cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Peran dan dukungan sosial dalam mencegah masalah kesehatan mental pada mahasiswa baru Afriana, Afriana; Kurniawati, Eristono Evi; Nosy, Cut Irma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1305

Abstract

Background: Mental health is a global issue, both in developing and developed countries. This situation has made everyone aware of the importance of maintaining mental health. Social support, the physical and emotional comfort provided by family, friends, coworkers, and others, is a key factor in maintaining mental health, helping individuals overcome their problems. The role of social support in reducing social prejudice among incoming freshmen can help them adjust to their new campus environment and gain recognition from the majority group on campus. Purpose: To examine the role of social support in preventing mental health problems in new students. Methods: This quantitative cross-sectional study was conducted at Muhammadiyah Aceh College of Health Sciences from May 5-7, 2025. The independent variable in this study was social support, while the dependent variable was mental health. The sampling technique used accidental sampling, with a sample size of 40 respondents. Data analysis used univariate frequency distributions and bivariate chi-square tests. Results: The majority of respondents (23 respondents (57.5%) received support, and 35 respondents (90.0%) did not experience mental illness. Based on the results of the Chi-Square test, the ρ value was 0.004, indicating a relationship between social support and mental health. Conclusion: There is a relationship between social support and mental health in new students (ρ value = 0.004). Students who receive strong and consistent social support tend to demonstrate better indicators of psychological well-being and are more emotionally stable, enabling them to cope with academic and social pressures more effectively and adaptively.   Keywords: Mental Health; New Students; Social Support.   Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan isu global, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Kondisi ini menyadarkan setiap orang, betapa pentingnya menjaga kesehatan mental.  Dukungan sosial merupakan kenyamanan fisik dan emosional yang diberikan oleh keluarga, teman, rekan kerja, maupun orang lain yang menjadi salah satu faktor utama dalam upaya menjaga kesehatan mental, sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. Peran dukungan sosial dalam mengurangi prasangka sosial pada mahasiswa baru yang berstatus sebagai mahasiswa pendatang dapat membantu mahasiswa baru dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus yang baru dan memperoleh pengakuan dari kelompok mayoritas di lingkungan kampus. Tujuan: Untuk mengkaji peran dukungan sosial dalam mencegah masalah kesehatan mental pada mahasiswa baru. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional, dilaksanakan di STIKes Muhammadiyah Aceh dari tanggal 5-7 Mei 2025. Variabel independen dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sedangkan variabel dependen adalah kesehatan mental. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, jumlah sampel sebanyak 40 responden. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Sebagian besar responden mendapat dukungan sebanyak 23 responden (57.5%) dan tidak mengalami sakit mental sebanyak 35 responden (90.0%). Berdasarkan hasil uji menggunakan Chi-Square, didapatkan ρ value = 0.004, hal ini menunjukkan adanya hubungan antara dukungan sosial dengan kesehatan mental. Simpulan: Adanya hubungan antara dukungan sosial dengan kesehatan mental pada mahasiswa baru (ρ value = 0.004). Mahasiswa yang mendapatkan dukungan sosial yang kuat dan konsisten, cenderung menunjukkan indikator kesejahteraan psikologis yang lebih  baik  dan  lebih  stabil  secara  emosional,  sehingga  mereka  dapat  menghadapi  tekanan akademik dan sosial dengan lebih efektif dan adaptif.                                                                                                                           Kata Kunci: Dukungan Sosial; Kesehatan Mental; Mahasiswa Baru.
Ketidaksiapan psikologis dan stres kehamilan remaja sebagai faktor risiko depresi pasca persalinan: A literature review Rizki, Tsabitha Syafa’atul; Ernawati, Ernawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1629

