cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Peran edukasi terstruktur dalam program discharge planning untuk meningkatkan efikasi diri pada pasien bedah jantung: A systematic review Nisaa, Mariani; Nurachmah, Elly; Maria, Riri; Waluyo, Agung; Adam, Muhamad
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1665

Abstract

Background: Patients undergoing cardiac surgery often experience decreased self efficacy in managing their health condition, which can complicate recovery and reduce quality of life. Structured discharge planning programs provide ongoing support and instruction, which can help patients improve this self-efficacy. Purpose: To examine the role of structured education within discharge planning programs in improving self-efficacy in cardiac surgery patients. Method: This systematic review used PRISMA guidelines and included data published between 2020 and 2025 from the following databases: PubMed (n = 404), Science Direct (n = 24), ClinicalKey for Nursing (n = 769), Sage Journals (n = 47), ProQuest (n = 1063), and Wiley (n = 97). Results: Nine of the ten studies showed that patients who received structured discharge planning interventions, whether through direct instruction, technology (phone, WhatsApp, and augmented reality/AR), or home care, had higher levels of self efficacy. Furthermore, this intervention reduced readmission rates, depression, anxiety, and fatigue. Conclusion: A structured discharge planning program is effective in improving patient self efficacy after cardiac surgery and provides additional benefits on psychological aspects and quality of life. This program can be consistently implemented in patients undergoing cardiac surgery. Suggestion: Further research should be conducted in hospitals in Indonesia to determine the success of structured discharge planning in improving the self efficacy of cardiac surgery patients by linking local culture, family roles, and health systems.   Keywords: Cardiac Surgery; Discharge Planning Program; Patients; Self Efficacy; Structured Education.   Pendahuluan: Pasien yang menjalani operasi jantung sering mengalami penurunan efikasi diri dalam mengelola kondisi kesehatan pasien sendiri, yang dapat mempersulit pemulihan dan menurunkan kualitas hidup. Program rencana pemulangan terstruktur memberikan dukungan dan instruksi yang berkelanjutan, dapat membantu pasien meningkatkan efikasi diri. Tujuan: Untuk mengkaji peran edukasi terstruktur dalam program discharge planning untuk meningkatkan  efikasi diri pada pasien bedah jantung. Metode: Penelitian systematic review menggunakan pedoman PRISMA, diterbitkan dari tahun 2020-2025 dari database: PubMed (n = 404), Science Direct (n = 24), ClinicalKey for Nursing (n = 769), Sage Journal (n = 47), ProQuest (n = 1,063), dan Wiley (n = 97). Hasil: Sembilan dari sepuluh penelitian menunjukkan, bahwa pasien yang menerima intervensi discharge planning terstruktur baik melalui instruksi langsung, teknologi (telepon, WhatsApp, dan Augmented Reality/ AR), atau home care mempunyai tingkat efikasi diri yang lebih tinggi. Selain itu, intervensi ini mengurangi jumlah rawat inap ulang, depresi, kecemasan, dan kelelahan. Simpulan: Program discharge planning dengan edukasi terstruktur efektif dalam meningkatkan efikasi diri pasien pascaoperasi jantung dan memberikan manfaat tambahan pada aspek psikologis dan kualitas hidup. Program ini dapat menjadi implementasi pada pasien yang menjalani operasi jantung secara konsisten. Saran: Penelitian lebih lanjut harus dilakukan di rumah sakit di Indonesia untuk mengetahui keberhasilan discharge planning terstruktur dalam meningkatkan efikasi diri pasien bedah jantung dengan mengaitkan budaya lokal, peran keluarga, dan sistem kesehatan.   Kata Kunci: Bedah Jantung; Edukasi Terstruktur; Efikasi Diri; Pasien; Program Discharge Planning.
Evidence based nursing in practice penerapan breating relaxation exercise untuk mengurangi nyeri selama pemasangan chest tube dan thoracotomy Tampubolon, Briefman; Rayasari, Fitrian; Yuniarti, Niknik; Nugraha, Rizki; Anggraini, Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1670

