cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12" : 40 Documents clear
Pemahaman nilai-nilai spiritual dalam pendidikan kedokteran: A literature review Syafitri, Khusnul; Royani, Ida; Kartika, Andy Visi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2213

Abstract

Background: Spiritual values ​​are an important dimension of humanistic and holistic medical practice. In medical education, spirituality is increasingly viewed as relevant because it contributes to student character development, such as empathy, resilience, integrity, and patient-centered care orientation. However, the integration of spiritual values ​​into medical curricula remains variable and has not been widely standardized. Purpose: To conduct a systematic review of the literature on understanding spiritual values ​​in medical education related to character development in medical students. Method: This study used a structured, domain-based literature review approach. Analysis was conducted on eight relevant scientific articles, including systematic reviews, quasi-experimental studies, cross-sectional studies, exploratory studies, case studies, and grounded theory. Each article was analyzed based on theoretical domains and research gaps to gain a comprehensive understanding of the role of spirituality in medical education. Results: The integration of spiritual values ​​in medical education is positively associated with student character development, specifically empathy, resilience, spiritual well-being, professional integrity, and holistic care competency. Structured spiritual training programs and curricula have been shown to improve student competence and confidence, although most research relies on self-report instruments and short-term assessments. Conclusion: Spirituality is a crucial component in the character development of medical students and needs to be systematically integrated into medical education. Developing a curriculum based on spiritual values ​​has the potential to produce future physicians who are not only clinically competent but also possess character, empathy, and integrity.   Keywords: Character Development; Medical Education; Medical Students; Spiritual Values.   Pendahuluan: Nilai spiritual merupakan salah satu dimensi penting dalam praktik kedokteran yang humanistik dan holistik. Dalam pendidikan kedokteran, spiritualitas semakin dipandang relevan karena berkontribusi terhadap pembentukan karakter mahasiswa, seperti empati, resiliensi, integritas, dan orientasi pelayanan berpusat pada pasien. Namun, integrasi nilai spiritual dalam kurikulum kedokteran masih bervariasi dan belum terstandarisasi secara luas. Tujuan: Untuk mengkaji secara sistematis literatur pemahaman nilai-nilai spiritual dalam pendidikan kedokteran tentang pembentukan karakter pada mahasiswa kedokteran. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan domain-based structured literature review. Analisis dilakukan terhadap 8 artikel ilmiah yang relevan, mencakup systematic review, quasi-experimental study, cross-sectional study, eksploratory study, case study, dan grounded theory. Setiap artikel dianalisis berdasarkan domain teori insight dan gap penelitian untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peran spiritualitas dalam pendidikan kedokteran. Hasil: Integrasi nilai spiritual dalam pendidikan kedokteran berhubungan positif dengan pengembangan karakter mahasiswa, terutama empati, resiliensi, kesejahteraan spiritual, integritas profesional, dan kompetensi perawatan holistik. Program pelatihan dan kurikulum spiritual yang terstruktur terbukti meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri mahasiswa, meskipun sebagian besar penelitian masih bergantung pada instrumen self-report dan evaluasi jangka pendek. Simpulan: Spiritualitas merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter mahasiswa kedokteran dan perlu diintegrasikan secara sistematis dalam pendidikan kedokteran. Pengembangan kurikulum berbasis nilai spiritual berpotensi menghasilkan calon dokter yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga berkarakter, berempati, dan berintegritas.   Kata Kunci: Mahasiswa Kedokteran; Nilai Spiritual; Pendidikan Kedokteran; Pengembangan Karakter.
Efektivitas terapi musik dalam menurunkan gejala kecemasan pada pasien gangguan jiwa: A literature review Amkar, Musvirah Safitri; Abdullah, Rezky Putri Indarwati; Bakhtiar, Ilma Khaerina Amaliyah; Ismail, Muhammad Wirasto; Azis, Uyuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2244

