cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Hubungan risiko postur tubuh dan status merokok dengan keluhan muskuloskeletal pada nelayan Manik, Mawar Medika; Kandou, Grace Debbie; Kawatu, Paul Arthur Tennov
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.838

Abstract

Background: Musculoskeletal complaints are commonly experienced by workers due to improper body posture or poor body mechanics. These complaints manifest as pain, stiffness, and decreased body function due to prolonged physical strain. Fishermen are among the occupational groups at high risk of developing musculoskeletal disorders due to the nature of their work. Additionally, smoking habits are frequently observed among fishermen, which may influence their health conditions. Purpose: To analyze the relationship between the risk of work posture and smoking status with musculoskeletal complaints in fishermen. Method: Quantitative analytical approach with cross-sectional design. Data collection using Nordic Body Map (NBM) to assess musculoskeletal complaints and Rapid Whole Body Assessment (REBA) to measure body posture in a sample of 100 respondents. Univariate analysis was performed to describe the characteristics of each variable, while bivariate analysis was performed using Spearman's rho correlation test. Results: Showed that 59 respondents (59%) reported musculoskeletal complaints as slightly painful, while 41 respondents (41%) experienced severe complaints (pain). The assessment of body posture risk showed that 59 respondents (59%) were in the very high risk category, 29 respondents (29%) were in the high risk category, and 12 respondents (12%) were in the moderate risk category. Based on smoking status, 35 respondents (35%) were moderate smokers, 31 respondents (31.%) were light smokers, and 19 respondents (19.%) were heavy smokers. A significant relationship was found between the risk of work posture and musculoskeletal complaints (p = 0.001). However, no significant relationship was found between smoking status and musculoskeletal complaints (p = 0.478). Conclusion: The risk of work posture has a significant relationship with musculoskeletal complaints in fishermen. However, smoking status did not show a significant relationship with musculoskeletal complaints in this population.     Keywords: Body Posture; Fishermen; Musculoskeletal Complaints; Smoking Status; Work Activities.   Pendahuluan: Keluhan muskuloskeletal umum dialami oleh pekerja akibat postur tubuh yang tidak tepat atau mekanika tubuh yang buruk. Keluhan ini ditandai dengan nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi tubuh akibat tekanan fisik yang berkepanjangan. Nelayan termasuk dalam kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi mengalami keluhan muskuloskeletal karena sifat pekerjaannya. Selain itu, kebiasaan merokok sering ditemukan di kalangan nelayan juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan mereka. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara risiko postur kerja dan status merokok dengan keluhan muskuloskeletal pada nelayan. Metode: Pendekatan analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan nordic body map (NBM) untuk menilai keluhan muskuloskeletal dan rapid entire body assessment (REBA) untuk mengevaluasi postur tubuh pada  sampel sebanyak 100 responden. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel, sementara analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil: Menunjukkan bahwa 59 responden (59%) melaporkan keluhan muskuloskeletal agak sakit, sementara 41 responden (41%) mengalami keluhan berat (sakit). Penilaian risiko postur menunjukkan bahwa 59 responden (59%) masuk dalam kategori risiko sangat tinggi, 29 responden (29%) dalam kategori risiko tinggi, dan 12 responden (12%) dalam kategori risiko sedang. Berdasarkan status merokok, 35 responden (35%) merupakan perokok sedang, 31 responden (31.%) perokok ringan, dan 19 responden (19.%) perokok berat. Ditemukan hubungan yang signifikan antara risiko postur dan keluhan muskuloskeletal (p = 0.001). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara status merokok dan keluhan muskuloskeletal (p = 0.478). Simpulan: Risiko postur kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan muskuloskeletal pada nelayan. Namun, status merokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan keluhan muskuloskeletal pada populasi ini.   Kata Kunci: Aktivitas Kerja; Keluhan Muskuloskeletal; Nelayan; Postur Tubuh; Status Merokok.
Efektifitas mindfullness dalam menurunkan burnout perawat pelaksana: A systematic review Uminah, Uminah; Handiyani, Hanny; Pujasari, Hening; Kuntarti, Kuntarti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.839

