cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 156 Documents
Pengaruh Sari Buah Pepaya Muda (Carica Papaya L) Terhadap Kadar Protein Tempe Gembus Djohan, Herlinda; Triana, Linda; Wulandari, Rizky Astri
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v3i2.934

Abstract

Ampas tahu merupakan hasil sampingan industri tahu yang dapat dimanfaatkan sebagai produk makanan yaitu tempe gembus. Namun tempe gembus yang dihasilkan mengandung kadar protein yang rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar protein dengan perlakuan penambahan sari buah pepaya muda (Carica papaya L) karena mengandung enzim papain yang dapat menghidrolisis protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sari buah pepaya muda (Carica papaya L) terhadap kadar protein tempe gembus. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Kriteria sampel tempe gembus yang digunakan adalah tidak hancur dan diselimuti kapang berwarna putih. Pengukuran sampel dilakukan dengan menggunakan metode Kjeldahl. Data diolah dengan analisis regresi linear sederhana menggunakan program SPSS 25 diperoleh hasilsignifikasi 0,000 > 0,05 yang menyatakan bahwa Ha diterima, ada pengaruh sari buah pepaya muda (Carica papaya L) terhadap kadar protein tempe gembus. Hasil pengukuran diperoleh nilai rata-rata kadar protein tempe gembus tanpa penambahan sari buah pepaya muda (Carica papaya L) dan tempe gembus yang ditambahkan sari buah pepaya muda (Carica papaya L) konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60% secara berturut-turut adalah 7,235%, 8,812%, 9,433%, 10,304%, 11,451%. Kadar protein tempe gembus diperoleh hasil terbaik pada konsentrasi 60%.
Perbedaan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Yang Mengalami Pemanasan Ulang Dengan Penambahan Bawang Merah (Allium Cepa) Dan Bawang Putih (Allium Sativum) Gervacia Jenny Ratnawati; Hendra Budi Sungkawa
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.146

Abstract

Abstract: Cooking oil generally can be used for 3-4 times frying. If it used repeatedly, oil will be changed in color. When frying process, double bonds in unsaturated fatty acids will break and formed saturated fatty acids. A qualified oil was contained unsaturated fatty acid more than its saturated fatty acids. The use of oil many times will lead the oil double bond oxidized and form the peroxide group and cyclic monomer, such oil reported damage and harm our health. A higher temperature and a longer time of heating, saturated fatty acids level will be increased. Beside repeatedly frying, oil can be damaged by wrong storage for certain period, consequently triglyceride bond broke and form into glycerol and free fatty acids (FFA). Red onion and garlic contain high antioxidant. The benefits that make them become phenomenal in medical research is their potency in against cancer and other dangerous diseases. They also can be used as crucial antioxidant sources in the fight against free radicals in body. Based on study results showed that the average of free fatty acids (FFA) in used cooking oil that added by garlic was 5,29% and red onion was 5,22%. Statistical test gained by computerized data processing with t-test p value>0,05 so it can be concluded that Ha refused by meaning that there was not a difference between number of FFA in used cooking oil which added garlic and red onion. Abstrak: Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak tak jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh. Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya.  Penggunaan minyak berkali-kali akan membuat ikatan rangkap minyak teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, minyak yang seperti ini dikatakan telah rusak dan berbahaya bagi kesehatan.  Suhu yang semakin tinggi dan semakin lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin naik. Selain karena penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan  trigliserida pecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Bawang merah dan bawang putih sangat tinggi akan kandungan antioksidannya. Manfaat bawang merah dan bawang putih yang membuatnya fenomenal di dunia medis adalah kemampuannya dalam memerangi kanker dan berbagai penyakit berbahaya. Ia juga dapat dijadikan sumber antioksidan yang sangat ampuh untuk memerangi radikal bebas di dalam tubuh. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata kadar asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih sebesar 5,29% dan bawang merah sebesar 5,22%. Hasil uji statistic diperoleh pengolahan data secara komputerisasi melalui uji-t  diperoleh nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak yang artinya tidak terdapat perbedaan kadar bilangan asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih dan bawang merah.
Gambaran Berat Jenis Urin Dan Kadar Protein Urin Pada Ibu Hamil Di Upk Puskesmas Kampung Dalam Pontianak Timur Musaidah, Siti; Nurhayati, Etiek; Slamet, Slamet; Salim, Maulidyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v5i2.974

