cover
Contact Name
Cahya Yuana
Contact Email
editorsendikraf@mail.com
Phone
+6287739836417
Journal Mail Official
sendikrafjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kaliurang Km. 12,5 Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581 elepon (0274) 895803, 895804, 895805
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
ISSN : 27463605     EISSN : 30631734     DOI : https://doi.org/10.70571/PSIK
Core Subject : Education, Art,
Sendikraf adalah jurnal akademik, akses terbuka, dan peer-review. Diterbitkan pertama kali pada bulan November 2020 oleh BBPPMPV Seni dan Budaya yang merupakan unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. BBPPMPV Seni dan Budaya bertugas meningkatkan kompetensi guru pendidikan vokasi dan melaksanakan penjaminan mutu pendidikan vokasi. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November. Memuat artikel-artikel baik yang berbasis penelitian maupun kajian non-penelitian serta gagasan-gagasan konseptual dalam bidang pendidikan seni dan industri kreatif. Pengiriman artikel terbuka sepanjang tahun. Sebelum mengirimkan artikel, harap pastikan artikel tersebut sesuai dengan fokus dan gaya Sendikraf. Pedoman dan tata cara penyerahan dapat diakses lebih lanjut pada bagian penyerahan online.
Articles 147 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN SBK Shinta Alvy Rizqiyana; Ana Aufa Hanifah; Isti Ghotsah; Masrurotul Usna; Roma Aristiyanto
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital merupakan salah satu fenomena paling menonjol dalam dunia pendidikan abad ke-21. Teknologi digital meliputi berbagai perangkat serta aplikasi yang memudahkan akses terhadap informasi dan proses pembelajaran secara lebih cepat, efisien, serta fleksibel dibandingkan dengan metode konvensional. Tujuan utama yang dibahas dalam artikel ini adalah untuk menyelidiki secara cermat peran teknologi digital dalam upaya meningkatkan minat dan hasil belajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Alasan lain peneliti memilih mata pelajaran Seni Budaya yang dikaitkan dengan penggunaan teknologi digital adalah karena dalam bidang studi ini sangat membutuhkan dukungan media dalam proses pembelajarannya. Integrasi media digital ke dalam mata pelajaran seperti Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) telah menjadi strategi penting untuk merevolusi pendidikan.
IMPLEMENTASI INTERACTIVE FLAT PANEL (IFP) DALAM PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN: ANALISIS PENINGKATAN HASIL BELAJAR Miko Purnomo; Malinda Situmorang
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan serta menganalisis peningkatan hasil belajar dan persepsi siswa terhadap penggunaannya. Penelitian dilaksanakan pada Februari 2026 di kelas VII SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Aekkanopan dengan pendekatan kuantitatif desain one-shot case study terhadap 16 siswa. Pembelajaran dilakukan melalui penayangan video tutorial pembuatan keset dari kain perca menggunakan IFP, dilanjutkan praktik langsung dengan bimbingan guru. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor keterampilan siswa berada pada rentang 3,1–3,4 (kategori cukup hingga baik) dengan ketuntasan belajar mencapai 75–80%. Skor rata-rata juga meningkat dari sekitar 60 (pra kegiatan) menjadi 72 (setelah video) dan 78 (setelah praktik). Persepsi siswa terhadap penggunaan IFP tergolong positif, dengan 70–85% responden menyatakan setuju dan sangat setuju bahwa IFP memudahkan pemahaman, meningkatkan motivasi, dan memperkuat kepercayaan diri. Dengan demikian, IFP efektif mendukung pembelajaran praktik-produksi secara interaktif dan inovatif.
INTEGRASI PENDIDIKAN SENI DAN EKONOMI KREATIF: STUDI KASUS PRAKTIK LITERASI-BUDAYA DI RUMAH KREATIF WADAS KELIR PURWOKERTO Mukhamad Hamid Samiaji; Umi Khomsiyatun
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v7i1.243

Abstract

Penelitian ini mengkaji integrasi pendidikan seni dan ekonomi kreatif dalam praktik literasi-budaya di Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) Purwokerto sebagai respons atas terbatasnya kajian empiris yang menjembatani pedagogi seni komunitas dengan produksi ekonomi kreatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis model integrasi, mekanisme produksi karya, serta proses konversi modal kultural menjadi modal ekonomi dalam konteks komunitas lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, integrasi berlangsung melalui model pembelajaran berbasis praktik dan proyek dengan tahapan eksplorasi–produksi–publikasi yang sistematis, sehingga seni berfungsi sebagai medium literasi sekaligus instrumen produksi budaya bernilai ekonomi. Kedua, praktik literasi-budaya menjadi fondasi ekonomi kreatif karena menghasilkan produk konkret, jejaring sosial, dan legitimasi simbolik yang memungkinkan konversi modal kultural menjadi nilai ekonomi secara berkelanjutan dalam kerangka hybrid value. Ketiga, komunitas berperan sebagai inkubator ekosistem kreatif yang relatif mandiri melalui penerbit internal, kolaborasi jejaring, dan regenerasi kreatif alumni, meskipun menghadapi tantangan pendanaan dan ekspansi pasar. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pendidikan seni berbasis literasi-budaya mampu menjadi fondasi inkubasi ekonomi kreatif dalam skala komunitas lokal yang adaptif dan kontekstual di Indonesia.
KONSTRUKSI HISTORIS DAN SAKRALISASI TARI KUPU-KUPU KUNING DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA KARANGASEM Kadek Nova Suadnyana; I Komang Jana Tri Guna Putra
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v7i1.244

