cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12" : 40 Documents clear
Perbandingan uji Widal dan Tubex pada pasien suspek demam tifoid Fariko, Kensha Firstyputri; Mimanda, Yona; Muhammad, Fathiyah Zahra; Mubarak, Rifky; Sumarpo, Anton
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1930

Abstract

Background: Typhoid fever is an infectious disease transmitted primarily through contaminated food, caused by Salmonella typhi, and is characterized by prolonged high fever and systemic involvement. Serological tests such as the Widal and Tubex tests are widely used for diagnosis. While the Tubex test is considered more sensitive, the Widal test remains prevalent due to its lower cost. Purpose: To compare the concordance between the Widal and Tubex tests and evaluate the diagnostic agreement in patients with suspected typhoid fever. Method: This observational analytical study using a cross-sectional approach was conducted at the Clinical Pathology Laboratory of the Faculty of Medicine, Syarif Hidayatullah State Islamic University, using 70 serum samples from patients at Hermina Hospital, Ciputat, selected through consecutive sampling. Widal and Tubex tests were performed on all samples. Data analysis was performed using univariate and bivariate tests, as well as the Cohen's Kappa consistency test. Results: The level of agreement between the Widal and Tubex tests was moderate, with a Kappa value of 0.519. Of the 70 subjects, 50% had negative results on both tests, 27.14% were positive on both tests, and the remaining subjects showed discordant results between the two tests. Conclusion: The concordance between the Widal and Tubex tests in diagnosing suspected typhoid fever was moderate.   Keywords: Serology Test; Tubex; Typhoid Fever; Widal.   Pendahuluan: Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang ditularkan terutama melalui makanan terkontaminasi, disebabkan oleh Salmonella typhi, dan ditandai dengan demam tinggi berkepanjangan serta keterlibatan sistemik. Uji serologi seperti Widal dan Tubex digunakan secara luas untuk diagnosis. Meskipun uji Tubex dianggap lebih sensitif, uji Widal tetap umum digunakan karena biayanya yang rendah. Tujuan: Untuk membandingkan kesesuaian antara uji Widal dan Tubex serta mengevaluasi kesepakatan diagnostik pada pasien dengan suspek demam tifoid. Metode: Studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik FK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, menggunakan 70 sampel serum dari pasien di Rumah Sakit Hermina Ciputat, dipilih melalui consecutive sampling. Uji Widal dan Tubex dilakukan pada semua sampel. Analisis data dilakukan menggunakan uji univariat, bivariat, serta uji konsistensi Cohen's Kappa. Hasil: Tingkat kesepakatan antara uji Widal dan Tubex adalah sedang (moderate), dengan nilai Kappa 0.519. Dari 70 subjek, 50% memiliki hasil negatif pada kedua uji, 27.14% positif pada kedua uji, dan sisanya menunjukkan hasil diskordan (tidak selaras) di antara kedua uji tersebut. Simpulan: Kesesuaian (concordance) antara uji Widal dan Tubex dalam mendiagnosis suspek demam tifoid berada pada tingkat sedang.   Kata Kunci: Demam Tifoid; Tubex; Uji Serologi; Widal.
Khasiat daun sirih hijau dan merah sebagai tanaman khas papua dalam penurunan pembengkakan payudara ibu nifas post sc Hasnia, Hasnia; Nasrianti, Nasrianti; Vitania, Wiwit; Pratami, Yustika Rahmawati; Astutik, Eftyaningrum Dwi Wahyu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1934

