cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by Indo Publishing
ISSN : 30901367     EISSN : 3090174X     DOI : https://doi.org/10.1063822/jisoh
Merupakan Jurnal Ilmiah Nasional yang diterbitkan oleh Indo Publishing menerbitkan artikel hasil penelitian dan gagasan ilmiah dari Dosen, Peneliti, Praktisi dan Mahasiswa dengan fokus dan ruang lingkup terdiri dari; ILMU SOSIAL (Sosiologi, Antropologi, Ilmu ekonomi, Sejarah, Ilmu politik, Ilmu komunikasi, Psikologi sosial) dan HUMANIORA (Filsafat, Sejarah, Bahasa, Sastra, Seni, Agama, Sosiologi, Antropologi Studi media)
Articles 400 Documents
Dilema Kedaulatan Maritim: Analisis Dampak Strategis Wacana Tarif Selat Malaka terhadap Legitimasi Indonesia sebagai Negara Kepulauan Nyakdhien Sachari
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/5jarbr81

Abstract

The Strait of Malacca is one of the most strategically significant international shipping lanes in the world, connecting the Indian Ocean to the South China Sea. This geographical position places Indonesia within a persistent structural tension between the pursuit of national maritime sovereignty and its binding international obligations as an archipelagic state under UNCLOS 1982. This study examines the strategic implications of the discourse surrounding the proposed imposition of transit fees on foreign vessels in the Strait of Malacca, which emerged in April 2026, and its effects on Indonesia’s maritime legitimacy. Employing a qualitative descriptive-analytical approach through library research, this study analyzes the issue using three theoretical frameworks: Realism, Liberal Institutionalism, and the Copenhagen School’s securitization theory. The findings reveal that the tariff discourse simultaneously reflected national interest maximization and exposed the limits of domestic jurisdiction under international maritime law. An exploratory statement by a state official proved sufficient to trigger global securitization dynamics, even without constituting formal policy. Multilateral burden-sharing mechanisms under Article 43 of UNCLOS are identified as a more sustainable and legally tenable avenue compared to unilateral fiscal regulation. This study concludes that Indonesia’s legitimacy as a responsible archipelagic state fundamentally depends on its consistent adherence to international maritime norms and careful management of public policy communication.
Peran Aktivis Mahasiswa dalam Dinamika Politik di Indonesia Anggun Rahmatika; Luvi Nur Halimah; Nanda Shinta Pratiwi; Rizqi Khairunnisa; Windu Aprilia; Khoiriyah Ulfah
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/yajw5q59

Abstract

Student activists play an important role in Indonesia’s democratic system as agents of change and social control. This study examines the role of student activists in Indonesia’s political dynamics through the perspective of political efficacy theory proposed by Stephen C. Craig, Richard G. Niemi, and Glenn E. Silver, which consists of internal political efficacy and external political efficacy. The research aims to understand how student organizations influence students’ political confidence, political participation, and social awareness in contemporary Indonesian politics. This study used a qualitative descriptive method with a purposive sampling technique. The subjects were university students actively involved in student organizations such as BEM, PMII, and other campus organizations. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that student organizations significantly improve students’ self-confidence, public speaking skills, political understanding, communication abilities, and social awareness. Student activists also believe that student movements and organizational activities remain effective in conveying aspirations and influencing campus and public policies. However, student activists currently face challenges such as political pragmatism, social media polarization, misinformation, and external political interests that may affect the independence of student movements. In conclusion, student organizations contribute greatly to strengthening political efficacy, political participation, and democratic values among students in Indonesia.
Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik Umu Habibah; Maulidya Winatasya; Novia Ayu Dara; Meinajwa Akbar; Surya Sukti
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/kxxk2n57

Abstract

Artikel ini membahas epistemologi dan pendekatan keilmuan dalam ilmu politik serta perkembangan pendekatan tradisional, modern, dan konvergensi dalam studi politik kontemporer. Epistemologi dipahami sebagai cabang filsafat yang mengkaji hakikat, sumber, metode, dan kriteria kebenaran pengetahuan. Dalam konteks ilmu politik, epistemologi menempatkan politik sebagai ilmu yang sistematis, rasional, metodologis, dan dapat diuji secara empiris. Pendekatan tradisional dalam ilmu politik menekankan aspek legal-formal dan institusional, sedangkan pendekatan modern mengedepankan analisis empiris, perilaku politik, dan sistem politik secara menyeluruh. Dengan demikian, perkembangan pendekatan dalam ilmu politik menunjukkan transformasi dari kajian normatifinstitusional menuju analisis empiris dan global yang lebih kompleks.  
Kekerasan Berbasis Gender pada Konflik Knetz dan SEAblings pada Platform X Muharam Dwi Saputro; Sean Alan Haqany; Ika Arinia Indryani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/bs4cjv57

