cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Kelapa Sawit Dari 2012 – 2016 di Kecamatan Langsa Lama Muhammad Husyaini Iqbal; Helmi Helmi; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.487 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9508

Abstract

Abstrak. Kelapa sawit adalah komoditas pertanian yang populer saat ini. Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia dengan Malaysia. Kondisi daerah yang relatief datar menjadikan Kecamatan Langsa Lama sebagai tempat yang cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Kajian perubahan penggunaan lahan berkembang sangat cepat dan menghasilkan banyak pendekatan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju perubahan luas lahan kelapa sawit dari tahun 2012- 2016 di Kecamatan Langsa Lama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada lah metode deskriptif dengan teknik survai. Sedangkan analisis perubahan gunakan rumus/formula untuk menghitung laju perubahan kelapa sawit.  Hasil  perhitungan  analisis  di  dapat  bahwasannya  perubahan penggunaan  lahan  kelapa sawit di Kecamatan Langsa Lama 2012-2016 sebesar 81 Hektar.Analysis Of Changes In Palm Oil Land Use From 2012 to 2016 In Langsa Lama District Abstract. Palm oil is a popular agricultural commodity today. Indonesia is the largest palm oil exporter in the world with Malaysia. Regional conditions that are relatively flat make Langsa Lama District a suitable place for oil palm plantations. The study of land use change developed very quickly and produced many approaches. This study aims to calculate the rate of change in the area of oil palm from 2012-2016 in the District of Langsa Lama. The method used in this study is descriptive method with survey technique. While the change analysis uses a formula / formula to calculate the rate of change of oil palm. The results of the calculation of the analysis can be explained that changes in the use of oil palm in the District of Langsa Lama 2012-2016 amounted to 81 hectares.
Strategi Pengembangan Usaha Kopi Arabika (Studi Kasus: Usaha "Kampung Kupi Gayo", Kabupaten Aceh Tengah) Ari Arsyadi Fattarani; Elvira Iskandar; Fajri Fajri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.097 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5405

Abstract

Abstrak.  Dalam perekonomian Indonesia, kopi memiliki peranan penting baik sebagai sumber perolehan devisa maupun sebagai sumber penghidupan petani yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu sentra produksi kopi nasional yang terkenal di Indonesia berada di Kabupaten Aceh Tengah yang terletak di Provinsi Aceh. Menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, perlu menerapkan strategi-strategi pengembangan yang dapat mendukung pengembangan industri tersebut. Penelitian ini dilakukan pada “Kampung Kupi Gayo”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang dihadapi usaha “Kampung Kupi Gayo” serta menentukan strategi pengembangan usaha tersebut dengan menggunakan analisis faktor strategis Internal/ IFAS, analisis faktor strategis eksternal/ EFAS, dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and  Threat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor strategis internal yang menjadi faktor kekuatan dan kelemahan usaha Kampung Kupi Gayo ada tujuh faktor. Adapun faktor yang menjadi kekuatan dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu Lokasi usaha strategis, dan harga produk bersaing. Sedangkan yang menjadi kelemahan dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu Jenis produk yang dihasilkan masih kurang. Faktor-Faktor Strategis Eksternal yang menjadi faktor peluang dan ancaman bagi usaha "Kampung Kupi Gayo" ada lima faktor. Adapun faktor yang menjadi peluang dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu pangsa pasar kopi olahan masih sangat besar. Sedangkan yang menjadi ancaman dominan bagi usaha "Kampung Kupi Gayo" yaitu persaingan usaha sejenis. Strategi yang dapat digunakan Kampung Kupi Gayo yang diperoleh dari analisis SWOT adalah strategi agresif, yaitu strategi yang memungkinkan usaha ini untuk terus mengembangkan usahanya, meningkatkan pertumbuhan, melakukan ekspansi dan meraih kemajuan secara maksimal.Business Development Strategies Arabica Coffee Processing (Case Study: "Kampung Kupi Gayo", Aceh Tengah RegencyAbstract. In the Indonesian economy, coffee has an important role both as a source of foreign exchange gain and as a source of livelihood of farmers spread throughout Indonesia. One of the most famous national coffee production centers in Indonesia is located in Aceh Tengah district located in Aceh Province. In the face of increasingly fierce business competition, it is necessary to implement development strategies that can support the development of the industry. This research was conducted on "Kampung Kupi Gayo". The purpose of this study is to identify internal and external factors facing the "Kampung Kupi Gayo" business as well as to determine the business development strategy using Internal / IFAS strategic factor analysis, external strategic factor analysis / EFAS, and SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity , and Threat). The result of the research shows that internal strategic factors which become the strength and weakness factor of "Kampung Kupi Gayo" are seven factors. The factors that become the dominant strength of "Kampung Kupi Gayo" business is the location of strategic business, and the price of competing products. While the dominant weakness business "Kampung Kupi Gayo" that type of product produced is still lacking. External Strategic Factors that become the opportunity and threat factors for the "Kampung Kupi Gayo" business are five factors. The factors that become the dominant opportunity of Kupi Gayo Village business is the market share of processed coffee is still very large. While the dominant threat to the "Kampung Kupi Gayo" business is a similar business competition. The strategy that can be used "Kampung Kupi Gayo" obtained from the SWOT analysis is an aggressive strategy, a strategy that allows this business to continue to expand its business, increase growth, expand and achieve maximum progress.
Pemanfaatan Limbah Feses Sapi sebagai Pembuatan Pakan Pelet terhadap Pertambahan Berat Badan Ikan Lele Dumbo Zulhelmi Zulhelmi; M. Aman Yaman; Cut Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.247 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.1192

