cover
Contact Name
Endah Yuniarti
Contact Email
endah.yuniarti13@gmail.com
Phone
+6288228529508
Journal Mail Official
irosyadi@unsurya.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kedirgantaraan R. 104 Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Jl. Halim Perdanakusuma Jakarta - 13610 Telp. 021 8093475 ext 125 Fax. 021 8009246 e-mail: ftkunsurya@gmail.com
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Dirgantara
ISSN : -     EISSN : 28302958     DOI : https://doi.org/10.35894/jmd
Jurnal Mahasiswa Dirgantara is published by Aerospace Engineering Department, Faculty of Aerospace Engineering, UNSURYA, Jakarta-Indonesia. JMD is an open-access peer reviewed journal that mediates the dissemination of academicians, researchers, and practitioners in mechanical engineering. JMD accepts submission from all over the world, especially from Indonesia. Jurnal Mahasiswa Dirgantara aims to provide a forum for national and international academicians, researchers and practitioners on Aerospace engineering to publish the original articles. All accepted articles will be published and will be freely available to all readers with worldwide visibility and coverage. The scope of JMD is specific topics issues in Aerospace engineering such as design, structure, manufacture, material and control system.
Articles 53 Documents
Perancangan Alat Peraga Sensor Thermocouple Exhaust Gas Temperature dengan Software Autocad dan Arduino IDE Agus Tri Mulyono; Bambang Wahyu Prio Primantoro
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i1.79

Abstract

sensor thermocouple merupakan salah satu komponen yang bisa dibilang telah menjadi standar dalam industri penerbangan untuk memantau kinerja engine pesawat terbang. Sensor thermocouple saat ini populer digunakan untuk parameter pengukuran di exhaust gas temperature atau EGT pada engine pesawat terbang. Prinsip cara kerja sensor thermocouple pada exhaust gas temperature menjadi dasar latar belakang pembuatan rancangan alat peraga ini. Proses perancangan alat peraga ini menggunakan software AutoCAD untuk merancang wiring diagram dan Arduino IDE untuk pemrograman dan dengan menggabungkan sensor thermocouple type K, MAX 6675, mikrokontroler arduino Uno R3, LCD 16X2 1602, relay dan heating components. Sensor thermocouple akan terkoneksi dengan mikrokontroler yang sudah diprogram dan akan melakukan pengukuran temperature pada heating components yang didalamnya dilengkapi dengan fan. Rancangan alat peraga ini akan mengukur temperature dari range 0o hingga 150o celcius, alat peraga akan otomatis mati apabila temperature telah mencapai 150o celcius dan akan kembali menyala apabila temperature telah turun di angka 120o celcius dengan perkiraan waktu 15-30 detik.   The thermocouple sensor is a component that can be said to have become a standard in the aviation industry for monitoring aircraft engine performance. Thermocouple sensors are currently popularly used for measuring exhaust gas temperature or EGT parameters in aircraft engines. The principle of how the thermocouple sensor works on exhaust gas temperature is the basic background behind the design of this teaching aid. The process of designing this teaching aid uses AutoCAD software to design wiring diagrams and Arduino IDE for programming with a combination of type K thermocouple sensors, MAX 6675, Arduino Uno R3 microcontroller, LCD 16X2 1602, relays and heating components. The thermocouple sensor will be connected to a programmed microcontroller and will measure the temperature of the heating components which are equipped with a fan. The design of this teaching aid will measure temperatures in the range of 0o to 150o Celsius, the prop will automatically turn off if the temperature has reached 150o Celsius and will turn back on if the temperature has dropped to 120o Celsius with an estimated time of 15-30 seconds.
Analisis Jangkauan Maksimum Pesawat Airbus A330-300 dan Boeing 777-300 Dari Bandara Dhoho Kediri Untuk Penerbangan Komersial Dikayevsky, Muhammad Djody; Erna Shevilia; Ade Julizar
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i1.128

