TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin is an academic journal focusing on the sciences of the ushuluddin (principles of religion), published twice a year (June and December) by the Faculty of Ushuluddin and religious studies, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. It is a shared space to disseminate and publish the scholarly papers of those whose concern is the sciences of ushuluddin, such as, Islamic Philosophy, Tasawuf, Qur’anic and Hadith Studies, Comparative Religion, Islamic Thoughts and Political Islam.
Articles
182 Documents
RESPONSE TO THE MINISTRY OF RELIGIOUS AFFAIRS' QUR ‘ANIC TRANSLATIONS: A Case Study of The Emergence of UII Qur'anic Translations
Rosyada, Melynia;
Syihabuddin, Muhammad;
Manggala, Kayan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.423
Studies in Qur'an translation projects today focus on translation projects by government institutions and individuals, even though non-government institutions also contribute to Qur'an translation projects in Indonesia. This article discusses the production of the translation of the Qur'an by the Islamic University of Indonesia (UII), namely "Al-Qur'an Karim and its Meaning Translation" as a response to the translation of the Qur'an by the Ministry of Religious Affairs. This article focuses on the reasons for the translation of the Qur'an by UII and the relationship between its formation and the translation of MoRA. This article also seeks to examine the extent of changes in the shift between the translation of the Qur'an of MoRA and UII. This research is a literature study based on library data related to the object of this study. Technically, the limited availability of the Qur'an from the Ministry of Religious Affairs gives rise to the translation of the UII Qur 'an. On the other hand, the UII translation was born as a more scientific, scientific, and multipurpose translation in response to verses that seemed to be masculine and discriminatory bias in the translation of MoRA which was translated harfiyah. The shift in differences between the Ministry of Religion Translation and UII Translation lies in the use of tafsiriyah UII translation methods and their reference sources which involve the use of literature on the essence of scientific polemics, resulting in differences in the results of translation. Meanwhile, in terms of publication format, layout, text writing standards, and translation structure, it can be said that UII translations follow the standards of MoRA in contemporary editions.
KONEKTIVITAS INTELEKTUAL MELAYU ISLAM DI INDONESIA, MALAYSIA DAN BRUNEI DARUSSALAM
Herwansyah, Herwansyah;
Rusli, Ris'an;
Toharudin, Toharudin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.427
Muncul dan berkembangnya intelektual Islam di Asia Tenggara berawal dari proses transmisi keislaman, ide-ide keislaman, dan bahkan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal-hal semacam inilah yang membangkitkan para Ilmuwan Islam dalam mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang didapatkannya, dan pada akhirnya akan terus berlanjut hingga saat ini. Hubungan yang begitu kuat terhadap keilmuan Islam yang ada di kota Haramain maka akan semakin kuat pengaruhnya terhadap ulama-ulama Nusantara. Dalam hal ini hubungan antara guru dan santri akan begitu berperan aktif serta ada pengaruh yang signifikan. Cara yang dilakukan dalam penyampaian pemikiran atau pandangan seorang guru yaitu dengan tradisi lisan, artinya bertemu langsung pada sang guru dalam konteks pembelajaran. Lambat laun dengan perkembangan zaman maka cara-cara seperti itu akan berubah pula. Hal ini terjadi diakibatkan dengan semakin bertambahnya jumlah masyarakat yang ternyata minat dan bakatnya merasa sangat ingin mempelajari agama Islam atau lebih mengenal agama Islam lebih lanjut. Dengan alasan mempermudah umat dalam mengenal ajarannya maka banyak akan diciptakan teks-teks karya ilmuwan muslim. Sumber-sumber pengetahuan dibangkitkan dari intelektual ulama klasik sendiri, hal ini menjadi dasar yang utama dalam mempermudah penyebaran agama Islam.