Abstract

Background: Mental disorders are chronic conditions with symptoms of anxiety that often arise and impact patients' quality of life. The high prevalence of mental disorders in Indonesia demands effective interventions to manage anxiety. Pharmacological therapy and music therapy are safe and easy-to-apply non-pharmacological options that have been proven to reduce anxiety in various patient groups. Purpose: To describe the mechanism of action of music therapy in reducing anxiety, evaluate previous research findings on music therapy in patients with mental disorders, and provide recommendations for the application of music therapy in psychiatric clinical practice. Method: The literature review study used the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) method. The article search design was formulated using PICOS, namely P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), O (outcome), and S (study). The literature search was conducted using Google Scholar, PubMed NCBI, ScienceDirect, and Elsevier with the keywords “music therapy” AND “anxiety disorder” AND “psychiatric patients” AND “mental disorder” AND “music intervention” AND “anxiety reduction”. A total of 323 articles were identified and then screened according to the topic of discussion, resulting in 15 selected articles. Results: Music therapy has been proven effective in reducing anxiety symptoms in patients with mental disorders through neurobiological and neuroendocrine mechanisms, namely by decreasing amygdala activation, increasing prefrontal cortex activity, and lowering cortisol levels. Research shows a moderate to large effect (Cohen’s d = 0.74) that is consistent across various diagnoses and ages, with benefits that can last up to 12 months. This therapy is recommended to be conducted 2–3 times per week for a minimum of 8 weeks, combined with conventional therapy and tailored to the patient's preferences and culture. Conclusion: Music therapy is effective in reducing anxiety in patients with mental disorders through neurobiological and neuroendocrine mechanisms. Research shows consistent moderate to large clinical effects across various diagnoses and ages, which can last up to 12 months. This therapy is recommended as a complementary therapy alongside conventional therapy, tailored to the patient's preferences and culture.   Keywords: Anxiety Disorders; Mental Disorders; Music Therapy; Therapeutic Intervention.   Pendahuluan: Gangguan jiwa merupakan kondisi kronis dengan gejala kecemasan yang sering muncul dan berdampak pada kualitas hidup pasien. Tingginya prevalensi gangguan jiwa di Indonesia menuntut adanya intervensi efektif untuk mengelola kecemasan. Terapi farmakologis, terapi musik menjadi pilihan nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan, serta terbukti menurunkan kecemasan pada berbagai kelompok pasien. Tujuan: Untuk mendeskripsikan mekanisme kerja terapi musik terhadap penurunan kecemasan, mengevaluasi hasil penelitian terdahulu mengenai terapi musik pada pasien gangguan jiwa, memberikan rekomendasi penerapan terapi musik dalam praktik klinis psikiatri Metode: Penelitian literature review menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Desain pencarian artikel dengan merumuskan PICOS yaitu P (problem, patient, or population), I (intervention, prognostic factor, or exposure), C (comparison or control), O (outcome) dan S (study). Pencarian literatur yang digunakan berasal dari Google Scholar, PubMed NCBI, ScienceDirect, dan Elsevier dengan kata kunci “music therapy” AND “anxiety disorder” AND “psychiatric patients” AND “mental disorder” AND “music intervention” AND “anxiety reduction”. Mengidentifikasi 323 artikel selanjutnya dilakukan penyaringan sesuai dengan topik bahasan mendapatkan 15 artikel yang dipilih. Hasil: Terapi musik terbukti efektif menurunkan gejala kecemasan pada pasien gangguan jiwa melalui mekanisme neurobiologis dan neuroendokrin, yaitu menurunkan aktivasi amigdala, meningkatkan aktivitas prefrontal cortex, serta menurunkan kadar kortisol. Penelitian menunjukkan efek sedang hingga besar (Cohen’s d = 0.74) yang konsisten pada berbagai diagnosis dan usia, dengan manfaat yang dapat bertahan hingga 12 bulan. Terapi ini direkomendasikan dilakukan 2–3 kali per minggu selama minimal 8 minggu, dikombinasikan dengan terapi konvensional dan disesuaikan dengan preferensi serta budaya pasien. Simpulan: Terapi musik efektif menurunkan kecemasan pada pasien gangguan jiwa melalui mekanisme neurobiologis dan neuroendokrin. Penelitian menunjukkan efek klinis sedang hingga besar yang konsisten pada berbagai diagnosis dan usia, serta dapat bertahan hingga 12 bulan. Terapi ini direkomendasikan sebagai terapi komplementer bersama terapi konvensional dengan penyesuaian terhadap preferensi dan budaya pasien.   Kata Kunci: Gangguan Jiwa; Gangguan Kecemasan; Intervensi Terapeutik; Terapi Musik.
Hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita Datu, Deva Monica Mayomi; Punuh, Maureen Irinne; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2295

