cover
Contact Name
Ria Buana
Contact Email
Jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Phone
+628129657508
Journal Mail Official
jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ebers Papyrus
ISSN : 08548862     EISSN : 27981630     DOI : https://doi.org/10.24912/ep.vxxxx.xxxxx
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ebers Papyrus adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Ebers Papyrus berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli, studi kasus dan tinjauan pustaka. Konten Ebers Papyrus meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 312 Documents
PERBEDAAN KADAR AIR, MINYAK, DAN HIDRASI KULIT DI 3 WILAYAH (BADUY LUAR, SALATIGA, DAN KOTA BAMBU) Linda Yulianti W; Kelvin; Fiona Valencia Setiawan
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.36447

Abstract

Variabilitas karakteristik fisiologis kulit merupakan refleksi dari interaksi kompleks antara determinan lingkungan, perilaku individu, dan kondisi geografis. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komparatif terhadap kadar minyak, kadar air, dan tingkat hidrasi kulit pada wanita dewasa yang tinggal di tiga lingkungan dengan profil ekologis berbeda: komunitas adat semi-rural (Baduy Luar), wilayah semi-urban dataran tinggi (Salatiga), dan kawasan urban padat penduduk (Kota Bambu). Studi potong lintang ini melibatkan 304 partisipan berusia 18–96 tahun, dengan pengukuran parameter kulit menggunakan skin analyzer digital yang telah dikalibrasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis, dengan batas signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan yang sangat bermakna pada seluruh variabel antarwilayah. Responden urban menunjukkan kadar minyak, air, dan hidrasi tertinggi, yang kemungkinan berkaitan dengan kelembapan lingkungan urban, paparan polutan atmosfer, serta penggunaan produk perawatan kulit yang lebih intensif. Sebaliknya, responden dari wilayah dataran tinggi memiliki nilai terendah pada semua parameter, konsisten dengan efek udara kering dan suhu rendah terhadap peningkatan kehilangan air transepidermal. Komunitas adat memperlihatkan kadar air dan minyak rendah, namun hidrasi epidermal tetap relatif terjaga, mengindikasikan adanya adaptasi fisiologis yang khas terhadap paparan lingkungan alami dan stabilitas mikrobioma kulit. Keseluruhan temuan menggarisbawahi bahwa homeostasis barrier kulit bersifat sangat kontekstual terhadap lingkungan mikro dan makro. Studi lanjutan dengan desain longitudinal dan integrasi parameter fisiologis tambahan diperlukan untuk memperdalam pemahaman mekanistik dan meningkatkan ketepatan rekomendasi dermatologis berbasis lingkungan.
PREVALENCE OF DYSLIPIDEMIA: A STUDY OF LIPID PROFILE FINDINGS AT A PRIVATE CLINICAL LABORATORY IN TANGERANG CITY Enny Irawaty; Novendy Novendy
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.36981

Abstract

Dyslipidemia is a metabolic disorder of blood lipids and a global public health issue that affects millions of people, increasing the risk of cardiovascular diseases and the leading cause of death worldwide. The prevalence of dyslipidemia among adults is estimated between 20% - 80%. Several factors contribute to the growing burden of dyslipidemia, one of which is the low rate of accurate diagnosis. This is further exacerbated by the insufficient testing and monitoring of LDL cholesterol levels in the general population, which hinders early detection and effective intervention. A clinical laboratory located in the city of Tangerang frequently provides blood lipid profile testing for patients. However, the results of these tests have not yet been analysed to assess the extent of dyslipidemia related issues. Therefore, a study was conducted to evaluate the distribution of blood lipid profile results and determine the prevalence of dyslipidemia in the population. Cross sectional design was used in this study. A total of 470 data were collected. The study found that the prevalence of dyslipidemia was 26.2%. In addition, 15.7% of individuals had high total cholesterol levels, 8.9% had elevated triglycerides, 8.5% had low HDL levels, and 15.3% had high LDL levels. Routine monitoring of blood lipid levels is crucial for the early detection of lipid metabolism disorders such as dyslipidemia. With regular monitoring, changes in lipid levels can be identified and addressed promptly. Therefore, blood lipid monitoring is an essential preventive measure in maintaining cardiovascular health and improving a quality of life.
EKSPLORASI KANDUNGAN FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUNGA LAWANG (ILLICIUM VERUM) Muhammad Novtyan Putra Ramadhan; Shirly Gunawan; David Limanan; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.36990

