cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 363 Documents
PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PONDOK PESANTREN Ngabekti, Sri; Tandjung, S. Djalal; Rijanta, R.; Wuryadi, Wuryadi
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.96 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktek Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB) di Pondok Pesantren. Setting penelitian: Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal yang sudah ada motivasi dalam pengelolaan lingkungan fisik dan biologis. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif naturalistik yang mengedepankan adanya interaksi dan observasi partisipatif dengan subjek yang diteliti, dan melakukan observasi, dan wawancara dengan komunitas pondok pesantren. Pemilihan sampel secara purposive, accidental, dan snow-ball sampling. Kondisi lingkungan dan proses pembelajaran PPB diobservasi secara mendalam. Hasil wawancara ditranskrip, kemudian disajikan secara deskriptif. Data penelitian kualitatif berupa naratif, deskriptif, dokumen pribadi, catatan lapangan, dokumen pondok pesantren, foto, video-tapes, dan hasil rekaman CCTV. Guna memperoleh validitas data, komponen analisis data yang dilakukan adalah pengelompokan data, refleksi, dan triangulasi. Hasil penelitian menemukan 5 dimensi PPB yakni dimensi lingkungan, ekonomi, sosial-budaya, edukasional dan spiritual yang telah diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh komunitas pondok. Implementasi  ini terutama didukung oleh faktor kurukulum, proses pembelajaran pengetahuan umum dan agama, serta aktivitas spiritual komunitas pesantren dan Pendirinya.   Kata Kunci: PPB, pondok pesantren
MENINGKATKAN PENGETAHUAN STRUKTUR DAN FUNGSI HUTAN MELALUI MODEL FIELD TRIP TRAINING (FTT) EKPLORASI HUTAN PADA MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI Suprapto, Purwati K; Supriatno, Bambang
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.11 KB)

Abstract

Matakuliah ekologi merupakan dasar dari pengetahuan tentang konservasi biasanya hanya dilakukan di kelas dan praktikum di sekitar kampus. Kegiatan tersebut kurang dapat memberi informasi yang lengkap tentang struktur dan fungsi dalam satu area (ekositem). Jumlah mahasiswa yang cukup banyak dan dosen yang terbatas menyebabkan membawa mahasiswa ke  lapangan adalah tidak efisien. Model  Field trip traning  (FTT) adalah solusi untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang ekologi. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui efektivitas model FTT. Penelitian dilaksanakan di hutan  Agathis alba  Baturaden pada bulan Mei 2013. Mahasiswa dibantu oleh 11 instruktur yang telah mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Instruktur wajib membuat pedoman kerja lapangan. Populasi dan sampel adalah mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Siliwangi yang sedang mengambil matakuliah ekologi, berjumlah 216 mahasiswa. Mahasiswa melakukan observasi eksplorasi hutan, hasil pengamatan didiskusikan dan mahasiswa wajib membuat display untuk dipresentasikan serta dipamerkan. Mahasiwa membuat laporan hasil observasi. Data diperoleh  dari hasil laporan mahasiswa melalui  lembar penilaian berdasarkan Starko (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dapat menghubungkan antara faktor biotik dan abiotik, membuat jaring makanan, memahami interaksi makhluk hidup, dan memahami stratifikasi vertikal hutan. Mahasiswa dapat menghubungkan bahwa empat hal yang diamati merupakan satu sistem yang saling berhubungan. Kata kunci :  Field trip training, struktur dan fungsi hutan, eksplorasi hutan
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA L) DALAM RANSUM TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL DAGING AYAM BROILER STRAIN HUBBARD Setyaningsih, Endang
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung mengkudu (Morinda citrifolia L) dalam ransum terhadap penurunan kadar kolesterol daging dada ayam broiler strain hubbard. Tujuan lain penelitian ini yaitu untuk mengetahui pada taraf berapa persenkah penambahan tepung mengkudu dalam ransum ini yang dinilai paling maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pola rancangan acak lengkap (RAL). Populasi dalam penelitian adalah ayam broiler strain hubbard dan sebagai sampel penelitian adalah 25 ekor ayam broiler strain hubbard. Dua puluh lima ekor ayam terbagi dalam 5 kelompok dengan perlakuan penambahan tepung mengkudu dalam ransum sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%. Penelitian ini dilakukan selama 6 minggu. Parameter yang diukur adalah kadar kolesterol daging dada ayam broiler strain hubbard. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis varian satu jalur (ANAVA) untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung mengkudu dalam ransum terhadap kadar kolesterol daging ayam broiler dan dilanjutkan dengan uji Duncan?s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui adanya perbedaan rerata antara kelompok perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis dengan program Software SPSS Versi 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung mengkudu dalam ransum dapat menurunkan kadar kolesterol daging dada ayam broiler strain hubbard pada perlakuan PI (0,3489 mgr/gr), PII (0,3128 mgr/gr), PIII (0,2873 mgr/gr), PIV (0,2611 mgr/gr), dan PV (0,2232 mgr/gr). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dosis penambahan tepung mengkudu dalam ransum yang dinilai paling maksimal dalam menurunkan kadar kolesterol daging dada ayam broiler strain hubbard adalah pada taraf 10% dari total ransum. Kata kunci : Mengkudu, Kolesterol dan Daging
PENGEMBANGAN MODEL PENGAWET ALAMI DARI EKSTRAK LENGKUAS (LANGUAS GALANGA), KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA) DAN JAHE (ZINGIBER OFFICINALE) SEBAGAI PENGGANTI FORMALIN PADA DAGING SEGAR (THE NATURE PRESERVATIVE FROM EXTRACT OF LANGUAS GALANGA, CURCUMA DOMESTIC Purwani, Eni; Retnaningtyas, Estu; Widowati, Dyah
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.959 KB)

