cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Qolamuna : Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam
ISSN : -     EISSN : 30628377     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
This journal aims to disseminate research results from academics, researchers, and practitioners in the field of Islamic Studies, both in theory and practice. Specifically, this journal invites papers discussing topics such as Islamic Education, Islamic thought, learning in Islamic education, students in Islamic education, Islamic education methods, Islamic teacher education, and Islamic education policies. This journal is published online four times a year, namely in January, April, July, and October.
Articles 66 Documents
Optimalisasi Bimbingan Dan Konseling Islam Sebagai Media Dakwah Dalam Membangun Karakter Islami Gusdur; Raden Rachmy Diana
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/x9qj0g37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji optimalisasi Bimbingan dan Konseling Islam sebagai media dakwah dalam membangun karakter Islami. Bimbingan dan Konseling Islam bukan hanya berfokus pada penyelesaian masalah individu secara psikologis dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai sarana dakwah untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam. Melalui bimbingan yang berbasis Al-Qur’an dan Hadis, proses ini diharapkan mampu membentuk karakter yang mencerminkan akhlak mulia, seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan empati. Penelitian ini, menggunakan metode penelitian literatur atau library research dalam kajian ini. Artinya, proses pengumpulan data sepenuhnya berfokus pada sumber-sumber literatur atau referensi pustaka. Metode ini menitikberatkan pada eksplorasi berbagai bahan bacaan, seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan karya ilmiah lainnya. Hasil dari penelitian optimalisasi bimbingan dan konseling islam sebagai media dakwah dalam membangun karakter Islami terdapat lima hal yang meliputi pada sebagai berikut ini. Pertama peran bimbingan dan konseling islam dalam pembentukan karakter BKI terbukti efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islami kepada siswa. Kedua metode pembelajaran interaktif, metode pembelajaran yang digunakan dalam BKI, seperti diskusi kelompok, role-playing, dan kegiatan outdoor, memberikan dampak positif dalam menarik minat siswa. Ketiga keterlibatan orang tua dan masyarakat, penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam program BKI sangat penting. Keempat pengembangan program yang relevan, BKI yang berhasil mengembangkan program-program yang relevan dengan kebutuhan siswa, seperti pelatihan kepemimpinan dan kegiatan sosial, menunjukkan hasil yang signifika. Kelima peningkatan kesadaran spiritual, salah satu hasil penting dari penerapan BKI adalah peningkatan kesadaran spiritual siswa. Abstract This study aims to examine the optimization of Islamic Guidance and Counseling as a medium of da'wah in building Islamic character. Islamic Guidance and Counseling not only focuses on solving individual problems psychologically and socially, but also functions as a means of da'wah to internalize Islamic values. Through guidance based on the Qur'an and Hadith, this process is expected to be able to form characters that reflect noble morals, such as honesty, responsibility, patience, and empathy. This study uses a literature research method or library research in this study. This means that the data collection process focuses entirely on literature sources or library references. This method emphasizes the exploration of various reading materials, such as books, journals, scientific articles, and other scientific works. The results of the study of optimizing Islamic guidance and counseling as a medium of da'wah in building Islamic character include five things which include the following. First, the role of Islamic guidance and counseling in the formation of BKI character has proven effective in conveying Islamic values ​​to students. The second interactive learning method, the learning method used in BKI, such as group discussions, role-playing, and outdoor activities, has a positive impact in attracting students' interest. The third is the involvement of parents and the community, research shows that parental involvement in the BKI program is very important. The fourth is the development of relevant programs, BKI that successfully develops programs that are relevant to students' needs, such as leadership training and social activities, shows significant results. The fifth is increasing spiritual awareness, one of the important results of the implementation of BKI is increasing students' spiritual awareness.
Peran Media Sosial dalam Gerakan Solidaritas Boikot Produk Pro-Israel Zahrul Husna
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/4dwh1p36