Abstract

Background: Nurse burnout can reduce performance and quality of service. Nurses who experience burnout syndrome will lose motivation for work due to prolonged responses to emotional, physical, and mental exhaustion. Purpose: To analyze the effectiveness of mindfulness in reducing burnout in implementing nurses. Method: Systematic review using protocols and rules in accordance with the Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA), using databases from Scopus, Proquest, Pubmed, SAGE, and Science Direct in 2019-2024, found 220 articles and 8 selected articles. Results: Mindfulness training reduces fatigue levels, produces lower scores for emotional exhaustion and depersonalization, and is higher for personal achievement. Conclusion: Mindfulness in implementing nurses is an effective effort to choose what nurses will think and maintain the attention needed to maintain awareness of current experiences or in providing nursing care, thereby helping implementing nurses reduce stress due to burnout in the long term. Suggestions: This review has the potential to be biased due to the lack of studies and high heterogeneity. Practical mindfulness techniques for nurses still need further research and should be guided by professionals to be effective.   Keywords: Burnout Syndrome; Mindfulness; Implementing Nurses.   Pendahuluan: Burnout perawat dapat menurunkan kinerja dan mutu layanan. Perawat yang mengalami sindrom burnout akan kehilangan motivasi terhadap pekerjaan karena respon yang berkepanjangan terhadap kelelahan emosional, fisik, dan mental. Tujuan: Untuk menganalisis efektifitas mindfullness dalam menurunkan burnout perawat pelaksana. Metode: Sistematik review menggunakan protokol dan kaidah yang sesuai dengan Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA). Pencarian literatur berasal dari database, Scopus, Proquest, Pubmed, SAGE, dan Sciencedirect tahun 2019-2024, ditemukan 227 artikel dan sebanyak 8 artikel terpilih. Hasil: Pelatihan mindfulness mengurangi tingkat kelelahan, menghasilkan skor yang lebih rendah untuk kelelahan emosional dan depersonalisasi, serta lebih tinggi untuk pencapaian pribadi. Simpulan: Mindfulness pada perawat pelaksana merupakan upaya yang efektif untuk memilih apa yang akan perawat pikirkan dan mempertahankan atensi yang dibutuhkan untuk menjaga kesadaran terhadap pengalaman saat ini atau dalam melakukan asuhan keperawatan, sehingga membantu perawat pelaksana menurunkan stress akibat burnout dalam jangka waktu yang lama. Saran: Tinjauan ini berpotensi bias karena minimnya studi dan tingginya heterogenitas. Teknik mindfulness yang praktis bagi perawat masih perlu diteliti lebih lanjut dan sebaiknya dipandu profesional agar efektif.   Kata kunci: Burnout Syndrome; Mindfulness; Perawat Pelaksana.
Pengaruh interaksi virtual sebagai terapi untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan hemodinamik pasien ICU Astuty, Yeni; Sofiani, Yani; Agung, Rizki Nugraha; Rayasari, Fitrian; Kurniasih, Dian Noviati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.840

