cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Analisis faktor yang berhubungan dengan kepesertaan jaminan kesehatan nasional Riana, Riana; Sanyoto, Didik Dwi; Ilmi, Bahrul; Febriana, Silvia Kristanti Tri; Herawati, Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.855

Abstract

Background: National health insurance is a program that is able to increase the achievement of Universal Health Coverage (UHC) and can help create optimal health levels. As for the data on national health insurance participation in Banjar Regency, which is still low, national health insurance participation in the Martapura 1 Health Center working area is still below 50% of the total population. Purpose: To analyze factors related to participation in national health insurance. Method: This study is quantitative with an observational analytical cross-sectional research design. The study was conducted in the Martapura 1 Health Center Working Area. The sampling technique used probability sampling technique with the cluster proportional random sampling method and the number of samples was 110 respondents. Data analysis used univariate, bivariate, and multivariate analysis. Bivariate analysis used the chi-square test and multivariate analysis used multiple logistic regression test. Results: There is no relationship between geographic accessibility and national health insurance participation (p-value = 0.300). However, there is a relationship between perception (p-value = 0.000), family support (p-value = 0.000), income (p-value = 0.047), and information accessibility (p-value = 0.029). The most dominant related variable is the family support variable with an Exp (B) value of 6.891. Conclusion: There is no relationship between geographic accessibility and national health insurance participation. However, there is a relationship between perception, family support, income, and information accessibility and the most dominant relationship is family support with national health insurance participation. Suggestion: The public is expected to be more concerned and think positively about the national health insurance program and actively participate. The Health social security agency needs to strengthen socialization, especially through social media.   Keywords: Family Support; Income; Information Accessibility; National Health Insurance; Perception.   Pendahuluan: Jaminan kesehatan nasional (JKN) adalah program yang mampu meningkatkan pencapaian Universal Health Coverage (UHC) dan dapat membantu menciptakan derajat kesehatan yang optimal. Adapun pada data kepesertaan JKN di Kabupaten Banjar yang masih rendah kepesertaan JKN yaitu di wilayah kerja Puskesmas Martapura 1 masih mencapai dibawah 50% dari total jumlah penduduk. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepesertaan jaminan kesehatan nasional. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik cross sectional. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 1. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster proporsional random sampling dan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil: Tidak terdapat hubungan antara keterjangkauan geografi dengan kepesertaan JKN (p-value=0.300). Namun, ada hubungan antara persepsi (p-value=0.000), dukungan keluarga (p-value=0.000), pendapatan (p-value=0.047), dan aksesibilitas informasi (p-value=0.029). Adapun variabel yang berhubungan paling dominan adalah variabel dukungan keluarga dengan nilai Exp (B)= 6.891. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara keterjangkauan geografi dengan kepesertaan JKN. Namun, ada hubungan antara persepsi, dukungan keluarga, pendapatan, dan aksesibilitas informasi serta hubungan paling dominan pada dukungan keluarga dengan kepesertaan JKN. Saran: Masyarakat diharapkan lebih sadar dan berpikir positif terhadap program JKN serta aktif menjadi peserta. BPJS kesehatan perlu memperkuat sosialisasi, khususnya lewat media sosial.   Kata Kunci: Aksesibilitas Informasi; Dukungan Keluarga; Jaminan Kesehatan Nasional; Pendapatan; Persepsi.
Technostress pada perawat dan instrumen pengukurannya: Tinjauan sistematis Enggriani, Yesica Tria; Handiyani, Hanny; Kuntarti, Kuntarti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.863