Abstract

AbstrakKonflik Israel-Palestina, salah satu konflik terpanjang dalam sejarah, telah memicu gerakan solidaritas global, termasuk di Indonesia. Penelitian ini menyoroti peran media sosial dalam mendukung gerakan boikot produk-produk yang berafiliasi dengan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi, membentuk opini publik, dan memobilisasi dukungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan untuk menganalisis literatur terkait peran media sosial dalam gerakan sosial serta teori-teori komunikasi, seperti Determinisme Teknologi dan Uses & Gratifications, yang menjelaskan motivasi individu dalam berpartisipasi dalam boikot. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun gerakan boikot ini memperkuat solidaritas nasional dan mendukung produk lokal, terdapat tantangan signifikan dalam pelaksanaannya, termasuk dampak ekonomi dan politik yang kompleks. Selain itu, gerakan ini juga memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat Indonesia, meskipun kontroversi dan dampak negatif perlu dipertimbangkan. Fatwa MUI tentang boikot produk Israel juga memicu perdebatan di masyarakat, menunjukkan perlunya evaluasi yang cermat terhadap dampaknya. Kesimpulannya, isu boikot produk pro-Israel di Indonesia memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan berbagai dimensi sosial, ekonomi, dan politik. AbstractThe Israel-Palestine conflict, one of the longest-standing conflicts in history, has sparked global solidarity movements, including in Indonesia. This study highlights the role of social media in supporting the boycott movement of products affiliated with Israel as a form of solidarity with Palestine. Social media plays a crucial role in disseminating information, shaping public opinion, and mobilizing support. This research employs a qualitative approach through a literature review to analyze the relevant literature on the role of social media in social movements, as well as communication theories such as Technological Determinism and Uses & Gratifications, which explain individuals' motivations for participating in the boycott. The findings indicate that while the boycott movement strengthens national solidarity and supports local products, there are significant challenges in its implementation, including complex economic and political impacts. Additionally, the movement reinforces Pancasila values in Indonesian society, although controversy and negative effects must be considered. The Indonesian Ulema Council (MUI) fatwa on boycotting Israeli products also sparked debates within the public, highlighting the need for careful evaluation of its implications. In conclusion, the issue of boycotting pro-Israeli products in Indonesia requires a holistic approach that considers various social, economic, and political dimensions.
LARANGAN MENGUMBAR AIB DALAM AL-QUR’AN (Kajian Tafsir Tahlili) Muslikhah; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rothih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/sw3dvh07

