works was an achievement for the Muslim scholars in the past. One of Palembang's cultural heritage is the Ma'din al-Asrār manuscript. This text contains theological teachings. In terms of theology, Palembang's Muslim scholars adhered to the understanding of the nature of God. As with observations on theological works that talk about nature 20, it is found that the majority of his studies use the Kalam Science approach (reasoning approach). This is different from the description of the 20 characteristics contained in the Ma'din al-Asrār manuscript. The purpose of study is to analyse how Sufis understand on the 20 attributes of Allah. This article uses a library research, with the primary data source is the book Alih Aksara Naskah Ma'din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Data collection uses literature study, and data analysis uses text interpretation methods. This research concludes that the 20 attributes which is understood by the Sufis is more orientated to theological-sufistic, where the discussion of aqidah is attempted to feel it (żauq). For example, wujud they understood as a substance, ta’ayyunāt (entity), maẓhar (appearance), tajalliyāt (manifestation), aṡar (former or influence); qidam is understood by being which is not preceded by even nothingness ('adam); baqā' with azaliyah (a being that existed before something existed) and aḥadiyatu'Llāh (oneness of God, and except Him the call muqayyad (being dependent on others); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ is denying everything except Him even  the being of human himself, and many other discussion. Dalam sejarah Islam di Palembang, naskah berkontribusi besar dalam transmisi keilmuan. Menulis masalah-masalah keagamaan menjadi satu prestasi bagi ulama-ulama silam. Salah satu satu warisan budaya tulis masa lampau Palembang adalah naskah Ma‘din al-Asrār. Naskah ini memuat ajaran-ajaran teologis. Dalam hal teologis, ulama-ulama silam Palembang menganut paham sifat 20 Allah. Sebagaimana pengamatan terhadap karya-karya teologi yang berbicara tentang sifat 20, didapati bahwa mayoritas kajian-kajiannya menggunakan pendekatan Ilmu Kalam (pendekatan akal). Hal ini berbeda dengan uraian sifat 20 yang terdapat di dalam naskah Ma‘din al-Asrār, dimana sifat tersebut mereka memahaminya dengan pendekatan sufistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan pemahaman ulama sufi terhadap sifat 20. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan sumber data primer buku Alih Aksara Naskah Ma‘din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Pengumpulan data menggunakan studi literatur, dan analisa datanya menggunakan metode interpretasi teks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sifat 20 yang dipahami oleh kaum sufi lebih berorientasi pada teologis-sufistik, dimana pembahasan akidah diupayakan untuk merasainya (żauq). Misalnya wujud mereka pahami dengan zat, ta’ayyunāt, maẓhar (penampakan), tajalliyāt (manifestasi), aṡar (bekas atau pengaruh), bahkan wahm atau khayālī dapat dikategorikan juga sebagai wujud; qidam dipahami dengan wujud yang tidak didahului oleh ketiadaan sekalipun (‘adam); baqā’ dengan aḥadiyatu’Llāh (keesaan Allah) dan azaliyah, dan selain-Nya adalah wujud muqayyad (wujud yang bergantung dengan yang lain); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ dipahami dengan menafikan segala sesuatu selain-Nya hingga pada diri manusia itu sendiri. dan lain-lain seterusnya.
IMAN AS THE FOUNDATION OF AKHLAQ IN THE PHENOMENON OF MODERN LIFE: Analysis of Said Nursi's Thought on Akhlaq Ihsan, Nur Hadi; Huringiin, Nabila; Indah, Nurmala
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.324