Abstract

Penerbangan komersial merupakan salah satu elemen vital dalam infrastruktur transportasi modern yang mendukung hubungan dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pesawat komersial seperti Airbus A330-300 dan Boeing 777-300 adalah dua jenis pesawat berbadan lebar yang sering digunakan dalam penerbangan jarak jauh. Menentukan jangkauan maksimum Pesawat Airbus A330-300 dan Boeing 777-300 dari Bandara Dhoho Kediri sangat diperlukan sebagai studi kasus. Jarak jangkauan maksimum pesawat Airbus A330-300 dari Bandara Dhoho Kediri dengan MTOW 242.000 kg dan fuel 69.886 kg adalah 4.760 nm. Dengan penumpang sebanyak 440, berat cargo 20 kg per penumpang, dan berat cabin bagasi 7 kg per penumpang. Jarak jangkauan maksimum pesawat Boeing 777-300 dari Bandara Dhoho Kediri dengan ATOW 281.901 kg dan fuel 84.421 kg adalah 4.125,2 nm. Dengan penumpang sebanyak 368, berat cargo 20 kg per penumpang, dan berat cabin bagasi 7 kg per penumpang.adalah 4.125,2 nm. Berdasarkan hasil perhitungan jangkauan maksimum pesawat Airbus A330-300 dan pesawat Boeing 777-300, pesawat yang dapat mencapai ke Jeddah untuk ibadah Umrah atau Haji yaitu pesawat Airbus A330-300 dengan jarak jangkauan maksimum 4.760 nm. Sedangkan untuk pesawat Boeing 777-300 dengan jarak jangkauan maksimum 4.125,2 nm, dapat mencapai Bandara Internasional Aden, Yaman. Selisih jarak jangkauan pesawat Airbus A330-300 dengan Boeing 777-300 adalah 634,8 nm.   Commercial aviation is a vital element of modern transportation infrastructure that supports global connectivity and regional economic growth. Aircraft like the Airbus A330-300 and Boeing 777-300 are types of wide-body aircraft commonly used for long-haul flights. Determining the maximum range of the Airbus A330-300 and Boeing 777-300 from Dhoho Kediri Airport is essential for this case study. The maximum range of the Airbus A330-300 from Dhoho Kediri Airport, with an MTOW of 242,000 kg and fuel capacity of 69,886 kg, is 4,760 nm. It accommodates 440 passengers, with 20 kg of cargo per passenger and 7 kg of cabin baggage per passenger. The maximum range of the Boeing 777-300 from Dhoho Kediri Airport, with an ATOW of 281,901 kg and fuel capacity of 84,421 kg, is 4,125.2 nm. It accommodates 368 passengers, with 20 kg of cargo per passenger and 7 kg of cabin baggage per passenger Based on the maximum range calculations, the Airbus A330-300, with a maximum range of 4,760 nm, can reach Jeddah for Umrah or Hajj. Meanwhile, the Boeing 777-300, with a maximum range of 4,125.2 nm, can reach Aden International Airport, Yemen. The range difference between the Airbus A330-300 and the Boeing 777-300 is 634.8 nm.
Analisis Bird Strike Pada Bagian Struktur Sayap Pesawat UAV JATAYU-01 dengan Variasi Kecepatan dan Material Candra Pranoto; Budi Aji Warsiyanto; Endah Yuniarti
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i1.129

