cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 188 Documents
Rebaban Gending Rondhon Kethuk Sekawan Awis Minggah Wolu Laras Slendro Pathet Sanga Versi K. R. R. A. T. Saptodiningrat Nazilla, Diaz Hayu; Wijayanto, Bayu; Teguh, Teguh
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10718

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penggunaan cengkok rebab dan penerapannya pada Gending Rondhon versi K.R.R.A.T. Saptodiningrat. Umumnya teknik di dalam ricikan rebab adalah teknik kosokan rebab, sementara cengkok rebab lebih mengarah kepermainan lagu rebab sebuah gending. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, pendekatannya menggunakan peran musikal, konsep garap dan konsep mungguh. Cengkok rebab dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni cengkok umum; cengkok khusus; cengkok tuturan serta cengkok gantungan. Faktor penentu dalam penggunaan cengkok rebab diantaranya: 1) faktor musikal yang meliputi balungan gending, bentuk gending dan garap ricikan lain, 2) Konsep sajian gending (seleh), 3) Kreativitas pengrebab dalam mengembangkan wiledan pada garap rebab. Berdasarkan faktor tersebut, dapat dilihat bahwa K.R.R.A.T. Saptodiningrat menggunakan 4 cengkok rebab yang disebutkan sebelumnya serta keragaman wiledan yang ada pada garap rebab Gending Rondhon ini. Mengingat jangkauan nada pada rebab sangat luas, sehingga tidak menutup kemungkinan bagi para pengrebab untuk mengembangkan wiledan masing-masing. Berpijak dari hal tersebut, wiledan dapat menjadi salah satu ciri khas tiap pengrebab karena tiap pengrebab memiliki rasa mungguh sendiri.Rebaban Gending Rondhon Kethuk Sekawan Awis Minggah Wolu Laras Slendro Pathet Sanga Version K. R. R. A. T. SaptodiningratThis study aims to analyze the factors of using cengkok rebab and their application to the K. R. R. A. T. Saptodiningrat version of Gending Rondhon. Generally, the technique in ricikan rebab is the kosokan rebab technique, while cengkok rebab is more directed to the game of a gending rebab song. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach, the approach uses musical roles, garap concepts and mungguh concepts. Cengkok rebab can be grouped into 4, namely cengkok umum; cengkok special; cengkok tuturan and cengkok gantungan. The determining factors in the use of cengkok rebab include: 1) musical factors which include gending balungan, forms gending and other garap ricikan, 2) the concept of gending (seleh) presentation, 3) the creativity from pengrebab to expand wiledan on garap rebab. Based on these factors, it can be seen that K. R. R. A. T. Saptodiningrat uses the 4 cengkok rebab mentioned earlier and the diversity of wiledan in this garap rebab Gending Rondhon. Given the range of tones pengrebab is very wide, it does not rule out the possibility for pengrebab to develop their respective wiledans. Based on this, wiledan can be one of the characteristics of pengrebab because pengrebab has its own mungguh of taste.
