Jurnal Hukum Mimbar Justitia
Focus and Scope Focus of Jurnal Hukum Mimbar Justitia has a main focus on the publication of scientific articles related to various aspects of law, both in national and international contexts. The journal aims to be a platform for academics, legal practitioners, and researchers to share knowledge, research results, and current thinking in various fields of law. Scope of Jurnal Hukum Mimbar JustitiaJournal: The scope of Mimbar Justitia Law Journal includes, but is not limited to, the following areas: Constitutional Law: Articles that discuss legal aspects of constitutions, systems of government, division of powers, human rights, as well as other related topics in the context of specific countries and legal systems. Criminal Law: Topics related to criminal law, including but not limited to criminal theory, crime, criminal procedure, criminal justice, and current crime issues. Civil Law: Articles that discuss civil law in various contexts, such as family law, inheritance law, contract law, property law, and other civil disputes. Business and Economic Law: This scope includes articles that discuss legal aspects related to the world of business and economics, including competition law, business contract law, corporate law, and economic regulation. International Law: Articles that discuss international law, including public international law, private international law, international organisations, international trade, and other global issues. Environmental Law: This covers articles that address legal issues relating to environmental conservation, natural resource protection, environmental law, and corporate social responsibility in an environmental context. Islamic Law: Articles that discuss aspects of Islamic law in various contexts, including Islamic family law, sharia, Islamic economic law, and Islamic legal thought. Customary Law: Articles that discuss customary law in the context of specific cultures and societies, including traditional legal systems, customs, and the protection of customary rights. Health Law: This scope includes articles that address legal aspects related to the field of health, including medical law, medical ethics, pharmaceutical regulation, and patient rights and obligations. Law of the Sea: Articles that discuss the law of the sea, including fisheries law, marine transport law, international conventions on the law of the sea, and other maritime law issues. Space Law: This scope includes articles that discuss legal aspects relating to space exploration, space exploration, regulation of space activities, and the rights and obligations of states in space. The journal also welcomes articles that discuss other topics related to legal science at large. The approach used in analysing the articles is Juridical Normative and Juridical Sociology, to provide comprehensive and in-depth insight into the topics discussed.
Articles
160 Documents
Penegakan Hukum Tindak Pidana Perbankan Oleh Pihak Internal (Internal Bank Frauds): Tantangan Dan Solusi
Akram, Aqil Syahru;
Kurniawan, Itok Dwi
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4168
AbstractPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa tantangan utama dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana perbankan oleh pihak internal serta menawarkan solusi yang dapat diadopsi untuk meningkatkan efektivitas penegakan hukum kasus internal bank frauds ini. Artikel ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan yang berfokus pada perundang-undangan serta analisis mendalam terhadap peraturan yang ada. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa penegakan hukum terhadap kejahatan perbankan yang melibatkan pihak internal masih menghadapi berbagai tantangan, diantaranya: kurangnya kesadaran hukum dan integritas pegawai bank, kompleksitas modus operandi kejahatan perbankan, serta kurang efektifnya sistem pencegahan dan pendeteksian dini kejahatan perbankan. Pengembangan sistem deteksi dini, instrumen pencegahan dan pengawasan yang efektif perlu diimplementasikan secara pararel dengan penegakan hukum yang tegas dan menciptakan efek jera bagi pelanggar dan calon pelaku. Penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara para pihak yang terlibat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih tahan kejahatan internal perbankan. AbstractThis research aims to analyze the main challenges in law enforcement against banking crimes by internal parties and to offer solutions that can be adopted to improve the effectiveness of law enforcement in these internal bank fraud cases. This article uses a normative legal research method with an approach that focuses on legislation and an in-depth analysis of existing regulations. The findings of this research indicate that law enforcement against banking crimes involving internal parties still faces various challenges, including: the lack of legal awareness and integrity among bank employees, the complexity of banking crime modus operandi, and the ineffectiveness of the early prevention and detection systems for banking crimes. The development of an early detection system, effective prevention instruments, and monitoring needs to be implemented in parallel with strict law enforcement to create a deterrent effect for offenders and potential perpetrators. This research shows that collaboration between the parties involved is very important to create an environment that is more resistant to internal banking crimes.