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah asal feses sapi sebagai bahan pembuatan pakan pelet guna memacu pertumbuhan ikan Lele Dumbo.  Penelitian ini dilakukan di Station Riset II (dua) Ie Suum, UPT. University Farm, Aceh Besar,  tanggal 22 Mei‒14 Agustus 2016. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap ulangan merupakan unit percobaan, masing-masing terdiri dari 50 ekor ikan Lele Dumbo. Perlakuan menggunakan pakan komersil ikan 781 Hiprovite yang disubtitusikan dengan pakan pelet organik. Parameter yang diamati adalah berat badan, pertambahan berat badan, konsumsi pakan, konversi pakan, efisiensi pakan, kelangsungan hidup, dan kualitas air (pH, suhu, kelembaban, cahaya). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pakan limbah asal feses sapi berpengaruh sangat nyata (P0.01), terhadap berat badan, pertambahan berat badan, dan konsumsi ransum ikan Lele Dumbo, namun tidak berpengaruh nyata (P0,05)  terhadap konversi dan efisiensi pakan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pakan pelet organik asal feses sapi dapat memacu pertumbuhan ikan Lele Dumbo. Utilization of Cattle Feces as Materials for Pellet Feed to The Weight Gain of Catfish Abstract. The aim of present study was to utilizase cattle feces as materials for making organic pellet feed to improve the growth of catfish.  The study was conducted  in Station Research II (two) Ie Seum Unit, University Farm, Aceh Besar, May 22-August 14, 2016. The study was designed into completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. Each relication was an experimental unit consisting of 50 catfishes.The treatment was substition of commercial feed fish (781 Hiprovite) with  organic pellet feed with the level of 0, 10, 20, and 30%, respectively.  Parameters  measured were body weight, feed intake, feed conversion, feed efficiency,  livebility, and water quality  (pH, temperature, moisture, light). The results of study showed that administration of organic pellet feed  affected highly significant (P0.01) on body weight, body weight gain and feed intake of catfish. However, there were no significant effect (P0.05) on feed conversion and feed efficiency.  It was concluded that the organic pellet feed composed mainly from cattle feces could  improve the growth of catfish
Penggunaan Pakan Fermentasi Berbasis Azolla sp Sebagai Substitusi Sebagian Ransum Komersil terhadap Berat Akhir dan Penampilan Karkas Ayam Lokal Pedaging Unggul (ALPU) Shaella Rahma; Yunasri Usman; Muhammad Daud
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.3710