Abstract

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh beberapa fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarakat sekarang, yang mana seluruh kegiatan bias kita lakukan dengan cara yang sangat canggih, perkembangan zaman digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan lagi oleh manusia.tentunya hal inu juga akan berdampak positif dan negatif. Hal demikian ini  merusak tatanan tujuan manusia diciptakan. Dengan semakin canggihnya perkembangan tersebut membawa dampak penyebaran aib orang semakin cepat, baik didunia nyata maupun sosial. Peneliti melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang curhat pengumbaran aib di media sosial dan dampak curhat (pengumbaran aib) di media sosial untuk menghasilkan kajian dinamis kritis membangun argumen yang responsif terhadap problem pengumbaran aib, dapat merelevansi dengan konteks masyarakat kekinian. Penetian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), data dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari: 1) data primer yaitu Tafsir al-Munir, 2) data sekunder berupa Al-Qur’an  dan terjemahnya, kitab Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Azhar dan buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan al-Qur’an  dan pembahasannya. Teknis pengumpulan data yang digunakan oleh penulis membutuhkan dokumentasi berupa catatan, lampiran, dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan judul. Selanjutnya menggunakan langkah-langkah maudhu’i dan yang paling utama yaitu mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang dibahas, terjemah dan tafsiran dari para mufasir, dan diambil dari buku, artikel maupun jurnal yang terkait. Dari penafsiran tafsir al-munir menjelaskan bahwa semua perilaku mengumbar aib, dapat diketahui bahwa perilaku mengumbar aib sangat dianjurkan untuk dihindari agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penafsiran dalam tafsir tahlili menyebutkan bahwa melarang untuk menampakkan perbuatan ataupun menceritakan sesuatu yang berkaiatan dengan perbuatan maksiat boleh jadi apa yang diceritakan atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya berakibat buruk kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri misalnya dampaknya kepada orang lain yaitu boleh jadi orang yang mendengarkan cerita orang tersebut melakukan hal yang serupa terhadap apa yang telah dilakukan. Dampak negatif mengumbar aib pertama yaitu yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kemudian yang kedua mengumbar aib menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga menimbulkan sikap atau perbuatan yang sombong dengan membanggakan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan.Kata kunci : Anak, Tafsir ibnu katsir.AbstractThe research in this thesis is based on several phenomena that often occur among today's society, where we can carry out all activities in a very sophisticated way, the development of the digital era continues to move quickly and cannot be stopped by humans. Of course this will also have an impact positive and negative. This kind of thing destroys the order for which humans were created. With increasingly sophisticated developments, this has the impact of spreading people's disgrace more quickly, both in the real world and in society. The researcher looked at how the verses of the Qur'an talk about sharing shame on social media and the impact of sharing shame on social media to produce a critical dynamic study to build arguments that are responsive to the problem of showing shame, and can be relevant to the context of contemporary society. This research is library research, the data in this research comes from library materials consisting of: 1) primary data, namely Tafsir al-Munir, 2) secondary data in the form of the Al-Qur'an and its translation, the book Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, and Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Azhar and books related to the science of the Koran and its discussions. The data collection technique used by the author requires documentation in the form of notes, attachments and several documents related to the title. Next, we use maudhu'i steps and the most important thing is the verses of the Koran that are discussed, translations and interpretations from commentators, and taken from related books, articles and journals. From the interpretation of Al-Munir's tafsir, which explains that all behavior that indulges in disgrace, it can be seen that it is highly recommended that behavior that indulges in disgrace be avoided so that things do not happen that can harm oneself and others. The interpretation in the tafsir tahlili states that it is forbidden to show actions or tell something that is related to immoral acts, it may be that what is said or actions that have been done previously have a bad impact on other people or even on oneself, for example the impact on other people, that is, it may be the person who listens. the story of the person doing something similar to what was done. The first negative impact of indulging in disgrace is that it has a bad impact on oneself. Then the second person indulges in disgrace and tells it because he wants to brag about his immoral deeds, giving rise to arrogant attitudes or actions by bragging about the actions he has committed.
Anak Dalam Tafsir Ibnu Katsir Alfia Nur Chusna Qurrota Aini; Ahmad Zainuddin; M. Mukhtid Mashuri; Miftarah Ainul Mufid
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/f55wfa85