Abstract

Background: Breastfeeding is essential for the healthy growth and development of infants, but it often fails due to a lack of maternal preparation during pregnancy. A common problem is breast engorgement, which has a prevalence of approximately 65-75% among breastfeeding mothers. If left untreated, this condition can lead to complications such as blocked milk ducts, mastitis, and breast abscesses. One local Papuan wisdom to address this problem is the use of green and red betel leaves, which contain compounds such as flavonoids, tannins, and essential oils that have analgesic and anti-inflammatory effects. Purpose: To analyze the efficacy of green and red betel leaves, native to Papua, in reducing breast engorgement in post-cesarean section mothers. Method: A quasi-experimental study with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 20 postpartum mothers experiencing breast engorgement (10 participants in the green betel group and 10 participants in the red betel group) at the Khomba Waliyauw Community Health Center. The intervention consisted of warm betel leaf compresses for 20 minutes twice daily (morning and evening), followed by breast care according to standard operating procedures (SOP). The level of swelling was measured using the Six-Point Swelling Scale (SPES) on days 5, 12, 19, and 26. Results: This study demonstrated a significant effect in reducing breast swelling in both groups (p=0.05). The significance value for the green betel leaf group was 0.007 and for the red betel leaf group 0.004. The effectiveness of red betel leaf compresses was proven to be more effective in reducing swelling than green betel leaf compresses in postpartum women after cesarean section (p-value 0.029 <0.05). The effectiveness of red betel leaf is supported by its higher flavonoid and polyphenol content, which act as antioxidants and pain relievers. By day 26, all participants experienced no swelling, while in the green betel leaf group, the reduction only reached 70%. Conclusion: Both green and red betel leaves are effective in reducing breast engorgement in post-cesarean mothers, but the use of red betel leaves combined with breast care is more effective in reducing breast engorgement than green betel leaves. Suggestion: Health workers can increase education on proper breastfeeding techniques during postpartum visits to prevent early breast engorgement.   Keywords: Efficacy; Green Betel Leaves; Papuan Plants; Post-Cesarean Section; Postpartum Mothers; Reducing Breast Engorgement; Red Betel Leaves.   Pendahuluan: Proses menyusui merupakan hal penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat, sering kali tidak berjalan dengan baik karena kurangnya persiapan ibu saat hamil. Masalah yang sering muncul, seperti pembengkakan payudara (bendungan ASI) yang memiliki prevelensi sekitar 65-75% dikalangan ibu menyusui. Kondisi ini jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan komplikasi, seperti tersumbatnya saluran air susu, mastitis hingga abses payudara. Salah satu kearifan lokal masyarakat Papua untuk mengatasi hal ini adalah penggunaan daun sirih hijau dan merah yang mengandung senyawa, seperti flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang memiliki efek analgetik dan anti-inflamasi. Tujuan: Untuk menganalisis khasiat daun sirih hijau dan merah sebagai tanaman khas papua dalam penurunan pembengkakan payudara ibu nifas post sc. Metode: Penelitian quasy-experimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sampel terdiri dari 20 ibu nifas mengalami bendungan ASI (10 partisipan kelompok sirih hijau dan 10 partisipan kelompok sirih merah) di Puskesmas Khomba Waliyauw. Intervensi berupa kompres daun sirih yang telah dihangatkan selama 20 menit sebanyak 2 kali sehari (pagi dan sore) diikuti dengan perawatan payudara sesuai dengan SOP. Tingkat pembengkakan diukur menggunakan Six Point Engirgement Scale (SPES) pada hari ke-5,12,19, dan 26. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan pada dua kelompok dalam menurunkan pembengkakan payudara (p=0.05). Nilai signifikan pada kelompok daun sirih hijau 0.007 dan kelompok daun sirih merah 0.004. Efektivitas kompres daun sirih merah terbukti lebih efektif menurunkan pembengkakan, dibandingkan kompres daun sirih hijau pada ibu nifas pasca operasi SC (p-value 0.029 < 0.05). Efektivitas sirih merah didukung oleh kandungan flavonoid dan polifenol yang lebih tinggi, berperan sebagai antioksidan dan penghilang rasa nyeri. Pada hari ke-26, seluruh partisipan tidak mengalami pembengkakan, sedangkan pada kelompok daun sirih hijau penurunan hanya mencapai 70%. Simpulan: Jenis daun sirih hijau dan daun sirih merah efektif untuk menurunkan pembengkakan pada payudara ibu nifas pasca SC, tetapi penggunaan daun sirih merah yang disertai perawatan payudara lebih efektif menurunkan pembengkakan payudara dibandingkan daun sirih hijau. Saran: Petugas kesehatan dapat meningkatkan edukasi mengenai teknik menyusui yang benar selama kunjungan masa nifas, sehingga dapat mencegah secara dini kejadian bendungan ASI.   Kata Kunci: Daun Sirih Hijau; Daun Sirih Merah; Ibu Nifas; Khasiat; Penurunan Pembengkakan Payudara; Post SC; Tanaman Khas Papua.
Penggunaan aplikasi visual infusion phlebitis (VIP) score terhadap keakuratan dan efisiensi penilaian flebitis: A systematic literature review Oriza, Nurudin Dian; Upoyo, Arif Setyo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1940