Abstract

Background: The use of information technology is increasingly widespread in the health sector, especially for nurses. The intensity of the use of this technology has created a new phenomenon called technostress. The European Risk Observatory categorizes technostress as an increasing occupational health risk caused by the negative psychosocial effects of the use of information technology. These problems are correlated with decreased job satisfaction, productivity, and work-life balance that have the potential to threaten patient safety. Purpose: To analyze the dimensions, measurement instruments, and research results of technostress in nurses. Method: A systematic review was conducted by searching the literature related to technostress in nurses using PubMed, ScienceDirect, EBSCO, Proquest, and Scopus databases. Studies that met the inclusion criteria were assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist for Cross-sectional Studies. Results: A total of seven relevant studies were identified with five high-quality studies and two moderate-quality studies. Five main dimensions of technostress were identified: techno-overload, techno-invasion, techno-complexity, techno-insecurity, and techno-uncertainty. Six measurement instruments were identified with moderate levels of technostress in nurses. Conclusion: Based on the results of the study review, six main instruments were obtained that were used to measure technostress in nurses and five main dimensions of technostress in nurses, including techno-overload, techno-invasion, techno-complexity, techno-insecurity, and techno-uncertainty, as well as moderate levels of technostress to impacts that include emotional exhaustion, work-privacy conflict, burnout, decreased job satisfaction, desire to move, and physical and mental health problems.   Keywords: Measurement Instruments; Nurses; Technostress.   Pendahuluan: Penggunaan teknologi informasi semakin meluas di sektor kesehatan, terutama pada perawat. Intensitas penggunaan teknologi ini telah menciptakan fenomena baru yang disebut technostress. European Risk Observatory mengategorikan technostress sebagai risiko kesehatan kerja yang terus meningkat yang diakibatkan efek psikososial negatif dari penggunaan teknologi informasi. Permasalahan tersebutlah yang berkorelasi dengan penurunan kepuasan kerja, produktivitas, dan keseimbangan kehidupan kerja yang berpotensi mengancam keselamatan pasien. Tujuan: Untuk menganalisis technostress  pada perawat dan instrumen pengukurannya. Metode: Penelitian tinjauan sistematis terkait technostress pada perawat, pencarian literatur berasal dari database antara lain PubMed, ScienceDirect, EBSCO, Proquest, dan Scopus. Studi yang memenuhi kriteria inklusi dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist for Cross-sectional Studies. Hasil: Sebanyak tujuh studi relevan diidentifikasi dengan lima studi berkualitas tinggi dan dua studi berkualitas sedang. Lima dimensi utama technostress teridentifikasi: techno-overload, techno-invasion, techno-complexity, techno-insecurity, dan techno-uncertainty. Enam instrumen pengukuran teridentifikasi dengan tingkat technostress  moderat pada perawat. Simpulan: Berdasarkan hasil tinjauan studi, diperoleh sebanyak enam instrumen utama yang digunakan untuk mengukur technostress pada perawat dan lima dimensi utama technostress pada perawat yang meliputi, techno-overload, techno-invasion, techno-complexity, techno-insecurity, dan techno-uncertainty, serta tingkat technostress  moderat hingga dampak yang meliputi kelelahan emosional, konflik kerja-privasi, burnout, penurunan kepuasan kerja, keinginan berpindah, serta masalah kesehatan fisik dan mental.   Kata Kunci: Instrumen Pengukuran; Perawat; Technostress.
Hubungan self care perawatan kaki dengan pencegahan luka diabetik pada pasien diabetes melitus Agusri, Agusri; Rezeki, Riky; Muhazir, Rahmat; Nadiya, Sarah; Wahyuni, Liza; Andala, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.864