Abstract

Background: Chest tube placement in post-thoracostomy patients often causes pain, which impacts the healing process. Pharmacological therapies such as analgesics are commonly used but have limitations. Therefore, non-pharmacological interventions such as Breathing Relaxation Exercise (BRE) are needed to help reduce pain. Purpose: To determine the effect of breathing relaxation exercises on pain reduction during chest tube placement and thoracotomy. Method: A pre-experimental one-group pretest-posttest design with a sample size of 13 participants determined using the G*Power calculation. The pain measurement instrument used was the Visual Analogue Scale (VAS). Data analysis was performed using the Shapiro-Wilk normality test and a paired sample t-test. Results: Before BRE, most patients experienced severe pain (69.2%). After the intervention, the pain scale decreased to moderate (38.5%) and mild (46.2%) pain categories. The paired sample t-test results showed a significant difference (p<0.05), with an average pain reduction of 1.615. Conclusion: There was a significant decrease in the pain scale before BRE was implemented.   Keywords: Breathing Relaxation Exercise; Chest Tube; Evidence Based Nursing In Practice; Painful; Thoracotomy.   Pendahuluan: Pemasangan chest tube pada pasien pasca torakostomi sering menimbulkan nyeri yang berdampak pada proses penyembuhan. Terapi farmakologis seperti analgetik umum digunakan, namun memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti Breathing Relaxation Exercise (BRE) untuk membantu menurunkan nyeri. Tujuan: Mengetahui pengaruh penerapan breating relaxation exercise untuk mengurangi nyeri selama pemasangan chest tube dan thoracotomy. Metode: Desain pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 13 partisipan yang ditentukan melalui perhitungan G*Power. Instrumen pengukuran nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample t-Test. Hasil: Sebelum diberikan BRE, sebagian besar pasien mengalami nyeri berat (69.2%). Setelah intervensi, skala nyeri menurun menjadi kategori nyeri sedang (38.5%) dan ringan (46.2%). Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0.05), dengan rata-rata penurunan nyeri sebesar 1.615. Simpulan: Adanya penurunan signifikan skala nyeri sebelum dilakukan dilakukan penerapan BRE.   Kata Kunci: Breating Relaxation Exercise; Evidence Based Nursing In Practice; Chest Tube; Nyeri; Thoracotomy.
Penerapan evidence-based practice nursing program intradialytic flexsibility exercise range of mation terhadap fatigue pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialisa Ukur, Sada; Nugraha, Rizki; Setiawantari , Rani; Siswandi, Iyar; Sofiani, Yani; Jumaiyah , Wati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1671

