cover
Contact Name
Andri Putra Kesmawan
Contact Email
andriputrakesmawan@gmail.com
Phone
+6281990251989
Journal Mail Official
journal@idpublishing.org
Editorial Address
Perumahan Sidorejo, Jl. Sidorejo Gg. Sadewa No.D3, Sonopakis Kidul, Ngestiharjo, Kapanewon, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi
ISSN : -     EISSN : 30267447     DOI : https://doi.org/10.47134/pjp
Jurnal Psikologi is a scientific journal published by Indonesian Journal Publisher. Jurnal Psikologi publishes four issues annually in the months of November, February, May and August. The focus and scope of Jurnal Psikologi include articles concerned with Clinical Psychology, Cognitive Psychology, Social Psychology, Educational Psychology, Industrial and Organizational Psychology, Developmental Psychology, Abnormal Psychology, Health Psychology, Sports Psychology dan Experimental Psychology.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2025): February" : 15 Documents clear
Peranan Intervensi Sosial Dalam Pencegahan Kenakalan Remaja Amanda Eliza Fitriani; Asla Hanifah Putri; Christiano Ronaldo Suseno; Tugimin Supriyadi
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3465

Abstract

Juvenile delinquency is a social phenomenon that is increasing in various communities and has a significant impact on the lives of individuals and the surrounding environment. Factors that cause juvenile delinquency include psychological, social and environmental aspects, which pose challenges in handling it. This research aims to identify the role of social intervention in preventing juvenile delinquency and analyzing effective strategies in reducing deviant behavior. The method used is a literature study regarding various forms of social intervention, such as character education, skills training programs, and community activities. The research results show that comprehensive social intervention, involving family, school and community, has proven to be effective in forming positive behavior in adolescents and preventing acts of delinquency. With an integrated approach, it is hoped that efforts to prevent juvenile delinquency can be more optimal in creating a safe and supportive environment for adolescent development.
Dukungan Sosial dan Resiliensi Remaja yang Mengalami Kesulitan Hidup: Systematic Literature Review Using Big Data Analysis Auliya, Naila Putri Dita; Nur Eva
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3545

Abstract

Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. They will begin to form their identity and face various challenges that have the potential to affect their mental and emotional health. In this journey, there are still many teenagers who have to face significant life difficulties, such as family problems, academic difficulties, disabilities, or even emotional trauma. Adolescents who experience difficulties in life need to have resilience skills to be able to survive and face the problems they face. Social support makes individuals more resilient in stressful situations and equips individuals with resources to bounce back from difficult circumstances. The design used in this study is a systematic literature review which consists of several steps, namely (1) literature collection, (2) selection of relevant literature, (3) literature review using the focus of content analysis, (4) withdrawal of review results, and (5) discussion of review results. Researchers use two applications to search and analyze large amounts of data (big data). Based on the results of a review of 200 research articles, 7 articles were selected that are most relevant to this study. Social support has a significant influence in increasing the resilience of adolescents who experience difficulties in life. However, social support is not the main factor in determining resilience in adolescents who experience difficulties in life.
Pengaruh Gratitude dan Dukungan Sosial Terhadap Psychological Well Being: Sebuah Analisis Sistematis Addini, Nurul Aulia; Nur Eva
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3548