Perlindungan Hukum Bagi Konten Kreator Terhadap Pengunggah Ulang Pada Youtube Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta
Fathanudien, Anthon;
Pramudya, Aef Yudha;
Faturohman, Fatur
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4653
AbstrakAdanya pengunggah ulang pada Youtube memberikan dampak kerugian bagi konten kreator. Kerugian yang ditimbulkan berupa hak ekonomi atas konten diunggah ulang, dengan maraknya pengunggah ulang maka diperlukan penelitian mengenai perlindungan hukum bagi konten kreator terhadap pengunggah ulang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaturan hukum konten kreator terhadap pengunggah ulang menurut peraturan perundang- undangan dan perlindungan hukum bagi konten kreator terhadap pengunggah ulang berdasarkan Undang- Undang Hak Cipta. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, Hasil dari penelitian ini bahwa adanya pengunggah ulang menimbulkan kerugian konten kreator telah diatur pada peraturan undang- undangan Berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap seorang pembuat konten dengan adanya pengunggah ulang yaitu penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian sengketa, arbitrase dan jalur pengadilan sebagai upaya represif dan melakukan pencatatan karya cipta, bergabung sebagai anggota Badan Manajemen Kolektif dan mengaktifkan fitur content id pada Youtube. AbstractThe existence of re-uploads on YouTube has a detrimental impact on content creators. The losses incurred are in the form of economic rights for re-uploaded content. With the rise of re-uploads, research is needed regarding legal protection for content creators against re-uploaders. The aim of the research is to determine the legal regulation of content creators for re-uploaders according to statutory regulations as well as legal protection for content creators for re-uploaders based on the Copyright Law. This research uses normative juridical methods. The results of this research are that re-uploading causes losses to content creators which have been regulated in statutory regulations relating to legal protection for content creators with re-uploading, namely resolving disputes through alternative dispute resolution, arbitration and court proceedings. as a repressive effort and to record copyrighted works, join as a member of the Collective Management Institute and activate the content ID feature on YouTube.
Penerapan Asas Kebebasan Berkontrak Dalam Jaminan Fidusia Pada Perjanjian Leasing Saat Pailit
Megawati, Leny;
Al Idrus, M. Mahdor
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4909
AbstrakKegiatan sewa guna usaha adalah pembiayaan yang berbentuk penyediaan barang berupa modal oleh lessor dengan cara leasing yang menawarkan hak opsi maupun tidak untuk guna usaha yang dimanfaatkan seorang penyewa dalam rentang waktu tertentu dengan membayarnya secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penerapan asas kebebasan berkontrak dalam jaminan fidusia pada perjanjian sewa guna usaha saat pailit yang dimana leasing ini banyak sekali memberikan manfaat yang sangat besar terutama dalam pengadaan barang modal. Akan tetapi dalam praktek kehidupan sehari-hari pada kenyataanya pelaksanaan perjanjian leasing tersebut tidak semuanya berjalan dengan lancar baik dalam proses operasionalnya, karena diakibatkan adanya salah satu pihak yang melakukan wanprestasi. Pengaturan yang belum jelas ini mengakibatkan sering terjadinya ketidaksesuaian dan penyimpangan-penyimpangan terhadap perjanjian maupun prinsip-prinsip dari leasing itu sendiri. Hasil penelitian tersebut menunjukan harus adanya perlindungan hukum serta keseimbangan bagi para pihak untuk mewujudkan keadilan sosial di dalam asas kebebasan berkontrak yang harus dimulai dari keberhasilan hukum.AbstractLeasing activities are financing in the form of providing goods in the form of capital by the lessor by means of leasing which offers options or not for business use which is utilized by a tenant within a certain period of time by paying periodically. This research aims to understand the application of the principle of freedom of contract in fiduciary guarantees in leasing agreements during bankruptcy, where leasing provides enormous benefits, especially in the procurement of capital goods. However, in the practice of daily life, in fact, the implementation of the leasing agreement does not all run smoothly either in the operational process, because it is caused by one of the parties committing default. This unclear arrangement results in frequent discrepancies and deviations from the agreement and the principles of leasing itself. The results of this research show that there must be legal protection and balance for the parties to realize social justice in the principle of freedom of contract which must begin with the success of the law.
