cover
Contact Name
Akbar Sanjaya
Contact Email
jhmj.fh@unsur.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jhmj.fh@unsur.ac.id
Editorial Address
Jl. Pasirgede Raya, Bojongherang, Kec. Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43216
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hukum Mimbar Justitia
ISSN : 24775681     EISSN : 25800906     DOI : https://doi.org/10.35194/jhmj.v9i2
Core Subject : Social,
Focus and Scope Focus of Jurnal Hukum Mimbar Justitia has a main focus on the publication of scientific articles related to various aspects of law, both in national and international contexts. The journal aims to be a platform for academics, legal practitioners, and researchers to share knowledge, research results, and current thinking in various fields of law. Scope of Jurnal Hukum Mimbar JustitiaJournal: The scope of Mimbar Justitia Law Journal includes, but is not limited to, the following areas: Constitutional Law: Articles that discuss legal aspects of constitutions, systems of government, division of powers, human rights, as well as other related topics in the context of specific countries and legal systems. Criminal Law: Topics related to criminal law, including but not limited to criminal theory, crime, criminal procedure, criminal justice, and current crime issues. Civil Law: Articles that discuss civil law in various contexts, such as family law, inheritance law, contract law, property law, and other civil disputes. Business and Economic Law: This scope includes articles that discuss legal aspects related to the world of business and economics, including competition law, business contract law, corporate law, and economic regulation. International Law: Articles that discuss international law, including public international law, private international law, international organisations, international trade, and other global issues. Environmental Law: This covers articles that address legal issues relating to environmental conservation, natural resource protection, environmental law, and corporate social responsibility in an environmental context. Islamic Law: Articles that discuss aspects of Islamic law in various contexts, including Islamic family law, sharia, Islamic economic law, and Islamic legal thought. Customary Law: Articles that discuss customary law in the context of specific cultures and societies, including traditional legal systems, customs, and the protection of customary rights. Health Law: This scope includes articles that address legal aspects related to the field of health, including medical law, medical ethics, pharmaceutical regulation, and patient rights and obligations. Law of the Sea: Articles that discuss the law of the sea, including fisheries law, marine transport law, international conventions on the law of the sea, and other maritime law issues. Space Law: This scope includes articles that discuss legal aspects relating to space exploration, space exploration, regulation of space activities, and the rights and obligations of states in space. The journal also welcomes articles that discuss other topics related to legal science at large. The approach used in analysing the articles is Juridical Normative and Juridical Sociology, to provide comprehensive and in-depth insight into the topics discussed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 160 Documents
Komparisi Hukum Waris Indonesia-Jerman Terkait Harta Waris yang Terdapat Unsur Asing Putri, Rita Ristyanda; Rato, Dominikus; Susanti, Dyah Ochtorina
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 1 (2024): Published Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4089

Abstract

AbstrakPerkawinan antar warga negara sangat dimungkinkan untuk terjadi, bahkan hal ini telah terjadi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Sebuah perkawinan akan membawa beberapa akibat hukum, dari segi status kewarganegaraan, harta kekayaan, anak, hingga pewarisan. Perkawinan beda warga negara (perkawinan campuran) sangat dimungkinkan adanya harta bersama atau harta bawaan, yang akan melibatkan lintas negara.  Setiap negara memiliki ketentuan yang berbeda mengenai Waris, bahkan di Indonesia tiap daerah atau suku budaya memiliki pandangan dan cara pembagian waris yang berbeda beda.  Tulisan ini menitikberatkan terhadap hukum waris yang terdapat unsur asing, dengan menggunakan pisau analisis Normatif deskriptif, yaitu dengan membandingkan antara hukum waris di Indonesia (menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata) dengan hukum waris di Jerman, sehingga diharapkan dapat dijadikan jawaban dan ukuran ketika terjadi suatu permasalahan waris yang mengandung unsur asing. AbstractMarriage between citizens is very possible to occur, even this has happened in Indonesia since the Dutch colonial era. A marriage will bring several legal consequences, in terms of citizenship status, property, children, and inheritance. The marriage of different citizens (mixed marriage) is very possible for the existence of joint property or inherited property, which will involve cross-country. Each country has different provisions regarding inheritance, even in Indonesia, each region or cultural tribe has different views and ways of dividing inheritance.  This paper focuses on inheritance law that contains foreign elements, using a descriptive Normative analysis knife, namely by comparing inheritance law in Indonesia (according to the Civil Code) with inheritance law in Germany, so that it is expected to be used as an answer and measure when there is an inheritance problem that contains foreign elements.
Krisis dan Reformasi: Definisi Investasi dalam Perjanjian Investasi Bilateral di Negara Dunia Ketiga Kabir, Syahrul Fauzul
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 1 (2024): Published Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4131