Abstract

Individu yang memiliki masalah atau tekanan dalam hidupnya akan merasakan dampak negatif terhadap dirinya seperti, stress, cemas, dan memiliki lingkungan sosial yang buruk. Hal tersebut menunjukkan bahwa Individu tersebut memiliki psychological well being yang rendah. Psychological well being dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti rasa Syukur, Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh rasa syukur (gratitude) dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis (psychological well-being) individu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistematik literature yang diadopsi dari beberapa kajian literature tentang gratitude, dukungan sosial, dan psychological well being. Kajian yang digunakan dari tahun 2003 hingga 2024. Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa rasa syukur dan dukungan sosial secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis individu. Rasa syukur terbukti mampu meningkatkan emosi positif, kepuasan hidup, dan pemaknaan hidup, yang pada akhirnya mendorong tercapainya kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Di sisi lain, dukungan sosial yang memadai dari lingkungan sekitar juga terbukti memiliki hubungan yang positif dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis tiap individu. Lebih jauh, penelitian ini mengidentifikasi adanya interaksi positif antara rasa syukur dan dukungan sosial dalam memprediksi kesejahteraan psikologis, di mana individu yang memiliki rasa syukur yang tinggi cenderung lebih terbuka untuk menerima dan memanfaatkan dukungan sosial yang ada, sehingga dari hal tersebut menghindikasikan dapat semakin meningkatkan kesejahteraan psikologisnya dari tiap individu. Temuan-temuan dalam studi ini menyiratkan pentingnya mengembangkan dan melakukan intervensi yang dapat meningkatkan rasa syukur dan memfasilitasi dukungan sosial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis pada individu. Kata Kunci: Gratitude, Dukungan Sosial, Psychological Well Being
Gambaran Kekerasan Seksual dan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa di Manado Panggabean, Hendro Hasea; David, Lydia E.V.; Pali, Cicilia
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3602

Abstract

Kekerasan seksual merupakan fenomena yang sampai saat ini sering terjadi dan dapat terjadi dimana saja, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa merupakan salah satu komponen di perguruan tinggi yang dapat mengalami kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang dialami dapat menyebabkan dampak psikologi pada korban, salah satunya kecemasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kekerasan seksual dan tingkat kecemasan pada mahasiswa di Manado. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan membagikan kuesioner bentuk kekerasan seksual dan kuesioner tingkat kecemasan dengan Self-Rating Anxiety Scale (SAS) yang telah dimodifikasi untuk kekerasan seksual.  Sampel diambil dengan teknik simple random sampling dan terkumpul sebanyak 280 responden yang memenuhi kriteria inklusi yang pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan seksual. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kecemasan pada 280 responden mahasiswa yaitu sebanyak 198 mahasiswa 70,7% mengalami tingkat kecemasan ringan, sebanyak 77 mahasiswa (27,5%) mengalami kecemasan sedang, dan sebanyak 5 mahasiswa (1,8%) mengalami kecemasan berat. Kesimpulannya pada mahasiswa yang mengalami kekerasan seksual cenderung mengalami tingkat kecemasan ringan.
Pandangan Mahasiswa pada Salah Satu Institusi di Sulawesi Utara terhadap Victim Blaming dalam Kasus Kekerasan Seksual Jacobus, Elizabeth D.; Pali, Cicilia; Opod, Hendri
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3603

Abstract

Kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan yang sering terjadi di berbagai lingkungan, termasuk kampus, dan menjadi isu serius dalam beberapa tahun terakhir. Di lingkungan perguruan tinggi, hingga April 2024 terdapat 2.681 kasus kekerasan seksual. Fenomena ini kerap disertai sikap victim blaming, yaitu kecenderungan menyalahkan korban atas kekerasan yang mereka alami, yang memperburuk dampak psikologis seperti trauma, depresi, dan keengganan untuk melapor. Sikap victim blaming dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk budaya patriarki, pendidikan, serta mitos perkosaan. Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual muda, memainkan peran penting dalam pembentukan nilai dan pandangan masyarakat, sehingga persepsi mereka terhadap victim blaming dalam kasus kekerasan seksual menjadi hal yang penting untuk diteliti. Untuk mengetahui pandangan mahasiswa Fakultas X Universitas X terhadap victim blaming dalam kasus kekerasan seksual. Penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan 94 responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori victim blaming tingkat sedang (63%) dengan kecenderungan lebih tinggi pada mahasiswa semester awal dan laki-laki. Pada penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori victim blaming tingkat sedang.
Gambaran Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara Mantiri, Chrisdiany A.; David, Lydia E. V.; Pali, Cicilia
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3605

