cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 188 Documents
PENERAPAN TEKNIK CHORDAL DAN TANGGA NADA PENTATONIK DALAM IMPROVISASI PIANO PADA LAGU “AMAZING GRACE” KARYA JOHN NEWTON Allesa Antoni Nugroho
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara umum tangga nada pentatonik merupakan satu dari sekian bahan improvisasi yang relatif sederhana apabila dibandingkan dengan bahan improvisasi yang lain. Dasar tangga nada pentatonik yang digunakan adalah pentatonik mayor dan pentatonik minor. Unsur yang terdapat pada pentatonik mayor terdiri dari do-re-mi-sol-la dan pentatonik minor terdiri dari la-do-re-mi-sol atau do-ri-fa-sol-sa. Namun demikian penggunaan tangga nada pentatonik bisa saja menjadi sangat kompleks apabila dieksplorasi secara serius. Improvisasi dengan chordal merupakan improvisasi yang dimainkan nada per nada secara berurutan, karena memberikan warna dasar dalam bentuk chord tones maupun tension notes, contoh C-E-G-B ini merupakan susunan dari chord CMaj7 contoh ini bisa dimainkan nada per nada secara berurutan. Chordal sangat bermanfaat untuk menciptakan warna harmonis dalam improvisasi. Chordal tidak semata-mata dimainkan dalam sekuensi yang teratur, jadi komponen nadanya bisa saja dimainkan secara acak. Lagu yang dipilih sebagai wadah penerapan teknik chordal dan tangga pentatonik adalah Amazing Grace ciptaan John Newton, yang dibawakan dalam formasi combo,yaitu keyboard, bas, gitar, drum set dan saxophone. Metode perancangan dilakukan dengan mengumpulkan data-data melalui sumber Pustaka, webtografi, dan diskografi, melalui tahapan pengumpulan data, analisis data, eksplorasi dan perancangan kemudian dideskripsikan. Hasil dari penerapan teknik chordal dan tangga nada pentatonik dalam improvisasi tidak jauh berbeda, namun beda bentuk dan pola pikir dalam mengaplikasikannya. Chordal dan tangga nada pentatonik mengacu pada nada akor yang ada dan juga bisa menambahkan extension note di dalam akor tersebut seperti 9, -9, 11, 13.
PENGARUH KOMBINASI KARAKTER MALLET TERHADAP TIMBRE PADA REPERTOAR "RHYTHM SONG" UNTUK SOLO MARIMBA KARYA PAUL SMADBECK Saksono, Evelyne Sarah; Latif, Bakhrudin; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10349

Abstract

Rhythm Song merupakan karya solo marimba yang di tulis oleh seorang komposer asal New York yang bernama Paul Smadbeck. Karya ini mengusung konsep minimalis dengan tempo 194-198 bpm. Ada beberapa repertoar marimba yang oleh sang komposer ditulis mallet apa yang harus digunakan oleh sang pemain, namun tidak semua komposer menuliskan jenis atau karakter mallet seperti apa yang harus digunakan oleh sang pemain. Biasanya pemain diberi kebebasan untuk memilih sendiri karakter mallet apa yang akan ia gunakan pada karya tersebut sesuai dengan kebutuhan. Karena keresahan penulis mengenai jenis mallet seperti apa yang paling cocok bagi sang penulis maka dilakukanlah penelitian serta eksperimen pada karya ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Proses yang dilakukan penulis yaitu melalui pengumpulan data dan kepustakaan, diskografi, wawancara, analisis data, eksplorasi, eksperimen dan revisi latihan. Penerapan untuk mencari karakteristik mallet juga berdasarkan sumber yang penulis cari, baik itu dari video-video pemain marimba lainnya dalam memainkan karya ini, teman, atau partitur-partitur yang berkaitan dengan repertoar ini. Metode eksperimen yang dipakai oleh sang penulis yaitu melalui pengumpulan berbagai jenis mallet, baik itu merek, bahan dan juga tingkat keras lembutnya. Kemudian membaca serta memahami simbol-simbol yang ada pada repertoar seperti tempo dan dinamik, sehingga dapat ditarik kesimpulan mallet apa yang cocok untuk repertoar ini. Metode yang terakhir yaitu memahami berbagai macam jenis bahan-bahan pembuatan mallet, sehingga dapat dengan mudah memahami repertoar ini membutuhkan mallet yang seperti apa. Adapun kesimpulan yang didapat pada pembahasan ini adalah karakteristik mallet itu sendiri dapat menambah wawasan dan referensi bagi penulis maupun pemain perkusi yang lain khususnya mahasiswa ISI Yogyakarta.