Abstract

Keselamatan penerbangan merupakan aspek krusial dalam sistem transportasi udara, termasuk pada operasional pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) yang kini semakin luas digunakan di berbagai sektor. Salah satu ancaman serius terhadap keselamatan dan kelayakan operasional UAV adalah bird strike, yaitu tumbukan antara pesawat dan burung yang dapat menyebabkan kerusakan struktural signifikan, terutama pada bagian sayap. Sayap merupakan komponen kritis yang rentan terhadap dampak tumbukan karena posisinya yang terbuka dan luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerusakan pada struktur sayap pesawat UAV JATAYU-01 akibat bird strike, dengan memvariasikan jenis material skin serta kecepatan tumbukan. UAV JATAYU-01 dikategorikan sebagai small UAV, sehingga sangat rentan terhadap dampak langsung bird strike. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Abaqus CAE untuk memperoleh nilai energi internal, tegangan (stress), dan regangan (displacement) yang terjadi pada struktur sayap. Konfigurasi struktur sayap terdiri dari core berbahan Styrofoam, low spar dan upper spar dari material komposit Carbon UD, serta skin yang divariasikan antara Balsa wood dan Styrofoam. Kecepatan tumbukan burung dalam simulasi divariasikan pada 20 m/s, 30 m/s, dan 40 m/s. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kecepatan 40 m/s, skin berbahan Balsa wood menyerap energi sebesar 22,759 J dengan displacement 2,207 mm, sementara skin berbahan Styrofoam menyerap energi sebesar 29,271 J dengan displacement 9,494 mm. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan material skin sangat berpengaruh terhadap daya tahan struktur UAV terhadap bird strike, dan menjadi pertimbangan penting dalam desain UAV yang aman dan andal dalam operasional di wilayah rawan burung.   Aviation safety is a critical aspect of air transportation systems, including the operation of Unmanned Aerial Vehicles (UAVs), which are increasingly utilized across various sectors. One of the major threats to UAV operational safety is bird strike—collisions between birds and aircraft—that can cause significant structural damage, particularly to the wings, which are vulnerable due to their exposed and broad surface. This study aims to analyze the structural damage to the wing of the UAV JATAYU-01 resulting from bird strikes by varying the skin material and impact velocity. The JATAYU-01 is classified as a small UAV, making it especially susceptible to such impacts. Simulations were conducted using Abaqus CAE software to evaluate internal energy, stress, and displacement values on the wing structure. The wing configuration includes a Styrofoam core, carbon UD composite for the low and upper spars, and skin made of either Balsa wood or Styrofoam. Bird impact velocities of 20 m/s, 30 m/s, and 40 m/s were tested. Results indicate that at 40 m/s, the Balsa wood skin absorbed 22.759 J of energy with a displacement of 2.207 mm, while the Styrofoam skin absorbed 29.271 J with a displacement of 9.494 mm. These findings highlight the significant influence of skin material selection on a UAV’s structural resistance to bird strikes and underscore its importance in designing UAVs capable of safe and reliable operation in bird-prone airspace
Analisis Kelaiktabrakan (Crashworthiness) Badan Pesawat Tanpa Awak (UAV) Ritewing Drak Menggunakan Metode Elemen Hingga Eros Ray; Syarifah Fairuza; Budi Aji Warsiyanto
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i1.130