Abstract

Background: Teenage pregnancy is a phenomenon that not only impacts physical aspects but also causes significant psychological distress. Psychological unpreparedness and high levels of stress during pregnancy in adolescents can be major risk factors for postpartum depression. Purpose: To analyze the relationship between psychological unpreparedness and stress during teenage pregnancy and risk factors for postpartum depression. Method: A systematic literature review was conducted from various reliable sources, both national and international, including journals, official government websites, and scientific e-books. Results: Pregnant adolescents often experience fear, social stigma, economic pressure, and lack of support from family and partners, leading to significant stress during pregnancy. When this stress is not managed appropriately, it can impact postpartum mental health, such as the emergence of postpartum depressive symptoms, self-harm thoughts, and difficulties in fulfilling the motherhood role. Social support from family, partners, friends, and the community has been shown to significantly reduce stress levels and help adolescents navigate their new roles. Furthermore, interventions such as counseling, sex education, training in non-pharmacological relaxation techniques, and early mental health screening are highly recommended. Conclusion: There is a positive association between antenatal stress and psychological unpreparedness during teenage pregnancy, as well as an increased risk of postpartum depression. Cross-sector collaboration, from families to healthcare professionals, is crucial for the early detection, prevention, and treatment of mental disorders in teenage mothers to improve the quality of life of both mother and child in the future. Suggestion: Psychological support from the beginning of teenage pregnancy through family support, counseling, and regular mental health screenings is needed to reduce the risk of postpartum depression.   Keywords: Adolescents; Depression; Postpartum; Pregnancy; Psychological Unpreparedness; Stress.   Pendahuluan: Kehamilan di usia remaja merupakan fenomena yang tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan. Ketidaksiapan psikologis dan tingginya tingkat stres selama masa kehamilan pada remaja dapat menjadi faktor risiko utama terhadap munculnya depresi postpartum. Tujuan: Untuk menganalisis keterkaitan antara ketidaksiapan psikologis dan stres kehamilan remaja terhadap faktor risiko depresi pasca persalinan. Metode: Penelitian tinjauan literatur sistematis dari berbagai sumber terpercaya, baik nasional maupun internasional, termasuk jurnal, situs resmi pemerintah, dan e-book ilmiah. Hasil: Remaja hamil seringkali mengalami ketakutan, stigma sosial, tekanan ekonomi serta kurangnya dukungan dari keluarga dan pasangan, yang menyebabkan stres berat selama masa kehamilan. Ketika stres tersebut tidak ditangani secara tepat, maka akan berdampak pada kesehatan mental pasca melahirkan, seperti munculnya gejala depresi postpartum, keinginan menyakiti diri, dan kesulitan dalam menjalankan peran sebagai ibu. Dukungan sosial dari keluarga, pasangan, teman, dan komunitas terbukti memiliki pengaruh besar dalam menurunkan tingkat stres dan membantu remaja menjalani peran barunya. Selain itu, intervensi seperti konseling, edukasi seksual, pelatihan teknik relaksasi non-farmakologis, dan skrining kesehatan mental sejak awal kehamilan sangat direkomendasikan. Simpulan: Terdapat hubungan positif antara stres antenatal dan ketidaksiapan psikologis selama kehamilan remaja dengan meningkatnya risiko depresi postpartum. Peran lintas sektor, mulai dari keluarga hingga tenaga kesehatan, sangat penting dalam mendeteksi dini, mencegah, serta menangani gangguan mental pada ibu remaja sebagai upaya peningkatan kualitas hidup ibu dan anak di masa depan.   Saran: Diperlukan pendampingan psikologis sejak awal kehamilan remaja melalui dukungan keluarga, konseling, serta skrining kesehatan mental secara rutin untuk menekan risiko depresi postpartum.   Kata Kunci: Depresi; Kehamilan; Ketidaksiapan Psikologis; Pasca Persalinan; Remaja; Stress.
Pengetahuan dan sikap remaja putri dalam mengelola dismenore primer Fauziah, Nur Aeni Afiyah; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1661

