cover
Contact Name
Haidar Ensang Timuda
Contact Email
krepaabdimas@gmail.com
Phone
+628123230129
Journal Mail Official
krepaabdimas@gmail.com
Editorial Address
https://ejournal.warunayama.org/index.php/liberosis/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Published by CV SWA Anugrah
ISSN : -     EISSN : 30267889     DOI : -
Jurnal psikologi adalah publikasi ilmiah yang berfokus pada berbagai aspek dan penelitian dalam bidang psikologi. Jurnal ini merupakan saluran penting bagi para peneliti, ilmuwan, profesional, dan mahasiswa psikologi untuk membagikan temuan mereka, menyajikan data empiris, dan berkontribusi pada perkembangan pengetahuan di bidang psikologi. Jurnal psikologi mencakup berbagai topik, seperti: Psikologi Klinis: Memahami dan mengobati gangguan mental, terapi psikologis, dan penelitian tentang kesehatan mental. Psikologi Sosial: Menyelidiki interaksi sosial, perilaku kelompok, stereotip, prasangka, dan pengaruh sosial. Psikologi Perkembangan: Memahami perkembangan individu dari masa kanak-kanak hingga Psikologi Pendidikan: Mengkaji pembelajaran dan pendidikan, termasuk metode pengajaran, motivasi, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Articles 396 Documents
PERAN MORAL DISENGAGEMENT TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING PADA DEWASA AWAL: AGRESIVITAS SEBAGAI MEDIATOR Andriyani, Adinda; Rostiana
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i2.7161

Abstract

Perkembangan teknologi dan informasi di era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam cara berinteraksi melalui ruang digital. Media sosial memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Di sisi lain, penggunaan media sosial juga membawa dampak negatif, salah satunya yaitu meningkatnya perilaku cyberbullying. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama pada dewasa awal, yang merupakan kelompok usia paling aktif menggunakan media sosial. Namun, alasan yang mendorong individu melakukan cyberbullying masih belum banyak diketahui. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran moral disengagement terhadap perilaku cyberbullying dengan agresivitas sebagai mediator. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Partisipan pada penelitian ini diperoleh sebanyak 391 orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah Mechanism of Moral Disengagement Scale (MMDS) milik Bandura et al. (1996), Cyber Offending Scale (COS) oleh Hinduja & Patchin (2015), dan The Buss-Perry Aggression Questionnaire (BP-AQ) oleh Buss & Perry (1992) yang sudah ditranslasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moral disengagement berperan secara signifikan dalam memprediksi perilaku cyberbullying, baik secara langsung maupun melalui agresivitas sebagai mediator.Kata Kunci: Moral Disengagement, Perilaku Cyberbullying, Agresivitas, Dewasa Awal
PERAN SELF-ESTEEM TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING PADA DEWASA AWAL: MORAL DISENGAGEMENT SEBAGAI MODERATOR Niziliani, Shyakia; Rostiana
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7163

Abstract

Kemajuan teknologi informasi telah memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kemudahan berkomunikasi melalui media sosial. Media sosial membawa manfaat positif, namun juga memunculkan efek negatif, salah satunya adalah perilaku cyberbullying. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terumata di kalangan generasi Z yang berada pada fase dewasa awal. Meski demikian, masih terdapat keterbatasan pemahaman mengenai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran self-esteem dan cyberbullying, dengam moral disengagement sebagai moderator. Penelitian ini menggunakan pendekatan non-eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Alat ukur yang digunakan meliputi Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Mechanism of Moral Disengagement (MMDS), dan Cyber Offending Scale (COS). Partisipan penelitian adalah dewasa awal dari generasi Z yang aktif menggunakan media sosial. Hasil analiis menunjukkan bahwa moral disengagement memoderasi hubungan self-esteem dan perilaku cyberbullying. Kontribusi moral disengagement sebagai moderator memperkuat cyberbullying. Temuan ini menegaskan bahwa individu dengan moral disengagement tinggi cenderung terlibat dalam cyberbullying, terutama jika self-esteem mereka rendah. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai faktor psikologis yang mendorong perilaku cyberbullying, sekaligus menawarkan dasar intervensi yang berfokus pada peningkatan self-esteem dan pengurang moral disengagement.Kata Kunci: Self-Esteem, perilaku Cyberbullying, Moral Disengagement, Dewasa Awal
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DUKUNGAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF (Studi Pada Mahasiswa Di Jakarta) Hayfatunisa, Gea; Suyasa, P. Tommy Y. S.
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7164