Model Blended Learning Pada Pembelajaran Tari Kreasi di Kelas IX SMP Negeri 11 Yogyakarta Alifia Nur Agustin; Dilla Octavianingrum; Ujang Nendra Pratama
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model Blended learning diterapkan di SMP Negeri 11 Yogyakarta pada awal pandemi covid-19, dikarenakan  proses kegiatan belajar mengajar yang menimbulkan kerumunan ditiadakan. Model Blended learning merupakan solusi dalam  mengatasi permasalahan situasi pandemi covid-19 khususnya pada materi pembelajaran tari kreasi di SMP Negeri 11 Yogyakarta. Aplikasi yang digunakan yaitu Google Classroom, Youtube, dan video pembelajaran. Penggunaan model Blended learning pada pembelajaran tari di kelas IX SMP Negeri 11 Yogyakarta menerapkan pembagian 3 kali pertemuan dalam jaringan (luring) atau 50%, dan 3 kali pertemuan luar jaringan (luring) atau 50%. Tahapan pembelajaran yang dipakai adalah Seeking of information, Acquisition of information, Synthesizing of knowledge. Seiring dengan wabah covid-19 yang mulai mereda, model Blended learning tetap digunakan dengan menggunakan Aplikasi Youtube dan Whatsapp. Model Blended learning pada pembelajaran tari kreasi di kelas IX dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menerima materi Tari Angguk Kenya Rinengga dan meningkatkan hasil belajar siswa.Kata kunci: Model Blended Learning, Pembelajaran Tari, Media PembelajaranBlended Learning Model for Creative Dance Learning in 9th Grade at SMP N 11 YogyakartaThe Blended learning model was implemented at Yogyakarta 11 Public Middle School at the start of the Covid-19 pandemic, because the teaching and learning process which caused crowds was eliminated. The Blended learning model is a solution in overcoming problems during the Covid-19 pandemic situation, especially in creative dance learning materials at SMP Negeri 11 Yogyakarta. The applications used are Google Classroom, Youtube, and learning videos. The use of the Blended learning model in dance learning in class IX at SMP Negeri 11 Yogyakarta applies the division of 3 meetings online (offline) or 50%, and 3 meetings offline (offline) or 50%. The learning stages used are Seeking of information, Acquisition of information, Synthesizing of knowledge. As the Covid-19 outbreak began to subside, the Blended learning model was still being used using the Yotube and Whatsapp applications. The Blended learning model in creative dance learning in class IX can improve students' understanding in receiving the Kenya Rinengga Angguk Dance material and improve student learning outcomes.Keywords: Blended Learning Model, Dance Learning, Instructional Media
Implementasi Gaya Vokal Broadway Pada Lagu "My Funny Valentine" Simbolon, Joel Parulian Budianto; Setiarini, Agnes Tika; Latif, Bakhrudin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12044

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan gaya vokal broadway pada lagu My Funny Valentine. Pada umumnya gaya vokal broadway merupakan gaya vokal klasik yang bergenre jazz. Namun dalam penelitian ini, peneliti memilih karakteristik story telling dalam pengimplementasian lagu My Funny Valentine. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis dari sudut pandang ilmu bentuk musik dan komposisi. Hasil dari penelitian ini pengimplementasian lagu dengan gaya vokal broadway sering melibatkan penekanan pada ekspresi emosional dan story telling yang kuat dengan interpretasi yang mendalam terhadap lagu My Funny Valentine. Penulis menggunakan beberapa pedoman dalam mengumpulkan data, seperti penelusuran situs-situs internet terkait info pencipta, buku yang berhubungan dengan biografi dan lagu My Funny Valentine. Proses penerapan story telling dalam lagu My Funny Valentine diawali dengan pengetahuan yang meliputi intonasi yang tepat, pernafasan yang terkontrol, penekanan dan dinamika yang tepat, serta ekspresi emosional bagi penyanyi. Kemudian analisis bagian lagu yang ingin diceritakan dan melakukan pelatihan. Proses ini mendukung implementasi yang mendalam sehingga pesan dari lagu dan cerita yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik.Kata kunci: gaya vokal, implementasi, BroadwayAbstractThe purpose of this research is to implement the broadway vocal style in the song My Funny Valentine. In general, the broadway vocal style is a classical vocal style with a jazz genre. However, in this research, the researcher chose story telling characteristics in implementing the song My Funny Valentine. Researchers used qualitative research methods with an analytical approach from the perspective of the science of musical form and composition. The results of this research are that implementing songs with a broadway vocal style often involves an emphasis on emotional expression and strong story telling with an in-depth interpretation of the song My Funny Valentine. The author used several guidelines in collecting data, such as searching internet sites related to creator information, books related to biographies, and the song My Funny Valentine. The process of implementing story telling in the song My Funny Valentine begins with knowledge that icludes the correct intonation, controlled breathing, accurate emphasis and dynamic, also emotional expression of a singer. Then analyzing the part of the song you want to tell and conducting training. This process supports in-depth implementation so that the message of the song and story that you want to convey can be conveyed well.keyword: vocal style, implementation, broadway