Abstract

AbstrakPendefinisian investasi memicu krisis dalam rezim hukum investasi internasional, mendorong negara dunia ketiga seperti Indonesia, India, Brazil, dan Afrika Selatan untuk mereformasi definisi investasi dalam IIA/BIT mereka. Analisis data sekunder, termasuk Model BIT dan putusan pengadilan, menunjukkan pergeseran dari definisi investasi berbasis aset yang longgar ke model yang lebih terbatas. Indonesia mereformasi lewat Indonesia-Singapore BIT 2018, dan Brazil dengan ACFI 2015, yang memodifikasi definisi investasi berbasis aset dengan pembatasan tertentu. India lebih reformis dengan India Model BIT 2016, mengadopsi definisi investasi berbasis perusahaan. Afrika Selatan menghentikan proyek IIA dan hanya mengandalkan Protection of Investment Act 22 of 2015 dalam hukum nasional, memadukan kedua model definisi investasi. Indonesia menghadapi masalah hukum dalam harmonisasi antara IIA dan hukum nasional, karena UUPM mewajibkan definisi investasi berbasis perusahaan. AbstractThe definition of investment triggered a crisis in the international investment law regime, prompting third-world countries such as Indonesia, India, Brazil, and South Africa to reform the definition of investment in their IIAs/BITs. Analysis of secondary data, including Model BITs and court decisions, shows a shift from a loose asset-based definition of investment to a more restrictive model. Indonesia reformed with the Indonesia-Singapore BIT 2018, and Brazil with the ACFI 2015, which modified the asset-based definition of investment with certain restrictions. India was more reformist with the India Model BIT 2016, adopting a company-based definition of investment. South Africa discontinued the IIA project and relies solely on the Protection of Investment Act 22 of 2015 in national law, blending both models of investment definition. Indonesia faces legal issues in harmonisation between IIAs and national law, as the UUPM requires a company-based definition of investment. 
Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Kebijakan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Laut Zunnuraeni, Zunnuraeni; Risnain, Muh; Putro, Widodo Dwi
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 1 (2024): Published Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4153

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa aturan hukum internasional berkenaan dengan kewaiban negara untuk mitigsi perubahan iklim serta aturan hukum nasional dalam kaitannya dengan mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan dan pelestarian lingkungan laut. Untuk menjawab isu hukum yang dikaji digunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan per Undang-Undangan dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan adalah data skunder yang diperoleh melalui penelusuran literatur. Analisa menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menegaskan bahwa berdasarkan prinsip Common but Differentiated Responsibility yang terdapat dalam Perjanjian Paris maka semua negara memiliki kewajiban untuk melakukan upaya mitigas perubahan iklim, namun dengan tingkat kewajiban yang berbeda. Lebih lanjut hasil analisa studi menegaskan bahwa Peraturan terkait mitigasi perubahan iklim di Indonesia tersebut tampak masih berfokus pada aktifitas di darat sehingga tidak memasukkan laut sebagai salah satu sektor RAN-GRK. Meskipun sub sektor mangrove serta sektor kelautan atau blue carbon telah diatur dalam Perpres No 98 tahun 2021, namun ketentuan ini masih perlu diterjemahkan lebih lanjut dalam berbagai kebijakan yang secara khusus mengatur mengenai ekosistem karbon biru. AbstractThis research aims to analysed international legal rules regarding state obligations to mitigate climate change and national legal rules concerning climate change mitigation through the management and conservation of the marine environment. The study uses normative legal research methods with a legal approach and a conceptual approach. The data used is secondary data obtained through literature searches. The analysis uses qualitative methods. The research results confirm that based on the principle of Common but Differentiated Responsibility enumerated in the Paris Agreement, all countries must carry out climate change mitigation efforts, but with different levels of obligation. Furthermore, the study analysis confirms that the regulations related to climate change mitigation in Indonesia merely focus on activities on land, so it neglected the marine sector as one of the RAN-GRK sectors. Even though the mangrove sub-sector and the marine or blue carbon sector have been regulated in Presidential Decree No. 98 of 2021, these provisions still need to be further translated into various policies that specifically regulate the blue carbon ecosystem.
Carding Sebagai Cyber Crime Dan Penegakan Hukumnya Melalui Tort Dalam Perspektif Hukum Perdata Internasional Kamilah, Anita
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4841