Abstract

Abstrak.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi sebagian ransum komersil periode finisher dengan pakan fermentasi berbasis Azolla sp terhadap berat akhir dan persentase karkas ALPU.   Penelitian dilakukan  diLaboratorium Lapangan Peternakan (LLP),  Program Studi Perternakan,  Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, tanggal 14 Februari‒23 April 2017.  Penelitian menggunakan 80 ekor DOC Unsexed, produksiLembaga Breeding Agripet Perkasa (LBAP). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK),  terdiri dari 4perlakuan dan 4 kelompok.   Tiap kelompok merupakan unit percobaan, masing-masing terdiri dari lima ekor ayam.Perlakuan yang  dicobakan adalah pemberian pakan fermentasi berbasis Azolla sp sebanyak 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter yang diamati meliputi bobot akhir, bobot karkas, persentase karkas, bobot dan persentase potongan karkas. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa subsitusi sebagian ransum komersil dengan bahan pakan fermentasi berbasis Azolla sp tidak berpengaruh nyata  terhadap berat dan persentase karkas, berat potongan karkas dan persentase potongan karkas ALPU umur 10 minggu. Meskipun tidak berbeda nyata, berat karkas ALPU yang diberikan ransum komersil dengan substitusi 5 %, 10 %, 15 %  pakan fermentasi Azolla sp (P1 sampai P3) lebih tinggi daripada tanpa pakan fermentasi berbasis Azolla sp (P0). ALPU yang diberikan pakan fermentasi berbasis Azolla sp  (P1sampai P3) memiliki bobot dan persentase dada, sayap, paha dan punggung lebih tinggi dibandingkan dengan ALPU yang diberikan 100% ransum komersil (P0). Hasil analisis statistik terhadap kelompok ALPU umur 10 minggu berpengaruh nyata (P0,05) terhadap berat hidup, berat dan persentase potongan karkas (dada, sayap, paha dan punggung), namun tidak menunjukkan perbedaan  yang nyata pada berat dan persentase karkas. Disimpulkan bahwa ransum komersil N511 dapat disubsitusikan dengan pakan fermentasi berbasis Azolla sp selama periode pemeliharaan 3-10 minggu tanpa berpengaruh negatif terhadap berat hidup, berat,  persentase karkas dan  potongan karkas ayam ALPU umur 10 minggu.  The Use of Azolla Sp of Fermented Feed As Substitution of Most Commercial Weighted Commercial Rations and Appearance of Superior Local Chicken Carcasses (ALPU)Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of substitution of some commercial rations finisher period with Azolla sp's fermented feed on the final weight and percentage of ALPU carcass. The research was conducted at Field Laboratory of Animal Husbandry (LLP), Livestock Breeding Program, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, 14 February-23April, 2017. The study used 80 DOC Unsexed, Breeding Agripet Perkasa (LBAP), Binjai. The design used was Randomized Block Design (RAK), consisting of 4 treatments and 4 groups. Each group is an experimental unit, each consisting of five chickens. The treatments were Azolla sp. Fermentation based on 0%, 5%, 10%, and 15%. Parameters observed include final weight, weight, percentage of carcass, weight and percentage of carcass. The results of this study show that the substitution of some commercial rations with fermented feed ingredients based on Azolla sp has no significant effect on the weight and percentage of carcass, carcass weight and percentage of 10 weeks of ALPU carcass. Although not significantly different, ALPU carcass weight given commercial ration with 5% substitution, 10%, 15% fermented Azolla sp feed (P1 to P3) was higher than without Azolla sp (P0) based fermentation feed. ALPU given fermented feed based on Azolla sp (P1 to P3) has higher weight and percentage of chest, wings, thighs and back than ALPU given 100% commercial ration (P0). The result of statistical analysis on ALPU group age 10 weeks had significant effect (P 0,05) to live weight, weight and percentage of carcass (chest, wings, thighs and back) but did not show significant difference in weight and percentage of carcass. It was concluded that commercial N511 ration could be substituted with Azolla sp-based fermentation feed during maintenance period of 3-10 weeks without negatively affecting weight of life, weight, carcass percentage and 10 weeks of ALPU chicken carcass.
Akuisisi Spektrum Near Infrared Reflectance Pada Bubuk Kopi Arabika (kenary Coffee) Dan Bubuk Kopi Robusta (Kopi Ulee Kareng) Hairatun Hairatun; Agus Arip Munawar; Zulfahrizal Zulfahrizal
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.677 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i1.2174