Pemeranan Tokoh Rangda Dalam Naskah Rangda Ing Jirah Karya Jeannete Lauren Adaptasi Novel Janda Dari Jirah Karya Cok Sawitri Surya Chintya Dharma; Wahid Nurcahyono; Catur Wibono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh Rangda Ing Jirah dalam naskah Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang karya Jeannete Lauren menjadi salah satu daya tarik untuk diwujudkan kedalam bentuk tokoh tiga dimensi diatas panggung karena peran yang dimainkan dalam satu karakter tokoh mengalami perkembangan dari tokoh sebagai Rangda Ing Jirah serta kemudian menjadi manifestasi Durga, di mana hal tersebut menggambarkan persona dan shadow seperti yang disampaikan Carl Jung. Pemilihan karakter tokoh Rangda sebagai karya tugas akhir keaktoran dilatar belakangi oleh sudut pandang tentang kisah Calonarang, kali ini tokoh Rangda Ing Jirah ialah tokoh protagonis. Adapun teori pemeranan dalam penciptaan tokoh Rangda Ing Jirah yang digunakkan ialah teori pemeranan representasi menurut Uta Hagen. Dalam merepresentasikannya didukung pula oleh teknik substitusi di mana menempatkan diri aktor dalam kenyataan kehidupan sendiri tanpa menggunakan kata seakan-akan. Pementasan tokoh ini bertajuk dramatari. Selain dialog tokoh, pemeranan akan didukung dengan tembang geguritan serta tarian Bali.Rangda Character Acting in Jeannete Lauren's Play “Rangda Ing Jirah”, Adaptation Of Cok Savitri’s Novel “Janda dari Jirah”The figure of Rangda Ing Jirah in the script Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang by Jeannete Lauren is one of the attractions to be embodied in the form of a three-dimensional character on stage because the role played in one character develops from a character as Rangda Ing Jirah and then becomes the manifestation of Durga, where it describes the persona and shadow as conveyed by Carl Jung. The background of the selection of the character Rangda as his final acting work is the perspective of the Calonarang story, this time the character Rangda Ing Jirah is the protagonist. The role theory used in the creation of the character Rangda Ing Jirah is the theory of representational play according to Uta Hagen. In representing it, it is also supported by substitution techniques in which the actor places himself in the reality of his own life without using the word “as if”. The performance of this character is entitled “dramatari”. In addition to character dialogue, the performance will be supported by “geguritan” songs and Balinese dances.
Manajemen Pembelajaran pada Ekstrakurikuler Angklung di SDIT Al-Khairaat Yogyakarta Asih, Dinda Wiati Ning; Octavianingrum, Dilla; Probosini, Agustina Ratri
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10461

Abstract

Permasalahan yang mendasari penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya peran guru dalam mengelola pembelajaran sehingga ekstrakurikuler angklung SDIT Al-Khairaat Yogyakarta sering diundang untuk mengisi acara. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan manajemen pembelajaran pada kegiatan ektrakurikuler angklung di SDIT Al-Khairaat Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian menujukkan bahwa manajemen pembelajaran yang diterapkan pada ekstrakurikuler angklung di SDIT Al-Khairaat Yogyakarta meliputi perencanaan pembelajaran, pengorganisasian pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan staffing. Penerapan manajemen ekstrkurikuler di SDIT Al-Khairaat Yogyakarta membuat peserta didik sering diundang untuk pentas pada berbagai acara. Ekstrakurikuler angklung tidak hanya mengembangkan keterampilan peserta didik, namun juga melatih sikap percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama yang tercermin pada saat proses pembelajaran angklung.The problem underlying this research is motivated by the teacher's role in managing learning so that the angklung extracurricular at SDIT Al-Khairaat Yogyakarta is often invited to attend events. The purpose of this study is to describe learning management in angklung extracurricular activities at SDIT Al-Khairaat Yogyakarta.This study uses a qualitative method with a case study research type. The results of the study show that the learning management applied to the angklung extracurricular at SDIT Al-Khairaat Yogyakarta includes lesson planning, learning organization, learning implementation, learning evaluation, and staffing. The application of extracurricular management at SDIT Al-Khairaat Yogyakarta makes students often invited to perform at various events. The angklung extracurricular not only develops students' skills, but also trains self-confidence, discipline, responsibility, and teamwork which is reflected in the angklung learning process.