Abstract

Background: Phlebitis is a common complication of peripheral intravenous catheterization that leads to pain, infection, and prolonged hospitalization. The Visual Infusion Phlebitis (VIP) Score is the global standard for assessing phlebitis severity; however, manual assessment often results in subjective variation, inter-observer inconsistency, and delayed documentation. With advances in health information technology, the use of digital applications or platforms based on the VIP Score is considered to improve the accuracy, precision, and efficiency of phlebitis assessment. Purpose: To assess the scientific evidence related to the use of the visual infusion phlebitis (VIP) score application on the accuracy and efficiency of phlebitis assessment. Method: This Systematic Literature Review was conducted by searching PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, DOAJ, and related scientific repositories for articles published between 2014-2025 using the keywords “Visual Infusion Phlebitis Score,” “VIP Score application,” “digital phlebitis assessment,” “accuracy,” and “efficiency.” Eight articles met the inclusion criteria, including studies on VIP Score reliability, digital implementation within health information systems, telemedicine-based phlebitis assessment, and studies examining the effectiveness of VIP Score monitoring. Study quality was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal tools. Results: The eight included articles demonstrate that digital VIP Score applications improve accuracy and consistency through higher inter-observer reliability, standardized visual interfaces, and reduced assessment variability among nurses. Integration of the VIP Score into Health Information Systems (HIS) and telemedicine platforms showed enhanced clinical decision-making speed, easier documentation, and improved accessibility of assessment data. However, none of the studies quantitatively measured assessment duration, leaving direct evidence of time efficiency limited despite observed process improvements. Conclusion: VIP Score applications show strong potential to enhance the accuracy and consistency of phlebitis assessment and support process efficiency through digitalization and standardized documentation. Nevertheless, further research is needed to evaluate the direct impact of these applications on assessment speed and clinical outcomes.   Keywords: Assessment Accuracy; Assessment Efficiency; Phlebitis; Visual Infusion Phlebitis (VIP) Score Application.   Pendahuluan: Flebitis merupakan komplikasi umum dari pemasangan intravena perifer yang berdampak pada nyeri, infeksi, hingga perpanjangan lama rawat. Visual Infusion Phlebitis (VIP) score menjadi standar global untuk menilai derajat flebitis. Namun, penilaian manual masih menimbulkan variasi subjektif, inkonsistensi inter-observer, dan keterlambatan dokumentasi. Seiring berkembangnya teknologi informasi kesehatan, penggunaan aplikasi atau platform digital berbasis VIP score dinilai dapat meningkatkan akurasi, ketepatan, dan efisiensi proses penilaian. Tujuan: Untuk menilai bukti ilmiah terkait penggunaan aplikasi visual infusion phlebitis (VIP) score terhadap keakuratan dan efisiensi penilaian flebitis. Metode: Penelitian systematic literature review dilakukan melalui pencarian artikel pada PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, DOAJ, serta repositori ilmiah yang diterbitkan pada rentang tahun 2014-2025 menggunakan kata kunci “Visual Infusion Phlebitis Score”, “VIP Score application”, “digital phlebitis assessment”, “accuracy”, dan “efficiency”. Berdasarkan hasil pencarian awal, diperoleh 8 artikel yang memenuhi kriteria inklusi meliputi studi reliabilitas VIP score, implementasi digital dalam sistem informasi kesehatan, penggunaan platform telemedicine untuk asesmen flebitis, serta studi terkait efektivitas pemantauan VIP score. Kualitas studi dinilai menggunakan instrumen Joanna Briggs Institute (JBI) critical appraisal. Hasil: 8 artikel inti menunjukkan, bahwa penggunaan aplikasi atau platform digital VIP score mampu meningkatkan akurasi dan konsistensi penilaian flebitis melalui reliabilitas inter-observer yang tinggi, tampilan visual terstandar, serta pengurangan variabilitas penilaian antar perawat. Beberapa studi, khususnya integrasi VIP score dalam Health Information System (HIS) dan telemedicine, membuktikan bahwa digitalisasi mempercepat pengambilan keputusan klinis, mempermudah dokumentasi, dan meningkatkan aksesibilitas data penilaian. Namun, belum ada studi yang mengukur durasi penilaian secara kuantitatif, sehingga bukti terkait efisiensi waktu masih terbatas meski indikator proses menunjukkan peningkatan. Simpulan: Aplikasi VIP score terbukti berpotensi meningkatkan akurasi dan konsistensi penilaian flebitis, serta mendukung efisiensi proses melalui digitalisasi dan dokumentasi terstandar. Meskipun demikian, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh langsung aplikasi terhadap kecepatan penilaian dan dampaknya terhadap outcome klinis.   Kata Kunci: Akurasi Penilaian; Aplikasi Visual Infusion Phlebitis (VIP) Score; Efisiensi Penilaian; Flebitis.
Efektivitas stretching exercise terhadap optimalisasi kemandirian lansia Musripah, Musripah; Wahyuni, Ening
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1942

