cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 188 Documents
Analisis Situasi Belajar Vokal Anak Di The Sound Of Music School Yogyakarta GINTING, RADU JENARI; BINTARTO, GATHUT; SITINJAK, LINDA
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12511

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebaruan yang terjadi di Lembaga Kursus Musik The Sound of Music School Yogyakarta yang baru berdiri selama 1 tahun. Fasilitas, guru, silabus, buku ajar, dan siswa yang baru menciptakan suatu adaptasi suasana belajar dengan dinamika yang unik. Penelitian ini memaparkan penerapan silabus dan materi ajar yang dibuat oleh guru pertama sekaligus supervisor lembaga kursus musik untuk diajarkan kepada siswa. Analisis terhadap situasi belajar di lembaga tersebut difokuskan pada pembelajaran vokal anak yang sementara ini paling banyak diminati. Tinjauan penyusunan silabus didasarkan pada pendekatan sintetik dan analitik yang dipaparkan oleh Wilkins dan Krahnke. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan observasi lapangan, pengumpulan data primer berupa observasi situasi belajar yang diamati langsung di kelas, wawancara mendalam kepada guru, dan pengumpulan data sekunder berupa silabus dan buku ajar. Tinjauan analisis situasi belajar didasarkan pada rekomendasi baku pedagogi vokal anak berdasarkan studi Molchanova dan Rooney baik yang sudah maupun belum diterapkan oleh guru pada saat mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan sintetik yang mengajarkan pengetahuan musik secara akumulatif sudah dilakukan oleh guru dengan dukungan materi ajar dari buku ajar berupa pengenalan notasi, vokalisasi (warm up), sight singing, aural dan pembelajaran lagu. Sementara itu pendekatan analitik dilakukan ketika siswa sudah menyelesaikan materi buku ajar dan dilatih untuk tampil pada acara khusus. Guru hanya berfokus pada bagian vokalisasi dan pembelajaran lagu. Beberapa  inkonsistensi terjadi pada materi silabus seperti pengenalan notasi diarahkan untuk membuat karya musik yang tidak terdapat materinya di buku ajar dan tidak cocok diajarkan untuk siswa grade 1, kesalahan penulisan simbol-simbol notasi, dan paparan sukat lagu yang belum diajarkan pada materi pengenalan notasi. Pembelajaran secara analitik juga mendapati bahwa materi vokalisasi yang dilakukan guru belum memadai secara teori musik dan teknis olah vokal untuk membawakan lagu Karena Ku Sanggup dari Agnes Monica yang relatif sulit. Hal tersebut menjadi bahan revisi buku ajar dan penyusunan materi silabus untuk grade yang lebih tinggi yang belum disusun sampai saat penelitian ini selesai dilakukan.Kata kunci: Analisis, Situasi Belajar, Vokal Anak, Silabus Sintetik, Silabus AnalitikAnalysis of Vocal Learning Situation of Children at The Sound Of Music School YogyakartaAbstractThis research is undermined by the novelty that has occurred at the Institute of Music Course The Sound of Music School Yogyakarta which has just been in existence for 1 year. Facilities, teachers, syllabus, textbooks, and new students create an adaptation of learning atmosphere with unique dynamics. This study shows the application of syllabus and teaching materials created by the first teacher as well as the supervisor of the institute of music courses to be taught to students. The analysis of the learning situation at the institute focused on the vocal learning of children who are currently most in demand. The review of the preparation of the syllabus is based on the synthetic and analytical approaches presented by Wilkins dan Krahnke. The study uses qualitative research methods with field observation, the collection of primary data such as observation of learning situations observed directly in the classroom, in-depth interviews with teachers, and collection of secondary data in the form of syllabus and textbooks. The results of the research shows that the synthetic approach that teaches music knowledge accumulatively has been done by teachers with the support of textbooks such as introduction of notation, vocalization (warm up), sight singing, aural and song learning. Meanwhile, the analytical approach is done when students have completed textbooks and are trained to perform at special events. The teacher focuses only on the vocalization and song learning part. Some inconsistencies occurred in the curriculum material such as the introduction of notations directed to make musical works that do not contain the substance in the textbook and are not suitable to be taught to grade 1 students, errors in the writing of the notation symbols, and the exhibition of songs that have not been taught on the introductory notation material. Learning analytically also found that the vocalization material performed by the teacher was not sufficient in music theory and vocal technique to bring the song “Karena Ku Sanggup” from Agnes Monica, which was relatively difficult. This is a revision of the textbook and the preparation of the syllabus material for higher grades that has not been prepared until this research is completed.Keywords: Analysis, Learning Situation, Child Vocals, Synthetic Syllabus, Analytical Syllabus 
Penciptaan Naskah Drama “Ibu dan Matematika” berdasarkan Fenomena Childfree dengan Semangat Pembebasan Tubuh Perempuan Nurrohmah, Syavira; Yudiaryani, Yudiaryani; Kuardhani, Hirwan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13408

