cover
Contact Name
Nur Huda
Contact Email
nurhuda@staialanwar.ac.id
Phone
+6285643355747
Journal Mail Official
nurhuda@staialanwar.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.staialanwar.ac.id/
Location
Kab. rembang,
Jawa tengah
INDONESIA
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an
ISSN : 2442255X     EISSN : 25796275     DOI : https://doi.org/10.47454/itqan
FOCUS, AL ITQAN Jurnal Studi Al-Qur’an bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur’an melalui penerbitan hasil kajian dan penelitian tentang Al-Qur’an SCOPE, AL ITQAN menerbitkan kajian dan penelitian mengenai Al-Qur’an, meliputi mushaf, manuskrip, tafsir, terjemahan, ilmu-ilmu Al-Qur’an, serta living Qur’an dan mengutamakan hasil studi empiris maupun konseptual
Articles 116 Documents
TELAAH KRITIS TERHADAP PERIODISASI KODIFIKASI MUḤAMMAD ḤUSAYN AL-DHAHABĪ DALAM AL-TAFSĪR WA AL-MUFASSIRŪN Muhammad Fithri Umam
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 2 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v1i1.12

Abstract

Tulisan ini mencoba menelaah secara kritis sejarah perkembangan tafsir pada era kodifikasi hasil periodisasi Muḥammad Ḥusayn al-DhahabÄ« dalam karya monumentalnya, al-TafsÄ«r wa al-MufassirÅ«n. Al-DhahabÄ« mengklasifikasi periode kodifikasi tafsir menjadi lima tahap (al-khaá¹­wah). Menurutnya, kompilasi dan kodifikasi tafsir yang mencakup ayat per-ayat, surat per-surat, dan disusun secara mandiri tidak menumpang dalam bagian bab-bab hadis, juga sistematis sesuai urutan mushaf demikian itu baru dilakukan pada era tābi’ tābi’i al-tabi’īn, seperti Ibnu Mājah (w. 273 H), al-ṬabarÄ« (w. 310 H), dan ulama setelahnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menguji akurasi periodisasi al-DhahabÄ« tersebut. Sehingga memakai analisis verikatif-kualitatif yang meliputi verifikasi autentisitas atau keaslian sumber, dan kredibilitas. Ditambah keterangan dari kitab-kitab tārÄ«kh, tarājim, á¹­abaqāt, yang banyak mengeksplorasi sejarah masa lalu, menuntut tulisan ini mengkritisi periodisasi yang dipetakan oleh al-DhahabÄ«.   
NALAR IDEOLOGIS FIQIH DALAM TAFSIR AL-QUR'AN: (Telaah Konstruksi Tafsir Pada Masa Abbasiyah) Benny Afwadzi
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.13

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang nalar ideologis fiqih yang muncul dalam periode dinasti Abbasiyah, yang mengkhususkan pada kitab tafsir dari ulama pengikut madzhab empat, yakni madzhab H̲anafi, Mâliki, Syâfi’i, dan H̲anbali. Ulama H̲anafiyah diwakili oleh al-Jashshâsh, ulama Mâlikiyah diwakili oleh Ibnu al-‘Arabi, ulama Syâfi’iyah diwakili oleh Fakhruddîn al-Râzi, dan ulama Hanâbilah diwakili oleh Ibnu al-Jauzi. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam masing-masing kitab tafsir terlihat membela pemikiran dalam madzhab yang dianut oleh penulisnya. Beberapa sampel yang diambil, yakni diskursus ‘âm dan khâsh, amr dan nahy, serta lafadz musytarak membuktikan bahwa masing-masing ulama madzhab mempertahankan ideologi yang terdapat dalam madzhabnya dalam bidang fiqih, sehingga tafsir hukum yang muncul berwarna dengan warna madzhab si mufassir.    
SEMANTIK AL-QUR'AN : ANALISIS PENGGUNAAN KATA LIBĀS PRA DAN PASCA QUR`ANIK Azzah Nurin Taufiqotuzzahro
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 2 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i2.14

Abstract

This study sought to analyze the use of the word libās in the Qur'an. Besides plays as concepts related to everyday life, the concept of clothing in the word libās yet fully revealed. Many thought that libās in the Qur'an only have meaning as clothing. In fact, the word libās in the Qur'an includes of several meanings. Besides, the word libās be an interesting keyword to be studied in linguistic studies, especially using semantic analysis, hope, it can appearing the dynamic messages from The Koran vocabularies which is containing inside by examining analytically toward the concepts which seems to play an important role in the formation of Qur'anic vision. This paper concludes that the basic meaning of libās is wearing, and satara (covering). While the relational meaning that once covered later developed into an object that is used to cover (clothes). While the significance of libās from pre and post Qur`anic are same, that is covering. But in its development, The Koran refers to a new meaning as jewelry that used to adorn self (illegitimate). Comprehensively, the concept of libās from the meaning development from pre-Islam to the birth of Islam is drafted by covering something that must be covered. Indicatively, this things becomes characterizes the uniqueness of the Koran, as well as when The Koran adopts a vocabulary from pre-Islamic period which does not immediately change the meaning inside. Key Words: Libās verses, Semantics, Interpretation
SURAT AL-BAQARAH: REPETISI SEBAGAI PIRANTI KOHESI DALAM AL-QUR'AN Samsul Ma'arif
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.15