Abstract

Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) adalah kendaraan udara yang beroperasi tanpa pilot, dan semakin banyak digunakan untuk berbagai misi sipil maupun militer. Pemilihan material UAV sangat penting karena memengaruhi performa struktural, efisiensi, dan keselamatan. Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi material dan kecepatan tumbukan terhadap respons struktural fuselage UAV Ritewing Drak menggunakan metode elemen hingga. Tiga material diuji, yaitu kevlar, carbon fiber, dan fiber glass, dengan kecepatan tumbukan 4 m/s, 6 m/s, dan 8 m/s. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kevlar memiliki nilai indeks kegagalan Tsai-Hill terendah sebesar 0,03411, lebih baik dibandingkan carbon fiber (0,03788) dan fiber glass (0,04121). Ketiga material menunjukkan deformasi plastik pada foam, namun masih dalam batas aman karena nilai Tsai-Hill tidak melebihi kriteria kegagalan. Peningkatan kecepatan menyebabkan peningkatan nilai Tsai-Hill dan deformasi: pada 4 m/s, 6 m/s, dan 8 m/s berturut-turut menghasilkan nilai Tsai-Hill sebesar 0,0211; 0,0261; dan 0,0341, serta nilai equivalent plastic strain pada foam sebesar 5,125; 10,29; dan 18,74. Simulasi membuktikan bahwa struktur UAV dengan material kevlar mampu memenuhi syarat kelaiktabrakan dan layak digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan ketahanan benturan.   Unmanned Aerial Vehicles (UAVs), commonly known as drones, are aircraft that operate without an onboard pilot and are increasingly used in both civil and military applications. Material selection plays a critical role in UAV design, as it directly affects structural performance, energy efficiency, payload capacity, and operational safety. This study investigates the effect of material variation and impact velocity on the structural response of the Ritewing Drak UAV fuselage using the Finite Element Method (FEM). Three materials—kevlar, carbon fiber, and fiberglass—were evaluated under impact velocities of 4 m/s, 6 m/s, and 8 m/s. Simulation results indicate that kevlar exhibits the best crashworthiness performance, with the lowest Tsai-Hill failure index of 0.03411, compared to carbon fiber (0.03788) and fiberglass (0.04121). All materials experienced significant plastic deformation in the foam component, yet remained within acceptable limits, as their Tsai-Hill values did not exceed the critical failure threshold. Increasing impact velocity resulted in higher Tsai-Hill values and greater deformation: at 4 m/s, 6 m/s, and 8 m/s, the Tsai-Hill indices were 0.0211, 0.0261, and 0.0341 respectively, with equivalent plastic strain in the foam of 5.125, 10.29, and 18.74. These findings suggest that kevlar is the most suitable material for UAV fuselages in applications requiring high crashworthiness, as it provides superior structural integrity under impact conditions.
Rancang Bangun Alat Peraga Simulasi Kerja Spoiler Pada Pesawat Terbang Al Farabi, Awfa Azka; Mufti Arifin; Evi Endarti
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i1.80

Abstract

Spoiler is one of the components that has an important role in an airplane. This component serves to slow down the speed of an aircraft both in the air and on the ground. However, due to its classification as part of secondary flight control, its understanding is often limited to the general public as a braking device on an aircraft without paying attention to the complexity of its functions and mechanisms. Therefore, the design of this spoiler simulation is expected to help in understanding the work simulation of a spoiler on an aircraft. This tool is designed with a simple working system using a syringe and hose as a simple depiction of the hydraulic system performance on the aircraft, which is also equipped with a series of electrical systems consisting of arduino, servo and microswitch as a support system for this tool so that it can describe the difference in performance between flight spoiler (speed brake) and ground spoiler. The wing structure of this tool is made of thermoplastic material (PLA) and mica plastic, so that it can make it easier to see how this tool can work. This tool is also equipped with a lever that is duplicated as the original according to the aircraft. Based on the design and assembly that has been done, this tool is proven to work successfully in accordance with its respective functions.
Analisis Pemeliharaan Scuff Plate Door Pesawat Menggunakan Critical Path Method Fawwaz, Muhammad Abhista; Freddy Franciscus; Warsiyanto, Budi Aji
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.159