Abstract

ABSTRAK   Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa rempah-rempah dan bumbu asli Indonesia ternyata banyak mengandung zat aktif anti mikrobia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pengawet alami. Rempah-rempah tersebut diantaranya adalah lengkuas, kunyit dan jahe. Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah 1) Isolasi mikrobia daging (segar dan busuk), menentukan jumlah dan jenis isolat mikrobia 2) mengidentifikasi spesies dari isolat yang ditemukan 3) menganalisis konsentrasi ekstraks pengawet yang optimal berdasarkan besar daya hambat isolat yang ditemukan 4) menganalisis jenis pengawet yang optimal berdasarkan besar daya hambat. Desain penelitian ini adalah eksperimental murni dengan total perlakuan 4 x 5 perlakuan. Hasil yang diperoleh, total jumlah isolat mikrobia ditemukan sejumlah 80 koloni.  Hasil identifikasi spesies dari 80 isolat diperoleh jenis mikrobia perusak dan patogen sejumlah 7 spesies yaitu Bacillus licheniformis, Bacillus alvei, Klebsiella pneumonia, Acinetobacter calcoaceticus, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus cereus. Jenis pengawet yang optimal berdasarkan daya hambat mikrobia pada daging adalah ekstrak jahe (P<0.01).  Konsentrasi optimal pada daya hambat mikrobia pada daging adalah 35% untuk kunyit dan jahe dan 80% untuk laos. Kesimpulan dari penelitian ini, jenis pengawet yang optimal adalah jahe, sedangkan konsentrasi optimal pada daging adalah 35% untuk kunyit dan jahe dan 80% untuk laos. Saran dari Penelitian ini adalah konsentrasi 35% untuk semua jenis pengawet sudah menunjukkan adanya daya hambat meskipun masih kecil, sehingga untuk pengembangan penelitian bisa ditambahkan garam 5% untuk menguatkan besar daya hambat.   Kata kunci: antimikrobia,  daging, lengkuas, kunyit, jahe
ANALISIS SUBSTANSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SAINS DI BUKU PELAJARAN BIOLOGI UNTUK SMA Ramli, Murni
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.024 KB)