Abstract

AbstrakPenggunaan media elektronik memunculkan tindak kejahatan baru yang disebut carding, yang merupakan jenis kejahatan siber dengan sifat transnasional (melintasi negara). Hal ini menuntut perlunya penegakan hukum, terutama melalui konsep tort. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data yang digunakan berasal dari sumber sekunder, termasuk bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa carding adalah kejahatan yang memanfaatkan internet untuk memperoleh nomor kartu kredit konsumen secara ilegal, dengan kegiatan yang melintasi batas negara. Dalam konteks ini, tort sesuai dengan Pasal 1365 KUH Perdata dapat digunakan sebagai alat penegakan hukum atas kerugian yang timbul akibat carding, karena memenuhi unsur-unsur perdata, melibatkan unsur asing, dan beroperasi di beberapa sistem hukum negara. Salah satu tantangan utama dalam menanggulangi carding sebagai kejahatan siber internasional adalah masalah yurisdiksi, yaitu kewenangan suatu negara dalam menangani peristiwa hukum yang melibatkan pihak-pihak atau kejadian yang melintas batas-batas wilayah negara tersebut). AbstractThe use of electronic media has given rise to a new type of crime called carding, which is a type of cybercrime with a transnational nature. (melintasi negara). This demands the necessity of law enforcement, especially through the concept of tort in International Civil Law. This research uses a normative juridical approach with a descriptive-analytical specification. The data used comes from secondary sources, including primary, secondary, and tertiary legal materials, which are then analyzed qualitatively. Research results show that carding is a crime that exploits the internet to illegally obtain consumers' credit card numbers, with activities crossing national borders. In this context, tort in accordance with Article 1365 of the Civil Code can be used as a legal enforcement tool for losses arising from carding, because it meets the elements of civil law, involves foreign elements, and operates in several legal systems of the country. One of the main challenges in combating carding as an international cybercrime is the issue of jurisdiction, which refers to a country's authority to handle legal events involving parties or incidents that cross the borders of that country. 
Cyberlaw sebagai Alat Pengendali Penyebaran Hoaks di Media Sosial Izdihar, Bilqist
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4843

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa aturan aturan yeng berkaitan dengan cyberlaw yang muncul sebagai mekanisme penting untuk mengatur perilaku online dan mengurangi dampak buruk penipuan. Namun penyebaran informasi palsu atau yang lebih dikenal dengan hoax di media sosial juga menjadi alat yang rentan terhadap penyebaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan. Untuk menjawab isu hukum yang dikaji digunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan per Undang-Undangan dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan adalah data skunder yang diperoleh melalui penelusuran literatur. Analisa menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menegaskan bahwa Tantangan pelaksanaan undang-undang ini sebagian besar bergantung pada upaya kolaboratif di antara para pemangku kepentingan dan peningkatan literasi digital publik dan Undang-Undang ITE 2024 adalah langkah awal yang patut dipuji dalam memerangi proliferasi informasi yang salah.Efektivitas penegakan hukum ITE tidak hanya bergantung pada ketentuan legislatif tetapi juga pada beberapa faktor lain, termasuk kemanjuran penegakan hukum, kesadaran publik, dan peningkatan teknologi.AbstractThis research aims to analysed the rules relating to cyberlaw that have emerged as an important mechanism for regulating online behaviour and reducing the adverse effects of fraud. However, the spread of false information or better known as hoaxes on social media is also a tool that is vulnerable to the spread of inaccurate or misleading information. To answer the legal issues studied, a normative legal research method is used with a legislative approach and a conceptual approach. The data used is secondary data obtained through literature searches. The analysis used qualitative method. The results confirmed that the challenges of implementing this law largely depend on collaborative efforts among stakeholders and the improvement of public digital literacy and the ITE Law 2024 is a commendable first step in combating the proliferation of misinformation. The effectiveness of ITE law enforcement depends not only on legislative provisions but also on several other factors, including the efficacy of law enforcement, public awareness, and technological improvements 
Optimalisasi Fungsi Pengawasan DPRD Kabupaten Kuningan dalam Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) Rifa’i, Iman Jalaludin; Yuhandra, Erga; Fathurahman, Fathur; Nurcahyati, Nabila Tri
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4867