Abstract

Background: Common complications of diabetes mellitus are untreated feet and are prone to wounds that if not treated properly will develop into gangrene. Self care is a description of an individual's behavior that is done consciously, is universal, and is limited to oneself. Purpose: To determine the relationship between self care foot care and prevention of diabetic wounds in patients with diabetes mellitus. Method: This study used an analytical design with a cross-sectional approach, data collection was carried out simultaneously in June 2023 in all working areas of the Lhokseumawe City Health Center. The study population was all patients with type II Diabetes Mellitus recorded at the study location. The sampling technique used a non-probability sampling method through a purposive sampling approach with a set sample size of 244 respondents, calculated using the Open Epi application. Results: Showing that out of 163 respondents who had good foot self-care in preventing diabetic wounds and the majority carried out prevention, 114 respondents (69.9%) were found. Of the 81 respondents who had poor foot self-care in preventing diabetic wounds and the majority carried out prevention, 41 respondents (50.6%) were found with a p value of 0.003 (<0.05) meaning that there is a relationship between foot self-care and prevention of diabetic wounds in patients with diabetes mellitus. Conclusion: There is a relationship between self-care of the foot and prevention of diabetic wounds in patients with diabetes mellitus.   Keywords: Diabetes Mellitus; Foot Care; Prevention of Diabetic Wounds; Self Care.   Pendahuluan: Komplikasi umum dari diabetes melitus adalah masalah kaki yang tidak dirawat dengan baik dan mudah mengalami luka yang jika tidak dirawat dengan benar akan berkembang menjadi gangrene. Self care merupakan gambaran perilaku seseorang individu yang dilakukan dengan sadar, bersifat universal, dan terbatas pada diri sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara self care perawatan kaki dengan pencegahan luka diabetik pasien diabetes melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional, pengumpulan data dilakukan secara bersamaan pada bulan Juni 2023 diseluruh wilayah kerja Puskesmas Kota Lhokseumawe. Populasi penelitian mencakup seluruh penderita Diabetes Melitus tipe II yang tercatat di lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode non probability sampling melalui pendekatan purposive sampling dengan jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 244 responden, dihitung menggunakan aplikasi Open Epi. Hasil: Menunjukan bahwa dari 163 responden yang memiliki self care perawatan kaki baik dalam pencegahan luka diabetik dan mayoritas melakukan pencegahan sebanyak 114 responden (69.9%). Dari 81 memiliki self care perawatan kaki buruk dalam pencegahan luka diabetik dan mayoritas mencegah sebanyak 41 responden (50.6%) dengan p value 0.003 (<0.05), berarti terdapat hubungan antara self care perawatan kaki dengan pencegahan luka diabetik pada pasien diabetes melitus. Simpulan: Terdapat hubungan antara self care perawatan kaki dengan pencegahan luka diabetik pada pasien diabetes melitus.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Pencegahan Luka Diabetik; Perawatan Kaki; Self Care.
Analisis keseimbangan dinamis terhadap kondisi chronic ankle instability pada atlet basket dan futsal sekolah menengah atas Anbiola, Farokha Lamafa Alun; Irawan, Dimas Sondang; Rahim, Anita Faradilla
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.871

Abstract

Background: Chronic Ankle Instability (CAI) is ankle instability following repeat sprain injuries that is common in physical activity. CAI can cause problems with proprioception, movement patterns, balance, muscle weakness, and changes in nerve reflexes. One of the impacts is the disruption of dynamic balance, which is the ability to maintain body stability while movement. Purpose: To determine the effect of dynamic balance on chronic ankle instability conditions with non-chronic ankle instability conditions in high school basketball and futsal athletes. Method: Quantitative research with quasi experimental method, conducted in Malang City, East Java in February 2025. The sampling technique used purposive sampling with the number of samples used as many as 30 partisipants who were divided into intervention and control groups. The independent variable is Chronic Ankle Instability and the dependent variable is dynamic balance. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using mann whitney test. Results: There is a significant difference between the control group and the Chronic Ankle Instability (CAI) group. The average value in the control group was 8.209±9.375, while in the CAI group it was 22.804±1.907. The p-value of 0.000 indicates that the difference between the two groups is highly statistically significant (p<0.05). Conclusion: There is a significant influence between dynamic balance and Chronic Ankle Instability (CAI) conditions in high school basketball and futsal athletes. This effect indicates that athletes with CAI have problems maintaining body stability while in movement.   Keywords: Athlete; Basketball; Chronic Ankle Instability (CAI); Dynamic Balance; Futsal.   Pendahuluan: Chronic Ankle Instability (CAI) adalah ketidakstabilan pergelangan kaki akibat cedera sprain berulang yang umum terjadi pada aktivitas fisik. CAI dapat menyebabkan gangguan propriosepsi, pola gerak, keseimbangan, kelemahan otot, dan perubahan refleks saraf. Salah satu dampaknya adalah terganggunya keseimbangan dinamis, yaitu kemampuan menjaga stabilitas tubuh saat bergerak. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh keseimbangan dinamis terhadap kondisi chronic ankle instability pada atlet basket dan futsal sekolah menengah atas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode quasi experimental, dilaksanakan di Kota Malang Jawa Timur, pada bulan Febuari 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 partisipan yang terbagi menjadi 2 kelompok, intervensi dan kontrol. Variabel independen dalam penelitian ini adalah chronic ankle instability dan variabel dependennya adalah keseimbangan dinamis. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan mann whitney test. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan intervensi. Rata-rata nilai pada kelompok kontrol adalah 8.209±9.375, sedangkan pada kelompok intervensi (CAI) adalah 22.804±1.907. P-value sebesar 0.000, menunjukkan bahwa perbedaan antara kedua kelompok tersebut sangat signifikan secara statistik (p<0.05). Simpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan antara keseimbangan dinamis dan kondisi chronic ankle instability (CAI) pada atlet basket dan futsal. Pengaruh ini menunjukkan bahwa atlet dengan CAI mengalami gangguan dalam menjaga kestabilan tubuh saat bergerak.   Kata Kunci: Atlet; Basket; Chronic Ankle Instability (CAI); Futsal; Keseimbangan Dinamis.
Analisis faktor sosio-demografi, perilaku hygiene ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian diare Fakhriyatiningrum, Fakhriyatiningrum; Muharramah, Disa Hijratul; Razak, Rahmatillah; Lisa, Mona
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.873

