cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Efektivitas storytelling digital berbasis kearifan lokal meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap triad reproduksi Marlina, Marlina; Elis, Andi; Darwin, Devi; Haris, Risma; Irma, Irma; Badawi, Badriani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1637

Abstract

Background: Challenges in adolescent reproductive health, particularly the adolescent reproductive health triad (sexuality, HIV/AIDS, and substance abuse), are a global health concern. Traditional health education approaches are unable to address the learning preferences of Generation Z, who are digital natives. This requires culturally responsive and technology-based interventions. Purpose: To evaluate the effectiveness of local wisdom-based digital storytelling in improving adolescents' knowledge and attitudes towards the reproductive triad. Method: A quasi-experimental pre-test and post-test design with a mixed-methods approach was used in this study. Adolescent girls were randomly assigned to either an experimental group (digital storytelling integrating Sipakatau-Sipakainge values) or a control group (conventional lecture and discussion). The study was conducted from August to September 2025 at two schools: SMP Negeri 3 Makassar and SD Pabundukan, Gowa Regency. Knowledge, attitudes, and behaviors related to the reproductive health triad were measured using a validated questionnaire. Qualitative data was collected through focus group discussions and in-depth interviews. Data analysis included descriptive and inferential statistics, with N-Gain scores calculated for effectiveness comparisons. Results: Digital storytelling demonstrated superior effectiveness with high N-Gain scores for HIV knowledge (0.71) and substance abuse (1.00) compared to conventional methods, which showed moderate to low scores (0.30 and 0.25). Sexuality knowledge achieved a moderate increase (0.50 vs. 0.33). Qualitative findings revealed a 76% preference for visual and interactive learning modalities. The digital approach demonstrated consistent effectiveness across all domains with no low scores, while conventional methods showed deficits in substance abuse education. Conclusion: Digital storytelling based on local wisdom significantly outperformed conventional health education in addressing adolescent reproductive health challenges among Generation Z learners.   Keywords: Adolescents; Attitudes; Digital Storytelling; Knowledge; Local Wisdom; Reproductive Health.   Pendahluan: Tantangan kesehatan reproduksi remaja, khususnya triad kesehatan reproduksi remaja (masalah seksualitas, HIV/AIDS, dan penyalahgunaan zat), menjadi perhatian kesehatan global. Pendekatan edukasi kesehatan tradisional tidak mampu mengatasi preferensi belajar generasi Z yang merupakan digital natives. Hal ini memerlukan intervensi yang responsif secara budaya dan berbasis teknologi. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas storytelling digital berbasis kearifan lokal meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap triad reproduksi. Metode: Desain kuasi-eksperimental pre-test; post-test dengan pendekatan mixed-methods digunakan dalam penelitian ini. Remaja putri dibagi secara acak ke dalam kelompok eksperimen (storytelling digital yang mengintegrasikan nilai Sipakatau-Sipakainge) atau kelompok kontrol (ceramah-diskusi konvensional). Penelitian dilakukan pada buluan Agustus-September 2025 di dua sekolah yaitu SMP Neger 3 Makassar dan SD Pabundukan Kabupatan Gowa. Pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait triad kesehatan reproduksi diukur menggunakan kuesioner tervalidasi. Data kualitatif dikumpulkan melalui diskusi kelompok terpumpun dan wawancara mendalam. Analisis data meliputi statistik deskriptif dan inferensial dengan menghitung skor N-Gain untuk perbandingan efektivitas. Hasil: Storytelling digital menunjukkan efektivitas superior dengan skor N-Gain kategori tinggi untuk pengetahuan HIV (0.71) dan penyalahgunaan zat (1.00) dibandingkan metode konvensional yang menunjukkan kategori sedang hingga rendah (0.30 dan 0.25). Pengetahuan seksualitas mencapai peningkatan sedang (0.50 vs 0.33). Temuan kualitatif mengungkapkan 76% preferensi terhadap modalitas pembelajaran visual dan interaktif. Pendekatan digital menunjukkan efektivitas konsisten di semua domain tanpa aspek berkategori rendah, sementara metode konvensional menunjukkan defisit dalam edukasi penyalahgunaan zat. Simpulan: Storytelling digital berbasis kearifan lokal secara signifikan lebih unggul dibandingkan edukasi kesehatan konvensional dalam mengatasi tantangan kesehatan reproduksi remaja pada pembelajar Generasi Z.   Kata Kunci: Kearifan Lokal; Kesehatan Reproduksi; Pengetahuan; Remaja; Sikap; Storytelling Digital.
Analisis metode deflasi torniquet langsung, bertahap, dan intermittent terhadap perubahan tekanan darah pada pasien operasi total knee arthroplasty Hidayah, Nurul; Hidayat, Wahyu; Mu’alim, Aziz; Purwanto, Edy; Dianita, Eka Mei; Azizah, Erliana Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1645

