cover
Contact Name
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS
Contact Email
sosiolium@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sosiolium@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
First floor of C1 Building, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Central Java, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS
ISSN : -     EISSN : 26854929     DOI : https://doi.org/10.15294/sosiolium
Core Subject : Education,
This journal provides space for academic and critical thinking to explore social studies learning (Pendidikan IPS--Junior high school course). Subjects suitable for publication include but not limited to; - Social studies Education (Pendidikan IPS--Junior high school course) - Learning media issues in Social studies - Learning model issues in Social studies - Innovation in social studies learning.
Articles 27 Documents
URGENSI STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEJARAH Krisna Aji, Satria; Fahruddin
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v7i1.17575

Abstract

Experience-based learning strategies are a relevant innovative approach in history education because they are able to provide more contextual and meaningful learning experiences. This article aims to explore the urgency of implementing experience-based learning strategies in history learning. This research uses descriptive qualitative methods with a case study approach in high schools in the Yogyakarta area. Data was obtained through observation, interviews with history teachers, and document analysis. The research results show that experience-based learning strategies, such as simulations, visits to historical sites, and collaborative projects, are able to increase students' interest in learning, understanding of history, and strengthening character values ​​such as nationalism and empathy. However, the implementation of this strategy still faces several obstacles, such as limited facilities, time and policy support. This article emphasizes the importance of support from educational institutions in providing facilities and teacher training to optimize experience-based strategies. By implementing this strategy effectively, history learning not only focuses on transferring knowledge, but is also able to build student involvement and increase their awareness of the importance of history in today's life.
PENGARUH ORANG TUA TERHADAP PERSEPSI SISWA TENTANG PENDIDIKAN TINGGI (STUDI FENOMENOLOGI DI DESA KARANGANYAR KABUPATEN DEMAK) Asih Febriyanti; Lukitawati, Lukki
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v7i1.19937

Abstract

Penelitian ini di buat dengan tujuan untuk mengkaji hubungan antara siswa dan orang tua serta menganalisis persepsi siswa dan orang tua di Desa Karanganyar, Demak. Penelitian ini menggunakan Teori Interaksionalisme Simbolik milik George Herbert Mead. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menerapkan pendekatan kualitatif fenomenologis. Data penelitian ini yaitu melalui wawancara semi struktur dengan informan utama yaitu beberapa pasang siswa dan orang tua. Fokus penelitian ini adalah eksplorasi hubungan interpersonal antara siswa dan orang tua dalam membentuk motivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi, serta kajian mendalam terhadap persepsi dan pola pikir kedua pihak terhadap nilai dan relevansi pendidikan tinggi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa meskipun faktor sosial ekonomi sering kali menjadi kendala utama dalam melanjutkan pendidikan tinggi, peran orang tua yang mendukung, memberi harapan, dan memberikan contoh nyata sangat berpengaruh dalam memotivasi siswa. Dukungan moral dan nasihat dari orang tua menjadi pendorong utama bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sementara faktor sosial ekonomi dan pandangan keluarga tentang pendidikan tinggi juga berperan penting dalam keputusan tersebut. This research was conducted with the aim of examining the relationship between students and parents and analyzing the perceptions of students and parents in Karanganyar Village, Demak. This research uses George Herbert Mead's Symbolic Interactionalism Theory. This research method uses a qualitative research method by applying a qualitative phenomenological approach. The data for this research is through semi-structured interviews with the main informants, namely several pairs of students and parents. The focus of this research is an exploration of interpersonal relationships between students and parents in forming motivation to continue higher education, as well as an in-depth study of the perceptions and mindsets of both parties regarding the value and relevance of higher education. The results of this research show that although socio-economic factors are often the main obstacle in continuing higher education, the role of parents who support, give hope and provide real examples is very influential in motivating students. Moral support and advice from parents are the main drivers for students to pursue higher education, while socio-economic factors and family views about higher education also play an important role in the decision. 
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII  PADA PEMBELAJARAN IPS SMP NEGERI 13 SEMARANG Inayatul_Aliyah; Ferani Mulianingsih
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v7i1.20071

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPS. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain True Experimental yaitu pre-test-post-test Non-equivalent Control Group Design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Semarang yang dipilih secara acak dengan teknik Simple Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran problem based learning efektif terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada pembelajaran IPS di SMP Negeri 13 Semarang. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yaitu 94 > 84. Selain itu, hasil uji-t diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model problem based learning dengan siswa yang menggunakan model konvensional. This study aims to examine the effectiveness of the Problem Based Learning (PBL) model on students' critical thinking skills in social studies subjects. The research employed a quantitative method with a True Experimental design, specifically a pre-test – post-test Non-equivalent Control Group Design. The research subjects were eighth-grade students of SMP Negeri 13 Semarang, selected randomly using the Simple Random Sampling technique. The results of the study indicate that the problem based learning learning model is effective in improving the learning outcomes of eighth-grade students in social studies at SMP Negeri 13 Semarang. This is evidenced by the higher average score of the experimental class compared to the control class, 94 > 84. Furthermore, the t-test results showed a significance value of 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the learning outcomes of students using the problem based learning model and those using conventional models.  
IMPLEMENTASI KEMANDIRIAN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPS PADA PESERTA DIDIK KELAS VII DI SMPN 8 SEMARANG Adillah, Isnaeni Nur; Mumpuni, Restu Ayu
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v7i1.23906