TAFSĪR AL-KHATĪB AL-MAKKĪ: A Study of Sayyid 'Abd Al-Hamīd Ibn Ahmad Al-Khatīb's Interpretation of Juz Tabarak
Wahidi, Ridhoul;
Halim, Abdul;
Arifullah, Mohd
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.436
This research examines the characteristics of Tafsir al-Khatīb al-Makkī; Tafsir Juz Tabārak by Sayyid 'Abd al-Hamīd ibn Ahmad al-Khatīb. The writing of the title of this commentary is attributed to the name of his father, namely Shaykh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, even though it was his son who wrote it. He was a scholar of Indonesian descent who was born, had a career and died in Arabia. Traces of his work and intellect, which are still little explored, are a contribution to completing the treasures of works by Indonesian ulama. Using library research and descriptive analysis, this article examines and analyzes the background to the preparation of the interpretation, methodology, and the advantages and disadvantages of the interpretation. The results of this research found that the preparation of this interpretation was motivated by the attitude of people who had ignored the benefits of the Al-Qur'an to the point that they had become backward among other nations. The interpretations that emerged did not accommodate the fast-paced conditions of the times. The ulama did not try to spread the message of Islam through the Qur’an in language that was simple and easy for everyone to understand. The preaching scholars are only concerned with fiqh issues. After long reflection on the religious spirit of Islam and the Muslim community, he wrote a comprehensive commentary entitled Tafsīr Al-Khatīb al-Makki. From the aspect of Tafsir sources, this book is classified as a Tafsir bi al-ma'sūr. The method used is the tahlilī method and the style used is adabi ijtimā'i and the systematics of writing Tafsir Juz Tabārak is tartib mushafi.
ANALISIS MAKNA SAMĀWĀT DALAM KITAB TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY
Chairunissa, Putri Evta;
Shofa, Ida Kurnia;
Mualim, Mohamad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.439
Penelitian ini dipicu oleh pertanyaan mengenai perbedaan pandangan para mufasir dalam memahami makna lafadz Samāwāt. Beberapa upaya dilakukan untuk memahami pentingnya Samāwāt, yang tampaknya memaksakan konsep penafsir ke dalam teks. Permasalahannya dalam penelitian ini adalah Analisis makna Samāwāt terhadap penafsiran Oemar Bakry dalam kitab Tafsir Rahmat. Cara Oemar Bakry menafsirkan dan menerjemahkan teks tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap seberapa luas konten Tafsir Rahmat disebarluaskan. Misalnya dalam kitab Tafsir Rahmat makna Samāwāt diartikan sebagai ruang angkasa untuk menggambarkan tentang tatanan alam jagad raya. Pemilihan diksi ruang angkasa menunjukkan adanya wacana yang dibangun olehnya berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu astronomi dan teknologi. Penelitian ini adalah jenis kualitatif dan menggunakan analisis deskriptif sebagai alat analisis data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat lafadz Samāwāt yang terdapat dalam kitab Tafsir Rahmat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjemahan ruang angkasa karya Oemar Bakry sangat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan kontemporer mengenai alam semesta. Bentuk penafsiran ini menunjukkan tahapan berpikir dialektik antara ilmu pengetahuan dan al-Qur’an dalam kandungan Tafsir Rahmat memberikan sumbangsih metode penafsiran yang menjadikannya titik pusat ketertarikan para peneliti sebelumnya.
TREND BEAUTY MENURUT AL-QUR’AN: Analisis QS. Al-Nisa’ Ayat 119 Dan QS. Al-Rum Ayat 30 Perspektif Quraish Shihab
Andriani, Nuryah Vika;
Shofa, Ida Kurnia;
Mualim, Mohamad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.441
Trend beauty (kecantikan) termasuk dalam fenomena yang mengalami evolusi dan perubahan yang disebabkan adanya perkembangan media dan masyarakat. Sebagai manusia pasti menginginkan pribadinya secara lahir maupun bathin memiliki nilai keestetikan. Sedangkan hal ini identik sekali dengan wanita. Dalam upaya pemenuhan mempercantik diri, klinik kecantikan menyediakan fasilitas bagi para pemburu trend beauty tersebut. Eyelash extension (tanam bulu mata), nail art (seni hias kuku), dan sulam alis kini menjadi trend beauty yang digandrungi para wanita. Dalam menanggapi persoalan ini penulis akan merujuk pada perspektif Quraish Shihab berdasarkan Q.S. An-Nisa’ ayat 119 dan Q.S. Ar-Rum ayat 30. Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Adapun jenis penelitian ini adalah library research atau penelitian yang bersifat kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Penulis menggunakan dua sumber rujukan yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Adapun hasil dari pembahasan ini adalah Quraish Shihab menyatakan bahwa ketiga trend beauty yang disebutkan di atas tidak termasuk dari larangan yang mutlak karena dalam penggunaannya tidak terdapat unsur yang menyatakan bahwa mengalihkan atau menghilangkan fungsi tubuh manusia. Namun dalam proses penyelesaian jurnal ini, penulis juga menyajikan beberapa argument terkait tentang trend beauty menurut ulama-ulama yang berbeda. Dengan begitu pada akhir pembahasan mendapatkan hasil akhir yang bisa dijadikan sebagai dasar ilmu dalam menanggapi fenomena trend beauty tersebut.