Abstract

This paper attempts to explain the role of faith as a moral principle or foundation in this modern era, according to Badi'uzzaman Said Nursi. Modern human thought and lifestyle problems occur because of the rise of secular views, which reject all metaphysical things, including values and moral studies. The purpose of this study is to analyze the elements of the relationship between Iman and morality in facing the crisis of civilization in modernity. This study is the library and qualitative research. The data collected by the researchers is in the form of a narrative and qualitative. The researchers used descriptive and content analysis methods to explain the relationship between Said Nursi's view of morality and modern human life. The approach utilized by the researcher is a Sufi philosophical approach to suit the approach used by Nursi. This paper explains that Nursi's akhlaq principles which focus on tauhid or aqidah is the basis for forming al-akhlaq al-karimah. Al-akhlaq al-karimah is one solution for the life of modern society, which is far from metaphysical values. The researchers found that iman is the basis for manifesting akhlaq to humans and nature. Researchers suggest that this research be developed and continued in more detail and detail, especially in the study of Iman and Akhlaq. Tulisan ini mencoba menjelaskan peran akidah sebagai asas atau landasan moral di era modern ini, menurut Badi'uzzaman Said Nursi. Masalah pemikiran dan gaya hidup manusia modern terjadi karena munculnya pandangan-pandangan sekular yang menolak segala hal yang bersifat metafisik, termasuk kajian nilai dan moral. Tujuan dari penelitian ini ingin menganalisa unsur-unsur keterkaitan antara iman dan akhlak dalam menghadapi krisis peradaban dalam modernitas. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan kualitatif. Data yang dikumpulkan oleh peneliti berbentuk naratif dan kualitatif. Peneliti menggunakan metode deskriptif dan analisis isi untuk menjelaskan hubungan antara pandangan Said Nursi tentang moralitas dengan kehidupan manusia modern. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan filsafat-sufi yang disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan oleh Nursi. Tulisan ini menjelaskan bahwa prinsip akhlak Nursi yang menitikberatkan pada tauhid atau akidah menjadi dasar pembentukan al-akhlaq al-karimah. Al-akhlaq al-karimah merupakan salah satu solusi bagi kehidupan masyarakat modern yang jauh dari nilai-nilai metafisik. Peneliti menemukan bahwa iman merupakan dasar untuk mewujudkan akhlak kepada manusia dan alam. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dikembangkan dan dilanjutkan lebih detai dan terperinci, khususnya dalam kajian iman dan akhlak.
KAJIAN INTEGRASI AL-QUR’AN DAN SAINS ATAS TIDURNYA ASHHABUL KAHFI DALAM Q.S AL-KAHFI PERSPEKTIF FAKHRUDDIN AL-RAZI Husna, Rifqatul; Hasanah, Faridatul; Alsounusi, Salih Abdulrahman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.327