Abstract

Background: Primary dysmenorrhea is a very common menstrual disorder in adolescent girls, characterized by painful menstruation without any organic abnormalities. This condition impacts school activities, productivity, and quality of life. Despite its high prevalence, many adolescents fail to manage this complaint effectively due to a lack of knowledge and poor attitudes. Appropriate management efforts are largely determined by personal understanding and perceptions of menstrual pain. Purpose: To analyze the relationship between adolescent girls' knowledge and attitudes in managing primary dysmenorrhea. Method: This descriptive correlational study used a cross-sectional approach. A sample of 100 eleventh-grade female students was selected using a total sampling technique. Data collection was conducted through a structured questionnaire that measured knowledge, attitudes, and practices in managing primary dysmenorrhea. Data were analyzed statistically using the Chi-Square test and Fisher's Exact Test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of respondents had adequate knowledge (69%), negative attitudes (56%), and good management (78%). Bivariate testing showed a significant relationship between knowledge and management of primary dysmenorrhea (p = 0.027) and attitudes and management of primary dysmenorrhea (p = 0.000). Conclusion: Knowledge and attitudes are significantly associated with management of primary dysmenorrhea. The importance of continuing reproductive health education in schools needs to be increased to support more effective and independent management of menstrual pain.   Keywords: Adolescent Girls; Attitudes; Knowledge; Primary Dysmenorrhea.   Pendahuluan: Dismenore primer merupakan gangguan menstruasi yang sangat umum pada remaja putri, ditandai dengan nyeri haid tanpa kelainan organik. Kondisi ini berdampak pada aktivitas sekolah, produktivitas, dan kualitas hidup. Meskipun prevalensinya tinggi, banyak remaja yang belum mengelola keluhan tersebut secara efektif karena kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang mendukung. Upaya penatalaksanaan yang tepat sangat ditentukan oleh pemahaman dan persepsi pribadi terhadap nyeri haid. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri dalam mengelola dismenore primer. Metode: Penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 100 siswi kelas XI diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur pengetahuan, sikap, dan praktik penanganan dismenore primer. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan batas kemaknaan p < 0,05. Hasil: Mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup (69%), sikap negatif (56%), dan penanganan yang baik (78%). Uji bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dengan penanganan dismenore primer (p = 0.027) serta sikap dengan penanganan dismenore primer (p = 0.000). Simpulan: Pengetahuan dan sikap secara signifikan berhubungan dengan penatalaksanaan dismenore primer. Pentingnya edukasi kesehatan reproduksi berkelanjutan di lingkungan sekolah perlu ditingkatkan guna mendukung manajemen nyeri haid yang lebih efektif dan mandiri.   Kata Kunci: Dismenore Primer; Pengetahuan; Remaja Putri; Sikap.
Pengaruh sleeping bag elektrik terhadap suhu tubuh pada pasien pasca operasi di instalasi bedah sentral Nafiz, Muhammad Haekal; Mardiyono, Mardiyono; Widigdo, Dwi Ari Murti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1684

Abstract

Background: Postoperative hypothermia is a common complication in patients undergoing surgery under general anesthesia, characterized by a drop in body temperature below 36°C due to impaired thermoregulation, exposure to cold temperatures, unheated intravenous fluids, and prolonged surgery. Globally, its incidence reaches 5–15% and can lead to serious complications such as coagulation disorders, surgical site infections, prolonged recovery, and increased mortality. Prevention is achieved through warming intravenous fluids, the use of heating blankets, and continuous body temperature monitoring. An innovative electric sleeping bag is currently being developed as a more effective method for maintaining stable patient body temperature, increasing comfort, accelerating recovery, and reducing the risk of postoperative hypothermia. Purpose: To determine the effect of an electric sleeping bag on body temperature in postoperative patients. Method: This quantitative study, using a Research and Development (R&D) approach, was conducted at Assyifa Islamic Hospital in Sukabumi City. The study population consisted of 244 patients over the past five months, with a sample of 42 participants divided into intervention and control groups, each with 21 participants, and calculated using a simple random sampling technique. Data analysis was performed using a paired t-test to determine differences between the pretest and posttest. Results: Statistical analysis using a paired sample t-test showed that in the intervention group, the p-value was 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect of the electric sleeping bag on increasing the body temperature of postoperative patients. Conversely, in the control group, the p-value was 0.329 (p > 0.05), indicating no significant effect on changes in patient body temperature. Conclusion: The electric sleeping bag affected the increase in body temperature in postoperative patients in the intervention group (p-value 0.000), while there was no significant effect in the control group (p-value 0.329).   Keywords: Body Temperature; Electric Sleeping Bag; Hypothermia; Postoperative Patients.   Pendahuluan: Hipotermia pascaoperasi adalah komplikasi umum pada pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum, ditandai oleh penurunan suhu tubuh di bawah 36°C akibat gangguan termoregulasi, paparan suhu dingin, cairan infus tidak dipanaskan, dan lamanya operasi. Secara global, insidensinya mencapai 5–15% dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan koagulasi, infeksi luka operasi, perpanjangan pemulihan, serta peningkatan mortalitas. Pencegahan dilakukan melalui pemanasan cairan infus, penggunaan selimut pemanas, dan pemantauan suhu tubuh secara kontinu. Inovasi sleeping bag elektrik kini dikembangkan sebagai metode yang lebih efektif untuk menjaga kestabilan suhu tubuh pasien, meningkatkan kenyamanan, mempercepat pemulihan, dan menurunkan risiko hipotermia pascaoperasi. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh sleeping bag elektrik terhadap suhu tubuh pada pasien pasca operasi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan Research and Development (R&D), dilakukan di Rumah Sakit Islam (RSI) Assyifa Kota Sukabumi. Populasi penelitian berjumlah 244 pasien selama lima bulan terakhir dengan sampel 42 partisipan yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing 21 partisipan dan dihitung menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji Paired T-Test untuk melihat perbedaan pretest dan posttest Hasil: Uji statistik menggunakan Paired Samples Test menunjukkan bahwa, pada kelompok intervensi nilai p-value sebesar 0.000 (p < 0.05), sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan sleeping bag elektrik terhadap peningkatan suhu tubuh pasien pascaoperasi. Sebaliknya, pada kelompok kontrol diperoleh p-value sebesar 0.329 (p > 0.05), menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan terhadap perubahan suhu tubuh pasien. Simpulan: Sleeping bag elektrik berpengaruh terhadap peningkatan suhu tubuh pasien pascaoperasi pada kelompok intervensi (p-value 0.000), sedangkan tidak ada pengaruh yang signifikan pada kelompok kontrol (p-value 0.329).   Kata Kunci: Hipotermia; Pasien Pascaoperasi; Sleeping Bag Elektrik; Suhu Tubuh.
Kebijakan penanganan stunting pada anak usia 24-59 bulan: A scoping review Ahmad, Nurul Fauziah; Nugraheni, Sri Achadi; Winarni, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1235