Abstract

Background: Aging affects the level of dependency due to declines in biological, psychological, social, and economic functions. Factors affecting the quality of life of older adults include decreased functional abilities, particularly decreased independence, such as decreased walking speed and balance, and an increased risk of falls. This leads to dependence and the need for assistance from others to meet daily needs. Physical activity is one action that can be taken to improve physical fitness, muscle strength, and activities of daily living (ADL), thus enabling older adults to be active and independent. Stretching exercises are gentle muscle stretching exercises for relaxation performed using specific techniques to physiologically reduce muscle tension, based on the principles of mechanical and neurophysiological responses. Stretching is also used to maintain and improve flexibility and mobility of muscles and joints, reducing injuries and postural problems. Purpose: To determine the effectiveness of stretching exercises in optimizing independence in older adults. Method: This study used a quasi-experimental study with a single-group pretest-posttest design. The sampling technique used was purposive sampling, with a sample size of 35 older adults. The research instrument used was the Bartel index questionnaire, and data analysis used a paired t-test. Results: Before the stretching exercise intervention, the average score of participants was 86.86. After the intervention, the score increased to 98.16. This study obtained a p-value of 0.000, indicating that stretching exercises significantly increased the level of independence in the elderly. Conclusion: There was a difference in the level of independence in the elderly before and after the stretching exercise (p-value of 0.000). The stretching exercise intervention increased the independence of the elderly, therefore, this intervention is highly recommended for use in increasing the level of independence in the elderly. Suggestion: Nurses are encouraged to implement stretching exercises to increase the independence of the elderly. Future researchers should consider larger sample sizes, more diverse participant characteristics, and the use of other instruments to measure the level of independence in the elderly.   Keywords: Elderly; Independence; Stretching Exercise.   Pendahuluan: Lanjut usia memengaruhi tingkat ketergantungan karena akan mengalami kemunduran terhadap fungsi biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. Faktor yang memengaruhi kualitas hidup lansia adalah penurunan kemampuan fungsioanal terutama penurunan tingkat kemandirian, seperti penurunan kecepatan berjalan, kemampuan dalam menjaga keseimbangan dan meningkatnya risiko jatuh, sehingga lansia menjadi ketergantungan dan memerlukan bantuan orang lain dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Aktivitas fisik merupakan salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebugaran fisik, kekuatan otot dan activities daily living (ADLs), sehingga lansia menjadi aktif dan tidak bergantung kepada orang lain. Stretching exercise merupakan latihan peregangan otot ringan untuk relaksasi yang dilakukan menggunakan teknik tertentu untuk menurunkan ketegangan otot secara fisiologis dengan prinsip, terdiri atas respon mekanik dan respon neurofisiologis. Stretching juga digunakan untuk menjaga serta meningkatkan fleksibilitas, mobilitas otot dan area persendian, mengurangi cedera dan masalah dalam postur tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh efektivitas stretching exercise terhadap optimalisasi kemandirian lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental dengan desain one group pretest posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel 35 lansia. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner bartel index dan analisis data menggunakan paired t-test. Hasil: Sebelum dilakukan intervensi exercise stretching, nilai rata-rata partisipan adalah sebesar 86.86. Setelah intervensi, meningkat sebesar 98.16. Hasil penelitian didapatkan p value=0.000, artinya adanya pengaruh exercise stretching terhadap peningkatan tingkat kemandirian pada lansia. Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat kemandirian lansia  sebelum dan setelah stretching exercise (p value=0.000). Intervensi exercise stretching meningkatkan kemandirian lansia, sehingga intervensi ini lebih direkomendasikan untuk digunakan dalam meningkatkan tingkat kemandirian lansia. Saran: Perawat diharapkan dapat menerapkan exercise stretching untuk meningkatkan kemandirian lansia. Bagi peneliti selanjutnya, dapat mempertimbangkan jumlah sampel yang lebih besar, karakteristik partisipan yang lebih variatif dan penggunaan instrumen lain untuk mengukur tingkat kemandirian lansia.   Kata Kunci: Exercise Stretching; Kemandirian; Lansia.
Analisis tingkat partisipasi masyarakat dalam program cek kesehatan gratis di puskesmas Sinaga, Yakobus Lau De Yung; Fauziah, Diah Adni; Lolan, Yosef Pandai; Apriliani, Fitri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1965