Abstract

Sleep is a biological need for humans, but excessive sleep will hurt the balance of the brain, so that you will experience headaches and back pain. The Qur’an states that Ashabul Kahf sleeps long and is conscious and healthy. This is in contrast, considering that humans are generally only able to survive with a time limit of 7-8 hours each day. This study aims to understand the continuity of the Qur’an and science regarding the phenomenon of Ashabul Kahf's sleep in the Qur'an in QS. Al-Kahf verses 11, 18 and 19. If measured from habits, sleeping with a long intensity will cause many diseases, but it differs from Ashabul Kahf, who has slept for 309 years and is awake in good health. This study uses a library research study with a descriptive analysis method and uses the maudhu’i (thematic) method in interpreting verses of the Qur’an. Finally, this research concludes that 1) in verse 11, Allah closes Ashabul Kahf's ears by deactivating the ascending reticular activating system so that Ashabul Kahfi does not hear any sound from outside, 2) in verse 17, Allah removes sunlight from Ashabul Kahfi's body, and Allah also does not cover the sun completely, because excessive exposure to sunlight will cause sunburn and damage the genetic material in Cancer Research UK skin cells, and 3) in verse 18 Allah turns Ashabul Kahf’s body back and forth, because turning the body back and forth can keep the skin so that undamaged by the ground Tidur menjadi kebutuhan biologis manusia, akan tetapi tidur secara berlebihan akan berdampak buruk kepada keseimbangan otak, sehingga akan mengalami sakit kepala dan nyeri punggung. Dalam Al-Qura’an disebutkan bahwa Ashabul Kahfi tidur dalam intensitas yang lama dan sadar dalam keadaan yang sehat. Hal ini kontras mengingat pada umumnya manusia hanya mampu bertahan dengan batas waktu 7-8 jam dalam setiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kesinambungan Al-Qur’an dan sains mengenai fenomena tidurnya Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an pada QS. Al-Kahfi ayat 11, 18 dan 19. Jika diukur dari kebiasaan, tidur dengan intensitas yang lama akan menimbulkan banyak penyakit, namun berbeda dengan Ashabul Kahfi yang tertidur selama 309 tahun dan terjaga dalam keadaan yang sehat. Penelitian ini menggunakan kajian library reseach dengan metode analisis diskriptif dan menggunakan metode maudhu’i (tematik) dalam penafsiran ayat Al-Qur’an.  Akhirnya, kesimpulan penelitian ini bahwa 1)  pada ayat 11 Allah menutup telinga Ashabul Kahfi dengan menonaktifkan ascending reticular activating system, sehingga Ashabul Kahfi tidak mendengar suara apapun dari luar, 2) pada ayat 17 Allah menjauhkan sinar matahari dari tubuh Ashabul Kahfi dan Allah juga tidak menutup matahari secara penuh, karena paparan sinar matahari yang berlebihan akan mengalami sunburn (kulit terbakar) dan merusak materi genetik pada Cancer Research UK sel kulit, dan 3) pada ayat 18 Allah membolak balikkan tubuh Ashabul Kahfi, karena membolak balikkkan badan dapat menjaga kulit agar tidak rusak karena tanah
KARAKTERISTIK SYARAH HADIS ‘ABD AL-ŞAMAD AL-FĀLIMBĀNĪ: Tinjauan Kitab Hidāyah Al-Sālikīn Dan Siyar Al-Sālikīn Muhid, Muhid; Prayogi, Ananda; Miladiyah, Faridatul; Nurita, Andris; Izzuddin, Faris Azhar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.330

Abstract

‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī who was considered a prolific scholar  and had made a major contribution to the development of Islamic scholarship, it turns out that his ways of explaining hadith has a unique way that have been overlooked by previous researchers. In fact, he was not only recognized as an expert scholar in Sufism studies, but also had sufficient credibility to be recognized in hadith narrations. Therefore, this article reveals the characteristics of sharah hadith carried out by ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī in terms of his two books, Hidāyah al-Sālikīn and Siyar al-Sālikīn. The method used in this study is a literature research method with a qualitative approach in the form of exposing examples of hadiths and their editorial sharah in the two related books. The analysis used in this research is descriptive analysis by observing the pattern in the syarah hadith model used by ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī and comparing it with related theories so as to produce a new theory of the characteristics of patterns obtained. The results shows that the syarah hadith of ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī has unique characteristics, namely a language approach patterned by exposing hadiths with hadiths and has a tendency to always combine the abstract concept of Sufism with other things which are practical through definitions and divisions with the ijmali method. This can be seen from the hadiths which are interpreted differently from the Sufism approach, both in Hidāyah al-Sālikīn and Siyar al-Sālikīn. As a suggestion, this findings need to be developed in the future and can become one of the models of sharah hadith that practitioners or the general public can use in explaining the meaning of hadith ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī yang dinilai sebagai ulama yang produktif dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan keilmuan Islam ternyata caranya dalam menjelaskan hadis yang memiliki ciri khas terlewat dari para peneliti sebelumnya. Padahal, dia tidak hanya diakui sebagai ulama yang ahli dalam bidang tasawuf, namun juga memiliki kredibilitas yang cukup diakui dalam periwayatan hadis. Oleh karena itu, artikel ini mengungkap karakteristik syarah hadis yang dilakukan oleh ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī yang ditinjau dari dua kitabnya, Hidāyah al-Sālikīn dan Siyar al-Sālikīn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif yang berupa pemaparan contoh-contoh hadis beserta redaksi syarahnya dalam kedua kitab terkait. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan mengamati pola dalam model syarah hadis yang digunakan oleh ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī serta membandingkannya dengan teori-teori terkait sehingga dapat menghasilkan teori baru dari karakteristik pola yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarah hadis ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī memiliki karakteristik yang unik, yaitu pendekatan bahasa berpola pensyarahan hadis dengan hadis dan cenderung selalu mencoba memadukan konsep tasawuf yang abstrak dengan hal-hal yang bersifat praktis melalui definisi dan pembagian-pembagian dengan penggunaan metode ijmālī. Hal itu dapat dilihat dari hadis-hadis yang dimaknainya secara berbeda dengan pendekatan tasawuf baik itu dalam kitab Hidāyah al-Sālikīn maupun Siyar al-Sālikīn. Sebagai saran, temuan ini perlu dikembangkan di kemudian hari serta dapat menjadi salah satu model syarah hadis yang dapat digunakan oleh para praktisi atau masyarakat luas dalam menjelaskan makna hadis
KRITIK AL-MARAGHI ATAS PENDAPAT IGNAZ GOLDZIHER DALAM BUKU INTRODUCTION TO ISLAMIC THEOLOGY AND LAW Apriyani, Fitria; Nur Amin, Muhammad; Ikhwanuddin, Ikhwanuddin; Kholil, Ahmad Musyadad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.334