Penerapan Metode Solfeggio Dalam Pelatihan Paduan Suara Parompuan HKBP Petukangan Gloria, Ester; Ismudiati, Endang; Nainggolan, Oriana Tio Parahita
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10016

Abstract

Paduan Suara merupakan salah satu bentuk pelayanan di gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Petukangan, yang dilakukan pada susunan tata ibadah ataupun untuk jemaat. Dalam pelaksanaan pelayanan tersebut dilakukan oleh delapan kelompok paduan suara di gereja ini, salah satunya yaitu kelompok Paduan Suara Parompuan. Kegiatan persiapan pelayanan yang dilakukan pada kelompok ini dipimpin oleh seorang pelatih paduan suara, namun dalam pelaksanaan proses pelatihan ditemukan permasalahan yaitu kurang terasahnya kemampuan mendengarkan, membaca, serta menyanyikan melodi dan ritmik anggota paduan suara. Hal ini disebabkan metode yang digunakan sebelumnya kurang maksimal, sehingga dalam bernyanyi anggota paduan suara mengalami kesalahan intonasi serta nilai nada saat proses latihan ataupun pelayanan. Dalam mengatasi hal ini dilakukan melalui penerapan metode solfeggio yang meliputi unsur ear training (mendengarkan), sight reading (membaca), serta sight singing (menyanyikan). Adapun tujuan peneltian ini yaitu mendeskripsikan proses penerapan metode solfeggio beserta hasil dalam kegiatan pelatihan Paduan Suara Parompuan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus retrospective. Subjek dalam penelitian ini meliputi 40 orang anggota paduan suara. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan meliputi; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini memaparkan bahwa penerapan metode solfeggio dapat meningkatkan kemampuan anggota paduan suara dalam mendengarkan, membaca, serta menyanyikan melodi dan ritmik. Hal ini dilihat dari peningkatan kemampuan anggota dalam mendengarkan melodi disetiap pertemuan, baik pada latihan sesi pemanasan ataupun materi lagu, sehingga mampu bernyanyi dengan intonasi dan nilai nada yang tepat. Application of Solfeggio Method in Parompuan Choir Training at HKBP PetukanganPetukangan, which is included in the liturgy or done for the congregation. The service is performed by eight choir groups, one of which is the Parompuan Choir. The preparation for service done in this group is led by a choir director, but a problem is found during rehearsals concerning the lack of skills in hearing, reading, and singing melodically and rhythmically among the members of the choir. This is because the previous method used in rehearsals was not optimal, and it resulted in mistakes in intonation and note values during rehearsals as well as services. To solve this problem, the method of solfeggio is applied by means of ear training (hearing), sight reading (reading), and sight singing (singing). The goal of this research is to describe the process of applying the solfeggio method along with its results in the rehearsals of Parompuan Choir. Qualitative method is used in this research by employing the approach of retrospective case study. 40 choir members are the subjects of this research. The data collection is done through observations, interviews, and documentations. The analysis is done through data reduction, data presentation, and the drawing of conclusion. The results show that the application of solfeggio method can enhance the skills of the choir members in hearing, reading, and singing melodically and rhythmically. This is observed from the improvements on the melodic hearing skills in every rehearsal, both during vocalising sessions and song materials, which have enabled them to sing with precise intonation and note values.
