cover
Contact Name
Serepina Yoshika Hasibuan
Contact Email
serepinahasibuan1991@gmail.com
Phone
+6282337313706
Journal Mail Official
serepinahasibuan1991@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cimangguk, RT.01/RW.02, Ujung Gn. Ilir, Kec. Menggala, Kab. Tulang Bawang, Lampung 34693
Location
Kab. tulang bawang,
Lampung
INDONESIA
Mawar Saron: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Gereja
ISSN : 26454857     EISSN : 29868319     DOI : https://doi.org/10.62240/msj
Core Subject : Religion, Education,
Mawar Saron: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Gereja adalah jurnal publikasi baik hasil penelitian dalam bidang Pendidikan Agama Kristen dan Gereja yang memiliki nomor ISSN 2986-8319 (Online), 2654-4857 (Print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi. Jurnal Mawar Saron terbit 2 kali dalam setahun (Maret dan Oktober).
Articles 66 Documents
Problematika Teodise Allah serta Implikasinya Terhadap PAK Saedo Marbun ; Daniel
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 5 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v5i1.55

Abstract

Pertanyaan abadi yang masih relevan untuk masa kini adalah jika Allah itu ada, mengapa masih ada kejahatan dan penderitaan? Mengapa Ia tidak melindungi umat-Nya dari kejahatan dan penderitaan. Hal ini berdampak pada keraguan akan eksistensi Allah atau setidaknya keraguan akan keadilan Allah. Dimana letak keadilan Allah apabila orang-orang yang beriman kepada-Nya tetap saja merasakan kejahatan manusia atau penderitaan di dunia ini? Suatu paham untuk membela keadilan Allah disebut teodise. Pemahaman tentang teodise mendorong kita untuk kritis melihat eksistensi, kedaulatan, otoritas, kehadiran Allah meskipun dalam penderitaan dan situasi kejahatan. Ia bukanlah pencipta kejahatan. Namun Ia pun berdaulat penuh untuk memerangi kejahatan serta meniadakan penderitaan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab isu-isu tentang keadilan Allah dalam kaitannya dengan eksistensi kejahatan dan penderitaan di tengah dunia masa kini. Melalui studi literatur/kepustakaan, penulis menelusuri teodise Allah yang kemudian dihubungkan dengan pendidikan agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen harus mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan paham teodise antara lain: Tuhan itu Mahabaik, Mahatahu, Mahabenar dan Ia tidak menghendaki kejahatan di dunia. Namun, dosa telah merusak manusia dan dalam kedaulatan-Nya,[1] Tuhan mengijinkan dosa yang berimbas pada kejahatan dengan maksud dan tujuan ilahi yang tak dapat dipahami dengan keterbatasan manusia; Mengenai penderitaan, kita harus tetap menaruh kepercayaan kepada Tuhan sekalipun dalam penderitaan; Keadilan Allah bersifat mutlak dalam diri Allah. Manusia tidak bisa menilai keadilan Allah dengan standar manusia karena jika demikian, keadilan Allah hanya sebatas ruang pemahaman manusia dan yang terakhir adalah Allah bukanlah pembuat kejahatan.
Konsep Konseling Transformatif Analisis Kata “Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu” Dari Roma 12 2 Dan Implikasinya Terhadap Generasi Alpha Gulö, April Yanto
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 7 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v7i1.56

Abstract

Generasi Alpha adalah generasi yang lahir pada saat teknologi sedang berkembang pesat. Generasi ini memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda dengan pendahulunya. Generasi ini sangat bergantung pada teknologi. Akibatnya adalah generasi ini gampang terpapar dengan pengaruh-pengaruh yang tidak menunjukkan moral yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu para konselor dalam melakukan bimbingan terhadap anak-anak yang tumbuh dalam generasi Alpha. Penulis menawarkan konsep konseling transformatif sebagai landasan bagi konselor untuk membimbing generasi Alpha. Penulis juga memberi referensi berdasarkan Roma 12:2 sebagai landasan bagi konselor Kristen dalam mengimplementasikan konseling yang transformatif. Hasil penelitian menunjukkan, Konseling transformatif yang berlandaskan kepada Roma 12:2 memberikan transformasi terhadap moral dan pikiran generasi Alpha.
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Memerangi Radikalisme dan Ekstremisme: Menumbuhkan Cinta, Perdamaian, dan Rasa Hormat Jefrit Johanis Messakh; Esti Regina Boiliu
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.57

