cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by Indo Publishing
ISSN : 30901367     EISSN : 3090174X     DOI : https://doi.org/10.1063822/jisoh
Merupakan Jurnal Ilmiah Nasional yang diterbitkan oleh Indo Publishing menerbitkan artikel hasil penelitian dan gagasan ilmiah dari Dosen, Peneliti, Praktisi dan Mahasiswa dengan fokus dan ruang lingkup terdiri dari; ILMU SOSIAL (Sosiologi, Antropologi, Ilmu ekonomi, Sejarah, Ilmu politik, Ilmu komunikasi, Psikologi sosial) dan HUMANIORA (Filsafat, Sejarah, Bahasa, Sastra, Seni, Agama, Sosiologi, Antropologi Studi media)
Articles 400 Documents
Analisis Retorika Konten Tiktok Sadam Permana Pada Fenomena Whip Pink Media Sosial Febby Arie Oktavia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/46ctjk97

Abstract

Social media has become a primary medium for disseminating information capable of influencing public perspectives and behaviors, including health-related issues. One phenomenon capturing public attention is Whip Pink, widely discussed across various TikTok content. This study aims to examine the application of Aristotle's rhetorical strategies in TikTok content concerning the Whip Pink phenomenon and to analyze the formation of audience perception toward evolving health issues on social media. The research employs a qualitative approach with a rhetorical analysis method. Data were gathered through observation and documentation of videos, captions, visual elements, and audience interactions within TikTok and Instagram content related to the Whip Pink phenomenon. The analysis is based on ethos, pathos, and logos elements within Aristotle's rhetorical theory. The results indicate that ethos is reflected through the communicator's ability to build audience trust when delivering information. Pathos is evident from the emergence of various emotional responses from the audience, such as curiosity, sympathy, concern, and critical feedback. Meanwhile, logos is observed through the use of rational arguments and explanations to help the audience comprehend the developing issue. The research findings also demonstrate that TikTok serves as a digital health communication space that plays a role in shaping public perception through user interactions. It is suggested for future researchers to expand the research object to other digital platforms to enrich the variation of health communication data.
Konstruksi Ancaman Keamanan ALKI II terhadap Stabilitas Ibu Kota Nusantara: Analisis Kebijakan Strategis Indonesia dalam Merespons Ancaman Aktor Negara dan Non-Negara dalam Perspektif Securitization Theory Kamilah Tjandung
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/z38r1b40

Abstract

Relokasi Ibu Kota Negara (IKN) ke Nusantara, Kalimantan Timur, secara signifikan telah menggeser pusat gravitasi nasional (Center of Gravity) ke wilayah yang berbatasan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yaitu jalur pelayaran strategis yang membentang dari Selat Lombok, melintasi Selat Makassar, hingga ke Laut Sulawesi. Kajian ini menganalisis bagaimana ancaman multidimensi di ALKI II yang mencakup proyeksi kekuatan militer aktor negara maupun aktivitas kriminal transnasional non-negara dikonstruksi dalam kerangka kebijakan pertahanan Indonesia. Secara geopolitik, ALKI II memiliki kerentanan strategis; berdasarkan UNCLOS 1982, jalur yang melayani 20–30% perdagangan maritim global ini memberikan hak lintas bagi kapal selam asing dalam posisi menyelam, sehingga menciptakan risiko spionase yang serius bagi keamanan ibu kota baru. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini membedah fenomena tersebut melalui lensa Securitization Theory dari Copenhagen School serta konsep Sea Power Mahan. Temuan penelitian menunjukkan adanya gap substansial antara proyeksi ancaman dalam dokumen kebijakan dengan kapasitas operasional di lapangan, ditandai dengan cakupan radar yang baru mencapai 40% dan kondisi mayoritas alutsista yang telah berusia lanjut. Sebagai solusi strategis, penelitian ini merekomendasikan akselerasi pembangunan Virtual Maritime Gate berbasis AI, peningkatan status Lanal Balikpapan menjadi Lantamal dengan fungsi pangkalan 5R, serta penguatan sinergi antara TNI AL, Bakamla, dan komunitas nelayan lokal sebagai garda pertahanan maritim yang resilien
Fenomena Digital Banking: Tantangan Tata Cara Pendirian dan Regulasi Kegiatan Usaha Bank di Era Teknologi Finansial Hambali H
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3vewks62