Penggunaan Program Aplikasi Maestro dalam Pembelajaran Saxophone Siswa Kelas X Di SMK Negeri 8 Surakarta Sanjaya, Albertus Nico; Bramantyo, Triyono; Suryati, Suryati
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10030

Abstract

Membaca notasi balok dalam bermain instrumen musik merupakan salah satu pengetahuan dasar dalam bermusik yang perlu dikuasai setiap siswa, hal ini bertujuan agar siswa memiliki pondasi bermain saxophone dengan baik. Penelitian ini akan berfokus pada penggunaan aplikasi maestro untuk meningkatkan membaca notasi balok siswa kelas X di SMK Negeri 8 Surakarta. Permasalahan yang terjadi pada siswa kelas X instrumen saxophone, yaitu siswa tidak dapat membaca notasi balok yang merupakan sebuah dasar dalam bermain musik. Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mendapatkan informasi secara terperinci dan mendalam mengenai penggunaan aplikasi maestro dalam pembelajaran saxophone untuk siswa kelas X di SMK Negeri 8 Surakarta. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, adanya permasalahan membaca notasi balok yang dialami siswa dikarenakan kurangnya kesadaran untuk melakukan latihan mandiri dan kendala pada guru praktik yang mengajar dua instrumen sekaligus sehingga siswa instrumen saxophone sering tidak mendapatkan mata pelajaran praktik instrumen. Proses penggunaan aplikasi maestro dilakukan dengan memberikan 50 Etude Faciles and Progressive sebagai materi pembelajaran dan aplikasi ini digunakan untuk membantu siswa cara membaca ritmis dan cara membaca tanda baca, seperti staccato, legato dengan cara menuliskan etude kedalam aplikasi kemudian memutar etude yang telah dituliskan dan siswa dapat mengidentifikasi bagaimana cara memainkan ritmis atau tanda baca tersebut dengan benar. Hasil setelah penggunaan aplikasi maestro, siswa dapat membaca notasi balok dengan cukup baik dan pembelajaran dapat berjalan dengan cukup efektif. The Use of The Maestro Application Program in Saxophone Learning for Class X Students at SMK NEGERI 8 SURAKARTAReading music notation in playing musical instruments is one of the basic knowledge in music that needs to be mastered by every student, so that students have the foundation to play the saxophone. This research will focus on using the maestro application to improve the reading of block notation for class X students at SMK Negeri 8 Surakarta. The problem that occurs in class X students of the saxophone instrument is that students cannot read block notation which is a basis for playing music. The research was conducted using a qualitative research method with a case study approach to obtain detailed and in-depth information regarding the use of the maestro application in learning saxophone for class X students at SMK Negeri 8 Surakarta. Based on observations made, students experienced problems reading block notation due to a lack of awareness to do independent practice and constraints on practicing teachers who taught two instruments at once so that saxophone instrument students often did not get instrument practice subjects. The process of using the maestro application is carried out by providing 50 Etude Facilities and Progressives as learning material and this application is used to help students how to read rhythmically and how to read punctuation, such as staccato, legato by writing etude into the application then playing the etude that has been written and students can identify how to play the rhythm or punctuation correctly. The results after using the maestro application, students can read block notation quite well and the learning proses can run quite effectively. 