Analisis Penciptaan dan Penyajian Musik Komposisi Paris (Waltz) pada Instrumen Gitar Karya Steven Dwi Hansen Aji, Prasetya; Akbar, Mohamad Alfiah; Jayantoro, Setyawan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12094

Abstract

ABSTRAKParis (Waltz) merupakan salah satu karya ciptaan Steven Dwi Hansen yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding komposisi lainnya. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menganalisis sekaligus mengetahui metode penciptaan dan penyajian musik Steven Dwi Hansen dalam komposisi Paris (Waltz). Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan musikologis. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukannya serangkaian metode penciptaan yang diterapkan dalam komposisi Paris (Waltz), terdapat empat tahapan metode penciptaan, yaitu ide penciptaan, struktur bentuk komposisi, instrumentasi, dan proses penciptaan karya yang meliputi pengaruh karya, penggunaan arpeggio, ornamentasi, ostinato, modulasi, dan teknik kontrapung. Dalam proses penyajiannya, dilakukan dalam tiga model, yaitu penyajian dalam album, penyajian secara live, dan penyajian dalam platform youtube. Ketiga model penyajian ini memiliki persamaan dan perbedaan antara satu sama lain yang membuat esensi dari komposisi tersebut semakin luas. Terdapat dua aspek yang menjadi persamaan dan perbedaan dari penyajian Steven Dwi Hansen, yaitu ditinjau dari segi intramusikal dan ekstramusikal. Intramusikal mencakup interpretasi Steven Dwi Hansen dalam komposisi pada ketiga model penyajian. Sedangkan ekstramusikal mencakup sarana pendukung jalannya pernyajian musik mulai dari pengaturan panggung yang menarik hingga ekspresi visual dari penyaji musik.Kata kunci: Analisis, Penciptaan Musik, Penyajian Musik, Gitar Klasik, Paris (Waltz), Steven Dwi Hansen ABSTRACTParis (Waltz) is one of his compositions that has its own distinctive characteristics compared to other compositions. The purpose of this research is to analyze and understand the methods of creation and presentation of Steven Dwi Hansen's music in the composition Paris (Waltz). This research method employs a qualitative approach with a musicological perspective. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The research results indicate the discovery of a series of creation methods applied in the composition Paris (Waltz). There are four stages of the creation method, namely creative idea, composition structure, instrumentation, and the process of creating the work, which includes the influence of the work, the use of arpeggios, ornamentation, ostinato, modulation, and contrapuntal techniques. In the presentation process, it is carried out in three models: presentation in an album, live performance, and presentation on the YouTube platform. These three presentation models have similarities and differences that broaden the essence of the composition. There are two aspects that are similarities and differences in Steven Dwi Hansen's presentation, considering both intramusical and extramusical aspects. Intramusical aspects encompass Steven Dwi Hansen's interpretation in the composition in all three presentation models. Meanwhile, extramusical aspects include supporting elements for the music presentation, ranging from an attractive stage arrangement to the visual expression of the music performer.Keywords: analysis, music composition,music performance, classical guitar, Paris (Waltz), Steven Dwi Hansen.