Abstract

Laboratory examinations are carried out to determine diseases that can affect pregnancy, one of the tests carried out is routine urine. The presence of the hormone HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) in the urine can be used for a pregnancy test. Kidney function, can be known through a protein test in the urine, the presence of protein in the urine leads to pre-eclampsia in pregnant women. High urine specific gravity can be caused by lack of fluid consumption, the presence of sugar in the urine, and protein in the urine (usually in people with kidney disorders) or certain medications. This study aims to describe the description of urine specific gravity and urine protein levels in pregnant women in the UPK Puskesmas Kampung Dalam, Pontianak Timur. This is a descriptive survey research using the accidental sampling technique. Measurements and observations of research variables were measurements of urine specific gravity and urine protein content which were carried out at the UPK Laboratory of the Kampung Dalam Puskesmas, Pontianak Timur. The sample used is a urine sample when pregnant women who meet predetermined criteria, the examination is carried out using a Urine Analyzer. Respondents of this study found 30 people. The results of 30 respondents pregnant women measuring urine specific gravity whose normal limit is 1,005-1,030 obtained urine specific gravity of 1,010 as many as 6 respondents (20%), 1,015 as many as 9 respondents (30%), 1,020 as many as 2 respondents (6,7% ). 1,025 as many as 6 respondents (20%), and 1,030 as many as 7 respondents (23.3%). While the results of the measurement of urine protein levels were positive 1 as many as 4 respondents (13.3%), positive 2 as many as 1 respondent (3.4%), and Negative as many as 25 respondents with a percentage (83.3%).
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L.) terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans dengan Metode Dilusi Eka Aprilianti Aprilianti; Maulidiyah Salim; Sri Tumpuk
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i2.329

Abstract

Abstract:  The lesser galangar rhizome is the root of stay that is branched off and attached to root tuber. Rhizome lesser galangar partly located on the ground. The active ingredient in rhizome lesser galangar are flavonoids are used as an antifungi and can cure diseases by the fungus Candida albicans. The purpose of this research is to know the effect of lesser galangar rhizome extract concentration (Kaempferia galanga L.) to the growth of Candida albicans fungus with dilution method. The research method is experimental. The sample used is the concentration of kencur rhizome extract consisting of 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%. Result of research from 10 concentrations of lesser galangar rhizome with dilution method can know the lowest of bacteria colonies that is concentration 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10% that is 0 colony with 100% percentage while number of colony The highest bacteria is 1% concentration of 85 colonies with the percentage of 20.56%. At 4% concentration is the effective concentration of rhizome extract lesser galangar, because it can be a minimum concentration that provides a very strong inhibition of growth. Spearman’s analysis, obtained value  (p = 0,00 <0,05) then Ha accepted, mean there is influence of rhizome extract concentration (Kaempferia galanga L.) to growth of Candida albicans fungi. Abstrak: Rimpang kencur merupakan akar tinggal yang bercabang halus dan menempel pada umbi akar. Rimpang kencur sebagian lagi terletak di atas tanah. Zat aktif dalam rimpang kencur yaiu flavonoid yang digunakan sebagai anti jamur dan dapat menyembuhkan penyakit oleh jamur Candida albicans. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode dilusi. Metode penelitian berbentuk eksperimental semu. Sampel yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak rimpang kencur yang terdiri dari 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%. Hasil penelitian dari 10 konsentrasi rimpang kencur dengan metode dilusi dapat diketahui jumlah koloni bakteri yang terendah yaitu konsentrasi 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10% yaitu sebesar 0 koloni dengan persentase 100% sedangkan jumlah koloni bakteri tertinggi yaitu konsentrasi 1% sebesar 85 koloni dengan persentase 20,56%. Pada konsentrasi 4% merupakan konsentrasi efektif ekstrak rimpang kencur, karena dapat merupakan konsentrasi minimum yang memberikan daya hambat pertumbuhan yang sangat kuat. Analisis Spearman’s, didapatkan nilai (p = 0,00 < 0,05) maka Ha diterima, berarti terdapat pengaruh kon
Daya Hambat Konsentrasi Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi Dengan Metode Difusi Sugito Sugito; Slamet Slamet
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.154

