cover
Contact Name
Machrus Ali
Contact Email
lppm.undar1965@gmail.com
Phone
+6285733126839
Journal Mail Official
najihulhudaundar65@gmail.com
Editorial Address
Jl. Gus Dur No.29A, Mojongapitindah, Mojongapit, Kec. Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61419
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Arsy
Published by Universitas Darul Ulum
ISSN : 25804286     EISSN : 28100026     DOI : https://doi.org/10.32492/arsy.v9i1
Jurnal Arsy merupakan jurnal studi Islam yang memuat artikel mengenai kajian, telaah, penelitian, perkembangan pemikiran, atau hasil pertemuan ilmiah bidang pendidikan dan hukum Islam. p-ISSN: 2580-4286 e-ISSN: 2810-0026
Articles 50 Documents
Pengaruh Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Kepada Sesama Terhadap Perilaku Bullying Ainun Khosiah; Abdul Rouf
Arsy Vol. 10 No. 1 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i1.10101

Abstract

Fenomena yang menyita perhatian pendidikan zaman sekarang adalah perundungan (bullying) di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, maupun oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji korelasi antara nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Kitab Al-Akhlak lilbanat dan Taisir al-Khollaq fi ‘ilmil akhlaq terhadap perilaku bullying di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 4 Jombang. Responden terdiri dari 40 siswa dari kelas XII (MAPK) MAN 4 Jombang, Pengumpulan data menggunakan wawancara dan angket dengan skala likert. Data dianalisis dengan uji regresi menggunakan SPSS versi 25 for Windows dengan hasil yang menunjukkan bahwa: Terdapat korelasi yang signifikan nilai-nilai pendidikan akhlak kepada sesama dalam Kitab Al-Akhlak lilbanat dan Taisir al-Khollaq fi ‘ilmil akhlaq dengan perilaku bullying pada siswa (MAPK) MAN 4 Jombang, sehingga hal ini menunjukkan efektivitas nilai-nilai akhlak dalam menurunkan bullying, MANPK 4 Jombang dapat terus memperkuat dan memperluas program pendidikan akhlaknya. Kata Kunci: Nilai Pendidikan Akhlak, Kitab Al-Akhlak Lilbanat, Kitab Taisir Al-Khollaq Fi ‘Ilmil Akhlaq, Bullying
Multimedia Interaktif sebagai Solusi Peningkatan Literasi Digital dan Hasil Belajar PAI Naufal Salim Firdaus; Imam Mashudi Latif Imam
Arsy Vol. 10 No. 1 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i1.10103

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran digital multimedia interaktif terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya materi zakat di SMK Darul Ulum Kepuhdoko. Dominasi metode pembelajaran konvensional yang bersifat teacher-centered dan text-based menyebabkan rendahnya hasil belajar dan motivasi siswa dalam pembelajaran PAI. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-experimental design model Pretest-Posttest Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari 57 siswa kelas XI yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=28) menggunakan multimedia interaktif berbasis Microsite S.id dan kelompok kontrol (n=29) menggunakan metode konvensional. Instrumen penelitian meliputi tes hasil belajar kognitif (30 butir soal, α=0,944) dan angket motivasi belajar model ARCS (29 pernyataan, α=0,893). Data dianalisis menggunakan independent samples t-test dengan software SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol pada hasil belajar (t=2,079; p=0,042; d=0,55) dan motivasi belajar (t=3,053; p=0,003; d=0,81). Kelompok eksperimen mengalami peningkatan gain score lebih tinggi (hasil belajar: M=15,14; motivasi belajar: M=20,57) dibandingkan kelompok kontrol (hasil belajar: M=11,76; motivasi belajar: M=12,24). Multimedia interaktif terbukti efektif meningkatkan kualitas pembelajaran PAI dengan pengaruh lebih kuat pada aspek motivasi (large effect) dibandingkan hasil belajar (medium effect). Penelitian ini memberikan kontribusi empiris tentang efektivitas teknologi pembelajaran dalam pendidikan Islam dan menawarkan model pembelajaran yang dapat direplikasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI di era digital.
Implementasi Program BTQ dan Tahfidz dalam Peningkatan Literasi Al-Qur’an Siswa Madrasah Maulidah Siti Nur Maulidah; Sufinatin Aisida; Mishbahush Shudur
Arsy Vol. 10 No. 1 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i1.10104