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang publik digital yang memfasilitasi interaksi lintas batas, tetapi juga memunculkan berbagai bentuk konflik antar komunitas pengguna. Penelitian ini bertujuan menganalisis kekerasan berbasis gender yang muncul dalam konflik antara Knetz (Korean netizens) dan SEAblings di platform X yang berawal dari perdebatan mengenai etika fandom pada konser DAY6 di Malaysia dan berkembang menjadi pertarungan identitas kolektif yang melibatkan stereotip budaya, penghinaan regional, serta kekerasan berbasis gender. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan perspektif interseksionalitas untuk memahami irisan identitas gender, nasionalitas, dan regionalitas dalam produksi kekerasan digital. Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah, prosiding, laporan media, dan sumber literatur yang relevan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik tersebut mereproduksi kekerasan simbolik melalui praktik misogini, pelecehan verbal, body shaming, stereotip gender, dan maskulinitas toksik yang memperkuat relasi kuasa patriarkal di ruang digital. Identitas SEAblings muncul sebagai bentuk solidaritas regional defensif terhadap narasi yang dianggap merendahkan masyarakat Asia Tenggara, sementara algoritma platform X berperan dalam mempercepat polarisasi dan penyebaran ujaran kebencian. Temuan ini menegaskan bahwa ruang digital bukanlah ruang yang sepenuhnya egaliter, melainkan arena reproduksi ketimpangan sosial yang memperlihatkan keterkaitan antara gender, budaya, dan identitas regional dalam dinamika komunikasi digital kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi digital, studi gender, dan konflik media sosial serta menekankan pentingnya literasi digital dan moderasi platform untuk mencegah normalisasi kekerasan berbasis gender online.
Tradisi Nopen pada Resepsi Pernikahan Masyarakat Etnis Melayu dalam Mempertahankan Solidaritas Sosial di Kampung Menyumbung Kelurahan Ulak Jaya Kecamatan Sintang Lira Miranda Kurniawan; Iwan Ramadhan; Patrsia Rahayu Utami; Agus Sikwan; Hadi Wiyono
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/w6wvre91

Abstract

This study aims to describe (1). the role of the Nopen tradition in maintaining social solidarity in the Menyumbung village, Ulak Jaya sub-district, Sintang district, analyze (2). The Nopen tradition strengthens social ties in the Menyumbung village, Ulak Jaya sub-district, Sintang district, and analyze (3). The Nopen tradition reflects the values ​​of social solidarity in the Menyumbung village, Ulak Jaya sub-district, Sintang district. The approach used in this study is a qualitative approach with a descriptive research method. Data collection techniques use observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques include data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The analysis in this study used five informants. The results show the Nopen tradition at the wedding reception of the Malay ethnic community in maintaining social solidarity in the Menyumbung village, Ulak Jaya sub-district, Sintang district. The social solidarity formed in the Nopen tradition shows the theory of mechanical solidarity put forward by Emile Durkheim, solidarity is based on the similarity of values, norms, and traditions carried out together by the community. Community participation, regardless of age or social status, demonstrates emotional bonds, a sense of shared responsibility, and a sense of caring. Forms of social bonds include kinship, neighborhood ties, and complementary functional social ties. The values ​​of social solidarity, togetherness, mutual cooperation, and a sense of belonging are embedded in the implementation and stages of the Nopen tradition.
Analisis Nilai Nilai Tradisi Pernikahan Ngambik Bini Pada Masyarakat Suku “Dayak Desa” Di Desa Sungai Pukat Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang Finny Aprillia Christy Pagye; Iwan Ramadhan; Muhammad Nur Imanulyaqin; Hadi Wiyono; Patrisia Rahayu Utami
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/cn45m479

Abstract

This research aims to analyze the Ngambik bini marriage tradition among the Dayak Desa indigenous community in Sungai Pukat Village, Kelam Permai Sub-District, Sintang Regency. The study employs a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the Ngambik bini ceremony consists of preparation, core implementation, and closing stages, all conducted in accordance with customary rules. Each stage embodies social, moral, spiritual, and aesthetic values collectively understood by the community. Gestures such as communal prayer, respectful postures, and silat movements carry social meanings as they are witnessed and interpreted together. Symbols including tawak , ngumbak, stone, rice, egg, water, isau, and flintlock rifle convey messages of steadfastness, protection, responsibility, togetherness, and cultural identity. By uncovering the meanings embedded in each stage and symbol, this research contributes to strengthening understanding of local cultural values as part of the Dayak Desa community's identity. It also supports the preservation of the Ngambik bini tradition through scientific documentation and serves as a reference for future studies on symbolic interactions, cultural values, and local customs.
Implementasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) oleh Komisi Pemilihan Umum pada Pemilu 2024 di Indonesia Alexza Courientdya Nugroho Putrie; Nabila Eydenia; Faqih Savero; Fakthuri Fakthuri; Maisarah Mitra Adrian
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ascjs763