Abstract

Background: The use of an arterial tourniquet is common practice in total knee arthroplasty because it helps create a clearer surgical field. However, tourniquet release often triggers hemodynamic disturbances that can threaten patient stability. Although this issue has important clinical implications, there are currently no clear guidelines regarding the safest deflation technique. Purpose: For the analysis of direct, gradual, and intermittent torquette deflation methods on blood pressure changes in total knee arthroplasty patients. Method: This quasi-experimental study with a three-group pre-post design was conducted at the Central Surgical Installation of Dr. Soedono East Java Provincial General Hospital from June to September 2025. A total of 45 patients aged 50–85 years (15 per group), all normotensive and undergoing spinal anesthesia, were consecutively recruited. Blood pressure was recorded using a standardized observation sheet. Data analysis was performed using one-way ANOVA with planned follow-up. Results: Initial systolic and diastolic blood pressures showed no differences between groups (systolic: F=1.002, p=0.369; diastolic: F=0.940, p=0.399). After deflation, the immediate deflation method produced a significantly greater decrease in blood pressure than either the stepwise or intermittent methods. Mean systolic blood pressures were 109.00 mmHg (immediate), 130.60 mmHg (stepwise), and 129.87 mmHg (intermittent) (F=26.639, p<0.001). Mean diastolic blood pressures were 73.33 mmHg, 79.87 mmHg, and 80.33 mmHg, respectively (F=5.513, p=0.007). No significant differences were found between the stepwise and intermittent methods in post-hoc tests. Conclusion: A controlled tourniquet deflation approach, whether gradual or intermittent, is more effective in reducing the rate of hypotension after removal. Conversely, immediate deflation is more likely to cause a sharp drop in blood pressure. These results support the adoption of controlled deflation techniques as standard practice to improve perioperative stability and can serve as a basis for the development of institutional and national guidelines for safer tourniquet management.   Keywords: Blood Pressure; Tourniquet Deflation Method; Total Knee Arthroplasty (TKA) Patients.   Pendahuluan: Penggunaan tourniquet arteri merupakan praktik umum dalam tindakan total knee arthroplasty karena membantu menciptakan lapangan operasi yang lebih jelas. Namun, pelepasan tourniquet sering memicu gangguan hemodinamik yang dapat mengancam stabilitas pasien. Meskipun masalah ini memiliki implikasi klinis yang penting, hingga kini belum terdapat panduan yang jelas mengenai teknik deflasi yang paling aman. Tujuan: Untuk analisis metode deflasi torniquet langsung, bertahap, dan intermittent terhadap perubahan tekanan darah pada pasien operasi total knee arthroplasty. Metode: Penelitian quasi-eksperimental dengan desain tiga kelompok pre–post ini dilaksanakan di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Soedono pada bulan Juni-September 2025. Sebanyak 45 pasien berusia 50–85 tahun (masing-masing 15 per kelompok), seluruhnya normotensif dan menjalani anestesi spinal, direkrut secara konsekutif. Tekanan darah dicatat menggunakan lembar observasi terstandar. Analisis data dilakukan menggunakan one-way ANOVA dengan uji lanjut terencana. Hasil: Tekanan darah sistolik dan diastolik awal, tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok (sistolik: F=1.002, p=0.369; diastolik: F=0.940, p=0.399). Setelah deflasi, metode deflasi segera menghasilkan penurunan tekanan darah yang secara signifikan lebih besar dibandingkan metode bertahap maupun intermittent. Rerata sistolik tercatat 109.00 mmHg (langsung), 130.60 mmHg (bertahap), dan 129,87 mmHg (intermiten) (F=26.639, p<0.001). Rerata diastolik masing-masing 73.33 mmHg, 79.87 mmHg, dan 80,33 mmHg (F=5.513, p=0.007). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara metode bertahap dan intermittent pada uji post-hoc. Simpulan: Pendekatan deflasi tourniquet yang terkontrol, baik secara bertahap maupun intermittent lebih mampu mengurangi derajat hipotensi setelah pelepasan. Sebaliknya, deflasi langsung lebih berpotensi menimbulkan penurunan tekanan darah yang tajam. Hasil ini mendukung penerapan teknik deflasi terkontrol sebagai praktik standar untuk meningkatkan stabilitas perioperatif serta dapat menjadi dasar pengembangan pedoman institusional maupun nasional terkait manajemen tourniquet yang lebih aman.   Kata Kunci: Metode Deflasi Tourniquet; Pasien Total Knee Arthroplasty (TKA); Tekanan Darah.
Implementasi budaya ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin (5R) di ruang rawat inap rumah sakit Susilowati, Margareta; Handiyani, Hanny; Afriyani, Tuti; Wildani, Andi Amalia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1651

