cover
Contact Name
Ari Khusuma
Contact Email
khusumaari@gmail.com
Phone
+6281273148122
Journal Mail Official
khusumaari@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prabu Rangkasari, Dasan Cermen, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
ISSN : -     EISSN : 29634687     DOI : https://doi.org/10.32807/jilts.v3i1.40
Core Subject : Health, Science,
Journal of Indonesia Laboratory Students is a scientific journal published to facilitate academic and researcher publication of their research results in science and Medical Technology Laboratories. This journal has an EISSN of 29634687 and is Open Access and can be downloaded for free. Journal of Indonesia Laboratory Students is a journal by Medical Laboratory Technology Poltekkes Kemenkes Mataram, JILTS was published in 2022 and encourages students to get involved in research, Journal of Indonesia Laboratory Students adopts double-blind peer review policy concerns on various health fields, such as Cytohistotechnology Microbiology, Hematology, Clinical Laboratory, Parasitology, Immunology, Toxicology
Articles 74 Documents
Korelasi Pemeriksaan Alkaliphosfatase (ALP) Dengan Laktat Dehidrogenase (LDH) Terhadap Angka Kejadian Kanker Nasofaring di RSUD Provinsi NTB Viny Ari Yanty; I Wayan Getas; Ari Khusuma; Nurul Inayati
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.373

Abstract

Latar Belakang: Kanker nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis kanker yang berkembang di area nasofaring dan termasuk dalam jenis kanker yang cukup sering dijumpai, khususnya di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Salah satu tantangan dalam penanganan KNF adalah keterlambatan diagnosis dan prognosis yang buruk, terutama pada stadium lanjut. Pemeriksaan biomarker seperti Laktat Dehidrogenase (LDH) dan Alkali Fosfatase (ALP) dinilai memiliki potensi dalam mendeteksi dan mengevaluasi perkembangan kanker. LDH berperan dalam metabolisme anaerobik dan menunjukkan hubungan erat dengan beban tumor serta lingkungan hipoksia, sedangkan ALP berkaitan dengan metabolisme tulang dan keterlibatan kelenjar getah bening pada KNF. Mengingat tingginya angka kejadian dan pentingnya pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis serta prognosis KNF, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kadar ALP dan LDH terhadap angka kejadian kanker nasofaring di RSUD Provinsi NTB. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui korelasi antara ALP dengan LDH terhadap angka kejadian kanker nasofaring di RSUD Provinsi NTB. Metode Penelitian: Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekaligus pada waktu yang sama dengan kriteria pasien KNF yang memeriksakan ALP dan LDH . kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk membandingkan perbedaan bermakna antar-siklus. Hasil Penelitian: Didapatkan 45 pasien KNF yang mememenuhi kriteria dan didata untuk hasil ALP pada perempuan 70% normal 30% diatas normal. Pada laki-laki 20% dibawah normal 51.4% normal dan 28.5% diatas normal. Hasil LDH 2.2% dibawah normal 42.2% normal 55.6% diatas normal. Berdasarkan uji statistik Spearman rank didapatkan koefisien sebesar 0,035, karena nilai <0.05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada korelasi antara nilai kadar ALP dengan kadar LDH terhadap angka kejadian KNF. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara hasil enzim ALP dan LDH dengan angka kejadian kanker nasofaring.
Analisis Hubungan Hasil Pemeriksaan IgG dan IgM Dengue, Leukosit dan Trombosit Dengan Keputusan Perawatan Pada Pasien Terduga Demam Berdarah di RSUD Kabupaten Lombok Utara Avirda Ariyati; Agrijanti; Lalu Srigede; Erna Kristinawati; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.381