Abstract

Abstract: Earthworms (Lumricus rubellus) is included in avertebrates animal (invertebrates) so they usually called soft animal. Earthworms (Lumricus rubellus) have lumbrokinases, peroksidase, catalase, cellulose and arhidonic acid which have capacity for reducing fever due to bacteria infection. Study objective was to identify potential concentration of earthworms stew water against Salmonella typhi advancement by using diffusion method. This study used laboratory experimental design with purposive sampling method, a determining sampling by selecting a sample within population based on desired research. This study resulted from 3 treatments with 30 measured total samples obtained minimum concentration was 20% which had 8 mm diameter of inhibitory zone, meanwhile 100% was the maximum concentration with 21 mm as diameter of inhibitory zone. According to statistical test, One Way ANova, gained value (p = 0,00 < 0,05) so H0 refused and Ha accepted, meaning that there was different inhibitory potency in each earthworms stew water in order to constrain Salmonella thypi growth with diffusion method applied. Conclusion from this study was the higher concentration of earthworms stew water, the higher inhibitory zone formed around paper disk.Abstrak: Cacing tanah (Lumricus rubellus) adalah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang) sehingga sering disebut binatang lunak. Cacing tanah (Lumricus rubellus) mengandung enzim lumbrokinase, peroksidase, katalase, dan selulosa. serta asam arhidonat yang mempunyai kemampuan menurunkan panas badan (deman) yang disebabkan infeksibakteri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui daya konsentrasi air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Dengan metode difusi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium, dengan metode pengambilan sampel purposive sampling, yaitu suatu penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki penelitian. Hasil penelitian dari 3 perlakuan dengan 30 sampel dapat diketahui konsentrasi minimum 20% dengan diameter zona hambat 8 mm sedangkan konsentrasi maksimun 100% dengan diameter zona hambat 21 mm. Berdasarkan uji statistik menggunakanAnova One Wey diperoleh nilai (p = 0,00 < 0,05) maka HO ditolak dan Ha diterima, berarti terdapat perbedaan daya hambat air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan metode difusi. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu semakin tinggi konsentrasi air ribusan cacing tanah, maka semakin besar zona hambat yang terbentuk disekitar paper disk cakram.
Pengaruh Air Rebusan Rimpang Jeringau Merah (Acorus Calamus L.) Konsentrasi 100%, 75%, 50%, Dan 25% terhadap Sensitifitas Bakteri Escherichia Coli, Salmonella Typhi dan Shigella sp Edy Suwandi
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i2.327

Abstract

Abstract: Red Jeringau (Acorus calamus L.) is one of the endemic plants of West Kalimantan which contains antibacterial, phytochemical, and antioxidant activity. This plant has been used for generations by people who live in the interior and away from health services as a mixture of traditional medicines. This study aims to determine the effect of the concentration of Jeringau Red rhizome water on the sensitivity of Escherichia coli, Salmonella typhi and Shigella sp with concentrations of 100%, 75%, 50%, and 25%. The Red Jeringau Rhizome is obtained from the Landak Regency and then boiled using distilled water. This study uses a quasi-experimental design with sampling techniques using purposive sampling. This study was conducted with 6 replications for each treatment. The effectiveness test of the Red Jeringau rhizome boiled water was carried out using the Kirby Bauer method with bacterial suspension which was adjusted to Mc Farland’s turbidity standard. The data obtained were then analyzed using a simple linear regression test and obtained p (0.00) <α (0.05) against the bacteria Escherichia coli, Salmonella typhi, and Shigella sp. This means that H1 is accepted so that it can be stated that there is an influence of the concentration of Jeringau Red rhizome water on Escherichia coli, Salmonella typhi, and Shigella sp. The magnitude of the contribution effect of Jeringau Red rhizome on bacterial sensitivity is 85.7% (R = 0.857) in Escherichia coli, 91.1% (R = 0.911) in Salmonella typhi, and 85.7% (R = 0.857) in Shigella sp.Abstrak Jeringau Merah (Acorus calamus L.) merupakan salah satu tanaman endemik Kalimantan Barat yang mengandung antibakteri, ftokimia, dan aktivitas antioksidan. Tumbuhan ini secara turun temurun dimanfaatkan masyarakat yang tinggal dipedalaman dan jauh dari pelayanan kesehatan sebagai ramuan obat tradisional.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi air rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap sensitiftas bakteri Escherichia coli, Salmonella typi dan Shigella sp dengan konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Rimpang Jeringau Merah diperoleh dari Kabupaten Landak kemudian direbus menggunakan aquadest. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan teknik pengmbilan sampel dengan cara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan 6 replikasi untuk masing-masing perlakuan. Uji efektiftas air rebusan rimpang Jeringau Merah dilakukan menggunakan metode Kirby Bauer dengan suspensi bakteri yang disesuaikan dengan standar kekeruhan Mc Farland. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana dan didapatkan p (0,00) < α (0,05) terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella sp. Hal ini berarti H1 diterima sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi air rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella sp. Besarnya kontribusi pengaruh rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap sensitiftas bakteri yaitu 85,7% (R=0,857) pada Escherichia coli, 91,1% (R=0,911) pada Salmonella typhi, dan 85,7% (R=0,857) pada Shigella sp.
Personal Hygiene terhadap Infeksi Pityriasis Versikolor pada Nelayan Di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat Supriyanto Supriyanto; Indah Purwaningsih
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.99