Abstract

Background: Anxiety is a common problem among patients in the Intensive Care Unit (ICU) and can result in hemodynamic instability. One innovative solution to reduce anxiety is to use video calls as a substitute for limited in-person family visits. Purpose: To determine the effect of virtual interaction as therapy in reducing anxiety and improving hemodynamics in ICU patients. Method: Quasi-experimental research with pre-test and post-test on one intervention group, conducted in the ICU of An-nisa Hospital Tangerang in October-December 2024. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 60 participants. The independent variable in this study is virtual interaction via video call, while the dependent variable is the level of anxiety of ICU patients. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Wilcoxon Signed Rank test. Results: Video call therapy was effective in significantly reducing the anxiety level of ICU patients (pretest score 17.07±0.583 to 12.43±0.898; p=0.000). Video calls had a significant impact on hemodynamic parameters, namely a decrease in systolic pressure (166.00±7.376 to 1125.70±7.728), diastolic (111.80±9.876 to 89.33±8.821), heart rate (113. 00±9.927 to 78.533±6.981), and respiration rate (22.766±1.165 to 16.766±1.381) with p=0.000. This intervention is effective to reduce anxiety and improve hemodynamic stability. Conclusion: The video call intervention was effective in reducing anxiety levels and improving hemodynamic parameters.   Keywords: Anxiety; Hemodynamics; Intensive Care Unit (ICU); Therapy; Virtual Interaction.   Pendahuluan: Kecemasan merupakan masalah umum yang dihadapi oleh pasien di Intensive Care Unit (ICU) dan dapat berdampak pada ketidakstabilan hemodinamik. Salah satu solusi inovatif untuk mengurangi kecemasan adalah dengan menggunakan video call sebagai pengganti kunjungan langsung keluarga yang terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh interaksi virtual sebagai terapi untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan hemodinamik pasien ICU. Metode: Penelitian kuasi-eksperimental dengan desain pre-test dan post-test pada satu kelompok intervensi, dilaksanakan di ICU Rumah Sakit An-nisa Tangerang, pada bulan Oktober-Desember 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah interaksi virtual melalui video call, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan pasien ICU. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil: Terapi video call efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien ICU secara signifikan (skor pretest 17.07±0.583 menjadi 12.43±0.898 ketika posttest; p=0.000). Video call memberikan dampak signifikan terhadap parameter hemodinamik, yaitu penurunan tekanan sistolik (166.00±7.376 menjadi 1125.70±7.728), diastolik (111.80±9.876 menjadi 89.33±8.821), denyut jantung (113.00±9.927 menjadi 78.533±6.981), dan laju respirasi (22.766±1.165 menjadi 16.766±1.381) dengan nilai p=0.000. Intervensi ini efektif untuk menurunkan kecemasan dan memperbaiki stabilitas hemodinamik pasien. Simpulan: Intervensi video call terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan dan memperbaiki parameter hemodinamik pasien.   Kata Kunci: Hemodinamik; Intensive Care Unit (ICU); Interaksi Virtual; Kecemasan; Terapi.
Sistem pengelolaan asuhan keperawatan di poliklinik rawat jalan Simatupang, Yesi Juniarta; Hariyati, Roro Tutik Sri; Wildani, Andi Amalia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.841

Abstract

Background: Nursing care management in outpatient units is an important aspect in improving the quality of hospital services. Nursing care is a critical thinking model that is patient-centered and based on a systematic approach starting from assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. However, in Indonesia the achievement of nursing care implementation is still not optimal, which is 56.8%. Purpose: To describe the implementation of the nursing care system in outpatient polyclinics. Method: The pilot project carried out included problem identification, problem analysis, determining problem priorities, preparing a Plan of Action (POA), implementation, and evaluation, which was carried out at X hospital Jakarta on September 2-October 2, 2024. Data collection was carried out through interviews, observations, and surveys, then the data was analyzed using strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT) analysis. Results: Evaluation showed that 60% of nursing care documentation met quality standards with a 5% increase in knowledge after implementation. Conclusion: Continuous audit improvement and training development are needed to support the implementation of changes. This continuous evaluation is needed to ensure that quality improvements can be maintained and continue to develop. Suggestion: Concrete steps needed are to conduct monthly evaluations of documentation implementation to ensure nursing care is carried out according to standards.   Keywords: Audit; Change; Nursing Care; Outpatient.                 Pendahuluan: Pengelolaan asuhan keperawatan di unit rawat jalan merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Asuhan keperawatan adalah model berpikir kritis yang berpusat pada pasien dan didasarkan pada pendekatan sistematis mulai dari pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Namun, di Indonesia pencapaian pelaksanaan asuhan keperawatan masih belum optimal, yaitu sebesar 56.8%. Tujuan: Untuk mendeskripsikan implementasi sistem pengelolaan asuhan keperawatan di poliklinik rawat jalan. Metode: Pilot project terdiri dari identifikasi masalah, analisis masalah, penetapan prioritas masalah, penyusunan Plan of Action (POA), implementasi, dan evaluasi, dilaksanakan di RS X di Jakarta pada tanggal 2 September- 2 Oktober 2024. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan survey, kemudian data dianalisis dengan menggunakan analisis strengths, weaknesses, opportunities, dan threats (SWOT). Hasil: Evaluasi menunjukkan bahwa 60% dokumentasi asuhan keperawatan telah memenuhi standar kualitas dengan peningkatan pengetahuan sebesar 5% setelah implementasi. Simpulan: Audit berkelanjutan dan pengembangan pelatihan perlu ditingkatkan untuk mendukung implementasi perubahan. Evaluasi berkesinambungan ini diperlukan untuk memastikan peningkatan kualitas dapat dipertahankan dan terus berkembang. Saran: Langkah konkret yang diperlukan termasuk evaluasi bulanan terhadap implementasi pendokumentasian untuk memastikan asuhan keperawatan dilakukan sesuai standar.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Audit; Perubahan; Rawat Jalan.
Kecemasan akademik mahasiswa dalam menghadapi ujian praktik laboratorium Abdillah, Hadi; Rahayuwati, Laili; Yosep, Iyus
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.842