Abstract

This research is a form of criticism of Ignaz Goldziher's opinion in the book Introduction to Islamic Theology and Law which is considered to be at odds with the Sunnah and the word of God in the Qur'an which is the main reference source for Muslims. Ignaz's biggest mistake was to deny the sacredness of the Prophet as a messenger of God and consider the Prophet only as an ordinary human being in general which then gave birth to opinions that are subjective to Islam. Therefore, this research uses the method of character study and historical criticism analysis of Tafsir Al-Maraghi in refuting these opinions. Ignaz Goldziher's thinking in the book is influenced by the Historical Criticism approach he takes in studying Islam, so Ignaz often relates the teachings of Islam to the teachings of previous religions. Imam Maraghi rejects this information, that everything that God has revealed to the Prophet Muhammad in the form of Islamic teachings or the Word of God in the Qur'an is a form of guidance and guidance for humans to be saved from the world's misguidance. Penelitian ini merupakan bentuk kritik pendapat Ignaz Goldziher dalam buku Introduction to Islamic Theology and Law yang dinilai bersebrangan dengan Sunnah dan firman Allah didalam Al-Qur’an yang menjadi sumber rujukan utama umat Islam. kesalahan terbesar Ignaz yakni menafikan sakralitas Rasulullah sebagai utusan Allah dan menganggap Nabi hanya sebagai manusia biasa pada umumnya yang kemudian melahirkan pendapat-pendapat yang bersifar subjektif terhadap Islam. Oleh karena itu, peneilitian ini menggunakan metode studi tokoh dan analisis kritik historis Tafsir Al-Maraghi dalam membantah pendapat-pendapat tesebut. Pemikiraan Ignaz Goldziher didalam buku tersebut dipengaruhi oleh pendekatan Historical Criticism yang dilakukannya dalam mengkaji Islam, sehingga Ignaz sringkali mengaitkan ajaran Islam dengan ajaran agama-agama sebelumnya. Imam Maraghi menolak keterangan tersebut, bahwa segala sesuatu yang sudah Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad baik berupa ajaran Islam atau Firman Allah dalam Al-Qur’an adalah bentuk petunjuk dan pedoman bagi manusia agar selamat dari kesesatan dunia.
SURAH AL-KAHFI AYAT 65: Ilmu Laduni Perspektif Ulama Muslim Miftachurrozaq, Tahmid; Waharjani , Waharjani; Perawironegoro, Djamaluddin; Noto Sudarmo, Sarwono
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.338