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the leading causes of global morbidity and mortality. Patients undergoing hemodialysis often experience fatigue, which significantly affects their quality of life, productivity, and psychological well-being. One of the non-pharmacological interventions that can be applied is intradialytic flexibility exercise in the form of range of motion (ROM). Purpose: To determine the effect of intradialytic flexibility exercise range of motion on fatigue levels among CKD patients undergoing hemodialysis. Method: A quasi-experimental study using a one-group pre-post test design was conducted from May to July 2025 at Al Ihsan Regional General Hospital, West Bandung. Purposive sampling was used to select 18 participants. The independent variable in this study was the Intradialytic Flexibility Exercise Range of Motion Program, while the dependent variable was the level of fatigue. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the Cochran test. Translated with DeepL.com (free version) Results: Before the intervention, 77.8% of participants experienced severe fatigue. After 8 weeks of intervention, all participants (100%) showed a decrease in fatigue to a mild category. Statistical analysis indicated a significant difference in fatigue levels before and after the intervention (p < 0.05). Conclusion: Intradialytic flexibility exercise range of motion is effective in reducing fatigue levels among CKD patients undergoing hemodialysis. This intervention can be considered a non-pharmacological nursing strategy to improve patients’ quality of life.   Keywords: Chronic Kidney Disease; Fatigue; Hemodialysis; Intradialytic Exercise; Range of Motion.   Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global. Pasien CKD yang menjalani hemodialisis sering mengalami kelelahan (fatigue) yang berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kesehatan mental. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat diterapkan adalah intradialytic flexibility exercise berupa range of motion (ROM). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan intradialytic flexibility exercise range of motion terhadap tingkat kelelahan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian quasi experimental dengan metode one group pre-posttest design, dilaksanakan pada Mei-Juli 2025 di RSUD Al Ihsan, Bandung Barat. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivel sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 18 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Program Intradialytic Flexibility Exercise Range of Motion, sedangkan variabel dependen ialah tingkat kelelahan. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji Cochran. Hasil: Sebelum intervensi, 77.8% partisipan mengalami fatigue berat. Setelah 8 minggu intervensi, seluruh partisipan (100%) mengalami penurunan tingkat fatigue menjadi kategori ringan. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan tingkat fatigue sebelum dan sesudah intervensi (p < 0.05). Simpulan: Penerapan intradialytic flexibility exercise range of motion efektif menurunkan tingkat kelelahan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa.   Kata Kunci: Chronic Kidney Disease; Fatigue; Hemodialisa; Intradialytic Exercise; Range of Motion.
Pengaruh penggunaan rebusan air daun sirih (piper betle) terhadap penurunan keputihan fisiologis pada wanita usia subur Nirwana, Betanuari Sabda; Laili, Fauzia; Rofiah, Khofidhotur; Nikmah, Anis Nikmatul; Lutfiasari, Dessy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1677

Abstract

Background: Vaginal discharge is one of the most common complaints among women of childbearing age or reproductive age, occurring in 80% of women aged 15-45 years. Women of reproductive age are at risk of increased incidence of candidiasis, trichomoniasis, gonorrhea, and bacterial vaginosis. One plant that is often used as an alternative to reduce vaginal discharge is betel leaf. In addition to being widely available in the home environment, green betel leaf is often used because of its low risk of side effects. Purpose: To reduce the incidence of physiological vaginal discharge in women of reproductive age. Method: A quasi-experimental study using a pre-post-test one-group method was conducted in January 2025 in Grogol, Kediri. The sampling technique used accidental sampling with a sample size of 16 participants. The independent variable in this study was betel leaf decoction, while the dependent variable was vaginal discharge. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test showed a p-value of 0.000, indicating that the use of betel leaf decoction has an effect on vaginal discharge in women of reproductive age. Conclusion: Betel leaf extract can be used as an effective, safe, and easy-to-apply non-pharmacological treatment alternative for women of childbearing age in an effort to maintain reproductive health and prevent recurrent vaginal discharge.   Keywords: Betel Leaf; Vaginal Discharge; Women.   Pendahuluan: Keputihan merupakan salah satu keluhan yang paling umum terjadi pada wanita usia subur atau usia reproduksi yaitu sebesar 80% terjadi pada usia 15-45 tahun. Wanita dalam kelompok usia reproduksi berisiko mengalami peningkatan terjadinya Candidiasis, trichomoniasis, gonorrhea dan bacterial vaginosis. Salah satu tanaman yang sering dijadikan alternatif untuk mengurangi keputihan yaitu daun sirih, selain banyak di sekitar lingkungan rumah daun sirih hijau sering digunakan karena resiko efek samping yang tidak berbahaya. Tujuan: Untuk menurunkan angka keputihan fisiologi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian quasy experimental menggunakan metode pre-post-test one group, dilaksanakan pada Januari 2025 di Grogol, Kediri. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 16 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah rebusan daun sirih, variabel dependen adalah keputihan. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan Wilcoxon test. Hasil: Uji wilcoxon menunjukkan p value = 0.000 sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh penggunaan rebusan daun sirih terhadap keputihan pada wanita usia subur. Simpulan: Rebusan daun sirih dapat dijadikan alternatif pengobatan nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan oleh wanita usia subur dalam upaya menjaga kesehatan reproduksi serta mencegah terjadinya keputihan berulang. Kata Kunci: Daun Sirih; Keputihan; Wanita.
Integrasi pertolongan pertama dan aktivasi ambulans: Sebuah tinjauan literatur Susila, I Pasek Wayan Agung; Agustini, Ni Luh Putu Inca Buntari; Diyu, Ida Ayu Ningrat Pangruating; Sanjana, I Wayan Edi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1687