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab yang membahas beberapa hal, salah satunya mengenai anak. Banyak pelajaran yang bisa didapatkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur`an mendeskripsikan anak dapat memiliki potensi yang besar dalam menghantarkan kepada kebaikan. Namun, di sisi yang lain Al-Qur`an juga mendeskripsikan anak dapat menjerumuskan manusia kedalam jurang yang penuh dengan dosa dan kemaksiatan. Oleh karena itu, perlu untuk mengkaji lebih dalam mengenai hakekat makna anak yang ada di dalamnya. Skripsi ini berjudul Anak dalam Al-Qur’an Tafsir Ibnu Katsir. Sebuah skripsi untuk mengkaji dan meneliti bagaimana Ibnu Katsir menfsirkan tentang Anak dalam Al-Qur’an yang dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir. Dimana ada perbedaan pendapat mengenai penafsiran anak dalam tafsir ibnu katsir dan beberapa mufassir yang lain. Adapun yang menjadi Fokus permasalahan dalam kajian ini: 1. Bagaimana penafsiran  para mufassir tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan makna anak, 2. Bagaimana penafsiran Ibnu Katsir tentang makna anak dalam tafsir Ibnu Kastsir.  Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji mengenai makna anak yang sesungguhnya pada tafsir Ibnu katsir. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan (Librari Reaserch), dalam hal ini sesuai dengan tema anak dalam Al-Qur’an, peneliti melakukan langkah-langkah dengan cara mengumpulkan buku, atau literatur yang berkaitan dengan makna anak, yang bersifat Deskriptif analisis, dengan merujuk kepada beberapa buku sebagai data primer seperti Al-Qur’an tafsir Ibnu Katsir, dan beberapa buku lainnya sebagai data skunder. Dengan demikian hasil dari penelitian ini yakni penjelasan makna Anak dalam Al-Qur’an yang telah dijelaskan dalam tafsir-tafsir, salah satunya penafsiran Ibnu Katsir. Diharap skripsi ini mampu menjadi acuan bagi manusia mengenai makna anak dalam Al-Qur’an.    Abstract The Qur'an is a book that discusses several things, one of which is about children. There are many lessons that can be learned from the Qur'an. The Qur'an describes that children can have great potential in leading to goodness. However, on the other hand, the Qur'an also describes that children can lead humans into an abyss full of sin and disobedience. Therefore, it is necessary to study more deeply the essence of the meaning of children in it. This thesis is entitled Children in the Qur'an, Ibn Kathir's Tafsir. A thesis to study and research how Ibn Kathir interprets Children in the Qur'an as explained in Ibn Kathir's Tafsir. Where there are differences of opinion regarding the interpretation of children in the interpretation of Ibn Kathir and several other interpreters. The focus of the problem in this study: 1. How is Ibn Kathir's interpretation of the verses related to the meaning of children, 2. How are the interpreters' interpretations of the meaning of children in the interpretation of Ibn Kastsir. The purpose of this study is to examine the true meaning of children in the Al-Qur'an Ibn Kathir. This type of research is literature (Library Research), in this case in accordance with the theme of children in the Al-Qur'an, researchers take steps by collecting books, or literature related to the meaning of children, which are descriptive analysis, by referring to several books as primary data such as the Al-Qur'an interpretation of Ibn Kathir, and several other books as secondary data. Thus the results of this study are an explanation of the meaning of Children in the Al-Qur'an which has been explained in the interpretations, one of which is the interpretation of Ibn Kathir. It is hoped that this thesis can be a reference for humans regarding the meaning of children in the Qur'an.  
Bullying Dalam Al Qur’an Perpektif Kajian Tafsir Tematik Fitriyatul Lailiyah; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/7jtvrm11