RESPONS ATAS ORIENTALISME DI TANAH AIR: Antara Konservatisme, Liberalisme Dan Moderat
Tsarwat, Ahmad;
Arifullah, Mohd
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.446
Pandangan konservatif terhadap orientalisme di Indonesia menekankan pentingnya memelihara dan mempertahankan nilai-nilai budaya dan intelektual lokal. Mereka menolak dominasi intelektual barat yang sering mengesampingkan nilai-nilai dan tradisi lokal. Pandangan konservatif terhadap orientalisme di Indonesia menggunakan pendekatan yang menekankan pentingnya memelihara nilai-nilai budaya dan intelektual lokal. Mereka menolak dominasi intelektual barat dan mempromosikan pengembangan studi lokal yang lebih otonom. Selain itu, pandangan konservatif juga memfokuskan pada pemeliharaan nilai-nilai agama sebagai bagian integral dari identitas budaya Indonesia. Pandangan konservatif terhadap orientalisme di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia harus mempertahankan nilai-nilai budaya dan intelektual lokal dalam menghadapi pengaruh luar. Mereka menolak dominasi intelektual barat dan mempromosikan pengembangan studi lokal yang lebih otonom. Selain itu, pandangan konservatif juga memfokuskan pada pemeliharaan nilai-nilai agama sebagai bagian integral dari identitas budaya Indonesia.
THE IMPLICATIONS OF T.M HASBI ASH-ṢHIDDIEQY'S CRITICISM OF THE NĀSIKH-MANSŪKH THEORY IN HIS INTERPRETATION OF PLURALISM VERSES
Ummam, Naufa Izzul;
Zulliandi, Yuviandze Bafri;
Zarnuji, Muhdarul Islami
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.456
The exsistence of nāsikh-mansūkh in the Qur'an frequently sparks debate among Muslim scholars. Whether or not nāsikh-mansūkh is accepted as an interpretive tool will lead to different interpretive implications. In the case of plural verses (Qs. al-Baqarah/2: 62 and Qs. al-Maidah/5: 69), the use of nāsikh-mansūkh as a tool for interpretive analysis tends to lead to the conclusion that there is no salvation for non-Muslims in the hereafter. On the other hand, not using nāsikh-mansūkh as an analysis of the interpretation of plural verses tends to lead to the conclusion that non-Muslims will still receive salvation in the afterlife. This research aims to see the implications of T.M Hasbi ash-Shiddieqy's interpretation of plural verses without considering nāsikh-mansūkh as an interpretation tool. This research is qualitative research with descriptive analysis. This research suggests that the non-use of nāsikh-mansūkh in Hasbi's interpretation does not have significant implications. The results of the interpretation he put forward are the same as those of scholars who agree with the existence of nāsikh-mansūkh in plural verses, namely that salvation in the afterlife belongs only to Muslims.
ANALISIS KRITIS PERIWAYAT SYI’AH: Studi Terhadap Muhammad Ibn Fudhail Dalam Kitab Sahih Muslim
Pratama, Ferdy;
Muhid, Muhid;
Nurita, Andris
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.458
Artikel ini membahas mengenai ditemukannya periwayatan hadis dari kelompok Syi’ah yaitu Muh}ammad ibn Fud}ail, dimuat dalam literatur hadis yang otoritatif Sunni yaitu kitab S{ah}i>h} Muslim. Sebab perilaku bid’ah seperti Tasyayyu’, Syi’ah atau Ra>fid}ah adalah salah satu sebab yang dapat merusak ‘ada>lah (kredibilitas) seorang perawi hadis. Seorang pelaku bid’ah atau biasa dikenal dengan istilah mubtadi’ dikatakan berkeyakinan atau melakukan suatu perilaku yang berkategori menyimpang dan menyelishi ajaran Islam yang murni dari al-Qur’an dan hadis Nabi, meskipun perawi tersebut adalah rija>l al-sanad Ima>m Muslim dalam kitab S{ah}i>h} beliau. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan tinjauan terhadap periwayatan Muh}ammad ibn Fud}ail dan sikap Ima>m Muslim mengenai alasannya mencantumkan perawi Syi’ah di dalam kitabnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian (library research). Teknik pengumpulan data yang relevan dengan penelitian ini adalah studi dokumentasi, mengarah kepada berbagai macam literatur yang berhubungan dengan pemikiran atau konsep tokoh yang dikaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan rija>l al-h}adi>ts. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui biografi, kredibilitas, dan sikap Ima>m Muslim terhadap periwayatan Muh}ammad ibn Fud}ail. Hasil dari penelitian ini, ditemukan bahwa periwayatan hadis dari jalur Muh}ammad ibn Fud}ail tidak menganggu kredibilitas dari kitab S{ah}i>h Muslim, dan Muh}ammad ibn Fud}ail tidak menularkan pemahaman Syi’ah di dalam hadis yang ia riwayatkan.