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi peran dan efektivitas pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam mendukung tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di Kabupaten Kuningan. Krisis keuangan daerah yang ditandai oleh tunda bayar APBD hingga Rp. 490 miliar pada 2023, yang menunjukkan adanya kelemahan dalam pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan wawancara dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi pengawasan DPRD masih kurang optimal dalam mencegah ketidakefisienan anggaran, serta diperlukan peningkatan kapasitas pengawasan DPRD agar mampu mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan keuangan secara lebih efektif. Penguatan fungsi ini penting untuk mendukung terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana publik sesuai prinsip otonomi daerah dan good governance.AbstractThis study seeks to evaluate the optimisation of the role and efficacy of the Regional People's Representative Council (DPRD) in promoting good governance in Kuningan Regency. The regional financial problem, characterised by a delay in the APBD payment amounting to Rp. 490 billion in 2023, highlights deficiencies in the management of Regional Original Revenue (PAD). This study employs a qualitative descriptive methodology, utilising interviews and document analysis as data collecting approaches. The research findings suggest that the supervisory role of the DPRD remains suboptimal in mitigating budget inefficiencies, necessitating an enhancement of the DPRD's supervisory capacity to more effectively identify and resolve financial concerns. Enhancing this function is crucial to foster transparency and accountability in the utilisation of public monies, in alignment with the ideals of regional autonomy and good governance.
Implementasi Blockchain dalam Meningkatkan Kepastian Hukum dan Penyelesaian Sengketa Kontrak di Indonesia Habibah, Anis
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4812

Abstract

AbstrakPerkembangan teknologi blockchain, menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan kepastian hukum dan efisiensi penyelesaian sengketa kontrak di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan pencatatan transaksi yang transparan, aman, dan tidak dapat diubah, serta penerapan smart contract yang mempercepat proses penyelesaian klaim. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur, menganalisis berbagai artikel dengan jurnal terkait pemanfaatan blockchain dalam konteks regulasi dan perlindungan konsumen. Hasilnya menunjukkan bahwa blockchain dapat memperkuat kepercayaan hukum, mempercepat proses arbitrase, dan mengurangi risiko manipulasi data. Namun, tantangan utama meliputi kurangnya kerangka regulasi yang spesifik, standar teknis yang belum memadai, dan perlindungan konsumen yang minim. Penelitian ini menyimpulkan pentingnya pengembangan regulasi, peningkatan literasi digital, dan kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan manfaat blockchain dalam menciptakan sistem hukum yang lebih transparan, efisien, dan adil. AbstractThe development of blockchain technology offers innovative solutions to enhance legal certainty and efficiency in resolving contract dispute in Indonesia. This technology enables transparent, secure, and immutable transaction recording, as well as the implementation of smart contracts that expedite claim resolution processes. This research employs a literature review method, analyzing various articles and journals related to blockchain utilization in the context of regulation and consumer protection. The findings reveal that blockchain can strengthen legal trust, accelerate arbitration processes, and reduce data manipulation risks. However, key challenges include the absence of specific regulatory frameworks, inadequate technical standards, and limited consumer protection. This study concludes the necessity of developing comprehensive regulations, improving digital literacy, and fostering cross-sector collaboration to optimize the benefits of blockchain in establishing a more transparent, efficient, and equitable legal system
Restorative Justice dalam Penyelesaian Sengketa Pelecehan Seksual Cyber Dewantara, Yuni Putri; Fransisca, Ika
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4679

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa Peningkatan pelecehan seksual siber. Idealnya, kasus-kasus ini diselesaikan melalui keadilan restoratif, namun regulasi yang jelas di Indonesia hanya berlaku dalam Sistem Peradilan Pidana Anak. Untuk menjawab isu hukum yang dikaji digunakan metode yuridis normatif, menelaah posisi keadilan restoratif dalam hukum Indonesia dan perannya dalam menyelesaikan kasus pelecehan seksual siber. Data yang digunakan adalah data skunder yang diperoleh melalui penelusuran literatur. Analisa menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menegaskan bahwa Meskipun beberapa undang-undang sudah mengandung prinsip keadilan restoratif, amandemen terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diperlukan demi kepastian hukum. Keadilan restoratif membantu pemulihan korban dan mempertanggungjawabkan pelaku, namun perbaikan seperti pengurangan stigma terhadap korban sangat penting. Pendidikan dan reformasi hukum menjadi kunci efektivitas penerapan keadilan restoratifAbstractThis research aims to analyze the increase in cyber sexual harassment. Ideally, these cases are resolved through restorative justice, but clear regulations in Indonesia only apply within the Juvenile Criminal Justice System. To address the legal issues under review, a normative juridical method is used, examining the position of restorative justice within Indonesian law and its role in resolving cyber sexual harassment cases. The data used is secondary data obtained through literature review. The analysis uses qualitative methods. The research results affirm that although some laws already contain the principles of restorative justice, amendments to the Criminal Procedure Code are necessary for legal certainty. Restorative justice helps in the recovery of victims and holds perpetrators accountable, but improvements such as reducing stigma against victims are very important. Education and legal reform are key to the effectiveness of implementing restorative justice.  
Penerapan Hukum Dan Praktiknya Atas Tanggung Jawab Negara, Masyarakat Dan Keluarga Dalam Perlindungan Anak Siregar, Rospita A; Lengkong, Lonna Yohanes; Panjaitan, Petrus Irwan
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4602