Abstract

Background: Adequate and balanced nutrition is essential to support children's physical growth and brain development, maintain the immune system, and meet energy needs for daily activities. Appropriate diet, including menu preparation and maternal feeding methods, plays a crucial role in meeting these nutritional needs. Purpose: To analyze the relationship between diet and nutritional status in toddlers. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The study was conducted in Pineleng District, Minahasa Regency, from May to August 2025. A random sampling technique was used to select 80 toddlers aged 2–5 years. Data were collected using the Child Diet Questionnaire (CFQ), interviews, and anthropometric measurements, including weight (digital scale) and height (microtonnage). Data were analyzed using the Chi-Square Test and Fisher's Exact Test. Results: The Chi-Square Test and Fisher's Exact Test yielded p = 0.002 (p > 0.05). This study found a relationship between diet and nutritional status in toddlers aged 2–5 years. Conclusion: There is a relationship between dietary patterns and nutritional status of toddlers aged 2-5 years. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference, but may need to incorporate other methods or variables not included in this study.   Keywords: Dietary patterns; Nutritional status; Toddlers.   Pendahuluan: Pemenuhan zat gizi yang cukup dan seimbang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, menjaga sistem kekebalan tubuh, serta memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas harian. Pola pemberian makan yang tepat, termasuk penyusunan menu dan cara pemberian makanan oleh ibu, berperan besar dalam memenuhi kebutuhan zat gizi ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa pada bulan Mei – Agustus tahun 2025 dengan jumlah sampel 80 balita usia 2 – 5 tahun menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Child Feeding Questionnaire (CFQ) dan wawancara serta melakukan pengukuran antropometri yaitu berat badan (timbangan digital) dan tinggi badan (microtoise). Metode analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil: Uji statistik Chi-Square dan Fisher’s Exact Test ini didapatkan hasil p = 0.002 (p > 0.05), temuan dari penelitian ini yaitu adanya hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita usia 2 – 5 tahun. Simpulan: Terdapat hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita usia 2 – 5 tahun. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Balita; Pola Pemberian Makan; Status Gizi.
Gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang Pasla, Angie Julieta; Sanggelorang, Yulianty; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2296

Abstract

Background: Nutrition is a crucial aspect of maintaining human health and well-being. Broadly speaking, nutrition encompasses all processes within the human body to acquire, digest, absorb, and transport nutrients, starting from the ages of 0-5 years. Mothers' knowledge about nutritional needs is very important, this is because to create a better future generation, the role of mothers in caring for babies and children is a determining factor. Purpose: To examine the knowledge of mothers of toddlers regarding balanced nutrition. Method: This quantitative research used a total sampling technique and a sample size of 90 respondents. The study was conducted in five villages in Pineleng District, Minahasa Regency, from May to November 2025. The research variable examined was mothers' knowledge of balanced nutrition, using a questionnaire. Results: Most respondents were aged 17-35 years (82 respondents) (91.1%), worked as housewives (79 respondents) (87.7%), and had a high school education (57 respondents) (63.3%). Regarding knowledge levels, the majority of respondents (78 respondents) had good knowledge. Conclusion: The general overview of mothers' knowledge of balanced nutrition in this study was categorized as good. Suggestion: It is hoped that health authorities can provide education to the community, especially mothers with toddlers, about nutrition-aware families to increase public knowledge.   Keywords: Balanced Nutrition; Knowledge; Mother; Toddler.   Pendahuluan: Gizi merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi, dalam pengertian luas, mencakup semua proses yang terjadi dalam tubuh manusia untuk memperoleh, mencerna, menyerap, dan mengangkut dimulai dari usia 0-5 tahun. Pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi sangat penting sekali, hal ini disebabkan untuk menciptakan generasi mendatang yang lebih baik, peran ibu dalam merawat bayi dan anak menjadi faktor penentu.   Tujuan: Untuk melihat gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan  sampel menggunakan teknik total sampling dan jumlah sampel sebanyak 90 responden. Penelitian ini dilakukan  di 5 desa di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa dengan waktu pelaksanaan pada Mei-November 2025 dengan variabel yang di teliti adalah pengetahuan  ibu  tentang gizi seimbang menggunakan instrumen kuesioner. Hasil: Sebagian besar responden berusia pada rentang 17-35 tahun sebanyak 82 responden (91.1%), bekerja sebagai IRT sebanyak 79 responden (87.7%), dan pendidikan terakhir yang paling banyak yaitu SMA sebanyak 57 responden (63.3%). Terkait dengan tingkat pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 78 responden (86.6%). Simpulan: Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada penelitian ini termasuk pada kategori baik. Saran: Diharapkan pihak kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki balita tentang keluarga sadar gizi, agar pengetahuan masyarakat dapat meningkat. Kata Kunci: Ibu; Balita; Gizi Seimbang; Pengetahuan.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan kejadian wasting pada balita Paisa, Fria Maria; Punuh, Maureen Irinne; Kapantow, Nova Hellen
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2297

