cover
Contact Name
Velma Herwanto
Contact Email
Velmah@fk.untar.ac.id
Phone
+628161820408
Journal Mail Official
jmmpk@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
ISSN : -     EISSN : 27978320     DOI : 10.24912/jmmpk
Core Subject : Health, Science,
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Kampus 1 Jl. Letjen S. Parman No.1 Jakarta 11440 021-5671747 Ext. 215
Articles 142 Documents
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG SADARI PADA PEREMPUAN DEWASA DI DINSOS PPPA KABUPATEN BANYUMAS SERTA MITRA KERJANYA Astrid Kayla Hanun; Grace Shalmont
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38141

Abstract

Perempuan berisiko mengalami beragam masalah kesehatan seiring dengan pertambahan usia, diantaranya berupa kelainan pada payudara. Kelainan pada payudara dapat berupa lesi jinak seperti fibroadenoma, mastitis, dan berbagai kelainan jinak lainnya, serta dapat berupa lesi ganas yaitu kanker payudara. Kanker payudara menjadi jenis kanker dengan kasus terbanyak yang dialami oleh perempuan di Indonesia, yaitu sebanyak 93.236 kasus (34,4%). Pemerintah berupaya untuk mencegah dan mengendalikan kanker payudara melalui pemeriksaan dini, salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Namun, berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya didapatkan bahwa pemahaman dan pengetahuan perempuan mengenai pemeriksaan tersebut masih tergolong rendah. Mayoritas penelitian sebelumnya juga hanya mengkaji populasi tertentu dengan karakteristik yang sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran pengetahuan tentang SADARI pada perempuan dewasa di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Banyumas serta mitra kerjanya. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan desain cross sectional, dengan jumlah responden sebanyak 101 perempuan dewasa. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih responden pada penelitian ini. Hasil penelitian menggambarkan bahwa mayoritas subjek penelitian berusia 41-65 tahun (dewasa madya), memiliki tingkat pendidikan terakhir S1, dan bekerja. Secara umum, pengetahuan mengenai SADARI mayoritas responden tergolong cukup yakni sebesar 69,3%. Dari aspek usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup.
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 5 KOTA BEKASI Putri Rania Ashha; Robert Kosasih
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38142

Abstract

Latar Belakang: Anemia, yaitu rendahnya jumlah sel darah merah yang kerap dialami oleh remaja putri seiring meningkatnya kebutuhan zat besi pada periode pertumbuhan serta adanya kehilangan darah selama siklus menstruasi. Salah satu faktor yang dipercayai berkaitan dengan kondisi ini adalah status gizi yang dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), meskipun temuan dari penelitian terdahulu masih menunjukkan temuan yang bervariasi. Tujuan: Mengkaji keterkaitan antara status gizi yang ditentukan oleh BMI-for-age-percentile dengan prevalensi anemia pada siswi kelas X di SMAN 5 Kota Bekasi. Metode: Studi ini dirancang secara observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), melibatkan 262 siswi sebagai subjek penelitian. Data diperoleh dari rekam medis di Puskesmas Kecamatan Pondok Gede. Penentuan status gizi mengacu pada BMI-for-age-percentile berdasarkan standar dari CDC menggunakan CDC Child and Teen BMI Calculator, sementara klasifikasi anemia didasarkan pada nilai hemoglobin di bawah 12 g/dL sesuai pedoman World Health Organization (WHO). Pengujian hubungan antar variabel dilakukan dengan uji Chi-Square pada taraf kepercayaan 95%. Hasil: Mayoritas siswi (80,5%) berada pada kategori status gizi normal, sedangkan sekitar sepertiga dari keseluruhan responden mengalami anemia. Uniknya, kejadian anemia tersebar di semua kategori status gizi. Berdasarkan hasil uji Chi-Square, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara status gizi (BMI-for-age-percentile) dengan kejadian anemia (p=0,906). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara status gizi berdasarkan BMI-for-age-percentile dengan kejadian anemia pada siswi kelas X di SMAN 5 Kota Bekasi.
KAPASITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN JAMBU AIR (SYZYGIUM AQUEUM) DENGAN METODE ABTS, DPPH, DAN FRAP Muhammad Fikri Dzakwan; Ni Made Swantari
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38143

