cover
Contact Name
Ainiah
Contact Email
elwasathyammi@gmail.com
Phone
+6285362700652
Journal Mail Official
elwasathyammi@gmail.com
Editorial Address
Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia Jalan Emun Beriring, Asir-Asir Asia, Kec. Lut Tawar, 24512 Kab. Aceh Tengah, Indonesia
Location
Kab. aceh tengah,
Aceh
INDONESIA
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies diterbitkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI) dengan tujuan menyebarluaskan hasil penelitian atau kajian tentang perkembangan ilmiah studi-studi keislaman yang mencakup aspek kajian Fikih, Ekonomi Islam, Al-Quran dan Hadis, Pemikiran Islam, Dakwah, Akidah, Ilmu Kalam dan Psikologi Islam. Naskah yang dimuat dalam jurnal ini berasal dari hasil penelitian dan kajian ilmiah yang dilakukan akademisi, peneliti maupun pemerhati studi Islam. Terbit berkala setahun dua kali setiap Mei dan November. Redaksi menerima kontribusi dari artikel ilmiah yang belum pernah dipublikasikan di media/jurnal lain. Naskah artikel yang dikirimkan akan dievaluasi/review dan melalui proses editing agar sesuai dengan gaya selingkung jurnal.
Articles 51 Documents
Menimbang Sakralitas dan Komersialisasi: Komodifikasi Al-Qur’an di Era Digital Mardiah, Leni
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 3 No 1 (2025): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol31.2025.159-173

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap cara umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an kini tidak hanya dipahami sebagai kitab suci, tetapi juga sebagai objek digital yang dapat dikonsumsi, dibagikan, dan dikomersialisasikan dalam berbagai bentuk seperti aplikasi, mushaf digital, video tafsir, dan konten media sosial. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk komodifikasi Al-Qur’an di dunia digital dan bagaimana etika Islam memandang fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komodifikasi Al-Qur’an dalam konteks digital, mengidentifikasi variasi bentuknya, serta mengevaluasi praktik tersebut berdasarkan prinsip-prinsip etika Islam. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dan normatif-teologis, dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi terhadap konten digital, serta analisis terhadap aplikasi dan media sosial keislaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi Al-Qur’an membawa manfaat berupa kemudahan akses dan perluasan dakwah. Namun, ketika proses komodifikasi ini didorong oleh motif komersial semata tanpa memperhatikan nilai-nilai sakral wahyu, muncul risiko degradasi makna dan kesucian Al-Qur’an. Kesimpulan dari studi ini menyatakan bahwa komodifikasi Al-Qur’an digital diperbolehkan secara etis selama tetap menjaga niat dakwah, memperhatikan keadilan akses, serta menjunjung tinggi adab terhadap wahyu. Sebaliknya, praktik yang mengabaikan nilai-nilai etis Islam dapat mengarah pada eksploitasi religius yang bertentangan dengan semangat Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup umat. Kata kunci: Komodifikasi; Al-Qur’an Digital; Etika Islam; Dakwah; Media Sosial. ABSTRACT The development of digital technology has significantly impacted how Muslims interact with the Qur'an. The Qur'an is no longer understood solely as a sacred scripture, but also as a digital object that can be consumed, shared, and commercialized in various forms such as mobile applications, digital mushafs, tafsir videos, and social media content. The central issues addressed in this study are: what are the forms of commodification of the Qur’an in the digital realm, and how does Islamic ethics view this phenomenon? This research aims to analyze the practice of Qur’anic commodification in digital contexts, identify its various forms, and evaluate these practices based on Islamic ethical principles. The method used is a qualitative descriptive approach combined with a normative-theological analysis. Data were collected through literature review, observation of digital content, and analysis of Islamic applications and social media platforms. The findings show that the digitization of the Qur'an provides benefits such as easier access and the expansion of religious outreach (da'wah). However, when the commodification process is driven purely by commercial motives without regard to the sacred values of revelation, it risks degrading the meaning and sanctity of the Qur'an. The conclusion of this study asserts that the digital commodification of the Qur’an is ethically permissible as long as it upholds the intention of da'wah, ensures fair access, and respects the proper etiquette toward revelation. Conversely, practices that ignore Islamic ethical values may lead to religious exploitation contrary to the Qur'an’s spirit as a guide for humanity. Keywords: Commodification; Digital Qur’an; Islamic Ethics; Da'wah; Social Media.
Analisis Epistemologi Makki Madani Perspektif Al-Suyuti Dalam Kitab Al-Itqan Ma'rifat, Aulia Karimatul
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 3 No 1 (2025): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol31.2025.174-193