Abstract

The spread of radicalism and extremism has become a global concern in recent decades. Issues regarding radicalism and extremism continue to develop in a flurry of problems. This requires the active role of Christian Religious Education to be carried out in a structured manner in order to be able to overcome this challenge by cultivating love, peace and respect. The purpose of this study is to describe the role of Christian Religious Education in fighting radicalism and extremism. The method used in this research is literature study. The result of this research is that Christian religious education can be a powerful force in fighting radicalism and extremism by instilling universal values such as love, peace and respect for fellow human beings. Christian Religious Education also plays a role in developing a deep understanding of Christian teachings which include values such as love for others, forgiveness, understanding, and tolerance. Christian Religious Education must build intercultural skills, and integrate social issues in the Christian Religious Education curriculum.
Peran Orangtua Sebagai Pendidik Spiritual Anak Berdasarkan Ulangan 6:4-9 Di Era Revolusi Industri 4.0: Tinjauan Teologis Dan Pedagogis Dalam Pendidikan Agama Kristen Nova Ritonga
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.59

Abstract

Era Revolusi Industri 4.o adalah era keterbukaan, di mana semua informasi dapat dengan mudah diakses oleh siapapun termasuk anak-anak kristen. Kecanggihan teknologi dan keterbukaan informasi dapat mempengaruhi spiritual anak-anak. Anak-anak dengan mudah terpengaruh tayangan-tayangan yang menarik hati mereka sehingga membuat mereka kurang memperhatikan pertumbuhan imannya. Selain itu, kepedulian orangtua dalam mendidik iman anak juga semakin berkurang karena orangtua dituntut dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu mereka. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana peran orangtua dalam mendidik spiritual anak-anak berdasarkan Ulangan 6:4-9 di era revolusi 4.0. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kepustakaan di mana data diperoleh dari sumber-sumber atau literatur yang dipilih berkaitan dengan penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa ada orangtua yang memberikan perhatian terhadap pendidikan spiritual anak-anaknya dengan berpedoman kepada Alkitab dan ada juga orangtua yang tidak memberi perhatian terhadap pendidikan spiritual anak-anak. Peran orangtua sebagai pendidik spiritual anak dilakukan dengan berbagai cara seperti mengajak anak doa pagi atau doa malam, membaca Alkitab, memutarkan film rohani, menyediakan buku renungan, mengajak anak ke gereja dan menasihati anak untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa orang tua kristen memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan spiritual anak baik ditinjau dari tinjauan teologi maupun pedagogik Pendidikan Agama Kristen. Ditinjau dari sisi teologis dan pedagogik PAK, orang tua dalam menjalankan perannya sebagai pendidik spiritual anak, orang tua harus lebih dahulu memiliki spiritual yang benar di hadapan Allah, mengenal Allah secara benar, menjadi motivator, fasilitator, guru, sahabat bahkan menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Makna Teologis Frasa ‘Allah Menyesal’ Dalam Kitab Yunus Dan Implikasinya Bagi Orang Kristen Masa Kini Daniel Ello; Serepina Yoshika Hasibuan
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.60

Abstract

Salah satu frasa yang sulit dipahami dalam Perjanjian Lama adalah bagaimana memahami makna Allah menyesal. Apakah makna penyesalan dalam diri Allah sama seperti perasaan menyesal dalam diri manusia? Apakah melalui frasa ini dapat disimpulkan bahwa Allah tidak konsisten dengan perkataan-Nya? Apakah penyesalan Allah berimplikasi pada ketidakmampuan Allah mengetahui masa depan sehingga bergantung pada respons penduduk Niniwe? Artikel ini bertujuan untuk menggali makna teologis dari frasa ‘Allah menyesal’ melalui studi naratif. Menurut perspektif peneliti, narasi kitab Yunus yang terdapat frasa ‘Allah menyesal’ di dalamnya akan dipahami secara lebih mendalam melalui studi narasi. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan pendekatan studi naratif, peneliti menggali makna frasa “Allah Menyesal” baik dari sudut pandang penulis kitab Yunus maupun pembaca masa kini. Hasil penelitian mengenai makna teologis frasa ‘Allah menyesal’ adalah Allah menunjukan ekpresi belas kasihan-Nya terhadap bangsa Niniwe karena Allah begitu mengasihi bangsa Niniwe. Dasar inilah yang menjadi pengharapan bagi umat Kristen masa kini. Allah menginginkan pertobatan dan Ia selalu berbelas kasihan.  
Memahami Doa Daniel Sebagai Panduan Untuk Bersyafaat Bagi Orang Kristen Masa Kini: Understanding Daniel's Prayer As A Guide To Intercession For Christians Today Mawar Saron, Pirtondim Berutu; Larosa, Setiaman
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 7 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v7i1.61

