cover
Contact Name
Mahfur
Contact Email
mahfur.isfa@gmail.com
Phone
+6285869089656
Journal Mail Official
mahfur.isfa@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Farmasi Jl. Sriwijaya No.3 Telp. (0285) 421096, Fax.411429 Pekalongan Email : jurnalbenzenaunikal@gmail.com
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
Benzena Pharmaceutical Scientific Journal
Published by Universitas Pekalongan
ISSN : -     EISSN : 29617375     DOI : http://dx.doi.org/10.31941/benzena.v2i01.3065
Benzena Pharmaceutical Scientific Journal adalah jurnal peer-review yang diterbitkan dua kali setahun (Juni dan Desember) oleh Fakultas Farmasi Universitas Pekalongan. Ini tersedia online sebagai sumber akses terbuka dan juga dalam bentuk cetak. Pernyataan ini memperjelas perilaku etis semua pihak yang terlibat dalam tindakan penerbitan artikel di jurnal ini, termasuk penulis, pemimpin redaksi, Dewan Editorial, reviewer, dan penerbit. Pernyataan ini didasarkan pada Pedoman Praktik Terbaik COPE untuk Editor Jurnal. Focus dan scope : Pharmaceutical Technology, Pharmacology and Toxicology, Pharmaceutical Chemistry, Drug Discovery, Pharmacokinetics, Pharmaceutical Biology, Herbal Medicines, Pharmaceutics, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Community and Clinical Pharmacy, Pharmaceutical Care.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL" : 7 Documents clear
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 96% Kulit Kedelai Edamame (Glycine Max L. Merr) menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1- picrilhidrazyl). Oktaviani, Fatikhatul Putri; Setiawan, Putu Yudhistira Budhi; widayanti, ni putu; wintariani, ni putu
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5073

Abstract

Radikal bebas merupakan suatu permasalahan yang menimbulkan penyakit generative yang dapat membahayakan tubuh, dengan begitu tubuh memerlukan untuk menetralisir kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas adalah dengan antioksidan. Antioksidan membantu tubuh untuk melawan produksi radikal bebas berlebihan yang dapat terjadinya stres oksidatif maka tubuh harus mendapat tambahan antioksidan dari luar tubuh (antioksidan eksogen) seperti antioksidan alami yang berasal dari buah-buahan dan tanaman. Tanaman kedelai edamame (Glycine Max L. Merr) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa isoflavon yang berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan Penelitian ini mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% kulit kedelai edamame menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1- picrilhidrazyl). Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH dengan dihitung berdasarkan nilai Inhibitor Consentration (IC50). Penentuan kadar senyawa fenol dan flavonoid dengan metode spektrofotometri UV-Vis dan skrining fitokimia menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil dari penelitian uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% kulit kedelai edamame memiliki nilai IC50 685,39 ±19,38 ppm. Hasil penetapan kadar flavonoid total memiliki nilai 0,3511 ± 0,03 %. Hasil penetepan kadar fenol total memiliki nilai 1,3428 ± 0,01 %. Hasil pengujian evaluasi simplisia kulit kedelai edamame meliputi uji kadar abu total dengan hasil 5,5357 ± 0,12 %, susut pengeringan dengan hasil 8,4740 ± 0,11 %. Hasil pengujian evaluasi ekstrak etanol 96% kulit kedelai edamame meliputi uji rendemen dengan hasil 13,427 %. Kesimpulan dari pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% kulit kedelai edamame memiliki hasil IC50 yang sangat lemah. Hasil dari evaluasi simplisia dan ekstrak memiliki hasil parameter yang sesuai standar dan skrining fitokimia ekstrak kulit kedelai edamame memiliki hasil positif kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenol, steroid, terpenoid, dan saponin.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DENGAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Dwi Agustyarini, Pande Kadek; Putu Yudhistira Budhi Setiawan; I Putu Gede Adi Purwa Hita; I Gusti Ayu Agung Septiari
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5094

Abstract

Tubuh kita sering terpapar radikal bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh dan memicu berbagai penyakit. Untuk menangkal kerusakan ini, tubuh membutuhkan antioksidan. Antioksidan alami, seperti yang ditemukan pada buah-buahan dan tanaman, dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Bawang merah, khususnya pada bagian daunnya, kaya akan senyawa antioksidan. Penelitian ini ingin mengetahui seberapa aktivitas antioksidan, parameter spesifik dan non spesifik, seberapa besar nilai IC50 dengan metode DPPH, sebuah metode umum untuk mengukur aktivitas antioksidan. Untuk mendapatkan ekstrak daun bawang merah, daun tersebut direndam dalam etanol 96% selama 24 jam. Proses perendaman ini disebut maserasi. Ekstrak yang dihasilkan kemudian diuji aktivitas antioksidannya dengan cara mengukur kemampuannya untuk menghentikan aktivitas radikal bebas DPPH. Hasilnya dinyatakan dalam nilai IC50 yang menunjukkan seberapa banyak ekstrak yang dibutuhkan untuk menghambat 50% aktivitas radikal bebas. Selain itu, kandungan senyawa fenol dan flavonoid dalam ekstrak juga ditentukan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Untuk mengetahui jenis senyawa lain yang terkandung, dilakukan skrining fitokimia menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun bawang merah memiliki kemampuan untuk menangkal radikal bebas, dengan nilai IC50 sebesar 445,476 ppm dengan kategori lemah. Ekstrak ini juga mengandung flavonoid dan fenol, masing-masing sebesar 1,9470% dan 1,9939%. Selain itu, daun bawang merah menghasilkan nilai kadar abu sebesar 9,951% dan susut pengeringan sebesar 5,271%. Proses pembuatan ekstrak ini juga menghasilkan rendemen sebesar 16,383%. 
AKTIVITAS PENGHAMBATAN α-AMILASE OLEH EKSTRAK DAUN BAKAU MERAH (Rhizophora stylosa) Ayu Dyah Purwati; Pambudi, Dwi Bagus; Wirasti; Khusna Santika Rahmasari
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5101

