cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 156 Documents
Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Mentimun (Cucumis Sativus L.) Terhadap Larva Artemia Salina Leach Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Khairin Akbar Putra; Indah Purwaningsih; Kuswiyanto Kuswiyanto
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i2.334

Abstract

Abstract: Cucumber (Cucumis sativus L) is a plant that is widely consumed by the people. Beside due the delicious taste of it, cucumbers also contain some compounds that can be used as a drug, one of them is to prevent cancer. This plant contains Flavonoid, Saponin, and Tanin. These three compounds are the compounds which is in certain levels can be cytotoxic. Acute toxicity is an early screening test for a specifc cytotoxic potential crop for the development of anti-cancer drugs. The purpose of this research is to know the acute toxicity of cucumber (Cucumis sativus L) methanol extract to the Artemia salina Leach larvae by Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. This research method was an experimental by using BSLT method. The test animal used was the Artemia salina Leach larvae. The method of extraction was maseration method. The results of the study can be seen from the percentage of larvae mortality for each concentration of extract, those are 0 μg / ml, 250 μg / ml, 500 μg / ml, 750 μg / ml, 1000 μg / ml are 0%, 48%, 62 %, 72%, 84% and 92%. Based on the result of probit analysis with microsoft Excel showed that LC50 value of cucumber methanol extract is 201,0165 μg /ml which means this extract have potency of acute toxicity because LC50 value <1000 μg / ml.Abstrak: Mentimun (Cucumis sativus L) adalah tanaman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Selain rasanya yang enak, mentimun juga memiliki kandungan senyawa yang dapat bermanfaat sebagai obat, salah satunya adalah untuk mencegah terjadinya kanker. Tanaman ini mengandung Flavonoid, Saponin, dan Tanin. Ketiga senyawa ini merupakan senyawa yang dengan kadar tertentu dapat bersifat sitotoksik. Toksisitas akut merupakan skrining awal untuk menguji suatu tanaman tertentu yang memiliki potensi sitotoksik untuk pengembangan obat anti kanker. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toksisitas akut dari ekstrak metanol mentimun (Cucumis sativus L) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Metode penelitian ini berbentuk eksperimental dengan menggunakan metode BSLT. Hewan uji yang digunakan adalah larva Artemia salina Leach. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi. Hasil penelitian dapat dilihat dari persentase kematian larva untuk setiap konsentrasi ekstrak, yaitu 0 µg/ml, 250 µg/ml, 500 µg/ml, 750 µg/ml, 1000 µg/ml secara berturut-turut adalah 0%, 48%, 62%, 72%, 84% dan 92%. Berdasarkan hasil analisis probit dengan microsoft Excel menunjukkan nilai LC50 ekstrak metanol mentimun adalah 201, 0165 µg/ml yang berarti ekstrak ini memiliki potensi toksisitas akut karena nilai LC50 < 1000 µg/ml.
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Leukosit Pada Sedimen Urin Yang Disentrifugasi Lima Menit Dengan Variasi Waktu Tiga Menit, Tujuh Menit Dan Sepuluh Menit arfaizah, hesti
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2022): November 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v6i1.1048

Abstract

AbstractVariations in centrifugation time have an affect on the results of urine sediment examination. Urine sediment checks are listed in regular or routine inspections. Sediment examination is very good using morning urine because it is more concentrated and the material has not been damaged or lysis. The purpose of this study was to determine the comparison of the results of the examination of urinary leukocyte sediments that were centrifuged five minute with time variations of three minutes, seven minutes and ten minutes. The research was conducted at the Clinical Pathology Laboratory of the Faculty of Health Sciences and Technology, Binawan University. The material used morning urine. The study sample was given a 2x 60 ml urine container consisting of 2 adolescents and 4 elderly people who were willing to be respondents for urine sediment examination. The result of leukocyte analysis data are known that the average number of leukocyte cells at a time of 5 minutes is 13.14 leukocyte cells / LPB, a centrifugation time of 3 minutes is known to average 9.06 leukocyte /LPB, a centrifugation time of 7 minutes the average leukocyte cell is increasing to 17.33 leukocyte cells / LPB. The results of the urinary sediment leukocytes of the Paired T-Test can be concluded that there are significant differences in the examination of urinary leukocyte sediments with variations in centrifugation time of 3 minutes, 7 minutes and 10 minutes compared to the control time 0f 5 minutes. Keywords: Leukocytes Sediments; Time Centrifuges.
Verifikasi Metode Analisa Albumin Dengan Metode Bromcressol Green Kamilla, Laila; Ramadhanty, Khairida; Purwaningsih, Indah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v3i2.935