Abstract

Beberapa tumbuhan memiliki potensi efek antioksidan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan stres oksidatif. Antioksidan eksogen dapat diperoleh dari sumber alami, salah satunya tanaman herbal seperti bunga lawang (Illicium verum). Tanaman ini banyak tumbuh di pegunungan Maluku dan telah lama dipakai dalam pengobatan tradisional misalnya sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, serta tingkat toksisitas bunga lawang. Ekstrak bunga diperoleh melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Pengujian fitokimia dilakukan dengan pendekatan semikualitatif. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl), ABTS (2,2’-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid), dan FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Uji toksisitas dilakukan dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Pengujian fitokimia didapatkan hasil ekstrak bunga lawang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, kumarin, kuinon, antosianin, betasianin, glikosida, kardioglikosida, steroid, terpenoid, dan tanin. Pada pengujian kapasitas antioksidan ekstrak bunga lawang dengan metode DPPH didapatkan IC50 = 206,918 µg/mL, dengan metode ABTS didapatkan IC50 = 16,135 µg/mL, dengan metode FRAP didapatkan IC50 = 23,711 µg/mL. Penelitian ini menunjukkan potensi ekstrak bunga lawang sebagai antioksidan yang kuat.
POTENSI EKSTRAK BUNGA MAWAR PUTIH (ROSA ALBA): KAJIAN FITOKIMIA DAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN Muhammad Fitrianur Ramadansyah; Shirly Gunawan; David Limanan; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.36998

Abstract

Stres oksidatif muncul ketika tubuh terpapar ROS (Reactive Oxygen Species) dalam jumlah berlebih hingga melampaui kapasitas antioksidan di dalam tubuh. Untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat oksidasi, kondisi ini dapat diatasi melalui penambahan antioksidan eksogen. Antioksidan eksogen dapat diperoleh dari sumber alami, termasuk tanaman herbal. Salah satu contoh tanaman yang tumbuh di wilayah Bandung (Jawa Barat) adalah bunga mawar putih (Rosa alba), yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan air aromatik dikenal dengan nama air Nesri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antioksidan pada bunga mawar putih (Rosa alba). Ekstrak dari bunga tersebut diperoleh melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Uji fitokimia dilakukan dengan pendekatan semikualitatif. Uji kapasitas total antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) dan dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Pada uji fitokimia didapatkan ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) mengandung glikosida, kumarin, saponin, kuinon, fenolik, antosianin, betasianin, alkaloid, flavonoid, kardioglikosida, steroid, tanin, dan terpenoid. Diperoleh ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) memiliki kapasitas antioksidan dengan metode DPPH (IC50 = 100,444 µg/mL), dengan metode ABTS (IC50 = 13,481 µg/mL), dengan metode FRAP (IC50 = 20,106 µg/mL). Sehingga dapat disimpulkan ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) berpotensi sebagai agen antioksidan.
HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI KUNJUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN LANSIA DI PANTI WERDA Diana Dinali; Zita Atzmardina
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37104

Abstract

Peningkatan populasi lansia di Indonesia sejalan dengan peningkatan kerentanan lansia terhadap kecemasan. Hal ini dikarenakan berbagai perubahan baik dari segi fisik maupun psikososial. Pada lansia yang bertempat tinggal di panti werda faktor dukungan keluarga juga turut berperan dalam kerentanan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara frekuensi kunjungan keluarga terhadap tingkat kecemasan lansia di panti werda. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang pada 97 orang lansia di tiga panti werda kawasan Jabodetabek yang berusia di atas 60 tahun. Lansia yang tidak mampu berbicara, tidak mampu mendengar, lansia yang mengalami imobilisasi total, serta lansia yang sedang mengalami proses duka dalam 6 bulan terakhir dieksklusikan dalam penelitian ini. Tingkat kecemasan lansia diukur dengan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sedangkan frekuensi kunjungan keluarga didapatkan dari buku tamu panti serta wawancara pada lansia. Dilakukan uji data menggunakan uji statistic dan uji epidemiologis. Hasil penelitian menunjukkan p-value sebesar <0,001 yang menunjukkan hubungan bermakna antara frekuensi kunjungan keluarga terhadap tingkat kecemasan lansia. Lansia yang sering dikunjungi memiliki risiko 4,5 kali lebih besar (PRR 4,5) untuk diklasifikasikan dalam kategori tidak cemas – cemas ringan dibandingkan dengan cemas sedang - panik. Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan dukungan keluarga terhadap lansia sehingga kualitas hidup lansia meningkat.
PROFIL POLIP KOLOREKTAL DI MRCCC SILOAM HOSPITALS SEMANGGI Claudius Ricco Hartawan; Sony Sugiharto
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37644