Abstract

Abstrak. Kopi merupakan tanaman perkebunan yang sudah cukup lama dibudidayakan di Indonesia terutama di Aceh. Kopi yang ada di Aceh terdiri dari dua varietas yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Pendeteksian bubuk kopi arabika dan bubuk kopi robusta secara cepat dan akurat menjadi kata kunci untuk menjawab kebutuhan produksi kopi masa depan. Pendeteksian mutu pangan yang cepat dan efesien dapat diwujudkan melalui pengembangan teknologi Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji spektrum bubuk kopi Arabika dan Robusta serta memprediksi panjang gelombang NIR yang relevan dengan atribut kualitas bubuk kopi. Spektrum bubuk kopi Arabika dan bubuk kopi Robusta mempunyai tipikal yang sama dimana puncak yang terbentuk pada spektrum sebagai informasi keberadaan kandungan zat-zat tertentu. Kandungan kafein pada bubuk kopi berada pada panjang gelombang  1430-1470 nm dan 1910-1965 nm. Kandungan lemak pada bubuk kopi berada pada panjang gelombang 1185-1230 nm, 1700-1780 dan 2290-2390 nm. Kandungan protein pada bubuk kopi berada pada panjang gelombang 1430-1470 dan 1910-1965 nm. Kandungan asam amino berada pada panjang gelombang 2290-2390 nm. The Acquisition Of Near Infrared Reflectance Spectrum In Arabica Coffee Powder (Kenary Coffee) And Coffee Powder obusta (Kopi Ulee Kareng) Abstract. Coffee is a plantation crop that has long cultivated in Indonesia, especially in Aceh. Coffee in Aceh consists of two varieties are Arabica and Robusta. Detection of ground coffee arabica and robusta coffee powder quickly and accurately be a key to answering the needs of the future coffee production. The detection of food quality quickly and efficiently can be realized through the development of technology Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS). The purpose of this study is to examine the spectrum of Arabica and Robusta coffee powder and predict NIR wavelengths that are relevant to the quality attributes of the coffee powder. Arabica coffee powder spectrum and Robusta coffee powder which has the same typical peak formed at spectrum as presence information content of certain substances. The caffeine content in coffee powder is at a wavelength of 1430-1470 nm and 1910-1965 nm. The fat content in the coffee powder is at a wavelength of 1185-1230 nm, 1700-1780 and 2290-2390 nm. Protein content in the coffee powder is at a wavelength of 1430-1470 and 1910-1965 nm. The amino acid content is at a wavelength of 2290-2390 nm.
Identifikasi dan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Ekosistem Mangrove dalam Kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah III Aceh (Studi Kasus: Kabupaten Aceh Tamiang) Kasnadiya Kasnadiya; Subhan Subhan; Gina Erida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.409 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24497

Abstract

Abstrak. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah bagian dari ekosistem hutan mangrove yang mempunyai peranan yang beragam, baik terhadap lingkungan alam maupun terhadap kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil hutan bukan kayu pada ekosistem mangrove. Potensi HHBK dapat dijumpai keberadaannya pada kawasan hutan KPH Wilayah III Aceh (Kabupaten Aceh Tamiang), namun pada umumnya potensi HHBK pada ekosistem mangrove masih belum terinventarisasi dengan baik sehingga ketersediaan data yang komprehensif mengenai masing-masing jenis, jumlah dan produktivitas untuk masing-masing komoditi HHBK masih sangat terbatas. Sebagian besar masyarakat pesisir memanfaatkan ekosistem mangrove dalam memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, dibutuhkan informasi terkait apa saja jenis HHBK yang ada pada ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara/tanya jawab secara langsung terhadap responden yang terpilih sebanyak 50 responden. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 11 jenis HHBK pada ekosistem mangrove di Kabupaten Aceh Tamiang yang dimanfaatkan oleh masyarakat pada kegiatan sehari-hari seperti daun bakau (Rhizophora sp.), kulit bakau (Rhizophora sp.), buah pedada (Sonneratia sp.), buah api-api (Avicennia sp.), nyirih (Xylocarpus granatum), daun nipah (Nypa fruticans), jeruju (Achantus ilicifolius), keong bakau (Telescopium telescopium), kepiting (Scylla sp.), madu dan tiram (Saccostrea cucullata).Abstract. Non-timber forest products (NTFP`s) are part of the mangrove forest ecosystem which has a diverse role, both in the natural environment and in human life. The potential of NTFP`s can be found in the KPH Region III Aceh forest area, but in general the potential of NTFP`s in the mangrove ecosystem is still not well inventoried so that the availability of comprehensive data on each type, quantity and productivity for each NTFP`s commodity is still very limited. Most coastal communities utilize mangrove ecosystems in meeting the needs of life. Therefore, information is needed related to what types of non-timber forest products (NTFP`s) exist in mangrove ecosystems. This research was conducted using the interview / question and answer method directly with the selected respondents as many as 50 respondents. The results of this study show as many as 11 types of NTFP`s in the mangrove ecosystem in Aceh Tamiang Regency which are used by the community in daily activities such as mangrove leaves (Rhizophora sp.), mangrove bark (Rhizophora sp.), pedada fruit (Sonneratia sp.), fire-fire fruit (Avicennia sp.), nyirih (Xylocarpus granatum), nipah leaves (Nypa fruticans), jeruju (Achantus ilicifolius), mangrove snail (Telescopium telescopium), crab (Scylla sp.), honey and oysters (Saccostrea cucullata).
Analisis Pengembangan Mekanisasi Pertanian Untuk Menunjang Ketahanan Pangan Di Kabupaten Aceh Selatan Nurul Fajri; Muhammad Yasar; Ramayanty Bulan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.548 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23254