Abstract

Mahasiswa berada dalam fase kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Pada masa ini, mereka dihadapkan pada berbagai tuntutan untuk menentukan sikap, membuat pilihan hidup, serta mengembangkan kemampuan beradaptasi. Adanya bukti dari penelitian-penelitian sebelumnya bahwa mahasiswa yang mengalami kesejahteraan yang buruk disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih dalam mengenai hubungan antara persepsi dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa di Jakarta yang berada dalam fase transisi menuju kedewasaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan melibatkan partisipan berusia 18 - 25 tahun yang dikategorikan sebagai dewasa awal. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Sebanyak 576 partisipan disurvei dengan menggunakan kuesioner yang telah disebarluaskan. Alat ukur yang digunakan terdiri dari Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), Satisfaction with Life Scale (SWLS), dan Positive Affect and Negative Affect Schedule (PANAS). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif antara persepsi dukungan sosial kesejahteraan subjektif dimensi kepuasan hidup, r(574) = 0.443, p < 0.01; dan afek positif, r(574) = 0.335, p < 0.01. Artinya semakin positif persepsi partisipan terhadap dukungan sosial, semakin baik kesejahteraan subjektif yang dimilikinya. Pada dimensi lain (afek negatif) terdapat hubungan negatif yang signifikan antara persepsi dukungan sosial dan afek negatif, dengan koefisien korelasi sebesar r(574) = -0.236, p < 0.01. Artinya semakin positif persepsi partisipan terhadap dukungan sosial, semakin sedikit emosi negatif yang dirasakan oleh individu. Analisis tambahan dalam penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan persepsi dukungan sosial maupun kesejahteraan subjektif berdasarkan jenis kelamin, usia, atau semester studi. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kesejahteraan Subjektif, Mahasiswa
PERANAN PENDIDIKAN PANCASILA DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA Febrianti, Eka; Viani, Theresia Patria; Priscilia, Lidwina; Senjani, Dita Permata; Ghaisani, Kayla Rossita; Tumanggor, Raja Oloan
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7166

Abstract

Pancasila has an important role in forming the basis of social and state life in Indonesia and is the main foundation for all citizens in life in Indonesia. As a way of life, Pancasila also has an important role in shaping the character and personality of the Indonesian people. Every Indonesian citizen is obliged to understand and apply all the values contained in Pancasila. Through Pancasila Education, it is hoped that educational institutions can become a forum for applying the values contained in Pancasila. Both in the educational environment and social life, educational institutions must play an active role in instilling and practicing these values. In addition, as a citizen, it is important to have the character of state defense, namely the attitudes and actions of citizens based on a sense of love for the country, awareness of nation and state, belief in Pancasila as the state ideology. State defense has the aim of improving welfare, educating the life of the nation and state, carrying out order based on peace and social justice which are the functions and goals of the nation. Of course, in this case Pancasila plays an important role in shaping a new generation with a national outlook and character by applying the attitude of state defense and incorporating moral values into everyday life so that by applying Pancasila education is very important and there is no doubt because it teaches individuals the value of applying Pancasila principles in social interactions and equips individuals with virtues to face global challenges as good citizens. Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk dasar kehidupan bermasyarakat serta bernegara di Indonesia dan menjadi landasan utama bagi seluruh warga negara dalam kehidupan di Indonesia. Sebagai pedoman hidup, Pancasila juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta kepribadian bangsa Indonesia. Setiap warga negara Indonesia berkewajiban untuk memahami serta menerapkan seluruh nilai yang terkandung dalam Pancasila. Melalui Pendidikan Pancasila, diharapkan lembaga pendidikan dapat menjadi wadah dalam menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Baik dalam lingkungan pendidikan maupun kehidupan sosial, lembaga pendidikan harus berperan aktif dalam menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai tersebut. Selain itu sebagai warga negara, penting memiliki karakter bela negara yaitu sikap dan tindakan warga negara yang didasari oleh rasa cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi negara. Bela negara memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, menjalankan ketertiban berdasarkan pada perdamaian serta keadilan sosial yang merupakan fungsi dan tujuan bangsa. Tentunya dalam hal ini Pancasila memainkan peran penting dalam membentuk generasi baru yang berwawasan kebangsaan dan berkarakter dengan menerapkan sikap bela negara serta memasukkan nilai-nilai moral ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga dengan menerapkan pendidikan Pancasila sangat penting dan tidak perlu diragukan lagi karena mengajarkan individu pada nilai penerapan prinsip-prinsip Pancasila dalam interaksi sosial dan membekali individu dengan kebajikan untuk menghadapi tantangan global sebagai warga negara yang baik.
HUBUNGAN SELF-EFFICACY DALAM MENENTUKAN PILIHAN KARIR SISWA KELAS XII MAN KOTA SURABAYA Biru, Putri Permata
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7188