Abstract

Kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, terutama di perguruan tinggi telah menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan. Studi menunjukkan prevalensi kekerasan seksual yang tinggi di lingkungan kampus dan dapat terjadi secara verbal, non-fisik, fisik, dan/atau melalui teknologi informasi dan komunikasi. Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara tidak luput dari permasalahan kekerasan seksual. Namun, data mengenai gambaran yang komprehensif terkait kekerasan seksual yang terjadi di Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara belum tersedia. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kekerasan seksual di Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional menggunakan teknik pengambilan sampel proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Penelitian ini memperlihatkan gambaran kekerasan seksual pada 92 responden yaitu mahasiswa semester 3, 5 dan 7 di salah satu perguruan tinggi di Sulawesi Utara, yang menunjukkan bahwa sebanyak 90,2% mahasiswa pernah mengalami kekerasan seksual selama mereka berada di perguruan tinggi, 75,9% di antaranya mengalami kekerasan seksual dengan frekuensi sedang, dan 71,7% responden mengakui mengalami kekerasan seksual dalam bentuk ujaran yang menghina tampilan fisik.
Gambaran Self-efficacy Mahasiswa Baru Program Studi Pendidikan Dokter di Sulawesi Utara Ondang, Farina Theresia; Opod, Hendri; Sinolungan, Jehosua Samratson Victor
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3608

Abstract

Mahasiswa tahun pertama pada masa perkuliahan akan menghadapi kondisi yang membutuhkan adaptasi, yang membuat individu tersebut kurang yakin dengan dirinya, karena belum sepenuhnya menguasai keadaan tersebut. Seseorang memiliki keyakinan dalam kemampuan diri untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi diri dan tindakan yang diperlukan untuk berhasil melaksanakan tugas tertentu. Kemampuan tersebut adalah salah satu upaya untuk mengatasi kegagalan dalam melaksanakan tugas kuliah yang disebut dengan self-efficacy. Self-efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dia mampu menjalankan suatu tugas pada suatu tingkat tertentu, yang mempengaruhi tingkat pencapaian tugasnya. Konsep ini merupakan inti dari teori kognitif sosial Albert Bandura, yang menyatakan bahwa keyakinan seseorang tentang kemampuannya memengaruhi perilaku dan motivasinya. Beberapa penelitian menyatakan bahwa mahasiswa tahun pertama sangat erat kaitannya dengan self-efficacy. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran self-efficacy pada mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter di Sulawesi Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara cross sectional. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Academic Self-efficacy Scale (TASES) untuk menilai self-efficacy mahasiswa baru yang berjumlah 236 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat self-efficacy mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter cenderung tinggi. Sebanyak 223 orang (94,5%) dari total 236 orang memiliki self-efficacy yang tinggi. Sementara itu, sisanya 13 orang (5,5%) memiliki self-efficacy rendah. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian besar mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter di Sulawesi Utara memiliki self-efficacy yang tinggi.
Gambaran Self-Disclosure pada Mahasiswa Kedokteran Pengguna Instagram di Sulawesi Utara Malonda, Angelia Virginia; Sinolungan, Jehosua Samratson Victor; David, Lydia Edmay Viveca
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3609

Abstract

Masa transisi dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi merupakan fase krusial yang sering kali memicu tekanan psikologis, terutama bagi mahasiswa baru kedokteran. Proses ini menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menghadapi perubahan signifikan dalam aspek akademik dan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan diri melalui media sosial, khususnya Instagram, dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa dalam mengatasi tantangan tersebut. Namun, hingga kini, data mengenai gambaran keterbukaan diri pada mahasiswa baru kedokteran pengguna Instagram masih belum tersedia. Untuk mendapatkan gambaran tingkat keterbukaan diri melalui Instagram pada mahasiswa baru di kedokteran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling method. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Revised Self-Disclosure Scale (RSDS) yang telah diadaptasi oleh Wahyuni. Penelitian ini memperlihatkan gambaran tingkat keterbukaan diri yang rendah melalui media sosial Instagram pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2024. Sebanyak 191 mahasiswa (80,9%) memiliki tingkat keterbukaan diri yang rendah, sedangkan 45 mahasiswa lainnya (19,1%) memiliki tingkat keterbukaan diri yang tinggi. Keterbukaan diri mahasiswa baru kedokteran melalui Instagram mendominasi pada kategori rendah, terutama pada aspek kedalaman, sementara aspek ketepatan atau kejujuran menunjukkan tingkat keterbukaan yang lebih tinggi. Hal ini mencerminkan upaya mahasiswa menjaga integritas sebagai calon dokter dengan menghindari membagikan informasi personal atau sensitif. Faktor lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap tingkat keterbukaan diri, sedangkan usia dan jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang berarti.
Gambaran Kekerasan Seksual dan Tingkat Depresi pada Salah Satu Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara Madelu, Misel; Sinolungan, Jehosua S.V.; David, Lydia E. V.
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3626