Abstract

Abstrak. Kabupaten Aceh Selatan dalam upaya pengembangan mekanisasi pertanian seringkali terjadi kendala, baik dari segi teknis, ekonomi maupun sosial. Dilihat dari segi teknis pentingnya kondisi suatu lahan sangat berpengaruh terhadap penerapan sistem alat dan mesin yang digunakan sesuai dengan kondisi lahan tersebut. Keadaan ini membutuhkan suatu rencana pengembangan alsintan yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kebutuhan dan ketersediaan alat dan mesin pertanian serta mengetahui kesiapan daerah dalam pengembangan mekanisasi untuk menunjang ketahanan pangan di Kabupaten Aceh Selatan. Hasil penelitian menunjukan Ketersediaan tenaga kerja pada pengolah tanah di Kabupaten Aceh Selatan pada mesin traktor dari tahun 2017 sampai 2021 sebanyak 199 unit. Traktor roda dua sebanyak 183 unit dan traktor roda empat sebanyak 16 unit, kekurangan tenaga kerja pada pengolah tanah di Kabupaten Aceh Selatan pada mesin traktor sebanyak 89 unit, kebutuhan traktor roda dua sebanyak 27 unit dan traktor roda empat sebanyak 62 unit. Dari 18 Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan terdapat 13 Kecamatan yang tingkat kesiapan pengembangan wilayah mekanisasi tergolong daerah siap, 4 Kecamatan tergolong daerah setengah siap, dan 1 Kecamatan tergolong daerah bebas alat.
Pengaruh Konsentrasi CMC (Carboximethyl Cellulosa) Pada Pembuatan Edible film Berbasis Gelatin Ceker Ayam Rahmiati Rahmiati; Darwin Darwin; Ratna Ratna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.012 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.21937

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat kemasan ramah limgkungan edible film dari bahan gelatin ceker ayam serta mengkaji pengaruh konsentrasi CMC (carboxymethyl cellulosa) dengan perbedaan konsentrasi terhadap karakteristik edible film yang dihasilkan. Penelitian ini dimulai dengan pembuatan gelatin kemudian dilanjutkan dengan pembuatan edible film. Penelitian ini memiliki 2 perlakuan dan 3 ulang sehingga diperoleh 6 sampel. Parameter yang duiji pada penelitian ini adalah ketebalan, water content, water solubility, kuat tarik, elongasi, modulus young, swelling, pH, water vapor permeability dan oxygen permeability.Hasil dari penelitian adalah  diperoleh rata-rata ketebalan yang berbeda-beda yaitu 0,083 mm dan 0,095 mm.  Nilai water content sebesar 19, 335% dan 19,572%. Nilai water solubility berturut-turut yaitu 39,512% dan 40,389%. Nilai kuat tarik  yaitu sebesar 1,706 kgf/mm2dan 1,91 kgf/mm2. Nilai elongasi yang berbeda-beda yaitu 54,88% dan 91,413%. Modulus young diperoleh nilainya berturut-turut yaitu 0,016 N/m2 dan 0,022 N/m2. Nilai swelling diperoleh sebesar 56,238% dan 58,618%. pH memiliki nilai yang hampir sama yaitu sebesar 8,333 dan 8,666. Nilai laju transmisi uap air yaitu sebesar 0,025 g.m-1.P-1.h-1 dan 0,027 g.m-1.P-1.h-1. Nilai oxygen permeability yang diperoleh yaitu 0,22 g.m-1.P-1.h-1 dan 0,25 g.m-1.P-1.h-1.Effect of CMC (Carboximethyl Cellulosa) Concentration on the Production of Edible film Based on Chicken Claw GelatinAbstract. The purpose of this study was to make environmentally friendly edible film packaging from chicken claw gelatin and to examine the effect of the concentration of CMC (carboxymethyl cellulose) with different concentrations on the characteristics of the resulting edible film. This research begins with the manufacture of gelatin and then continues with the manufacture of edible films. This study had 2 treatments and 3 replications so that 6 samples were obtained. The parameters tested in this study were thickness, water content, water solubility, tensile strength, elongation, Young's modulus, swelling, pH, water vapor permeability and oxygen permeability.The result of the research is that the average thickness is different, namely 0.083 mm and 0.095 mm. The water content values were 19, 335% and 19,572%. The water solubility values are 39.512% and 40.389%, respectively. The tensile strength values are 1.706 kgf/mm2and 1.91 kgf/mm2. The different elongation values are 54.88% and 91.413%. Young's modulus values obtained are 0.016 N/m2 and 0.022 N/m2respectively. The swelling values obtained were 56.238% and 58.618%. pH has almost the same value, namely 8.333 and 8.666. The value of the water vapor transmission rate is 0.025 g.m-1.P-1.h-1 and 0.027 g.m-1.P-1.h-1. The oxygen permeability values obtained were 0.22 g.m-1.P-1.h-1 and 0.25 g.m-1.P-1.h-1.
Respon Pemberian Konsentrasi BAP dan NAA Terhadap Pertumbuhan Tunas Tin (Ficus Carica L.) secara Kultur Jaringan Ruhul Aflah; Erita Hayati; Elly Kesumawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.206 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22393