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi daun bakau merah (Rhizophora stylosa) sebagai agen antidiabetes alami melalui penghambatan enzim α-amilase. Ekstrak etanol daun bakau merah diperoleh melalui metode maserasi. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif. Aktivitas penghambatan α-amilase diuji menggunakan metode spektrofotometri dengan acarbose sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas penghambatan α-amilase yang sangat aktif dengan nilai IC50 16,074 μg/mL lebih rendah dibandingkan acarbose (20,607 μg/mL). Skrining fitokimia mengungkapkan keberadaan alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, steroid, dan tanin yang berpotensi berkontribusi terhadap aktivitas penghambatan α-amilase.Kata kunci: Rhizophora stylosa, penghambatan α-amilase, antidiabetes. 
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BUAH BAKAU MINYAK (Rhizophora apiculata) Silvia Rizkiani; Pambudi, Dwi Bagus; Urmatul Waznah; Achmad Vandian Nur
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5102

Abstract

Radikal bebas merupakan suatu senyawa reaktif baik atomik maupun molekuler yang memiliki satu bahkan lebih elektron yang tidak berpasangan. Radikal bebas akan mencari pasangan baru agar mudah bergabung dengan zat lain seperti lemak, protein dan DNA di dalam tubuh, hal ini dapat memicu kerusakan sel dan berbagai jenis penyakit degeneratif. Cara untuk mencegah radikal bebas yaitu dengan senyawa antioksidan. Senyawa Fenol dan flavonoid yang terdapat pada buah bakau minyak (Rhizophora apiculata) dapat digunakan sebagai penangkal radikal bebas. Tumbuhan ini memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid, tanin, flavonoid, triterpenoid, steroid dan saponin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan buah bakau minyak menggunakan metode FRAP. Untuk pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer UV-Vis Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi. Pelarut yang digunakan pada proses maseraasi adalah etanol 96%. Buah bakau minyak mempunyai aktivitas antioksidan Karenna memiliki kandungan metabolit sekunder fenol dan flavonoid. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan ekstrak buah bakau minyak mengandung kadar total fenol sebesar 139 mg GAE/g ekstrak, sedangkan kadar total flavonoid sebesar 19,6 mg QE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan ekstrak buah bakau minyak diukur melalui spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang sebesar 596,5 nm. Hasil aktivitas antioksidan buah bakau minyak diperoleh sebesar 200,72 µmol/ Fe2+/g yang terdapat pada konsentrasi 100 µg/mL. Kata Kunci: Buah bakau minyak, Fenol, Flavonoid, Antioksidan
Pengaruh Pelarut Terhadap Kadar Saponin Ekstrak Daun Teratai (Nymphaea nouchali Burm. F.) Menggunakan Metode Gravimetri Isna Larasat; khafid mahbub
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5480

Abstract

Menurut data riset kesehatan dasar, minat penggunaan obat tradisional sangat tinggi dengan presentase sebesar 59,12%. Salah satu tanaman yang dapat digunakan dalampengobatan tradisional adalah teratai (Nymphaea nouchali Burm. F.). Daun teratai memiliki manfaat sebagai antibakteri, dan antioksidan. Senyawa berperan dalam aktivitas tersebut salah satunya adalah saponin. Penelitian memiliki tujuan untuk mengkaji kadar saponin pada ekstrak metanol, etanol 70% dan etanol 96% ekstrak daun teratai. Jenis penelitian menggunakan penelitian eksperimental. Sampel pada penelitian ini adalah daun teratai (Nymphaea nouchali Burm. F.) yang diekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol, etanol 70% dan etanol 96%. Pengukuran kadar saponin dilakukan menggunakan metode gravimetri pengendapan kemudian diukur kadar saponin dan data diolah dengan perangkat lunak SPSS versi 20 dengan metode One Way Anova. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol, etanol 96% dan etanol 70% daun teratai (Nymphaea nouchali Burm F.) mengandung senyawa saponin triterpenoid dan pelarut yang optimal dalam menarik saponin adalah metanol dengan kadar rata-rata 11,13%. Berdasarkan hasil uji One Way ANOVA didapatkan nilai (Sig>0,05) sehingga pelarut yang digunakan memiliki perbedaan yang signifikan.
Karakteristik Kejadian ADRs Pada Penggunaan Antibiotik Beta-Laktam di RSUD Bendan Kota Pekalongan: Characteristic of The Incidence of ADRs in The Use of Beta-Lactam Antibiotics at Bendan Hospital, Pekalongan City Muna, Asti; Musa Fitri Fatkhiya
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5507