Abstract

Background: Diarrhea is an infectious disease that can cause death in the post-neonatal period (age 29 days-11 months) and toddlers (age 12-59 months). Muara Enim Regency is one of the endemic areas for diarrhea with an incidence rate reaching 15.2% in toddlers in 2022. Purpose: To analyze socio-demographic factors, maternal hygiene behaviour, and environmental sanitation on diarrhea incidence. Method: This study used data from the results of the field work practice of the Faculty of Public Health, Sriwijaya University in 2024 in Lembak District, Muara Enim Regency. The study design was cross-sectional with a sample of 403 mothers of toddlers selected by multistage random sampling. Data analysis was carried out using the chi-square test and continued with logistic regression analysis. Results: It was found that 66 toddlers (16.4%) suffered from diarrhea, 67.5% of mothers were aged > 25 years, 51.1% of mothers had low education, 73.2% of mothers did not work, 63.8% had low family income, and 51.1% of mothers had poor hygiene behavior. However, 98.0% of respondents had access to clean water quality, and 95.3% of respondents had adequate toilet facilities. There was a significant relationship between maternal age and maternal hygiene behavior with the incidence of diarrhea. The variables of maternal education, maternal occupation, maternal income, clean water quality, and toilet and bathing facilities were not significantly related to the incidence of diarrhea. Conclusion: The maternal hygiene variable is the most dominant factor in this study after being controlled by the maternal age and family income variables.   Keywords: Diarrhea; Maternal Hygiene Behavior; Socio-Demographic Factors.   Pendahuluan: Diare merupakan penyakit infeksi yang dapat mengakibatkan kematian pada masa post-neonatal (usia 29 hari-11 bulan) dan anak balita (usia 12-59 bulan). Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu daerah endemik diare dengan angka kejadian mencapai 15.2% terjadi pada balita di tahun 2022. Tujuan: Untuk menganalisis faktor sosio-demografi, perilaku hygiene ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian diare. Metode: Penelitian ini menggunakan data dari hasil Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya tahun 2024 yang berada di Kecamatan Lembak Kabupaten Muara Enim. Desain penelitian bersifat cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 403 ibu balita yang dipilih secara multistage random sampling. Analisis data yang dilakukan yaitu menggunakan uji chi-square dan dilanjutkan dengan analisis regresi logistik. Hasil: Terdapat 66 balita (16.4%) ditemukan menderita diare, sebesar 67.5% ibu berusia > 25 tahun, 51.1% ibu memiliki tingkat pendidikan rendah, 73.2% ibu tidak bekerja, 63.8% memiliki pendapatan keluarga rendah, dan 51.1% ibu memiliki perilaku hygiene yang kurang baik. Namun, 98.0% responden memiliki akses terhadap kualitas air bersih, dan 95.3% responden memiliki fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dan perilaku hygiene ibu dengan kejadian diare. Variabel pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ibu, kualitas air bersih, dan fasilitas MCK tidak berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Simpulan: Variabel hygiene ibu merupakan faktor paling dominan dalam penelitian ini setelah dikontrol oleh variabel usia ibu dan pendapatan keluarga.   Kata Kunci: Diare; Faktor Sosiodemografi; Perilaku Hygiene Ibu.
Hubungan riwayat ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang badan lahir bayi Mustika, Sandya Windu; Muwakhidah, Muwakhidah; Rakhma, Luluk Ria
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.875