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker keempat terbanyak dan penyebab kematian kelima terkait kanker di Indonesia. Sebagian kanker kolorektal berasal dari adenoma yang merupakan bagian dari polip kolorektal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil histopatologi polip kolorektal pada pasien yang menjalani kolonoskopi dengan polipektomi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Penelitian deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional dengan 314 pasien yang dipilih dengan metode total sampling pada tahun 2022–2025 dari data sekunder rekam medis. Rerata pasien berusia 56,39 ± 13,91 tahun dengan rentang usia 21–88 tahun. Terdapat 428 polip dengan 220 polip non-neoplastik dan 208 polip neoplastik. Pada kelompok non-neoplastik mayoritas berjenis polip inflamatorik yang sering ditemukan di rektum (23,9%) dan kolon sigmoid (22,9%), serta sering ditemukan berukuran ≤ 5 mm (78,9%). Selain polip inflamatorik, polip hiperplastik juga sering ditemukan di rektum (22,4%) dan kolon sigmoid (22,4%) dan berukuran ≤ 5 mm (92,5%). Pada kelompok neoplastik mayoritas berjenis adenoma tubular yang sering ditemukan di rektum (17%) dan kolon descendens (16,5%), serta sering berukuran ≤ 5 mm (59,7%). Polip neoplastik dengan low-grade dysplasia paling sering ditemukan dan berukuran ≤ 5 mm. Pada penelitian ini hampir separuh polip yang ditemukan merupakan polip neoplastik dengan potensi untuk bertransformasi menjadi ganas, maka deteksi dini melalui kolonoskopi menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan kanker kolorektal.
PENGARUH USIA MENARCHE TERHADAP KEPARAHAN DISMENORE PADA SISWI SMPN 1 KAYEN KIDUL Finka Aulia Jannatin; Fadil Hidayat
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37746

Abstract

Dismenore adalah suatu kondisi ginekologi yang umum dialami remaja wanita dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dismenore dibagi menjadi 2 macam, yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer adalah yang paling sering terjadi pada sebagian besar perempuan. Salah satu faktor yang dianggap berkontribusi adalah usia menarche, yaitu usia ketika menstruasi pertama kali dimulai. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara usia menarche dan tingkat dismenore pada siswa perempuan di SMP Negeri 1 Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Penelitian ini menerapkan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 222 siswi yang memenuhi kriteria inklusi menjadi partisipan dalam penelitian ini. Data dianalisis melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitasnya, selanjutnya dianalisis menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami menarche pada usia normal (88,3%) dan mengalami dismenore dengan tingkat ringan (60,4%). Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia menarche dan tingkat dismenore (p = 0,711). Temuan ini mengindikasikan bahwa usia menarche tidak memiliki keterkaitan yang signifikan dengan tingkat keparahan dismenore. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mungkin memiliki pengaruh lebih besar terhadap kejadian dismenore, seperti indeks massa tubuh, riwayat keluarga, atau pola hidup yang diterapkan.
EVALUASI ATEROSKLEROSIS KORONER MELALUI CT ANGIOGRAFI KORONER PADA PASIEN DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI Arnanda Nugroho Dwiputranto; Daniel Ruslim
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37973

Abstract

Penyakit jantung koroner merupakan komplikasi kardiovaskular yang sering terjadi pada pasien dengan kondisi metabolik kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Pemeriksaan CT angiografi koroner memegang peranan krusial sebagai pemeriksaan penunjang non-invasif yang mampu memberikan gambaran anatomis pembuluh darah secara mendalam guna memandu strategi pengobatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi gambaran penyakit jantung koroner pada pasien dengan diabetes melitus, hipertensi, serta kombinasi keduanya melalui interpretasi hasil CT angiografi koroner. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 174 data rekam medis, distribusi jenis plak pada pasien diabetes melitus, hipertensi, serta kombinasi diabetes melitus dan hipertensi didominasi oleh plak campuran. Distribusi lokasi lesi pada ketiga kelompok tersebut paling banyak ditemukan pada segmen proximal–mid dan proximal– distal arteri koroner. Sementara itu, distribusi derajat stenosis didominasi oleh stenosis derajat berat dan ringan. Temuan ini secara signifikan menunjukkan bahwa baik diabetes melitus maupun hipertensi, baik ketika berdiri sendiri sebagai faktor risiko tunggal maupun saat muncul bersamaan, memiliki dampak yang relatif setara dalam memicu progresivitas aterosklerosis. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa masing-masing kondisi merupakan faktor risiko yang sangat kuat yang mampu menyebabkan kerusakan endotel vaskular secara mandiri. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi praktisi kesehatan untuk melakukan deteksi dini secara lebih intensif pada pasien berisiko tinggi guna meminimalisir kejadian kardiovaskular akut di masa mendatang.
EFEKTIVITAS VIDEO EDUKASI DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN MAHASISWA TENTANG KERATOSIS PILARIS Marshanda Caterina Salim; Donatila Mano S
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37987

