cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma.Bulian Km. 16 Muara Jambi Jambi 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : -
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin is an academic journal focusing on the sciences of the ushuluddin (principles of religion), published twice a year (June and December) by the Faculty of Ushuluddin and religious studies, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. It is a shared space to disseminate and publish the scholarly papers of those whose concern is the sciences of ushuluddin, such as, Islamic Philosophy, Tasawuf, Qur’anic and Hadith Studies, Comparative Religion, Islamic Thoughts and Political Islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 182 Documents
KONSEP AL-HAYA’ DALAM PERSPEKTIF HADIS DAN RELEVANSINYA DENGAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL TIKTOK April, Apriliah; Supriyanto, John; Munadi, Almunadi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.354

Abstract

This article explains a problem, namely the concept of al-h}aya>’ from a hadith perspective and its relevance for TikTok users. Looking at the current conditions, the author assumes that almost all social media users no longer have an attitude of shame, especially when users of the TikTok application follow excessive dancing movements. This research looks directly at several TikTok accounts, then carries out descriptive analysis using a library research approach and is supported by primary data sources such as hadith books: al-Bukhari and Muslim, digital applications such as the Encyclopedia of the 9 books of the Imam and Matktaba Shameela, articles or magazines related to the discussion to be researched. The results of this research show that: first, there are many types of platforms nowadays, making users follow all existing trends. Here the researchers found that the TikTok platform type is very popular with many people. TikTok which has a feature, namely doing a dance movement in front of the public, they follow a trend with a purpose, whether it's for the sake of followers, likes, or other things. Second, this article provides various hadiths containing about al-h}aya>’ which can be used as a guide for someone to see what the limits are in using social media, so a woman can maintain her dignity. Tulisan ini memberikan sebuah penjelasan terhadap sebuah permasalahan yakni tentang konsep al-h}aya>’ perspektif hadis dan relevansinya bagi pengguna media sosial TikTok. Melihat kondisi saat ini, penulis berasumsi bahwa hampir semua pengguna media sosial tidak memiliki sikap malu lagi, demikian ketika para pengguna aplikasi TikTok yang mengikuti gerakan berjoget secara berlebihan. Penelitian ini meninjau langsung pada beberapa akun TikTok kemudian melakukan deskriptif analitis melalui literature review dan didukung dengan sumber data primer seperti kitab-kitab hadis: al-Bukhari dan Muslim, aplikasi digital seperti Ensiklopedi 9 kitab Imam dan al-matktabah al-syamilah, artikel ataupun majalah yang terkait dengan pembahasan yang akan diteliti. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: pertama, banyaknya jenis platform saat ini, menjadikan para penggunanya untuk mengikuti segala tren yang ada, di sini peneliti menemukan bahwasanya jenis platform TikTok sangat diminati banyak orang. TikTok yang memiliki fitur, yakni melakukan sebuah gerakan joget-joget di depan publik, mereka mengikuti sebuah tren tersebut memiliki tujuan, entah itu demi sebuah followers, like, maupun hal lainnya. Kedua, di dalam tulisan ini memberikan berbagai hadis yang memuat tentang al-h}aya>’ yang bisa dijadikan panduan seseorang untuk melihat apa saja batasan dalam bermain media sosial, demikian sebagai seorang perempuan yang mampu menjaga marwahnya.
KONTEKSTUALISASI ESKATOLOGIS DI ERA KONTEMPORER: Analisis Penafsiran Maimun Zubair Dalam Tafsir Safinah Kalla Saya’lamun Fi Tafsiri Shaykhina Maymun Qodri, Zamzam; Kamil, Ahmad Zaidanil
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.361