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan tahfidz Al-Qur’an di MI Ainul Ulum 01 serta dampaknya terhadap kemampuan membaca, menghafal, dan perilaku keagamaan peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan evaluasi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program diawali dengan perencanaan yang sistematis, mencakup penyusunan pengurus BTQ, perekrutan guru berkualitas, penyusunan kurikulum, dan penjadwalan pembelajaran. Pelaksanaan program menggunakan metode Tilawati untuk kelas BTQ serta metode jaz’i, takrir, dan setoran hafalan untuk kelas tahfidz, dilengkapi pembiasaan harian yang konsisten. Evaluasi program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kompetensi membaca Al-Qur’an, dengan 91% peserta didik BTQ mencapai predikat mumtaz/jayyid dan 100% peserta didik tahfidz menyelesaikan hafalan Juz 30 serta surat pilihan. Selain pencapaian akademik, program ini juga mendorong perubahan perilaku positif, termasuk disiplin, kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan penerapan doa harian. Keberhasilan program didukung oleh dedikasi guru, dukungan kepala madrasah dan orang tua, motivasi peserta didik, serta sarana prasarana yang memadai, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan anggaran, rasio guru-siswa yang tinggi, alokasi waktu terbatas, dan keterlibatan orang tua yang belum optimal. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan peningkatan anggaran, penurunan rasio guru-siswa, perpanjangan waktu pembelajaran, peningkatan keterlibatan orang tua, dan penerapan pendekatan diferensiasi, serta penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dan hubungan pembelajaran pegon dengan kualitas hafalan peserta didik.
Integrasi Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Pendidikan Lingkungan Luluk Luluk Zakiyah; Sufinatin Aisida
Arsy Vol. 10 No. 1 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i1.10106

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P5P2RA) dalam membangun kesadaran lingkungan peserta didik di MI Sulaimaniyah Kauman Mojoagung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, wakil kepala bidang kesiswaan, guru kelas, peserta didik, dan wali murid. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi P5P2RA dilaksanakan secara terencana melalui pembelajaran berbasis projek dengan mengintegrasikan tema gaya hidup berkelanjutan dan nilai-nilai Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin, seperti berkeadaban, keteladanan, toleransi, serta sikap dinamis dan inovatif. Program ini berperan sebagai penguatan pembelajaran intrakurikuler dan terbukti mampu meningkatkan kesadaran lingkungan peserta didik, yang tercermin dari perubahan sikap dalam menjaga kebersihan, memanfaatkan barang bekas, serta meningkatnya partisipasi dalam kegiatan kolaboratif di madrasah. Meskipun demikian, pelaksanaan program masih menghadapi kendala berupa keterbatasan waktu, kesiapan guru, dan perbedaan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa P5P2RA memiliki kontribusi penting dalam penguatan karakter dan pembentukan kesadaran lingkungan peserta didik di madrasah
Penguatan Nilai Agama dan Budi Pekerti dalam Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kurikulum Merdeka Elok Elok Hurun Maknunin; Abdul Rouf
Arsy Vol. 10 No. 1 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i1.10105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam memperkuat nilai agama dan budi pekerti pada anak usia 3–4 tahun di KB Al-Muhajirin berbasis Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru kelompok B KB Al-Muhajirin, sedangkan informan terdiri atas wali kelas dan guru pendamping. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai agama dan budi pekerti dilaksanakan melalui tiga strategi utama, yaitu (1) pembiasaan dan keteladanan, (2) kegiatan edukatif dan interaktif, serta (3) kerja sama dengan orang tua. Strategi pembiasaan dan keteladanan diterapkan melalui rutinitas harian seperti mengucapkan salam, berdoa, menjaga kebersihan, berbagi, dan meneladani perilaku guru sebagai figur panutan. Kegiatan edukatif dan interaktif dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar, bercerita, bernyanyi, dan bermain peran yang mampu meningkatkan partisipasi aktif anak serta mendukung perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan motorik. Kerja sama dengan orang tua dilakukan melalui komunikasi intensif dan pelibatan orang tua dalam program sekolah untuk memastikan kesinambungan penanaman nilai di rumah dan di sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di KB Al-Muhajirin mendukung penguatan karakter anak secara holistik melalui pendekatan yang kolaboratif, kontekstual, dan berpusat pada kebutuhan perkembangan anak usia dini.
Pembentukan Karakter Islami Santri melalui Sistem Asrama di Pondok Pesantren Asif Shofiyan Mustajib; Tadjoer Ridjal; Abdul Rouf
Arsy Vol. 10 No. 2 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i2.10201