Abstract

Background: Stunting is a condition where a child is physically too short for their age, which can cause problems for both their physical and cognitive abilities in the future. Stunting is known to be caused not only by the characteristics of the toddler but also by various factors, even beyond health, making stunting management policies crucial in overcoming stunting. Purpose: To map policies for managing stunting in children aged 24-59 months. Method: A scoping review was conducted using literature searches in the Science Direct and PubMed Central databases using the keywords "stunting AND policy OR treatment OR intervention OR reduction OR governance program OR policy report OR policy research AND children aged 24-59 months," resulting in 7,567 articles. These articles were then screened, resulting in nine articles that truly met the research objectives. Results: Policymakers in various countries have implemented a variety of stunting management policies, ranging from improving toddler diets, exclusive breastfeeding campaigns, improving maternal factors, improving health services, improving access to nutrition, to related agricultural policies, food security, and poverty alleviation. Conclusion: The incidence of stunting in toddlers in various countries is influenced by various factors, not just health, so its management requires support from various sectors. Stunting can be caused by the characteristics of the toddlers themselves, so treatment can include providing complementary feeding or improving the diet of children aged 6-23 months, as well as providing micronutrient powder containing iron. Furthermore, it is necessary to control maternal characteristics, such as the mother's age at marriage, the mother's education, and the mother's BMI during pregnancy.   Keywords: Policy; Stunting Management; Toddlers Aged 24-59 Months.   Pendahuluan: Stunting adalah kondisi ketika anak secara fisik terlalu pendek dibandingkan usianya yang dapat menimbulkan masalah baik bagi fisik itu sendiri maupun kemampuan kognitifnya di masa yang akan datang. Stunting diketahui tidak hanya disebabkan oleh karakteristik balita itu sendiri, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bahkan diluar kesehatan, sehingga kebijakan penanggulangan stunting menjadi penting dalam mengatasi stunting. Tujuan: Untuk memetakan kebijakan penanganan stunting pada anak usia 24-59 bulan. Metode: Penelitian scoping review dengan penelusuran literatur pada database Science Direct dan PubMed Central menggunakan kata kunci “stunting AND policy OR treatment OR intervention OR reduction OR governance program OR policy report OR policy research AND children age 24-59 months” yang menghasilkan 7,567 artikel. Selanjutnya dilakukan seleksi terhadap artikel-artikel tersebut, sehingga ditemukan 9 artikel yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil: Para pemangku kebijakan dari berbagai negara telah menerapkan berbagai macam kebijakan penanganan stunting, mulai dari perbaikan pola makan balita, kampanye pemberian ASI eksklusif, peningkatan faktor maternal ibu, perbaikan layanan kesehatan, perbaikan akses terhadap gizi, hingga kebijakan terkait pertanian, ketahanan pangan, dan pengentasan kemiskinan. Simpulan: Kejadian stunting pada balita di berbagai negara dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya kesehatan, sehingga dalam penanganannya juga memerlukan dukungan dari berbagai sektor. Stunting dapat disebabkan oleh karateristik balita itu sendiri, maka penanganannya dapat dilakukan melalui pemberian MP-ASI atau peningkatan pola makan pada anak usia 6-23 bulan hingga pemberian bubuk mikronutrien yang mengandung zat besi. Disamping itu, diperlukan pula pengendalian bagi karakteristik ibu, seperti usia ibu ketika menikah, pendidikan ibu, hingga BMI ibu ketika hamil.   Kata Kunci: Balita Usia 24-59 Bulan; Kebijakan; Penanganan Stunting.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi pada balita usia 6-23 bulan Koleangan, Fionita; Malonda, Nancy Swanida Henriette; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1275