Abstract

Background: Prevalence of pregnant women with anemia in 2013 was 37.1% and in 2018 it increased to 48.9%. In addition, as many as 51% of pregnant women experience anemia before giving birth. Anemia in pregnant women increases the risk of disorders in fetal development which is a factor influencing the weight and length of the baby at birth. Purpose: To determine the relationship between a history of anemia in pregnant women and the baby's birth weight and length. Method: Analytical study research with a cross-sectional study approach using consecutive sampling. The population of this study were mothers who gave birth at the Bringin Health Center, Ngawi Regency. This study was conducted in October, November, and December 2024 with a sample size of 37 respondents. Data analysis used in testing the relationship and strength between variables is the Chi Square Test statistical test with a degree of confidence p <0.05. Results: Pregnant women with hemoglobin levels who experience anemia are 12 respondents (32.4%). The results of the analysis of the relationship between anemia and birth weight obtained a value of p = 0.003 (<0.05). Mothers with anemia have a 7.29x greater risk of giving birth to a LBW baby. In addition, the relationship between anemia and birth length of the baby shows a relationship between the two variables (p = 0.013) and mothers with anemia have a 6.25x greater risk of giving birth to a short baby. Conclusion: There is a relationship between anemia in pregnant women and the birth weight and length of the baby. Suggestion: Pregnant women are expected to consume foods with high iron content.   Keywords: Anemia; Birth Length; Birth Weight; Pregnancy.   Pendahuluan: Prevalensi ibu hamil dengan anemia tahun 2013 sebesar 37.1% dan tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 48.9%. Selain itu, sebanyak 51% wanita hamil mengalami anemia sebelum melahirkan. Anemia pada ibu hamil memperbesar resiko gangguan terhadap perkembangan janin yang merupakan faktor pengaruh berat dan panjang bayi saat dilahirkan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang lahir bayi. Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan consecutive sampling. Populasi penelitian ini ialah ibu yang melahirkan di Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2024 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 37 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Chi Square Test dengan derajat kepercayaan p<0.05. Hasil: Ibu hamil dengan kadar hemoglobin yang mengalami anemia sebanyak 12 responden (32.4%). Hasil analisis hubungan antara anemia dengan berat badan lahir bayi memperoleh nilai p 0.003 (<0.05). Ibu dengan anemia memiliki resiko 7.29x lebih besar melahirkan bayi BBLR. Selain itu, hubungan anemia dengan panjang badan lahir bayi, menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel (p = 0.013) dan ibu dengan anemia memiliki resiko 6.25x lebih besar melahirkan bayi pendek. Simpulan: Ada hubungan antara ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang badan lahir bayi. Saran: Ibu hamil diharapkan konsumsi makanan dengan sumber zat besi yang tinggi.   Kata Kunci: Anemia; Berat Badan Lahir; Kehamilan; Panjang Badan Lahir.
Dukungan suami terhadap breastfeeding self-efficacy ibu dalam pemberian ASI eksklusif Ramdhania, Desti; Simamora, Elfrida
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.876