Abstract

Abstrak. Tin merupakan tanaman hortikultura yang termasuk dalam kelompok buah. Tanaman tin berguna sebagai sumber vitamin, mineral, karbohidrat, serat, dan lemak. Permintaan pasar yang semakin tinggi, menjadikan tin banyak dibudidayakan di Indonesia. cara kultur jaringan sebagai alternatif perbanyakan. Kultur jaringan bermanfaat mendapatkan tanaman unggul dengan waktu singkat. Eksplan yang dipakai adalah pucuk tunas tin. Selain eksplan faktor lainnya yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Zat pengatur tumbuh yang dipakai ialah Benzil Amino Purin (BAP) dan Naphthalena Acetic Acid (NAA). Penelitiam dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, dari bulan Desember 2021 sampai dengan April 2022. Penelitian ini memiliki 2 faktor yaitu konsentrasi BAP dan konsentrasi NAA. Hasil penelitian menunjukkan persentase eksplan hidup sebesar 100% dijumpai pada 8 konsentrasi. Persentase tumbuh tunas tertinggi sebesar 100% pada 6 konsentrasi. dan waktu tumbuh akar tercepat yaitu 35 HST pada konsentrasi 0,1 mg L-1 NAA. Konsentrasi terbaik ditunjukkan pada 1,5 mg L-1BAP+0,1 mg L-1 NAA karena menghasilkan pertumbuhan lebih baik untuk pertumbuhan eksplan tunas tanaman tin.Kata Kunci: Tunas tin, Pertumbuhan, Konsentrasi, BAP, dan NAA Response of Giving Concentration BAP and NAA to Growth of Fig Shoots (Ficus Carica L.) in Tissue CultureAbstract. Tin is a horticultural plant that belongs to the fruit group. The fig plant is useful as a source of vitamins, minerals, carbohydrates, fiber, and fat. The market demand is getting higher, making fig more and more cultivated in Indonesia. tissue culture method is used as an alternative. Tissue culture is useful for producing superior plants in time short. The explants used is fig shoots. In addition to explants, another factor that determines the success of tissue culture is Growth Regulatory Substances (ZPT). The growth regulators used in this study BAP and NAA. The research was carried out at the Plant Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, from December 2021 to April 2022. This study had 2 factors, namely the concentration of BAP and the concentration of NAA. The results showed that the percentage of live explants was 100% found in 8 concentrations. The highest shoot growth percentage was 100% at 6 concentrations. and the fastest root growth time was 35 DAP at a concentration of 0.1 mg L-1 NAA. The best concentration was shown at 1.5 mg L-1 BAP+0.1 mg L-1 NAA because it produced better growth for the growth of shoots of fig explants.Keywords: Tin shoots, Growth, Concentration, BAP, and NAA
Aplikasi Mocaf (Modified cassava flour) menggunakan ragi tape dan ragi tempe pada pembuatan sourdough FW. Lutfia Dara Maretna; Syarifah Rohaya; Zaidiyah Zaidiyah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.559 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.19688