Abstract

The discourse of eschatology is still an interesting topic among scholars. In Indonesia, the issue of eschatology and the works that discuss it experienced significant development from the 1990s to the early 2000s, especially during the transition from the New Order government era to reformation. One of the important figures in the delivery of a distinctive and unique eschatology is Maimun Zubair through Safinah Kalla Saya'lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. This work originated from the study of Tafsir Al-Jalalayn every Sunday at Pesantren Al-Anwar Sarang which was collected by Ismail al-Ascholy. Its contextual approach and relevance to the contemporary context has made the concept of eschatology easier to understand by the community. This article aims to review the contextualization of the interpretation of eschatological verses in Safinah Kalla Saya'lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. The research method used is library research and content analysis. Using a sociology of knowledge approach, the results of this study show that Maimun Zubair firmly states that eschatology is not only a prediction of the future to come, but has occurred in the midst of the contemporary era. This is an interesting view and different from other interpretations, both from classical, modern, and Nusantara interpretations that still maintain a more literal interpretation. This work is significant for portraying the role of pesantren clerics such as Maimun Zubair in trying to bridge religious understanding with real life, thus providing valuable guidance for Muslim communities in facing changing times. Maimun Zubair also succeeded in bringing together diverse sources of thought, combining intellectuals from the Middle East and Indonesia with harmonious synergy Diskursus eskatologi masih menjadi topik menarik di kalangan para sarjana. Di Indonesia, isu eskatologi dan karya-karya yang membahasnya mengalami perkembangan siginifikan sejak dekade 1990-an hingga awal 2000-an, terutama selama masa transisi dari era pemerintahan Orde Baru menuju reformasi. Salah satu tokoh penting dalam penyampaian eskatologi yang khas dan unik adalah Maimun Zubair melalui tafsir Safinah Kalla Saya‘Lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. Karya ini berawal dari kajian Tafsir Al-Jalalayn setiap hari ahad di Pesantren Al-Anwar Sarang yang dikumpulkan oleh Ismail al-Ascholy. Pendekatannya yang kontekstual dan relevan dengan konteks kontemporer telah membuat konsep eskatologi menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat eskatologi dalam tafsir Safinah Kalla Saya‘lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dan content analysis. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Maimun Zubair dengan tegas menyatakan bahwa eskatologi tidak hanya merupakan ramalan masa depan yang akan datang, tetapi telah terjadi di tengah-tengah era kontemporer. Ini adalah pandangan yang menarik dan berbeda dengan tafsir lain, baik dari tafsir klasik, modern, maupun Nusantara yang masih menjaga interpretasi yang lebih literal. Karya ini signifikan untuk memotret peran kiai pesantren seperti Maimun Zubair berusaha menjembatani pemahaman agama dengan kehidupan nyata, sehingga memberikan panduan yang berharga bagi masyarakat Muslim dalam menghadapi perubahan zaman. Maimun Zubair juga berhasil menyatukan beragam sumber pemikiran, menggabungkan intelektualitas dari Timur Tengah dan Indonesia dengan sinergi yang harmonis.
TELAAH KITAB TAFASSERE BICARA UGINA SURAH ‘AMMA KARYA AGH. MUHAMMAD AS’AD SENGKANG Adinda, Nur; Shofa, Ida Kurnia; Ghifari, Muhammad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.363