Abstract

Pemeliharaan pesawat yang efisien merupakan faktor penting dalam menjaga keselamatan dan keberlanjutan operasional, termasuk pada komponen minor seperti scuff plate door yang berfungsi sebagai pelindung struktural dari abrasi dan benturan. Meskipun komponen ini tergolong wear part, keterlambatan dalam pemeliharaannya dapat berkontribusi terhadap peningkatan downtime pesawat. Penelitian ini bertujuan menganalisis optimasi waktu pemeliharaan Scuff Plate Door pada pesawat Boeing 737–300 menggunakan Critical Path Method (CPM) sebagai model penjadwalan deterministik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan pemodelan jaringan kerja berdasarkan data aktivitas pemeliharaan aktual yang diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara teknisi berpengalaman di fasilitas perawatan. Sebanyak 15 aktivitas pemeliharaan dimodelkan dalam jaringan CPM untuk menentukan Earliest Start (ES), Earliest Finish (EF), Latest Start (LS), Latest Finish (LF), serta float. Hasil analisis menunjukkan bahwa jalur kritis terdiri dari 10 aktivitas utama dengan total durasi 75 jam, lebih rendah dibandingkan durasi aktual sebesar 86 jam. Implementasi CPM berpotensi menurunkan Turn Around Time (TAT) dari 11,47 hari kerja menjadi 10 hari kerja.Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan CPM pada pemeliharaan komponen minor dapat meningkatkan efisiensi waktu dan mendukung optimalisasi perencanaan sumber daya tanpa mengubah prosedur teknis perawatan yang berlaku.   Efficient aircraft maintenance plays a critical role in ensuring operational safety and minimizing aircraft downtime, including for minor components such as the scuff plate door, which functions as a structural protective element against abrasion and impact. Although classified as a wear component, delays in its maintenance may contribute to extended aircraft ground time and reduced operational availability. This study aims to analyze maintenance time optimization of the Boeing 737–300 Scuff Plate Door using the Critical Path Method (CPM) as a deterministic scheduling model. A quantitative-descriptive approach was employed through network modeling of maintenance activities based on actual operational data obtained from field observations and structured interviews with experienced maintenance technicians. Fifteen maintenance activities were structured into a CPM network to determine the Earliest Start (ES), Earliest Finish (EF), Latest Start (LS), Latest Finish (LF), and total float for each task. The analysis identified ten critical activities forming the critical path with a total duration of 75 hours, compared to the recorded actual duration of 86 hours. The implementation of CPM demonstrates potential to reduce the Turn Around Time (TAT) from 11.47 working days to 10 working days. The findings indicate that applying CPM to minor structural component maintenance can improve scheduling efficiency and resource planning without altering established technical maintenance procedures, thereby supporting more reliable aircraft operational performance.
Analisis Risk Priority Number (RPN) Menggunakan Failure Mode And Effects Analysis (FMEA) Terhadap Hasil Inspeksi Airworthiness Putra, Rizky Aulia; Lestari, Aprilia Sakti Kusuma; Sari, Rafika Arum
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.177

Abstract

Keselamatan penerbangan merupakan aspek krusial yang dijaga melalui standar teknis dan prosedur inspeksi kelaikudaraan (airworthiness). Namun, hasil inspeksi masih berpotensi mengandung kegagalan baik teknis maupun administratif yang berdampak pada legalitas dan keselamatan operasi pesawat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi kegagalan pada hasil inspeksi kelaikudaraan serta menentukan prioritas risikonya menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Analisis dilakukan dengan menghitung Risk Priority Number (RPN) melalui tiga parameter, yaitu Severity (S), Occurrence (O), dan Detection (D). Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan personel inspeksi, dan telaah dokumen teknis. Hasil penelitian menemukan empat potensi kegagalan utama, yaitu kerusakan kursi cabin crew (RPN 150), dokumen pesawat hampir kedaluwarsa (RPN 140), laporan uji altimeter dan transponder (RPN 96), serta Slide Assy Escape mendekati kedaluwarsa (RPN 81). Berdasarkan temuan tersebut, kerusakan kursi cabin crew memiliki risiko tertinggi. Rekomendasi perbaikan mencakup digitalisasi dokumentasi, penerapan sistem pengingat otomatis, peningkatan pemeriksaan fisik kabin, serta integrasi metode FMEA ke dalam SOP inspeksi guna meningkatkan efektivitas pengawasan kelaikudaraan.
Analisis Analisis Insiden Drone PIXYZ RTK X-245 Skymagic pada Acara Drone Light Show Bundaran HI Tahun Baru 2025 Alrasyid, Mochammad Rafihan; Martina, Ayu; Warsiyanto, Budi Aji
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.190