Abstract

Background: Malnutrition in toddlers, if not addressed seriously, can negatively impact their health, both growth and development later in life. Providing nutritious and balanced complementary foods plays a crucial role in addressing growth and developmental issues in children. Purpose: To analyze the relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The study was conducted from June to August 2025, with a sample size of 63 toddlers aged 6-12 months using total sampling. Data collection using the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey questionnaire and interviews as well as measuring body weight (baby scale) and body length (infantometer). Data analysis used the chi-square test and Fisher's exact test. Results: Fisher's exact test yielded p = 0.001 (p > 0.05). This study found a significant relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers aged 6-24 months. Conclusion: There is a significant relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference, but may need to add other methods or variables not included in this study.   Keywords: Complementary Foods for Breast Milk; Toddler; Wasting.   Pendahuluan: Wasting pada balita jika tidak mendapatkan penanganan secara serius dapat berakibat buruk bagi kesehatan anak, baik pertumbuhan maupun perkembangan di masa selanjutnya. Pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang berperan penting dalam mengatasi masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan jumlah sampel 63 balita usia 6-12 bulan menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner SSGI 2024 dan wawancara serta melakukan pengukuran berat badan (baby scale) dan panjang badan (infantometer). Metode analisis data menggunakan uji statistik chi square dan Fisher’s exact test. Hasil: Fisher’s exact test ini didapatkan hasil p = 0.001 (p > 0.05), temuan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita usia 6-24 bulan Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini. Kata Kunci: Balita; Makanan Pendamping ASI (MP-ASI); Wasting.
Terapi musik efektif menurunkan kecemasan pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena Budianto, Apri; Agung, Rizki Nugraha; Siswandi, Iyar; Sofiani, Yani; Andini, Sandra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2417