Abstract

Background: Academic anxiety is a common problem faced by students, especially in facing laboratory practical exams. This anxiety can affect students' performance in exams and potentially interfere with their academic results. Purpose: To describe the level of students' academic anxiety in laboratory practical exams. Method: Quantitative descriptive design and purposive sampling technique. The sample of this study consisted of 68 nursing students who faced a laboratory practical exam. Data collection was carried out using the second edition of the Cognitive Test Anxiety Scale (CTAS) questionnaire consisting of 24 statements regarding academic anxiety. Data analysis was carried out descriptively by calculating the frequency, percentage, and average score. Results: Most students had a moderate level of academic anxiety with an average score of 56.72. Further analysis revealed that this anxiety was more often experienced by students who entered college of their own accord. This academic anxiety was proven to affect student performance in the practical exam considering that the exam requires proper practical skills. Conclusion: Most respondents showed a moderate level of anxiety with an average score of 56.72, indicating that academic anxiety is a significant problem faced by students in higher education, especially in the nursing field. Suggestion: Further research can broaden its focus by exploring differences in academic anxiety levels in students from various majors or disciplines, as well as examining more specific factors that influence anxiety in practical exams.   Keywords: Academic Anxiety; Practical Exams; Students.   Pendahuluan: Kecemasan akademik adalah masalah yang sering dihadapi oleh mahasiswa, khususnya dalam menghadapi ujian praktik laboratorium. Kecemasan ini dapat memengaruhi kinerja mahasiswa dalam ujian dan berpotensi mengganggu hasil akademik mereka. Tujuan: Untuk menggambarkan tingkat kecemasan akademik mahasiswa dalam ujian praktik laboratorium. Metode: Desain deskriptif kuantitatif dan teknik sampling purposive. Sampel penelitian ini terdiri dari 68 mahasiswa keperawatan yang sedang menghadapi ujian praktik laboratorium. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Cognitive Test Anxiety Scale (CTAS) edisi kedua, terdiri dari 24 pernyataan mengenai kecemasan akademik. Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung frekuensi, persentase, dan skor rata-rata. Hasil: Sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kecemasan akademik yang sedang dengan skor rata-rata 56.72. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa kecemasan ini lebih sering dialami oleh mahasiswa yang masuk kuliah atas kemauan sendiri. Kecemasan akademik ini terbukti berpengaruh terhadap performa mahasiswa dalam ujian praktik, mengingat ujian tersebut memerlukan keterampilan praktis yang presisi. Simpulan: Sebagian besar responden menunjukkan tingkat kecemasan yang sedang dengan skor rata-rata 56.72, mengindikasikan bahwa kecemasan akademik merupakan masalah signifikan yang dihadapi mahasiswa dalam pendidikan tinggi, terutama di bidang keperawatan. Saran: Penelitian selanjutnya dapat memperluas fokusnya dengan mengeksplorasi perbedaan tingkat kecemasan akademik pada mahasiswa dari berbagai jurusan atau disiplin ilmu, serta mengkaji faktor-faktor yang lebih spesifik yang memengaruhi kecemasan pada ujian praktik.   Kata Kunci: Kecemasan Akademik; Mahasiswa; Ujian Praktik.
Pengaruh terapi okupasi hidroponik terhadap tingkat harga diri penerima manfaat di unit rehabilitasi sosial eks psikotik Romadhan, Robi; Estria, Suci Ratna; Etlidawati, Etlidawati; Prasetya, Rikhan Luhur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.843