Transformasi Musik Iringan dalam Peribadatan di Gereja Methodist Indonesia Yogyakarta Wielvan Christian; Linda Sitinjak; Ezra Deardo Purba
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses transformasi yang terjadi pada musik iringan peribadatan serta untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan iringan musik peribadatan di Gereja Methodist Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi literatur. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori transformasi menurut Antoniades (1992) yang menejalaskan bahwa transformasi merupakan proses perubahan secara berangsur dalam pencapaian tahap perhentian yang terakhir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses transformasi akan terus berlangsung mengikuti perkembangan gereja, situasi, dan kondisi sosial gereja. Gereja mengimani bahwa melalui proses transformasi, Tuhan akan menolong untuk mencapai tujuan transformasi. Tuhan akan memberkati setiap usaha yang dilakukan gereja dalam transformasi. The Transformation of Music Accompaniment in Worship at Methodist Church Yogyakarta The purpose of this research is to find out the transformation process that occurs in worship music accompaniment and to find out the obstacles faced in the implementation of worship music accompaniment at the Indonesian Methodist Church Yogyakarta. This research uses a qualitative research method with a case study approach. Data were collected through observation, interview, and literature study. The theory used in this research is the theory of transformation according to Antoniades (1992) which explains that transformation is a process of gradual change in achieving the last stop stage. The results of this study show that the transformation process will continue to take place following the development of the church, the situation, and the social conditions of the church. The church believes that through the transformation process, God will help to achieve the goal of transformation. God will bless every effort made by the church in transformation.
Adaptasi Gaya Vokal Jazz Dalam Genre Fusion Rock Pada Lagu “Moonlight Serenade” Fortuna, Vialinda Dewi; Setiarini, Agnes Tika; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12000

Abstract

Penelitian tugas akhir ini merupakan respons ketertarikan penulis terhadap kurangnya eksplorasi dalam dunia musik, khususnya pada lagu jazz dengan sentuhan genre rock. Keberagaman genre dalam musik memiliki potensi eksplorasi yang luar biasa, dan diperlukan sesuatu yang baru dan inovatif ke dalam dunia musik yang selama ini terbiasa dengan batasan-batasan dalam genre.Penulis inginmenerapkan ekslplorasi ini berupa penggarapan lagu dengan genre fusion rock. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan pengumpulan data berupa sumber pustaka,diskografi, dan eksplorasi. Penulis bereksplorasi mengenai referensi musik yang akan dibawakan, dan mempelajari berbagai teknik yang akan digunakan. Hasil penelitan pada penyajian lagu Moonlight Serenade dalam genre fusion jazz rockdiharapkan menghasilkan pengalaman musik yang baru dan unik. Kolaborasi antara teknik vokal jazz dan rock menciptakan suasana dinamis yang memadukan kelembutan dengan keagresifan, menciptakan harmoni yang luar biasa. Penggabungan elemen-elemen improvisasi jazz dengan kekuatan dan dinamika rock memberikan dimensi yang kompleks pada interpretasi lagu ini.Kata kunci: Moonlight Serenade, Fusion jazz rock, adaptasi gaya  AbstractThe final project research is a response to the lack of exploration in the world of music, especially in the phenomenon of jazz songs with a touch of the rock genre. The diversity of genres in music has extraordinary exploration potential, and something new and innovative is needed in the music world that has been accustomed to limitations within genres. In this research, the method used is qualitative research, with data collection consisting of literature sources, discography, and exploration. The research results on the presentation of the song "Moonlight Serenade” in the fusion jazz rock genre are expected to produce a new and unique musical experience. The collaboration between jazz and rock vocal techniques creates a dynamic atmosphere that blends gentleness with aggressiveness, creating remarkable harmony. Combining jazz improvisation elements with the strength and dynamics of rock adds a complex dimension to the interpretation of this song.Keywords: Moonlight Serenade, Fusion jazz rock, style adaptation