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dalam menentukan pilihan karir siswa kelas XII MAN Kota Surabaya. Desain penelitian ini merupakan deskripstif kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri Kota Surabaya yang berjumlah 415 orang siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Cluster Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 208 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala pilihan karir dan self-efficacy. Uji reliabilitas instrumen dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil uji coba reliabilitas instrumen mendapatkan nilai 0,718 untuk skala self-efficacy dan 0,866 untuk skala pilihan karir. Analisis data dan uji hipotesis menggunakan teknik regresi sederhana. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hipotesis yang menunjukan bahwa variabel pilihan karir dengan self-efficacy terdapat koefisien korelasi (r) sebesar 12.019 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000 dimana nilai tersebut kurang dari 0,05 atau p < 0,05 (0,000 < 0,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula kemampuan mereka dalam menentukan pilihan karir.Kata Kunci: Self-efficacy, Pilihan Karir, Siswa Kelas XII
IMPLEMENTASI TEKNIK MOVING CLASS DAN BIMBINGAN KONSELING DALAM PENGAMALAN PANCASILA DI LINGKUNGAN MAN SIDOARJO Syaluna Bening As Sayyidah; Charis Risqy Pradana
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7196

Abstract

Moving class merupakan metode pembelajaran inovatif yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa melalui perpindahan kelas sesuai mata pelajaran. Teknik ini memberikan dinamika baru dalam interaksi sosial dan mendorong pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi teknik moving class dan bimbingan konseling dalam mendukung pengamalan nilai-nilai Pancasila di MAN Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan observasi di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moving class memberikan dampak positif terhadap peningkatan interaksi sosial, pengembangan karakter siswa, dan penguatan nilai-nilai Pancasila seperti toleransi, gotong royong, dan keadilan sosial. Sementara itu, bimbingan konseling berperan sebagai fasilitator untuk membantu siswa beradaptasi dengan perubahan, mengelola tantangan, dan memahami nilai-nilai Pancasila secara mendalam. Implementasi kedua strategi ini saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan kondusif. Dengan demikian, moving class dan bimbingan konseling dapat menjadi solusi efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam proses pendidikan.
PROSES DAN TANTANGAN TERAPI APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS PADA ANAK AUTIS Nur Helda Yanti; Maulida Habibah; M. Rafiek
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7217

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi proses dan tantangan dari terapi Applied Behavior Analysis (ABA) untuk anak-anak dengan autisme. Terapi ABA digunakan untuk mengatasi gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang sering terlihat pada anak-anak autis. Penelitian ini melakukan tinjauan literatur untuk mengumpulkan informasi tentang topik ini. Temuan menunjukkan bahwa proses terapi ABA melibatkan beberapa tahap, termasuk identifikasi, perencanaan program, dan pelaksanaan terapi yang terstruktur dan terukur. Fokusnya adalah pada pengembangan keterampilan motorik, komunikasi, dan interaksi sosial. Beberapa tantangan diidentifikasi, termasuk sumber daya yang terbatas seperti terapis terlatih dan fasilitas, kesulitan dalam perhatian dan konsentrasi, hambatan komunikasi, perilaku tantrum, biaya terapi yang tinggi, kualitas terapis, dan kurangnya kerja sama antara orang tua dan terapis. Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, terapi ABA diyakini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan anak autis jika dimulai sejak dini dan dilakukan secara efektif melalui kerja sama antara terapis dan orang tua.
PERSATUAN DALAM KEBERAGAMAN: STUDI TENTANG INTERAKSI SOSIAL ANAK-ANAK DI PANTI ASUHAN PARAPATTAN JAKARTA TIMUR Tia Meilani Putri; Raja Oloan Tumanggor; Christine Erinna Noviyanthi; Stevy Virginia Medah; Cindy Octavia Tanjaya; Angeline Michelle Bidara
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7222

Abstract

Penelitian ini mengkaji interaksi sosial di antara anak-anak Panti Asuhan Parapattan, Jakarta Timur, yang memiliki keragaman suku dan budaya. Dengan pendekatan kualitatif dan studi kasus, observasi dilakukan terhadap 40 anak yang berpartisipasi dalam seminar dan kegiatan bakti sosial terkait persatuan dalam keberagaman. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun anak-anak berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka berhasil membangun lingkungan yang saling menghormati dan mendukung. Pendidikan mengenai keberagaman serta kesempatan untuk berbagi pengalaman terbukti memperkuat keterampilan sosial seperti empati dan kerja sama. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga lain dalam mengelola keberagaman secara inklusif dan positif.
GAMBARAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK PADA USIA PRASEKOLAH DI TK X Natahsya, Ananda; Astuti, Niken Widi
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7231