Abstract

Background: Rapid response to medical emergencies is a crucial factor in reducing patient mortality and morbidity. However, the ambulance calling system in Indonesia still faces various challenges, such as limited access to information, delayed responses, and lack of integration with emergency command centers. Purpose: To review various studies related to the development of mobile/web-based applications for emergency medical services, and to identify research gaps and opportunities for further development. Methods: A search was conducted using the PubMed and ScienceDirect databases, followed by a review and synthesis process using PRISMA. An initial 219 articles were found, of which 15 were included in the study. Results: The application is capable of facilitating ambulance ordering, real-time location tracking, and accelerating emergency response. However, most studies are limited to technical function tests with small sample sizes and have not measured the application's effectiveness on clinical indicators. Conclusion: Innovation in web-based and mobile emergency applications has significant potential to improve response speed, ambulance calling accuracy, and community empowerment in first aid. However, further research is still needed with a broader scope, strong quantitative methods such as quasi-experiments or RCTs, as well as multi-dimensional evaluations involving technical, clinical, and user experience aspects.   Keywords: Emergency Medical Services; First Aid; Mobile Application.   Pendahuluan: Respon cepat terhadap keadaan gawat darurat medis menjadi faktor penting dalam menurunkan mortalitas dan morbiditas pasien. Namun, sistem pemanggilan ambulans di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan akses informasi, keterlambatan respon, dan kurangnya integrasi dengan pusat komando darurat. Tujuan: Untuk meninjau berbagai penelitian terkait integrasi pertolongan pertama dan aktivasi ambulans. Metode: pencarian artikel dilakukan database PubMed dan ScienceDirect kemudian proses review dan sintesis dilakukan menggunakan PRISMA. Artikel awal yang ditemukan adalah 219, kemudian 15 artikel disertakan dalam penelitian. Hasil: Menunjukkan bahwa aplikasi mampu memfasilitasi pemesanan ambulans, pelacakan lokasi real-time, dan percepatan respon darurat. Namun, sebagian besar studi masih terbatas pada uji fungsi teknis dengan sampel kecil, belum mengukur efektivitas aplikasi pada indikator klinis. Simpulan: Inovasi aplikasi darurat berbasis web maupun mobile memiliki potensi besar dalam meningkatkan kecepatan respon, akurasi pemanggilan ambulans, dan pemberdayaan masyarakat dalam pertolongan pertama. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas, metode kuantitatif yang kuat misalnya quasi-experiment atau RCT, serta evaluasi multi-dimensi yang melibatkan aspek teknis, klinis, dan pengalaman pengguna. Kata Kunci: Aplikasi Seluler; Layanan Medis Darurat; Pertolongan Pertama.
Pencegahan insiden keselamatan pasien menggunakan patient safety enhancement strategy berbasis milieu therapy Saraswati, Kristanti Indah; Pratiwi, Arum; Hudiawati, Dian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1688

