MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary
MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is a peer-reviewed journal that aims to provide a platform for scholars, researchers, academics, and practitioners from diverse fields of study to contribute and exchange their knowledge, insights, and research findings. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is published by the Institute of Educational, Research, and Community Service. The journal seeks to promote interdisciplinary collaboration by accepting submissions from various disciplines, including but not limited to: Social Sciences: Sociology, Anthropology, Political Science, Psychology, Communication Studies, and Cultural Studies. Humanities: Literature, Linguistics, Philosophy, History, Arts, and Cultural Heritage. Business and Economics: Management, Marketing, Finance, Entrepreneurship, and International Business. Education: Educational Research, Curriculum Development, Teaching Methods, Islamic Studies, and Educational Technology. Health Sciences: Medicine, Nursing, Public Health, Nutrition, and Healthcare Management. Natural Sciences: Biology, Chemistry, Physics, Environmental Science, and Geology. Engineering and Technology: Computer Science, Information Technology, Electrical Engineering, Mechanical Engineering, and Civil Engineering. Applied Sciences: Agriculture, Environmental Management, Food Science, and Biotechnology. And other disciplines not mentioned. The journal welcomes original research articles, review papers, case studies, and theoretical perspectives that contribute to the advancement of knowledge in their respective fields and foster a holistic understanding of global challenges and solutions. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary focuses on the exploration of contemporary issues, emerging trends, and innovative practices in various disciplines. The journal emphasizes the significance of a multidisciplinary approach to address complex problems and encourages discussions on their social, economic, environmental, and cultural implications. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary aims to facilitate the dissemination of research findings that have practical applications and societal relevance, contributing to sustainable development and progress of global communities. By promoting interdisciplinary research, the journal seeks to create a collaborative and dynamic space for scholars and professionals to bridge gaps between disciplines and contribute to a more comprehensive understanding of our interconnected world. Submission to MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary is open to researchers and scholars from around the globe, who are committed to advancing knowledge, promoting diversity of perspectives, and contributing to the betterment of societies worldwide.
Articles
605 Documents
Hubungan Motivasi Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Status Periodontal Pada Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Iboih Kota Sabang
Yunni Agusna;
Nurdin
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Diabetes melitus ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang berhubungan sekresi insulin. Penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat mengalami komplikasi berupa penyakit peradangan pada jaringan periodontal yang disebabkan oleh bakteri di subgingiva. Penyebab utama individu mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut adalah kurangnya motivasi individu dalam melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status periodontal pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Iboih Kota Sabang. Penelitian ini dilakukan dengan metode bersifat analitik dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling, yaitu 39 responden. Penelitian ini dilakukan dengan uji statistic chi – square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien diabetes melitus memiliki motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut paling banyak berkategori lemah dan status periodontal berkriteria Poket dalam 17 orang (77,3%). Hasil uji statitik chi-square diperoleh nilai sebesar p=0,007 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status periodontal pada pasien diabetes melitus. Disarankan kepada pasien diabetes melitus untuk meningkatkan pemeliharan kesehatan gigi dan mulut dan puskesmas memaksimalkan edukasi dan konsultasi kesehatan gigi dan mulut yang bisa berkolaborasi dengan program PROLANIS agar memotivasi pasien diabetes melitus untuk melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut lebih optimal.
Hubungan Menyikat Gigi Pada Malam Hari Dengan Karies Gigi Pada Anak Usia 10-12 Tahun Di Gampong Laksana Kec. Kuta Alam Banda Aceh
Siti Annisa Putri;
Herry Imran
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi yang paling umum pada anak usia sekolah, sementara kebiasaan menyikat gigi pada malam hari masih rendah dilakukan sehingga meningkatkan risiko pembentukan plak dan terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan menyikat gigi malam hari dengan kejadian karies gigi pada anak usia 10–12 tahun di Gampong Laksana, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 38 anak yang dipilih melalui teknik proporsional sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan pemeriksaan gigi menggunakan indeks DMF-T/def-t, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki kebiasaan menyikat gigi malam hari yang kurang baik atau tidak menyikat gigi malam hari sama sekali (71,1%), dan 28,9% anak mengalami karies dengan tingkat yang sangat tinggi. Hasil uji statistik membuktikan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan menyikat gigi malam hari dengan kejadian karies gigi (p = 0,001). Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur berperan penting dalam mencegah karies pada anak, sehingga diperlukan edukasi intensif kepada anak dan pendampingan orang tua untuk membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, terutama pada malam hari.