Abstract

Background: The implementation of a work culture of concise, neat, clean, attentive, and diligent is a proven adaptation of lean management that improves service quality, patient safety, and operational efficiency. However, its implementation in hospitals is often suboptimal. Purpose: To analyze the implementation of concise, neat, clean, attentive, and diligent in hospital inpatient wards. Method: A case study survey of residency reports was conducted from May to June 2025, using interviews with five Nurse Unit Managers (NUMs), questionnaires with 115 nurses, and field observations. The analysis used fishbone and SWOT analysis, with interventions designed following Kurt Lewin's theory of change. Results: Staff compliance with the 5Rs increased from 61% to 83% post-intervention, while patient/family engagement increased from 35% to over 60%. The pilot unit's standardization of ward layouts was also accompanied by enhanced supervision and the use of visual educational media (posters, leaflets, QR codes). Conclusion: Implementing a structured and collaborative work culture can improve ward order, increase staff compliance, and encourage patient participation. Follow-up actions are recommended through program integration into hospital SOPs, utilization of digital monitoring, and replication of standard layouts across all units.   Keyword: Inpatient Wards; Nursing Management; Patient Safety; Work Culture.   Pendahuluan: Penerapan budaya kerja ringkas, rapi, resik, rawat, rajin (5R) merupakan adaptasi lean management terbukti meningkatkan mutu layanan, keselamatan pasien, serta efisiensi operasional, namun implementasinya di rumah sakit sering belum optimal. Tujuan: Untuk menganalisis implementasi ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin (5R) di ruang rawat inap rumah sakit. Metode: Penelitian survey case study laporan residensi, dilaksanakan pada Mei-Juni 2025, melalui wawancara dengan 5 Nurse Unit Manager (NUM), kuesioner terhadap 115 perawat, serta observasi lapangan. Analisis menggunakan fishbone dan SWOT, dengan intervensi yang dirancang mengikuti teori perubahan Kurt Lewin.  Hasil: Tingkat kepatuhan staf terhadap 5R meningkat dari 61% menjadi 83% pasca intervensi, sementara keterlibatan pasien/keluarga naik dari 35% menjadi lebih dari 60%. Uji coba standarisasi layout ruang rawat di unit pilot juga disertai penguatan supervisi dan penggunaan media edukasi visual (poster, leaflet, QR-code). Simpulan: Pelaksanaan 5R secara terstruktur dan kolaboratif mampu memperbaiki keteraturan ruang rawat, meningkatkan kepatuhan staf, danmendorong partisipasi pasien. Tindak lanjut disarankan melalui integrasi program ke dalam SPO rumah sakit, pemanfaatan monitoring digital, serta replikasi layout standar ke seluruh unit.   Kata Kunci: Budaya Kerja 5R; Manajemen Keperawatan; Keselamatan Pasien; Ruang Rawat Inap.
Pengaruh edukasi berbasis android terhadap peran dan tugas keluarga dalam merawat pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Surani, Vincencius; Windahandayani, Veroneka Yosefpa; Pranata, Lilik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1652