Abstract

ABSTRAK   Pendidikan multukural sains dalam pembelajaran biologi menekankan pada diangkatnya pengetahuan indigenous dalam pembelajaran biologi. Dengan asumsi bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan biologi sebelum menerima pembelajaran sains di sekolah, yang diperolehnya dari keluarga, etnik, dan lingkungan sekitarnya, maka proses belajar biologi di sekolah seharusnya dikembangkan untuk menggali dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap pengetahuan indigenous tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis substansi dan juga perubahan dan perkembangan substansi terkait dengan pendidikan multikultural sains dalam buku-buku pelajaran Biologi SMA yang dipakai pada era 50an, 60an, 70an, 80an, 90an, dan 2000an. Metode yang dipergunakan adalah content analysis yang dikembangkan oleh Margareth H. Delgato (2009) yang dimodifikasi. Analisa konten dilakukan dalam tiga tahapan yaitu, 1) kompilasi terhadap kata, frase, kalimat, dan paragraf yang menyebutkan indigenous knowledge vocabulary yang dipakai oleh Degato dan telah dimodifikasi dengan penambahan kosa kata terkait multikulturisme di Indonesia; 2) penyusunan pernyataan arkeologi, yaitu pernyataan yang menunujukkan aktivitas, tradisi, dan cara pandang indigenous; 3) analisa kuantitatif frekuensi kemunculan muatan indigenous dalam sebuah buku. Hasil analisa menunjukkan bahwa buku-buku pelajaran Biologi untuk SMA pada era 50-an dan 60-an memuat lebih banyak unsur pengetahuan indigenous dibandingkan buku-buku pelajaran yang dipergunakan pada era 70an, 80an, 90an, dan 2000an. Pengetahuan indigenous ditemukan dengan frekuensi tinggi pada topik hewan untuk buku tahun 50an, tanaman (tahun 60-an), dan topik keragaman hayati dan ekologi (buku tahun 2000an).   Keywords: multikultural sains, indigenous knowledge, pendidikan biologi, buku ajar.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR KOGNITIF AKIBAT PEMBELAJARAN CLASSWIDE PEER TUTORING (CWPT) DENGAN PEMBELAJARAN MULTIMODEL PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS X SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG Sugiharto, Bowo
Prosiding Seminar Biologi Vol 6, No 1 (2009): Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11018.313 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar kognitif biologi akibat penerapan pembelajaran ClassWide Peer Tutoring dengan pembelajaran multimodel pada siswa kelas X SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Tahun Pelajaran 2007/2008.Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai, metode penelitian yang digunakan adalah  penelitian quasi eksperimen. Desain penelitian dirancang dengan desain pretes dan postes dengan kelompok tidak diacak. Sampel dipilih dua kelas yang ada dengan jumlah siswa sebanyak 31 siswa untuk kelompok kontrol dan 31 siswa untuk kelompok eksperimen dari total populasi kelas X sebanyak enam kelas dengan jumlah siswa sebanyak 186 orang. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis kovarian (anakova) dengan melakukan kontrol terhadap nilai pretes masing variabel terikat. Analisis anakova memanfaatkan aplikasi SPSS 16,0 for Windows.Hasil uji statistik dengan anakova pada variabel terikat hasil belajar kognitif dengan melakukan kontrol terhadap nilai pretes menunjukkan bahwa nilai F hitung untuk strategi pernbelajaran adalah 5,764 dengan taraf signifikansi 0,020. Oleh karena taraf signifikansi 0,020 < 0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Jika Ho ditolak dan H1 diterima maka hipotesis penelitian ini diterima, artinya ada perbedaan hasil belajar kognitif biologi akibat pembelajaran CWPT dan hasil belajar kognitif biologi akibat pembelajaran multimodel pada siswa kelas X SMA Laboratoriurn Universitas Negeri Malang tahun pelajaran2007/2008.Kata Kunci: Classwide Peer Tutoring, hasil belajar kognitif
KARAKTERISTIK FIKOERITRIN SEBAGAI PIGMEN ASESORIS PADA RUMPUT LAUT MERAH, SERTA MANFAATNYA Abfa, Iqna Kamila; Prasetyo, Budhi; Susanto, A B
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.234 KB)