Abstract

This study is a study of laduni science seen from various perspectives of Muslim scholars, with the background that not all stories in the Qur'an are arranged hierarchically as a giver of advice to mankind.. This study aims to provide an overview of the concept of laduni science from the perspective of Muslim scholars. This study uses a qualitative research design based on historical research and literature. Various reading materials, periodicals, and other references are used as data sources. The results of the study state that laduni knowledge is knowledge that is obtained without an intermediary between the soul and God. Nothing but the light that comes from a magic lamp that hits a clean, empty, and gentle heart A person who understands his own essence also understands his God. Laduni knowledge is not the result of magic that suddenly appears in someone's self; one must go through a process that is not easy to get this knowledge. Laduni knowledge is knowledge that comes directly from God without intermediaries, only from himself and God. Kajian ini merupakan telaah ilmu laduni dilihat dari berbagai sudut pandang para cendekiawan muslim, dengan dilatarbelakangi tidak semua kisah dalam Al-Qur’an tersusun secara hirarkis sebagai pemberi nasehat kepada umat manusia. Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep ilmu laduni dari perspektif cendekiawan muslim. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif berdasarkan penelitian sejarah dan literatur. Berbagai bahan bacaan, majalah, dan referensi lain digunakan sebagai sumber data. Hasil kajian menyatakan bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang diperoleh tanpa perantara antara jiwa dengan Tuhan. Tak lain adalah cahaya yang berasal dari lampu ajaib yang menerpa hati yang bersih, kosong, dan lembut. Seseorang yang memahami hakikatnya sendiri juga memahami Tuhannya. Ilmu Laduni bukanlah hasil kesaktian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang; seseorang harus melalui proses yang tidak mudah untuk mendapatkan ilmu ini. Ilmu Laduni adalah ilmu yang datang langsung dari Tuhan tanpa perantara, hanya dari dirinya sendiri dan Tuhan.
THE IDEA OF ISLAMIZATION: A Study of Imam Suprayogo’s Thought Fardyatullail, Haila; Arif, Syamsuddin; Heemphinit, Sulfa
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.340

Abstract

Modern science has been marred by lingering problems andconsequences, as twentieth-century critics like Theodor Adorno andSeyyed Hossein Nasr argued that modern science has been emptied ofspiritual values and increasingly disconnected from ethical religiousconcerns. As a result, most scientists adhere to the dichotomy betweenscience and religion, implying not only distinction, but also separationand contradiction. Equally problematic is the widely held, but naïve, viewthat science is neutral and value-free, has no human, economic, political,military, national, industrial or commercial interests. In the wake ofrealization that modern science could be harmful and detrimental to theminds and lives of Muslim. Calls for Islamization was launched acrossthe Muslim world from Virginia to Casablanca. This article aims to assessthe idea of Islamization of contemporary science as espoused andelaborated by Imam Suprayogo, a former rector of the State IslamicUniversity (UIN) in Malang, Indonesia. Based on library research, thisstudy found that Imam Suprayogo’s idea of Islamization prescribesintegration of science and religion to eradicate the long-held dichotomybetween the two, particularly between scientific claims and Islamicdoctrines. Imam Suprayogo also proposed to reconstruct a religiousscientific paradigm by introducing the “tree of knowledge” andlaunching the “Tarbiyah Ulul Albab” (education of the Intelligentsia)which has been implemented during his term in an attempt to transformUIN Malang into an Islamic educational institution that teaches bothscience and religion while at the same time projecting the Islamic values. Ilmu pengetahuan modern saat ini, telah dirusak oleh sejumlah masalahdan konsekuensi yang tidak diinginkan, sebagaimana kritikus abad keduapuluh seperti Theodor Adorno dan Seyyed Hossein Nasr menyatakanbahwa ilmu pengetahuan modern telah dikosongkan dari nilai-nilaispiritual dan terputus dari masalah etika keagamaan. Akibatnya, sebagianbesar ilmuwan menganut dikotomi antara ilmu dan agama, hal tersebuttidak hanya perbedaan, tetapi juga pemisahan dan kontradiksi di antarakeduanya. Masalah yang sama datang dari pandangan secara luas, tetapinaif, bahwa ilmu itu netral dan bebas nilai, tidak memiliki kepentinganmanusia, ekonomi, politik, militer, nasional, industri atau komersial.Tanpa disadari bahwa ilmu pengetahuan modern bisa berbahaya danmerugikan pikiran serta kehidupan Muslim. Adapun seruan untukIslamisasi telah diluncurkan ke seluruh dunia Muslim dari Virginia hinggaCasablanca. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji gagasan Islamisasi ilmupengetahuan kontemporer sebagaimana dianut dan dielaborasi olehImam Suprayogo, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN)Malang, Indonesia. Berdasarkan studi pustaka, penelitian ini menemukanbahwa gagasan Islamisasi Imam Suprayogo mengatur integrasi ilmu danagama untuk menghapus dikotomi yang telah lama ada di antarakeduanya, khususnya antara klaim ilmiah dan doktrin Islam. ImamSuprayogo juga mengusulkan untuk merekonstruksi paradigma keilmuanagama dengan memperkenalkan “pohon ilmu” serta meluncurkanprogram “Tarbiyah Ulul Albab” yang telah dilaksanakan selamaistilahnya dalam upaya mentransformasi UIN Malang menjadi lembagapendidikan Islam yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan agamasekaligus memproyeksikan nilai-nilai Islam.
MISUNDERSTANDING OF THE QUR’AN VERSES AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR BY EXTREME MUSLIM IN INDONESIA Azisi, Ali Mursyid; Ilmiyah, Dina Faiqotul; Ningrum, Velida Apria; Salamullah, Muchammad Amiruddin; Majid, Abdul
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.342