Abstract

Background: Hemodialysis patients require regular medical care and complex lifestyle changes. The family's role in caring for hemodialysis patients is not only practical (e.g., transporting patients, assisting with medication management), but also includes emotional support, self-care education, monitoring for signs of complications, and coordinating healthcare services. Purpose: To analyze the effect of android-based education on family roles and tasks in caring for chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Method: This quantitative study used a quasi-experimental design with a non-equivalent control group. It was conducted among families of hemodialysis patients at a Palembang City Hospital from June to August 2025. Consecutive sampling was used to select 70 respondents, divided into 35 participants in the intervention group and 35 in the control group. The intervention group received android-based education, while the control group received no treatment. The independent variable in this study was android-based education, while the dependent variable was family roles and tasks. Univariate and bivariate data analysis was conducted. Statistical tests were conducted using the Mann-Whitney U test. Results: Android-based education significantly improved family roles and responsibilities in caring for hemodialysis patients (p-value 0.000). Conclusion: Android-based educational intervention significantly improved family roles and responsibilities in caring for hemodialysis patients.   Keywords: Android; Education; Family; Hemodialysis.   Pendahuluan: Pasien hemodialisis memerlukan perawatan medis teratur dan perubahan gaya hidup yang kompleks. Peran keluarga dalam merawat pasien hemodialisis tidak hanya bersifat praktikal (misalnya mengantar pasien, membantu pengaturan obat), tetapi juga meliputi dukungan emosional, edukasi tentang perawatan diri, pemantauan tanda-tanda komplikasi, dan koordinasi layanan Kesehatan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh edukasi berbasis android terhadap peran dan tugas keluarga dalam merawat pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain quasy-exsperimental with non-equivalent control group, dilakukan pada responden keluarga pasien hemodialisis di Rumah Sakit Kota Palembang, dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2025. Teknik pengambilan sampel secara consequtive sampling, didapatkan 70 responden yang terbagi dalam kelompok intervensi sebanyak 35 dan kelompok kontrol 35. Kelompok intervensi diberikan edukasi berbasis android, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah edukasi berbasis android, sedangkan variabel dependen yaitu peran dan tugas keluarga. Analisis data univariat dan bivariat. Uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney U Test. Hasil: Edukasi berbasis android memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan peran dan tugas keluarga dalam merawat pasien hemodialisis (p-value 0.000). Simpulan: Ada pengaruh yang signifikan untuk intervensi edukasi berbasis android terhadap peningkatan peran dan tugas keluarga dalam merawat pasien hemodialisis.   Kata Kunci: Android; Edukasi; Hemodialisis; Keluarga.
Hubungan pelaksanaan edukasi oleh perawat tentang hand hygiene dengan tingkat pengetahuan keluarga pasien Sakinah, Aulia; Erianti, Susi; Lita , Lita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1656

Abstract

Background: Implementing hand hygiene education is an important step in preventing the spread of infection in the hospital environment. The patient's family as companions has a role in maintaining hand hygiene, but the level of knowledge of the patient's family is often still low. This study aims to determine the relationship between the implementation of hand hygiene education and the level of knowledge of patient families. Purpose: To determine the relationship between the implementation of hand hygiene education and the level of knowledge of the patient's family. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach, conducted in December 2024 at Arifin Achmad Regional General Hospital, Riau. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 90 respondents. The independent variable in this study was hand hygiene education, while the dependent variable was the level of knowledge. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the chi-square test. Results: The implementation of education went well with 76 (84.45) respondents and had a good level of knowledge with 59 (65.6%) respondents. The statistical test results showed a p-value of 0.225 (>0.05), meaning that there was no significant relationship between the implementation of hand hygiene and the knowledge level of patients' families. Conclusion: There was no significant relationship between the implementation of education by nurses on hand hygiene and the knowledge level of patients' families.   Keywords: Education; Family; Hand Hygiene; Knowledge.   Pendahuluan: Pelaksanaan edukasi hand hygiene merupakan langkah penting dalam mencegah penyebaran infeksi di lingkungan rumah sakit. Keluarga pasien sebagai pendamping memiliki peran dalam menjaga kebersihan tangan, namun tingkat pengetahuan keluarga pasien sering kali masih rendah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pelaksanaan edukasi hand hygiene dengan tingkat pengetahuan keluarga pasien. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan Desember 2024 di RSUD Arifin Achmad, Riau. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 90 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah edukasi hand hygiene, sedangkan variabel dependen adalah tingkat pengetahuan. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Pelaksaan edukasi berjalan dengan baik 76 (84.45) dan memiliki tingkat pengetahuan yang baik pula 59 (65.6%). Hasil uji statistik menunjukkan p-value 0.225 (>0.05), artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pelaksanaan hand hygiene dengan tingkat pengetahuan keluarga pasien. Simpulan: Tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara pelaksanaan edukasi oleh perawat tentang hand hygiene dengan tingkat pengetahuan keluarga pasien.   Kata Kunci: Edukasi; Hand Hygiene; Keluarga; Pengetahuan.
Analisis determinan faktor yang memengaruhi self management pada klien dengan hipertensi Sari, Yunita; Sari, Kirana Candra; Putri, Prystia Riana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1676