Abstract

Perkembangan sosial emosional dapat didefinisikan sebagai kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika melakukan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan sosial emosional yang baik memberikan dampak positif bagi anak, seperti kemampuan mengelola emosi, keterampilan sosial, dan peningkatan kepercayaan diri. Anak yang berkembang optimal secara sosial emosional cenderung memiliki hubungan interpersonal yang sehat, kinerja akademik yang baik, serta kemampuan berempati yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana gambaran mengenai perkembangan sosial emosional pada anak usia dini yang ada di TK X. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling, dengan melakukan wawancara kepada tiga orang guru dan tiga orang Ibu lalu dilakukan observasi dengan tiga siswa yaitu, siswa Y, siswa B dan siswa C. Berdasarkan hasil analisis, siswa Y, siswa B dan siswa C dapat memenuhi dimensi sosial emosional yaitu, dimensi kepatuhan, fungsi adaptif, otonomi, memengaruhi dan interaksi bersama orang lain. Namun salah satu siswa yaitu, siswa C masih belum memenuhi dimensi pengaturan diri dan dimensi komunikasi dan hanya siswa Y dan siswa B yang memenuhi dimensi pengaturan diri dan dimensi komunikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa salah satu dari ketiga siswa yaitu siswa C masih belum memiliki sosial emosional yang baik, karena dari ketujuh dimensi yang terpenuhi hanya lima dimensi yaitu, dimensi kepatuhan, fungsi adaptif, otonomi, memengaruhi dan interaksi bersama orang lain.Kata Kunci: Sosial Emosional; Taman kanak-kanak; Usia Prasekolah
PENERAPAN NILAI SILA KETIGA DALAM LINGKUNGAN PENDIDIKAN Febrianti, Eka; Viani, Theresia Patria; Priscilia, Lidwina; Senjani, Dita Permata; Ghaisani, Kayla Rossita; Tumanggor, Raja Oloan
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7232

Abstract

Penerapan nilai sila ketiga yaitu kesatuan dalam lingkungan pendidikan merupakan hal yang harus dilaksanakan oleh siswa maupun guru di lingkup pendidikan. Hal ini berhubungan dengan Indonesia sebagai negara kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menyimpan keberagaman dalam bentuk budaya, etnis, dan agama. Persatuan Indonesia bukan hanya soal mengatasi perbedaan yang ada, tetapi juga tentang merayakan keragaman itu sebagai kekuatan. Komunikasi terbuka dan sikap toleransi perlu dikembangkan untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang rukun. Untuk itu, sila ketiga dalam Pancasila hadir untuk mengikat keragaman tersebut. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam materi pembelajaran menjadikan langkah yang baik oleh pemerintah untuk mendukung masyarakat Indonesia. Pancasila secara tegas menempatkan persatuan sebagai salah satu prinsip nilai yang fundamental dalam ideologi dasar bagi Bangsa Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia. Melalui sila persatuan, Bangsa Indonesia memiliki pedoman mengenai persatuan dan kesatuan merupakan suatu hal yang tidak boleh dilewatkan untuk tetap menjaga keharmonisan antara sesama manusia dan Bangsa Indonesia dapat menjadi negara maju dan bermartabat. Seluruh masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga kesatuan wilayah Bangsa Indonesia, apabila persatuan serta keutuhan telah tercapai maka hal ini dapat dijadikan sebagai kekuatan bagi Bangsa Indonesia. The application of the third principle of unity in the educational environment is something that must be implemented by students and teachers in the scope of education. This is related to Indonesia as an archipelago spread from Sabang to Merauke that holds diversity in the form of culture, ethnicity and religion. Indonesian unity is not only about overcoming differences, but also about celebrating diversity as a strength. Open communication and tolerance need to be developed to create a harmonious society. For this reason, the third principle of Pancasila is present to bind the diversity. Integrating the values of Pancasila into learning materials is a good step by the government to support Indonesian society. Pancasila firmly places unity as one of the fundamental value principles in the basic ideology for the Indonesian people, as stated in the third principle, namely Indonesian Unity. Through the precepts of unity, the Indonesian people have guidelines regarding unity and integrity is something that should not be missed to maintain harmony between fellow human beings and the Indonesian nation can become a developed and dignified country. The whole community has an obligation to maintain the territorial unity of the Indonesian nation, if unity and integrity have been achieved then this can be used as a strength for the Indonesian nation.

Filter by Year

2023 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 4 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 11 No. 3 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 11 No. 2 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 11 No. 1 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 5 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 4 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 3 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 2 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 1 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 9 No. 3 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 9 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 8 No. 4 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 8 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 8 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konselin Vol. 7 No. 5 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 4 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 6 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 6 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 6 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 5 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 5 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 5 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 4 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 4 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 4 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 3 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 3 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 3 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 2 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 2 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 2 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 3 (2023): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2023): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 1 (2023): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling More Issue