Abstract

“Ibu dan Matematika” adalah naskah drama yang mengeksplorasi hubungan antara peran-peran perempuan, cinta, dan fenomena tanpa anak dengan pendekatan dekonstruksi. Penulis mendekonstruksi konsep-konsep tradisional mengenai peran perempuan dalam hubungan di dalam rumah tangga, menyoroti ketegangan antara harapan sosial dan realitas tubuh perempuan. Fenomena tanpa anak menjadi fokus utama untuk memahami pilihan perempuan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, mengeksplorasi dinamika kompleks dalam masyarakat. Matematika, sebagai elemen tambahan, diintegrasikan ke dalam naskah sebagai simbol pemahaman diri dan eksplorasi identitas perempuan. Melalui dekonstruksi, matematika menjadi bukan hanya sebagai sarana komunikasi abstrak, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan mencari makna dalam kehidupan perempuan. Semangat pembebasan tubuh perempuan tercermin dalam karakter yang memainkan peran sebagai ibu, menggambarkan ketegangan dan konflik dalam perjuangan menuju kebebasan di dalam masyarakat yang terkadang kadang membatasi. Teks ini menawarkan pandangan kritis terhadap stereotip tradisional dan norma sosial seputar tubuh perempuan.The Creation of the Drama Script “Ibu dan Matematika” Based on the Childfree Phenomenon with the Spirit of Women's Body Liberation“Ibu dan Matematika” (Mother and Mathematics) is a drama script that explores the relationship between women's roles, love, and the childfree phenomenon through a deconstructive approach. The author deconstructs traditional concepts of women's roles within household relationships, highlighting the tension between societal expectations and the realities of women's bodies. The childfree phenomenon becomes a central focus to understanding the choices of women who decide not to have children, delving into the complex dynamics within society. As an additional element, mathematics is integrated into the script as a symbol of self-understanding and the exploration of female identity. Through deconstruction, mathematics transcends its role as an abstract communication medium and reflects the journey to find meaning in women's lives. The spirit of women's body liberation is reflected in characters who play the role of mothers, portraying tensions and conflicts in the struggle for freedom within a society that sometimes imposes limitations.
Pengaruh Penggunaan Drum Pad Kit Terhadap Teknik Pukulan Pada Drum Akustik Bagi Drumer Reguler/Wedding Gulo, Leonard Famatisaro; Akbar, Mohamad Alfiah; Satria, Eki
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13666