Abstract

Background: Anxiety in patients with chronic kidney disease (CKD) is not only a psychological problem but also a serious clinical threat because it triggers hemodynamic instability. When patients experience intense anxiety before an invasive procedure such as double-lumen catheter (DLU) placement, the sympathetic nervous system is activated, increasing blood catecholamine levels, leading to spikes in blood pressure and tachycardia. This condition is particularly risky for CKD patients who already have cardiovascular complications. Several factors can trigger anxiety and depression in hemodialysis patients, including frequent comorbidities, frequent hospitalizations, new experiences with invasive procedures, chronic pain, sleep disturbances, chronic inflammation, increased fatigue, decreased sexual function, uremia, and lack of family support in daily life. Purpose: To determine the effectiveness of music therapy in reducing anxiety in patients with chronic kidney disease undergoing venous access placement. Method: This study used an evidence-based nursing practice (EBNP) approach with a quasi-experimental pre-post-test design, conducted on 14 participants selected through purposive sampling based on inclusion criteria. Music therapy was administered during the venous access/CDL surgical procedure for 30 minutes. Anxiety was measured using the HARS and VAS questionnaires. Data were analyzed using univariate and bivariate tests, including paired t-tests and Wilcoxon tests. Results: The prevalence of anxiety decreased from 60% to 40%, with HARS and VAS measurements decreasing from 48% to 43% after the intervention. The paired t-test and Wilcoxon test showed p-values ​​of 0.01 and 0.00, respectively. Conclusion: Music therapy can reduce anxiety in hemodialysis participants. Applied systematically and supported by scientific evidence, music therapy has a positive effect on anxiety in patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing venous access. Suggestion: Further exploration of the physiological and psychological mechanisms of music therapy is needed, as well as consideration of other factors, such as pain, sleep quality, depression levels, and medication adherence, which may influence anxiety levels in hemodialysis patients undergoing first-time venous access.   Keywords: Anxiety; Chronic Kidney Disease Patients; Music Therapy; Venous Access Insertion.   Pendahuluan: Kecemasan pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) bukan sekadar masalah psikologis, melainkan ancaman klinis yang serius karena memicu instabilitas hemodinamik. Saat pasien mengalami kecemasan hebat menjelang tindakan invasif seperti pemasangan catheter dual lumen (CDL), sistem saraf simpatis akan teraktivasi, meningkatkan kadar katekolamin dalam darah yang berujung pada lonjakan tekanan darah dan takikardia. Kondisi ini sangat berisiko bagi pasien PGK yang sudah memiliki komplikasi kardiovaskular. Beberapa faktor yang bisa memicu kecemasan dan depresi pada pasien hemodialisis, antara lain penyakit penyerta yang sering timbul, seringnya dirawat di rumah sakit, pengalaman baru terhadap tindakan invasif, nyeri kronik, gangguan tidur, peradangan kronik, peningkatan kelelahan, penurunan fungsi seksual, uremia, dan kegagalan dukungan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan: Untuk menerapkan terapi musik efektif menurunkan kecemasan pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan evidence-based nursing practice (EBNP) dengan desain quasi-experiment pre-posttest, dilakukan pada 14 partisipan terpilih berdasarkan purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Terapi musik diberikan selama proses operasi pemasangan akses vena/CDL selama 30 menit, kecemasan diukur menggunakan kuesioner HARS dan VAS. Data dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat dengan uji paired t-test dan uji Wilcoxon. Hasil: Prevelansi tingkat kecemasan 60% menurun menjadi 40% dengan pengukuran HARS dan VAS 48% menurun menjadi 43% setelah intervensi. Uji paired t-test dan Uji wilcoxon menunjukkan nilai p=0.01 dan p=0.00. Simpulan: Terapi musik dapat menurunkan kecemasan pada partisapan hemodialisis, diaplikasikan secara sistematis dan didukung oleh bukti ilmiah untuk menurunkan kecemasan terapi musik memiliki efek positif terhadap kecemasan pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena. Saran: Perlu mengeksplorasi lebih jauh mekanisme fisiologis maupun psikologis dari penerapan terapi musik, serta mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti nyeri, kualitas tidur, tingkat depresi, dan kepatuhan terhadap pengobatan yang mungkin berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialis yang akan menjalani pemasangan akses vena pertama kali.   Kata Kunci: Kecemasan; Pasien Penyakit Ginjal Kronis; Pemasangan Akses Vena; Terapi Musik.
Implementasi video interaktif “susi” (suami siaga) dalam meningkatkan kesiapan suami sebagai birth companion Hasriani, Hasriani; Sampara, Nurqalbi; Asniar, Asniar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2676