Abstract

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh beberapa fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarakat sekarang, yang mana seluruh kegiatan bias kita lakukan dengan cara yang sangat canggih, perkembangan zaman digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan lagi oleh manusia.tentunya hal inu juga akan berdampak positif dan negatif. Hal demikian ini  merusak tatanan tujuan manusia diciptakan. Dengan semakin canggihnya perkembangan tersebut membawa dampak penyebaran aib orang semakin cepat, baik didunia nyata maupun sosial. Peneliti melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang curhat pengumbaran aib di media sosial dan dampak curhat (pengumbaran aib) di media sosial untuk menghasilkan kajian dinamis kritis membangun argumen yang responsif terhadap problem pengumbaran aib, dapat merelevansi dengan konteks masyarakat kekinian. Penetian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), data dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari: 1) data primer yaitu Tafsir al-Munir, 2) data sekunder berupa Al-Qur’an  dan terjemahnya, kitab Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Azhar dan buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan al-Qur’an  dan pembahasannya. Teknis pengumpulan data yang digunakan oleh penulis membutuhkan dokumentasi berupa catatan, lampiran, dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan judul. Selanjutnya menggunakan langkah-langkah maudhu’i dan yang paling utama yaitu mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang dibahas, terjemah dan tafsiran dari para mufasir, dan diambil dari buku, artikel maupun jurnal yang terkait. Dari penafsiran tafsir al-munir menjelaskan bahwa semua perilaku mengumbar aib, dapat diketahui bahwa perilaku mengumbar aib sangat dianjurkan untuk dihindari agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penafsiran dalam tafsir tahlili menyebutkan bahwa melarang untuk menampakkan perbuatan ataupun menceritakan sesuatu yang berkaiatan dengan perbuatan maksiat boleh jadi apa yang diceritakan atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya berakibat buruk kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri misalnya dampaknya kepada orang lain yaitu boleh jadi orang yang mendengarkan cerita orang tersebut melakukan hal yang serupa terhadap apa yang telah dilakukan. Dampak negatif mengumbar aib pertama yaitu yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kemudian yang kedua mengumbar aib menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga menimbulkan sikap atau perbuatan yang sombong dengan membanggakan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan.Kata kunci : Anak, Tafsir ibnu katsir.AbstractThe research in this thesis is based on several phenomena that often occur among today's society, where we can carry out all activities in a very sophisticated way, the development of the digital era continues to move quickly and cannot be stopped by humans. Of course this will also have an impact positive and negative. This kind of thing destroys the order for which humans were created. With increasingly sophisticated developments, this has the impact of spreading people's disgrace more quickly, both in the real world and in society. The researcher looked at how the verses of the Qur'an talk about sharing shame on social media and the impact of sharing shame on social media to produce a critical dynamic study to build arguments that are responsive to the problem of showing shame, and can be relevant to the context of contemporary society. This research is library research, the data in this research comes from library materials consisting of: 1) primary data, namely Tafsir al-Munir, 2) secondary data in the form of the Al-Qur'an and its translation, the book Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, and Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Azhar and books related to the science of the Koran and its discussions. The data collection technique used by the author requires documentation in the form of notes, attachments and several documents related to the title. Next, we use maudhu'i steps and the most important thing is the verses of the Koran that are discussed, translations and interpretations from commentators, and taken from related books, articles and journals. From the interpretation of Al-Munir's tafsir, which explains that all behavior that indulges in disgrace, it can be seen that it is highly recommended that behavior that indulges in disgrace be avoided so that things do not happen that can harm oneself and others. The interpretation in the tafsir tahlili states that it is forbidden to show actions or tell something that is related to immoral acts, it may be that what is said or actions that have been done previously have a bad impact on other people or even on oneself, for example the impact on other people, that is, it may be the person who listens. the story of the person doing something similar to what was done. The first negative impact of indulging in disgrace is that it has a bad impact on oneself. Then the second person indulges in disgrace and tells it because he wants to brag about his immoral deeds, giving rise to arrogant attitudes or actions by bragging about the actions he has committed.
Konsep Wahyu Al-Qur’an dalam Perspektif Muhammad Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zayd Syifa Urrahmi
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/y8tja572

Abstract

dan pendekatannya selalu mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan tuntutan dan evolusi pemikiran manusia terkait perkembangan zaman. Di era kontemporer, perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi menantang pemikiran tentang wahyu. Mendorong para intelektual muslim untuk merekonstruksi pemahaman agar tetap relevan. Dua tokoh penting dalam upaya ini adalah Muhammad Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zayd, yang dikenal karena pendekatan kritis dan progresif mereka dalam menafsirkan wahyu. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan menganalisis pemikiran Muhammad Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zayd dalam memahami wahyu dan Alquran, serta dampaknya terhadap pemahaman Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitif.  Metode ini diterapkan untuk menguraikan dan menganalisis pemikiran Arkoun dan Abu Zayd secara menyeluruh dan mendalam mengenai pemahaman tentang wahyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan baik Arkoun maupun Abu Zayd melihat pentingnya konteks budaya dan sejarah dalam memahami wahyu Al-Qur'an, meskipun mereka menekankan aspek yang berbeda dalam proses pewahyuan dan transformasinya.  Menurut Arkoun, Al-Qur'an awalnya wahyu langsung dari Allah, mutlak dan orisinal. Disampaikan sebagai wacana Qur'ani kepada Nabi, berubah menjadi mushaf, korpus resmi tertutup, kemudian bisa ditafsirkan. Abu Zayd melihat wahyu melalui tanzil dari Allah ke Jibril, lalu ta'wil oleh Nabi dalam bahasa Arab. Qur'an berubah dari ilahi menjadi konsep manusiawi, dengan peran budaya sosial ditekankan. Kedua pemikir ini mendorong interpretasi Al-Qur'an yang dinamis dan relevan dengan zaman modern, mengajak umat Islam untuk mempertimbangkan kembali cara mereka memahami dan menafsirkan wahyu, sehingga pemahaman Islam dapat terus berkembang dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Abstract The critical study of revelation in the field of 'ulūm al-Qur'ān with its various methods and approaches always experiences dynamic development in line with the demands and evolution of human thought related to the times. In the contemporary era, the development of science and globalization challenges thinking about revelation. Encouraging Muslim intellectuals to reconstruct understanding so that it remains relevant. Two important figures in this effort are Muhammad Arkoun and Nasir Hamid Abu Zayd, who are known for their critical and progressive approach to interpreting revelation. This research aims to describe and analyze the thoughts of Muhammad Arkoun and Nasir Hamid Abu Zayd in understanding revelation and the Koran, as well as their impact on contemporary understanding of Islam. This research uses analytical descriptive methods.  This method is applied to describe and analyze Arkoun and Abu Zayd's thoughts thoroughly and in depth regarding the understanding of revelation. The research results show that overall both Arkoun and Abu Zayd see the importance of cultural and historical context in understanding the revelation of the Qur'an, although they emphasize different aspects in the process of revelation and transformation.  According to Arkoun, the Koran was originally a direct revelation from Allah, absolute and original. Presented as a Qur'anic discourse to the Prophet, it was turned into a mushaf, a closed official corpus, then able to be interpreted. Abu Zayd saw revelations through tanzil from Allah to Jibril, then ta'wil by the Prophet in Arabic. The Qur'an changed from a divine to a human concept, with the role of social culture emphasized. These two thinkers encourage a dynamic and relevant interpretation of the Qur'an in modern times, inviting Muslims to reconsider the way they understand and interpret revelation, so that understanding of Islam can continue to develop and remain relevant in facing the challenges of the times.
HERMENEUTIKA PEMBEBASANKajian atas Pemikiran Muhammad Arkoun dan Farid Essack Aufa Dzakiyyah Rahmi
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/7yszst46