Abstract

Background: Patient safety is a crucial aspect of healthcare services that must be a top priority for hospitals. Patient safety incidents can lead to serious injuries, increased healthcare costs, and damage to institutional reputation. Therefore, effective strategies are needed to prevent such incidents, one of which is the implementation of Milieu Safety, which emphasizes creating a safe and supportive environment for patients. Purpose: To examine and evaluate efforts to prevent patient safety incidents using the patient safety enhancement strategy based on milieu therapy. Method: This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest nonequivalent control group approach. The sample consisted of 220 hospitalized patients, divided into intervention and control groups. Data were collected through the Safety Satisfaction in Healthcare Questionnaire (SSHQ), patient safety incident reports, and observations of Milieu Safety implementation using the Patient Care Safety Assessment Tool (PCSAT). Data analysis was conducted using the Mann-Whitney test to compare differences between the two groups. Results: The intervention group that implemented the Milieu Safety strategy showed a significant increase in patient satisfaction (p = 0.005) and maintained stability in patient safety incidents compared to the control group. Conclusion: The Milieu Safety strategy is effective in preventing patient safety incidents and improving the quality-of-care satisfaction. Integration of this principle into nursing Standard Operating Procedures (SOPs) is highly recommended.   Keywords: Milieu Therapy; Patient Safety Enhancement Strategy; Patient Safety Incident Prevention.   Pendahuluan: Keselamatan pasien adalah aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang harus menjadi prioritas utama rumah sakit. Insiden keselamatan pasien dapat menyebabkan cedera serius, meningkatkan biaya, dan merusak reputasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi efektif untuk mencegahnya, salah satunya melalui penerapan milieu safety yang menekankan pada terciptanya lingkungan aman dan mendukung bagi pasien. Tujuan: Untuk menelaah dan menilai upaya pencegahan pencegahan insiden keselamatan pasien menggunakan patient safety enhancement strategy berbasis milieu therapy. Metode: Penelitian dengan desain quasi-experimental menggunakan pendekatan pretest-posttest nonequivalent control group design. Sampelnya terdiri dari 220 pasien rawat inap yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepuasan pasien (SSHQ), laporan insiden keselamatan, dan observasi penerapan Milieu Safety menggunakan Patient Care Safety Assessment Tool (PCSAT). Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan antara kedua kelompok. Hasil: Kelompok intervensi yang menerapkan strategi milieu safety menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepuasan pasien dengan p-value 0.005 dan stabilitas insiden keselamatan pasien, dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan: Strategi milieu safety efektif dalam mencegah insiden keselamatan pasien dan meningkatkan kepuasan layanan perawatan. Integrasi prinsip ini dalam Standar Prosedur Operasional (SPO) keperawatan sangat direkomendasikan.   Kata Kunci: Milieu Therapy; Patient Safety Enhancement Strategy; Pencegahan Insiden Keselamatan Pasien.
Hubungan riwayat penggunaan alat bantu napas terhadap hasil skrining pendengaran bayi dalam perspektif keperawatan Harjati, Tanty; Caswini, Nining; Ramadhani, Selly; Dwiyanti, Anne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1691

Abstract

Background: Hearing loss in infants is a health problem that can have long-term effects on a child's language, speech, and cognitive development. Early detection through Otoacoustic Emission (OAE) testing is important for identifying hearing loss at an early stage. Several risk factors that can affect OAE results include premature birth, low birth weight, hyperbilirubinemia, ototoxic drug therapy, and long-term use of breathing aids. Puspose: To determine the relationship between the use of breathing aids and hearing screening results in infants. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach and was conducted from July 2021 to June 2022 at the Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 229 respondents. The independent variable was the use of breathing aids, while the dependent variable was infant hearing screening. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using Kruskal-Wallis. Results: The average age of respondents was 33.554 years with a standard deviation of 2.941 in the range of 12-36. The average birth weight of respondents was 2038 years with a standard deviation of 692 in the range of 1000-3600. The average use of breathing aids among respondents was 3.061 years with a standard deviation of 0.038 in the range of 1-5. Most respondents had partial hearing loss, totaling 100 (43.7%). The Kruskal-Wallis test yielded a p-value of 0.000, indicating a significant relationship between gestational age, birth weight, and use of breathing aids with the risk of hearing impairment in infants. Conclusion: The importance of nurses' role in controlling environmental noise, accelerating weaning from breathing aids, and educating families about the importance of infant hearing screening.   Keywords: Detection; Environment; Hearing; Infants; Nurse; Premature.   Pendahuluan: Gangguan pendengaran pada bayi merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan bahasa, bicara, dan kognitif anak. Deteksi dini melalui pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) penting dilakukan untuk mengenali gangguan sejak dini. Beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi hasil OAE antara lain kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hiperbilirubinemia, terapi obat ototoksik, serta penggunaan alat bantu napas jangka panjang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan alat bantu napas dengan hasil skrining pendengaran pada bayi Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dilaksanakan pada Juli 2021-Juni 2022 di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Doktor Cipto Mangunkusumo. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivel sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 229 responden. Variabel independent meliputi penggunaan alat bantu napas, sedangkan variable dependen ialah skrining pendengaran bayi. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan Kruskal-Wallis. Hasil: Rata-rata usia responden adalah 33.554 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 2.941 pada rentang 12-36. Rata-rata berat lahir responden adalah 2038 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 692 pada rentang 1000-3600. Rata-rata penggunaan alat bantu napas responden adalah 3.061 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 0.038 pada rentang 1-5. Sebagian besar responden memiliki pendengaran parsial sebanyak 100 (43.7%). Uji Kruskal-Wallis menghasilkan p=0.000 yang menandakan hubungan signifikan antara usia gestasi, berat lahir, serta penggunaan alat bantu napas dengan risiko gangguan pendengaran bayi. Simpulan: Pentingnya peran perawat dalam pengendalian kebisingan lingkungan, percepatan penyapihan dari alat bantu napas, serta edukasi keluarga mengenai pentingnya pemeriksaan pendengaran bayi.   Kata Kunci: Bayi; Deteksi; Lingkungan; Prematur; Pendengaran; Perawat.
Continuity of care pasien dengan penyakit kronis: Sebuah kajian pustaka Asmaningrum, Nurfika; Prasetyo, Eko; Rifai, Ahmad
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1695