Abstract

ABSTRAK Antioksidan berperan penting dalam menetralisir radikal bebas penyebab stres oksidatif yang mendasari berbagai penyakit degeneratif. Daun jambu air (Syzygium aqueum), tanaman famili Myrtaceae yang tumbuh melimpah di Indonesia, diketahui mengandung metabolit sekunder berpotensi antioksidan seperti flavonoid, tanin, antosianin, dan senyawa fenolik. Namun, dibandingkan kerabat dekatnya dalam genus Syzygium, data kapasitas antioksidan Syzygium aqueum masih terbatas dan umumnya hanya diuji dengan satu metode, sehingga belum menggambarkan kapasitas antioksidannya secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kapasitas antioksidan ekstrak metanol daun Syzygium aqueum menggunakan tiga metode sekaligus. Ekstrak dibuat melalui maserasi dan perkolasi menggunakan pelarut metanol, dilanjutkan evaporasi hingga diperoleh ekstrak. Pengujian kapasitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH, ABTS, dan FRAP, dengan Trolox sebagai standar pembanding. Nilai IC₅₀ pada uji DPPH, ABTS, dan FRAP berturut-turut adalah 34,47 µg/mL, 3,93 µg/mL, dan 10,05 µg/mL, seluruhnya termasuk kategori antioksidan sangat kuat (IC₅₀ < 50 µg/mL). Kapasitas antioksidan ekstrak pada metode ABTS hampir setara dengan standar Trolox (IC₅₀ 3,39 µg/mL). Dapat disimpulkan bahwa daun Syzygium aqueum memiliki kapasitas antioksidan yang sangat kuat pada ketiga metode yang digunakan, dengan kontribusi utama dari senyawa fenolik dan antosianin, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami.
KORELASI MASSA OTOT DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA POPULASI USIA PRODUKTIF: STUDI POTONG LINTANG DI JAKARTA BARAT Richver Framanto Johan; Alexander Halim Santoso
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38144

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) termasuk penyakit metabolik dengan insiden terus meningkat. Massa otot berperan dalam metabolisme glukosa dan diduga berhubungan dengan kejadian DMT2. Penelitian ini memiliki bertujuan untuk mengetahui korelasi massa otot dengan DM tipe 2 pada populasi usia produktif di Jakarta Barat. Penelitian menggunakan analitik observasional dengan desain potong lintang yang melibatkan 207 responden usia produktif di Kelurahan Kosambi Jakarta Barat. Penilaia massa otot dilakukan menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), sedangkan penentuan DMT2 ditentukan berdasarkan kadar gula darah 2 jam post-prandial (G2PP). Rerata massa otot responden adalah 10,34 ± 1,16 kg/m² dan rerata kadar G2PP sebesar 89,66 ± 24,086 mg/dL. Sebanyak 7 responden (3,4%) teridentifikasi mengalami DMT2. Hasil dari analisis menyatakan korelasi negatif yang sangat lemah dan juga tidak bermakna antara massa otot dengan DMT2 (r = -0,047; p = 0,498). Penelitian ini menunjukkan bahwa massa otot bukan faktor yang cukup memengaruhi terjadinya DMT2 pada populasi usia produktif di Kelurahan Kosambi Jakarta Barat. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk melihat faktor risiko apa yang memiliki korelasi terhadap DM tipe 2.
KETERKAITAN PARITAS DENGAN KASUS KETUBAN PECAH DINI DI RS CINTA KASIH TZU CHI CENGKARENG Nasalya Maura Ramadhani; Ricky Susanto
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38162

Abstract

Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai suatu peristiwa ketika membran ketuban mengalami kerusakan atau robek sebelum dimulainya proses persalinan. Kondisi ini memberikan dampak buruk bagi ibu maupun janin melalui peningkatan risiko kesakitan dan kematian, serta berkontribusi pada 30%–40% kelahiran prematur secara global. Berbagai faktor risiko yang berperan dalam terjadinya KPD, di antaranya paritas, infeksi vagina atau serviks, kehamilan ganda, riwayat KPD sebelumnya, usia ibu, trauma, dan sempitnya panggul. Jumlah persalinan (paritas) yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak dapat memengaruhi kondisi fisiologis rahim dan berpotensi meningkatkan risiko KPD. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara paritas dengan kejadian KPD di RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng periode 2021–2025. Studi ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional dan pendekatan retrospektif, melibatkan 130 subyek yang diambil secara quota sampling dari rekam medis pasien. Hasil Studi menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu 93 (71,5%) berada pada kategori paritas berisiko, sementara kejadian KPD ditemukan pada 59 (45,4%) responden. Analisis Chi-Square memperlihatkan adanya keterkaitan yang bermakna antara paritas dan kejadian KPD (p = 0,039). Perolehan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,521 menunjukkan bahwa ibu dengan paritas berisiko memiliki peluang 2,521 kali lebih besar mengalami KPD dibandingkan ibu dengan paritas tidak berisiko. Temuan ini menegaskan pentingnya paritas sebagai faktor risiko yang memerlukan pengawasan intensif guna mencegah timbulnya komplikasi kehamilan.
KORELASI TINGKAT SELF-ESTEEM DENGAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA ANGKATAN 2024 Muthiah Aisah Razana; Kumala Dewi Darmawi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38163