Abstract

This article examines one of the tafsir books compiled by AGH. Muhammad As'ad, one of the Indonesian clerics who is influential in South Sulawesi. The book of tafsir is entitled Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma. This tafsir is among the first tafsir written using Lontarak script and in Bugis language, so this tafsir book provides a new nuance in the history of the study of al-Qur'an tafsir in South Sulawesi. The book of tafsir was translated into Indonesian by AGH. As'ad students, Sjamsoeddin Singkang. The book Tafasere Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma is classified as a book that has little exposure to the general public, so no research has been found that examines this book of tafsir. This research aims to examine the characteristics, background of interpretation, sources, methods and styles used by AGH. As'ad in interpreting the Koran. This type of research is library research using descriptive analysis methods. From this research it can be seen that the Bugis community was the main target for writing the book Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma because the community's understanding there is still very limited and there are still many ritual practices that are not in accordance with Islamic teachings and beliefs. As for the source of AGH interpretation. As'ad uses the bi al-ray tafsir method. From a methodological aspect, this interpretation uses the ijmali method with simple interpretation. The breadth of explanation falls into the category of bayani interpretation. The targets and order of verses are interpreted using the maudhu'i verse method. The style of interpretation tends to be towards faith and divinity, making it fall into the category of interpretation of the i'tiqadi style. Artikel ini mengkaji salah satu kitab tafsir yang disusun oleh AGH. Muhammad As’ad, salah satu ulama Nusantara yang berpengaruh di Sulawesi Selatan. Kitab tafsirnya diberi judul Tafasere Bicara Ugina Surah Amma. Tafsir tersebut termasuk tafsir pertama yang ditulis menggunakan aksara Lontarak dan berbahasa Bugis sehingga kitab tafsir ini memberikan nuansa baru dalam sejarah kajian tafsir al-Qur’an di Sulawesi Selatan. Kitab tafsir diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh murid AGH. As’ad, Sjamsoeddin Singkang. Kitab Tafasere Bicara Ugina Surah Amma tergolong kitab yang kurang terekspos di masyarakat umum, sehingga belum ditemukan penelitian yang mengkaji kitab tafsir ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik, latar belakang penafsiran, sumber, metode dan corak yang digunakan AGH. As’ad dalam menafsirkan al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa masyarakat Bugis menjadi sasaran utama penulisan kitab Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma karena pemahaman masyarakat di sana masih sangat terbatas dan masih terdapat banyak praktik ritual yang tidak sesuai dengan ajaran dan keyakinan Islam. Adapun mengenai sumber penafsiran AGH. As’ad menggunakan metode tafsir bi al-ray. Dari aspek metolodogi, tafsir ini menggunakan metode ijmali dengan penafsiran sederhana. Keluasan penjelasan masuk pada kategori tafsir bayani. Adapun sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan menggunakan metode maudhu’i ayat. Corak penafsiran cenderung mengarah ke arah keimanan dan ketuhanan menjadikannya termasuk kategori tafsir corak i’tiqadi.
KONSEP UMMAH WAHIDAH DALAM AL-QUR’AN: Kajian Atas Tafsir Al-Maraghi Putri, Poppy Devinna; Dahliana, Yeti
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.368

Abstract

Allah created humans as a ummah wahidah, even though humanity consists of various tribes and races humanity is one people, but recently humans often clash with each other, and even fellow Muslims have become divided. others are caused by differences of opinion that give rise to disputes. Even though Islam commands its people to unite with each other, not divide and not fight because Islam exists to be able to care for existing differences, this is proven by the existence of nine verses that discuss the unity and unity of the Ummah. Therefore, the researcher wants to examine more deeply the concept of ummah wahidah in the thoughts of Muhammad Mustafa al-Maraghi in the book Tafsir al-Maraghi. This research aims to find out the meaning of the phrase ummah wahidah in al-Maraghi's interpretation, find out the relevance of the concept of ummah wahidah offered in the current context, and answer existing problems. The method used in this research is library research. The results of this research are the results of Sheikh al-Maraghi's interpretation of nine verses containing several phrases ummah wahidah. The meanings in Sheikh al-Maraghi's interpretation include one person in terms of religion, one person in terms of their faith, one person in terms of the Shari'a, one person in terms of disbelief, and one person in the search for truth. The concept of ummah wahidah offered by Sheikh al-Maraghi is still relevant in the current context, seen from the fact that currently there are still many conflicts between communities caused by differences in views. So this interpretation is useful as a solution to existing problems. Pada dasarnya manusia Allah ciptakan sebagai ummah wahidah, meskipun umat manusia terdiri dari berbagai macam suku, ras yang berbeda-beda. Belakangan ini umat manusia saling berselisih bahkan sesama umat Islam pun berbepecah belah, salah satunya, disebabkan oleh perbedaan pendapat. Padahal Islam memerintahkan umatnya untuk saling bersatu, tidak berpecah belah dan tidak berselisih karena Islam hadir untuk bisa merawat perbedaan yang ada. Hal ini dibuktikan dengan adanya sembilan ayat yang membahas mengenai persatuan dan kesatuan umat. Oleh karena itu, peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai konsep ummah wahidah dalam pemikiran Muhammad Mustafa al-Maraghi dalam kitab tafsir al-Maraghi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari lafal ummah wahidah dalam tafsir al-Maraghi, mengetahui relevansi konsep ummah wahidah yang ditawarkan dengan konteks masa kini dan  menjawab problem yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian “library research” (kepustakaan). Hasil dari penelitian ini adalah dari hasil penafsiran Syeikh al-Maraghi pada sembilan ayat yang mengandung lafal ummah wahidah, terdapat beberapa makna di antaranya, umat yang satu dalam hal agama, umat yang satu dalam hal keimanan, umat yang satu dalam hal syariat, umat yang satu dalam hal kekufuran, dan umat yang satu dalam mencari kebenaran. Konsep ummah wahidah yang dtiwarkan oleh Syeikh al-Maraghi masih relevan dengan konteks masa kini, dilihat dari  di masa sekarang masih banyak konflik perpecahan antar umat yang disebabkan oleh perbedaan pandangan. Sehingga, penafsiran ini berguna untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.
THEORY OF KHUDI AND SPIRITUAL DEVELOPMENT ON IQBAL’S PERSPECTIVE: Analysis Spiritual Strengthening Islamic Perspective Arroisi, Jarman; Assakhyyu Qorib, Khoffifa
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.370