Abstract

Background: Hypertension is a condition in which both systolic and diastolic blood pressure exceed the normal range, as indicated by three measurements. Hypertension is a chronic non-communicable disease (NCD) requiring lifelong treatment, including risk factor management, activity management, nutrition/diet, and medication. Therefore, hypertension requires long-term treatment. Involving those closest to the patient, namely the family, is one strategy to assist in the management of hypertensive patients. Purpose: To analyze the determinants influencing self-management in clients with hypertension. Method: This descriptive correlational study used a cross-sectional approach. The population used in this study were hypertensive patients undergoing treatment at the Mandala Community Health Center. The diagnosis of hypertension was confirmed using secondary data from the Community Health Center. The sampling technique used was purposive sampling, and data collection was carried out using a questionnaire. The data were then analyzed using the chi-square test. Results: A p-value of 0.012 was obtained for the variables age, gender 0.01, income 0.017, and marital status 0.042. This indicates a relationship between the variables of age, gender, income, and marital status and hypertension self-management. Conclusion: There is a relationship between the variables of age, gender, income, and marital status and hypertension self-management (p-value <0.05). Suggestion: Educational programs are needed to improve self-management and increase confidence in patients' perceptions of hypertension susceptibility and severity.   Keywords: Adherence; Hypertension; Self-Management.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan sistol dan diastole melebihi normal yang diindikasi kandengan 3x pengukuran. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) dan bersifat kronis sehingga memerlukan pengobatan seumur hidup, baik dari segi pengendalian faktor risiko, kontrol aktivitas, nutrisi/diit, maupun pengobatannya. Oleh karena itu, penyakit hipertensi membutuhkan pengobatan jangka panjang. Pendekatan dengan orang terdekat, yaitu keluarga merupakan salah satu strategi untuk membantu tata laksana penanganan pasien hipertensi. Tujuan: Untuk menganalisis determinan faktor yang memengaruhi self management pada klien dengan hipertensi. Metode: Penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penderita hipertensi yang sedang menjalani pengobatan di Puskesmas Mandala. Penegakan diagnosa hipertensi dibuktikan dari data sekunder Puskesmas. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner, selanjutnya data di analisis melalui uji chi square. Hasil: Didapatkan p value 0.012 pada variabel umur, jenis kelamin 0.01, penghasilan 0.017, dan status pernikahan 0.042. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel umur, jenis kelamin, penghasilan, dan status pernikahan terhadap self management hipertensi. Simpulan: Adanya hubungan antara variabel umur, jenis kelamin, penghasilan, dan status pernikahan terhadap self management hipertensi (p-value < 0.05). Saran: Perlu pengembangan program edukasi untuk meningkatkan self management dan meningkatkan keyakinan tentang persepsi kerentanan dan tingkat keparahan bagi pasien hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Kepatuhan; Self Management.
Pengembangan e-booklet petani tanggap gigitan hewan berbisa (Tangkas) dalam meningkatkan keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan Dianita, Eka Mei; Siswati, Siswati; Azizah, Erliana Nur; Fattah, Muhammad Awalu; Wiritanaya, Bunga; Amelia, Nisa; Aprilia, Nur Panca; Ulumuddin, Abdillah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1678