Abstract

Background: Introduction: Toddlers are highly vulnerable to nutritional problems, as balanced nutritional intake determines their growth and development. One cause of nutritional problems is inappropriate food intake, particularly complementary foods, according to their age and needs, which impacts the nutritional status of toddlers. Purpose: To determine the relationship between the provision of complementary foods and nutritional status in toddlers aged 6-23 months. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach. Conducted in Minahasa Regency, specifically within the Kakas Community Health Center, this study was conducted from April to July 2025. The sample used was 76 toddlers who met the research criteria. The instrument used was the Child Feeding Questionnaire (CFQ) to measure the criteria for complementary feeding. Results: Based on the Weight-for-Age (W/A) index, 93.4% of toddlers had normal weight and 1.3% were underweight. Based on the Height-for-Age (H/A) index, 86.8% of toddlers had normal height and 11.8% experienced stunting. Based on the Weight-for-Age (W/A) index, 81.6% of toddlers had good nutritional status and 15.8% were overweight. In this study, 81.6% of toddlers were given appropriate complementary foods, and 18.4% were given inappropriate complementary foods. Conclusion: There is a relationship between the provision of complementary foods and toddler nutritional status (weight/weight ratio) (p-value = 0.032), and there is no relationship between the provision of complementary foods and nutritional status based on the weight/age index and height/age index. Suggestion: Respondents in this study, namely mothers of toddlers, should provide complementary foods with a complete and balanced diet (rice, side dishes, vegetables, fruit, and milk) every day, in the appropriate amounts and at the appropriate times. It is also hoped that mothers will take the time to regularly take their toddlers to the Integrated Health Post so that their children can be monitored and receive nutritional education.   Keywords: Complementary Foods; Nutritional Status; Toddler.   Pendahuluan: Balita sangat rentan dengan masalah gizi, karena keseimbangan asupan gizi dalam tubuh menentukan pertumbuhan dan perkembangannya. Salah satu penyebab masalah gizi yaitu asupan makan yang diberikan dalam hal ini pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dengan usia dan kebutuhannya, sehingga memengaruhi status gizi balita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi pada balita usia 6-23 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dilaksanakan di Kabupaten Minahasa tepatnya di wilayah kerja Puskesmas Kakas, penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli 2025. Sampel yang digunakan sebanyak 76 balita yang sesuai kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Child Feeding Questionnaire (CFQ) untuk mengukur kriteria MP-ASI. Hasil: Status gizi balita berdasarkan indeks BB/U, terdapat 93.4% balita yang memiliki berat badan normal dan 1.3% balita underweight.  Berdasarkan indeks PB/U, terdapat 86.8% balita dengan tinggi badan yang normal dan 11.8% balita stunting. Berdasarkan indeks BB/PB terdapat 81.6% balita dengan gizi baik dan balita dengan gizi lebih 15.8%. Pada penelitian ini, kategori pemberian MP-ASI tepat terdapat 81.6% balita dan 18.4% balita pada kategori pemberian MP-ASI tidak tepat. Simpulan: Terdapat hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi balita (indeks BB/PB) (p value = 0.032) dan tidak ada hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U dan Indeks PB/U. Saran: Bagi responden dalam penelitian ini yaitu ibu dari balita agar dapat memberikan MP-ASI dengan menu makanan seimbang yang lengkap (nasi, lauk, sayur, buah, dan susu) setiap hari dengan jumlah dan waktu pemberian makan yang tepat. Diharapkan juga ibu dapat meluangkan waktu untuk rutin membawa balita ke posyandu agar pemantauan balita akan selalu terpantau dan tentunya ibu mendapatkan edukasi terkait gizi.   Kata Kunci: Balita; Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI); Status Gizi.
Intervensi keluarga untuk menurunkan caregiver burden pada keluarga yang merawat penyintas stroke: Sebuah tinjauan sistematis Rahmawati, Ririn Setia; Kariasa, I Made; Aryani, Denissa Faradita; Maria, Riri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1452