Abstract

Hermeneutika menjadi sebuah metode atau seni, sekaligus juga sebuah teori penafsiran, yang berkembang hingga menjadi sebuah disiplin ilmu yang penting dalam bidang filsafat dan teologi, khususnya dalam telah berkembang menjadi salah satu disiplin penting dalam kajian filsafat dan teologi, terutama dalam mengetahui teks-teks keagamaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan menganalisis konsep hermeneutika pembebasan dari perspektif Muhammad Arkoun dan Farid Esack. Dengan menelaah karya-karya utama mereka, penelitian ini akan mengungkap kesamaan dan perbedaan dalam pendekatan mereka, serta implikasi hermeneutika mereka terhadap pemahaman dan praktik Islam di dunia modern. Melalui studi komparatif ini, diharapkan dapat diperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang potensi hermeneutika pembebasan dalam memperkaya diskursus keagamaan dan sosial di kalangan umat Muslim. Melalui analisis kritis dan kontekstual, keduanya berusaha membebaskan teks dari interpretasi yang kaku dan dogmatis, serta mengajak umat Muslim untuk berperan aktif dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. AbstractHermeneutics is a method or art, as well as a theory of interpretation, which has developed into an important discipline in the fields of philosophy and theology, especially in knowing religious texts. Therefore, this study aims to compare and analyze the concept of liberation hermeneutics from the perspectives of Muhammad Arkoun and Farid Esack. By examining their major works, this research will reveal the similarities and differences in their approaches, as well as the implications of their hermeneutics for the understanding and practice of Islam in the modern world. Through this comparative study, a deeper insight into the potential of liberation hermeneutics in enriching religious and social discourse among Muslims is expected. Through critical and contextual analysis, both seek to liberate texts from rigid and dogmatic interpretations, and invite Muslims to play an active role in fighting for justice and equality.
Variasi Makna Nūr dalam Al-Qur’an(Trichotomy Relations Charles Sanders Peirce) Nur Fadhilah
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/jc1d4852