Abstract

Mahasiswa kedokteran rentan mengalami masalah kesehatan mental karena masa studi yang panjang dan beban akademik yang berat dapat menimbulkan stres berlebihan. Salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan stres adalah self-esteem, yaitu penilaian individu terhadap nilai dan kemampuan dirinya. Self-esteem yang tinggi berperan sebagai faktor protektif dalam menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara self-esteem dan stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2024. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengukuran dilakukan menggunakan kuesioner Rosenberg Self-esteem Scale dan Perceived Stress Scale-10 versi Bahasa Indonesia secara daring. Sebanyak 100 mahasiswa berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman karena kedua variabel tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki self-esteem sedang (81%) dan stres sedang (75%). Pada kelompok self-esteem rendah, 86,7% responden mengalami stres sedang dan 13,3% mengalami stres berat, serta tidak ada yang mengalami stres ringan. Pada kelompok self-esteem tinggi, 25,0% responden mengalami stres ringan dan 75,0% mengalami stres sedang, serta tidak ada yang mengalami stres berat. Uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,590 dengan nilai p < 0,001, yang menunjukkan korelasi negatif dengan kekuatan sedang antara self-esteem dan stres. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara self-esteem dan stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2024. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan self-esteem dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan stres dan pengembangan program dukungan psikologis bagi mahasiswa.
ASOSIASI ASUPAN PROTEIN DENGAN LINGKAR BETIS SEBAGAI PREDIKTOR MASSA OTOT PADA KELOMPOK LANSIA Felicia Adeline Gunadi; Idawati Karjadidjaja
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38164

Abstract

Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2021, didapatkan 42% lansia dengan keluhan kesehatan sarkopenia yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga bergantung pada individu lain. Faktor risiko lansia mengalami sarkopenia adalah proses penuaan, asupan protein yang rendah, obesitas dan aktivitas fisik yang rendah. Hal ini dapat dicegah dengan kecukupan asupan protein sesuai kebutuhan yaitu sebanyak ≥1,2 g/kgBB/hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat asosiasi asupan protein terhadap massa otot yang dinilai besarnya melalui lingkar betis lansia di Puskesmas Kelurahan Tomang. Studi ini menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang dan menggunakan instrument kuesioner dan wawancara dietary recall serta pengukuran lingkar betis. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling dan data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Total responden pada penelitian ini adalah 194 subjek dan didapatkan sebesar 125 responden (64,4%) memiliki asupan protein diatas kebutuhan dan sebesar 116 responden (59,8%) memiliki lingkar betis yang normal. Setelah dilakukan analisis, didapatkan nilai p < 0,05 yang berarti terdapat asosiasi antara asupan protein dengan lingkar betis sebagai indikator pengukuran massa otot pada lansia.
EFEKTIVITAS INTERVENSI PSIKOSOSIAL BERBASIS PENGUATAN MOTIVASI, KOGNISI DAN EMOSI DALAM MENURUNKAN LEARNED HELPLESSNESS PADA LANSIA Vivi Derianti; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38211

Abstract

Lansia yang tinggal di panti sosial sering menghadapi berbagai keterbatasan yang dapat menurunkan kontrol terhadap kehidupan, seperti keterbatasan mobilitas, kurangnya kebebasan dalam menentukan preferensi pribadi, serta terbatasnya interaksi sosial yang bermakna. Kondisi ini berpotensi memunculkan learned helplessness apabila berlangsung secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikososial berbasis penguatan motivasi, kognisi, dan emosi dalam menurunkan learned helplessness pada lansia di Panti Sosial X. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design, yang melibatkan 10 lansia dengan kecenderungan learned helplessness. Pengukuran dilakukan menggunakan Learned Helplessness Scale sebelum (M = 49,7) dan sesudah intervensi (M = 47,4). Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi belum menghasilkan penurunan yang signifikan secara statistik terhadap learned helplessness (p = 0,082), meskipun menunjukkan effect size sedang (Cohen’s d = -0.545). Hal ini diduga berkaitan dengan keterbatasan durasi dan frekuensi intervensi, mengingat learned helplessness berhubungan dengan pola atribusi yang cenderung stabil. Meskipun demikian, hasil evaluasi kualitatif menunjukkan adanya perubahan positif pada kondisi psikologis lansia, seperti peningkatan persepsi diri, munculnya motivasi untuk merawat diri, serta perubahan emosional berupa perasaan lebih lega, tenang, senang, dan bersemangat. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan durasi dan frekuensi intervensi yang lebih memadai serta mempertimbangkan kesesuaian metode dengan karakteristik lansia dan kondisi lingkungan.
LOVING-KINDNESS AND COMPASSION MEDITATION UNTUK MENURUNKAN STRESS PADA INDIVIDU DENGAN HIV POSITIF Abdul Kholiq Ismail; Muhammad Hudzaifah; Rubiyanti Rubiyanti; Diaz Fahmi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38234