Penyuluhan Edukasi Media Puzzle Terhadap Pengetahuan Cara Menyikat Gigi Pada Kelas II SDN 62 Lueng Bata Kota Banda Aceh
Siti Nabilah;
Eka Sri Rahayu
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi isu penting di Indonesia, khususnya pada anak usia sekolah dasar. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi gigi berlubang pada anak usia 5–9 tahun di Aceh mencapai 53%, sementara hanya 2,8% anak yang menyikat gigi dengan waktu yang benar. Rendahnya pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang benar menjadi salah satu penyebab utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menggunakan media puzzle terhadap pengetahuan cara menyikat gigi pada siswa kelas II SDN 62 Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan nonequivalent control group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari dua kelompok: kelompok intervensi yang diberikan edukasi dengan media puzzle, dan kelompok kontrol tanpa media puzzle (ceramah).jumlah sampel yaitu 75 dengan menggunakan teknik quasi ekperimen,kelompok kontrol berjumlah 45 dan kelompok intervensi berjumlah 45 , dengan pengambilan menggunakan Total Sampling. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan rata-rata pengetahuan pada kelompok intervensi dari 43,51% menjadi 77,57%, dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05), dibandingkan kelompok kontrol yang hanya meningkat dari 40,54% menjadi 58,65%. Edukasi menggunakan media puzzle terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang cara menyikat gigi yang benar. Puzzle sebagai media visual dan interaktif mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan media edukatif seperti puzzle dalam program promosi kesehatan gigi di sekolah dasar.
Pengaruh Edukasi Menyikat Gigi Dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Keluarga Terhadap Peningkatan Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Di Desa Seubam Cot
Oriza Muliana;
Wirza
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi perhatian penting di Indonesia karena tingginya prevalensi penyakit gigi akibat kurangnya edukasi menyikat gigi yang benar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menyikat gigi dalam pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut keluarga terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut di Desa Seubam Cot. Metode: PenelitiMasalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi isu penting di Indonesia karena tingginya prevalensi penyakit gigi yang dipengaruhi oleh kurangnya edukasi menyikat gigi dengan benar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi menyikat gigi dalam pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut keluarga terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut masyarakat di Desa Seubam Cot. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest pada 40 responden yang diberikan edukasi menyikat gigi menggunakan media flipchart. Status kebersihan gigi dan mulut diukur menggunakan Debris Index (DI) sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji statistik untuk melihat perbedaan nilai rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan pada status kebersihan gigi dan mulut setelah edukasi diberikan, dengan nilai rata-rata indeks sebelum intervensi sebesar 1,79 (kategori sedang) dan setelah intervensi menurun menjadi 0,87 (kategori baik), serta diperoleh nilai p = 0,001 (< 0,05) yang menunjukkan perbedaan bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi menyikat gigi melalui media flipchart efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai teknik menyikat gigi yang benar, sehingga berdampak pada perbaikan status kebersihan gigi dan mulut. Dengan demikian, intervensi edukasi berbasis keluarga dapat menjadi strategi yang relevan dan aplikatif dalam upaya pencegahan masalah kesehatan gigi di tingkat masyarakat.an ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest pada 40 responden yang mendapatkan edukasi menyikat gigi melalui media flipchart. Status kebersihan gigi dan mulut diukur dengan Debris Index (DI) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan pada status kebersihan gigi dan mulut setelah diberikan edukasi, dengan nilai rata-rata indeks sebelum intervensi sebesar 1,79 (kategori sedang) dan setelah intervensi menjadi 0,87 (kategori baik), serta nilai p = 0,001 (< 0,05) yang menunjukkan perbedaan bermakna. Kesimpulan: Edukasi yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya teknik menyikat gigi yang benar serta frekuensi menyikat gigi yang ideal, yang berdampak pada kebersihan gigi dan mulut yang lebih baik. Dengan demikian, edukasi menyikat gigi yang diberikan melalui pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut keluarga terbukti efektif dalam meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut masyarakat di Desa Seubam Cot.