Analisis Hukum Terhadap Notaris Yang Meninggalkan Wilayah Jabatannya Tanpa Adanya Notaris Pengganti
Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4770
AbstrakPengawasan notaris dan konsekuensi hukum Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) atas cuti notaris. Penelitian menunjukkan bahwa pengawasan Majelis Pengawas Daerah (MPD) Kabupaten Cianjur bersifat pasif dan kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh jumlah pengawas yang terbatas dibandingkan dengan jumlah notaris yang ada, serta keterbatasan sarana dan prasarana. Notaris dapat dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis hingga pemberhentian tidak hormat jika mereka melanggar Pasal 17 ayat (1) huruf b UUJN, seperti meninggalkan wilayah jabatan tanpa mengajukan cuti atau notaris pengganti. Selain itu, akta yang dibuat dalam keadaan tersebut kehilangan legitimasinya dan hanya dapat dibuktikan sebagai akta yang di bawah tangan. Studi ini menegaskan bahwa MPD harus diawasi secara aktif untuk memastikan notaris mematuhi peraturan, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kenotariatan dapat dipertahankan. AbstractNotary supervision and the legal consequences of the Notary Office Law (UUJN) on notary leave. The research shows that the supervision of the Regional Supervisory Council (MPD) of Cianjur Regency is passive and ineffective. This is due to the limited number of supervisors compared to the number of notaries, as well as limited facilities and infrastructure. Notaries can be subject to administrative sanctions in the form of written warnings to dishonourable dismissal if they violate Article 17 paragraph (1) letter b of the UUJN, such as leaving the area of office without applying for leave or a substitute notary. In addition, deeds made under such circumstances lose their legitimacy and can only be proven as underhand deeds. This study confirms that MPD must be actively supervised to ensure notaries comply with the regulations, so that public trust in the notarial institution can be maintained.
Ulasan Singkat Tinjauan Yuridis Pendayagunaan Kekurangan Syarat Subyektif Dan Obyektif Dalam Pembatalan Perjanjian
Achfas, Muhammad Hadiyan
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4934
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa Syarat sah Perjanjian yang termaktub pada Pasal 1320 KUHPerdata. Pihak-pihak dalam perjanjian terkadang gagal memahami hak dan kewajiban mereka, sehingga Ketika muncul kerugian mereka tidak paham langkah apa guna menghapus perjanjian tersebut. Hal ini memunculkan permasalahan: bagaimana upaya maksimal pihak yang merasa dirugikan dalam perjanjian tersebut dan bagaimana langkah pembatalan suatu perjanjian yang dipandang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan data kualitatif yang menitikberatkan data sekunder melalui penerapan norma-norma, kaidah-kaidah dalam hukum positif, serta pendekatan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Upaya maksimal pihak yang merasa dirugikan dalam suatu perjanjian adalah memanfaatkan solusi dan mekanisme pembatalan perjanjian dan, langkah pembatalan suatu perjanjian yang dipandang tidak memenuhi syarat subyektif dilakukan melalui pengajuan pembatalan perjanjian ke Pengadilan Negeri maupun mengajukan pembuktian langsung bahwa perjanjian tersebut batal demi hukum secara seketika akibat tidak terpenuhinya persyaratan obyektif. AbstractThis research aims to analyze the Validity Requirements of Agreements as stipulated in Article 1320 of the Civil Code. The parties in the agreement sometimes fail to understand their rights and obligations, so when losses occur, they do not know what steps to take to terminate the agreement. This raises the issue: what are the maximum efforts of the party who feels aggrieved in the agreement and what are the steps to annul an agreement that is deemed not in accordance with the laws and regulations in Indonesia. This research is a normative legal study with qualitative data that emphasizes secondary data through the application of norms and rules in positive law, as well as an approach to legislation. Research results show that: The maximum effort of the aggrieved party in an agreement is to utilize the solutions and mechanisms for canceling the agreement, and the cancellation of an agreement deemed not to meet subjective requirements is carried out by submitting a cancellation of the agreement to the District Court or by directly proving that the agreement is void by law immediately due to the failure to meet objective requirements.