Abstract

  ABSTRAK Penelitian ini membahas epistemologi Makki dan Madani dalam perspektif Imam Jalaluddin al-Suyuti melalui kitab Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Latar belakang kajian ini didasarkan pada pentingnya klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an sebagai landasan epistemologis dalam studi tafsir. Rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana konsep Makkiyah dan Madaniyyah dipahami dan diklasifikasikan oleh al-Suyuti, serta bagaimana relevansi metodologinya dalam konteks keilmuan modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali kerangka epistemologis al-Suyuti mengenai Makki dan Madani, serta mengkaji kemungkinan reinterpretasinya di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika dan jenis penelitian deskriptif-analitis berbasis studi pustaka. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: analisis historis, analisis isi teks, dan komparasi dengan pemikiran klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Suyuti mengklasifikasikan ayat Makkiyah dan Madaniyyah melalui tiga pendekatan utama: waktu, tempat, dan audiens wahyu. Meskipun sistem klasifikasi ini kuat dalam struktur tradisional, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut perlu dikontekstualisasikan ulang agar tetap relevan dalam menghadapi isu-isu globalisasi, keadilan sosial, dan perkembangan tafsir modern. Kata kunci: Epistemologi; Makki-Madani; Al-Suyuti.   ABSTRACT This study explores the epistemology of Makki and Madani verses from the perspective of Imam Jalaluddin al-Suyuti as presented in his seminal work Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. The research is grounded in the significance of Qur’anic verse classification as a foundational epistemological framework in tafsir studies. The central research questions address how al-Suyuti understands and categorizes Makki and Madani verses, and how his methodology remains relevant in modern scholarly discourse. The study aims to analyze al-Suyuti’s epistemological construction regarding these classifications and to examine their potential reinterpretation in the contemporary era. A qualitative method with a hermeneutical approach is employed, using a descriptive-analytical type of library research. The analysis follows three stages: historical contextualization, textual interpretation, and comparative analysis with both classical and modern thought. The findings reveal that al-Suyuti applies three main criteria to categorize the verses: chronology, geographical location, and target audience. While this classification model is robust in the traditional framework, the study concludes that it requires reinterpretation and contextual adaptation to address contemporary issues such as globalization, social justice, and the development of modern Qur’anic interpretation. Keywords: Epistemology; Makki-Madani; Al-Suyuti.  
Perbandingan Penafsiran Tentang Keluarga Bahagia Dalam Tafsir Ibnu Katsir Dan Tafsir Al-Azhar sutarjo, hanafa; N.R, Arif Firdausi; Saputra, Akhmadiyah
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.207-225

Abstract

Dalam kehidupan manusia, keluarga merupakan hal yang sangat penting, karena keluarga merupakan tempat pertama manusia mendapatkan pendidikan dan pelajaran dalam menghadapi kehidupannya. Dari keluarga akan terbentuk masyarakat, bangsa, dan negara. Dari keluarga juga akan terbentuk umat dan tegaknya masyarakat islam.Untuk itu, adanya ketenangan, keharmonisan, dan kasih sayang dalam kehidupan suami istri sangat penting. Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang tercantum dalam surah Ar-Rum ayat 21, bahwa tujuan sebuah keluarga adalah agar terciptanya suasana, dan keadaan yang harmonis, dan agar terciptanya rasa kasih sayang dan ketenangan. Hal ini sering kita dengar sebagai ungkapan sakinah mawaddah wa rahmah. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa seiring perkembangan zaman dan teknologi, menciptakan keluarga bahagia tidak semudah membalik telapak tangan. Kebahagiaan akan bergantung dengan cara pandang yang di gunakan. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran keluarga sakinah atau lebih spesifik kita sebut keluarga bahagia menurut Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Azhar. Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian pustaka. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan perbandingan penafsiran tentang keluarga bahagia dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Azhar. Menurut tafsir Ibnu Katsir keluarga bahagia merupakan keluarga yang memiliki rasa ketenangan, ketentraman, ketetapan hati, kemudian perantara kebahagiaan bisa dicapai dengan hadirnya seorang anak. Sementara, pandangan tafsir al-Azhar mengenai keluarga bahagia dengan hadirnya ketenangan setiap anggota individu keluarga sehingga rasa ketentraman di dunia dicapai dengan rasa memikul keadaan bersama-sama.
Kajian Qalbun Salim Dalam Tafsir Al-Azhar rohman, maulana; Amrulloh, Muhamad; Murdianto
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.283-298