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor or better known as “panu” is a superfcial fungal infection characterized by changes in skin pigment due to Stratum corneum colonization by dimorphic lipophilic fungi from normal skin flora. Pitiriasis versicolor is an infectious disease that is estimated occur due to poor sanitation (personal hygine) and lack of clean water. This research was aimed to determine factors related to Pityriasis versicolor infection. It used retrospective design where researcher tried to looking back about the incident of Pitiriasis versicolor on 76 fshermen who choosen by using simple random sampling. Based on the result of reseach, it was determine that bath habit (p = 0,000), clothing hygiene (p = 0,839), towels cleanliness (p = 0,699), clean water supply (p = 0,000), home environment hygiene (p = 0,588), for p<0,05 then these factors were related to the occurrence of Pitiriasis versicolor infection on fshermen in Penjajap Village Pemangkat. Thus, it could be conclude that there was signifcant correlation between bath habit and clean water supply with the incidence of Pityriasis versicolor infection. While the cleanliness of clothing, cleanliness of towels, and cleanliness of the home environment is not associated with the incidence of Pityriasis versicolor infection. Abstrak: Pityriasis versikolor atau lebih dikenal dengan panu adalah infeksi jamur superfsial yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipoflik dimorfk dari flora normal kulit. Pityriasis versikolor merupakan penyakit menular yang diperkirakan terjadi karena sanitasi (personal hygiene) yang buruk dan kurangnya air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor personal hygiene terhadap infeksi pityriasis versikolor. Penelitian ini menggunakan rancangan retrospektif dimana peneliti berusaha melihat ke belakang (backward looking) terhadap kejadian pityriasis versikolor pada 76 nelayan yang terpilih sebagai responden dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kebiasaan mandi (p = 0,000), kebersihan pakaian (p = 0,839), kebersihan handuk (p = 0,699), persediaan air bersih (p = 0,000), kebersihan lingkungan rumah (p = 0,588), untuk p < 0,05 maka faktor-faktor tersebut berhubungan terhadap terjadinya infeksi pityriasis versikolor pada nelayan di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifkan antara kebiasaan mandi dan persediaan air bersih dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor. Sedangkan kebersihan pakaian, kebersihan handuk, dan kebersihan lingkungan rumah tidak berhubungan dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor.
Hubungan Donor Darah Dengan Kadar Kolesterol Pendonor Di Utd Rsud Ade M Djoen Sintang Kamilla, Laila; Wahyuni, Novi; Tumpuk, Sri
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v4i2.960

Abstract

Penyakit kardiovaskuler dapat disebabkan oleh peningkatan kadar kolesterol darah. Nilai normal dari kadar kolesterol adalah kurang dari 200 mg/dl. Terdapat beberapa tindakan yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah, salah satunya dengan mendonorkan darah.Donor darah adalah merupakan proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah dan kemudian dipakai pada transfusi darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara donor darah dengan hasil pemeriksaan kadar kolesterol pendonor sebelum dan satu jam setelah donor darah di UTD RSUD Ade M Djoen Sintang. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan teknik sampling insidential didapat jumlah sampel 30 orang yang telah memenuhi syarat donor darah yang diambil darahnya sebanyak 350 ml. Sampel yang diperiksa dalam penelitian ini adalah darah vena, sampel sebanyak 1 ml untuk melihat hubungan donor darah dengan kadar kolesterol sebelum dan 1 jam setelah donor darah. Pemeriksaan kadar kolesterol dihitung menggunakan alat spektrofotometer dengan metode CHOD-PAP (Cholesterol oksidase phenol aminoantyphirine), kemudian data diuji menggunakan uji korelasi dengan uji Kendall's-Tau. Hasil dalam penelitian ini diperoleh rata-rata kadar kolesterol sebelum donor darah dilakukan adalah 210 mg/dL, sedangkan pada nilai kadar kolesterol setelah donor darah dilakukan adalah rata-rata kadar kolesterol sebesar 193 mg/dL, yang berarti terjadinya penurunan kadar kolesterol pada responden setelah melakukan donor darah. Hal ini didukung melalui uji Kendall's Tau yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol baik sebelum dengan setelah donor darah (p=0,000) yang artinya Ha diterima.
Uji Daya Hambat Air Perasan Jeruk Lemon (Citrus Limon) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi Sutriswanto, Sutriswanto
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2022): November 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v6i1.1126