Abstract

Verifikasi metode adalah konfirmasi ulang dengan cara menguji suatu metode dengan melengkapi bukti-bukti obyektif, dilakukan untuk menguji kinerja metode standar. Verifikasi metode bertujuan untuk membuktikan bahwa laboratorium mampu melakukan pengujian dengan hasil yang valid. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan penilaian terhadap verifikasi metode analisis albumin dengan metode Bromeressol Green. Metode penelitian ini merupakan sebuah kajian literatur. Kata kunci yang digunakan untuk melakukan pencarian literatur meliputi verifikasi, verification, metode, methods, analytical, analisis, albumin, validasi. Database yang digunakan yaitu PubMed, Elsevier, dan Google Schoolar. Dari seluruh jurnal yang teridentifikasi, 19 jurnal yang dikaji. Hasil penelitian ini mengidentifikasi lima tema yaitu linearitas, akurasi, presisi, LOD (limit of detection) dan LOQ (limit of quantification). Dapat disimpulkan, bahwa dari hasil rentang keseluruhan parameter uji, untuk semua parameter uji telah melakukan verifikasi metode analisis dengan menunjukkan hasil yang sesuai dengan syarat keberterimaan, tetapi pada masing-masing jurnal mendapatkan syarat keberterimaan yang berbeda-beda dari sumber yang berbeda juga.
Gambaran Protein Urin Dan Glukosa Urin Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Persadia RSU Santo Antonius Pontianak Etiek Nurhayati; Indah Purwaningsih
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.145

Abstract

Abstract: Diabetic mellitus  is a metabolic disease, with type I and II. Diabetic mellitus is chronic and  caused many organs complication. Diabetic nephrophathy is one of the manifestation of kidney complicattion that can caused the end stage of renal disease, and would need dyalisys therapy. The simple laboratory examination are urinay glucose test and protein urin test.The aim of this study  to determine the purpose  proteinuria and glucose urine of diabetic mellitus patient in Persadia of RSU St. Antonius. This  is a cross sectional study, with purposive sampling.  The proteinuria test and urine glucose by strip rapid test. This study was on Mei-November 2016. The 40 diabetic mellitus patient had participated. This study found 8  (20%) urin samples were protein urine positive  1, and  32 were negative. Urine glucose examination results 31 people negative, positive 1 in 5 people and positive 4 on 4 people. In type II DM patients found proteinuria and glucose in the urine, so patients with positive proteinuria should check again in 3-6 months to monitor kidney functionAbstrak: Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik, yang terdiri atas tipe I dan II. Penyakit DM adalah penyakit kronik dengan banyak komplikasi. Komplikasi pada ginjal berupa nefropati diabetik merupakan salah satu penyebab end stage of renal disease, dan memerlukan terapi dialysis. Pemeriksaan yang sederhana dan cukup efektif untuk mengetahui fungsi ginjal adalah pemeriksaan glukosa urin dan protein urin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran protein urin dan glukosa urin pada penderita DM tipe II di Persadia RSU St.Antonius Pontianak. Penelitian ini adalah cross sectional dan sampel diambil secara purposive sampling dari anggota Persadia yang hadir dan bersedia berpartisipasi. Pemeriksaan protein urin dan glukosa urin menggunakan carik celup. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-November 2016. Hasil penelitian pada 40 sampel urin penderita DM tipe II anggota Persadia terdapat 8 orang (20%) dengan hasil protein urin positif  1, sedangkan 32 orang lainnya negatif. Hasil pemeriksaan glukosa urin 31 orang negatif, positif 1 pada 5 orang dan positif 4 pada 4 orang. Pada penderita DM tipe II ditemukan proteinuria dan glukosa dalam urin, sehingga penderita dengan proteinuria positip harus periksa ulang dalam 3-6 bulan untuk memantau fungsi ginjalnya.
Kualitas Hasil Uji Limbah Pool-Plasma Komponen Packed Red-Blood Cell (PRC) Sebagai Antisera Golongan Darah ABO Wahdaniah, Wahdaniah; Margini, Fitria; Sabolakna, Asep
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v5i2.975