Abstract

 AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena dominasi drum elektrik jenis drum pad kit oleh para drumer reguler/wedding. Drum pad kit menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan drum akustik, seperti volume yang dapat diatur, ukuran yang lebih kecil dan ringan, mudah dibawa, dan variasi suara yang dapat disesuaikan. Tetapi penggunaan drum pad kit dalam jangka panjang dapat memberikan dampak negatif bagi drumer saat beralih ke drum akustik. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan drum pad kit terhadap teknik dan kontrol dinamika seorang drumer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dengan para drumer dan dokumentasi dengan mengambil foto para drumer yang menggunakan drum pad kit saat mereka tampil. Penelitian menunjukkan bahwa drumer yang menggunakan drum pad kit memiliki teknik pukulan dan kontrol dinamika yang berbeda dengan drumer yang menggunakan drum akustik. Penggunaan drum pad kit yang berlebihan dapat menyebabkan teknik pukulan yang tidak benar dan kurang dinamis dan kontrol dinamika yang salah.Kata kunci: drum pad kit, drum set, teknik pukulan, kontrol dinamika The Effect Of Using Electric Drums On Technique On Acoustic Drums For Drummers Reguler/WeddingAbstractThis research is motivated by the phenomenon of the dominance of electric drum pad kits by regular and wedding drummers. Drum pad kits offer various advantages over acoustic drums, such as adjustable volume, smaller size and light weight, ease of carry, and customizable sound variations. Long-term use of drum pad kits can have a negative impact on drummers when switching to acoustic drums. The purpose of this study is to determine the effect of using a drum pad kit on the technique and control of the dynamics of a drummer. The research method used in this research is a qualitative research method with a case study approach. The techniques used are observation, interviews with drummers, and documentation by taking photos of drummers who use drum pad kits when they perform. The research shows that drummers who use drum pad kits have different hitting techniques and control dynamics than drummers who use acoustic drums. Excessive use of drum pad kits can lead to incorrect and less dynamic hitting techniques and incorrect dynamic control.Keywords: drum pad kit, , drum set, stroke techinique, dynamics control 
Penciptaan Naskah Drama Harta Nami Nauli berdasarkan Cerita Rakyat Asal Usul Pohon Haminjon di Provinsi Sumatera Utara Siregar, Faried Noor; Arisona, Nanang; Yuliadi, Koes
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12375