Abstract

Background: Anxiety is a common psychological response experienced by pregnant women approaching childbirth. This condition requires optimal social support, especially from the husband as the primary companion during pregnancy and labor. Husbandly support reflects attention, concern, and responsibility for the wife's health and well-being. Purpose: To analyze the implementation of the “susi” interactive (standby husband) video in improving husbands' readiness as birth companions. Method: A quasi-experimental study using a one-group pretest–posttest design. A sample of 30 participants, husbands of pregnant women in their third trimester, was selected using a purposive sampling technique. The intervention consisted of a screening of the “susi interactive video (standby husband). Data were analyzed using SPSS 25 with the McNemar test. Results: The study showed a significant difference between husbands' readiness before and after the video intervention (p-value 0.000 = <0.05). Conclusion: The family-based “susi” interactive video effectively improves husbands' knowledge and readiness to accompany childbirth. This intervention strengthens the husband's understanding of his role, emotional-physical support, and involvement in decision-making, potentially supporting the mother's psychological well-being and ensuring a smooth delivery.   Keywords: Childbirth Assistance; Family Support; Husband Readiness; Standby Husband.   Pendahuluan: Kecemasan merupakan salah satu respons psikologis yang umum dialami ibu hamil menjelang persalinan. Kondisi ini memerlukan dukungan sosial yang optimal, khususnya dari suami sebagai pendamping utama selama kehamilan dan proses persalinan. Dukungan suami mencerminkan bentuk perhatian, kepedulian, serta tanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan istri. Tujuan: Untuk menganalisis implementasi video interaktif “susi” (suami siaga) dalam meningkatkan kesiapan suami sebagai birth companion. Metode: Quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Sampel berjumlah 30 partisipan yang merupakan suami dari ibu hamil trimester III, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi yang diberikan berupa pemutaran video interaktif suami siaga. Analisis data menggunakan SPSS 25 dengan uji Mc. Nemar. Hasil: Menunjukkan perbedaan signifikan antara kesiapan suami sebelum diberikan intervensi video dan setelah diberikan intervensi (p value 0.000 = <0.05). Simpulan: Video interaktif suami siaga berbasis keluarga efektif meningkatkan pengetahuan dan kesiapan suami dalam mendampingi persalinan. Intervensi ini memperkuat pemahaman peran suami, dukungan emosional-fisik, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan, sehingga berpotensi mendukung kondisi psikologis ibu dan kelancaran persalinan.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Kesiapan Suami; Pendampingan Persalinan; Suami Siaga.
Terapi kombinasi pijat minyak zaitun dan akupresur Li 11 pada pruritus dan kualitas tidur diantara pasien hemodialisis Khaier, Nurhayati; Natashia, Dhea; Gayatri, Dewi; Jumaiyah, Wati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2682