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akibat virus dengue yang gejalanya bisa sangat beragam, mulai dari ringan hingga berat. Untuk membantu menentukan tingkat keparahan penyakit dan langkah perawatan yang tepat, pemeriksaan laboratorium seperti IgG dan IgM Dengue, jumlah leukosit, dan trombosit sangat dibutuhkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan IgG dan IgM dengue, jumlah leukosit, serta trombosit, dengan keputusan dokter dalam merawat pasien DBD, apakah pasien dirawat inap atau cukup rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 28 pasien yang dicurigai menderita DBD di RSUD Kabupaten Lombok Utara diikutkan sebagai sampel, yang dipilih secara kebetulan (accidental sampling) selama periode April sampai juni 2025. IgG dan IgM diperiksa menggunakan rapid test, sementara jumlah leukosit dan trombosit diperiksa menggunakan alat hematology analyzer otomatis. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Dari hasil analisis, ditemukan bahwa jumlah trombosit memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan keputusan perawatan (r = -0,805; p = 0,000). Artinya, semakin rendah jumlah trombosit, semakin besar kemungkinan pasien dirawat inap. Sementara itu, IgG menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan (r = 0,347; p = 0,083), sedangkan jumlah leukosit dan IgM tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan keputusan perawatan. Kesimpulan: Dari keempat parameter yang diteliti, jumlah trombosit menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan perawatan pasien DBD. Oleh karena itu, pemeriksaan trombosit sangat penting untuk membantu dokter dalam menentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau bisa dirawat jalan.
Pengaruh Jumlah Mengonsumsi Kopi Pada Pasien Osteoporosis Terhadap Kadar Kalsium Urin Khairal Yasmin; Lale Budi Kusuma Dewi; Ida Bagus Rai Wiadnya; I Wayan Getas
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.406

Abstract

Latar belakang: Osteoporosis ditandai dengan penurunan massa tulang dan peningkatan risiko patahtulang. Konsumsi kopi dapat meningkatkan ekskresi kalsium urin sehingga berpotensi memperburukkondisi osteoporosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jumlah konsumsi kopi terhadap kadar kalsium urin pada pasien osteoporosis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah mengonsumsi kopi pada pasienosteoporosis terhadap kadar kalsium urin. Metode Penelitian: Penelitian ini dilaksanakan di RSI Siti Hajar Mataram dan Laboratorium Kimia TLMPoltekkes Kemenkes Mataram pada Juli–September 2025. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan sampel jenuh pada seluruh pasien osteoporosis peminum kopi. Variabel bebas adalah jumlah konsumsi kopi, sedangkan variabel terikat adalah kadar kalsium urin yang diperiksa dengan metode titrasi kompleksometri. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA atau Kruskal-Wallis sesuai distribusi data. Hasil Penelitian: Rerata kadar kalsium urin pasien yang mengonsumsi 1 gelas per hari berada pada kisaran 212.5 mg/24 jam, kelompok 2 gelas per hari 322 mg/24 jam, dan kelompok 3 gelas per hari 444.8 mg/24 jam. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji One-Way ANOVA, ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar kalsium urin antara kelompok yang mengonsumsi 1, 2, dan 3 gelas kopi per hari. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah konsumsi kopi, kadar kalsium urin pada penderita osteoporosis cenderung meningkat. Hal ini menegaskan bahwa konsumsi kopi berpengaruh terhadap ekskresi kalsium, sehingga perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan osteoporosis.
Analisis Hasil Uji Silang Sediaan (Cross Check) Tuberkulosis Triwulan 1 dan Triwulan 2 2024 yang Dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB Mayang Nur Mutmarnila; Fihiruddin; Yunan Jiwintarum; Urip
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.423

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular  yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki beban kasus tinggi. Upaya peningkatan mutu pemeriksaan TB di fasilitas kesehatan dilakukan melalui kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dengan metode uji silang (cross check) mikroskopis menggunakan aplikasi E-TBC 12. Tujuan: Mengetahui perbedaan hasil pembacaan (discordance) PME metode E-TBC 12 triwulan 1 dan 2 tahun 2024 antara fasilitas kesehatan (faskes) pengirim sediaan TB dengan Laboratorium Rujukan Intermediet (LRI) di Provinsi NTB, serta menganalisis kualitas pembuatan dan pembacaan sediaan. Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan data sekunder hasil PME uji silang metode Lot Quality Assurance System (LQAS) di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB. Sampel penelitian adalah seluruh slide sediaan TB triwulan 1 dan 2 tahun 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi dan persentase. Hasil: Cakupan faskes yang mengikuti uji silang pada triwulan 1 sebesar 77,87% dan triwulan 2 sebesar 80,33% (belum mencapai target ≥90%). Kinerja baik (tanpa kesalahan) pada triwulan 1 sebesar 96,84% dan triwulan 2 sebesar 99,99%. Kualitas pembuatan sediaan baik pada triwulan 1 sebesar 85,26% dan triwulan 2 sebesar 86,73%. Kualitas pembacaan baik pada triwulan 1 sebesar 96,27% dan triwulan 2 sebesar 94,50%. Kesimpulan: Cakupan uji silang belum memenuhi target nasional, meskipun kinerja baik dan kualitas sediaan berada di atas 85%.