Abstract

PRC is the most needed component for current blood transfusion. Plasma is one of the separation product of PRC from whole blood. These components are often discarded due to low plasma transfusion requirements. The residual plasma contains natural ABO agglutinins that can be utilized as polyclonal antisera in blood grouping tests. This study aims to determine the quality of pool residual plasma of PRC component as the ABO blood grouping antisera. This research uses descriptive analytic design in the form of comparative study. Samples of the test materials and the testers were obtained by purposive sampling, which consisting of each 20 units of A, B and O (positive control) plasma, and also 2 units of AB plasma (negative control) as the test materials, and each 25 of A and B fresh blood specimens as the tester materials. All of those materials should meet the inclusion and exclusion criteria of this study. According to their blood type, each of the plasma were mixed proportionaly according to its weight. Then, each pool-plasma and the commercial antisera were tested together against the same fresh blood specimens by the slide method. The degree of each agglutination was observed by 2 panelists, and then analyzed statistically by Wilcoxon Signed Rank Test with error rate (α) = 5%. The degree of agglutination by using the B pool-plasma against the A fresh blood was obtained in proportions of 8.0% (2+), 38.0% (3+) and 54.0% (4+) with the difference in proportion of 34.0% (3+) higher and 42.0% (4+) lower than anti-A commercial antisera. Meanwhile, by using the A pool-plasma against the B fresh blood was obtained in proportion of 18,0% (3+) and 82,0% (4+) with difference in proportion of 18,0% (3+) higher and 18,0% (4+) lower than anti-B commercial antisera. There are significant differences between the commercial antisera and the pool residual plasma as blood grouping test materials based on observation of all panelists (p value = 0.000).
PENGARUH EKSTRAK METANOL DAUN BROTOWALI DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH METODE IN VIVO mawaddah, mutia putri; Kamilla, Laila; Syari, Jajar
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2019): November 2019
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v3i1.923

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat menurunkan kadar glukosa darah adalah brotowali. Bagian daun dari brotowali biasa digunakan sebagai obat herbal sebagai pencahar, obat luka dan antidiabetes. Kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin pada tanaman ini dikenal memiliki aktivitas antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh ekstrak metanol daun brotowali dalam menurunkan kadar glukosa darah metode in vivo. Desain penelitian yang digunakan adalah True experiment. Populasi dalam penelitian ini adalah mencit (Mus musculus) jantan galur Swiss Webster. Sampel yang digunakan adalah 20 ekor mencit jantan yang dipilih sesuai dengan kriteria kemudian dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan. Dimana kelompok perlakuan terdiri dari kelompok kontrol positif, dosis 40,25 mg/kgBB, dosis 80,5 mg/kgBB dan dosis 161 mg/kgBB yang masing-masing dilakukan 5 kali pengulangan dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Metode yang digunakan adalah tes toleransi glukosa oral (TTGO). Berdasarkan hasil analisis statistik uji Regresi Linear Sederhana untuk dosis 40,25 mg/kgBB, dosis 80,5 mg/kgBB dan dosis 161 mg/kgBB didapatkan p value <a 0,05 maka Ho ditolak dan H₁ diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara ekstrak metanol daun brotowali dalam menurunkan kadar glukosa darah metode in vivo.
Efektivitas Air Perasan Daun Lidah Buaya (Aloe Vera) Terhadap Pertumbuhan Jamur Trichophyton Rubrum Dengan Metode Dillution Test Supriyanto Supriyanto; Kuswiyanto Kuswiyanto; Etiek Nurhayati
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.155