Abstract

Hati yang bersih dalam artian terbebas dari segala pengaruh yang mengikat hati, tentunya terbebas dari kesyirikan dan telah mencapai tauhid yang sejati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji lebih dalam tentang makna Qalbun salim. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan beberapa sumber data yang berasal dari buku, naskah, dokumen, kitab-kitab tafsir dan karya-karya lain yang berkaitan dengan tema yang sedang dikaji dengan sumber utama yaitu tafsir Al-Azhar. Hasil penelitian ini menyebutkan arti dari Qalbun salim adalah hati yang bersih, jernih, dan terbebas dari segala kotoran yang akan mendapat kebahagiaan, kedamaian batin, dan ketenangan jiwa. Karena Qalbun Salim merupakan kunci utama untuk mencapai kebahagiaan sejati
Perbandingan Penafsiran Tentang Keadilan Dalam Tafsīr Al-Munir dan Tafsir Al-Azhar akhandi, farhan; Firdaus N.R, Arif Firdaus; Murdianto
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.241-253

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penafsiran tentang keadilan dalam Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Azhar. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tematik, yaitu memahami ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan tema keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1. Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Azhar memiliki kesamaan dalam metode penafsiran, yaitu menggunakan metode tahlili (analitis). Namun, terdapat perbedaan dari sisi latar belakang penafsir, di mana Tafsir Al-Munir ditulis oleh ulama Suriah sedangkan Tafsir Al-Azhar ditulis oleh ulama Indonesia. 2. Kedua penafsir memiliki pandangan yang sama tentang konsep keadilan dalam al-Qur'an, yaitu keadilan adalah salah satu tujuan utama syariat Islam yang harus ditegakkan dalam kehidupan. Keadilan mencakup berbagai aspek, seperti keadilan dalam hukum, ekonomi, sosial, dan politik. 3. Perbedaan mendasar terletak pada penafsiran ayat-ayat tentang keadilan. Tafsir Al-Munir cenderung lebih fokus pada aspek hukum dan moral, sedangkan Tafsir Al-Azhar lebih menekankan pada aspek sosial-ekonomi dalam mewujudkan keadilan.
Studi Penafsiran Doa Nabi Ibrahim Dalam Kitab Tafsir Al-Munir Sandi Gunawan, Indra; Sulthoni, Akhmad; Ridho, Muhammad Mukharom
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.265-282

Abstract

Doa merupakan suatu bentuk ritual ibadah yang wajib bagi setiap muslim. Penulis memilih doa nabi Ibrahim karena nabi Ibrahim memiliki keistimewaan yang tidak ada pada nabi lainnya, sehingga menarik untuk dikaji lebih karena nabi Ibrahim juga merupakan tokoh teladan bagi umat islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat doa nabi Ibrahim dalam kitab tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam kitab tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhaili menafsirkan doa-doa nabi Ibrahim dengan menekankan pada aspek kepatuhan, ketakwaan, dan ketauhidan nabi Ibrahim kepada Allah. Doa-doa nabi Ibrahim dalam tafsir tersebut juga diimplementasikan sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, seperti doa memohon petunjuk, doa memohon perlindungan, dan doa memohon keturunan. Secara umum, penafsiran az-Zuhaili tentang doa-doa nabi Ibrahim mengarahkan pada peningkatan hubungan hamba dengan Allah serta menggunakan nilai-nilai ketakwaan dan kepatuhan dalam beribadah.
Insecure Dalam Tinjauan Hadis Nabi dan Konseling Spiritual: Pendekatan Solutif Raihan, Nur
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.226-240

Abstract

Penelitian ini mengkaji perasaan Insecure perspektif hadis Nabi dan konseling spiritual. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan korelasi antara perasaan Insecure dan hadis, serta mengeksplorasi tindakan preventif yang ditawarkan oleh Rasulullah serta melihat metode konseling spriritual sebagai salah satu metode dalam mencegah perasaan Insecure. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini, 1). Hadis riwayat Muslim No.4816 dalam bab perintah untuk kuat dan tidak lemah, secara interpretasi tekstual hadis ini menganjurkan agar menjadi mukmin yang kuat secara fisik dan mental dengan cara optimis dan bermanfaat dengan terus meminta pertolongan kepada Allah Swt. 2). Hadis ini melarang mukmin merasa lemah dan menyalahkan takdir atas kesedihan dan ketidakberuntungan dalam hidupnya. 3). Kemudian konseling spiritual yang ditawarkan adalah dengan melatih untuk mengingat nikmat dengan cara positive thingking, self love, self awareness dan self confidence yang dapat dijadikan motivasi penguat diri.
Fungsi Al-Qur’an Sebagai Obat Penyakit Hati Perspektif Tafsir Al-Maraghi Ifa, Farah; Rokhani, Siti; Astuti, Indri
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.254-264