Abstract

Naskah drama ini bertujuan mengangkat legenda asal usul pohon kemenyan (haminjon) di Provinsi Sumatera Utara sebagai inspirasi utama. Legenda tersebut menciptakan konstruksi sosial masyarakat petani kemenyan, membentuk pola perilaku, dan memberikan makna dalam menjaga hutan adat. Fenomena ini menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan naskah drama panggung berjudul "Harta Nami Nauli." Penulis akan menerapkan teori resepsi yang dikemukakan iser untuk membahas konteks dalam legenda asal usul pohon kemenyan. Penciptaan naskah drama ini juga mengadopsi pendekatan alur dramatik Aristoteles, dengan tahap permulaan, jalinan kejadian, puncak laku, dan penutup yang menggambarkan perjuangan kelompok dalam mempertahankan keberlanjutan hutan adat mereka. "Harta Nami Nauli" menjadi simbol kekayaan pengetahuan warisan leluhur dan komitmen masyarakat untuk menjaga harmoni dengan alam. Naskah drama ini mencoba menggambarkan bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai leluhur dapat menjadi panduan hidup dalam menghadapi tantangan modernisasi. The Creation of the Drama Script Harta Nami Nauli Based on the Folklore of the Origin of the Haminjon Tree in North Sumatra ProvinceThis drama script aims to explore the legend of the origin of the agarwood tree (kemenyan) in North Sumatra Province as its main inspiration. The legend shapes the social construction of kemenyan farmers, influencing behavioral patterns and imbuing meaning in the preservation of traditional forests. This phenomenon serves as the primary source of inspiration for the creation of a stage drama script titled "Harta Nami Nauli." The writer will apply Iser's reception theory to delve into the context of the legend of the kemenyan tree. The creation of this drama script also adopts Aristotle's dramatic structure approach, encompassing the beginning, plot development, climax, and conclusion, illustrating the group's struggle to maintain the sustainability of their ancestral forest. "Harta Nami Nauli" symbolizes the wealth of ancestral knowledge and the community's commitment to maintaining harmony with nature. The drama script endeavors to portray how local wisdom and ancestral values can serve as life guides in facing the challenges of modernization.
Cemplang: Koreografi Berbasis Kecemasan Cahya, Oktavia Dwi; Subawa, Y; Prakasiwi, Galih
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kecemasan menjadi pijakan karya tari. Cemplang merupakan koreografi kelompok dengan tujuh penari yang berpijak dari pengalaman empiris saat mengalami kecemasan. Secara spesifik, kecemasan tersebut berasal dari faktor internal dan faktor eksternal ketika dirasa tidak mampu melakukan suatu hal yang tidak biasanya (wagu: Bahasa Jawa). Kecemasan merupakan bagian dari emosi manusia yang merespons saraf somatic, pada saat mengalaminya muncul ketegangan pada area bahu, sehingga gerak utama dalam karya ini bersumber dari bahu. Penciptaan karya tari ini menggunakan metode Moving from Within: A New Method for Dance Making oleh Hawkins. Metode tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu merasakan, menghayalkan, eksplorasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya tari Cemplang sebuah karya baru yang berpijak pada gerak bahu ke depan, ke samping kanan, ke samping kiri, ke belakang, dan memutar. Dinamika pertunjukan dibangun melalui pembagian segmen dengan pengembangan pola gerak dasar, ruang, tenaga, dan waktu. Proses latihan sebanyak 58 kali menghasilkan sembilan motif unik yang berpijak dari teknik gerak bahu. Struktur penyajian karya ini terdiri dari 4 segmen. Setiap segmen memiliki intensitas gerak yang kuat dengan pengolahan variasi motif dasar. Karya ini ingin menyampaikan perasaan cemas yang berakibat area bahu menegang dengan kuat dan tubuh bergerak rileks agar tidak terjadi cemas berlebihan. Cemplang: Anxiety-Based ChoreographyThe research aims to see how anxiety becomes the basis for creating dance work. Cemplang is a group choreography with seven dancers based on empirical experiences when experiencing anxiety. Specifically, this anxiety comes from internal factors and external factors when one feels unable to do something that is not usual (wagu: Javanese). Anxiety is part of human emotions that responds to the somatic nerves, when experiencing it tension appears in the shoulder area, so the main movement in this work originates from the shoulders. This dance work was created using the Moving from Within: A New Method for Dance Making method by Hawkins. This method consists of 5 stages, namely feeling, imagining, exploring, forming and evaluating. The Cemplang dance work is a new work that is based on moving the shoulders forward, to the right, to the left, backwards and in circles. The dynamics of the performance are built through segment division with the development of basic movement patterns, space, energy and time. The exercise process 58 times resulted in nine unique motifs based on shoulder movement techniques. The presentation structure of this work consists of 4 segments. Each segment has a strong movement intensity with variations in the basic motif. This work wants to convey a feeling of anxiety which results in the shoulder area tightening strongly and the body moving to relax so that excessive anxiety does not occur.
Implementation and Benefits of Arranged Drum Band Repertoire in Extracurricular Activities at Paliyan II Elementary School, Gunungkidul Pahriyawan, Deni; Indrawan, Andre; Jati, Galih Pangestu
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13118