Abstract

Kejadian ADRs merupakan permasalahan yang terjadi pada penatalaksanaan terapi yang memberikan dampak merugikan dimana kejadian ini membuat efek terapeutik menjadi tidak maksimal bahkan dapat berujung pada kematian. Salah satu obat yang menyebabkan ADRs paling banyak pada beberapa kasus adalah antibiotik beta-laktam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kejadian ADRs pada pasie yang menggunakan antibiotik beta-laktam di RSUD Bendan selama bulan November 2024. Penelitian ini merupakan jenos penelitian observasional non eksperimental dengan rancangan cross sectional secara prospektif. Pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi. Variabel penelitian ini adalah karakteristik kejadian ADRs pada pasien berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, antibiotik penyebab ADRs, obat untuk mengatasi ADRs, durasi waktu penggunaan, dan biaya medis langsung. Subjek penelitian dilakukan wawancara dan diberikan kuisioner algoritma Naranjo serta formulir MESO untuk mengetahui skala probabilitas ADRs dan manifestasi klinis yang timbul. Data karakteristik dianalisis menggunakan Microsoft Excel yang disajikan secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian didapatkan dari 30 responden yang menggunakan antibiotik beta-laktam, sebanyak 9 orang (30%) mengalami kejadian ADRs dan sebanyak 21 orang (70%) tidak mengalami kejadian ADRs. Karakteristik kejadian ADRs pada pasien yang paling banyak pada usia >50 tahun sebanyak 5 orang (55,56%), jenis kelamin perempuan sebanyak 6 orang (66,67%), tingkat pendidikan SD sebanyak 4 orang (44,44%), pekerjaan IRT sebayak 3 orang (33,33%), antibiotik cefixime penyebab ADRs sebanyak 8 orang (88,89%), durasi penggunaan selama 5 hari sebanyak 8 orang (88,89%), dan biaya medis langsung < Rp50.000 sebanyak 2 orang (66,67%). Hasil skoring Naranjo didapatkan bahwa dari 30 responden, dengan skala interpretasi doubtful sebanyak 1 orang (3,33%), possibe sebanyak 20 orang (66,67%), probable sebanyak 5 orang (16,67%), dan definite sebanyak 4 orang (13,33%). Manifestasi klinis kejadian ADRs penggunaan antibiotik beta-laktam yang dilaporkan berupa mual, sakit, perut, gatal pada kulit, bintik pada kulit, sembelit, dan pusing.
HUBUNGAN KEPATUHAN DENGAN KEJADIAN ADVERSE DRUG REACTIONS (ADRS) PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK BETA-LAKTAM DI RSUD BENDAN KOTA PEKALONGAN Fatina, Naila; Musa Fitri Fatkhiya
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 3 No 02 (2024): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v3i02.5516

Abstract

Background: Beta-lactam antibiotics are one of the most common drugs to treat bacterial infections. Although effective, the use of these antibiotics can cause Adverse Drug Reactions (ADRs), potentially affecting patient compliance with treatment. Non-adherence in the use of antibiotics can have a negative impact on therapeutic outcomes, including an increased risk of ADRs. Objective: The research aims to determine the relationship between compliance and the incidence of ADRs in the use of beta-lactam antibiotics at Bendan Hospital, Pekalongan City. Method: This research used prospective method (Cohort). The sampling technique used was non probability sampling with purposive sampling method, where samples were taken from outpatients who used beta-lactam antibiotics at Bendan Hospital, Pekalongan City period November. Data were collected through structured interviews and MMAS-8 questionnaires to assess the level of patient compliance and Naranjo Algorithm questionnaires to assess the incidence of ADRs. After data collection, the data were analyzed using SPSS software with chi-square test to determine the relationship between compliance and the incidence of ADRs. Result: The results showed that there were 30 patients using beta-lactam antibiotics with 9 patients who experienced ADRs. The results of the Naranjo Algorithm questionnaire obtained were respondents with a degree of certainty of highly probable 6 respondents (20%), probable 3 respondents (10%), possible 9 respondents (63.3%), and doubtful 2 respondents (6.7%). The most common form of manifestation of ADRs was skin rash as many as 3 respondents (33.3%). While the results of the compliance questionnaire obtained 22 respondents in the high category (73.3%), 8 respondents in the medium category (26.7%), and 0% in the low category. The results of the analysis of the relationship between compliance with the incidence of ADRs on the use of beta-lactam antibiotics obtained a ρ-value of 0.305> 0.05 which indicates there is no relationship between compliance with the incidence of ADRs on the use of beta-lactam antibiotics. Conclusion: There is no association between compliance and the incidence of ADRs in the use of beta-lactam antibiotics Keywords: ADRs; Beta-lactam antibiotics; Adherence.

Page 1 of 1 | Total Record : 7