Abstract

 Abstrak. Mocaf (Modified cassava flour) adalah tepung yang diperoleh dari ubi kayu dengan proses fermentasi menggunakan mikroorganisme. Sourdough didefinisikan sebagai campuran terigu dan air yang difermentasi oleh aktifitas bakteri asam laktat dan khamir. Pembuatan starter sourdough dengan substitusi tepung mocaf merupakan salah satu alternatif pengganti terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mocaf perbedaan jenis ubi kayu dengan variasi fermentasi dan karakteristik sourdough berdasarkan perbedaan tepung mocaf. Penelitian ini dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 faktor yaitu jenis ubi kayu dan jenis ragi. Faktor jenis ubi kayu terdiri dari 2 taraf, yaitu ubi kayu putih dan ubi kayu kuning. Faktor jenis ragi yang terdiri dari 3 taraf yaitu, kontrol, ragi tape dan ragi tempe. Mocaf yang dihasilkan diuji kadar air, kadar abu, pH, protein, serat kasar dan penerimaan konsumen dinilai menggunakan uji kesukaan dengan atribut yaitu tekstur, warna dan aroma. Serta sourdough diuji pH, total asam, volume pengembangan dan total mikroba. Penelitian ini menghasilkan mocaf perlakuan terbaik yaitu mocaf ubi kayu putih dan mocaf ubi kayu kuning perlakuan ragi tape. Pada mocaf ubi kayu putih memiliki nilai kadar air 5%, kadar abu 0,33%, pH 3,88, protein 1,9%, serat kasar 2,33%, tekstur 3,57 (netral), warna 3,61 (suka) dan aroma 3,09 (netral). Sedangkan pada mocaf ubi kayu kuning kadar air 4,6%, kadar abu 0,41%, pH 3,87, protein 2,2%, serat kasar 1,17%, tekstur 3,05 (netral), warna 3,71 (suka) dan aroma 3,24 (netral). Formulasi terbaik pada starter sourdough yaitu substitusi mocaf ubi kayu putih menghasilkan rerata nilai pH 3,22, total asam 1,06, volume pengembangan 0,47 cm3 dan total mikroba 63,67 log CFU/g.Kata Kunci: mocaf, sourdough, fermentasi, ragi tape, ragi tempe.Application of Mocaf (modified cassava flour) using tape yeast and tempe yeast in making sourdoughAbstract. Mocaf (Modified cassava flour) is flour obtained from cassava by fermentation process using microorganisms. Sourdough is defined as a mixture of flour and water which is fermented by the activity of lactic acid bacteria and yeast. Making sourdough starter with mocaf flour substitution is an alternative to wheat flour. This study aims to determine the characteristics of mocaf different types of cassava with variations in fermentation and sourdough characteristics based on differences in mocaf flour. This research was conducted based on a factorial randomized block design (RAK) with 2 factors, namely the type of cassava and the type of yeast. The cassava type factor consisted of 2 levels, namely white cassava and yellow cassava. The yeast type factor consisted of 3 levels, namely, control, tape yeast and tempeh yeast. Mocaf produced was tested for water content, ash content, pH, protein, crude fiber and consumer acceptance was assessed using a preference test with attributes namely texture, color and aroma. As well as sourdough tested pH, total acid, volume of development and total microbes. This study resulted in the best treatment mocaf, namely white cassava mocaf and yellow cassava mocaf treated with tape yeast. In mocaf, white cassava has a moisture content of 5%, ash content of 0.33%, pH 3.88, protein 1.9%, crude fiber 2.33%, texture 3.57 (neutral), color 3.61 (like) and fragrance 3.09 (neutral). While in yellow cassava mocaf, water content is 4.6%, ash content is 0.41%, pH is 3.87, protein is 2.2%, crude fiber is 1.17%, texture is 3.05 (neutral), color is 3.71 (like) and scent 3.24 (neutral). The best formulation for sourdough starter, namely the substitution of white cassava mocaf, resulted in an average pH value of 3.22, total acid 1.06, expansion volume 0.47 cm3 and total microbes 63.67 log CFU/g.Keywords: mocaf, sourdough, fermentation, tape yeast, tempe yeast.

Page 84 of 103 | Total Record : 1028