Abstract

Background: Continuity of Care (CoC) plays a vital role in managing chronic illnesses by ensuring consistent monitoring, coordinated services, and a strong therapeutic relationship between patients and healthcare providers. Evidence suggests that CoC enhances treatment adherence, reduces hospital readmissions, and improves long-term health outcomes. However, understanding of this concept particularly among adolescents with chronic conditions, which remains limited. Purpose: To identify the key attributes, antecedents, and consequences of CoC in the context of nursing care for patients with chronic illnesses, with particular attention to adolescents. Method: Rodgers’ evolutionary concept analysis was employed through a literature review of studies published between 2019 and 2024, guided by the PRISMA protocol, and sourced from Scopus, PubMed, and Sage databases. Results: The main attributes of CoC include informational continuity, relational continuity, management continuity, access to healthcare services, referral systems, discharge planning, cross-service and multidisciplinary collaboration, and patient and family empowerment. Antecedents comprise both enabling and inhibiting factors. The positive consequences of effective CoC are improved quality of life, reduced hospitalization frequency, and increased readiness for independent self-care among adolescents. Conclusion: CoC is crucial to achieving successful long-term care outcomes. Suggestion: The concept of CoC should be integrated into nursing education and training programs, along with the development of care models that focus on adolescents living with chronic conditions.   Keywords: Continuity of Care; Chronic Illness; Patients.   Pendahuluan: Continuity of care (CoC) atau keberlanjutan perawatan memiliki peran penting dalam menangani penyakit kronis dengan memastikan pemantauan yang konsisten, layanan yang terkoordinasi, serta hubungan terapeutik yang kuat antara pasien dan tenaga kesehatan. Bukti menunjukkan bahwa CoC dapat meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, mengurangi angka rawat inap ulang, dan memperbaiki hasil kesehatan jangka panjang. Namun, pemahaman tentang konsep ini terutama pada remaja dengan kondisi kronis dan masih terbatas. Tujuan: Untuk mengidentifikasi atribut utama, faktor pendahulu, dan konsekuensi dari CoC dalam konteks keperawatan bagi pasien dengan penyakit kronis dengan fokus khusus pada kelompok remaja. Metode: Analisis konsep evolusioner Rodgers digunakan melalui telaah pustaka terhadap artikel yang diterbitkan antara tahun 2019 hingga 2024, mengikuti protokol PRISMA, dengan sumber dari basis data Scopus, PubMed, dan Sage. Hasil: Atribut utama CoC mencakup kontinuitas informasi, kontinuitas hubungan, kontinuitas manajemen, akses terhadap layanan kesehatan, sistem rujukan, perencanaan pemulangan pasien, koordinasi lintas layanan dan multidisipliner, serta pemberdayaan pasien dan keluarga. Faktor pendahulu mencakup unsur yang mendukung maupun yang menghambat. Konsekuensi positif dari CoC yang efektif antara lain peningkatan kualitas hidup, penurunan frekuensi rawat inap, serta kesiapan remaja untuk mandiri dalam perawatan diri. Simpulan: CoC sangat penting dalam mencapai keberhasilan perawatan jangka panjang. Saran: Konsep CoC perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dan pelatihan keperawatan, disertai pengembangan model perawatan yang berfokus pada remaja dengan penyakit kronis.   Kata Kunci: Continuity of Care; Penyakit Kronis; Pasien.
Gambaran kecenderungan depresi pada remaja Wahyuni, Fitri; Astuti, Yuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1733