Abstract

Rumput laut di Indonesia telah banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan, bahan makanan, bahan dasar kosmetik, dan senyawa bioaktif serta nutrisi. Salah satu senyawa bioaktif yang dominan terkandung pada rumput laut merah adalah fikobilin, terdiri dari fikoeritrin dan fikosianin. Fikobilin terbentuk oleh reduksi biliverdin mealalui fitokromobilin. Pigmen tersebut berperan penting sebagai pigmen pelengkap pada proses fotosintesis rumput laut merah dengan membantu klorofil-a dalam menyerap cahaya, fikoeritrin menyerap cahaya hijau yang dapat menutupi warna hijau dari klorofil dan biru dari fikosianin.  Struktur subunit fikoeritrin (PE) adalah (??)6? dengan  nilai absorbansi maksimal sekitar 580 nm. Jenis-jenis fikoeritrin berdasarkan serapan spektranya dibagi menjadi beberapa macam, yaitu B-fikoeritrin (B-PE), R-fikoeritrin (R-PE) dan C-fikoeritrin (C-PE), R-PE jenis fikobiliprotein yang mendominasi algae merah. Beberapa penelitian telah menunjukkan banyaknya manfaat dari pigmen tersebut. PE telah digunakan secara luas dalam industri dan laboratorium penelian immunologi, contoh sebagai label antibodi, reseptor antigen dan molekul biologi yang lain. Selain itu  PE digunakan dalam aplikasi histokimia, digunakan sebagai fotosensitizer untuk pengobatan tumor dan berpotensi sebagai antioksidan.   Kata kunci : Rumput laut merah, Fikobiliprotein, Fikoeritrin.
STREPTOMYCES SEBAGAI SUMBER ANTIBIOTIK BARU DI INDONESIA Rahayu, Triastuti
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.261 KB)

Abstract

ABSTRAK Antibiotik merupakan bagian penting dalam terapi infeksi bakteri  karena itu penemuan sumber antibiotik baru yang potensial sangat diperlukan untuk mengatasi masalah akibat  infeksi bakteri. Streptomyces adalah bakteri yang mampu memproduksi agen antimikroba dan banyak ditemukan di tanah pada rizosfer tanaman tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi Streptomyces dari rizosfer Familia Poaceae yang dapat menghasilkan antibiotik untuk menghambat bakteri S. aureus dan  E. coli. Isolasi Streptomyces dari rizosfer rumput kembangan (Digitaria microbachne (Presl.) Henr), rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dan alang?alang (Imperata cylindrica L) yang tumbuh dari tanah yang kering, sedikit berpasir dan tidak tergenang air. Tahap awal isolasi Streptomyces adalah pre treatment sampel tanah. Isolasi menggunakan media raffinosa-histidine agar. Isolat dipurifikasi pada media benneth agar kemudian dipindah ke media oatmeal agar untuk menumbuhkan spora. Identifikasi isolat Streptomyces dilakukan dengan pengecatan Gram. Uji potensi isolat Streptomyces dilakukan dengan metode agar block menggunakan bakteri uji S. aureus dan  E. coli ATCC 25922. Hasil isolasi diperoleh 57 isolat Streptomyces dengan warna miselium vegetatif, spora aerial dan pigmen difus yang berbeda. Dari 57 isolat diperoleh 10 isolat (17,50%) berpotensi ?sangat kuat? (diameter lebih dari 20 mm), 6 isolat (10,52%) berpotensi ?kuat? (diameter 10-20 mm) terhadap S. aureus, sedangkan terhadap E. coli ATCC 25922 diperoleh 8 isolat (14,04%) berpotensi antibiotik ?sangat kuat? (20-30 mm), 11 isolat (17,54%) berpotensi ?kuat? (10-19,5 mm), dan 1 isolat (1,75%) berpotensi ?sedang? (7 mm).   Kesimpulan yang diperoleh adalah Streptomyces dapat dijadikan sebagai sumber penghasil antibiotik baru yang sangat potensial di Indonesia.   Kata Kunci:  Antibiotik, Streptomyces,  Familia Poaceae, Rizosfer
KEPADATAN TULANG METACARPAL SIMPANSE USIA 0 SAMPAI 44 TAHUN Hamada, Yuzuru; Widiyani, Tetri; Suryobroto, Bambang
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.318 KB)