Abstract

This research is an answer to the notion that the Koran is not systematic and confused book, that  has no cohesion in its topics and themes. This research is seeking for the function of repetition as a device of cohesion in the text of the Koran, particularly in surah al-Baqarah. This research is a library research with data sources from the Koran as a text by using a sample surah al-Baqarah (number 2) as it is written in Mushhaf in circulation today. This study departs from the theory of Halliday and Hasan (1976) of Systemic Linguistics by using methods and techniques of qualitative descriptive analysis. This research indicates that the repetition of language units, either repetition of sounds, especially the form of syllables, repetition of words, phrases, clauses, sentences, and or even repetition of topics, creats a ties that can be combined by the text of the surah al-Baqarah. Through repetition in the surah al-Baqarah cohesion or coherence is found in the level of verses of surah, cohesion in topics surah, cohesion surah al-Baqarah, and even the cohesion of the Koran as a whole.  
APLIKASI HERMENEUTIKA KONTEKSTUAL AL-QUR'AN ABDULLAH SAEED Ridhoul Wahidi
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.17

Abstract

Tulisan ini membahas hermenutika kontekstual Abdullah Saeed yang berimplikasi terhadap hermeneutika al-Qur'an secara lebih luas. Abdullah Saeed mengapdosi teori double movement-nya Fazlur Rahman untuk menghasilkan penafsiran kontekstual yang menjadi proyeknya. Ada empat landasan teoritis yang dirumuskan oleh Abdullah Saeed dalam penafsiran kontekstualnya: 1. Korelasi wahyu dengan konteks sosio-historis saat wahyu itu diturunkan. 2. Faktor fleksibilitas cara membaca al-Qur’an dan hukum yang berlaku di dalam al-Qur’an mengikuti situasi dan kondisi, yang menunjukkan bahwa sejak diturunkannya, wahyu telah berdialektika dengan author pertamanya. 3. Kondisi internal al-Qur’an tidak dapat dibaca dan dipahami hanya dengan pendekatan tekstual.    
TAFSIR AL-WASĪTH LI AL-QUR’ĀN AL-KARĪM : (Sebuah Karya Besar Grand Syaikh Muḥammad Sayyid Thanthāwī) Abdullah Mubarok
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.18

Abstract

Muḥammad Sayyid Thanthāwī adalah seorang ulama multi disiplin ilmu. Tidak hanya tafsir, ia juga pakar dalam hukum Islam, sejarah dan lain-lain. Dengan kapasitas keilmuannya yang mumpuni, ia menyumbangkan sebuah karya yang pantas disejajarkan dengan tafsir-tafsir yang telah ada. Tafsir itu berjudul al-Wasīth li al-Qur’ān al-Karīm. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, Thanthāwī ingin mengupas petunjuk-petunjuk di dalam al-Qur’an seperti yang pernah dilakukan oleh pendahulunya yaitu Muḥammad Abduh. Dalam mukaddimah tafsirnya, Thanthāwī menggunakan metode terbaik dalam memahami al-Qur’an yaitu tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān, tafsīr al-Qur’ān bi al-sunnah dan tafsīr al-Qur’ān bi aqwāl al-shaḥābah. Adapun pendekatan yang digunakannya adalah pendekatan multidisipliner sesuai kandungan ayat dan dengan uraian yang sistematis.
ISU-ISU SOSIAL MASYARAKAT DALAM TAFSIR : (Kajian Analisis Wacana Tafsir Tāj al-Muslimīn min Kalāmi Rabb al-῾Alamīn Karya K.H. Misbach Mustafa) Syihabuddin Alwy; Nawal Nur Arofah
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.19