Abstract

Background: Adolescence is a developmental transition phase from childhood to adulthood, characterized by significant physical, psychological, social, and emotional changes. During this period, adolescents face complex academic, social, and environmental demands, requiring a high level of adaptation. These pressures can contribute to vulnerability to mental health disorders, particularly depression. Depression in adolescents can seriously impact emotional well-being, social relationships, and academic achievement, and can increase the risk of suicide. Purpose: To determine the prevalence of depression in adolescents. Method: This was a descriptive study with a cross-sectional design, conducted from July to August 2025. The sample was selected using total sampling based on inclusion and exclusion criteria. A total of 620 respondents were recruited. Data collection used the Children's Depression Inventory (CDI) questionnaire. Results: The average age of respondents was 13,329 years with a standard deviation of 0.748, ranging from 11 to 15 years. The majority of respondents (360) were female (58.1%). Most children were the eldest in the family (247 children) (39.8%). Furthermore, most respondents had siblings (560 children) (90.3%). Most respondents' parents worked as private sector employees (380 children) (61.3%). Most respondents lived with their parents (389 children) (62.7%). Most parents were not divorced (530 children) (85.5%). Most respondents had experienced the loss of a parent or relative (441 children) (71.1%). Based on data on depression trends, it appears that most respondents (620 children) had experienced it (45.8%). Conclusion: The prevalence of depression in adolescents was recorded at 620 (45.8%), with a mean age of 13 years (50.6%), and a female gender predominance (58.1%). The highest mean domain was negative mood.    Keywords: Adolescents; Depression; Mental Health.  Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase perkembangan transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan besar dalam aspek fisik, psikologis, sosial, dan emosional. Pada masa ini, remaja menghadapi berbagai tuntutan akademik, sosial, dan lingkungan yang kompleks, sehingga memerlukan kemampuan adaptasi yang tinggi. Tekanan tersebut dapat menimbulkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental, terutama depresi. Depresi pada remaja dapat berdampak serius terhadap kesejahteraan emosional, hubungan sosial, serta prestasi dan berisiko melakukan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kecenderungan depresi pada  remaja. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan desain cross sectional, dilakukan pada Juli-Agustus 2025. Pemilihan sampel menggunakan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel sebanyak 620 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Children’s Depression Inventory (CDI). Hasil: Usia rata-rata responden 13.329 tahun dengan standar deviasi 0.748 pada rentang 11-15 tahun. Mayoitas responden berjenis kelamin perempuan 360 (58.1%). Kebanyakan anak adalah anak pertama dalam keluarganya, yaitu 247 (39.8%), Selain itu, sebagian besar responden memiliki saudara, yaitu sebesar 560 (90.3%). Mayoritas pekerjaan oran tua responden sebagai karyawan swasta, yaitu sebanyak 380 (61.3%). Kebanyakan responden tinggal bersama orang tuanya, yaitu sebanyak 389 (62.7%). Kebanyakan orang tua tidak bercerai, yaitu sebesar 530 (85.5%). Sebagian besar responden pernah mengalami kehilangan orang tua atau kerabat, yaitu sebesar 441 (71.1%). Berdasarkan data kecenderungan depresi, ternyata sebagian besar responden hampir mengalaminya yaitu sebanyak 620 (45.8%). Simpulan: Kecenderungan depresi pada remaja tercatat sejumlah 620 (45.8%) dengan usia rata-rata 13 tahun (50.6%) dan didominasi jenis kelamin perempuan (58.1%). Domain rata-rata tertinggi pada domain negative mood (suasana hati negatif).   Kata Kunci: Depresi; Kesehatan Mental; Remaja.
Hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan Telew, Christalia Renata Keren; Malonda, Nancy Swanida Henriette; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1281