Abstract

Backgrund: Chronic kidney disease (CKD) resulting in hemodialysis is a major health problem that is often overlooked and burdens the economies of countries worldwide. This is due to the high prevalence and mortality rates across all age groups year after year. Complementary therapies are independent nursing interventions that can be implemented independently by nurses as patient caregivers. Complementary therapies, including massage and acupressure, have shown potential in reducing pruritus and improving sleep quality in hemodialysis patients. Purpose: To identify the effect of a combination of olive oil massage and Li11 acupressure on pruritus and sleep quality in hemodialysis patients. Method: This quasi-experimental study used a pretest-posttest approach with a control group. This study was conducted at the Dr. Esnawan Antariksa Air Force Hospital, with the study period running from December 2024 to January 2025. The independent variable was the combined intervention of olive oil massage and Li11 acupressure, while the dependent variables were pruritus and sleep quality. The sample in this study consisted of 28 participants divided into two groups. Data analysis was performed using IBM SPSS version 20, using paired t-tests and independent t-tests. Results: There was a difference in the mean VAS-p score between the intervention and control groups (p-value <0.001). This indicates that the combination therapy of olive oil massage and acupressure at the Li 11 point can reduce pruritus in HD patients. However, there was no correlation between the combination therapy and improvements in skin moisture (p-value = 0.123) and sleep quality (p-value = 0.068). Conclusion: The olive oil massage and acupressure intervention at the Li 11 point can be included in the nursing care for patients undergoing continuous hemodialysis. Suggestion: Further training is needed to correctly perform the massage according to established protocols, involving companions or family members who will continue care with the patient.   Keywords: Complementary Therapy; Itching; Li 11 Acupressure; Olive Oil Massage; Sleep Quality.   Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis (CKD) yang mengakibatkan hemodialisis merupakan masalah kesehatan utama yang sering diabaikan dan menjadi beban bagi perekonomian negara-negara di seluruh dunia. Hal ini disebabkan tingginya prevalensi dan mortalitas pada semua kelompok umur dari tahun ke tahun. Terapi komplementer adalah intervensi asuhan keperawatan independen yang dapat dilakukan secara mandiri oleh perawat sebagai perawat pasien. Terapi komplementer, termasuk pijat dan akupresur, telah menunjukkan potensi dalam mengurangi pruritus dan meningkatkan kualitas tidur pada pasien hemodialisis. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh terapi kombinasi pijat minyak zaitun dan akupresur Li 11 pada pruritus dan kualitas tidur diantara pasien hemodialisis. Metode: Penelitian eksperimen semu dengan pendekatan pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan di RSAU dr. Esnawan Antariksa, dengan waktu pelaksanaan penelitian sejak Desember 2024 hingga Januari 2025. Variabel independen adalah intervensi terapi kombinasi pijat minyak zaitun dan akupresur Li11, sedangkan variabel dependennya adalah pruritus dan kualitas tidur. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 28 partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS versi 20, dengan uji-t berpasangan (paired t-test) dan uji-t independen. Hasil: Terdapat perbedaan rata-rata skor VAS-p antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai p <0.001). Hal ini menunjukkan terapi kombinasi pijat minyak zaitun dan akupresur pada Li 11 dapat mengurangi pruritus pada pasien HD. Namun, tidak ada korelasi terapi kombinasi dalam peningkatan kelembapan kulit (p-value = 0.123) dan kualitas tidur (p-value = 0.068). Simpulan: Intervensi pijat minyak zaitun dan akupresur Li 11 dapat dimasukkan dalam serangkaian asuhan keperawatan bagi pasien yang menjalani hemodialisis secara berkelanjutan. Saran: Pelatihan selanjutnya diperlukan untuk melakukan pemijatan dengan benar sesuai dengan langkah protokol yang telah ditetapkan dengan melibatkan pendamping atau anggota keluarga yang akan melanjutkan perawatan dengan pasien.   Kata Kunci: Akupresur Li 11; Kualitas Tidur; Pijat Minyak Zaitun; Pruritus; Terapi Komplementer.
Kelayakan desain dan daya tarik media poster promosi cek kesehatan gratis pada pengemudi becak Brilianti, Alya Anugrahayu; Suswardany, Dwi Linna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2686

Abstract

Background: Low participation in the free health checkup (CKG) program among pedicab drivers is a significant public health challenge. Preliminary data indicates a gap: 60% of drivers are aware of the program, but only 20% participate. This gap is caused by limited access to schedule information and low digital literacy. Health promotion through appropriate visual media is crucial to bridge this information barrier. Purpose: Develop and evaluate the design feasibility and appeal of posters promoting free health checkups for pedicab drivers. Method: Research and development (R&D) used a formative evaluation approach to produce effective promotional media. Data were collected from 30 pedicab drivers in the Surakarta City Hall area through a survey of driving and inhibiting factors (n=15) and a media evaluation questionnaire (n=30). The evaluation covered aspects of visual appeal, message clarity, and persuasiveness using a 4-point Likert scale. Results: Scores were very high across all categories, with an average above 3.70, including visual appeal (3.73), message clarity (3.83), and persuasiveness (3.73). The majority of respondents (46.7%) rated the image as the most appealing element. Integrating simple visual media with community-based distribution channels through base coordinators was the most effective strategy. Conclusion: The developed poster proved highly appropriate and engaging for elderly pedicab drivers. Conventional, non-digital visual media remains the most effective instrument for increasing health awareness and participation among populations with limited access to technology.   Keywords: Elderly; Free Health Checkup; Pedicab Drivers; Poster.   Pendahuluan: Rendahnya partisipasi dalam program cek kesehatan gratis (CKG) di kalangan pengemudi becak merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan. Data awal menunjukkan adanya kesenjangan, sebanyak 60% pengemudi mengetahui program tersebut, namun hanya 20% yang berpartisipasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya akses informasi jadwal dan rendahnya literasi digital. Promosi kesehatan melalui media visual yang tepat sangat krusial untuk menjembatani hambatan informasi tersebut. Tujuan: Untuk mengembangkan dan mengevaluasi kelayakan desain dan daya tarik media poster promosi cek kesehatan gratis pada pengemudi becak. Metode: Research and development (R&D) dengan pendekatan evaluasi formatif untuk menghasilkan media promosi yang efektif. Data dikumpulkan dari 30 pengemudi becak di wilayah Balai Kota Surakarta melalui survei faktor pendorong dan penghambat dengan (n=15) dan kuesioner evaluasi media (n=30). Evaluasi mencakup aspek daya tarik visual, kejelasan pesan, dan daya persuasif menggunakan skala Likert 4 poin. Hasil: Skor yang sangat tinggi pada seluruh kategori dengan rata-rata di atas 3.70, meliputi daya tarik visual (3.73), kejelasan pesan (3.83), dan daya persuasif (3.73). Mayoritas responden (46.7%) menilai gambar sebagai elemen yang paling menarik. Integrasi media visual sederhana dengan jalur distribusi berbasis komunitas melalui koordinator pangkalan menjadi strategi yang paling efektif. Simpulan: Poster yang dikembangkan dinyatakan sangat layak dan menarik bagi pengemudi becak lansia. Media visual konvensional non-digital terbukti tetap menjadi instrumen paling efektif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi kesehatan pada populasi dengan akses teknologi terbatas.   Kata Kunci: Cek Kesehatan Gratis; Lansia; Pengemudi Becak; Poster.
Desain dan penerimaan pengguna portal posyandu “juara” Surakarta berbasis google site Choironnisa, Pumaya Vintarnauri Tria; Suswardany, Dwi Linna; Utami, Riyani Wahyu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2687