Abstract

Background: Mental health issues encompass a range of challenges, such as schizophrenia disorders that are often associated with decreased self-esteem in individuals. Patients with schizophrenia who have low self-esteem exhibit poor self-perception, feelings of worthlessness, and lack of self-confidence. Occupational therapy, as an effective non-pharmacological intervention, can improve self-esteem through targeted activities. Purpose: To assess the effect of hydroponic occupational therapy intervention on the level of self-esteem of beneficiaries in a social rehabilitation unit for ex-psychotics. Method: Pre-experimental one group pretest-posttest design, conducted on beneficiaries who experience low self-esteem at the Social Rehabilitation Unit for Ex-Psychotics "Martani" Cilacap. The sample was selected by total sampling and the instrument used was the Rosenberg Self-Esteem Scale. The data were tested for normality using Shapiro Wilk, after the normality test was normally distributed, then using the paired sample t-test. Results: The low self-esteem score before the intervention was 28.82 and after the intervention increased to 30.00. The normality test obtained a score before the intervention p-value of 0.105 and after the intervention it became 0.093. This figure shows that the data is normally distributed (> 0.05), meaning that there is an effect of occupational therapy intervention on the level of low self-esteem. Conclusion: Agricultural hydroponic occupational therapy intervention can increase the self-esteem score of patients with mental disorders. Hydroponic occupational therapy can help patients with mental disorders who have low self-esteem.   Keywords: Hydroponics; Low Self-Esteem; Occupational Therapy.   Pendahuluan: Masalah kesehatan mental mencakup berbagai tantangan, seperti gangguan skizofrenia yang sering dikaitkan dengan penurunan harga diri pada individu. Pasien dengan skizofrenia yang memiliki harga diri rendah menunjukkan persepsi diri yang buruk, perasaan tidak berharga, dan kurangnya rasa percaya diri. Terapi okupasi sebagai intervensi non-farmakologis dapat meningkatkan harga diri melalui aktivitas yang terarah. Tujuan: Untuk menilai pengaruh intervensi terapi okupasi hidroponik terhadap tingkat harga diri penerima manfaat di unit rehabilitasi sosial eks psikotik. Metode: Desain pre-experimental one group pretest-posttest, dilakukan kepada penerima manfaat yang mengalami harga diri rendah di Unit Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik “Martani” Cilacap. Sampel dipilih secara total sampling dan instrumen yang digunakan adalah Rosenberg Self-Esteem Scale. Data di uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk, setelah uji normalitas berdistribusi normal, maka menggunakan paired sample t-test. Hasil: Skor harga diri rendah sebelum intervensi adalah 28.82 dan setelah intervensi meningkat menjadi 30.00. Uji normalitas didapatkan skor sebelum intervensi p-value 0.105 dan setelah intervensi menjadi 0.093. Angka tersebut menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (>0.05), artinya terdapat pengaruh intervensi terapi okupasi terhadap tingkat harga diri rendah. Simpulan: Intervensi terapi okupasi hidroponik pertanian dapat meningkatkan skor harga diri pasien gangguan jiwa. Terapi okupasi hidroponik dapat membantu pasien gangguan jiwa yang memiliki harga diri rendah.   Kata Kunci: Harga Diri Rendah; Hidroponik; Terapi Okupasi.
Resiliensi perawat rawat inap, instalasi gawat darurat, dan intensive care unit Wadhanti, Dewa Ayu Puspa; Rahayu, Urip; Yulianita, Henny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.845