Abstract

Nowadays most people lack their self-control, which can result in sadness, stress corruption, even murder and suicide The purpose of writing this paper is to find out Muhammad Iqbal's theory of khudi. By descriptive analysis method, this paper concludes that: First, Muhammad Iqbal's theory of khudi as a strengthening of spirituality in Islamic psychology. Second, khudi is defined as soul, individual, and personality. Third, the factors to strengthen khudi include: love, faqr, toleration, courage, and action. Fourth, the three main stages to strengthen the spirituality of khudi include: obedience to Allah's law, self-control, and Caliphate. Fifth, Insan Kamil is a form of realization of the value of spirituality in khudi as an understanding of human nature as a servant of Allah to become the Caliph of Allah on earth Di era modern sebagian besar manusia kehilangan self-control yang menyebabkan depresi, stres, korupsi, bahkan pembunuhan dan aksi bunuh diri.  Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui teori khudi Muhammad Iqbal. Dengan menggunakan metode descriptive analisis makalah ini menghasilkan kesimpulan bahwa: Pertama, teori khudi Muhammad Iqbal sebagai penguatan spiritualitas dalam psikologi Islam. Kedua, khudi diartikan sebagai jiwa, individual, dan kepribadian. Ketiga, faktor untuk memperkuat khudi diantarannya: cinta, faqr, tolerasi, keberanian, dan tindakan. Keempat, tiga tahap utama untuk memperkuat spiritualitas khudi diantaranya: ketaatan akan hukum Allah, pengendalian diri, dan ke-Khalifahan. Kelima, insan Kamil adalah bentuk terealisasinya nilai spiritualitas dalam khudi sebagai pemahaman hakikat manusia sebagai hamba Allah hingga menjadi Khalifah Allah di muka bumi.
VERNAKULARISASI DALAM TAFSIR BASA SUNDA: Studi Atas Tafsir Nurul Bajan Karya Muhammad Romli Dan H.N.S Midjaja Nurmawati, Reni; Mualim, Mohamad; Shofa, Ida Kurnia
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.371