Abstract

Background: Venomous snakebite is a high-priority neglected tropical disease, particularly affecting rural communities. Venomous snakebites cause approximately 500,000 permanent disabilities annually worldwide. Venomous animal bites primarily affect agricultural workers in rural areas due to the high risk of being bitten by a venomous animal. Several cases of venomous snakebite victims have been reported, most often identified as cobras. Farmers lack access to optimal information on first aid for venomous animal bites. This poses a threat to the health and occupational safety of rural farmers if bitten by a venomous animal. Purpose: To develop an e-booklet on Venomous Animal Bites for farmers to improve the health and occupational safety of rural farmers. Method: The research and development (RnD) design consisted of four steps: a descriptive exploratory survey to disseminate farmers' knowledge and attitudes regarding first aid for venomous animal bites; development of health education media through Focus Group Discussions (FGDs); expert consultation; and feasibility testing of the e-booklet. The population in this study was residents of Marmoyo Village, Kabuh District, Jombang Regency. The inclusion criteria for the sample were farmers and the ability to operate a smartphone. Results: Most respondents (290) (74.9%) occasionally saw snakes, 372 (96.1%) had never encountered a snake, and 287 (74.2%) did not know first aid. Most respondents (234) (60.6%) had moderate knowledge, and 343 (88.9%) had negative attitudes. The analysis showed a significant relationship between knowledge (p = 0.248) and attitude (p = 0.001) regarding snakebite management. The better the knowledge and attitude, the more appropriate the actions taken in snakebite management. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and attitude regarding snakebite management. Empowering farmers with skills in providing first aid for animal bites through digital education, including e-booklets, integrating snakebite management into public health initiatives, and involving the local community. Suggestion: Health students should be actively involved in designing and implementing health education on snakebite prevention for patients, families, and the community.   Keywords: E-book; Farmers; Occupational Health and Safety; Rural Areas; Venomous Animal Bite Response.   Pendahuluan: Gigitan ular berbisa merupakan penyakit tropis terabaikan yang menjadi prioritas tinggi, sebagian besar menyerang masyarakat pedesaan. Gigitan ular berbisa menyebabkan sekitar 500,000 kecatatan permanen di setiap tahunnya di seluruh dunia. Gigitan hewan berbisa sebagian besar memengaruhi pekerjaan pertanian di daerah pedesaan karena meraka memiliki risiko tinggi terkena gigitan hewan berbisa. Terdapat beberapa kasus korban gigitan ular berbisa, lebih banyak teridentifikasi sebagai ular kobra. Petani belum memiliki akses informasi yang optimal tentang pertolongan pertama gigitan hewan berbisa. Hal ini menjadi ancaman terhadap keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan jika tergigit hewan berbisa. Tujuan: Untuk pengembangan e-booklet petani  tanggap gigitan hewan berbisa (Tangkas)  dalam meningkatkan keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan. Metode: Desain penelitian Research and Development (RnD), terbagi menjadi 4 langkah, yaitu survei deskriptif eksplorasi untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap pertolongan pertama gigitan hewan berbisa; pengembangan media pendidikan kesehatan melalui Focus Group Discussion (FGD); konsul pakar; dan uji kelayakan e-booklet. Populasi dalam penelitian ini adalah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang dengan kriteria inklusi sampel yaitu seorang petani dan dapat mengoperasikan smartphone. Hasil: Sebagian besar responden kadang-kadang melihat ular sebanyak 290 responden (74.9%), sebanyak 372 responden (96.1%) tidak pernah digigit ular, dan sebanyak 287 responden tidak mengetahui pertolongan pertama (74.2%). Tingkat pengetahuan responden mayoritas pada kategori sedang sebanyak 234 (60.6%) dan memiliki sikap yang negatif sebanyak 343 (88.9%). Hasil  analisis  menunjukkan  terdapat  hubungan  signifikan  antara  pengetahuan (p  =  0.248) dan  sikap (p  =  0.001) terhadap penanganan gigitan ular. Semakin baik pengetahuan dan sikap, semakin tepat pula tindakan yang dilakukan dalam menangani gigitan ular. Simpulan: Terdapat  hubungan  signifikan  antara  pengetahuan  dan  sikap terhadap penanganan gigitan ular. Pemberdayaan petani dengan keterampilan dalam mengelola pertolongan pertama gigitan hewan melalui edukasi digital, termasuk e-booklet mengintegrasikan manajemen gigitan ular ke dalam inisiatif kesehatan masyarakat dan melibatkan masyarakat setempat. Saran: Mahasiswa kesehatan harus terlibat aktif dalam merancang dan mengimplementasikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan gigitan ular bagi pasien, keluarga dan masyarakat.   Kata Kunci: E-booklet; Keselamatan Kesehatan Kerja; Pedesaan; Petani; Tanggap Gigitan Hewan Berbisa (Tangkas).
Efektivitas promosi kesehatan gigi dan mulut menggunakan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan pada pra lansia dan lansia Putri, Ghaida Humaira Susilo; Intiasari, Arih Diyaning; Aji, Budi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1699