PENEGASIAN TARTĪB AL-MUSHĀFI DALAM GAGASAN ANGELIKA NEUWIRTH
Khusna, Ikhda Mar’atul;
Farhan, Rivki Lutfiya;
Pratama, Yoga
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.459
Penelitian ini mengulas pemikiran Angelika Neuwirth yang melihat Al-Qur’an era pra-kanonisasi dan post-kanonisasi. Argumen Neuwirth disandarkan kepada kekhawatiran dehistorisasi Al-Qur’an setelah proses kodifikasi, yang menyebabkan unsur historis Al-Qur’an menjadi kurang menonjol. Neuwirth menegaskan bahwa lahirnya proses komunikasi dengan karakter drama yang kental melahirkan Al-Qur’an, sehingga ketika konteks berubah, Al-Qur’an tetap relevan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan metode kualitatif dengan kajian yang berfokus kepada Angelika Neuwirth, penelitian ini menegaskan bahwa; Neuwirth menawarkan solusi pembacaan yang berbasis pada kerangka kronologis, dengan mempertimbangkan konteks historis dan komunikatif. Neuwirth juga mengkaji struktur mikro surat Al-Qur’an, serta menghubungkan dengan teks-teks lain dari periode Late Antiquity, dan menekankan pemahaman Al-Qur’an sesuai dengan konteks. Model pembacaan Neuwirth berusaha menghidupkan kembali historisitas Al-Qur’an, telah mengakibatkan pergeseran dari model pembacaan yang berfokus pada susunan mushaf Utsmani disebabkan oleh pendekatan Neuwirth yang menggunakan kerangka historis tartīb al-nuzūlī, dan menganggap tartīb al-mushāfī sebagai bentuk penyusunan yang terburu-buru dan hasil ijtihad sahabat yang dipengaruhi oleh kondisi politik saat itu. Neuwirth terlalu berfokus pada linguistik dan sejarah hingga mengabaikan aspek spiritual dan pandangan tradisional Islam. Keterlibatan Newuirth yang minim dengan komunitas Islam juga menjadi perhatian, serta dalam menggunakan berbagai disiplin ilmu, hasilnya perlu dikonsistenkan dan divalidasi agar tidak terlalu subjektif.
PRINSIP TASAWUF TERHADAP NILAI DASAR PANCASILA SILA KE-SATU DAN KE-EMPAT DALAM TAFSIR AL-AZHAR
Jaya, Mandra;
Alkaf, Idrus;
Rahman, Pathur
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/tjd.v23i1.462
Penelitian ini mengulas prinsip tasawuf terhadap nilai dasar pancasila dalam Tafsir al-Azhar. Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohanian yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya. Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Di samping itu, ajaran tasawuf relevan dan realistis/kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan semangat berbangsan dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan tradisi/ada kesufian, masyarakat dapat melestarikan dan mengembangkan/meningkatkan nilai-nilai dan materi tasawuf agar kemudian ditanamkan ke dalam jiwa masyarakat bangsa Indonesia terutama anak-anak didik untuk membentuk dan mengembang karakter pancasila. Riset ini menggunakan metode (library research). Dalam kitab Tafsir al-Azhar QS. Al-Ikḥlaṣ ayat 1 dan al-Baqarah:163 yang memuat nilai keesaan Tuhan. QS. Al-Baqarah 269 Buya Hamka menafsirkan bahwa ayat ini mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Menurut Buya Hamka inti pokok dari Pancasila terletak pada sila Ketuhaan Yang Maha Esa. Buya Hamka menegaskan bahwa dengan berpegang pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dengan sendirinya tumbuh mahabbah (cinta) dan mengamalkan sila yang empat lainnya