Abstract

This article examines one of the most famous Sundanese tafsir books of its time and was written by a modernist Islamic figure in West Java, namely Muhammad Romli and H.N.S Midjaja. The book of tafsir is entitled Tafsir Qur'an Basa Sundanese Nurul Bajan. This tafsir was not completed in 30 juz, only reaching the third juz of Surah Al-Imran verse 91. This tafsir was written using Sundanese Latin language and script with old spelling that had not been perfected. There are three cultural aspects that influence the process of interpreting the Koran into Sundanese, including language stratification, traditional Sundanese expressions, and Sundanese nature. This research aims to examine the elements of vernacularization in Nurul Bajan's interpretation, which includes Sundanese language etiquette (Sundanese language steps), traditional Sundanese expressions, and Sundanese natural descriptions. This type of research is library research and is classified as qualitative research. This research uses a descriptive-analytical method using the vernacularization theory approach initiated by Anthony H. Johns. The results of this research can be concluded that Tafsir Nurul Bajan contains forms of vernacularization consisting of language manners (undak-usuk basa) which include the words arandjeun, manehna, ngadeg, abdi, wife, bodjo, garwana, pameget, uninga, ngadamel, and wallon. Traditional expressions include the words Mung kedah buleud determination and Ngahidji sabilulungan. A description of the nature of Sundanese which includes the words "like rain growing keunana pepelakan, nu njukakeun ka artisan tanina: tuluj maneh nendjo (njaksian) djadi koneng even speed pisan, tuluj kaajaanana djadi antjur". Artikel ini mengkaji salah satu kitab tafsir Sunda yang paling tersohor pada zamannyadan ditulis oleh seorang tokoh Islam modernis di Jawa Barat yakni Muhammad Romli dan H.N.S Midjaja. Kitab tafsirnya diberi judul Tafsir Qur’an Basa Sunda Nurul Bajan. Tafsir ini tidak selesai ditulis 30 juz, hanya sampai pada juz ketiga surat Al-Imran ayat 91. Tafsir ini ditulis menggunakan bahasa dan aksara latin Sunda dengan ejaan lama yang belum disempurnakan. Ada tiga aspek budaya yang mempengaruhi proses penafsiran Al-Qur’an kedalam bahasa Sunda, antara lain, stratifikasi bahasa, ungkapan tradisional Sunda, dan alam kesundaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji unsur-unsur vernakularisasi dalam tafsir Nurul Bajan yang meliputi tatakrama bahasa Sunda (undak-usuk basa Sunda), ungkapan tradisional Sunda, dan gambaran alam kesundaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan(library research) dan diklasifikasikan sebagai penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitisdengan menggunakan pendekatan teori vernakularisasi yang digagas oleh Anthony H. Johns.Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tafsir Nurul Bajan mengandung bentuk-bentuk vernakularisasi yang terdiri dari tatakrama bahasa (undak-usuk basa) yang meliputi kataarandjeun, manehna, ngadeg, abdi, istri, bodjo,garwana, pameget, uninga, ngadamel, dan walon. Ungkapan tradisional yang meliputi kata Mung kedah buleud tekad dan Ngahidji sabilulungan. Gambaran alam kesundaan yang meliputi kata “seperti hudjan numbuhkeunana pepelakan, nu njukakeun ka tukang-tukang tanina: tuluj maneh nendjo (njaksian) djadi koneng malah laju pisan, tuluj kaajaanana djadi antjur”.
ANALISIS SPIRITUAL ATHEISM DALAM TINJAUAN FILSAFAT JIWA MULLA SADRA Al Walid, Kholid; Hamdi, Bil
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.375