Abstract

Salmonelosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya infeksi bakteri salmonella. Salmonella masuk ke tubuh melalui jalan oral, biasanya karena mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi bakteri ini. Mengeliminasi atau mengurangi jumlah patogen, terutama salmonella pada produk daging adalah dengan cara memberikan antimikrobial yang diduga dapat membunuh atau mengurangi bakteri pada daging atau ayam potong. Salah satunya adalah dengan cara “mencuci” daging tersebut dengan asam organik seperti asam sitrat yang banyak terkandung dalam lemon. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh air perasan jeruk lemon dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi menggunakan metode difusi.  Desain penelitian ini adalah Eksperimental Semu. Penelitian ini dilakukan dengan membuat konsentrasi air perasan lemon menjadi 65%,  70%, 75%, 80%, 85%, dan 90% kemudian cakram kosong direndam pada air perasan lemon dan diaplikasikan pada media Mueller-Hinton Agar yang sudah diinokulasi dengan bakteri Salmonella typhi. Hasil penelitian dari 6 konsentrasi dengan 4 kali pengulangan didapatkan bahwa pada konsentrasi 65% didapatkan rerata zona hambat sebesar 18.6 mm, 70% sebesar 20.1 mm,  75% sebesar 21.4 mm,  80%  sebesar 23.1 mm,  85% sebesar 24.7 mm, 90% sebesar 26.5 mm. Simpulan penelitian ini adanya pengaruh dari perbedaan konsentrasi air perasan lemon 65%, 70%, 75%, 80%, 85%, dan 90% terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan nilai uji ANOVA didapatkan p sebesar 0.0000 atau p < 0.05 (alpha).
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Umbi Talas (Colocasia Esculenta (L) Schott) Metode Dpph (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil) Purwaningsih, Indah; Yuanti, Julyani; Ratnawati, Gervacia Jenny
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2020): November 2020
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v4i1.939

Abstract

Talas (Colocasia Esculenta (13 Schott) digunakan sebagai bahan pokok beberapa olahan makanan di Indonesia maupun di dunia. Selain itu Talas juga sering dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dalam masyarakat Talas mengandung banyak senyawa kimia yang diperoleh dari proses metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, kalsium oksalat, dan senyawa organik lainnya. Metabolisme sekunder yang terdapat di dalam talas berpotensi sebagai antioksidan berdasarkan masing-masing mekanisme dari senyawa tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menghitung nilai IC, ekstrak etanol umbi talas Dengan cara mengukur aktivitas antioksidan metode DPPH Desain penelitian menggunakan eksperimen semu dengan teknik pengambilan sampe menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pelarut etanol sebagai pelarut polar untuk menarik senyawa sesuai dengan sifatnya dan menggunakn metode maserasi. Metode yang digunakan dalam mengukur aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Sampel yang digunakan pada Penelitian ini yaitu ekstrak etanol umbi talas konsentrasi 500, 750, 1000, 1250 dan 1500 ppm dengan pengulangan sebanyak tiga kali sehingga banyaknya sampel adalah 15 sampel. Hasil skrinning fitokimia didapatkan ekstrak etanol umbi talas mengandung senyawa golongan alkaloid, glikosida, saponin, tanin, triterpenoid, flavonoid dan fenol. Dari hasil penelitian didapatkan nilai ICs ekstrak etanol sebesar 763 ppm. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol umbi talas memiliki aktivitas antioksidan meskipun tergolong rendah karena nilai IC su 200 ppm.

Page 5 of 16 | Total Record : 156