Abstract

This article examines how the misunderstanding of the implementation of the Qur'anic text amar ma'ruf nahi munkar by extreme Islamic groups (HTI, Salafi-Wahabi, and FPI), especially in Indonesia. Presenting the phenomenon that often occurs and the response to acts of violence accompanied by the destruction of facilities is a form of implementing verses that are not in line with the nature of Islam, which was revealed as a religion that perfects all things, including morals. This article is written with a qualitative method using library research steps by referring to appropriate, relevant, and accurate references that can later be accounted for. This article aims to find out how mistakes have been made in interpreting the text of amar ma'ruf nahi mungkar by extreme Islamic groups. The findings of this research are that the Qur'anic verse amar ma'ruf nahi munkar fails to be understood by extreme Islamic groups. The verse upholds goodness and prevents evil instead of being applied with violence. The meaning contained in word "ma'ruf" means "with wisdom" in the realization that amar ma'ruf nahi munkar also has a message that Islam is a religion that invites goodness, safety, benefit, and without violence. This research article will add knowledge and additional study material for academics regarding the dynamics of religious movements, especially in Indonesia. Artikel ini mengkaji tentang bagaimana kesalahpahaman implementasi teks al-Qur’an amar ma’ruf nahi munkar oleh kelompok Islam ekstrem (HTI, Salafi-Wahabi, dan FPI) khususnya di Indonesia. Dengan menampilkan fenomena yang kerap kali terjadi dan respon tindakan kekerasan disertai pengerusakan fasilitas merupakan wujud implementasi ayat yang tidak selaras dengan hakikat Islam yang turun sebagai agama penyempurna segala hal, termasuk akhlak. Artikel ini ditulis dengan metode kualitatif dengan menggunakan langkah library research, dengan merujuk pada referensi yang tepat, relevan dan akurat nantinya bisa dipertenggungjawabkan. Tujuan ditulisnya artikel ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kesalahan yang selama ini kurang tepat dalam memaknai teks amar ma’ruf nahi mungkar oleh kelompok islam ekstrem. Temuan dari penelitian ini adalah, ayat Qur’an amar ma’ruf nahi munkar gagal dipahami oleh kelompok Islam yang berhaluan ekstrem. Ayat tersebut digunakan untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran justru diterapkan dengan kekerasan. Padahal makna yang terkandung dalam kata “ma’ruf” berarti “dengan bijaksana”. Pada sadarnya amar ma’ruf nahi munkar juga memiliki pesan bahwa Islam agama yang mengajak kebaikan, keselamatan, kemaslahatan, dan tanpa kekerasan. Artikel penilitian ini nantinya akan menambah pengetahuan dan tambahan bahan kajian para akademisi-agamawan terkait dinamika gerakan keagamaan khususnya di Indonesia.