Abstract

Insiden jatuhnya 22 unit drone PiXYZ RTK X-245 pada uji coba Drone Light Show di kawasan Bundaran Hotel Indonesia menjelang Tahun Baru 2025 menyoroti tantangan keselamatan operasi drone massal di wilayah urban padat. Lingkungan perkotaan dengan efek urban canyon dan kepadatan spektrum frekuensi meningkatkan risiko gangguan simultan pada sistem navigasi Real Time Kinematic (RTK) dan komunikasi Command and Control (C2), yang dapat memicu kegagalan sistem berantai. Penelitian ini bertujuan menganalisis akar penyebab insiden dari aspek teknis, manusia, prosedural, dan lingkungan, serta mengevaluasi keandalan sistem failsafe dan kesesuaian mitigasi risiko terhadap karakteristik operasi urban. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Root Cause Analysis (RCA) berbasis diagram fishbone, didukung oleh laporan insiden operator, observasi regulator, dokumen mitigasi risiko, analisis teknis sistem, serta data meteorologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa hilangnya RTK dan C2 secara bersamaan dipengaruhi oleh efek multipath GNSS dan interferensi frekuensi pita 2,4 GHz. Selain itu, sistem failsafe belum dilengkapi navigasi alternatif, logika pemulihan bertahap, maupun mekanisme override manual yang memadai. Dokumen mitigasi risiko juga belum mencantumkan analisis spektrum dan simulasi kehilangan sinyal massal yang kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain failsafe dan mitigasi risiko yang ada belum memadai untuk operasi drone massal di wilayah urban, sehingga diperlukan pendekatan mitigasi adaptif yang selaras dengan regulasi nasional.   The crash of 22 PiXYZ RTK X-245 drones during a Drone Light Show rehearsal at Bundaran Hotel Indonesia prior to the 2025 New Year highlights critical safety challenges in large-scale drone operations within dense urban environments. Urban canyon effects and high radio-frequency congestion increase the risk of simultaneous degradation of Real Time Kinematic (RTK) navigation and Command and Control (C2) communication, potentially triggering cascading system failures. This study aims to analyze the root causes of the incident from technical, human, procedural, and environmental perspectives and to evaluate the reliability of the implemented failsafe system and the adequacy of risk mitigation measures for urban operations. A qualitative descriptive approach was applied using Root Cause Analysis (RCA) with a fishbone diagram, supported by operator incident reports, regulator observations, technical documentation, risk mitigation records, and meteorological data. The results indicate that concurrent RTK and C2 signal loss was primarily driven by GNSS multipath effects and severe interference in the 2.4 GHz frequency band. Furthermore, the failsafe system lacked alternative navigation capabilities, progressive recovery logic, and effective manual override mechanisms. Existing risk mitigation documents also failed to include spectrum analysis and mass signal-loss simulations tailored to urban conditions. This study concludes that current failsafe designs and mitigation strategies remain insufficient for safe large-scale drone operations in urban areas, emphasizing the need for adaptive, context-specific mitigation aligned with national regulations.
Penentuan Jarak Aman Permukiman Berdasarkan Jarak Kebisingan Terhadap Lintas Terbang Approach ILS Runway 24 Bandar Udara Halim Perdanakusuma Ramadani, Nurul Fitri; Agustian, Erna Shevilia; Arifin, Mufti
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.210