Evaluasi Efektivitas Undang-Undang No. 1 Tahun 2024 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam Pencegahan Cyberterrorism
Bastian, Muhammad Arkhan Maulana;
Sutanto, Rudy;
Basuni, Raden Ruli
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4997
AbstrakPenelitian ini mengevaluasi efektivitas Undang-Undang No. 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dalam pencegahan terorisme siber di Indonesia. Studi ini menyoroti perlunya kerangka hukum yang kuat untuk mengatasi terorisme siber, yang dapat merusak stabilitas nasional dalam hal politik, ekonomi, dan sosial. UU ITE bertujuan untuk meningkatkan langkah-langkah hukum terhadap kejahatan siber, implementasinya menghadapi tantangan seperti tumpang tindih kewenangan lembaga, infrastruktur teknologi yang terbatas, dan literasi digital publik yang rendah. Menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dan analisis hukum, penelitian ini mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam hukum, menekankan pentingnya mengintegrasikan asuransi siber sebagai strategi pelengkap untuk meningkatkan keamanan digital. Temuan menunjukkan bahwa meningkatkan koordinasi antar-lembaga, meningkatkan kesadaran publik, dan memanfaatkan teknologi pemantauan canggih sangat penting untuk mengoptimalkan efektivitas undang-undang. Pada akhirnya, studi ini memberikan rekomendasi strategis untuk menyempurnakan kebijakan hukum dan mendorong pendekatan kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk memerangi terorisme siber secara efektif.AbstractThis research evaluates the effectiveness of Law No. 1 of 2024 on Information and Electronic Transactions (ITE Law) in preventing cyber terrorism in Indonesia. This study highlights the need for a strong legal framework to address cyber terrorism, which can undermine national stability in political, economic, and social aspects. The ITE Law aims to enhance legal measures against cybercrime, but its implementation faces challenges such as overlapping institutional authorities, limited technological infrastructure, and low public digital literacy. Using qualitative methods, including interviews and legal analysis, this research identifies the strengths and weaknesses in the law, emphasizing the importance of integrating cyber insurance as a complementary strategy to enhance digital security. The findings indicate that enhancing inter-agency coordination, increasing public awareness, and leveraging advanced monitoring technology are crucial for optimizing the effectiveness of the law. Ultimately, this study provides strategic recommendations to refine legal policies and encourage a collaborative approach between the government, the private sector, and civil society to effectively combat cyber terrorism.
Penerapan Blank Vote Dalam Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia: Solusi atau Anomali Bagi Demokrasi
Hendrawan, Rikki;
Agassi, Muhammad Adhe
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4711
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa Isu Penerapan blank vote dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) menjadi diskursus baru saat ini, apakah blank vote dapat berfungsi sebagai solusi untuk meningkatan kualitas demokrasi atau justru menjadi sebuah anomali terhadap sistem demokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa jauh urgensi dan dampak penerapan blank vote dalam Pilkada di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatif yang menggunakan studi kepustakaan. Lebih lanjut hasil analisa studi menegaskan bahwa Keberadaan Blank Vote menjadi sebuah diskursus, jika dilihat dari demokrasi dan legitimasi publik terhadap pemerintahan. Keberadaan blank vote atau kotak kosong di Indonesia baru dikenal ketika terdapat calon tunggal, namun konsep blank vote berbeda, karena menginginkan kotak kosong di kertas suara tampa melihat jumlah pasangan calon, sebagaimana telah di adopsi di berbagai negara lain. Gerakan penerapan blank vote dapat menjadi sinyal penting untuk melakukan reformasi sistem pemilu, namun dilain hal, jika tidak dikelola dengan baik, dapat melemahkan legitimasi proses demokrasi. AbstractThis research aims to analyze the issue of implementing blank votes in regional head elections (Pilkada) as a new discourse today, whether blank votes can function as a solution to improve the quality of democracy or instead become an anomaly in the democratic system. This research aims to examine the extent of the urgency and impact of implementing blank votes in regional elections in Indonesia. This research uses normative legal research that employs library study. Furthermore, the study's analysis results emphasize that the existence of Blank Votes has become a discourse when viewed from the perspective of democracy and public legitimacy towards the government. The existence of blank votes or empty boxes in Indonesia was only recognized when there was a single candidate, but the concept of a blank vote is different, as it desires an empty box on the ballot paper without considering the number of candidate pairs, as has been adopted in various other countries. The movement to implement blank votes can be an important signal for electoral system reform, but on the other hand, if not managed well, it can weaken the legitimacy of the democratic process.
