cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2024)" : 8 Documents clear
Resiliensi Penyintas Bencana Gempa Bumi di Pidie Jaya Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Usia Ramadhan, Ferry; Mawarpury, Marty
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.7612

Abstract

Resiliensi merupakan kualitas individu yang memungkinkannya untuk menyesuaikan diri dengan stres yang ekstrem dan traumatis, kemudian akan kembali ke kondisi sebelumnya dan tampak kebal dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif. Resiliensi dapat dikaji berdasarkan faktor yang memengaruhinya seperti jenis kelamin dan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan resiliensi pada penyintas bencana gempa bumi di Pidie Jaya ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 163 laki-laki dan 163 subjek perempuan dan kelompok usia terdiri dari 76 subjek remaja, dan 88 subjek dewasa madya. Pengumpulan data menggunakan Connor Davidson Resilience Scale. Hasil analisis menggunakan Mann Whitney U Test menunjukkan nilai signifikasi 0,002 (p0,05) untuk kelompok jenis kelamin dan nilai signifikansi 0,000 (p0,05) untuk kelompok usia, artinya terdapat perbedaan resiliensi ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Hasil ini menunjukkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih resilien dari pada perempuan dan pada kelompok usia, remaja lebih resilien dari pada dewasa madya.Resilience is a quality of a person that allows him/her to adapt to extreme and traumatic stress, then return to his/her previous condition and appear immunity from negative life events. Resilience can be studied based on influencing factors such as gender and age. This study aims to determine differences in resilience in earthquake survivors in Pidie Jaya in terms of gender and age. This research uses quantitative methods with purposive sampling techniques. Tthe subjects in this study consisted of 163 male and 163 female subjects and the age group consisted of 76 adolescents, and 88 middle adults. Data collection using the Connor Davidson Resilience Scale. The results of the analysis using the Mann Whitney U Test showed a significance value of 0.002 (p0.05) for the gender group and 0.000 (p0.05) for the age group, this means that there are differences in resilience in terms of gender and age.The results indicate that based on gender, men are more resilient than women and in the age group, adolescents are more resilient than middle adults.
Kontrol Diri dan Kepatuhan Menggunakan Alat Pelindung Diri Petugas Pengangkut Sampah di Banda Aceh Wardani, Sri; Sari, Kartika
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.9832

Abstract

Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menentukan perilakunya berdasarkan standar tertentu seperti moral, nilai, dan aturan di masyarakat agar mengarah pada perilaku positif. Sedangkan kepatuhan adalah menerima perintah-perintah dari orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih 174 partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Kontrol Diri yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Tangney dkk. dan Skala Kepatuhan berdasarkan pada teori Blass. Hasil analisis dengan teknik korelasi Spearmans Rho diperoleh nilai (r)=0,621 dengan nilai p=0,000 (p 0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tedapat hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Hal ini dapat diartikan bahwa kontrol diri berkaitan dengan kemampuan petugas pengangkut sampah mengembangkan kebiasaan hidup sehat untuk melindungi diri dari perilaku berisiko.Self-control is the ability of individuals to determine their behavior based on certain standards such as morals, values, and rules in society to lead to positive behavior. While obedience is taking orders from others. This study aims to determine correlation between self-control and obedience using personal protective equipment on garbage collectors in Banda Aceh. This research used a purposive sampling technique to select 174 participants. The instruments used are the Self Control Scale compiled by researchers based on the theory developed by Tangney et al and the Compliance Scale based on Blass theory. The results of analysis using the Spearman's Rho correlation technique obtained a value of (r) = 0.621 with a p value = 0.000 (p 0.05). The results of this study indicate that there is a correlation between self-control and obedience using personal protective equipment (PPE) on garbage collectors in Banda Aceh. This can be interpreted that self-control is related to the ability of garbage collectors to develop healthy living habits to protect themselves from risky behavior.
Ketakutan akan Kegagalan dan Prokrastinasi pada Mahasiswa Bidikmisi Maulidya, Maulidya; Dahlia, Dahlia; Mawarpury, Marty; Rachmatan, Risana
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29697