Abstract

ABSTRAK   Sifat fisik tulang merupakan indikator yang baik untuk studi pertumbuhan dan penuaan. Tulang adalah jaringan dinamis karena adanya proses modeling dan remodeling. Tulang berubah tidak hanya pada ukuran dan bentuknya, tetapi juga kepadatannya yang disebabkan  karena perubahan kandungan mineralnya. Osteoporosis atau kekeroposan tulang merupakan salah satu tanda umum penuaaan manusia. Osteoporosis di kalangan anthropoid masih belum diketahui. Dalam penelitian ini kami melakukan pengukuran kepadatan korteks tulang metacarpal simpanse (Pan troglodytes) usia 0 sampai 44 tahun berdasarkan radiografi. Pengukuran dilakukan dengan metode mikro-densitometri pada 68 simpanse betina dan 49 simpanse jantan. Kami menemukan bahwa kepadatan tulang meningkat pesat sampai usia sekitar 10 tahun. Pada simpanse jantan kepadatan tulangnya terus meningkat sampai usia 44 tahun, sedangkan pada simpanse betina kepadatan tulangnya menurun mulai usia 20 tahun. Penurunan kepadatan tulang simpanse betina dapat disebabkan karena kalsium tulang digunakan pada masa kehamilan dan menyusui. Namun demikian, simpanse betina diketahui tidak mengalami menopause. Jadi tidak seperti wanita, kejadian osteoporosis pada simpanse betina bukanlah akibat dari menopause. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan berkurangnya kadar estrogen pada simpanse lanjut usia.   Kata Kunci: osteoporosis, kepadatan tulang, metakarpal, simpanse
PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN METODE EKSPERIMEN LAPANGAN DAN EKSPERIMEN LABORATORIUM TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK KLAS X DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA Murwani, Singgih; Sudarisman, Suciati
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.283 KB)

Abstract

ABSTRAK Kegiatan pembelajaran  Biologi di SMA Negeri 2 Kota Yogyakarta masih bercorak teoritis dan hafalan (tekstual), sehingga konsep-konsep Biologi cenderung sulit dipahami oleh peserta didik. Dalam mengajar, tampaknya guru kurang memperhatikan  pendekatan dan metode yang sesuai dengan karakteristik materi Biologi yang banyak melibatkan keterampilan ilmiah. Akibatnya capaian prestasi belajar menjadi kurang maksimal. Metode pembelajaran Eksperimen  adalah metode pembelajaran berbasis Keterampilan Proses Sains, sangat cocok untuk mengoptimalkan pengembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif peserta didik.Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan metode Eksperimen   Lapangan dan Eksperimen Laboratorium terhadap Prestasi belajar. Penelitian mengunakan metode Eksperimen dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X, semester 1 tahun pelajaran 2010 ? 2011 di SMA Negeri 2 Yogyakarta khususnya pada materi tentang Polusi. Sampel diambil secara random  sebanyak dua kelas,  masing-masing terdiri dari 32 dan 31 peserta didik. Data berupa kemampuan kognitif berupa prestasi belajar yang dijaring menggunakan tes. Validitas instrumen prestasi belajar diuji dengan menggunakan rumus koefisien korelasi biseral. Reliabilitas instrumen diuji dengan anatest. Data prestasi belajar dianalisis dengan menggunakan  SPSS 15.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh penggunaan pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Lapangan dan Eksperimen Laboratorium.  Pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Lapangan di SMA Negeri 2 Kota Yogyakarta memberi pengaruh lebih baik terhadap rata-rata nilai prestasi belajar peserta didik (72,97) dibandingkan pada penggunaan pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Laboratorium yang rata-rata prestasi belajarnya lebih rendah (69,65). Kata kunci : Pendekatan CTL, Metode Eksperimen Lapangan, Metode Eksperimen Laboratorium, Prestasi Belajar.