Abstract

Background: The free health check program is a government preventive measure to improve early detection of Non-Communicable Diseases (NCDs). However, community participation in this program varies, and research specifically examining factors influencing participation in the free health check program at the community health center level is limited. Purpose: To analyze the level of community participation in the free health check program at the community health center level. Method: This study used a cross-sectional design involving 100 respondents selected through stratified proportional random sampling. The instrument, a closed-ended questionnaire, was developed by the researcher and tested for validity (corrected item-total correlation > 0.30) and reliability (Cronbach's alpha: knowledge = 0.81; attitude = 0.86; social support = 0.79). Data analysis was performed using the chi-square test. Results: A total of 62% of respondents participated in the free health check program. There was no significant relationship between knowledge (p = 0.992) and attitude (p = 0.410) and community participation. Social support was significantly associated with participation (p = 0.034). Respondents who received social support were 2.43 times more likely to participate in the program than those without support (POR = 2.428; 95% CI: 1.062–5.552). Conclusion: Social support was the most important determinant of community participation in the CKG program, while knowledge and attitudes did not significantly influence it. This indicates that social dynamics play a more dominant role in shaping preventive health behaviors. Therefore, community health centers need to strengthen community involvement, increase family participation, and empower health cadres to increase participation in preventive health programs.   Keywords: Attitudes; Community Participation; Free Health Checks; Knowledge; Social Support.   Pendahuluan: Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) merupakan upaya preventif pemerintah untuk meningkatkan deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Namun, tingkat partisipasi masyarakat dalam program ini masih beragam dan penelitian yang secara spesifik mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi keikutsertaan dalam program CKG di tingkat puskesmas masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam program cek kesehatan gratis di puskesmas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 100 responden yang dipilih melalui stratified proportional random sampling. Instrumen berupa kuesioner tertutup yang disusun sendiri oleh peneliti dan telah diuji validitas (corrected item-total correlation > 0.30) dan reliabilitas (cronbach’s alpha pengetahuan = 0.81; sikap = 0.86; dukungan sosial = 0.79). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebanyak 62% responden berpartisipasi dalam program CKG. Tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan (p = 0.992) maupun sikap (p = 0.410) dengan partisipasi masyarakat. Dukungan sosial memiliki hubungan bermakna dengan keikutsertaan (p = 0.034), responden yang memperoleh dukungan sosial memiliki peluang 2.43 kali lebih besar untuk mengikuti program, dibandingkan yang tidak didukung (POR = 2.428; 95% CI: 1.062–5.552). Simpulan: Dukungan sosial merupakan faktor yang paling menentukan dalam partisipasi masyarakat pada program CKG, sementara pengetahuan dan sikap tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa, dinamika sosial memiliki peran yang lebih dominan dalam membentuk perilaku kesehatan preventif. Oleh karena itu, puskesmas perlu memperkuat keterlibatan masyarakat, meningkatkan peran serta keluarga, dan memberdayakan kader kesehatan untuk meningkatkan partisipasi dalam program kesehatan preventif   Kata Kunci: Cek Kesehatan Gratis; Dukungan Sosial; Partisipasi Masyarakat; Pengetahuan; Sikap.
Faktor risiko anemia pada remaja putri Andini, Widya; Apriningsih, Apriningsih; Wasir, Riswandy; Ardhiyanti, Lusyta Puri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2021

Abstract

Background: Anaemia is a significant nutritional issue among adolescent girls, affecting growth, concentration in learning, and future reproductive health. Socioeconomic factors, dietary habits, and food quality significantly influence the prevalence of anemia.  Purpose: To determine the risk factors for anemia among adolescent girls. Method: This research was conducted at State Senior High School 1 Majalaya Karawang using an observational analytical framework. Sample comprised 230 female adolescent students, selected through purposive sampling.  Data was gathered via surveys. The investigation included the chi-square test and Cox regression to identify the primary factors affecting the prevalence of anemia. Results: The research findings indicate that factors significantly correlated with the incidence of anaemia encompass paternal education, maternal education, paternal occupation, maternal occupation, paternal income, maternal income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and the quality index of nutritional intake. The primary determinant is the mother's occupation, with an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), signifying that employed moms have a reduced chance of getting anaemia relative to their non-working counterparts. Socioeconomic and nutritional behavioral factors significantly influence the prevalence of anemia in teenage females.  Conclusion: Factors contributing to anemia in adolescent girls include father's education, mother's education, father's occupation, mother's occupation, father's income, mother's income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and nutritional intake quality index. The main determinant is mother's employment status, indicated by an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), meaning that employed mothers have a lower risk of anemia compared to unemployed mothers. These findings underscore the importance of women's economic empowerment and improving family nutritional knowledge as methods to reduce the prevalence of anemia in the community.   Keywords: Anaemia; Adolescent Girls; Nutrition Literacy; Nutritional Status; Quality of Nutrient Intake.   Pendahuluan: Anemia adalah masalah gizi yang signifikan di kalangan remaja putri, memengaruhi pertumbuhan, konsentrasi dalam belajar, dan kesehatan reproduksi di masa depan. Faktor sosial ekonomi, kebiasaan makan, dan kualitas makanan secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia. Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko anemia pada remaja putri. Metode: Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Majalaya Karawang dengan menggunakan kerangka analitis observasional. Sampel penelitian terdiri dari 230 siswa remaja perempuan yang dipilih melalui pengambilan sampel, data dikumpulkan melalui survei. Penyelidikan ini mencakup uji chi-kuadrat dan regresi Cox untuk mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi prevalensi anemia. Hasil: Faktor-faktor yang berkorelasi signifikan dengan kejadian anemia meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utama adalah pekerjaan ibu, dengan rasio odds 0.029 (p = 0.000), yang menunjukkan bahwa ibu yang bekerja memiliki peluang lebih kecil untuk menderita anemia dibandingkan dengan rekan mereka yang tidak bekerja. Faktor perilaku sosial ekonomi dan gizi secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia pada remaja putri. Simpulan: Faktor anemia pada remaja putri meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utamanya adalah status pekerjaan ibu, yang ditunjukkan oleh rasio odds sebesar 0.029 (p = 0.000), yang berarti bahwa ibu yang bekerja memiliki risiko anemia lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan dan peningkatan pengetahuan gizi keluarga sebagai metode untuk mengurangi prevalensi anemia dalam masyarakat.   Kata Kunci: Anemia; Literasi Gizi; Mutu Asupan Gizi; Remaja Putri; Status Gizi.
Hubungan karakteristik dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan nasional non penerima bantuan iuran Nasira, Azmi Zahran; Korompis, Grace Ester Caroline; Kolibu, Febi Kornela
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2037