Abstract

Background: Breast milk is a safe, clean food that contains energy and nutrients needed by babies. In the breastfeeding process, mothers need support, especially from their husbands, to improve their abilities. Purpose: To determine the relationship between husband's support and mothers' self-efficacy in providing exclusive breastfeeding. Method: This study used a cross-sectional design with a sample of 61 respondents obtained using a purposive sampling technique. The sample inclusion criteria were mothers who had babies aged 0-6 months and mothers who had partners living in the same house. The instruments used were a questionnaire on the partner's intention scale for breastfeeding and a short-form breastfeeding self-efficacy scale. Data analysis used the Fisher Exact test. Results: Most respondents were 20-29 years old, namely 34 respondents (55.7%), the last level of education of respondents was at secondary and higher education levels, namely 26 respondents (42.6%), most mothers did not work, namely 47 respondents (77%), and mothers were reported to be multiparous, namely 37 respondents (60.7%). The variable of respondents' husband's support is in the good category as many as 51 respondents (83.6%) and breastfeeding self-efficacy is in the moderate category as many as 34 respondents (55.7%). Based on the results of the Fisher Exact test, a sig. (2-tailed) value of 0.002 (<0.005) was obtained, meaning that there is a relationship between husband's support and mother's breastfeeding self-efficacy in providing exclusive breastfeeding. Conclusion: There is a significant relationship between husband's support and mother's breastfeeding self-efficacy in providing exclusive breastfeeding.   Keywords: Exclusive Breast Milk; Husband's Support; Mother's Self-Efficacy.   Pendahuluan: Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang aman, bersih, dan mengandung energi serta nutrisi yang dibutuhkan bayi. Pada proses menyusui, ibu membutuhkan dukungan terutama dari suaminya untuk meningkatkan self-efficacy. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan suami terhadap breastfeeding self-efficacy ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 61 responden yang didapatkan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi sampel yaitu ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan dan ibu yang memiliki pasangan tinggal serumah. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner partner breastfeeding intention scale dan breastfeeding self-efficacy scale short form. Analisis data menggunakan uji fisher exact. Hasil: Mayoritas responden berusia 20-29 tahun sebanyak 34 responden (55.7%),  tingkat pendidikan terakhir responden berada pada tingkat pendidikan menengah dan tinggi sebanyak 26 responden (42.6%), sebagian besar ibu tidak bekerja sebanyak 47 responden (77%), dan dilaporkan ibu dengan status multipara berjumlah 37 responden (60.7%). Variabel dukungan suami responden berada pada kategori baik sebanyak 51 responden (83.6%) dan breastfeeding self-efficacy sedang sebanyak 34 responden (55.7%). Berdasarkan hasil uji fisher exact diketahui nilai sig. (2-tailed) sebesar 0.002 (< 0.005), artinya terdapat hubungan dukungan suami terhadap breastfeeding self-efficacy ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami terhadap breastfeeding self-efficacy ibu dalam pemberian ASI eksklusif.   Kata Kunci: Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif; Breastfeeding Self-Efficacy Ibu; Dukungan Suami.
Edukasi kesehatan reproduksi pencegahan seks pranikah menggunakan metode index card match (ICM) terhadap pengetahuan siswa Alfath, Wahyu Aditya; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.880

Abstract

Background: Adolescence is a transitional phase that is vulnerable to various risky behaviors, including premarital sex. Data shows an increase in the number of pregnancies and early marriages at the age of 15-19 years, both at the national, provincial, and city levels. The main factor behind this condition is the low understanding of adolescents regarding reproductive health. At State Vocational High School 4 Surakarta, informal findings indicate dating behavior that leads to physical contact, emphasizing the importance of educational interventions. The use of appropriate learning media, such as Index Card Match (ICM), is considered capable of increasing adolescent understanding in an interactive and interesting way. Pupose: To evaluate reproductive health education on preventing premarital sex using the index card match (ICM) method on students' knowledge. Method: Quantitative research with pre-experimental design using one-group pretest-posttest. Participants consisted of 57 female students of State Vocational High School 4 Surakarta who were selected by purposive sampling. Measurement of knowledge level was conducted before and after counseling using a questionnaire instrument and data analysis using a paired sample t-test. Results: Before the intervention, 75.4% of female students showed a low level of knowledge. After being given ICM education, 86% of respondents increased to the good category. Statistical tests showed a p value <0.05, meaning that there was a clear difference between before and after the intervention. Conclusion: Learning with the index card match method has a significant effect on efforts to develop adolescent knowledge about preventing premarital sex. Suggestion: Schools are expected to integrate the ICM method in reproductive health learning so that students better understand the risks and prevention of premarital sex interactively. In addition, parents should also play a more active role in providing sexual education to adolescents from an early age, so that they have the correct understanding and do not only rely on information from peers or social media.   Keywords: Education; Index Card Matching (ICM); Knowledge; Premarital Sex Prevention; Reproductive Health.   Pendahuluan: Remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap berbagai perilaku berisiko, termasuk seks pranikah. Data menunjukkan meningkatnya angka kehamilan dan pernikahan dini pada usia 15–19 tahun, baik di tingkat nasional, Provinsi, maupun Kota. Faktor utama yang melatarbelakangi kondisi tersebut adalah rendahnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi. Di SMK Negeri 4 Surakarta, temuan informal mengindikasikan adanya perilaku pacaran yang mengarah pada kontak fisik, menegaskan pentingnya intervensi edukatif. Penggunaan media pembelajaran yang tepat, seperti Index Card Match (ICM), dinilai mampu meningkatkan pemahaman remaja secara interaktif dan menarik. Tujuan: Untuk mengevaluasi edukasi kesehatan reproduksi pencegahan seks pranikah menggunakan metode index card match (ICM) terhadap pengetahuan siswa. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan  pre-eksperimen menggunakan one-group pretest-posttest. Peserta terdiri dari 57 siswi SMK Negeri 4 Surakarta yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan instrumen kuesioner dan analisis data menggunakan paired sample t-test. Hasil: Sebelum intervensi, 75.4% siswi menunjukkan tingkat pengetahuan yang buruk. Sesudah diberikan edukasi ICM, 86% responden mengalami peningkatan ke kategori baik. Uji statistik menunjukkan p-value < 0.05, berarti ada perbedaan yang terlihat jelas sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Pembelajaran menggunakan metode index card match berpengaruh signifikan dalam upaya mengembangkan pengetahuan remaja tentang pencegahan seks pranikah. Saran: Pihak sekolah diharapkan dapat mengintegrasikan metode ICM dalam pembelajaran kesehatan reproduksi agar siswa lebih memahami risiko dan pencegahan seks pranikah secara interaktif. Selain itu, orang tua juga sebaiknya lebih berperan aktif dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak remaja sejak dini, sehingga mereka memiliki pemahaman yang benar dan tidak hanya bergantung pada informasi dari teman sebaya atau media sosial.   Kata Kunci: Edukasi; Index Card Match (ICM); Kesehatan Reproduksi; Pencegahan Seks Pranikah; Pengetahuan.
Pengaruh pemberian pelatihan terstruktur terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan medis dasar bagi sopir ambulans desa: A systematic review Supriadi, Ucup; Kamaluddin, Ridlwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.901