Abstract

Abstract: This research goals to identify the effect of inhibitory potency in Aloe vera  to fungi colonies Trichophyton rubrum and Candida albicans growth. Samples was scraped Aloe vera leaves which formed into jelly, that considered as 100% concentration (v/v), jelly was made into different concentrations, e.g 10%, 15%,20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60% v/v. Furthermore, it observed by the difference between those concentrations in inhibiting fungi colonies growth )Trichophyton rubrum and Candida albicans). Method used in this study was Dillution Test for identifying fungi colonies growth )Trichophyton rubrum and Candida albicans). The results reported in percentage of inhibited fungi colonies. In addition, it examined then by using Anova Test to make sure whether there was a difference or not between various concentration in inhibiting fungi colonies beefing up. Based on study, it is known that Aloe vera jelly was able to constrain fungi (Trichophyton rubrum and Candida albicans) improvement, but it could not capable to kill those fungi perfectly. Statistically, it can be seen that Aloe vera jelly was quite able to inhibit the growth of fungi colonies (Trichophyton rubrum  and Candida albican) with significance value P = 0,997 (P > 0,05).Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya hambat jeli lidah buaya (Aloe vera) terhadap pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Sampel berasal dari daging daun lidah buaya yang dikerok berupa jeli, yang konsentrasinya dianggap 100%(v/v), jeli dibuat variasi konsentrasi yaitu 10%, 15%,20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60% v/v). Kemudian dilihat perbedaan antara konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Metode pada penelitian ini menggunakan Dillution Test terhadap pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Hasil penelitian berupa persentase jumlah koloni jamur yang dihambat. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji anava untuk mengetahui perbedaan antara konsentrasi perlakuan dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur. Berdasarkan dari penelitian dapat diketahui bahwa jeli lidah buaya mampu menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans tetapi tidak sampai membunuh dengan sempurna. Namun secara stastisik jeli lidah buaya dapat menghambat pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum  dan Candida albican dengan nilai signifikansi P = 0,997 (P > 0,05).
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Presisi dan Akurasi Pemipetan Menggunakan Mikropipet Metode Forward Hendra Budi Sungkawa; Inten Ayu Kusuma
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2018): November 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i1.318

Abstract

Abstract : Pipetting is one of the most important activities in health laboratory analysis. Knowledge of pipetting must be owned by every health laboratory. Students of health analyst as a candidate of health laboratory who will become medical support service unit is expected to be able to do the pipetting precision and accurately. To get a thorough and accurate results then the results of the analysis must be located within a specifc control area and both in precision and accuracy. Precision and accuracy are responsible for analytical interpretation of test results and testing procedures. The method use in this research is the forward method by 61 people research samples which determined by simple random sampling. While the research design used was observational analytics. Based on the results of the research obtained the level of knowledge of respondents research is 71,38; precision pipetting 99,69% and accuracy pipetting 99,58%. From the data that has been obtained then analyzed statistically using tau kendau test. The result indicates that the level of knowledge and precision has a p=0,640 and correlation coeffcient of -0,044 so that the Ho is accepted, meaning there is no relationship between the level of knowledge and precision meaningful. Meanwhile, the level of knowledge and accuracy of the p=0,574 and correlation coeffcient value is -0,053 so that Ho is accepted, it means there is no relationship between the level of knowledge with accuracy. Abstrak: Pemipetan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam analisa laboratorium kesehatan. Pengetahuan pemipetan harus dimiliki oleh setiap tenaga laboratorium kesehatan. Mahasiswa analis kesehatan sebagai calon tenaga laboratorium kesehatan yang akan menjadi unit pelayanan penunjang medis diharapkan mampu melakukan pemipetan dengan teliti dan akurat. Untuk mendapatkan hasil yang teliti dan akurat maka hasil analisa harus terletak di dalam daerah kontrol tertentu dan baik dalam presisi maupun akurasi. Presisi dan akurasi bertanggung jawab terhadap interpretasi analitik hasil pengujian serta prosedur pengujian. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode forward oleh sampel penelitian sebanyak 61 orang yang ditentukan secara simple random sampling. Sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik. Berdasarkan dari hasil penelitian diperoleh nilai tingkat pengetahuan responden penelitian adalah 71,38; presisi pemipetan 99,69% dan akurasi pemipetannya 99,58%. Dari data yang telah didapatkan kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji kendal tau. Untuk tingkat pengetahuan dengan presisi didapatkan hasil nilai p=0,640 dan koefsien korelasi -0,044 sehingga Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan presisi. Untuk tingkat pengetahuan dengan akurasi nilai p=0,574 dan koefsien korelasi adalah -0,053 sehingga Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan akurasi.
Perbedaan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial Linda Triana; Maulidiyah Salim
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.97