Abstract

Pendidikan memainkan peran krusial dalam membentuk masa depan individu, dan setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dasar. Namun, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam kualitas dan akses pendidikan, termasuk pendidikan musik, yang dapat berdampak negatif pada perkembangan anak-anak. Kesenjangan ini disebabkan oleh akses yang tidak merata terhadap sumber daya pengajaran musik, prioritas dan kebijakan sekolah yang lebih mengutamakan mata pelajaran akademis, serta faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kualitas dan penerapan aransemen dalam kegiatan ekstrakurikuler drumband. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif musikologis. Pengumpulan data dilakukan di SD Paliyan II Gunungkidul, yang terletak di Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan musikal siswa di SD Paliyan II berkembang dengan baik melalui penerapan repertoar drumband yang sudah diaransemen. Ini terlihat dari pemahaman musik, nada, irama, ketukan, serta meningkatnya semangat dan antusiasme dalam berlatih. Bentuk aransemen repertoar drumband yang dipelajari siswa adalah bentuk lagu tiga bagian (A A’ B C C’).Kata kunci: Drumband, Bentuk musik, Kecerdasan musik, RepertoarAbstractEducation plays a crucial role in shaping an individual's future, and every child has the right to basic education. However, there is a significant disparity in the quality and access to education, including music education, which can negatively impact children's development. This gap is caused by unequal access to music teaching resources, school priorities and policies that favor academic subjects, and socioeconomic factors that influence access. The purpose of this study is to examine the quality and implementation of arrangements in extracurricular drum band activities. The research method used is qualitative musicological research. Data collection was conducted at SD Paliyan II Gunungkidul, located in Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. The results of the study show that the musical intelligence of students at SD Paliyan II has developed well through the implementation of arranged drum band repertoire. This is evident in their understanding of music, notes, rhythm, and beats, as well as their increased enthusiasm and motivation in practice. The form of the drum band repertoire arrangement studied by the students is a three-part song form (A A’ B C C’).Keywords: Drumband, Musical forms, Musical intelligence, Repertoire
Ritme, Simbol, dan Makna : Eksplorasi Pembelajaran Bilangan 11-20 Melalui Concept Song di PAUD Viona, Rachel Ocha; Yunita, Ayu Tresna; Warsono, Warsono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16269

Abstract

ABSTRAKPengenalan konsep bilangan sejak usia dini merupakan aspek penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak, khususnya dalam berpikir simbolik. Namun, masih ditemukan kesulitan dalam menyampaikan konsep abstrak seperti bilangan secara efektif kepada anak. Untuk itu, diperlukan media pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik anak. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah concept song, yaitu lagu anak yang liriknya dimodifikasi menjadi materi pembelajaran bilangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi concept song dalam pengenalan bilangan 11-20 dan menganalisis dampaknya terhadap perkembangan kognitif anak usia dini, khususnya aspek berpikir simbolik. Metode yang digunakan adalah kualitatif studi kasus dengan subjek penelitian 13 peserta didik kelas B  di TK BOPKRI Gondolayu, Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi concept song dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik secara auditori, visual, dan motorik. Peserta didik menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengenali, menyebutkan, dan menghubungkan simbol angka dengan kuantitas benda konkret. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa kesalahan dalam pengenalan urutan angka dan representasi jumlah, serta hambatan teknis seperti nada lagu yang terlalu tinggi dan tempo iringan yang kurang sesuai. Kesimpulannya, penggunaan concept song berdampak positif dalam menstimulasi perkembangan berpikir simbolik anak, meskipun perlu penyesuaian musikal agar media lebih optimal dalam mendukung kegiatan belajar anak.Kata kunci: Lagu Konsep, Bilangan, Kognitif AnakABSTRACTIntroducing number concepts at an early age plays a critical role in supporting children's cognitive development, particularly in symbolic thinking. However, effectively delivering abstract concepts such as numbers to young children remains a challenge. Therefore, engaging and developmentally appropriate instructional media are essential. One promising approach is the use of concept songs—children’s songs with lyrics modified to incorporate learning content related to numbers. This study aims to describe the implementation of concept songs in introducing numbers 11–20 and to analyze their impact on the cognitive development of early childhood learners, particularly in fostering symbolic thinking. The study employed a qualitative case study method involving 13 kindergarten B students at TK BOPKRI Gondolayu, Yogyakarta. Data were collected through participatory observation, interviews, and documentation, and analyzed using descriptive techniques. The findings revealed that the use of concept songs fostered a joyful learning atmosphere and enhanced children's active engagement through auditory, visual, and kinesthetic modalities. Children demonstrated improvement in recognizing, verbalizing, and associating numeric symbols with concrete quantities. Nevertheless, some errors were still observed in identifying number sequences and matching quantities, along with technical issues such as vocal discomfort due to high pitch and inappropriate tempo in the accompanying music. In conclusion, concept songs positively stimulate the development of symbolic thinking in early childhood, although musical adjustments are needed to optimize their effectiveness in supporting the learning process Keywords: Concept Song, Number Recognition, Cognitive Development
PERAN MUSIK REGGAE DALAM PENGALAMAN MUSIKAL KONSUMEN KAFE: STUDI FENOMENOLOGI DI TILL DROP BAR PRAWIROTAMAN YOGYAKARTA Siringoringo, Marcelius; Akbar, Mohamad Alfiah; Kaestri, Veronica Yoni
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.19130