Abstract

Permasalahan di SMPN 8 Semarang yaitu kurangnya kemandirian belajar peserta didik kelas  VII pada mata pelajaran IPS. Tujuan penelitian yaitu: (1) Menganalisis implementasi  kemandirian belajar dalam pembelajaran IPS pada peserta didik kelas VII di SMPN 8 Semarang. (2) Menganalisis peran guru IPS dalam menanamkan kemandirian belajar peserta didik pada pembelajaran IPS kelas VII di SMPN 8 Semarang. (3) Menganalisis kendala dan upaya dalam menanamkan kemandirian belajar peserta didik pada pembelajaran IPS kelas VII di SMPN 8 Semarang. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian: (1) Implementasi belum optimal karena kurangnya rasa minat peserta didik terhadap IPS, ditunjukkan dengan minimnya rasa percaya diri dan inisiatif diri. (2) Peran guru sebagai pembimbing, teladan, motivator, dan fasilitator. (3) Kendala meliputi aspek psikologi peserta didik (minat) dan aspek lingkungan (lingkungan pertemanan dan keluarga). Upaya yang dilakukan meliputi pengadaan program 18-21 dan ekstrakurikuler KIR, serta pengoptimalisasi peran guru sebagai pendidik, motivator, dan fasilitator. The problem at SMPN 8 Semarang is the lack of learning independence of class VII students in social studies. The objective of the study are: (1) To analyze the implementation of learning independence in social studies learning for class VII students at SMPN 8 Semarang. (2) To analyze the role of social studies teachers in instilling learning independence in students in social studies learning for class VII at SMPN 8 Semarang. (3) To analyze the obstacles and efforts in instilling learning independence in students in social studies learning for class VII at SMPN 8 Semarang. Using a descriptive qualitative approach. Interview, observation, and documentation methods. Research result: (1) Implementation is not optimal due to the lack of interest in social studies among students, indicated by minimal self-confidence and self-intiative. (2) The role of teachers as guides, role models, motivators, and facilitators. (3) Obstacles include aspects of student psychology (interest) and environmental aspects (friendship and family environment). Efforts made include the provision of the 18-21 program and KIR extracurricular activities, as well as optimizing the role of teachers as educators, motivators, and facilitators.
MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KREASI BELAJAR SEJARAH KEMERDEKAAN MELALUI DRAMA DAN POSTER Adi Saputra; Fredy Hermanto
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v7i1.25138

Abstract

Penelitian bertujuan meningatkan keterlibatan dan kreativitas siswa kelas 9 SMP dalam pembelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia melalui metode pembelajaran bermain peran dan poster. Metode penelitian yang digunakan adalah penilaian tindakan kelas dengan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh dari observasi aktivitas guru dan siswa dan hasil tugas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran, antusiasme siswa, dan hasil tugas yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap materi. Siswa membuat poster sejarah menunjukkan pemahaman materi, namun partisipasi kurang karena 9 siswa tidak menyelesaikan tugas. Siswa bermain peran meningkatkan partisipasi dan kreativias siswa. Penilaian kreativitas dapat dinilai melalui poster yang telah dihasilkan. Penilaian proses membuat poster perlu dinilai melalui observasi. Metode pembelajaran poster dan tugas individu dapat melatih kreativitas personal siswa, sehingga keaktifan dalam pembelajaran kurang diperhatikan. The Research aims to improve and creativity of 9th grade junior high school students in learning Indonesian independence history through role-playing and poster learning methods. The reserarch method used is classroom action assessment with a qualitative research type. Research data was obtained from observations of teacher and student activities and task results. The results of the study showed that there was an increase in student participation in learning, student enthusiasm, and task results that showed student' understanding of the material. Students making history posters showed understanding of the material, but participation was low because 9 students did not complete the assignment. Students playing role-playing improved student participation and creativity. Creativity assessment can be assessed through the posters that have been produced. However, the assessment of the poster making process needs to be assessed through observation. The poster and individual assignment learning method can train student' personal creativity, so that their activeness in learning is less noticeable.   
GURU DIGITAL: KONSERVASI SOCIOCULTURAL MELALUI PENGEMBANGAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL DI LINGKUNGAN SEKOLAH YAYASAN MA’ARIF NU MANGKANG KOTA SEMARANG Sayidatun Nisa, Aisyah Nur; Achmad Putri, Noviani; Ginanjar, Asep; Christian Putra, Galih Mahardika; Wiranto, Aan Probo; Aula, Nabilatul; Ailul Firdaus, Divangga; Rizal; Maulidiyyah , Siti Miftakhul
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v6i2.26620