Pengaruh Edukasi Menyikat Gigi Pada Pelayanan Asuhan Gigi Keluarga Terhadap Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Anak Di Desa Seubam Cot
Balqisa Khansa Ul Hanan;
Wirza
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang memengaruhi kualitas hidup anak, namun di Indonesia prevalensi masalah gigi dan mulut pada anak masih tinggi akibat kurangnya pengetahuan dan keterlibatan keluarga dalam pembentukan perilaku hidup sehat sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menyikat gigi dalam pelayanan asuhan gigi keluarga terhadap status kebersihan gigi dan mulut anak di Desa Seubam Cot. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pre-test and post-test, melibatkan 30 anak berusia 5–14 tahun yang diberikan edukasi menyikat gigi menggunakan media poster. Status kebersihan gigi dan mulut diukur dengan indeks PHP-M, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor PHP-M sebelum edukasi sebesar 39,37 (kategori sedang) dan menurun menjadi 16,90 (kategori baik) setelah edukasi, dengan nilai p = 0,001 (< 0,05) yang menandakan adanya pengaruh signifikan edukasi terhadap kebersihan gigi dan mulut anak. Temuan ini menyimpulkan bahwa edukasi menyikat gigi dalam pelayanan asuhan gigi keluarga efektif dalam meningkatkan kebersihan gigi dan mulut anak, sehingga pelaksanaan program serupa perlu didukung secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan dan orang tua.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Gigi Dalam Pelayanan Asuhan Keluarga Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Seubam Cot
Khairati Nisan;
Wirza
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di masyarakat meskipun telah banyak dilakukan program promotif dan preventif, salah satunya karena rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan gigi dalam pelayanan asuhan keluarga terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Desa Seubam Cot, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group pre-test and post-test yang melibatkan 60 responden dari 20 kepala keluarga penerima pelayanan asuhan keluarga. Kelompok intervensi diberikan edukasi menggunakan media flipchart, sedangkan kelompok kontrol hanya mendapatkan ceramah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner wawancara sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Ranks. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut setelah diberikan edukasi menggunakan media flipchart dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), serta selisih keberhasilan antara kelompok intervensi dan kontrol sebesar 50%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan gigi menggunakan media flipchart dalam pelayanan asuhan keluarga efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut masyarakat, sehingga pendekatan ini perlu diterapkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat.
Hubungan Kecemasan Anak Dengan Tindakan Pencabutan Gigi Di Pukesmas Darul Imarah Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar
Annuru Ulaiya;
Nasri
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kecemasan merupakan salah satu hambatan utama yang memengaruhi keberhasilan tindakan pencabutan gigi pada anak, di mana kecemasan yang tinggi seringkali membuat anak kurang kooperatif selama prosedur berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan anak dengan keberhasilan tindakan pencabutan gigi di Puskesmas Darul Imarah. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 30 anak berusia 6–12 tahun yang menjalani prosedur pencabutan gigi, dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen Facial Image Scale (FIS), sementara hasil pencabutan gigi dikategorikan menjadi berhasil atau tidak berhasil. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan anak dan keberhasilan pencabutan gigi dengan nilai p = 0,001. Anak dengan kecemasan ringan lebih kooperatif dan cenderung berhasil menjalani pencabutan gigi, sedangkan anak dengan kecemasan berat cenderung tidak kooperatif sehingga prosedur sering gagal. Temuan ini menegaskan pentingnya penanganan kecemasan anak melalui pendekatan psikologis oleh tenaga kesehatan serta dukungan aktif dari orang tua sebagai strategi untuk meningkatkan keberhasilan pencabutan gigi pada layanan kesehatan primer.
Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Status Karies Gigi Anak Di SD Negeri 2 Seneulop Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya
Irmayana Safitri;
Niakurniawati
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masalah karies gigi pada anak usia sekolah masih menjadi perhatian penting, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses dan edukasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik orang tua, meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan status ekonomi, dengan status karies gigi anak di SD Negeri 2 Seneulop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan populasi seluruh siswa SDN 2 Seneulop sebanyak 168 anak beserta orang tua, dan sampel sebanyak 62 anak beserta orang tua yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner untuk karakteristik orang tua serta pemeriksaan klinis status karies gigi pada anak, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua berusia 31–44 tahun dengan status karies anak sedang, didominasi orang tua perempuan, lulusan SMA/Sederajat, berstatus ekonomi rendah, dan berprofesi sebagai wiraswasta, sedangkan status karies anak paling banyak berada pada kategori sedang. Analisis statistik mengungkapkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara usia (p=0,178) dan jenis kelamin orang tua (p=0,168) dengan status karies gigi anak, namun terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,000), status ekonomi (p=0,005), dan pekerjaan orang tua (p=0,000) dengan status karies gigi anak. Penelitian ini menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam membimbing anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Hubungan Faktor Enabling Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Pasien Yang Berkunjung Di Poli Gigi Puskesmas Darul Kamal
Nabila Zharifah;
Andriani
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i95
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat, namun pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi di Poli Gigi Puskesmas Darul Kamal masih rendah, ditandai dengan penurunan kunjungan dari 891 pada tahun 2023 menjadi 743 pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor enabling, yaitu sarana-prasarana dan akses layanan, dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain analitik cross-sectional dengan 53 responden yang dipilih melalui accidental sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan sarana-prasarana dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi (p = 0,000), serta antara kemudahan akses layanan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi (p = 0,000), yang membuktikan bahwa fasilitas yang memadai dan akses layanan yang baik berkontribusi pada peningkatan kunjungan masyarakat ke poli gigi. Kesimpulannya, faktor enabling secara signifikan memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, sehingga peningkatan kualitas sarana-prasarana serta kemudahan akses layanan perlu menjadi fokus kebijakan puskesmas, sementara masyarakat disarankan untuk melakukan kunjungan rutin minimal dua kali setahun guna menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Collaborative Governance in Tourism Sector Development (A Comparative Study in Jayapura City and Selayar Islands Regency)
Agustinus Fatem;
Yosephina Ohoiwutun;
Ilham;
Febi Lisa Koridama
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i84
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aims to analyze and compare the application of Collaborative Governance in the development of the tourism sector in Jayapura City and Selayar Islands Regency. Both regions represent island characteristics with complex governance challenges, such as infrastructure limitations, diversity of actors, and environmental vulnerability. This study employs a library research approach using a descriptive-comparative method based on qualitative analysis. Data were obtained from various secondary sources, such as journal articles, policy documents, scientific proceedings, and official government websites. The analytical framework is based on the theory of Collaborative Governance, which is broken down into twelve indicators of collaborative governance. The results of the analysis show that Jayapura City excels in the involvement of indigenous communities, village deliberation mechanisms, and community-based leadership, despite facing challenges in cross-sector coordination and participatory evaluation. In contrast, Selayar Islands Regency excels in formal institutional aspects, regulatory strengthening, and the role of local actors such as Pokdarwis (tourism awareness group), but is still top-down in its collaboration process. This study concludes that the effectiveness of Collaborative Governance is determined by the suitability of the approach to the local social and institutional context. Strategic recommendations include strengthening collaborative forums, participatory evaluation, and integrating cultural values into tourism policy design.