Abstract

Sifat al-Qur`an yang Ṣālihun likuli zamān wa al mākān  menjadikannya sebagai kitab suci yang sangat terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable). Kondisi sosial-kultural dan situasi politik juga menjadi hal yang mempengaruhi penafsir. Disamping itu dalam dinamika perkembangan tafsir ada kecenderungan dalam diri seorang muffasir untuk memahami al-Qur`an sesuai sudut pandang ilmu yang  ditekuninya. Berangkat dari hal tersebut maka al-Qur`an harus dijadikan sebagai landasan moral-teologis dalam rangka menjawab problem-problem sosial-keagamaan dan sosial-kemasyarakatan di era modern-kontemporer. salah satunya adalah kitab tafsir Tāj al-MuslimÄ«n karya K.H. Misbach Mustafa. Dalam kitab tafsir tersebut K.H. Misbach Mustafa memasukan beberapa isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat. Diantaranya riba bunga bank, program Kelurga Berencana, pengunaan pengeras suara, dan basmallah dalam surat al-Fatihah. Masuknya isu-isu sosial tersebut merupakan bentuk dari kehati-hatian beliau dalam urusan agama dan akidah. Apalagi hal tersebut merupakan hal yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Posisi beliau sebagai orang yang terpelajar dan memahami ajaran-ajaran agama membuatnya tergugah untuk menjaga umat yang awam dari apa yang dianggapnya sebagai kekeliruan dan kesesatan. Sebab, terkadang isu-isu sosial tersebut bersebrangan atau malah bertentangan dengan ajaran atau ketentuan agama Islam. Masuknya isu-isu sosial masyarakat dalam tafsir itu sendiri disebabkan karena adanya kesinambungan antara tema pokok ayat al-Qur`an dengan isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat.  
PENERAPAN TEORI NASKH TERHADAP AYAT-AYAT JIHĀD : (Studi Komparatif antara Jalāl al-Dīn al-Suyūti dan Mahmūd Muhammad Ṭaha) Mokhamad Ali Ridlo; Abdul Ghofur Maimoen
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 2 No 1 (2016): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v2i1.20

Abstract

Pembacaan akan teori naskh kembali menjadi dilematis, ketika para pembaharu Islam seperti Ṭaha mencoba merekontruksi konsep konvensional yang digagas al-Suyūṭi. Usaha tersebut sangat mungkin didasarkan atas asumsi teori naskh konvensional tidak lagi mampu melahirkan hukum Islam yang relevan dengan konteks budaya kontemporer saat ini. Bukan tidak mungkin, teori naskh mampu mempengaruhi cara berfikir umat Islam, terlebih bagi pihak yang memahami jihād sebagai gerakan ofensif. Kajian ini mencoba mengkomparasikan teori naskh yang diusung oleh al- Suyūṭi dan Ṭaha dan kemudian menjadikan format baru, dengan mengambil keunggulan dan meligitimasi kekurangannya. Selanjutnya, diterapkan terhadap ayat-ayat jihād. Melalui bingkai pemahaman terhadap fase diwajibkan jihād, kajian asbāb al-nuzÅ«l serta teori-teori dalam studi al-Qur'an akan menghasilkan pemahaman yang tidak setimpang dan lebih komprehensif terkhusus dalam konteks jihād.    
KORELASI I’ROB DAN MAKNA DALAM TAFSIR AL-KASHSHĀF Mohammad Muhyiddin; Muhammad Najib
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 1 No 2 (2015): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v1i2.21

Abstract

Penafsiran bercorak i'rāb yang telah mapan sejak zaman dahulu, bukan tanpa adanya problem. Masalah tersebut pernah disinggung oleh Ibnu Hisham, ulama ahli nahwu tersebut berpendapat bahwa dalam melakukan penafsiran i'rāb harus mementingkan makna ayat ketika ada persoalan tarik menarik antara mementingkan makna ayat atau i'rāb. AlZamakhshari seorang mufassir yang menerapkan corak i'rāb dalam tafsirnya, al-Kashshāf menjadi menarik untuk diungkap bagaimana sikap terhadap problem tersebut. Tulisan ini mencoba mengkaji korelasi i'rāb dan makna dalam pandangan al-Zamakhshari.    
PENAFSIRAN ABDULLAH AZZAM ATAS AYAT-AYAT JIHAD : STUDI KRITIS TERHADAP KITAB FĪ ẒILĀLI SURAT AL-TAWBAH Ahmad Musonnif Alfi; Abdul Ghofur Maimoen
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 1 No 2 (2015): Al ITQAN Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/itqan.v1i2.22

Abstract

Abdullah Azzam dikenal sebagai ideolog jihad modern di dunia dan menjadi rujukan utama kaum Mujahidin dalam melakukan aksi radikal. Ia meyakini surat al-Tawbah telah me-naskh lebih dari 120 ayat tentang perdamaian yang turun sebelumnya. Namun terdapat beberapa masalah pada kaidah naskh yang digunakannya. Pertama, kaidah naskh adalah pilihan pertama dan tidak menganggap adanya munasabah sebelum dilakukan naskh. Kedua, kaidah naskh yang digunakannya bertentangan dengan kaidah naskh ‘Ulum al-Qur`an yang berlaku. Ketiga, ia tidak konsisten dalam menggunakan kaidah naskh yang dibangunnya sendiri. Terbukti pada kesempatan lain ia masih menggunakan ayat yang dianggapnya telah mansÅ«kh.  

Page 2 of 12 | Total Record : 116