Abstract

AbstrakAnak bagian anggota keluarga, kerapkali menjadi sasaran kekerasan baik itu fisik, seksual atau dimanfaatkan untuk diperkerjakan. Menjadi peminta-minta, pemulung, pekerja bangunan bahkan pekerja seksual, atau diperdagangkan, dimedia cetak/elektronik memberitakan menimbulkan reaksi dan simpati, tetapi larangan agar anak itu terlindungi tidak tersampaikan.  Jawaban atas masalah hukum yang dikaji digunakan metode Tinjauan juridis normatif mengkaji bentuk tanggungjawab negara, masyarakat, dan keluarga dalam Perlindungan Anak di Indonesia. Hasil penelitian menegaskan Upaya perlindungan anak dilaksanakan oleh negara melalui terbitnya UU No. 23 Tahun 2002 Jo. UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Hak  anak diakui, dalam UU No 27 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Orang, Undang-undang RI No. 1 Tahun 2000 tentang pengesahan ILO convention No. 182 concening the pro hibition and imidiate action for the elemation of the worse form of child labor (konfensi ILO No 182, masih perlu tanggungjawab negara, tanggung keluarga serta masyarakat. AbstractChildren, as part of the family, often become targets of violence, whether physical, sexual, or being exploited for labor. Becoming beggars, scavengers, construction workers, or even sex workers, or being trafficked, is reported in print/electronic media, evoking reactions and sympathy, but the prohibition to protect the child is not conveyed.  The answer to the legal issue under review uses the normative juridical review method to examine the forms of responsibility of the state, society, and family in Child Protection in Indonesia. The research results emphasize that child protection efforts are carried out by the state through the issuance of Law No. 23 of 2002 Jo. Law No. 35 of 2014 concerning Child Protection, the Child Criminal Justice System Law. Children's rights are recognized in Law No. 27 of 2007 concerning the Eradication of Human Trafficking, and the Republic of Indonesia Law No. 1 of 2000 concerning the ratification of ILO Convention No. 182 concerning the Prohibition and Immediate Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labor (ILO Convention No. 182). However, there is still a need for state, family, and community responsibility. 
Tinjauan Implementasi Peraturan Desa Partisipatif Dalam Membongkar Fenomena Gunung Es Kemapanan Oligarki Pemerintahan Desa Mulyadi, Dedi; Utami, Tanti Kirana
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 10, No 2 (2024): Published 30 Desember 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i2.4441

Abstract

AbstrakPeraturan Desa partisipatif menjadi sarana agregasi berbagai kepentingan dalam pengelolaan pemerintahan desa yang adaptif dengan aspirasi dan ekspektasi masyarakat. Sistem oligharki dalam pemerintahan desa disadari atau tidak telah berkembang, sekian lama sehingga sulit untuk diselesaikannya, maka salah satu alternatif yang diharapkan dapat menguraikan benang kusut ekses sistem oligharki tersebut adalah peratuan desa partisipatif. Adapun permasalahan yang diteliti meliputi; apakah latar belakang lahirnya gagasan peraturan desa partisipatif, bagaimana sistem oligarki dalam implementasi pemerintahan desa, apakah peraturan desa partisipatif merupakan upaya dalam membongkar kemapanan sistem oligarki dalam pemerintahan desa. Penulisan ilmiah ini dilakukan Dengan menerapkan metode penelitian yuridis normatif yang memiliki spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa peraturan desa partisipatif merupakan alternatif solusi atas berbagai permasalahan di atas guna menjadikan pengelolaan pemerintahan desa yang dapat menyediakan pelayanan optimal bagi masyarakat desa sesuai dengan asas profesional, proporsional, legitimit dan memenuhi akuntabilitas publik. AbstractParticipatory village regulations are a means of aggregating various interests in the management of village governance that is adaptive to the aspirations and expectations of the community. The oligarchic system in village governance, whether we realize it or not, has been developing for so long that it is difficult to resolve, so one of the alternatives that is participatory village regulations. The problems studied include; what is the background of the birth of the idea of participatory village regulations, how is the oligarchic system for the execution of village governance, whether participatory village regulations are an effort to dismantle the establishment of the oligarchic system in village governance. This scientific writing is conducted using normative juridical research methods utilizing descriptive analytical research parameters. The outcomes of this research show that participatory village regulations are an alternative solution to the problems above in order to make village government management that can deliver optimal service for the village community in alignment with the values of professional, proportional, legitimate and fulfill public accountability.