Abstract

Penelitian ini mengkaji konstruksi historis dan fungsi sakral Tari Kupu-Kupu Kuning di Karangasem sebagai media pembentukan identitas budaya. Kajian mengenai tari sakral Bali umumnya menitikberatkan pada aspek koreografi, fungsi ritual, dan nilai estetika, sementara keterkaitan antara narasi sejarah, legitimasi kekuasaan, dan praktik pelestarian kontemporer masih relatif terbatas dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi historis tarian dalam narasi ekspedisi Lombok Kerajaan Karangasem, mengkaji fungsi sakralnya dalam praktik ritual, serta menjelaskan perannya dalam transmisi identitas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain historis-etnografis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap buku-buku sejarah yang memuat interpretasi teks babad, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan penari, serta observasi partisipatif pada hari raya Umanis Kuningan di Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian ini berakar pada narasi ekspedisi Lombok Kerajaan Karangasem yang kemudian mengalami proses sakralisasi menjadi pertunjukan ritual yang memuat simbol legitimasi ilahi dan perlindungan spiritual. Dalam praktik kontemporer, tarian berfungsi sebagai medium reproduksi memori kolektif dan transmisi identitas budaya lintas generasi. Penelitian ini menegaskan bahwa Tari Kupu-Kupu Kuning merupakan sistem simbolik yang mengintegrasikan sejarah, sakralitas, dan pendidikan budaya dalam kehidupan masyarakat.
MODEL INTEGRATIF PENDIDIKAN SENI, INDUSTRI KREATIF DIGITAL, DAN KEBIJAKAN DAERAH DALAM EKOSISTEM INOVASI BERKELANJUTAN RIZKI RAMADHANA
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v7i1.245

Abstract

Artikel konseptual ini membahas fragmentasi sistemik antara pendidikan seni, industri kreatif digital, dan kebijakan daerah yang selama ini membatasi kontribusi strategis pendidikan seni dalam ekosistem inovasi daerah. Tujuan artikel ini adalah merumuskan model integratif yang menghubungkan transformasi kurikulum, literasi digital, kewirausahaan kreatif, dan orkestrasi kebijakan dalam kerangka ekosistem inovasi berkelanjutan. Berbasis pada teori Triple Helix, teori ekosistem inovasi, kerangka ekonomi kreatif, dan teori modal manusia, artikel ini menganalisis kesenjangan struktural antara institusi pendidikan, pelaku industri kreatif, dan pemerintah daerah. Hasil kajian menawarkan model integratif empat lapis yang meliputi desain kurikulum adaptif, platform inkubasi kolaboratif, penguatan infrastruktur digital, serta dukungan kebijakan daerah yang terkoordinasi. Artikel ini menyimpulkan bahwa inovasi daerah yang berkelanjutan di sektor kreatif menuntut integrasi kelembagaan, penguatan kapasitas digital, dan koherensi kebijakan untuk menjadikan pendidikan seni sebagai penggerak utama industri kreatif digital.
REAKTUALISASI SENI TRADISI DALAM KURIKULUM MERDEKA: MODEL TENTATIF INTEGRASI PENDIDIKAN SENI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAN INDUSTRI KREATIF Aris Munandar; Endang Susanti
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis reaktualisasi seni tradisi Lampung dalam praktik pembelajaran serta merumuskan model tentatif integrasi pendidikan seni berbasis kearifan lokal dan industri kreatif di SMP Negeri 2 Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah dan guru. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni tradisi Lampung direaktualisasikan melalui pembelajaran kontekstual berbasis proyek yang mendorong eksplorasi budaya lokal, penguatan kreativitas, pembentukan identitas budaya, dan pengenalan nilai ekonomi kreatif. Selain itu, ditemukan pola kolaborasi antara sekolah, komunitas seni, dan pelaku kreatif lokal sebagai pendukung pembelajaran autentik. Penelitian ini menghasilkan model tentatif yang terdiri atas tiga pilar, yaitu rekontekstualisasi kearifan lokal dalam pembelajaran, pedagogi kreatif berbasis proyek, dan orientasi industri kreatif. Model tersebut menunjukkan bahwa seni tradisi dapat menjadi sarana penguatan identitas budaya sekaligus pengembangan kreativitas dan kesiapan peserta didik menghadapi dinamika ekonomi kreatif.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM TARI SEPEN PENYOK BELITUNG TIMUR SEBAGAI SUMBER BELAJAR BERBASIS ETNOPEDAGOGI Dion Renaldhi
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan mengeksplorasi nilai pendidikan Tari Sepen Penyok Belitung Timur, menganalisis potensi integrasinya sebagai sumber belajar berbasis etnopedagogi, serta mengkaji perannya sebagai modal budaya. Menggunakan tinjauan literatur sistematis dan wawancara dengan maestro Sanggar Kembang Kundor, penelitian menemukan bahwa tarian ini memiliki 36 elemen gerak struktural dalam tiga fase yang meliputi pembuka, inti, penutup, dengan fungsi pedagogis khas. Nilai yang terkandung meliputi: kecerdasan taktis dan resiliensi budaya dari stilisasi pencak silat; nilai religius dan sosial dalam lirik pantun; kedisiplinan dan tanggung jawab; gotong royong; serta keceriaan sebagai ekspresi syukur. Dalam kerangka Bourdieu, tarian ini berfungsi sebagai modal budaya terwujud, terobjektifikasi, dan terinstitusionalisasi. Kajian menawarkan peta nilai pendidikan terintegrasi dalam 36 elemen gerak dan model kolaborasi tiga pilar. Rekomendasi mencakup dokumentasi segera, kemitraan berkelanjutan, serta pengembangan modul ajar berbasis etnopedagogi.