Paradigma Baru Alternatif Penyelesaian Sengketa Medis Menurut Hukum Kesehatan
Siregar, Rospita Adelina
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 1 (2025): Vol 11, No 1 (2025): Published 30 Juni 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i1.5104
Penelitian ini menjelaskan bagaimana Paradigma atau Pandangan baru terkait Alternatif Penyelesaian Sengketa di Dunia Medis., karena Sengketa medis merupakan masalah yang sering muncul akibat ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan medis yang diterima. Metode Penelititan yang digunakan adalah penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dengan pendekatan perundangan, dimana mengedepankan Pasal 310 Undang-undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan sebagai acuan utama dalam upaya penyelesaian sengketa medis atau sengketa kesehatan melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa diluar Pengadilan. Simpulannya, bahwa Proses penyelesaian sengketa medis yang konvensional, sering melibatkan jalur hukum formal, terkadang berlarut-larut, mahal, dan memperburuk hubungan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah paradigma baru dalam penyelesaian sengketa medis, yang berfokus pada alternatif penyelesaian sengketa (APS) yang lebih efisien, fleksibel, dan bersifat restoratif.
Pergeseran Asas Legalitas Formal ke Material dalam KUHP Baru dan Konsekuensinya terhadap Hukum Adat
Hidayat, Sarip;
Andryani, Yani;
Rifa’I, Iman Jalaludin;
Muliani, Raden Yeni
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 1 (2025): Vol 11, No 1 (2025): Published 30 Juni 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i1.5160
Pergeseran asas legalitas dari yang semula bersifat formal dalam KUHP lama ke arah asas legalitas material dalam KUHP baru, serta implikasi dari perubahan ini terhadap eksistensi dan penerapan hukum adat di Indonesia. Asas legalitas formal menekankan bahwa tidak ada perbuatan yang dapat dipidana tanpa ketentuan undang-undang yang tertulis terlebih dahulu, sedangkan asas legalitas material membuka ruang bagi penilaian keadilan substantif dan pengakuan terhadap sumber hukum tidak tertulis, termasuk hukum adat. Metode pendekatan Yuridis-Empiris dan deskriftif kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa KUHP baru secara eksplisit mengakui hukum adat sebagai salah satu sumber hukum pidana, asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu. Konsekuensinya, hukum adat memiliki posisi yang lebih kuat dalam sistem hukum nasional, namun juga menimbulkan tantangan serius terkait kepastian hukum, keseragaman penegakan hukum, dan potensi pelanggaran hak asasi manusia. Penelitian ini merekomendasikan adanya pengaturan lebih lanjut dan pembentukan pedoman nasional agar penerapan hukum adat tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip universal hukum pidana modern.
Analisis Hukum Gugatan Ganti Rugi Dalam Kasus Pembatalan Perkawinan
Haspada, Deny
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 1 (2025): Vol 11, No 1 (2025): Published 30 Juni 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i1.5177
Pembatalan perkawinan dapat menimbulkan dampak hukum yang signifikan bagi pihak yang terlibat, terutama dalam hal kerugian materiil dan immateriil yang dialami oleh pihak yang dirugikan. Artikel ini membahas analisis hukum terkait gugatan ganti rugi dalam kasus pembatalan perkawinan menurut sistem hukum Indonesia. Fokus utama penelitian ini adalah menelaah dasar hukum yang mendasari gugatan ganti rugi, pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan, serta bentuk perlindungan hukum yang diberikan kepada pihak yang dirugikan. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum normative. Pengumpulan data menggunakan Bahan hukum pimer, sekunder dan tersier yang dilakukan melalui studi kepustakaan. Kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia memberikan ruang bagi pihak yang dirugikan untuk mengajukan gugatan ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Selain itu, pengadilan mempertimbangkan berbagai faktor hukum, sosial, dan moral dalam membuat keputusan yang adil bagi pihak yang dirugikan.