Abstract

Background: Hospitals play a crucial role as providers of advanced healthcare services within the National Health Insurance system and are required to provide quality and safe services to enhance patient satisfaction, particularly for non-contributory recipients who contribute directly through premium payments. Patient satisfaction is an evaluative response to service quality influenced by characteristics such as age, gender, education, and occupation. Purpose: To analyze the relationship between characteristics and satisfaction among non-contributory National Health Insurance recipients. Method: This quantitative study used an analytical survey design and a cross-sectional approach. The sample consisted of 106 respondents from non-contributory National Health Insurance recipients at Type B Regional General Hospitals in North Sulawesi Province. The relationship between variables was analyzed using the Chi-Square statistical test. However, for the variables of age and occupation, an alternative Fisher's Exact Test was used because the expected number of patients was less than 5. Results: This study showed that 58.5% of non-contributory National Health Insurance patients expressed satisfaction with the services they received. No statistically significant associations were found between age (p=0.737), gender (p=0.275), education level (p=0.341), or occupation (p=0.598) and patient satisfaction. Patient satisfaction levels tended to be evenly distributed across all characteristics, suggesting that consistent service quality, effective communication, staff friendliness, and speed of service played a greater role in shaping satisfaction than sociodemographic factors. Conclusion: There was no significant association between the patient characteristics studied and the satisfaction of National Health Insurance patients who were not premium recipients. Suggestion: Future researchers can use mixed-methods research to gain more in-depth insight into the experiences and subjective reasons behind patient satisfaction.   Keywords: National Health Insurance; Non-Contributory; Patient Characteristics; Patient Satisfaction.   Pendahuluan: Rumah sakit memegang peran penting sebagai penyedia layanan kesehatan lanjutan dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan diwajibkan memberikan pelayanan bermutu serta aman guna meningkatkan kepuasan pasien, terutama bagi peserta Non Penerima Bantuan Iuran (Non-PBI) yang berkontribusi langsung melalui pembayaran iuran. Kepuasan pasien merupakan respons evaluatif terhadap kualitas pelayanan yang dipengaruhi oleh karakteristik seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan karakteristik dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan nasional non penerima bantuan iuran. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 106 responden pasien JKN Non-PBI di RSUD Tipe B Provinsi Sulawesi Utara. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square. Namun, untuk variabel usia dan pekerjaan digunakan uji alternatif Fisher’s Exact Test karena adanya nilai harapan (expected count) kurang dari 5. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian pasien JKN Non-PBI, yaitu sebesar 58.5% menyatakan puas terhadap pelayanan yang diterima. Secara statistik, tidak ditemukan hubungan signifikan antara usia (p=0.737), jenis kelamin (p=0.275), tingkat pendidikan (p=0.341), maupun pekerjaan (p=0.598) dengan kepuasan pasien. Tingkat kepuasan pasien cendrung merata pada seluruh karakteristik, menunjukkan mutu pelayanan yang konsisten, komunikasi efektif, keramahan petugas, dan kecepatan pelayanan lebih berperan untuk membentuk kepuasan dibandingkan faktor sosiodemografis. Simpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien yang diteliti dengan kepuasan pasien JKN Non-PBI. Saran: Peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian mixed method agar dapat menggali informasi secara lebih mendalam mengenai pengalaman dan alasan subjektif di balik kepuasan pasien.   Kata Kunci: Jaminan Kesehatan Nasional; Karakteristik Pasien; Kepuasan Pasien; Non Penerima Bantuan Iuran.
Analisis health belief model dalam keputusan penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif pada pasien kanker payudara: A systematic literature review Obert, Hendra Augustian; Zamli, Zamli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2050