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi variasi makna nūr dalam Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan semiotika trikotomi Charles Sanders Peirce, yang meliputi tiga aspek utama: representamen, objek, dan interpretan. Dalam Al-Qur'an, nūr memiliki makna yang beragam, baik secara literal maupun metaforis, mencakup aspek fisik, spiritual, dan simbolis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tematik terhadap ayat-ayat yang mengandung kata nūr.  Dari hasil penelitian ini menemukan bahwa Nūr tidak hanya sekedar kata yang tidak bermakna melainkan simbol kekuatan spiritual dalam memerangi kegelapan dan menjadi tanda yang diinterpretasikan sebagai Cahaya Illahi, Kitab-kitab Allah, petunjuk dan wajah orang-orang mukmin pada hari akhir. Studi ini menegaskan bahwa variasi makna nūr mencerminkan keunikan bahasa Al-Qur'an dalam menyampaikan pesan universal yang relevan dalam berbagai konteks. Selain itu, pendekatan semiotika ini menawarkan perspektif baru dalam memahami dimensi simbolik dan filosofis ayat-ayat Al-Qur'an. AbstractThis study aims to explore the variation of the meaning of nur in the Qur'an using Charles Sanders Peirce's trichotomy semiotic approach, which includes three main aspects: representamen, object, and interpretant. In the Qur'an, nur has various meanings, both literally and metaphorically, including physical, spiritual, and symbolic aspects. This study uses a qualitative method with a thematic analysis approach to verses containing the word nur. The results of this study found that nur is not just a meaningless word but a symbol of spiritual power in fighting darkness and becoming a sign interpreted as Divine Light, the Books of Allah, guidance and the face of believers on the last day. This study confirms that the variation of the meaning of nur reflects the uniqueness of the language of the Qur'an in conveying universal messages that are relevant in various contexts. In addition, this semiotic approach offers a new perspective in understanding the symbolic and philosophical dimensions of the verses of the Qur'an.
Praktik Perbudakan Dalam Perspektif Fazlur Rahman dan Farid Esack Dewi Putri Erdina
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasii, dakwah dan al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/4hgbqg37

Abstract

Perbudakan menjadi salah satu fenomena sosial yang telah menghantui peradaban manusia sepanjang sejarah, menghadirkan tantangan moral, etis, dan hukum yang kompleks di berbagai masyarakat. Dalam konteks agama-agama besar, termasuk Islam, perbudakan telah dibahas secara langsung melalui teks-teks suci dan tradisi-tradisi interpretatif yang berkembang. Dalam tulisan ini, akan membahas bagaimana hermeneutika double movement Fazlurrahman dan hermeneutika pembebasan Farid Esack digunakan sebagai model interpretasi ayat budak dalam Al-Qur’an pada masa pewahyuan dan konteks ketika ayat tersebut ditafsirkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan baik Rahman maupun Esack melihat pentingnya konteks budaya dan sejarah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, meskipun ada sedikit perbedaan dalam proses penafsirannya.  Menurut Rahman, nilai-nilai yang terkandung dari ayat tersebut adalah moralitas yang mengacu pada moralitas vertikal dan moralitas horizontal. Oleh karena itu, semangat pembaruan yang diemban oleh Fazlur Rahman ialah semangat menegakkan keadilan seadil-adilnya tanpa ada ketidaksetaraan dan diskriminasi.  Begitu juga dengan Esack perbudakan yang terjadi di zaman sekarang dalam gerakan praksisnya bukan hanya sekedar membebaskan budak dan menjadikannya merdeka. Akan tetapi lebih ke langkah yang lebih progresif yaitu dengan terciptanya sistem sosial yang adil dan egaliter sehingga mampu melindungi manusia dari penindasan. AbstractSlavery is one of the social phenomena that has haunted human civilization throughout history, presenting complex moral, ethical, and legal challenges in various societies. In the context of major religions, including Islam, slavery has been discussed directly through sacred texts and developing interpretive traditions. In this paper, we will discuss how Fazlurrahman's double movement hermeneutics and Farid Esack's liberation hermeneutics are used as models for interpreting the verses about slaves in the Qur'an during the time of revelation and the context in which the verses are interpreted. This study uses a descriptive analytical method. The results of the study show that overall both Rahman and Esack see the importance of cultural and historical context in understanding the verses of the Qur'an, although there are slight differences in the interpretation process. According to Rahman, the values contained in the verses are morality that refers to vertical morality and horizontal morality. Therefore, the spirit of renewal carried by Fazlur Rahman is the spirit of upholding justice as fairly as possible without inequality and discrimination. Likewise with Esack slavery that occurs in the present era in its practical movement is not just freeing slaves and making them independent. But rather to a more progressive step, namely by creating a just and egalitarian social system so that it can protect humans from oppression.
Implementasi Metode Pembelajaran Dakwah dalam Membentuk Karakter Santri di Pondok Pesantren Permata Budiharjo Plaosan Magetan Suyanto; Aditya Fajri Kurnia Pradana
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 1 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/f6agjv02