Abstract

This research aims to analyze the perspective of Spiritual Atheism. Philosophically, Spiritual Atheism is grounded in the epistemological framework of empiricism-saintism and the ontological framework of materialism. Its view on spirituality is based on the theory of mind-brain identity and atheistic mystical experiences. The thought framework and arguments of Spiritual Atheism are assessed to contain demarcation problems, contradictions, and limitations of knowledge. Using qualitative methods, literature research, and internal coherence analysis, this study concludes several points. Firstly, the onto-epistemological framework of Spiritual Atheism contains contradictions with its own principles by limiting the entirety of reality and sources of knowledge. Secondly, the theory of mind-brain identity is inadequate because it overlooks the reality of the plurality of consciousness effects that distinguish the soul and body. Lastly, spirituality without God or atheistic mystical experiences in Spiritual Atheism is rejected based on the principle of ittihād al-`āqil wa ma`qūl, which implies the necessity of every soul being connected to God as the efficient cause for all souls in the view of the reality of existence according to Mulla Sadra. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis atas pandangan Spiritual Atheism. Secara filosofis, Spiritual Atheism bertumpu pada kerangka epistemologi empirisme-saintisme dan ontologi materialisme. Lalu, pandangannya mengenai spiritualitas bertumpu pada teori identitas pikiran-otak dan pengalaman mistik ateistik. Kerangka pemikiran dan argumentasi Spiritual Atheism dinilai mengandung problem demarkasi, mengandung kontradiksi, dan limitasi pengetahuan. Dengan menggunakan metode kualitatif dan riset pustaka serta analisis koherensi intern, penelitian ini menyimpulkan beberapa poin. Pertama, kerangka onto-epistemologi Spiritual Atheism mengandung kontradiksi dengan prinsipnya sendiri karena melimitasi keseluruhan realitas dan sumber pengetahuan. Kedua, teori identitas pikiran-otak tidak memadai karena mengabaikan kenyataan pluralitas efek kesadaran yang membedakan jiwa dan raga. Terakhir, spiritualitas tanpa Tuhan atau pengalaman mistik ateistik dalam Spiritual Atheism tertolak atas dasar prinsip ittihād al-`āqil wa ma`qūl yang berimplikasi pada keniscayaan setiap jiwa berhubungan dengan Tuhan sebagai kuasa sebab efisien bagi seluruh jiwa dalam pandangan realitas wujud Mulla Sadra. 
PENAFSIRAN ESOTERIK (BATINIYAH) TENTANG AYAT SALAT: Analisis Terhadap Tafsir Syafahi Adi Hidayat Di Youtube Romziana, Luthviyah; Febrianti, Indika
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.376

Abstract

Prayer is a religious commandment descended upon the Prophet in a very special place, namely 'inda sidratil muntaha 'indaha jannatul ma'wa (near the heaven at Sidrat al-Muntaha). The commandment of prayer is obligatory for every Muslim so that through prayer, we can avoid committing indecencies and evils. Performing the prayer is the initial sign of Islam for a Muslim, while neglecting the prayer is also the first sign of disbelief for a Muslim. The purpose of this research is to acquire a clearer understanding and depiction of the meaning of prayer according to the commentary by Adi Hidayat. The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques in this study employ both primary and secondary sources. Primary data sources consist of Adi Hidayat's lectures and sermons through mass media, while secondary data include scholarly works and books related to the topic. Research findings: First, according to Adi Hidayat, prayer is not just a mere obligation but a form of our devotion as creatures. Second, prayer done correctly will establish a strong connection with Allah, making it easier for us to navigate life. Third, it brings forth a sense of servitude and devotion while performing prayers, so that the prayers we undertake can yield positive impacts on our lives. Salat merupakan suatu perintah agama yang diturunkan kepada rasulullah ditempat yang sangat istimewa yaitu ‘inda sidratil muntaha ‘indaha jannatul ma’wa (didekat surga di siratil muntaha). Perintah salat diwajibkan bagi setiap umat islam agar dengan salat tersebut kita bisa terhindar dari perbuatan fahsya’ dan munkar. Mengerjakan salat merupakan tanda awal keislaman bagi seorang muslim, sedangkan meninggalkan salat merupakan tanda awal kekafiran pula bagi seorang muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan gambaran yang lebih jelas tentang memahami makna salat menurut tafsir syafahi Adi Hidayat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa video-video pengajian dan ceramah Adi Hidayat melalui media massa. Sedangkan data sekunder berupa karya ilmiah dan buku-buku yang berkaitan dengan judul. Hasil penelitian: Pertama, salat menurut Adi Hidayat bukan hanya sekedar kewajiban belaka, namun salat menurutnya adalah suatu bentuk penghambaan kita sebagai makhluk. Kedua, salat yang dilakukan dengan benar akan melahirkan konektifitas yang kuat dengan Allah, sehingga dengan konektifitas tersebut yang akan memudahkan kita dalam menjalani kehidupan. Ketiga, menghadirkan adanya sifat penghambaan serta kekhusyuan saat melakukan salat, sehingga dengan salat yang kita kerjakan tersebut dapat menjauhkan kita dari perilaku fahsya’ dan munkar serta dapat membuahkan dampak yang positif bagi kehidupan kita.
KONSEP SULUK ZAINUDDIN AL-MALIBARI: Jalan Tritunggal Menuju Ma’rifat Allāh Rofiq, Ahmad; Riyadi, Abdul Kadir
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.382