Abstract

Kekerasan seksual banyak dilaporkan terjadi di lingkungan perguruan tinggi terlebih pada mahasiswa. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pihak perguruan tinggi karena dapat berdampak pada kondisi kesehatan mental korbannya, salah satunya adalah berdampak pada tingkat depresi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkat depresi pada korban yang mengalami kekerasan seksual. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan data cross-sectional. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kekerasan seksual berdasarkan Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 dan Beck Depression Inventory II (BDI-II) alat ukur yang dibuat oleh Dr. Aaron T. Beck (1976), dianalisis menggunakan uji univariat. Dari 96 responden yang pernah mengalami kekerasan seksual, tingkat depresi paling tinggi adalah depresi minimal/ tidak depresi yaitu 59,4%. Tingkat depresi berat berjumlah 9,4%. Bila dilihat dari bentuk-bentuk kekerasan seksual sebanyak 70 responden paling sering mengalami bentuk kekerasan seksual menerima ujaran yang menghina tampilan fisik seperti berat badan/ tinggi badan/ warna kulit. Simpulan penelitian ini ialah masih ada kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Tingkat depresi minimal/ tidak depresi menunjukkan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil ini, seperti bentuk kekerasan yang dialami, durasi trauma, dukungan sosial dan karakteristik dari individu itu sendiri bagaimana cara dia mengelola depresi tersebut.
Gambaran Kekerasan Seksual dan Pola Asuh pada Salah Satu Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara Tololiu, Michelle; Opod, Hendri; Pali, Cicilia
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i2.3651

Abstract

Kekerasan seksual merupakan salah satu permasalahan yang patut diperhatikan. Definisi dan bentuk-bentuk kekerasan seksual berdasarkan Permendikbud No. 30 Tahun 2021 masih ditemukan di Perguruan Tinggi saat ini. Mahasiswa yang umumnya berusia 17-21 tahun berada pada fase remaja akhir memiliki tugas perkembangan berupa pembentukan identitas, yang salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana cara orang tua mengasuh anaknya. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat pola asuh apa yang meningkatkan risiko seseorang menjadi korban kekerasan seksual. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pola asuh pada mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan seksual di salah satu perguruan tinggi di Sulawesi Utara. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan data potong lintang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner kekerasan seksual dan Parental Authority Questionnaire-Revised (PAQ-R) oleh Dr. John R. Buri, dianalisis menggunakan uji univariat. Hasil: Dari 108 responden yang terkumpul, didapati mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan seksual sebanyak 90% dan mahasiswa yang tidak pernah mengalami kekerasan seksual sebanyak 10%. Keduanya didominasi oleh mahasiswa yang memiliki pola asuh otoritatif, namun 10% responden dieksklusi dan hanya 90% responden yang pernah mengalami kekerasan seksual diolah datanya lebih lanjut. Kesimpulan: Mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan seksual sebanyak 90% dan yang tidak pernah mengalami kekerasan seksual sebanyak 10%. Keduanya memiliki pola asuh yang dominan yaitu otoritatif, sehingga ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan adanya kekerasan seksual.

Page 1 of 2 | Total Record : 15