Abstract

Background: The inability of village ambulance drivers to manage emergency patients is due to several factors such as ignorance of initial medical actions, delays in referral, inadequate ambulance equipment and lack of knowledge and skills of ambulance drivers in recognizing high-risk conditions early which must be done as efficiently as possible. Purpose: To analyze the effect of structured training on improving the knowledge and skills of basic medical care for village ambulance drivers. Method: A systematic review that refers to the Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) using the PICOS framework. Journal article searches were sourced from Google Scholar, PubMed/NCBI, BioMed Central (BMC) and Sciencedirect databases published in 2017-2024 in English and Indonesian. The keywords used were “Village ambulance drivers, Knowledge, basic medical skills, training”. Researchers found 6318 articles, after selection, 5 articles were obtained to be reviewed using JBI Quality Appraisal. Results: The 5 selected articles illustrate that ambulances play a very important role in the health care system. Ambulance drivers are required to be able to deal with various emergency situations that occur in the field ranging from traffic accidents, patients with certain diseases to natural disasters. Structured training is needed using various methods such as the use of training modules to improve basic medical knowledge and skills for village ambulance drivers. Conclusion: Providing structured training is considered effective in improving basic medical knowledge and skills in ambulance drivers.   Keywords: Basic Medical Skills; Knowledge; Training; Village Ambulance Driver.   Pendahuluan: Ketidakmampuan sopir ambulans desa dalam menangani pasien gawat darurat disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketidaktahuan terhadap tindakan medis awal, keterlambatan rujukan, peralatan ambulans yang kurang memadai dan kurangnya pengetahuan serta keterampilan sopir ambulans dalam mengenal keadaan risiko tinggi secara dini yang mana harus dilakukan seefisien mungkin. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberian pelatihan terstruktur terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan medis dasar bagi sopir ambulans desa. Metode: Systematic review yang mengacu kepada Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) menggunakan framework PICOS. Pencarian artikel jurnal bersumber dari database Google Scholar, PubMed/NCBI, BioMed Central (BMC), dan Sciencedirect yang diterbitkan pada tahun 2017-2024, berbahasa Inggris, dan Indonesia. Kata kunci yang digunakan adalah “Sopir ambulans desa, Pengetahuan, keterampilan medis dasar, pelatihan”. Peneliti menemukan 6,318 artikel, setelah dilakukan seleksi didapatkan sebanyak 5 artikel untuk ditinjau menggunakan quality appraisal JBI. Hasil: Dari 5 artikel yang terpilih memiliki gambaran bahwa, ambulans memegang peranan yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Sopir ambulans dituntut untuk bisa menghadapi berbagai situasi gawat darurat yang terjadi di lapangan, mulai dari kecelakaan lalu lintas, pasien dengan penyakit tertentu, sampai bencana alam. Diperlukan pelatihan yang terstruktur dengan menggunakan berbagai metode, seperti penggunaan modul pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan medis dasar bagi sopir ambulans desa. Simpulan: Pemberian pelatihan yang terstruktur dinilai efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan medis dasar pada sopir ambulans.   Kata Kunci: Keterampilan Medis Dasar; Pelatihan; Pengetahuan; Sopir Ambulans Desa.
Lama kejadian loss to follow up pasien tuberkulosis paru Munarwi, Puteri Zawaliya; Deniati, Ema Novita; Nurrochmah, Siti; Supriyadi, Supriyadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.902