Abstract

Background: Nutritional problems such as underweight, stunting, wasting, and overweight are caused by a lack of exclusive breastfeeding. Breastfeeding during the first six months of life provides a source of energy and offers numerous benefits. Furthermore, breastfeeding can prevent nutritional problems in toddlers. Purpose: To determine the relationship between a history of exclusive breastfeeding and the nutritional status of toddlers aged 6-23 months. Method: This quantitative, observational, and analytical cross-sectional study was conducted from March to July 2025. The study population was toddlers aged 6-23 months living in Tounelet Village, Kaweng Village, and Paslaten Village. The sampling technique used was total sampling. The instruments used in this study were questionnaires and anthropometric measuring instruments. Data analysis used the chi-square statistical test with a significance level of p<0.05. Results: In this study, the majority of toddlers (53) were not exclusively breastfed and had normal nutritional status, as measured by weight/age (91.6%), height/age (88.4%), and weight/length (80.0%). Fisher's exact test yielded a p-value >0.05, indicating no significant association between a history of exclusive breastfeeding and the nutritional status of toddlers aged 6-23 months based on the weight/age, height/age, and weight/length indices. Conclusion: No significant association was found between a history of exclusive breastfeeding and nutritional status based on three indicators: weight/age, height/age, and weight/length in toddlers aged 6-23 months. However, mothers with toddlers should exclusively breastfeed for the first 6 months of life and regularly attend integrated health post.   Keywords: History of Exclusive Breastfeeding; Nutritional Status; Toddlers.   Pendahuluan: Masalah gizi yang terjadi seperti underweight, stunting, wasting, dan overweight salah satu penyebab terjadinya masalah gizi tersebut adalah kurangnya pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI selama 6 bulan kehidupan pertama merupakan sumber energi dan memiliki banyak manfaat. Selain itu, yang terpenting dapat mencegah terjadinya masalah gizi kepada balita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif yang bersifat obsevasional analitik dengan desain penelitian cross sectional study di laksanakan pada bulan Maret-Juli 2025. Populasi pada penelitian ini yaitu balita yang berdomisili di desa Tounelet, desa Kaweng dan desa Paslaten berusia 6-23 bulan, dengan teknik pengambilan sampel berupa total sampling. Instrumen yang digunakan pada pada penelitian ini berupa kuesioner alat pengukuran antropometri. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. Hasil: Pada penelitian ini, sebagian besar balita tidak diberikan ASI secara eksklusif sebanyak 53 balita (55.8%), memiliki status gizi normal yang dilihat berdasarkan indikator/indeks BB/U (91.6%), PB/U (88.4%), dan BB/PB (80.0%). Hasil dari alternatif uji fisher’s exact test diperoleh nilai p >0.05, maka dinyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan berdasarkan indeks BB/U, PB/U, dan BB/PB. Simpulan: Tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi berdasarkan 3 indikator, yaitu BB/U, PB/U, dan BB/PB pada balita dengan kelompok 6-23 bulan. Meskipun begitu ibu yang memiliki balita seharusnya dapat memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan secara rutin mengikuti kegiatan posyandu.   Kata Kunci: Balita; Riwayat Pemberian ASI Eksklusif; Status Gizi.