Abstract

Background: Nurses are among the most vulnerable professions to stress. Workload and work environment are among the primary causes of stress for nurses in various care units. This not only affects their well-being but also impacts the quality of care provided to patients. Resilience helps nurses adapt, endure, and recover from challenging and high-pressure situations. High resilience can enhance job satisfaction and reduce the negative effects of work-related stress. V    Purpose: To identify the resilience of inpatient, emergency department (ED), and intensive care unit (ICU) nurses in carrying out their daily duties. Method: A descriptive quantitative design with the nursing population at RSUD Umar Wirahadikusumah. The sampling technique used is disproportionate stratified sampling, with a total sample consisting of 38 Emergency Department (ED) nurses, 31 Intensive Care Unit (ICU) nurses, and 144 inpatient ward nurses. The study utilizes the Connor Davidson Resilience Scale (CD RISC-25) in the Indonesian language. Data analysis is conducted using univariate analysis. Results: This study shows that less than half of the nurses working in the inpatient, emergency department (ED), and intensive care unit (ICU) have moderate resilience (43.7%), while 31.5% have low resilience, and only a small percentage (24.9%) demonstrate high resilience. The lowest resilience aspect among inpatient, emergency department (ED), and ICU nurses is the coping aspect. Conclusion: Most nurses in the inpatient unit, emergency department (ED), and ICU have a moderate to low level of resilience, with coping being the lowest resilience aspect.   Keywords: Emergency Department; Intensive Care Unit (ICU); Inpatient Unit; Nurse; Resilience.   Pendahuluan: Perawat merupakan profesi yang paling rentan terhadap stres. Beban kerja dan lingkungan kerja menjadi salah satu penyebab utama stres bagi perawat di berbagai unit perawatan. Hal ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien. Resiliensi membantu perawat untuk beradaptasi, bertahan, serta bangkit dari situasi sulit dan penuh tekanan. Resiliensi yang tinggi dapat meningkatkan kepuasan kerja dan mengurangi berbagai dampak negatif akibat stres kerja. Tujuan: Untuk mengidentifikasi resiliensi perawat rawat inap, instalasi gawat darurat, dan intensive care unit. Metode: Penelitian desain deskriptif kuantitatif dengan populasi perawat di RSUD Umar Wirahadikusumah. Teknik sampling yang dilakukan adalah disproportionate stratified sampling dengan sampel penelitian, yaitu 144 perawat rawat inap, 38 perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan 31 perawat Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini menggunakan instrumen Connor Davidson Resilience Scale (CD RISC-25) berbahasa Indonesia. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kurang dari setengah perawat yang bekerja di rawat inap, IGD, dan ICU secara keseluruhan memiliki resiliensi sedang (43.7%), setengah lainnya memiliki resiliensi rendah (31.5%), dan hanya sebagian kecil memiliki resiliensi tinggi (24.9%). Aspek resiliensi terendah pada perawat rawat inap, IGD, dan ICU adalah aspek koping. Simpulan: Sebagian besar perawat di rawat inap, IGD, dan ICU memiliki tingkat resiliensi yang tergolong sedang hingga rendah dengan aspek resiliensi terendah adalah koping.   Kata Kunci: Instalasi Gawat Darurat; Intensive Care Unit (ICU); Perawat; Rawat Inap; Resiliensi.
Hubungan stres, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur siswa SMA di Gresik dalam menghadapi ujian akhir semester Putri, Herlina Tiara; Widiyawati, Wiwik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.846

Abstract

Background: Sleep quality is a common phenomenon that occurs in society which can be caused by anxiety, depression, stress that is felt. Sleep quality is a person's sleep condition to get fitness when waking up. Purpose: To determine the relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of high school students in Gresik in facing the final semester exams. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach involving students of SMA X and conducted on November 19, 2024. The sample selection used the slovin formula with simple random sampling and obtained 179 students as samples with inclusion criteria including, high school students aged 15-18 years and willing to be respondents. Data collection using two questionnaires, namely DASS 21 (as a tool to measure symptoms of depression, anxiety, and stress) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) as a measure of the level of student sleep disturbance. Results: The majority of respondents experienced moderate sleep disturbances as many as 104 (58.1%) with normal stress levels as many as 171 respondents (95.5%), normal anxiety as many as 108 respondents (60.3%), and normal depression as many as 152 (84.9%). The results of statistical test analysis of each variable showed a p value <0.05, so it can be interpreted that there is a relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of students. Conclusion: There is a significant relationship between stress, anxiety, and depression with the quality of sleep of students facing the final semester exams. Suggestion: To the school to be able to provide sleep hygiene education, attention, and motivation to students to be able to improve their sleep quality properly.   Keywords: Anxiety; Depression; Sleep Quality; Stress.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang dapat disebabkan karena kecemasan, depresi, stres yang dirasakan. Kualitas tidur merupakan kondisi tidur seseorang untuk mendapatkan kebugaran saat seseorang tersebut terbangun dari tidurnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan stres, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur siswa SMA di Gresik dalam menghadapi ujian akhir semester. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan para siswa/siswi SMA X dan dilakukan pada tanggal 19 November 2024. Pemilihan sampel menggunakan rumus slovin dengan simple random sampling dan didapatkan sebesar 179 siswa/siswi sebagai sampel dengan kriteria inklusi meliputi, siswa/siswi SMA berusia 15-18 tahun dan bersedia menjadi responden. Pengambilan data menggunakan dua kuesioner yaitu DASS 21 (sebagai alat mengukur gejala depresi, rasa cemas, dan stres) dan Pittsburgh Sleep Quality Indeks (PSQI) sebagai pengukur tingkat gangguan tidur siswa. Hasil: Mayoritas responden mengalami gangguan tidur sedang sebanyak 104 (58.1%) dengan tingkat stress normal sebanyak 171 responden (95.5%), kecemasan normal sebanyak 108 responden (60.3%), dan depresi normal sebanyak 152 (84.9%). Hasil analisis uji statistik dari masing-masing variabel menunjukkan nilai p <0.05, sehingga dapat diartikan adanya hubungan antara stress,kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur para siswa/siswa. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara stress, kecemasan, dan depresi dengan kualitas tidur para siswa/siswi dalam menghadapi ujian akhir semester. Saran: Kepada pihak sekolah untuk bisa memberikan edukasi sleep hygiene, perhatian, dan motivasi kepada para siswa/siswi untuk bisa meningkatkan kualitas tidur mereka dengan baik.   Kata Kunci: Depresi; Kecemasan; Kualitas Tidur; Stres.
Pengembangan pedoman handover di ruang rawat inap rumah sakit Universitas Indonesia Magdalena, Helen; Handiyani, Hanny; Pujasari, Hening; Hariyati, Roro Tutik Sri; Sari, Erna Puspita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.848