Abstract

Background: Stroke often causes physical impairments and risk of disability, making patients highly dependent on caregivers for physical and emotional support. The complex caregiving role frequently leads to physical, psychological, and social pressures, known as caregiver burden, which negatively impacts caregiver well-being and patient care. Purpose: To identify interventions provided to stroke caregivers to reduce caregiver burden. Method: A systematic review was conducted following PRISMA guidelines on randomized controlled trials (RCTs) published in English between 2014 and 2024 with full-text availability. Pilot and feasibility studies were excluded. Literature searches were performed through Science Direct, Medline (via EBSCOhost), Sage Journals, Taylor & Francis, and Scopus. Results: Eleven studies with a total of 1,229 stroke caregivers were included. Identified interventions comprised psychoeducation, counseling, coaching, education, and training, all designed to alleviate caregiver burden. Conclusion: Family-based interventions are effective in reducing caregiver burden. Their implementation can be initiated during the acute phase in the hospital and continued through follow-up approaches such as telenursing after discharge. This review emphasizes the potential of family-based interventions as a comprehensive and sustainable strategy to support stroke caregivers.   Keywords: Caregiver Burden; Family Intervention; Stroke Survivors.   Pendahuluan: Stroke sering menimbulkan gangguan fisik dan risiko kecacatan sehingga pasien mengalami sangat bergantung pada caregiver dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional. Peran yang kompleks kerap menimbulkan tekanan fisik, psikologis, dan sosial, yang dikenal sebagai caregiver burden. Hal ini akan berdampak pada kesejahteraan caregiver dan kualitas perawatan pasien. Tujuan: Untuk mengidentifikasi intervensi keluarga untuk menurunkan caregiver burden pada keluarga yang merawat penyintas stroke. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan sesuai panduan PRISMA terhadap artikel Randomized Controlled Trial (RCT) berbahasa Inggris, terbit antara tahun 2014-2024, dan tersedia teks lengkap. Artikel pilot atau feasibility study dikecualikan. Penelusuran menggunakan database Science Direct, Medline (via EBSCOhost), Sage Journals, Taylor & Francis, dan Scopus. Hasil: Sebanyak 11 penelitian dengan 1,229 partisipan (caregiver pasien stroke) diikutkan. Berbagai intervensi keluarga teridentifikasi, antara lain psikoedukasi, konseling, coaching, edukasi, dan pelatihan, yang bertujuan menurunkan beban caregiver. Simpulan: Intervensi keluarga terbukti efektif menurunkan beban caregiver. Pelaksanaannya dapat dimulai sejak fase akut di rumah sakit dan dilanjutkan dengan follow-up seperti telenursing setelah pasien pulang. Tinjauan ini menegaskan bahwa pendekatan intervensi keluarga berpotensi menjadi strategi komprehensif dalam mendukung caregiver penyintas stroke secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Caregiver Burden; Intervensi Keluarga; Penyintas Stroke.
Faktor-faktor yang berkorelasi dengan stres kerja perawat di ruang rawat inap Cahyaningrum, Ika; Sutriningsih, Ani; Uni, Ostaleni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1475