Abstract

Background: Oral health is an integral part of overall health. In pre-elderly and elderly individuals, cognitive decline and low education levels often lead to low awareness and knowledge about maintaining dental and oral hygiene. One way to increase knowledge is through education using leaflets. Purpose: To determine the effectiveness of dental and oral health promotion using leaflets on knowledge levels in pre-elderly and elderly individuals. Method: This study used a quasi-experimental design with a one-group pre-test post-test on 36 pre-elderly and elderly respondents selected using a total sampling technique. The research instrument was an eight-item questionnaire, and data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank test. Results: The average knowledge score of respondents increased from 4.53 before the intervention to 6.50 after the leaflet education. The Wilcoxon test showed a p-value of 0.000 (p<0.05), indicating a significant difference between knowledge before and after the intervention. Conclusion: Education using leaflets is effective in increasing knowledge about dental and oral health among pre-elderly and elderly people because it conveys information in an engaging, clear, and easy-to-understand manner. Recommendation: A combination of leaflets with an audiovisual approach and improved practices, such as brushing and denture care, and follow-up evaluation to measure long-term behavior changes are needed.   Keywords: Dental and Oral Health; Elderly; Knowledge; Health Promotion; Media Leaflets.   Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pada pra lansia dan lansia, penurunan fungsi kognitif dan rendahnya tingkat pendidikan sering menyebabkan rendahnya pengetahuan serta kesadaran dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Salah satu upaya peningkatan pengetahuan dapat dilakukan melalui penyuluhan menggunakan media leaflet. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas promosi kesehatan gigi dan mulut menggunakan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan pada pra lansia dan lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan rancangan one group pre-test post-test pada 36 responden pra lansia dan lansia yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner delapan butir pertanyaan, dan data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan responden meningkat dari 4.53 sebelum intervensi menjadi 6.50 setelah diberikan penyuluhan menggunakan leaflet. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p 0.000 (p<0.05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Penyuluhan menggunakan media leaflet efektif dalam meningkatkan pengetahuan pra lansia dan lansia tentang kesehatan gigi dan mulut karena mampu menyampaikan informasi secara menarik, jelas, dan mudah dipahami. Saran: Perlu adanya kombinasi leaflet dengan pendekatan audiovisual, dan demonstrasi praktik, seperti cara menyikat gigi atau perawatan gigi tiruan, serta evaluasi tindak lanjut untuk mengukur perubahan perilaku jangka panjang.   Kata Kunci:Kesehatan Gigi dan Mulut; Lansia; Media Leaflet; Pengetahuan; Promosi Kesehatan.
Penerapan metode teach-back terhadap self-care pasien gagal jantung Aminah, Siti; Jumaiyah, Wati; Latipah, Siti; Rayasari, Fitrian; Anggraini, Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1702

Abstract

Background: Heart failure is a chronic disease that requires long-term management and active patient involvement in self-care. Non-adherence to medication, diet, and symptom monitoring increases the risk of recurrent hospitalization. The teach-back method is an effective educational approach to ensure patients’ understanding of medical instructions and improve self-care behaviors. Purpose: To analyze the effectiveness of implementing teach-back method-based education on self-care of heart failure patients. Method: This study implemented an Evidence-Based Nursing Practice (EBNP) approach using a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 13 heart failure patients who met the inclusion criteria. The intervention was delivered in three sessions during hospitalization, followed by two educational follow-ups via telephone after discharge. The instrument used to measure self-care was the European Heart Failure Self-care Behavior Scale (EHFScB-9). Data were analyzed using a paired t-test. Results: There was a significant improvement in patients’ self-care scores after the intervention (mean before = 48.49; after = 80.97; p = 0.000). This indicates that the teach-back method effectively enhanced the self-care abilities of patients with heart failure. Conclusion: The teach-back intervention effectively improved self-care among heart failure patients, demonstrating high validity, an applicable educational SOP, and positive patient responses.   Keyword: Heart Failure; Self-Care; Teach-Back Method.   Pendahuluan: Gagal jantung merupakan penyakit kronis yang membutuhkan manajemen jangka panjang dan keterlibatan aktif pasien dalam melakukan perawatan mandiri (self-care). Ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan, diet, dan pemantauan gejala dapat meningkatkan risiko rawat inap berulang. Metode teach-back merupakan salah satu pendekatan edukasi yang efektif untuk memastikan pemahaman pasien terhadap instruksi medis dan meningkatkan self-care. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas penerapan pendidikan berbasis metode teach-back terhadap self-care pasien gagal jantung. Metode: Implementasi Evidence-Based Nursing Practice (EBNP) dengan desain one group pretest post-test. Sampel terdiri dari 13 pasien gagal jantung sesuai kriteria inklusi. Intervensi diberikan dalam tiga sesi selama perawatan dan dilanjutkan dengan dua kali edukasi melalui telepon setelah pasien pulang. Instrumen pengukuran self-care menggunakan European Heart Failure Self Care Behavior Scale (EHFScB-9). Analisis data dilakukan dengan uji paired t-test. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan skor self-care pasien setelah intervensi (mean sebelum 48.49; sesudah 80.97; p = 0.000). Hal ini menunjukkan bahwa metode teach-back mampu meningkatkan kemampuan perawatan mandiri pasien gagal jantung secara bermakna. Simpulan: Intervensi teach-back efektif meningkatkan self-care pasien gagal jantung dengan validitas tinggi, SPO edukasi aplikatif, dan respon positif pasien.   Kata Kunci: Gagal Jantung; Metode Teach-Back; Self-Care.
Korelasi karakteristik sosioekonomi dengan gerakan masyarakat hidup sehat dalam keluarga di wilayah pedesaan Angraeni, Radita; Rahayuwati, Laili; Kosim, Kosim; Susanti, Raini Diah; Yamin, Ahmad
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1703