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh intervensi Meditasi Loving-Kindness and Compassion (LKM), yaitu teknik meditasi berbasis welas diri dan welas asih yang dilaksanakan selama dua hari pertemuan mengacu pada modul The Mindful Self-Compassion Workbook (Neff & Germer, 2018), terhadap tingkat stres pada individu dengan HIV positif (ODHIV+). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest. Tiga partisipan dipilih melalui screening DASS-42, kemudian tingkat stres diukur menggunakan PSS-10 sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya penurunan rata-rata skor stres dari 26,33 menjadi 24,33 setelah intervensi LKM. Namun, hasil uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik (W = 3,00; p = 0,371), dengan nilai effect size (rank-biserial correlation, rbb) sebesar 1,00, yang perlu dimaknai secara hati-hati mengingat ukuran sampel yang sangat kecil (n = 3). Meskipun demikian, intervensi LKM menunjukkan indikasi positif dalam membantu peserta meningkatkan penerimaan diri dan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi LKM berpotensi membantu menurunkan stres pada ODHIV+, meskipun temuan ini masih bersifat awal dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian dengan sampel yang lebih besar.
STUDI KASUS: PENDEKATAN PENANGANAN IDEASI BUNUH DIRI PADA PASIEN KORBAN PEMERKOSAAN DENGAN GANGGUAN DEPRESI MAYOR Dastin Imanuel; Sandi Kartasasmita
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.38235

Abstract

Kekerasan seksual, khususnya pemerkosaan, merupakan peristiwa traumatis yang dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius, seperti Gangguan Depresi Mayor (GDM) dan ideasi bunuh diri. Trauma yang dialami korban sering memunculkan distorsi kognitif, rasa bersalah yang berlebihan, serta penilaian negatif terhadap diri sendiri yang memperburuk gejala depresi dan meningkatkan risiko bunuh diri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses asesmen, dinamika psikologis, serta pelaksanaan intervensi psikologis berbasis kognitif dalam menangani ideasi bunuh diri pada pasien korban pemerkosaan dengan Gangguan Depresi Mayor. Penelitian menggunakan desain studi kasus klinis dengan pendekatan mixed methods pada seorang perempuan berusia 29 tahun yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dengan diagnosis Gangguan Depresi Mayor episode berulang berat tanpa fitur psikotik setelah melakukan percobaan bunuh diri melalui overdosis obat. Proses asesmen dilakukan melalui wawancara klinis, observasi, Mental Status Examination (MSE), serta penggunaan instrumen Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42), Suicide Assessment Scale (SASS-II), Sack's Sentence Completion Test (SSCT), Draw-A-Person (DAP), Baum Test, House-Tree-Person (HTP), dan Intelligence Structure Test (IST). Intervensi diberikan dalam tiga sesi konseling individual berbasis Teori Kognitif Beck yang meliputi psikoedukasi, restrukturisasi kognitif, pelatihan strategi koping adaptif, dan teknik relaksasi. Hasil menunjukkan adanya penurunan gejala depresi, kecemasan, dan stres, dengan skor depresi menurun dari kategori sangat berat menjadi sedang. Selain itu, pasien menunjukkan perbaikan kualitas tidur, kemampuan regulasi emosi, serta fleksibilitas kognitif. Pasien juga mampu mengidentifikasi dan menantang pikiran otomatis negatif yang berkaitan dengan rasa bersalah, ketidakberhargaan diri, dan keputusasaan sehingga intensitas ideasi bunuh diri berkurang secara bermakna. Studi kasus ini menunjukkan bahwa intervensi kognitif singkat berbasis Teori Kognitif Beck memberikan perbaikan klinis dan menjadi pendekatan preventif krisis yang efektif dalam menurunkan ideasi bunuh diri pada pasien dengan Gangguan Depresi Mayor akibat trauma seksual di lingkungan rawat inap.