Interpretasi Filosofi Sampek Leto Dalam Komposisi Musik ”The Soul Of Borneo Woman” Melisa Andriany Tanseng; Chairul Slamet; Kardi Laksono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini fokus pada fenomena Sampek dari kebudayaan masyarakat Dayak Kenyah. Unsur yang hendak dikaji yaitu filosofi Sampek Leto sebagai bentuk gambaran keanggunan dan kecantikan wanita Dayak serta interpretasi penulis terhadap filosofi Sampek Leto. Filosofi Sampek Leto diinterpretasikan dalam karya musik program ideational berjudul ”The Soul Of Borneo Woman” dengan format ansambel campuran berupa Sampek dan strings quartet. Interpretasi filosofi Sampek Leto dalam karya komposisi dilakukan dengan dua metode yaitu metode fenomenologi dan metode eksplorasi. Metode fenomenologi untuk mengkaji fenomena Sampek Leto melalui studi literatur dan melakukan wawancara yang menghasilkan rancangan konsep karya dan sketsa karya. Metode eksplorasi untuk mentransformasikan filosofi Sampek Leto dalam karya musik dengan melakukan eksplorasi instrumen, eksplorasi pola Sampek Leto, dan eksplorasi motif melodi. Hasil pengkajian melalui metode fenomenologi dan metode eksplorasi dimasukan ke dalam karya “The Soul Of Borneo Woman” sebagai unsur ekstramusikal utama yang menopang keseluruhan bentuk komposisi “The Soul Of Borneo Woman”. Bentuk komposisi “The Soul Of Borneo Woman” terdiri dari tiga movement, meliputi “Keanggunan Raga”, “Beradu Rayu”, dan “Kekuatan Keindahan Jiwa” yang mengandung interpretasi filosofi Sampek Leto. Kata kunci: sampek leto, musik program, filosofiAbstractThis research focuses on the Sampek phenomenon from the culture of the Dayak Kenyah people. The elements to be studied are Sampek Leto’s philosophy as a form of depiction of the elegance and beauty of Dayak women and the author’s interpretation of Sampek Leto’s philosophy. Sampek Leto’s philosophy is interpreted in an ideational music program piece entitled “The Soul Of Borneo Woman” in a mixed ensemble format consisting of Sampek and strings quartet. The interpretation of Sampek Leto’s philosophy in compositional works is carried out using two methods, namely the phenomenological method and the exploratory method. The phenomenological method for studying the Sampek Leto phenomenon is through literature studies and conducting interviews which result in draft work concepts and work sketches. The exploratory method for transforming Sampek Leto’s philosophy into musical works is by exploring instruments, exploring Sampek leto’s patterns, and exploring melodic motifs. The results of the study through phenomenological methods and exploratory methods are included in the work “The Soul Of Borneo Woman” as the main extramusical element that supports the entire compositional form of “The Soul Of Borneo Woman”.  The compositional form of “The Soul Of Borneo Woman” consists of three movements, including “Keanggunan Raga”, “Beradu Rayu”, and “Kekuatan Keindahan Jiwa” which contains the interpretation of Sampek Leto’s philosophy.Keywords: sampek leto, program music, philosophy
Kreativitas Pembuatan Gamelan Kaca Karya Muhammad Sulthoni di Sanggar Song Meri Kabupaten Pacitan Widyastuti, Ipuk; Wijayanto, Bayu; Saepudin, Asep
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10597

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana inovasi yang dilakukan Toni dalam pembuatan gamelan kaca yang ada di Sanggar Song Meri Kabupaten Pacitan. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk membedah informasi mengenai metode pemanfaatan limbah kaca sebagai bentuk inovasi pada pada sektor kesenian, khususnya karawitan. Hal ini meliputi tentang cara pembuatan mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, pelarasan, dan pembuatan berbagai piranti pendukung untuk mewujudkan sebuah gamelan dari limbah kaca. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif karena karena pada penelitian ini bersifat eksploratoris. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini yakni menggunakan metode studi pustaka, wawancara, observasi lapangan, serta diskografi. Data yang diperoleh kemudian diproses melalui tahap pengolahan data, analisis data, hingga kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif analisis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap keberadaan gamelan kaca yang sempat ramai menjadi sorotan khalayak di Kabupaten Pacitan. Hal menarik dari objek penelitian ini yakni tentang sebuah limbah diolah sehingga menjadi sebuah gamelan yang kemudian menjadi sarana masyarakat Kabupaten Pacitan untuk berkesenian. Hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa untuk memperoleh larasan atau nada yang diinginkan dari gamelan limbah kaca ini yaitu dengan mengatur panjang lebarnya bilah, hal tersebut tentu saja juga tidak terlepas oleh adanya pengaruh ketebalan kaca yang digunakan. Dalam pembuatan gamelan kaca ini Toni juga telah memberikan inovasi yang antara lain yakni dalam bahan pembuat gamelan, metode pembuatan gamelan, waktu pembuatan gamelan, serta pada metode pengolahan limbah. Bentuk gamelan karya Toni ini seluruhnya berupa wilahan, yakni wilah gandul dan wilah pangkon. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk masyarakat luas tentang bagaimana pengolahan limbah menjadi barang yang memiliki segudang manfaat.Creativity of Glass Gamelan Made by Muhammad Sulthoni in Sanggar Song Meri Pacitan Regency This research aims to find out how Toni's innovation in making glass gamelan in Sanggar Song Meri Pacitan Regency. In addition, this research is also intended to dissect information about the method of utilizing glass waste as a form of innovation in the arts sector, especially karawitan. This includes the method of making starting from the selection of materials, processing, tuning, and making various supporting tools to realize a gamelan from glass waste. The method used in this research is to use qualitative methods because this research is exploratory. The data collection in this research is using the method of literature study, interviews, field observations, and discography. The data obtained is then processed through the stages of data processing, data analysis, and then presented in the form of descriptive analysis. This research was motivated by the author's interest in the existence of glass gamelan which had become the public spotlight in Pacitan Regency. The interesting thing about this research object is that a waste is processed so that it becomes a gamelan which then becomes a means for the people of Pacitan Regency to make art. The results of the study can be stated that to obtain the desired tuning or tone of this glass waste gamelan, namely by adjusting the length and width of the blades, this is of course also inseparable from the presence of a tuning. 
Penggunaan Leitmotif Pada Karya Musik “It’s Okay to Not be Okay” Dengan Format Piano Quintet Putri, Thea Benita Ruwinta; Rosiana, Maria Octavia; Budhiana, I Gusti Wiryawan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10458

Abstract

"It's Okay to Not be Okay" adalah sebuah karya musik untuk formasi instrumen piano quintet yang dibuat untuk merepresentasikan lima tahap emosi yang terdapat pada teori five stages of grief. Teori five stages of grief merupakan sebuah teori yang dikemukakan oleh psikiater Elisabeth Kubler-Ross dan membahas mengenai tahapan emosi yang dilalui manusia ketika diperhadapkan dengan kabar duka. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui mengapa pesan dan makna dari teori five stages of grief penting untuk disampaikan serta bagaimana teknik "pick-a-note" diterapkan sebagai bagian dari leitmotif yang merepresentasikan kabar duka. Metode yang digunakan dalam proses pembuatan karya ini meliputi perumusan ide penciptaan, penentuan judul karya, observasi, penyusunan konsep dan sketsa dasar musik, penentuan instrumentasi, penggarapan detail karya, dan penulisan ke dalam software notasi di komputer. Hasil dari pembahasan pada penelitian ini menunjukkan bahwa makna dan pesan yang terdapat pada teori five stages of grief penting untuk disampaikan agar dapat menjadi media refleksi diri bagi pendengar. Selain itu, teknik "pick-a-note" diterapkan pada leitmotif dengan cara mengkombinasikan teknik tersebut dengan melodi yang memiliki interval tetap.Kata kunci: Five Stages of Grief, Leitmotif, Musik program, Komposisi musikThe Use of Leitmotif in the Musical Composition "It's Okay to Not be Okay" with Piano Quintet Format"It's Okay to Not be Okay" is a musical composition for a piano quintet formation created to represent the five stages of emotions found in the theory of the five stages of grief. The theory of the five stages of grief is proposed by psychiatrist Elisabeth Kubler-Ross and discusses the emotional stages that individuals go through when faced with grief. This research is done with the intention of understanding why the message and meaning of the five stages of grief theory are important to convey, as well as how the "pick-a-note" technique is applied as part of the leitmotif representing the grief theme. The methods used in the creation process include formulating creative ideas, determining the title of the composition, observation, developing conceptual and basic musical sketches, determining instrumentation, refining the composition in detail, and writing it in notation software on the computer. The results of this research indicate that the meaning and message found in the theory of the five stages of grief are important to convey as they can serve as a means of self-reflection for the listeners. Furthermore, the "pick-a-note" technique is applied to the leitmotif by combining it with a melody that has a fixed interval.Keywords: Five Stages of Grief, Leitmotif, Program Music, Music Composition