Abstract

Degradasi moral generasi muda menuntut peran aktif lembaga pendidikan, khususnya pesantren sebagai institusi pembentuk karakter Islami. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi proses pembentukan karakter Islami santri, metode yang digunakan, serta faktor pendukung dan penghambatnya melalui sistem asrama di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus diterapkan di Asrama Al-Mubarok. Partisipan meliputi pengasuh, pembina, empat ustadz Madrasah Diniyah, dan delapan santri yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan analisis dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model Miles, Huberman, dan Saldaña. Kredibilitas data dijamin melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian mengidentifikasi enam dimensi karakter Islami yang dibentuk: religius, sosial, disiplin, sederhana, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Karakter religius dikembangkan melalui mujahadah terstruktur seperti istighotsah, sorogan Al-Qur'an, dan diba'iyah. Karakter sosial dibentuk melalui kajian kitab fiqih-akhlak, keteladanan ustadz, ro'an, khidmatul ummah, dan muhadharah. Pembentukan karakter ditempuh melalui empat metode utama: pembiasaan, keteladanan, ceramah, dan hukuman edukatif. Faktor pendukung mencakup sistem penempatan santri, sarana memadai, tata tertib yang jelas, tenaga pendidik profesional, dan kerjasama dengan orang tua. Adapun faktor penghambat meliputi kurangnya kesadaran diri santri, pengaruh negatif santri non-asrama, pola asuh permisif orang tua, dan senioritas tidak sehat. Sistem asrama terbukti efektif sebagai laboratorium sosial pembentukan karakter melalui integrasi nilai hablum minallah dan hablum minannas. Penelitian ini menawarkan model praktis bagi pengelola pesantren sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan tentang efektivitas komparatif berbagai model pembentukan karakter di pesantren.
Rekonstruksi Konsep Tawasuth dalam Wacana Moderasi Beragama: Kajian Islam Kontemporer Azizi Hadziq; Khoirul Huda
Arsy Vol. 10 No. 2 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i2.10202

Abstract

Meningkatnya polarisasi keagamaan dan menguatnya kecenderungan ekstremisme di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mendorong urgensi penguatan moderasi beragama yang bertumpu pada landasan konseptual yang kokoh, bukan sekadar slogan normatif dalam dokumen kebijakan. Selama ini, kajian tentang moderasi beragama lebih banyak berfokus pada aspek implementasi, seperti pendidikan, dakwah, dan kebijakan publik. Sementara eksplorasi konseptual terhadap tawasuth sebagai salah satu nilai intinya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi konsep tawasuth dalam wacana moderasi beragama pada kajian Islam kontemporer. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan systematic literature review terhadap artikel ilmiah terindeks yang terbit hingga tahun 2026, dihimpun melalui Google Scholar dan berbagai portal jurnal dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tawasuth memiliki tiga dimensi yang saling terkait, yaitu teologis, sosial, dan epistemologis. Secara teologis, tawasuth berakar pada konsep wasathiyyah yang menekankan keseimbangan dan keadilan sebagaimana termaktub dalam gagasan ummatan wasathan. Secara sosial, tawasuth berfungsi sebagai pedoman dalam mengelola keberagaman melalui nilai toleransi, keseimbangan, dan keadilan. Secara epistemologis, tawasuth berkembang sebagai paradigma pemikiran yang menghubungkan ajaran agama dengan realitas sosial modern secara proporsional dan kontekstual. Temuan ini memperkuat posisi tawasuth sebagai kerangka konseptual penting bagi pengembangan pendidikan keagamaan dan penguatan narasi moderasi beragama di Indonesia.
Islam pada Masa Kerajaan-Kerajaan di Nusantara: Analisis Perspektif Teori Kekuasaan Michel Foucault Hamdan Al Masruri; Aditya Saputra; Sholihan; Fathurrahman; M. Qomarul Huda
Arsy Vol. 10 No. 2 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i2.10203