Abstract

Discussions on "suluk" have been extensively covered by scholars and experts in the field of Sufism. However, it becomes particularly intriguing when "suluk" is examined by scholars known for their expertise in Islamic jurisprudence or fiqh, like Zainuddin al-Malibari. In several Sufi literary works, "suluk" places greater emphasis on the process, spiritual activities, or practices aimed at reaching Allah SWT. Consequently, its practical application often encounters errors due to misinformation. In his book "Hidāyat al-Adhkiyā’", Zainuddin al-Malibari delves into the misunderstandings faced by individuals undertaking "suluk". This research aims to document a concept of "suluk" within the treasury of Sufism from the perspective of a fiqh expert. It also aims to address the deficiencies in previous research articles. This study employs a library research approach, where collected data comprises both primary (main) and secondary (supporting) sources. Zainuddin al-Malibari's book "Hidāyat al-Adhkiyā’" serves as the primary data source, while secondary sources include books, journals, and various internet resources discussing Zainuddin al-Malibari's thoughts. The research findings highlight that Zainuddin al-Malibari's concept of "suluk" encompasses three components: Sharia, Ṭariqat, and Ḥaqiqat. To attain ma’rifat Allāh, an individual undertaking a spiritual journey (salik) must firmly abide by Sharia initially. Even upon reaching the stage of understanding the Ḥaqiqat, Sharia remains a responsibility to be upheld Pembahasan mengenai suluk banyak ditulis oleh ulama atau sarjana di bidang tasawuf. Tetapi menjadi menarik apabila suluk dibahas oleh ulama dan sarjana yang dikenal sebagai ahli fikih atau ahli yurisprudensi Islam, Zainuddin al-Malibari. Dalam beberapa literatur tasawuf, suluk lebih menekankan proses atau kegiatan spiritual atau praktik menuju Allah Swt. Sehingga tidak jarang dalam penerapannya terdapat kekeliruan yang disebabkan mis-informasi. Dalam kitab Hidāyat al-Adhkiyā’, Zainiddin al-Malibari menjelaskan tentang kesalahpahaman seseorang yang menempuh suluk. Penelitian ini ingin mendokumentasikan suatu konsep suluk dalam khazanah tasawuf menurut pandangan ahli fikih. Serta melengkapi kekurangan dari artikel penelitian yang ada sebelumnya. Jenis penelitian pustaka (library research) merupakan penelitian yang dipakai pada penelitian ini. Umumnya, pada penelitian kepustakaan (library research) ini, sumber data yang dihimpun dalam melengkapi penelitian ini terdiri dari data primer (pokok) dan data sekunder (penunjang). Kitab Hidāyat al-Adhkiyā’ Zainuddin al-Malibari adalah sumber data primer. Sedangkan sumber data sekundernya berupa buku, jurnal dan beberapa sumber dari internet yang memuat pemikiran Zainuddin al-Malibari. Hasil dari penelitian ini bahwa konsep suluk Zainuddin al-Malibari melalui tiga bagian: Syariat, Tarekat, dan Hakikat. Agar sampai kepada ma’rifat Allāh, seorang yang melakukan pengembaraan spiritual (salik) harus kokoh dalam menjalankan syariat terlebih dahulu dan meskipun nantinya sudah sampai pada bagian hakikat, syariat masih tetap menjadi tanggung jawab untuk dijalankan.
INTERPRETASI IMAM AL-KULAYNĪ TERHADAP HADIS AL-THAQALAYNI DALAM PENDEKATAN SOSIO-HISTORIS Rizaka, Maghza; Muhid, Muhid; Nurita, Andris; Khoshyatulloh, Arfedin Hamas
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.385