Abstract

ABSTRAK Problematika kehidupan zaman sekarang yang sering dilalaikan manusia adalah penyakit yang ada dalam hatinya. Penyakit hati yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penyakit yang bersarang dalam hati manusia yang sifatnya tercela, seperti keraguan, kemunafikan, kebodohan dan lain sebagainya. Obat terbaik untuk penyakit ini adalah dengan kembali pada Al-Qur’an, karena didalamnya terkandung berbagai macam nasehat, hikmah, peringatan, ancaman, dan kabar gembira. Penelitian ini berfokus pada dua hal, yakni pertama, bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang Al-Qur’an adalah obat penyakit yang ada dalam hati menurut Imam Al-Maraghi. Kedua, bagaimana implikasi ayat-ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau library research dan termasuk dalam kategori kajian tafsir tematik atau maudhu’i. Dalam penelitian ini, dihasilkan bahwa imam Al-Maraghi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, yakni tafsir Al-Maraghi, bahwa Al-Quran akan menjadi petunjuk dan obat bagi orang-orang yang membenarkannya dan mau mengambil hikmah darinya. Dan sesungguhnya yang dibutuhkan manusia dalam hidup hanyalah ketenangan, yang mana salah satu sumber ketenangan itu bisa didapatkan dengan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an.
Kaidah Menghafal Al-Qur’an: Antara Pemahaman dan Penerapan sasmika, sasmika
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.299-310

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara kaidah dalam menghafalkan al-Qur’an berdasarkan surat al-Qiyāmah ayat 16-19 dengan penerapan kaidah menghafal Qur’an yang dilakukan oleh guru taḥfiẓ. Berdasarkan observasi awal, ditemukan bahwa adanya penggunaan metode menghafal dan target hafalan yang menyulitkan siswa, kurangnya kelancaran hafalan dari keseluruhan hafalan, dan kurangnya kegiatan dalam memaknai ayat-ayat yang telah dihafalkan siswa. Lokasi penelitian ini adalah di Dayah al-ʻAthiyah Tahfizh al-Qur’an yang berada di Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Sumber data diperoleh dari guru taḥfiẓ sebagai sumber primer, dan penelusuran kitab-kitab tafsir, buku, dan referensi lainnya sebagai sumber sekunder. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut kemudian direduksi, disajikan dalam bentuk analisis deskripsif dan dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman antar guru taḥfiẓ dalam memahami surat al-Qiyāmah ayat 16-19 tentang kaidah menghafal al-Qur’an. Sementara itu, kaidah menghafal al-Qur’an yang diterapkan oleh semua guru taḥfiẓ pada dasarnya adalah sama, karena mengikuti aturan kelembagaan yaitu membimbing siswa untuk memiliki niat yang ikhlas, tekad yang kuat, membaca sesuai dengan tajwid, berusaha mengamalkan al-Qur’an, senantiasa berdo’a, dan menghafal al-Qur’an dilakukan dengan menggunakan metode wahdah.
Gulūl: Analisis Konsep Korupsi Dalam Alquran Sudianto, Ahmad; Hasani Z, Jufri
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol22.2024.311-332

Abstract

Konsep gulūl dalam Alquran sering dikaitkan dengan tindakan korupsi, namun pemahamannya masih perlu diperdalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang lebih luas dari gulūl dan menghubungkannya dengan fenomena korupsi kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka sebagai metode utama. Kriteria pemilihan sumber didasarkan pada relevansi temanya, kedalaman analisis, kredibilitas penulis, dan kesesuaian dengan periode historis yang diteliti. Data yang dianalisis meliputi ayat-ayat Alquran, hadis, serta literatur-literatur terkait. Analisis isi dilakukan secara sistematis terhadap berbagai tafsir Alquran yang membahas ayat-ayat terkait gulūl. Teks tafsir dibagi menjadi unit-unit analisis yang lebih kecil, seperti kalimat atau paragraf, lalu dikodekan berdasarkan tema-tema yang relevan meliputi pencurian, pengkhianatan, amanah, dan hukuman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulūl tidak hanya merujuk pada pencurian harta rampasan perang, tetapi juga mencakup tindakan korupsi dalam bentuk yang lebih luas, seperti pengkhianatan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pencurian harta publik. Analisis konteks historis menunjukkan bahwa konsep gulūl muncul dalam konteks peperangan dan pembagian harta rampasan perang. Namun, seiring berjalannya waktu, makna gulūl meluas mencakup berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan harta benda publik. Pelaku gulūl digambarkan sebagai orang yang mengkhianati amanah, melanggar keadilan, dan tidak bertakwa kepada Allah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep gulūl menawarkan perspektif yang kaya dan relevan untuk memahami akar permasalahan korupsi. Pemahaman yang mendalam terhadap konsep ini dapat menjadi landasan bagi pengembangan strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi yang lebih efektif. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya kajian Alquran yang komprehensif dan integratif untuk menemukan solusi atas permasalahan sosial yang kompleks.