Abstract

Bandar udara berperan penting sebagai pusat aktivitas transportasi dan ekonomi, namun peningkatan intensitas operasional penerbangan dapat menimbulkan permasalahan kebisingan yang berdampak pada kenyamanan dan kesehatan masyarakat di kawasan sekitarnya. Salah satu fase penerbangan yang berkontribusi signifikan terhadap kebisingan adalah fase pendekatan (approach), khususnya pada lintasan Instrument Landing System (ILS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jarak aman kawasan permukiman terhadap paparan kebisingan pesawat pada lintasan approach ILS Runway 24 Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Metode yang digunakan berupa analisis teoritis tingkat kebisingan berbasis data sertifikasi kebisingan pesawat dari Federal Aviation Administration (FAA), dengan pendekatan perhitungan Sound Pressure Level (SPL) dan asumsi perambatan kebisingan di ruang bebas. Analisis dilakukan pada tiga titik lintasan approach, yaitu 1,8 nm, 3 nm, dan 6 nm, untuk beberapa tipe pesawat yang umum beroperasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tipe pesawat menghasilkan jarak paparan kebisingan yang berbeda, dengan jarak terjauh dihasilkan oleh Boeing 737-300 (±7,07 km), diikuti Airbus A320-214 (±4,07 km), Dassault Falcon 7X (±3,38 km), dan ATR 72-200 (±2,95 km). Evaluasi pada seluruh titik lintasan menunjukkan bahwa tingkat kebisingan yang dihasilkan masih melampaui ambang batas 55 dBA untuk kawasan permukiman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi awal dalam perencanaan tata ruang kawasan sekitar bandara serta sebagai dasar pengendalian dampak kebisingan penerbangan.   Airports play a vital role as centers of transportation and economic activity; however, increasing flight operations can generate noise issues that adversely affect the comfort and health of surrounding communities. One of the flight phases that significantly contributes to aircraft noise is the approach phase, particularly along the Instrument Landing System (ILS) flight path. This study aims to analyze the safe distance of residential areas from aircraft noise exposure along the ILS approach path of Runway 24 at Halim Perdanakusuma Airport. The research employs a theoretical noise analysis based on aircraft noise certification data issued by the Federal Aviation Administration (FAA), using a Sound Pressure Level (SPL) calculation approach with the assumption of free-field noise propagation. The analysis is conducted at three approach points, namely 1.8 nm, 3 nm, and 6 nm, for several aircraft types commonly operating at the airport. The results indicate that each aircraft type produces a different noise exposure distance, with the Boeing 737-300 generating the longest distance (approximately 7.07 km), followed by the Airbus A320-214 (approximately 4.07 km), the Dassault Falcon 7X (approximately 3.38 km), and the ATR 72-200 (approximately 2.95 km). Evaluation at all approach points shows that the noise levels exceed the 55 dBA threshold for residential areas. The findings of this study are expected to serve as an initial reference for spatial planning in airport surrounding areas and as a basis for mitigating the impact of aircraft noise.
Analisis komparatif efisiensi metode NDT (Non-Destructive Testing) Eddy Current Testing dan Ultrasonic Testing dalam pemeliharaan pesawat komersial muhammad zulfikar azzurri; Fairuza, Syarifah; Mufti Arifin; Aswan Tajuddin
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.93

Abstract

Pesawat terbang  merupakan alat transportasi udara yang banyak diminati oleh masyarakat di era sekarang ini. Namun, pesawat terbang juga memiliki batas kemampuan waktu maupun usianya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efisiensi antara Eddy Current Testing (ECT) dan Ultrasonic Testing (UT) pada pesawat komersil. Kedua metode NDT ini secara luas digunakan dalam industri penerbangan untuk memastikan integritas struktur pesawat. Dalam industri penerbangan, keselamatan dan keandalan pesawat komersial menjadi prioritas utama. Non-Destructive Testing (NDT) merupakan metode penting untuk mendeteksi cacat tanpa merusak komponen. Pesawat terbang sebagai alat transportasi yang kompleks terdiri dari berbagai komponen material yang terus menerus terpapar kondisi ekstrem selama penerbangan. Oleh karena itu, pemeliharaan yang efektif menjadi kunci untuk memastikan keselamatan dan keberlanjutan operasional pesawat. Dua teknik NDT yang utama dalam analisa ini adalah Eddy Current Testing (ECT) dan Ultrasonic Testing (UT). ECT efektif dalam mendeteksi cacat permukaan pada material logam, sementara UT lebih unggul dalam mendeteksi cacat internal dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan kesimpulan bahwa kombinasi ECT dan UT meningkatkan akurasi deteksi cacat, sehingga memperkuat keselamatan operasional pesawat komersial.