Abstract

Keratosis pilaris (KP) merupakan kelainan genetik yang ditandai dengan lesi papula folikuler non-inflamasi, menyebabkan kulit terasa kasar dan tidak merata menyerupai kulit ayam. Meskipun umum ditemukan secara global, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai KP masih terbatas, sehingga sering kali memicu mispersepsi, seperti anggapan bahwa KP merupakan penyakit menular, dan dapat berdampak pada aspek psikologis penderita. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2025 mengenai KP serta mengevaluasi efektivitas penggunaan video edukasi dalam meningkatkan pemahaman mengenai suatu penyakit. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode quasi-experimental dengan one group pre-test dan post-test pada bulan Desember 2025 terhadap 77 responden. Pengetahuan dinilai menggunakan kuesioner 16 soal pilihan ganda yang telah dikonfirmasi validitasnya (korelasi Pearson, r > 0,3291) serta reliabilitasnya (Cronbach's Alpha = 0,869). Setelah menyelesaikan pre-test, responden mendapatkan video edukasi via YouTube, kemudian mengerjakan post-test. Hasil memperlihatkan rerata skor meningkat dari 54,22 menjadi 84,90, dengan mean difference sebesar 30,68 poin. Peningkatan skor ini sejalan dengan keunggulan media video sebagai media elektronik yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran secara bersamaan, serta dapat diputar ulang, sehingga mempermudah penyerapan informasi. Analisis dengan uji Wilcoxon diperoleh nilai p < 0,001 dan uji effect size Cohen’s d = 1,40 (efek sangat besar). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian serupa pada topik penyakit kulit lain yang juga membuktikan efektivitas video dalam meningkatkan pengetahuan. Temuan ini membuktikan bahwa edukasi berbasis video mampu meningkatkan pengetahuan yang bermakna secara statistik pada mahasiswa kedokteran mengenai keratosis pilaris.
HUBUNGAN RASIO KARDIOTORAKS RADIOLOGIS DENGAN FRAKSI EJEKSI JANTUNG DAN KLASIFIKASI NYHA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF Rafindra Raja Adi Hendrianto; Daniel Ruslim
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.38028

Abstract

Gagal jantung kongestif (CHF) merupakan sindrom klinis progresif yang ditandai oleh penurunan fungsi pompa jantung dan peningkatan tekanan pengisian jantung. Cardiothoracic ratio (CTR) pada foto toraks sering digunakan sebagai salah satu indikator sederhana untuk menilai kardiomegali yang terjadi karena remodeling jantung kronis, sedangkan left ventricular ejection fraction (LVEF) merupakan parameter utama untuk menilai fungsi sistolik ventrikel kiri. Klasifikasi New York Heart Association (NYHA) digunakan untuk menggambarkan derajat gejala dan keterbatasan aktivitas pada pasien CHF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai CTR dan nilai LVEF serta hubungannya dengan klasifikasi NYHA pada pasien CHF. Penelitian analitik dengan desain potong lintang ini melibatkan 76 pasien CHF di RS Jantung Jakarta. Sampel dipilih secara consecutive non random sampling berdasarkan data rekam medis periode Juni 2024 - Juni 2025. Nilai CTR diukur melalui pemeriksaan foto toraks proyeksi posterior-anterior dan nilai LVEF diukur melalui ekokardiografi. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif lemah (r = -0,356, p = 0,001) antara nilai CTR dan nilai LVEF, sedangkan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif sedang (⍴= 0,443, p < 0,001). Hasil ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan nilai CTR berhubungan dengan penurunan nilai LVEF tetapi nilai CTR radiologis tidak dapat menggantikan ekokardiografi sebagai parameter utama dalam menilai fungsi sistolik jantung yang tercermin pada nilai LVEF. Selain itu, terdapat kecenderungan peningkatan derajat keparahan gejala klinis berdasarkan klasifikasi NYHA seiring meningkatnya nilai CTR.