Abstract

Abstract: One of the simple carbohydrates is glucose that acts as the main energy producer. The function of the body will be felicitous when blood glucose levels are within normal limits. Glucose removal levels are considered normal if glucose levels return to normal within 2 hours after it rises in the first hour. If the blood glucose level within 2 hours after given fed is abnormal, it can be done by Oral Glucose Tolerance Test to get additional information about the presence of carbohydrate metabolism disorders. This study was aimed to determine the difference of blood glucose levels within 2 hours postprandial between samples who given fed with loads of 75 grams glucose. The type of research used in this research was analytic observational with comparative study approach. Samples obtained 33 samples with treatment 4 times in each sample. The method used in this research was an enzymatic method. The results of this study showed the average blood glucose level within 2 hours postprandial which given fed with loads was 10.10% while the average measurement of blood glucose level within 2 hours postprandial loaded with 75 grams glucose was 7.61%. T-test obtained t value of 1.092 with a significant level at p = 0.284 (p> 0.05) so the conclusion there was no difference of blood glucose level within 2 hours postprandial between who given fed with loads of 75-gram glucose.Abstrak: Salah satu karbohidrat sederhana adalah glukosa yang berperan sebagai penghasil energi utama. Fungsi dari tubuh akan menjadi sangat baik apabila kadar glukosa darah berada pada batas yang normal. Kadar pembuangan glukosa dianggap normal jika kadar glukosa kembali normal dalam waktu 2 jam setelah kenaikan pada 1 jam pertama. Apabila kadar glukosa darah dalam waktu 2 jam setelah makan abnormal, maka dapat dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral untuk mendapatkan keterangan tambahan tentang adanya gangguan metabolisme karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan comparative study. Sampel didapatkan 33 sampel dengan perlakuan 4 kali pada setiap sampelnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode enzimatik. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban makanan yaitu 10,10% sedangkan hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban glukosa 75 gram yaitu 7,61%. Uji T-test didapatkan nilai t hitung sebesar 1,092 dengan tingkat signifkan pada p = 0,284 (p>0,05) sehingga Ha ditolak dengan kesimpulan tidak ada perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram.
Perbedaan Kadar Protein Daging Sapi Dengan Perendaman Sari Buah Nanas (Ananas Comocus I.) Dan Sari Jahe (Zingiber Officinale Rose.) Metode Kjeldahl Sungkawa, Hendra Budi; Nurhayati, Widya; Djohan, Herlinda
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2021): November 2021
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v5i1.946

Abstract

Protein merupakan asam amino rantai panjang yang diperlukan untuk memelihara jaringan, pertumbuhan dan sebagai sumber energi. Protein terdiri dari protein hewani dan nabati. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menaikkan pola konsumsi protein hewani, dapat menggunakan suatu enzim yaitu protease. Protease adalah salah satu enzim yang dapat digunakan untuk meningkatkan kadar protein pada bahan makanan. Nanas merupakan tanaman yang mengandung enzim protease yaitu enzim bromelin. Selain pada tanaman, enzim protease juga dimiliki oleh rempah-rempah, yaitu jahe yang dinamakan dengan enzim zingibain. Nanas dan jahe tersebut diolah menjadi sari, yang kemudian sari buah nanas dan sari jahe yang telah dibuat, direndam ke dalam bahan makanan selama waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan kadar protein pada daging sapi dengan perendaman sari buah nanas (Ananas comocus 1.) dan sari jahe (Zingiber officinale Rosc. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah daging sapi, dengan sampel daging sapi sebelum perendaman dan direndam sari buah nanas dan sari jahe sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml dan lama perendaman 30 menit. Jumlah sampel yang digunakan adalah 28 sampel, dengan 7 perlakuan dan replikasi sebanyak 4 kali. Kriteria sampel yang digunakan adalah daging sapi yang di peroleh dari 4 tempat berbeda, buah nanas golongan queen yang segar dan masak, rimpang jahe putih kecil yang segar. Pengukuran sampel dilakukan dengan menggunakan metode kjeldahl. Hasil pengukuran diperoleh nilai rata-rata kadar protein sebelum perendaman dan sesudah perendaman sari buah nanas sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml secara berturut-turut adalah 22,35%, 22,76%, 21,38 %, 20,86%. Hasil pengukuran nilai rata-rata kadar protein sebelum perendaman dan sesudah perendaman sari jahe sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml secara berturut-turut adalah 22,35%, 20,80%, 21,82%, 20,16%. Berdasarkan uji T independent menggunakan program SPSS 26 diperoleh hasil signifikansi 0,438 > 0,05, yang menyatakan bahwa Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar protein daging sapi dengan perendaman sari buah nanas (Ananas comocus 1.) dan sari jahe (Zingiber officinale Rosc). 

Page 7 of 16 | Total Record : 156