Abstract

Background: Integrated health service post recording and reporting is a crucial step in improving the efficiency and quality of public health services. Purpose: To analyze the design and user acceptance of the Surakarta “juara” integrated health service portal based on google site. Method: Research and Development with user acceptance evaluation using an online questionnaire with a Likert scale of 1–4. Results: The mean scores for perceived usefulness (3.53), perceived ease of use (3.32), and behavioral intention to use (3.43) were above the midpoint of the scale, indicating positive user acceptance. The majority of respondents found the portal useful in the reporting process and did not report major technical challenges, although a small number of respondents reported issues related to digital literacy, interface design, and the need for feature development. Conclusion: This study indicates that the portal is perceived as useful and relatively easy to use, and has potential for continued use. However, further development and user support are needed for more inclusive and optimal use. Suggestion: Further research is recommended to test the relationship between technology acceptance variables using the TAM or UTAUT model inferentially, as well as adding objective performance indicators, such as login frequency, completeness and timeliness of reporting, input completion time, and error rate.   Keywords: Digital Health System; Google Sites-Based; Integrated Health Service Post Portal; User Acceptance.   Pendahuluan: Digitalisasi pencatatan dan pelaporan posyandu merupakan upaya penting dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Tujuan: Untuk menganalisis desain dan penerimaan pengguna portal posyandu “juara” Surakarta berbasis google site. Metode: Research and Development dengan evaluasi penerimaan pengguna melalui kuesioner daring menggunakan skala Likert 1–4. Hasil: Nilai rata-rata perceived usefulness (3.53), perceived ease of use (3.32), dan behavioral intention to use (3.43) berada di atas titik tengah skala, yang mengindikasikan penerimaan pengguna yang positif. Mayoritas responden menilai portal membantu proses pelaporan dan tidak melaporkan kendala teknis utama, meskipun sebagian kecil responden menyampaikan adanya isu terkait literasi digital, desain antarmuka, dan kebutuhan pengembangan fitur. Simpulan: Penelitian menunjukkan bahwa portal dipersepsikan bermanfaat dan relatif mudah digunakan, serta memiliki potensi untuk digunakan secara berkelanjutan, dengan tetap memerlukan pengembangan lanjutan dan dukungan pengguna agar pemanfaatannya lebih inklusif dan optimal. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji hubungan antarvariabel penerimaan teknologi menggunakan model TAM atau UTAUT secara inferensial, serta menambahkan indikator kinerja objektif, seperti frekuensi login, kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan, waktu penyelesaian input, dan tingkat kesalahan (error rate).   Kata Kunci: Berbasis Google Site; Penerimaan Pengguna; Portal Posyandu; Sistem Kesehatan Digital.  

Page 4 of 4 | Total Record : 40