Abstract

Doa-doa Daniel dalam Kitab Daniel menyediakan panduan yang berharga dalam bersyafaat. Panduan ini membantu untuk memahami aspek-aspek penting dalam doa Daniel dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penulisan doa Daniel adalah untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Melalui doa Daniel, diajarkan untuk memulai doa dengan penyembahan dan pujian kepada Allah. Kemudian, diingatkan akan pentingnya pengakuan dosa dan rendah hati dalam doa. Bersyafaat harus dilakukan dengan tekun dan ketekunan, didasarkan pada Firman Allah, dan dengan iman dan percaya bahwa Allah akan mendengar dan menjawab doa. Melalui metode studi literatur dengan melakukan eksposisi teks Daniel 9, peneliti melakukan penelitian teks lewat penelusuran buku, artikel jurnal, dan dokumen lain yang mendukung topik pembahasan.
Pastoral Konseling Dalam Mengatasi Malas Belajar Terhadap Mahasiswa Daniel Tamera; Gresia Monica; Juliana Siburian; Kesia Natalia Berutu; Riowardana Samaloisa
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.62

Abstract

Salah satu permasalahan yang sering terjadi dikalangan para mahasiswa saat ini adalah kemalasan dalam belajar  Sifat malas belajar ini biasanya menjadi kebiasaan mahasiswa yang dibentuk sejak menjalani pendidikan sebelumnya dan berlanjut ke jenjang mahasiswa menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sementara itu mahasiswa merupakan individu yang diharapkan pemerintah dapat menjadi penerus masa depan bangsa Indonesia dan cita-cita bangsa indonesia yaitu menghasilkan generasi yang unggul dan berprestasi. Jika malas belajar tetap menjadi kebiasaan buruk mahasiswa maka siapa yang akan menjadi penerus bangsa yang berkarakter baik dan berkompeten di masa yang akan datang. Selain dari itu, ada dua faktor yang mempengaruhi mahasiswa sehingga menjadi malas belajar, dari faktor internal contoh, seperti emosi yang belum stabil, atau tidak dapat mengelola emosi dengan baik, mental yang belum dewasa dan gangguan indera yang berakibat kurang menangkap pelajaran yang disampaikan. Sedangkan dari faktor eksternal contoh, lingkungan sekitar dan cara mengajar dosen yang monoton dan faktor broken home. Melihat fenomena malas belajar pada mahasiswa, penulis tertarik untuk menulis artikel ini yang berjudul ‘’Konseling Pastoral Dalam Mengatasi Malas Belajar Terhadap Mahasiswa’’. Sebelum itu hal-hal yang dibahas dalam artikel ini yaitu malas belajar, faktor malas belajar,bentuk perilaku malas belajar dan dampak malas belajar. Penulis memakai metode kualitatif deskriptif melalui study pustaka (Library Research), artikel jurnal, literature-literature dan dari situs internet dalam pemecahan masalah malas belajar terhadap mahasiswa Kemudian untuk membantu mahasiswa yang malas belajar menggunakan pendekatan-pendekatan, prinsip-prinsip Konseling Pastoral yang menyadarkan mahasiswa agar dapat mengenali dirinya sendiri serta memperbaiki relasi mereka dengan Tuhan. Sehingga, menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas. diharapkan juga dari Konseling Pastoral bisa berkontribusi dalam upaya menyelesaikan masalah malas belajar terhadap mahasiswa.
Filsafat Pemikiran Progresif John Dewey Vs Sentralitas Alkitab Menjadi Fokus Pengenalan Akan Filsafat Pendidikan Agama Kristen Christono Ade Andreas Tonggembio; Ampinia Rahap Wanyi Rohy; Indraldo Undras; Mario Alberto Manodohon; Nelson Hasibuan
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 6 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v6i2.63