Abstract

Pesantren berperan sebagai pusat aktivitas dakwah yang memiliki unsur-unsur dalam proses komunikasi dakwah, yaitu komunikator (kyai), komunikan (santri), media komunikasi dakwah (pesantren/asrama santri, pusat ibadah/masjid, kitab kuning, majelis/forum/podium, dan lainnya). komunikasi dakwah merupakan upaya menyebarluaskan informasi ke umat Islam dan mengajak manusia ke jalan Allah dengan mengamalkan Al-Qur’an. Sedangkan pendidikan karakter di era modern semakin gencar digalakkan oleh pemerintah, namun persoalan kenakalan remaja, narkoba, dan beberapa kasus lain ini juga kerap kali menjadi perbincangan yang cukup membuat banyak orang geram. Hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter pada sekolah formal tidaklah cukup, maka dari itu sebagian orang disamping menyekolahkan anak di sekolah formal juga memasukkannya ke pondok pesantren. Peneliti menumukan keganjalan atau masalah masih banyak rendahnya kesadaran santri dalam membentuk tata tertib di Pondok Peantren. Berangkat dari latar belakang di atas, penelitian ini bertujun untuk mengetahui komunikasi dakwah di Pondok Pesantren Al-Barokah dalam pembentukan karakter santri, faktor pendukung dan penghambat komunikasi dakwah di Pondok Pesantren Al-Barokah dalam pembentukan karakter santri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitataif. Dengan mendeskripsikan hasil penelitian dan memaparkan data apa adanya sesuai hasil temuan di lapangan. Untuk memperoleh data atau informasi-informasi yang relavan dengan masalah yang dicari. Peneliti menggunakan beberapa metode yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil ini adalah komunikasi dakwah dalam pembentukan santri yang berkarakter pada Pondok Pesantren Permata Budiharjomenggunakan tiga metode pertama, Al-Hikmah (bijaksana), Mau’izhah hasanah (nasihat), Mujadalah (musyawarah). Kedua, metode langsung dan tidak langsung, metode langsung berati penyampaian karakter secara lansung dengan memberikan materi-materi akhlak. Metode tidak langsung adalah penanaman karakter melalui kisah-kisah yang mengandung nilai-nilai karakter mulia dengan harapan dapat diambil hikmahnya oleh santri. Ketiga, melalui metode keteladanan, metode reward dan punishment yaitu pemberian hadiah dan sanksi kepada santri untuk memikat mereka termotivasi berbuat baik dan berakhlak mulia.  AbstractPesantren acts as a center of da'wah activities that have elements in the da'wah communication process, namely communicators (kyai), communicants (santri), da'wah communication media (pesantren / santri dormitories, worship centers / mosques, yellow books, assemblies / forums / podiums, and others). da'wah communication is an effort to disseminate information to Muslims and invite people to the path of Allah by practicing the Qur'an. While character education in the modern era is increasingly intensified by the government, the issue of juvenile delinquency, drugs, and several other cases is also often a conversation that is enough to make many people furious. This proves that the implementation of character education in formal schools is not enough, so some people besides sending their children to formal schools also put them in boarding schools. Researchers find an oddity or problem that there is still a lot of low awareness of students in forming rules at Pondok Peantren. Departing from the above background, this research aims to find out the da'wah communication at Al-Barokah Islamic Boarding School in shaping the character of students, supporting and inhibiting factors of da'wah communication at Al-Barokah Islamic Boarding School in shaping the character of students. This research uses a type of qualitative research. By describing the results of the research and presenting the data as it is according to the findings in the field. To obtain data or information that is relevant to the study, the researcher uses a qualitative method.