Abstract

Background: The high prevalence of breast cancer and the complexity of side effects of conventional treatments have led many patients to turn to complementary and alternative medicine. This decision is often influenced by cultural factors, myths, and complex health perceptions. Purpose: To analyze the health belief model in decision-making regarding the use of complementary and alternative medicine in breast cancer patients. Method: This systematic literature review followed the Public Reviews and Meta-Analyses Extension (PRISMA) guidelines for 22 selected articles from 2014–2025. Data were analyzed using narrative synthesis based on the constructs of the health belief model. Results: The study findings indicate that perceived barriers to medical care are dominated by fear of mastectomy and the myth that surgery worsens cancer. In contrast, the perceived benefits of complementary and alternative medicine are high because they are perceived as natural, safe, and proven to improve quality of life. Family cues to action are a key determinant of treatment decisions. Furthermore, modifying factors such as disease duration significantly contribute to medical fatigue, which encourages the use of complementary and alternative medicine. Conclusion: The health belief model effectively explains the shift in patient behavior toward alternative medicine. Integration of cultural approaches and effective communication in oncology services is necessary to bridge the perception gap between patients and medical personnel.   Keywords: Breast Cancer; Complementary Medicine; Health Belief Model.   Pendahuluan: Tingginya prevalensi kanker payudara dan kompleksitas efek samping pengobatan konvensional mendorong banyak pasien beralih ke pengobatan komplementer dan complementary and alternative medicine. Keputusan ini sering dipengaruhi oleh faktor budaya, mitos, dan persepsi kesehatan yang kompleks. Tujuan: Untuk menganalisis health belief model dalam keputusan penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif pada pasien kanker payudara. Metode: Penelitian systematic literature review mengikuti pedoman reviews and meta-analyses extension (PRISMA) terhadap 22 artikel terpilih periode 2014–2025. Data dianalisis menggunakan sintesis naratif berdasarkan konstruksi health belief model. Hasil: Temuan dalam penelitian ini menunjukkan, bahwa perceived barriers terhadap medis didominasi oleh ketakutan akan mastektomi dan mitos bahwa operasi memperburuk kanker. Sebaliknya, perceived benefits terhadap complementary and alternative medicine tinggi karena dianggap alami, aman, dan terbukti meningkatkan kualitas hidup. Cues to action dari keluarga menjadi penentu utama keputusan berobat. Selain itu, modifying factors berupa lamanya menderita penyakit secara signifikan memicu kejenuhan medis yang mendorong penggunaan complementary and alternative medicine. Simpulan: Health belief model efektif menjelaskan pergeseran perilaku pasien ke pengobatan alternatif. Diperlukan integrasi pendekatan budaya dan komunikasi efektif dalam layanan onkologi untuk menjembatani kesenjangan persepsi antara pasien dan tenaga medis.   Kata Kunci: Health Belief Model; Kanker Payudara; Pengobatan Komplementer.
Analisis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran nelayan pesisir: Sebuah tinjauan sistematis dan sintesis kritis Hanis, Iin Fatimah; Zamli, Zamli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2051

Abstract

Backgoround: Behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers in Palopo are an increasingly pressing issue requiring a systematic review due to the high occupational noise exposure experienced by this group and its long-term consequences on hearing health, occupational safety, and quality of life. Various studies have shown that fishers and maritime industry workers are at high risk of developing noise-induced hearing loss (NIHL) due to exposure to high-intensity and repeated noise from ship engines, fishing gear, and the challenging acoustic dynamics of the maritime work environment. Purpose: To identify and synthesize behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers. Method: This study was designed as a systematic review with critical synthesis that integrates cross-study findings on risk perceptions, behavioral barriers, and hearing loss prevention efforts among coastal fishers, following the study selection and analysis framework described in the available references. The research design followed a query transformation stage that formulated the primary research focus into several search questions, such as noise risk perceptions, factors influencing prevention behavior, barriers to hearing protection use, and the success and limitations of educational interventions. Results: Low risk perception, discomfort of protective equipment, unsupportive social norms, and limited organizational structures are key factors hindering preventive behavior. Furthermore, educational interventions reportedly increase knowledge but do not always directly influence behavioral change without adequate tools and policies. Conclusion: This study confirms that preventing hearing loss among fishers requires a multidimensional approach encompassing individual, social, cultural, and organizational factors. This research makes an important contribution to broadening our understanding of the dynamics of preventive behavior in the context of maritime communities and provides a basis for developing more effective and contextualized hearing protection interventions and policies.   Keywords: Fishermen; Hearing Loss; Preventive Behavior.   Pendahuluan: Hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir Palopo merupakan isu yang semakin mendesak untuk ditelaah secara sistematis karena tingginya paparan kebisingan kerja yang dialami kelompok ini dan konsekuensi jangka panjang yang ditimbulkannya terhadap kesehatan pendengaran, keselamatan kerja, serta kualitas hidup. Berbagai studi telah menunjukkan, bahwa nelayan dan pekerja industri maritim berada pada risiko signifikan untuk mengalami noise-induced hearing loss (NIHL) akibat paparan kebisingan intensitas tinggi dan berulang dari mesin perahu, alat tangkap, dan lingkungan kerja laut yang dinamika akustiknya sangat menantang. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mensintesis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir. Metode: Penelitian ini dirancang sebagai tinjauan sistematis dengan sintesis kritis yang mengintegrasikan temuan lintas studi mengenai persepsi risiko, hambatan perilaku, dan upaya pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir, sesuai kerangka seleksi dan analisis studi yang telah dijelaskan dalam referensi yang tersedia. Desain penelitian ini mengikuti tahapan transformasi kueri yang memformulasikan fokus utama penelitian menjadi beberapa pertanyaan pencarian, seperti persepsi risiko terhadap kebisingan, faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan, hambatan penggunaan alat pelindung pendengaran, serta keberhasilan dan keterbatasan intervensi pendidikan. Hasil: Persepsi risiko yang rendah, ketidaknyamanan alat pelindung, norma sosial yang tidak mendukung, serta keterbatasan struktur organisasi menjadi faktor utama yang menghambat perilaku pencegahan. Selain itu, intervensi pendidikan dilaporkan meningkatkan pengetahuan tetapi tidak selalu berpengaruh langsung terhadap perubahan perilaku tanpa dukungan alat dan kebijakan yang memadai. Simpulan: Penelitian menegaskan bahwa pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup faktor individual, sosial, budaya, dan organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas pemahaman mengenai dinamika perilaku pencegahan dalam konteks komunitas maritim serta menyediakan dasar bagi pengembangan intervensi dan kebijakan perlindungan pendengaran yang lebih efektif dan kontekstual.   Kata Kunci: Gangguan Pendengaran; Nelayan; Perilaku Pencegahan.
Hubungan antara perilaku sedentari dengan status gizi pada pelajar Therianto, Febrina Melly Chriesanty; Musa, Ester Candrawati; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2052