Abstract

Background: The handover process in nursing care is very important because it is directly related to patient safety and continuity of care. A suboptimal handover can increase the risk of medical errors. Purpose: To develop handover guidelines in the inpatient ward of the University of Indonesia Hospital. Method: A case report study on the preparation of handover guidelines was conducted at the University of Indonesia Hospital on September 2 - October 2, 2024. This activity includes assessment, data analysis, action plan (Plan of Action/PoA), implementation, and evaluation. Data collection was carried out through interviews, observations, and questionnaires. The approach used to solve the problem through Kurt Lewin's theory of change. Results: Shows that the implementation of handover is not optimal with variations in methods used, including conferences and handovers at the bedside. The results of the study indicate that the implementation of the handover SOP has not been consistently adhered to by ward nurses and several factors such as time constraints and lack of supervision have a negative effect on the effectiveness of the handover. Conclusion: The implementation of handovers in inpatient rooms has not been optimal due to inconsistencies in the application of SOPs, time constraints, and lack of supervision. The development of handover guidelines with the Kurt Lewin change theory approach is a strategic step to improve the effectiveness and consistency of handovers. Wider dissemination of guidelines and regular monitoring are needed to ensure patient safety and the quality of sustainable nursing care. Suggestion: Handover guidelines need to be updated regularly based on scientific evidence (evidence-based practice) to remain relevant to developments in nursing science. Socialization and implementation activities of handover conferences and handovers at the patient's bedside need to be monitored and evaluated routinely to ensure their effectiveness in improving the quality of patient handovers.   Keywords: Handover; Guidelines; Development; Inpatient; Hospital.   Pendahuluan: Proses serah terima atau handover dalam asuhan keperawatan sangat penting karena secara langsung berhubungan dengan keselamatan pasien dan kontinuitas perawatan. Handover yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko kesalahan medis. Tujuan:  Untuk mengembangkan pedoman handover di ruang rawat inap rumah sakit Universitas Indonesia. Metode: Penelitian case report mengenai pengembangan panduan handover, dilakukan di Rumah Sakit Universitas Indonesia pada 2 September – 2 Oktober 2024. Kegiatan ini meliputi pengkajian, analisis data, rencana tindakan plan of action (PoA), implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pengisian kuesioner. Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah melalui teori perubahan Kurt Lewin. Hasil: Menunjukkan bahwa pelaksanaan handover belum optimal dengan variasi metode yang digunakan, termasuk conference dan bedside handover. Hasil menunjukan bahwa pelaksanaan SPO handover tidak konsisten dipatuhi perawat ruangan dan beberapa faktor, seperti keterbatasan waktu dan kurangnya supervisi berpengaruh negatif terhadap efektivitas handover. Simpulan: Pelaksanaan handover di ruang rawat inap belum berjalan secara optimal akibat ketidakkonsistenan dalam penerapan SPO, keterbatasan waktu, dan kurangnya supervisi. Pengembangan panduan handover dengan pendekatan teori perubahan Kurt Lewin menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas dan konsistensi handover. Sosialisasi panduan yang lebih luas dan monitoring berkala diperlukan untuk menjamin keselamatan pasien dan kualitas asuhan keperawatan yang berkelanjutan. Saran: Panduan handover perlu diperbarui secara berkala berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based practice) agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu keperawatan. Kegiatan sosialisasi dan implementasi handover conference serta bedside handover perlu dimonitoring dan dievaluasi secara rutin untuk memastikan efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas serah terima pasien.   Kata Kunci: Handover; Pedoman; Pengembangan; Rawat Inap; Rumah Sakit.
Hubungan usia, lama kerja, dan postur kerja terhadap kejadian low back pain pada perawat rawat inap Sudiono, Sudiono; Gowi, Abdul; Indrawati, Endah; Rosmaitaliza, Rosmaitaliza; Anisa , Nia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.851