Penerapan Metode Demonstrasi Pada Pelatihan Ambasir sangkakala Di Keprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Anggraeni Trisha Ayu Kartika; Tri Wahyu Widodo; Sagaf Faozata Adzkia
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pelatihan ambasir sangkakala dengan menggunakan metode demonstrasi untuk menjawab rumusan masalah, peneliti berusaha  menerapkan teknik ambasir yang benar kepada pemain sangkakala prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dikarenakan selama ini pemain sangkakala belum mengetahui teknik yang benar, dan pelatih sangkakala merupakanakan pelatih turun temurun serta  bukan berlatar belakang pemusik. Dengan pengetahuan yang peneliti miliki, peneliti bermaksud melatih pemain sangkakala dengan menggunakan metode demonstrasi agar memudahkan pemain sangkakala menerima materi yang diberikan oleh pelatih. Penelitian ini merupakanakan penelitian deskriptif kualitatif yang mendukung faktor-faktor hasil yang lebih nyata dan mengevaluasi keseluruhan penelitian dengan data yang lebih akurat. Sumber data pada penelitian ini adalah pemain sangkakala prajurit Keraton. Untuk mendapatkan data, dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisi data dalam penelitian ini menggunakan 3 tahap yaitu, reduksi data, penyajian data, dan menulis kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan pelatihan ambasir sangkakala dengan menggunakan metode demonstrasi dikategorikan berjalan dengan baik dilihat dari pemahaman dan hasil latihan serta peningkatan perkembangan anggota, namun juga terdapat kendala  selama proses penerapan metode demonstrasi diantaranya : (1) ketidak fokusan dan kebosanan, (2) bentuk ambasir yang sering berubah secara tidak sadar, (3) pernafasan yang belum sepenuhnya menggunakan diafragma mengakibatkan anggota sering sesak ketika berlatih (4) ketersediaan instrument, dan (5) pengetahuan yang terbatas tentang musik.Application Of The Demonstration Meyhod To The Sangkakala Ambasir Training In The Soldiers Of The Ngayogyakarta Hadiningrat Palace.The purpose of this study was to find out the results of the trumpet ambasir training by using the demonstration method to answer the problem formulation, the researcher tried to apply the correct ambasir technique to the trumpet players of the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace soldiers, because so far the trumpet players did not know the correct technique, and the trumpet trainer was the trainer. hereditary and not a background musician. With the knowledge the researcher has, the researcher intends to train the trumpet players using the demonstration method to make it easier for the trumpet players to accept the material provided by the coach. This research is a qualitative descriptive research that supports more real outcome factors and evaluates the entire study with more accurate data. The source of the data in this study is the trumpet players of the Keraton soldiers. To obtain data, in this study using observation techniques, interviews, and documentation. Data analysis techniques in this study used 3 stages, namely, data reduction, data presentation, and writing conclusions. The results showed that the trumpet ambasir training activities using the demonstration method were categorized as going well in terms of understanding and training results as well as increased member development, but there were also obstacles during the process of implementing the demonstration method including: (1) lack of focus and boredom, (2) form ambastri that often changes unconsciously, (3) breathing that has not fully used the diaphragm resulting in members often shortness of breath when practicing (4) availability of instruments, and (5) limited knowledge of music