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan kajian Islamisasi di Nusantara yang lebih banyak menekankan aspek perdagangan, dakwah, dan akulturasi budaya, sementara dimensi relasi kekuasaan dalam perkembangan Islam pada masa kerajaan-kerajaan Islam masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan Islam pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara melalui perspektif teori kekuasaan Michel Foucault. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif-interpretatif. Sumber data diperoleh dari buku-buku sejarah Islam Nusantara, karya-karya Michel Foucault, serta artikel jurnal ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan konsep power/knowledge, relasi kuasa, wacana, dan disiplin sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai pusat kekuasaan politik, tetapi juga sebagai produsen wacana keislaman yang membentuk pengetahuan dan identitas masyarakat. Relasi antara sultan dan ulama membentuk jaringan kekuasaan yang saling memberikan legitimasi, sedangkan institusi keagamaan seperti masjid, pesantren, surau, dayah, dan lembaga peradilan Islam berperan sebagai mekanisme disiplin sosial yang menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Sehingga Islamisasi di Nusantara merupakan proses yang melibatkan penyebaran agama sekaligus produksi pengetahuan dan pengelolaan kekuasaan melalui berbagai institusi sosial dan keagamaan. Kata Kunci: Islam Nusantara, kerajaan Islam, Michel Foucault, kekuasaan, Islamisasi
Political Interest And Mental Health Across Generations And Religions Nailul Mukorobin; Zamroni; Abdurrohim
Arsy Vol. 10 No. 2 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i2.10204

Abstract

This study investigates the intricate relationship between political interest and mental health across generations and religions in Indonesia. The objective is to analyze how political engagement influences mental well-being and to understand the varying impacts of generational and religious contexts on these dynamics. Using a literature review methodology, the research synthesizes existing academic sources, including journal articles and studies, to provide a comprehensive overview of the topic. The findings reveal that political interest acts as both a potential source of purpose and a significant stressor. For older generations, such as Baby Boomers and Generation X, political engagement is often rooted in historical experiences of authoritarianism, leading to skepticism and selective involvement. In contrast, Millennials and Generation Z exhibit a more pragmatic approach, heavily influenced by social media, yet they face heightened anxiety and mental health challenges due to political polarization and societal pressures. Moreover, the study identifies the role of religion as a crucial factor in shaping political perceptions and mental health responses. While religious beliefs can offer emotional support, they may also contribute to internal conflicts when political and religious values clash. Overall, the research underscores the necessity of fostering a supportive political and social environment that promotes mental well-being across diverse generational and religious backgrounds, highlighting the importance of interdisciplinary collaboration between political science and psychology to address these complex issues effectively.
Media Sosial Dan Polarisasi: Tantangan Baru Toleransi Beragama Di Kalangan Generasi Muda Muslim Indonesia Alya Ul Widad; Alif Qatarina Amir; Rizma Nadyal Kaffi; Ach. Zamzami Muntaha Ridwan; M. Qomarul Huda
Arsy Vol. 10 No. 2 (2026): Arsy : Jurnal Studi Islam
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/arsy.v10i2.10205

Abstract

Artikel ini mengkaji peran media sosial dalam membentuk toleransi dan polarisasi beragama di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme polarisasi digital, pergeseran otoritas keagamaan di ruang daring, serta transformasi wacana pluralisme di kalangan generasi muda. Penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menganalisis artikel ilmiah mutakhir, laporan resmi, dan buku akademik terkait keberagamaan digital, algoritma media sosial, dan moderasi beragama yang terbit pada periode 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, polarisasi keagamaan terjadi melalui mekanisme filter bubble, echo chamber, dan intervensi algoritma yang mempersempit paparan terhadap sudut pandang berbeda. Kedua, terjadi pergeseran otoritas keagamaan menuju sumber berbasis algoritma yang melahirkan fenomena algorithmic religion dan santri without pesantren. Ketiga, terdapat kontradiksi antara tingginya indeks toleransi dalam survei formal dengan meningkatnya intoleransi dalam wacana digital. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya penguatan literasi digital kritis, revitalisasi otoritas keagamaan di ruang digital, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat toleransi beragama di era digital.