Abstract

Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia tetapi beberapa individu terkendala biaya. Pemerintah kemudian menyiapkan beasiswa Bidikmisi yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mampu secara akademik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Mahasiswa Bidikmisi wajib memiliki IPK minimal 3,00 tetapi masih banyak mahasiswa Bidikmisi memiliki IPK 3,00 karena melakukan prokrastinasi dalam penyelesaian tugas. Salah satu penyebab individu melakukan prokastinasi adalah adanya ketakutan akan kegagalan yang merupakan perasaan terancam menghadapi keadaan yang memungkinkan terjadinya kegagalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik penarikan sampel purposive sehingga diperoleh sampel sebanyak 233 mahasiswa Bidikmisi yang memiliki IPK 3,00. Pengumpulan data menggunakan adaptasi Tuckman Procrastination Scale dan adaptasi The Performance Failure of Appraisal Inventory. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai (r)=0,288 dengan nilai (p)=0,000 (p 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Artinya, semakin tinggi ketakutan akan kegagalan maka semakin tinggi prokrastinasi, begitu juga sebaliknya. Ketakutan akan kegagalan yang muncul diakibatkan mahasiswa Bidikmisi kurang yakin akan kemampuan diri dan menghindari penilaian negatif dari orang lain sehingga melakukan prokrastinasi.Education plays an important role in improving Indonesia's human resources, but some individuals are constrained by costs. The government provides Bidikmisi scholarship for students who are academically capable but have economic limitations. Bidikmisi students are required to have a minimum GPA of 3.00, but there are still many Bidikmisi students who have a GPA 3.00 because they procrastinate in completing their assignments. One of the causes of individuals committing procastination is the fear of failure, which is a feeling of being threatened by facing circumstances that allow failure to occur. The purpose of this study was to determine the relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. This study uses a quantitative approach with pusposive sampling technique therefore 233 Bidikmisi students who have a GPA 3.00 were selected. Data collection uses the adaptation of the Tuckman Procrastination Scale and the adaptation of The Performance Failure of Appraisal Inventory. The results of data analysis using the Pearson Product Moment Correlation shows the value of the correlation coefficient (r)=0.288 with a significance value (p)=0.000 (p 0.05). This shows that there is a relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. That is, the higher the fear of failure, the higher the procrastination, and vice versa. The fear of failure that arises is caused by Bidikmisi students not being confident in their own abilities and avoiding negative judgments from other people, resulting in procrastination.
Intensi Job Hopping pada Generasi Y dan Z Humaira, Sarah; Aprilia, Eka Dian; Mirza, Mirza; Khatijatusshalihah, Khatijatusshalihah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29672

Abstract

Fenomena job hopping telah dianggap menjadi masalah dalam lingkungan pekerjaan saat ini. Dalam lingkup pekerjaan, adanya perbedaan karakteristik antar generasi pekerja dapat mengakibatkan individu untuk melakukan job hopping. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran perbedaan intensi job hopping pada generasi Y dan generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparasi. Responden dalam penelitian ini sebesar 80 subjek untuk setiap kelompok generasi. Adapun jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 160 pekerja generasi Y dan pekerja generasi Z yang aktif bekerja di suatu instansi/perusahaan/organisasi dan bekerja kurang dari 2 tahun pada tempat kerjanya saat ini. Pengumpulan data penelitian menggunakan skala Job Hopping Intention Scale (JHI) dengan () 0,906. Hasil analisis data uji statistik Independent T-test menunjukkan nilai signifikansi (p) =0,000 (0,000 0,05). Ada perbedaan signifikan pada nilai pekerja generasi Y (M=73,75) dan pekerja generasi Z (M=85,00). Berdasarkan nilai mean, pekerja generasi Z lebih tinggi daripada pekerja generasi Y. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja generasi Z memiliki intensi Job hopping lebih besar dibanding pekerja generasi Y.The phenomenon of job hopping has been considered a problem in the current job environment. In the scope of work, differences in characteristics between generations of workers may result in individuals doing job hopping. This study aims to describe the differences in job hopping intentions in generation Y and generation Z. This study uses a quantitative approach with the comparative method. Respondents in this study amounted to 80 subjects for each generation group. The number of respondents taken in this study is 160 generation Y workers and generation Z workers who actively worked in an agency / company / organization and worked less than 2 years at their current workplace. The collection of research data using a Job Hopping Intention Scale (JHI) with () 0.906. The results of statistical test data analysis of the Independent T-test showed a significance value (p) = 0.000 (0.000 0.05). There is a significant difference in the value of generation Y workers (M= 73.75) and generation Z workers (M = 85.00). Based on the mean value, generation Z workers is higher than generation Y workers. This shows that generation Z workers have greater job hopping intentions than generation Y workers.
Hubungan Antara Stres Akademik dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Hakim, Agustian Hasnan; Pratiwi, Cindy; Ramulan, Fayza; Putriani, Putriani; Mutia, Intan; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28833