Abstract

Background: Occupational stress is a common problem faced by nurses and can affect the quality of care, mental health, and work productivity. Purpose: To analyze factors correlated with occupational stress in nurses in the inpatient ward. Method: This study used a cross-sectional design and involved 84 nurses randomly selected from a total population of 118 nurses in the Inpatient Unit of Panti Waluyo Sawahan Regional Hospital. The instruments used were a questionnaire measuring respondent characteristics, the ISEL-12 social support questionnaire, and the Perceived Stress Scale (PSS) questionnaire measuring occupational stress. Results: Correlation tests showed no correlation between age (p=0.626), education level (p=0.244), and length of service (p=0.229) and nurses' occupational stress. However, there was a significant correlation between social support and nurses' stress (p<0.001; r=–0.449). The better the social support, the lower the level of occupational stress. Conclusion: There was no correlation between age, education level, and length of service with stress experienced by nurses in inpatient wards. However, there was a significant correlation between social support and the level of work stress experienced by nurses in inpatient wards. The better the social support provided, the lower the level of work stress experienced. Suggestion: Future research can examine other factors that may be associated with nurses' work stress, such as nurse workload, type of service, and workplace. Furthermore, hospital management is expected to implement interventions focused on improving nurses' well-being through emotional support, such as providing counseling services, sharing forums, and maintaining workload balance to address nurses' work stress.   Keywords: Inpatient Wards; Nurses; Work Stress.   Pendahuluan: Stres akibat pekerjaan adalah masalah yang sering dihadapi oleh perawat dan dapat memengaruhi mutu pelayanan, kesehatan mental, serta produktivitas kerja. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang berkorelasi dengan stres kerja perawat di ruang rawat inap. Metode: Studi ini menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan 84 perawat yang dipilih secara acak dari total populasi sebanyak 118 perawat di unit Rawat Inap Rumah Sakit Panti Waluyo Sawahan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang mengukur karakteristik responden, kuesioner dukungan sosial ISEL-12, dan kuesioner yang mengukur stres kerja yaitu Perceived Stress Scale (PSS). Hasil: Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara usia (p=0.626), tingkat pendidikan  (p=0.244), dan masa kerja (p=0.229) dengan stres kerja perawat. Namun, terdapat korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dan stres yang dialami oleh perawat (p<0.001; r=–0.449), semakin baik dukungan sosial, maka semakin rendah tingkat stres kerja. Simpulan:  Tidak ada korelasi antara usia, tingkat pendidikan, dan masa kerja dengan stres yang dialami oleh perawat di ruang rawat inap. Namun, terdapat korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dan tingkat stres kerja perawat di ruang rawat inap. Semakin baik dukungan sosial yang diberikan, maka semakin rendah pula tingkat stres kerja yang dialami. Saran:  Penelitian selanjutnya dapat meneliti faktor lain yang mungkin berhubungan dengan stres kerja perawat, seperti beban kerja perawat, jenis pelayanan, dan tempat bekerja. Selain itu, diharapkan pihak menejemen rumah sakit dapat melakukan intervensi yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan perawat melalui dukungan emosional, misalnya menyediakan layanan konseling, forum sharing, dan untuk menjaga keseimbangan beban kerja untuk mengatasi stres kerja perawat.   Kata Kunci: Perawat; Ruang Rawat Inap; Stres Kerja.  
Hubungan tingkat pengetahuan pasien dengan kejadian diabetes melitus tipe II Harkensia, Linur Steffi; Mauliza, Rizky; Drissianti, Putri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1503

Abstract

Background: Type II diabetes mellitus is a global health problem with a steadily increasing incidence, particularly in developing countries. Low patient knowledge contributes to poor disease prevention and management. Purpose: To analyze the relationship between patient knowledge levels and the incidence of type II diabetes mellitus. Method: This study used a descriptive design with a cross-sectional approach, conducted at North Aceh Hospital from February to May 2025. The sample consisted of 93 respondents selected through simple random sampling from a population of 1,296. Knowledge was measured using the DKQ-24 instrument, while diabetes status was determined by blood glucose levels. The correlation analysis was performed using the chi-square test. Results: The majority of respondents were female, aged 40–65, had secondary education, and worked as traders. Most respondents had low levels of knowledge, and most had diabetes. Statistical tests showed a significant association between knowledge level and the incidence of type II diabetes mellitus (p = 0.001; α = 0.01). Conclusion: Patient knowledge is crucial in preventing and controlling type 2 diabetes mellitus. Targeted, simple, and socio-culturally appropriate health education interventions should be prioritized, particularly in high-risk groups, to promote healthy behaviors and reduce the incidence of diabetes.   Keywords: Diabetes Incidence; Health Education; Patient Knowledge; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Diabetes melitus tipe II merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan angka kejadian yang terus meningkat, terutama di negara berkembang. Rendahnya tingkat pengetahuan pasien berkontribusi pada rendahnya pencegahan dan pengelolaan penyakit. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan kejadian diabetes melitus tipe II. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan potong lintang, dilaksanakan di Rumah Sakit Aceh Utara pada periode Februari-Mei 2025. Sampel terdiri dari 93 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari 1.296 populasi. Variabel pengetahuan diukur dengan instrumen DKQ-24, sedangkan status diabetes diperoleh melalui pemeriksaan kadar glukosa darah. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas responden berusia 40–65 tahun, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan menengah, dan berprofesi sebagai pedagang. Tingkat pengetahuan sebagian besar responden berada pada kategori rendah, dan sebagian besar mengalami diabetes. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kejadian diabetes melitus tipe II (p = 0.001; α = 0.01). Simpulan: Pengetahuan pasien berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe II. Intervensi edukasi kesehatan yang terarah, sederhana, dan sesuai dengan latar belakang sosial serta budaya pasien perlu diprioritaskan, khususnya pada kelompok berisiko tinggi, untuk meningkatkan perilaku sehat dan menekan angka kejadian diabetes.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe II; Edukasi Kesehatan; Kejadian Diabetes; Pengetahuan Pasien.  
Efektivitas penerapan audit maternal perinatal surveilans responsif (AMPSR) dalam mengidentifikasi faktor risiko kematian ibu Khalidah, Khalidah; Utama, Reka Julia; Fajarina, Mira; Kartikasari, Komala; Saputra, Mahruri; Ristiani, Ristiani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1537