Abstract

ABSTRAKPertunjukan musik di kafe kerap diposisikan sebagai musik latar yang bersifat dekoratif, sehingga pengalaman sadar pengunjung terhadap musik jarang dikaji. Akibatnya, relasi antara musik, tubuh, ruang, dan interaksi sosial di ruang kafe, khususnya dalam konteks genre reggae, masih kurang mendapat perhatian. Penelitian ini berpijak pada kajian pengalaman musikal yang memandang musik sebagai praktik yang dialami secara embodied melalui tubuh, ruang, dan relasi sosial. Musik dipahami sebagai medium pembentuk suasana emosional, orientasi tubuh, dan kebersamaan di ruang publik. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana pengunjung mengalami dan memaknai musik reggae dalam program Reggae Night di Till Drop Bar & Resto, Prawirotaman, Yogyakarta, serta bagaimana unsur musikalnya membentuk suasana emosional dan sosial. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima pengunjung, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik reggae mengubah persepsi pengunjung terhadap ruang Till Drop dari canggung menjadi santai, akrab, dan hidup. Respons muncul melalui gerak tubuh, perasaan rileks, bebas, bahagia, hingga nostalgik. Ritme santai, pola bass dominan, karakter instrumen, dan lagu familiar berperan membangun pengalaman emosional dan kebersamaan kolektif. Penelitian ini menegaskan bahwa musik reggae di kafe berfungsi sebagai agen pembentuk pengalaman ruang, tubuh, dan relasi sosial, bukan sekadar musik latar.Kata kunci: musik reggae, pengalaman musikal, ruang kafe, fenomenologi ABSTRACTLive music performances in cafés are often positioned as decorative background music, causing visitors’ conscious musical experiences to receive little scholarly attention. As a result, the relationship between music, body, space, and social interaction in café settings—particularly within specific genres such as reggae—remains underexplored. This study draws on musical experience theory, which views music not merely as sound objects but as embodied practices experienced through the body, space, and social relations. Music is understood as a medium that shapes emotional atmosphere, bodily orientation, and togetherness in public spaces. This study aims to examine how visitors experience and interpret reggae music during the Reggae Night program at Till Drop Bar & Resto, Prawirotaman, Yogyakarta, and how its musical elements construct emotional and social atmospheres. A qualitative method with a descriptive phenomenological approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving five visitors and were analyzed thematically. The findings indicate that reggae music transforms visitors’ perceptions of Till Drop’s space from awkward and crowded to relaxed, intimate, and lively. Responses emerge through bodily movements and feelings of relaxation, freedom, happiness, and, at times, nostalgia. The relaxed rhythm and tempo, dominant bass patterns, instrumental character, and familiar songs arranged in reggae style play important roles in shaping emotional experience and collective togetherness. This study confirms that reggae music in cafés functions as an agent that produces spatial, bodily, and social experience rather than merely serving as background music.Keywords: reggae music, musical experience, café space, phenomenology