Abstract

Implementasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2024 menandai fase penting dalam digitalisasi tata kelola pemilu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas, hambatan teknis-operasional, serta implikasi politik dari penerapan Sirekap terhadap kualitas demokrasi digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus berbasis kerangka John W. Creswell, penelitian ini menguji fenomena tersebut melalui tiga pisau analisis: Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), Task-Technology Fit (TTF), dan Teori Demokrasi Digital. Pengumpulan data dilakukan secara holistik melalui wawancara mendalam bersama penyelenggara pemilu (KPU dan KPPS) serta kelompok masyarakat sipil, yang dikombinasikan dengan studi dokumentasi sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi facilitating conditions dan effort expectancy pada model UTAUT belum terpenuhi secara optimal akibat ketimpangan kompetensi digital petugas KPPS dan minimnya simulasi berskala besar. Melalui lensa TTF, ditemukan ketidakselarasan (poor fit) yang signifikan antara karakteristik teknologi canggih Sirekap dengan realitas lapangan; kendala pada teknologi Optical Character Recognition (OCR) dalam membaca formulir fisik serta kesenjangan infrastruktur telekomunikasi (digital divide) di wilayah pelosok memicu disfungsi sistemik. Dalam perspektif demokrasi digital, kegagalan teknis ini mendistorsi prinsip transparansi dan akuntabilitas informasi, yang pada gilirannya memproduksi ketidakpercayaan publik (public distrust) berskala besar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi pemilu tidak boleh hanya mengutamakan kecanggihan teknologi semata, melainkan wajib didukung oleh kesiapan kapasitas kelembagaan, pemerataan infrastruktur nasional, serta sistem verifikasi data yang akuntabel demi menjaga legitimasi demokrasi.
Dinamika Sosiologi Keluarga dalam Pelestarian Nilai Sosial Budaya: Studi Kasus Pernikahan Dini pada Masyarakat Kontemporer Riandi Mika Arlanda Ginting; Adrian Collins Ginting; Julio Christophel Silalahi; Berlianti Berlianti
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/mwgsjs60

Abstract

Artikel ini membahas dinamika sosiologi keluarga dalam bingkai sosial budaya, dengan fokus pada fenomena pernikahan dini sebagai realitas yang memengaruhi kesejahteraan dan struktur keluarga pada masyarakat kontemporer. Keluarga bukan sekadar unit biologis, melainkan institusi sosial yang mentransmisikan nilai budaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi pustaka. Hasil menunjukkan bahwa keberhasilan fungsi keluarga dalam sosial budaya diukur dari kemampuan adaptasi pasangan muda terhadap norma yang berlaku serta pemenuhan fungsi edukasi dan ekonomi. Kesimpulannya, sosiologi keluarga berperan vital dalam menjaga stabilitas sosial melalui penguatan fungsi afeksi dan sosialisasi guna meminimalisasi dampak negatif pernikahan dini.  
Menuju Model Dialog Kristen yang Inklusif: Integrasi Teologis dari Analisis Perbandingan Agama untuk Pelayanan dan Pendidikan Kristiani Damai Devyana Lande Maure; Victor Deak
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/1pgavw59

Abstract

Penelitian ini mempelajari bagaimana membuat model dialog Kristen yang inklusif dalam konteks pluralisme agama di Indonesia dengan menggunakan pendekatan teologis dan analisis perbandingan agama. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif, dengan melihat literatur tentang berbagai sumber teologi, jurnal ilmiah, dan kajian dialog antaraagama. Penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan antara kesetiaan kepada Kristus dan keterbukaan terhadap orang lain adalah cara yang dapat digunakan untuk membangun percakapan Kristen yang inklusif. Dialog dianggap sebagai ekspresi kasih, penghormatan, dan kesaksian gereja di tengah masyarakat yang heterogen, bukan perjanjian iman atau sinkretisme. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai universal seperti kasih, toleransi, keadilan, solidaritas, dan perdamaian dapat berguna untuk membangun relasi lintas agama tanpa menghilangkan identitas teologis masing-masing agama. Berdasarkan temuan ini, model dialog kristosentris, dialogis, humanis, dan kontekstual dibangun. Model ini berguna dalam pelayanan gereja dan pendidikan Kristiani karena dapat membangun kerukunan sosial, meningkatkan rasa saling menghargai, dan menunjukkan kasih Kristus dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai agama. Akibatnya, gereja dan institusi pendidikan Kristen harus mengadopsi pendekatan dialogis yang konstruktif untuk membantu mewujudkan kehidupan bersama yang damai, harmonis, dan berkeadaban di tengah keberagaman agama yang ada di Indonesia.
Problematika Pernikahan Dini dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam Maulidya Nur Azmi; Nurul Nurul
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3xgmst75

Abstract

Even after Indonesia revised its Marriage Law to raise the minimum age to 19, early marriage remains a deeply rooted challenge within the country’s Islamic Family Law system. This study examines these ongoing issues through the dual lenses of contemporary Islamic Family Law and Maqashid Shariah. Utilizing a qualitative, normative-juridical method, the research analyzes relevant legal texts and scholarly perspectives. The findings reveal that modern Islamic Family Law has evolved to define maturity beyond biological markers, incorporating essential psychological and intellectual readiness. Under the framework of Maqashid Shariah, efforts to curb early marriage align directly with the core tenets of safeguarding life and preserving future generations. Ultimately, the study argues that tightening the loopholes for marriage dispensations in Religious Courts and boosting community legal literacy are vital steps toward building resilient families that yield genuine public benefits.