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini terkait filsafat pemikiran progresif Jhon Dewey (1859-1952) berpengaruh terhadap pendidikan Kristen dan perkembangannya. Guru tidak termotivasi untuk belajar lebih tekun dengan dalih mereka hanya fasilitator, anak harus aktif belajar sendiri, mereka tidak membutuhkan disiplin, tidak membutuhkan otoritas dalam kelas, dapat menerapkan pola belajar mereka sendiri, dan menerapkan belajar melalui pengalaman (learning by doing) dengan sendirinya sebagai konstruktor pengetahuan. Sekolah Kristen sudah bukan lagi sekolah yang hidup karena simbol-simbol kekristenan, bukan lagi sekolah yang hidup dalam nilai-nilai religiusitas semata. Sudah seharusnya sekolah Kristen lahir dalam keseharian hidup, berelasi dengan Tuhannya, mengalami Tuhan, dan memiliki spiritualisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan oleh pemikir pendidikan Kristen dalam meresponinya, sehingga pendidik tidak tersesat dan terbawa oleh arus dunia ini. Sementara itu, metode kualitatif studi kepustakaan melaui analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini bahwa seharusnya pendidik Kristen memahami pemikiran filsafat Kristen yang berdasarkan kepada kebenaran Alkitab. Filsafat pendidikan yang dianut sebuah sekolah sangat menentukan praksis pembelajaran yang berlangsung, yang ujungnya bermuara pada pembinaan dan kualitas pendidikan. Filsafat pendidikan Kristen memiliki sentralitas Alkitab. Semua prinsip pendidikan digali dari kebenaran firman Tuhan. Spiritualisme dalam operasional sekolah yang lahir melalui disiplin, kurikulum, dan metode dalam mandat Injil. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah pendidikan Kristen harus berakar dari manusia ciptaan Tuhan, diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan sudah ditebus oleh kasih Allah sehingga manusia memahami hidupnya di dunia. Sentralitas Alkitab menjadi fokus pengenalan akan filsafat pendidikan Kristen, yaitu: Realitas Ciptaan Allah, Mandat Penciptaan, Perjanjian Antara Allah dan Umat Pilihan-Nya, Mandat Amanat Agung.  
Peran Guru PAK Dalam Meningkatkan Toleransi Beragama Peserta Didik Dalam Masyarakat Majemuk Siahaan, Hana Patria Valentina; Tamera, Daniel Martin
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 7 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v7i1.70

Abstract

Penelitian ini membahas kemajemukan dan fokus terhadap intoleransi umat beragama dan bagaimana peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan toleransi. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa tingkat toleransi terhadap umat beragama yang beragam masih minim dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini mencoba mendalami bagaimana peran seorang Guru Agama Kristen dalam meningkatkan rasa toleransi, yang artinya guru tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik. Tetapi juga berperan sebagai pembimbing, teladan, dalam meningkatkan perkembangan karakter peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan metode kepustakaan. Seorang guru Pendidikan Agama Kristen juga harus mampu memahami dan mengajarkan Agama Kristen, memberikan motivasi serta membangun hubungan yang baik antara pengajar dan peserta didik. Guru Agama Kristen juga dapat menggunakan berbagai alat serta media pembelajaran, guna menunjang keberlangsungan pembelajaran serta memperhatikan kebutuhan spiritual peserta didik.
Relevansi Karunia Berbahasa Roh Bagi Pertumbuhan Iman Generasi Milenial: Tinjauan Teologi Pentakosta pandia, yunus; Paramma, Dwiyafet; Hina, Sara Do
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 7 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v7i1.71

Abstract

Penelitian ini mengkaji karunia berbicara dalam bahasa roh (Glossolalia) dalam teologi Pentakosta dan relevansinya bagi pertumbuhan iman generasi milenial. Dengan menganalisis asal-usul Yunani 'Glossolalia', studi ini menyoroti penggunaannya dalam Kisah Para Rasul dan 1 Korintus, mengungkap konteks historis dan teologis. Fokus utama adalah peran bahasa roh sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan, memperkuat kehidupan rohani dan iman individu. Survei kualitatif mengeksplorasi persepsi generasi milenial, menunjukkan relevansi karunia ini lintas generasi, pendidikan, dan gender. Temuan menekankan pentingnya bahasa roh dalam konteks modern, mendukung identitas spiritual milenial dan membentuk komunitas keagamaan yang inklusif dan dinamis. Penelitian menyimpulkan bahwa bahasa roh penting dalam mempertahankan tradisi Pentakosta yang relevan dan adaptif terhadap perubahan sosial dan budaya kontemporer