Abstract

Background: Maternal mortality remains a major challenge in Indonesia's health system, including in Banda Aceh. Responsive Maternal Perinatal Surveillance Audits (AMPSR) are recognized as a crucial strategy for reducing maternal mortality, but their implementation is often hampered by poor documentation quality, follow-up, and interprofessional team involvement. A Point of Care Quality Improvement (POCQI) approach is proposed to strengthen the audit's effectiveness. Purpose: To evaluate the effectiveness of the implementation of maternal perinatal audit responsive surveillance (AMPSR) in identifying risk factors for maternal mortality. Method: The study used a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with a sample of 16 AMPSR team members at three healthcare facilities (Meuraxa Regional Hospital, Banda Aceh Women's Hospital, and Meuraxa Community Health Center). Data were collected through audit forms, compliance checklists, and POCQI questionnaires, then analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and logistic regression. Results: POCQI training significantly improved knowledge (p=0.001), practice and documentation (p=0.001), audit effectiveness (p=0.000), and perceived barriers and support (p=0.025). Multivariate analysis showed that practice and documentation were the dominant factors influencing the effectiveness of AMPSR implementation (OR=4.75; p=0.017). Conclusion: The implementation of the POCQI-based AMPSR has proven effective in strengthening the capacity of interprofessional teams and improving the quality of maternal audits. This strategy has the potential to become a sustainable approach to maternal mortality prevention in Indonesia.   Keywords: Maternal Mortality; Maternal Perinatal Surveillance Responsive Audit (AMPSR); Risk Factors.   Pendahuluan: Angka kematian ibu masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan di Indonesia, termasuk di Kota Banda Aceh. Audit Maternal Perinatal Surveilans Responsif (AMPSR) diakui sebagai strategi penting untuk menurunkan angka kematian maternal, namun pelaksanaannya sering terkendala kualitas dokumentasi, tindak lanjut, serta keterlibatan tim lintas profesi. Pendekatan Point of Care Quality Improvement (POCQI) ditawarkan untuk memperkuat efektivitas audit. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas penerapan audit maternal perinatal surveilans responsif (AMPSR) dalam mengidentifikasi faktor risiko kematian ibu. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment one group pretest-posttest dengan sampel 16 anggota tim AMPSR di tiga fasilitas kesehatan (RSUD Meuraxa, RSIA Banda Aceh, dan Puskesmas Meuraxa). Data dikumpulkan melalui formulir audit, checklist kepatuhan, dan kuesioner POCQI, kemudian dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan regresi logistik. Hasil: Pelatihan POCQI meningkatkan secara signifikan pengetahuan (p=0.001), praktik dan dokumentasi (p=0.001), efektivitas audit (p=0.000), serta persepsi hambatan dan dukungan (p=0.025). Analisis multivariat menunjukkan bahwa praktik dan dokumentasi merupakan faktor dominan yang memengaruhi efektivitas penerapan AMPSR (OR=4.75; p=0.017). Simpulan: Penerapan AMPSR berbasis POCQI terbukti efektif dalam memperkuat kapasitas tim lintas profesi dan meningkatkan kualitas audit maternal. Strategi ini berpotensi menjadi pendekatan berkelanjutan dalam pencegahan kematian ibu di Indonesia.   Kata Kunci: Audit Maternal Perinatal Surveilans Responsif (AMPSR); Faktor Risiko; Kematian Ibu.