Abstract

Background: Malang Regency ranks fourth in East Java in terms of loss to follow up (LTFU) and can have an impact on improving public health. Applicable contextual knowledge about when TB patients stop treatment and factors that predict LTFU are useful for bridging the development of time-relevant intervention approaches. There needs to be follow-up related to the management of pulmonary TB so that the number of cases can be controlled and minimized. Purpose: To determine the duration of loss to follow up in pulmonary TB patients. Method: The study used a quantitative approach that was observational analytical with a retrospective cohort study design using purposive sampling. The research sample was obtained based on data from the Tuberculosis Information System (SITB) in 2023 in the reporting records for 2023 - February 29, 2024. Data analysis was carried out univariately, bivariate using the Kaplan-Meier test, and multivariate analysis using the Cox Regression test. Results: There were differences in the age variable (p<0.001) with a predicted event at 12.1 months, employment status (p=0.041) with a predicted event at 12.1 months, and history of diabetes mellitus (DM) (p=0.004) with a predicted event at 8.0 months. However, there was no significant difference in the gender variable (p=0.099) and had a predicted event at 12.5 months. The DM history variable was the dominant variable with a risk of event of 1.9 times. Conclusion: There were differences in the variables that experienced LTFU events, including age, employment status, and history of DM. However, there was no significant difference in the gender variable. Suggestion: The importance of psychosocial support, ongoing health education, close monitoring to reduce the risk of drug withdrawal, and ensure treatment compliance.   Keywords: Duration of Event; Loss to Follow Up; Tuberculosis (TB).   Pendahuluan: Kabupaten Malang menempati peringkat keempat se-Jawa Timur mengenai kejadian loss to follow up (LTFU) dan dapat berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pengetahuan kontekstual yang berlaku tentang waktu saat pasien TB berhenti menjalani pengobatan dan faktor-faktor yang memprediksi LTFU berguna untuk menjembatani pengembangan pendekatan intervensi yang relevan dengan waktu. Perlu adanya tindak lanjut mengenai penanggulangan TB paru agar angka kasusnya dapat dikendalikan dan diminimalisir. Tujuan: Untuk mengetahui lama kejadian loss to follow up terhadap pasien tuberkulosis paru. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan desain studi kohort retrospektif secara purposive sampling. Sampel penelitian diperoleh berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) tahun 2023 pada catatan pelaporan tahun 2023 – 29 Februari 2024. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Kaplan-Meier, dan analisis multivariat menggunakan uji Cox Regression. Hasil: Terdapat perbedaan pada variabel usia (p <0.001) dengan prediksi kejadian pada 12.1 bulan, status pekerjaan (p = 0.041) dengan prediksi kejadian pada 12.1 bulan, serta riwayat diabetes melitus (DM) (p = 0.004) dengan prediksi kejadian pada 8.0 bulan. Namun, pada variabel jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0.099) dan memiliki prediksi kejadian pada 12.5 bulan. Variabel riwayat DM merupakan variabel yang dominan dengan 1.9 kali risiko kejadian. Simpulan: Terdapat perbedaan pada variabel yang mengalami kejadian LTFU, meliputi variabel usia, status pekerjaan, dan riwayat DM. Namun, pada variabel jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Saran: Pentingnya dukungan psikososial, edukasi kesehatan berkelanjutan, monitoring ketat untuk mengurangi risiko putus obat, dan memastikan kepatuhan pengobatan.   Kata Kunci: Lama Kejadian; Loss to Follow Up; Tuberkulosis (TB).