Gaya Rococo Punk Sebagai Dasar Penciptaan Tata rambut dalam pertunjukan Marie Antoinette Karya David Adjmi Ericha Nur Cholifatin; Nanang Arisona; Wahid Nurcahyono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya rococo punk merupakan salah satu bentuk fashion yang menggabungkan era rococo dan era punk generasi awal. Gaya rococo punk menjadi ide dasar dalam penciptaan tata rambut untuk mewujudkan nilai estetika.Tata rambut dalam pertunjukan teater memiliki fungsi untuk mewujudkan karakter tokoh.Naskah Marie Antoinette karya David Adjmi adalah pilihan yang tepat untuk menciptakan tatanan rambut gaya rococo punk. Jenis tata rambut yang digunakan adalah fantasy style dengan menggunakan teori estetika sebagai landasan penciptaan tata rambut, dari segi keutuhan, penonjolan, keseimbangan yang akan mengantarkan nilai estetis secara objektif.Pencipta berhasil menemukan metode penciptaan dan menciptakan tata rambut dengan gaya rambut rococo punk dalam pertunjukan Marie Antoinette karya David Adjmi. Selain itu rambut juga berfungsi sebagai media komunikasi non-verbal yang memuat suatu bobot atau makna dalam pertunjukan untuk dapat dinikmati oleh penonton.Rococo Punk Style as a Basis for the Creation of Hairdos in the Marie Antoinette Show by David Adjmi A rococo punk style is a form of fashion that combines the rococo era and the early punk era. The rococo punk style became the basic idea in creating hairdos to create aesthetic value. Hairdos in theatrical performances have the function to embody character traits. David Adjmi's Marie Antoinette script is a great choice for creating a rococo punk hairdo. The type of hairdo used is fantasy style using aesthetic theory as the basis for creating hairdos, in terms of wholeness, prominence, and balance which will deliver aesthetic value objectively. The creators managed to find a creation method and created a hairdo with a rococo punk hairstyle in David Adjmi's Marie Antoinette show. In addition, the hair also functions as a medium of non-verbal communication that contains a weight or meaning in the show to be enjoyed by the audience.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PERTUNJUKAN SINRILIK I MAKDIK DAENG RIMAKKA DI SANGGAR SENI BONTORAMBA Kurnia, Imam; Probosini, Agustina Ratri; Iswantara, Nur
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10572

Abstract

Pendidikan karakter adalah pondasi utama bagi pendidikan ataupun masyarakat luas. Salah satu kesenian yang memuat nilai-nilai pendidikan karakter adalah kesenian tutur Sinrilik di Kabupaten Gowa, sulawesi selatan. Tujuan penelitian dalam artikel i ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter pada pertunjukan Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek pada penelitian ini adalah pengelola Sanggar Seni Bontoramba, pasinrilik (seniman sinrilik), dan audiens pertunjukan Sinrilik. Teknik validasi yang digunakan yaitu teknik triangulasi. Analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, dan penyajian data yang diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai pendidikan karakter yang terdapat pada pertunjukan Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka dapat diperoleh dari naskah, syair, pasinrilik, tata busana pasinrilik, dan audiens pertunjukan Sinrilik kemudian didapatkan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu nilai religius, toleransi, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, cinta tanah air, semangat kebangsaan, bersahabat/komunikatif, tanggung jawab, dan peduli sosial.Kata kunci: pendidikan karakter, sinrilik i makdik daeng rimakka, deskriptif kualitatif.Character education is the main foundation for education or the wider community. One of the arts that contains character education values is the Sinrilik speech art in Gowa Regency, South Sulawesi. The research objective in this article i is to describe the values of character education in the Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka performance. This research is a qualitative descriptive study. Data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. The subjects in this study were the managers of the Bontoramba Art Studio, pasinrilik (syncrilik artists), and audiences of Sinrilik performances. The validation technique used is the triangulation technique. Data analysis uses data collection, data reduction, and presentation of data obtained from primary and secondary sources. The results of this study concluded that the value of character education contained in the Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka performance can be obtained from scripts, poetry, pasinrilik, pasinrilik dress, and the audience of the Sinrilik performance then obtained character education values, namely religious values, tolerance, honesty, discipline , hard work, creative, independent, democracy, love of the motherland, national spirit, friendly/communicative, responsible and social care.Keywords: character education, sinrilik i makdik daeng rimakka, qualitative descriptive.