Abstract

Stres akademik merupakan suatu kondisi berupa tekanan psikologis atau emosional yang dialami mahasiswa sehingga memperburuk kualitas tidurnya, Imana slaah satu penyebabnya yaitu adanya stres akademik yang tentunya berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional, mental, dan fisik, serta performansi sisi akademisnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Sebanyak 70 mahasiswa (yang terdiri dari 19 laki-laki dan 51 perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Perception of Academic Stress Scale (PASS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian yang dilakukan secara online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur (p=0,010, r=.305), hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi stres akadamik yang dialami mahasiswa maka akan semakin rendah kualitas tidur mahasiswa, dan sebaliknya. Hasil temuan lainnya juga menunjukkan bahwa secara umum hampir secara keseluruhan mahasiswa memiliki kualiats tidur yang rendah (91,5%), sedangkan stres akademik berada pada kategori sedang.Academic stress is a condition in which students experience psychological or emotional pressure that decreases their sleep quality. Academic stress is one of the causes of this condition, which affects students' emotional, mental, and physical health, as well asacademic performance. This study aimed to determine the relationship between academic stress and sleep quality among Syiah Kuala University students. A total of 70 students (19 males and 51 females) selected using the purposive sampling technique were used as samples for this study. The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and Perception of Academic Stress Scale (PASS) were used to gather data for online study. The findings indicated a correlation between academic stress and sleep quality (r =.305, p = 0.010). This can be explained by the relationship between student sleep quality and academic stress levels; students who experience higher levels of academic stress also experience lower levels of sleep. Additional research findings showed that almost all students had low sleep quality (91.5%), while academic stress was moderate.
Risiko Terjadinya Kecurangan Akademik Ditinjau dari Orientasi Tujuan Mahasiswa Husna, Mai Tiza; Raffles, Fatihah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29752

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan risiko terjadinya kecurangan akademik ditinjau dari orientasi tujuan mahasiswa. Penelitian dilakukan pada salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang. Penelitian ini memiliki subjek sebanyak 395 orang mahasiswa. Sampel diperoleh melalui salah satu teknik sampling yaitu proportionate stratified random sampling. Kemudian, data yang diperoleh diolah melalui analisis korelasi Spearman Rank karena data penelitian tidak terdistribusi secara normal. Setelah melakukan analisis korelasi, ditemukan hubungan antara orientasi kinerja (performance orientation) dengan kecurangan akademik dengan koefisien korelasi sebesar 0,106 (p 0,05), dan koefisien korelasi sebesar -0,154 (p 0,05) untuk hubungan antara orientasi pembelajaran (learning orientation) dengan kecurangan akademik. Namun, hubungan antara masing-masing tipe orientasi tujuan dengan kecurangan akademik tergolong sangat rendah.The purpose of this study was to describe the risk of academic fraud in terms of student goal orientation. The research was conducted at one of the state universities in Padang City. This study has a subject of 395 students. The sample was taken through one of the sampling techniques, namely proportionate stratified random sampling. Then, the data obtained was processed through Spearman Rank correlation analysis, because the research data was not normally distributed. After conducting correlation analysis, a relationship between performance orientation and academic cheating was found with a correlation coefficient of 0.106 (p 0.05), and a correlation coefficient of -0.154 (p 0.05) for the relationship between learning orientation and academic cheating. However, the relationship between each type of goal orientation and academic cheating is very low.
Gambaran Burnout pada Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu di Banda Aceh Zahra, Misfhilatud; Aini, Zahratul; Ningsih, Ayu Cahya; Nuwansa, Riski; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28862