Abstract

This research discusses the hadith of al-thaqalayn, considered as the legacy of Prophet Muhammad, encompassing the Quran and Ahlul Bait. Both components have been a focal point for both Sunni and Shia communities. This dispute extends beyond religious branches, delving into fundamental principles of faith. The most conspicuous contrast lies in the concept of imamah, the belief that ‘Ali ibn Abī Ṭālib has the right to succeed the Prophet as the religious and political leader, leading to profound interpretative disparities. In comprehending the Prophet’s hadith, a socio-historical approach proves pivotal, exemplified in the work of Imam al-Kulaynī, the Kitab al-Kāfī, which lays the interpretative groundwork for the Shia community. Within this text, the hadith of al-thaqalayn reinforces the Quran and Ahlul Bait as the primary sources of Islamic law, fulfilling societal needs and deepening Imam al-Kulaynī’s legitimacy. The research methodology adopts a qualitative method, relying on content analysis of al-Kāfī by al-Kulaynī and relevant literature. This analysis highlights al-Kulaynī’s substantial influence in interpreting the hadith, addressing the social and political concerns of the Shia community. Political factors, spanning from the Buwayhiyah to the Safawiyah dynasties, have propelled the development and validation of al-Kāfī. Al-Kulaynī’s significant influence in interpreting the hadith assists in fulfilling the spiritual needs of the community, gaining substantial authority in their eyes. Through the socio-historical approach, this research uncovers the significance of al-Kulaynī’s interpretations, affirming his position as the primary reference among the Shia and his role in shaping their religious and political perspectives. Penelitian ini mengulas hadis al-thaqalayn, yang dianggap sebagai pusaka warisan Nabi Muhammad saw., mencakup al-Quran dan Ahlul Bait. Kedua komponen ini telah menjadi fokus perhatian utama bagi Sunni maupun Syi‘ah. Perselisihan ini tak terbatas pada cabang agama, melainkan mendasar pada prinsip dasar agama. Perbedaan paling mencolok adalah konsep imamah, keyakinan bahwa ‘Ali ibn Abī Ṭālib memiliki hak untuk mengambil alih peran sebagai pemimpin agama dan negara setelah Nabi, menimbulkan kesenjangan interpretatif yang mendalam. Dalam upaya memahami hadis Nabi, pendekatan sosio-historis menjadi penting. Hal ini tercermin dalam karya Imam al-Kulaynī, Kitab al-Kāfī, yang memberikan landasan interpretatif bagi Syi‘ah. Dalam kitab ini, hadis al-Thaqalayn menegaskan al-Quran dan Ahlul Bait sebagai sumber hukum utama Islam, memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperdalam legitimasi Imam al-Kulaynī. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif, mengandalkan content analysis pada kitab al-Kāfī karya al-Kulaynī serta literatur terkait. Analisis ini menyoroti pengaruh besar al-Kulaynī dalam interpretasi hadis, menjawab kekhawatiran sosial dan politik masyarakat Syi‘ah. Faktor politik, dari dinasti Buwayhiyah hingga Safawiyah, turut mendorong perkembangan dan legitimasi kitab al-Kāfī. Pengaruh besar al-Kulaynī dalam interpretasi hadis membantu memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat, memperoleh otoritas yang besar dalam pandangan mereka. Melalui pendekatan sosio-historis, penelitian ini mengungkap signifikansi interpretasi al-Kulaynī terhadap hadis, menegaskan posisinya sebagai pegangan utama dalam kalangan Syi‘ah serta perannya dalam menentukan pandangan agama dan politik mereka.