Abstract

Background: Low back pain (LBP) is one of the musculoskeletal disorders, one of the causes is due to non-ergonomic body posture. The prevalence of LBP according to Occupational Health ranges from 60-80% and this complaint is most often experienced by health workers, the incidence rate during a year in Western countries ranges from 36.2–57.9% and Asia ranges from 36.8–69.7%. Purpose: To determine the relationship between age, length of work and work posture with the incidence of low back pain in inpatient nurses. Method: Quantitative design with Cross Sectional approach. The number of samples used was 62 nurses in three inpatient rooms of Karawang Regional General Hospital (RSUD) who met the inclusion and exclusion criteria with total sampling technique. Data collection instruments used questionnaires and Rapid Entire Body Assessment (REBA) sheets with Chi-square statistical analysis. Results: The age of respondents was mostly ≥35 years as many as 41 respondents (66.1%). The length of service of respondents was mostly ≥10 years as many as 37 respondents (59.7%) and the work posture of respondents was mostly moderate risk as many as 32 respondents (51.6%). The results of bivariate analysis using the Chi-square test, on the age variable obtained a p-value of 0.049 <α (0.05), an Odds Ratio value of 3.142, and a Confidence Interval 95% CI of 1.142 - 12.021. The variable of length of work obtained a p-value of 0.022 <α (0.05), an Odds Ratio value of 4.156, and a CI 95% Confidence Interval of 1.349 - 14.801. The variable of work posture obtained a p-value of 0.000 <α (0.05), an Odds Ratio value of 0.091, and a CI 95% Confidence Interval of 0.027 - 0.307. Conclusion: There is a significant relationship between age, length of work, and work posture on the incidence of LBP with a p-value <0.05.   Keywords: Age; Low Back Pain; Nurses; Working Hours; Working Posture.   Pendahuluan: Low back pain (LBP) termasuk gangguan muskuloskeletal, salah satu penyebabnya karena postur tubuh yang tidak ergonomi. Prevalensi LBP menurut Occupational Health sekitar 60-80% dan keluhan ini paling sering dialami oleh tenaga kesehatan, angka insiden selama setahun di negara Barat berkisar 36.2–57.9% dan Asia berkisaran 36.8–69.7%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan usia, lama kerja dan postur kerja terhadap kejadian low back pain pada perawat rawat inap. Metode: Desain kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 62 perawat di tiga ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik total sampling. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner dan lembar Rapid Entire Body Assessment (REBA) dengan analisis statistik Chi-square. Hasil: Usia responden sebagian besar ≥35 tahun sebanyak 41 responden (66.1%). Lama bekerja responden sebagian besar ≥10 tahun sebanyak 37 responden (59.7%) dan postur kerja responden sebagian besar berisiko sedang sebanyak 32 responden (51.6%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, pada variabel usia didapatkan p-value 0.049 < α (0.05), nilai Odds Ratio 3.142, dan CI 95% Confidence Interval 1.142 – 12.021. Variabel lama bekerja memperoleh p-value 0.022 < α (0.05), nilai Odds Ratio 4.156, dan CI 95% Confidence Interval 1.349 – 14.801. Variabel postur kerja memperoleh p-value 0.000 < α (0.05), nilai Odds Ratio 0.091, dan CI 95% Confidence Interval 0.027 – 0.307. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, lama kerja, dan postur kerja terhadap kejadian LBP dengan perolehan p-value <0.05.   Kata Kunci: Lama Kerja; Nyeri Punggung Bawah; Perawat; Postur Kerja; Usia.

Page 11 of 33 | Total Record : 329