Abstract

Burnout adalah suatu kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan perasaan rendah diri yang disebabkan oleh adanya stres kerja yang berkepanjangan. Sebagian mahasiswa bekerja paruh waktu yang rentan mengalami burnout yang disebabkan kelelahan secara fisik maupun emosional karena bekerja yang pastinya dapat berdampak pada kulilahnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian dilakukan yaitu untuk melihat gambaran burnout pada mahasiswa pekerja paruh waktu di Banda Aceh, yang dilakukan dengan teknik deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan link gform yang berisikan data demografi dan juga Maslach Burnout Inventory sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Berdasarkan data yang diterima hanya 46 sampel yang memenuhi kriteria penelitian sebagai mahasiswa pekerja paruh waktu yang terdiri dari 25 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Secara garis besar hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja paruh waktu mengalami burnout yang sangat tinggi. data menunjukkan bahwa sebanyak 91,3 persen mahasiswa pekerja paruh waktu berada pada level burnout tingkat tinggi, sedangkan 8,7 persen lainnya mengalami burnout tingkat sedang.Burnout is a disorder marked by depersonalization, feelings of inferiority, and emotional weariness brought on by extended periods of stress at work. Some part-time students are vulnerable to burnout brought on by the mental and physical exhaustion of their jobs, and this can definitely affect their academic achievement. The research used descriptive methodologiesto determine if burnout has been defined in Banda Aceh's part-time working student population. Data collection was carried out online using a Google-form link that containing demographic data and also the Maslach Burnout Inventory as research instrument. Based on the data received, only 46 samples met the research criteria as part-time working students consisting of 25 male students and 21 female students, who were selected using purposive sampling technique. In general, the research findings indicate that students who work part-time have very high levels of burnout; up to 91.3 per cent of these students have high levels of burnout, while the remaining 8.7 per cent have moderate levels of burnout.
Daya Tarik Fisik Wanita Berdasarkan Gaya Hijab Setiawati, Lilis; Afriani, Afriani; Mirza, Mirza; Kumala, Intan Dewi
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29674

Abstract

Bagi seorang wanita, daya tarik fisik menjadi sangat penting dan diyakini dapat memengaruhi hubungan interpersonal. Gaya berbusana diantaranya penggunaan jilbab khususnya pada wanita muslim dimana adalah sebuah kewajiban dalam agama, menjadi komponen pelengkap dalam menilai daya tarik fisik seorang wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya tarik fisik wanita dari gaya jilbab oleh mahasiswa pria muslim di Universitas Syiah Kuala. Sampel penelitian berjumlah 42 mahasiswa berasal dari dua Fakultas yang terpilih secara acak dengan menggunakan teknik cluster dan proportionate stratified random sampling. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan pendekatan pre-experiment design dengan bentuk one shot case study. Intervensi yang diberikan adalah penyajian sejumlah foto wanita dengan berbagai gaya hijab yang disusun oleh peneliti mengacu pada referensi model dan jenis hijab. Subjek penelitian adalah laki-laki usia dewasa awal yang diminta untuk memberikan penilaian berupa persepsi ketertarikan dalam rentang 1 yaitu tidak menarik sama sekali hingga 7 yaitu sangat menarik pada setiap foto yang diberikan. Hasil analisis menggunakan repeated measure ANOVA menunjukkan nilai greenhouse-geisserdf = 3,75 (p0,05) dan nilai sig = 0,00 (p0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan penilaian daya tarik fisik wanita dilihat dari gaya jilbab syari (bercadar dan tanpa cadar) dan non syari oleh mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Hasil menunjukkan wanita dengan penggunaan jilbab syari (tanpa cadar), baju tunik panjang dan rok yang longgar dianggap lebih menarik dibanding dengan gaya penggunaan jilbab lainnya. For a woman, physical attractiveness becomes very important and affects interpersonal relationships. Clothing styles, such as hijab, especially for Muslim women, become a complementary component in assessing the physical attractiveness of a woman. This study aims to determine the difference in women's bodily attractiveness compared to the style of hijab used by Muslim male students at Syiah Kuala University. The research sample comprised 42 students from two faculties randomly selected using cluster and proportionate stratified random sampling techniques. This research was a pre-experimental design approach in the form of a one-shot case study. The intervention given is the presentation of several photos of women with various hijab styles arranged by the researcher referring to the reference model and type of hijab. Subjects were asked to rate the level of attractiveness in the range of 1, which is not attractive at all, to 7, which is very attractive in each photo provided. The data was analyzed using repeated measure ANOVA and showed the value of greenhouse-geisser df = 3.75 (p 0.05) and sig = 0.00 (p 0.05). It revealed that there are significant differences in the degree of women's physical attractiveness based on the hijab styles. More subjects are likely to rate higher on pictures of women wearing hijab syari than non-syari. Specifically, women who wear hijab (without veil) with long tunic dress and loose skirts are considered more attractive compare with other hijab styles.

Page 1 of 1 | Total Record : 8