EFEK PENERAPAN TEKNIK LEGATO TERHADAP KARAKTER SUARA GITAR PADA LAGU EDM (E-Dependent Mind) Johan Cahyadi Sinaga; Raden Agoeng Prasetyo; Mardian Bagus Prakosa
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan legato melalui teknik hammer-on dan pull-off dan mengetahui efek dari penerapan tersebut terhadap karakter suara gitar. Pada umumnya teknik permainan gitar pada genre heavy metal menggunakan teknik alternate picking sehingga memiliki kesan yang tegas. Namun, alternate picking sangat membebani kinerja tangan kanan pemain, khususnya pada lagu dengan tempo cepat seperti lagu EDM (E-Dependent Mind) Karya Kiko Loureiro. Penulis berharap penerapan legato dapat mengurangi beban kinerja tangan kanan dan efek lembut dari legato dapat memberikan karakter tersendiri dalam musik metal. Teori legato Joseph Alexander mengungkapkan bahwa penggunaan legato pada dasarnya untuk mengurangi kesan perkusif dan memungkinkan pemain untuk memainkan karya yang sangat cepat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus dalam penelitian ini adalah bagian improvisasi pada lagu EDM (EDependent Mind) karya Kiko Loureiro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pada implementasi dapat didukung dengan metode latihan sistematis. Penulis menggunakan tahapan exercise dari Greg O’Rourke, Menyusun jadwal latihan dan menentukan target latihan. Kendala yang dialami saat mengimplementasikan hammer-on dan pull-off adalah suara yang noise yang muncul sebagai akibat dari getaran senar yang tidak digunakan sehingga penulis melakukan upaya-upaya teknis untuk mereduksi kesan kotor tersebut. Efek yang dihasilkan oleh teknik legato mengurangi kesan perkusif pada gitar sehingga setelah diterapkan karakter gitar menjadi lembut (smoothly) dan terhubung (connected).The purpose of this study is to apply legato through hammer-on and pull-off techniques and to find out the effect of this application on the sound character of the guitar. In general, guitar playing techniques in the heavy metal genre use alternative picking techniques so that they have a firm impression. However, alternative picking burdens the performance of the player's right hand, especially in songs with fast tempos such as the song EDM (E-Dependent Mind) by Kiko Loureiro. The writer hopes that the application of legato can reduce the burden on right-handed performance and the softer effect of legatocan give metal music its own character.
PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK BELTING TERHADAP PENGUATAN MAKNA METAFORA LIRIK LAGU Belanikha, Belanikha; Setiarini, Agnes Tika; Prakosa, Mardian Bagus
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10353

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membantu seorang vokalis dapat memahami pengaruh teknik belting terhadap makna lirik lagu dengan salah satu contoh karya “Skyfall” oleh Adele melalui strategi penerjemahan metafora dari Bahasa inggris ke Bahasa Indonesia. Masalah yang di hadapi penulis yaitu, tidak semua teks sumber yang banyak mengandung metafora bisa di interpretasikan dengan baik serta, banyaknya vokalis yang belum memahami makna lirik dan penggunaan teknik vokal yang kurang optimal dalam menerjemahkan makna lirik tersebut, sehingga dibutuhkan startegi penerjemahan melalui strategi penerjemahan metafora untuk menterjemahkannya dan menghasilkan teknik belting yang optimal. Hal tersebut dikarenakan melodi vokal yang ada pada lagu skyfall ini masuk pada register teknik belting dengan interval antara nada yang cukup signifikan penekananan pada liriknya, sehingga memerlukan penggunaan teknik vokal yang tepat. Adapun faktor primer lain yang mempengaruhi penggunaan teknik vokal ini adalah penggunaan teknik  head voice, chest voice dan mix voice,  teknik dasar ini dapat mempengaruhi penggunaan teknik belting dengan register suara setiap orang yang beberbeda sehingga akan berdampak pada perbedaan wilayah nada untuk mengimplementasikannya. Metode penelitian yang digunakan penulis dalam meneliti teks yaitu dengan metode deskriptif kualitatif. Ditemukan Sembilan data dalam penelitian ini. Penelitian menggunakan sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Adele yang juga menjadi salah satu lagu yang kental dengan teknik belting. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan lima startegi penerjemahan metafora yang dinyatakan oleh Larson menghasilkan bahwa, terdapat empat strategi penejemahan metafora yang digunakan. strategi yang paling banyak digunakan yaitu strategi penerjemahan menerjemahkan metafora menjadi ekspresi non-figuratif