Abstract

Peran guru sangat krusial pada era digital sekarang ini. Segala informasi akan dengan mudah masuk dan diakses oleh peserta didik, baik itu informasi yang positif maupun yang negatif. Hal ini menuntut guru untuk mempunyai keterampilan mendesain pembelajaran yang memadukan teknologi digital dengan kearifan lokal sehingga proses pembelajaran dapat memberikan bekal kepada peserta didik bagaimana hidup di era digital dengan tidak tertinggal dari kemajuan IPTEK sekaligus tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal. Maka perlu adanya upaya dari pihak sekolah dan tim pengabdi untuk mendesain proses pembelajaran yang dapat memfasilitasi peserta didik sebagai digital native generations yang kehidupannya sangat erat dengan dunia digital dan penanaman nilai-nilai kearifan lokal sebagai bekal filter mandiri peserta didik dari terpaan kebudayaan luar yang masuk melalui internet. Metode yang digunakan pada  ini adalah Community Development Practice dengan prosedur terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan follow-up. Kegiatan terlaksana dengan baik, peserta berkolaborasi dengan tim mampu membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbasis digital serta mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dan sosiocultural kedalam materi dan media pembelajaran berbasis digital. The role of teachers is very crucial in the digital era today. All information will be easily entered and accessed by students, both positive and negative information. This requires teachers to have the skills to design learning that combines digital technology with local wisdom so that the learning process can provide students with provisions on how to live in the digital era without being left behind by the progress of science and technology while not leaving behind the values ​​of local wisdom. There needs to be an effort from the school and the service team to design a learning process that can facilitate students as digital native generations whose lives are very close to the digital world and the instillation of local wisdom values ​​as provisions for independent filters for students from exposure to external culture that enters through the internet. The method used in this service is Community Development Practice with procedures consisting of planning, implementation, evaluation and follow-up. The activity was carried out well, participants collaborated with the team to be able to create and develop digital-based learning media and integrate local wisdom and sociocultural values ​​into digital-based learning materials and media.
Modal Sosial Masyarakat Hindu dalam Pelaksanaan Tradisi Upacara Ngaben (Studi Kasus: Desa Tri Marta Jaya Kecamatan Madang Suku III Kabupaten OKU Timur) Aisyah Mustika Janah; Lestari, Puji
Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS Vol. 8 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sosiolium.v8i2.19399

Abstract

Penelitian ini akan berfokus pada modal sosial yang terjadi dalam masyarakat hindu pada saat upacara Ngaben. Dari adanya tradisi upacara Ngaben ini muncul berbagai unsur dalam  modal sosial dalam masyarakat. Hal inilah yang  menarik untuk diteliti, karena dengan adanya tradisi upacara Ngaben maka secara otomatis akan banyak unsur-unsur modal sosial yang muncul dan berdampak dalam pelaksanaan upacara Ngaben secara kesinambungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji validitas data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Landasan teori yang digunakan dalam pelitian ini adalah teori modal sosial Jousairi Hassbullah dan Michael Woolcock. Hasil penelitain ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Hindu ini memiliki modal sosial yang kuat dan solidaritas tinggi yang ditandai dengan adanya kerjasama dan gotong-royong dalam upacara Ngaben. Hal ini juga buktikan dengan adanya keterlibatan organisasi Sekaa Teruna Teruni yang menjadi wadah dan sarana masyarakat dalam mengeratkan hubungan kekerabatan dan menjalin jaringan dengan lingkungan luar yang memiliki perbedaan kepentingan. Unsur-unsur modal sosial dalam masyarakat Hindu meliputi 1) partisipasi masyarakat; 2) hubungan antar masyarakat dan organisasi Sekaa Teruna Teruni; 3) nilai dan norma dalam upacara Ngaben; 4) serta kepercayaan masyarakat hindu dengan adanya upacara Ngaben.    This study focuses on the social capital within Hindu communities during the Ngaben ceremony. Various elements of social capital emerge from this traditional ceremony, making it a compelling subject of research. The Ngaben tradition inherently generates numerous aspects of social capital, influencing the sustainable implementation of the ceremony. The research employs a descriptive qualitative method. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. Data validation involves data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The theoretical framework is based on the social capital theories of Jousairi Hassbullah and Michele Woolcock. The findings indicate that Hindu communities possess strong social capital and high solidarity, as evidenced by collaboration and mutual assistance during the Ngaben ceremony. This is further supported by the active role of the Sekaa Teruna Teruni organization, which serves as a platform for fostering kinship and building networks with external parties with different interests. Elements of social capital identified within Hindu communities include 1) Community participation; 2) Relationships between community members and the Sekaa Teruna Teruni organization; 3) Values and norms observed during the Ngaben ceremony; 4) Trust within the Hindu community regarding the significance of the Ngaben ceremony.

Page 3 of 3 | Total Record : 27