Abstract

Background: Public awareness of the implementation of the healthy living community movement is a crucial factor in improving health. Based on this, this study identifies health issues related to socioeconomic characteristics in rural areas. Purpose: To identify the correlation between socioeconomic characteristics and the implementation of the healthy living community movement in rural families. Method: This study used a quantitative correlational analytical design with a cross-sectional design. The study population was families in Sukamulya Village, with a sample size of 266 families using a proportional stratified random sampling technique. Data analysis was performed using univariate frequency distribution analysis and bivariate analysis using the Chi-Square correlation test for nominal data and the Spearman correlation test for ordinal data. Results: The correlation test showed a significant relationship (p-value <0.05) between occupation (p = 0.026), income (p = 0.001), and number of family members (p = 0.025) and the healthy living community movement within the family. The majority of respondents indicated poor family health practices, almost all of whom worked as laborers earning below the minimum wage (IDR 3,500,000), with family members ranging from 1 to 5 people. The correlation indicates a positive relationship, as the r value is positive. This means that the higher the employment and income levels, the better the family health practices, and vice versa. Meanwhile, the larger the family size, the poorer the family health practices. Conclusion: This study found that the implementation of the healthy living movement in the relevant area remains inadequate, although some communities have adequate health practices. This indicates that family health practices are not optimally implemented in daily life. Suggestion: Further improvement is needed through a community-based approach to health promotion, with an emphasis on advocacy to continuously encourage the community to improve family health practices, especially those of low socioeconomic status.   Keywords: Family; Healthy Living Community Movement; Socioeconomics.   Pendahuluan: Kesadaran masyarakat dalam penerapan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) merupakan faktor penting dalam meningkatkan status kesehatan. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini mengidentifikasi masalah kesehatan yang terkait dengan karakteristik sosioekonomi di daerah pedesaan.   Tujuan: Untuk mengidentifikasi korelasi antara karakteristik sosioekonomi dengan gerakan masyarakat hidup sehat dalam keluarga di wilayah pedesaan. Metode: Menggunakan desain penelitian analitik kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectrional. Populasi penelitian terdiri dari keluarga di Desa Sukamulya, dengan ukuran sampel 266 menggunakan teknik propotionate stratified random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji korelasi Chi-Square untuk sebaran data berskala nominal dan uji korelasi Spearman untuk data berskala ordinal. Hasil: Uji korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan (nilai p < 0.05) antara pekerjaan (p = 0.026), pendapatan (p = 0.001), dan jumlah anggota keluarga (p = 0.025) dengan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dalam keluarga. Mayoritas responden memiliki perilaku penerapan yang kurang baik dalam keluarga dan hampir seluruhnya berstatus bekerja sebagai buruh dan memiliki penghasilan di bawah upah minimum (Rp. 3,500,000) dengan ukuran keluarga berkisar antara 1-5 orang. Arah korelasi menunjukkan hubungan positif karena nilai r positif, artinya semakin tinggi pekerjaan dan pendapatan, semakin baik penerapan germas keluarga, dan sebaliknya. Sementara itu, semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin buruk penerapan germas keluarga. Simpulan: Penelitian ini menemukan bahwa penerapan Germas di daerah terkait masih berada pada kategori kurang, meskipun terdapat masyarakat dengan penerapan Germas yang sudah cukup. Hal ini menunjukan bahwa penerapan dalam keluarga belum optimal dilakukan sehari-hari. Saran: Perbaikan lebih lanjut masih diperlukan melalui pendekatan berbasis masyarakat dalam promosi kesehatan, dengan penekanan pada advokasi untuk terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan penerapan germas dalam keluarga khususnya pada status soial ekonomi yang rendah.   Kata Kunci: Gerakan Masyarakat Hidup Sehat; Keluarga; Sosioekonomi.