Abstract

Background: Sedentary behavior, or a lack of movement, can have negative health consequences if allowed to persist over time. One impact of sedentary behavior is nutritional status. Teenagers who are sedentary are also at higher risk of obesity and non-communicable diseases (chronic illnesses). Purpose: To analyze the relationship between sedentary behavior and nutritional status. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach. The population studied were students at State Senior High School 2 Tondano in July-September 2025. The sample used was 88 respondents selected through a total sampling technique. The instruments used were the Physical Activity Questionnaire of Adolescents (PAQ-A) questionnaire to observe physical activity and assess sedentary behavior of students in adolescence, and a height and weight measuring instrument to measure nutritional status. Results: The average physical activity questionnaire of adolescents (PAQ-A) score of students was quite low, with results around 1.80 with a standard deviation of 0.40. The average sample student had a body mass index (BMI) in the good category (mean 22.09 ± 5.14 kg/m2). However, 14 (16%) of the sample students were in the obese category (BMI/U Z score above +2 SD). The results of the bivariate analysis obtained a p value of 0.65 (p>0.05), meaning that H0 was accepted and the hypothesis was rejected. This indicates that there is no relationship between sedentary behavior and nutritional status in students. Conclusion: The association between sedentary behavior and nutritional status was not statistically significant, but the direction of the association suggests that lower physical activity may be associated with an increased risk of overnutrition. Suggestion: Further research with longitudinal designs and more objective measures of sedentary behavior is recommended to strengthen the causal evidence.   Keywords: Nutritional Status; Sedentary Behavior; Students.   Pendahuluan: Perilaku sedentari merupakan perilaku menetap atau kurang bergerak, perilaku ini memiliki dampak buruk untuk kesehatan jika dibiarkan dalam waktu yang lama. Salah satu dampak yang dapat dipengaruhi oleh perilaku sedentari yaitu status gizi. Remaja yang kurang bergerak juga dapat berisiko lebih tinggi mengalami kegemukan, hingga berisiko mengalami penyakit tidak menular (penyakit kronis). Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara perilaku sedentari dengan status gizi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah pelajar di SMA Negeri 2 Tondano pada bulan Juli-September 2025. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner physical activity questionnaire of adolescents (PAQ-A) untuk melihat aktivitas fisik dan menilai perilaku sedentari pelajar diusia remaja, alat ukur tinggi badan dan berat badan untuk mengukur status gizi. Hasil: Rata-rata skor PAQ-A pelajar cukup rendah dengan hasil di sekitar 1.80 dengan standar deviasi 0.40. Rata-rata pelajar sampel memiliki indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori baik (mean 22.09 ± 5.14 kg/m2). Namun, sebanyak 14 responden (16%) telah berada di kategori obese (skor Z IMT/U di atas +2 SD). Hasil analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0.65 (p>0.05), artinya H0 diterima, maka hipotesis ditolak. Hal ini menunjukkan tidak terdapat hubungan perilaku sedentaridengan status gizi pada pelajar. Simpulan: Hubungan antara perilaku sedentari dan status gizi tidak signifikan secara statistik, namun arah hubungan menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang lebih rendah mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko gizi lebih. Saran: Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan pengukuran perilaku sedentari yang lebih objektif disarankan untuk memperkuat bukti kausal.   Kata Kunci: Pelajar; Perilaku Sedentari; Status Gizi.

Page 2 of 4 | Total Record : 40