Abstract

Fenomena digital banking telah mentransformasi sektor perbankan Indonesia, menghadirkan peluang inklusi keuangan sekaligus tantangan hukum yang kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketentuan hukum mengenai bentuk dan tata cara pendirian bank di Indonesia, pengaruh digital banking terhadap mekanisme pendirian bank, regulasi kegiatan usaha bank di era digital, serta tantangan hukum yang dihadapi. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, didukung analisis kualitatif yuridis-normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk hukum bank terbatas pada Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, atau Perusahaan Daerah (BUMD) sebagaimana diatur UU No. 10 Tahun 1998. Tata cara pendirian bank melalui tahapan ketat: izin prinsip, modal minimum Rp3 triliun (bank umum) atau Rp10 triliun (bank digital secara bertahap), uji kemampuan dan kepatutan, izin usaha, serta pengawasan berkelanjutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Digital banking memengaruhi pendirian bank dengan menekankan kesiapan infrastruktur teknologi informasi, perlindungan data pribadi (UU No. 27 Tahun 2022), serta manajemen risiko siber. Regulasi kegiatan usaha bank di era digital tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian, namun diperluas mencakup standar internasional Basel Committee on Banking Supervision serta harmonisasi lintas sektor dengan UU ITE. Tantangan utama meliputi perlindungan konsumen, kepastian hukum, kapasitas pengawasan regulator, risiko keamanan siber, dan sinkronisasi regulasi lintas sektor. Diperlukan regulasi responsif, pengawasan adaptif, dan peningkatan literasi hukum masyarakat.
Implementasi Pelayanan Publik dan Administrasi Pemerintahan Melalui Program MBKM di Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat Yohanis Bero; Muhammad Ridhwan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zxvh9n61

Abstract

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu kebijakan pendidikan yang bertujuan memberikan pengalaman belajar di luar kampus melalui kegiatan magang pada instansi pemerintah maupun swasta. Kegiatan magang ini dilaksanakan di Kelurahan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Administrasi Jakarta Pusat dengan tujuan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa dalam memahami tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan administratif, seperti pengelolaan dokumen, penyusunan laporan, pengarsipan surat, pendampingan pelayanan masyarakat, serta mengikuti rapat koordinasi dan kegiatan pemerintahan di tingkat kelurahan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah observasi langsung dan partisipasi aktif dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa magang memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses administrasi pemerintahan, pelayanan publik, serta pentingnya koordinasi antarinstansi dalam mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, mahasiswa memperoleh peningkatan keterampilan komunikasi, administrasi, manajemen waktu, dan pemecahan masalah. Meskipun demikian, ditemukan beberapa kendala, seperti tingginya volume pelayanan masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia, dan perlunya optimalisasi teknologi dalam pengelolaan administrasi. Secara keseluruhan, program magang MBKM di Kelurahan Petojo Utara memberikan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa maupun instansi dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
DigiDes dan Reorientasi Tata Kelola Pemerintahan Desa Menuju Pelayanan Publik Digital yang Inklusif di Indonesia Judy de Fretes; Muhtar Muhtar; Syamsul Bahri Abdul Rasyid
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ma1s8x37

Abstract

This article aims to analyze the role of DigiDes in reorienting village government governance toward inclusive digital public services in Indonesia. This study employs a descriptive qualitative approach with a conceptual literature-based design. The data were obtained from journal articles, official documents, statistical publications, and institutional sources relevant to the digital transformation of village governance. The findings show that DigiDes functions not only as a village administrative application but also as an institutional instrument for strengthening data governance, service efficiency, information transparency, accountability, responsiveness, and citizen participation. However, the success of DigiDes is not automatic, as it is strongly influenced by the capacity of village officials, consistency in system use, data quality, digital infrastructure, financial sustainability, community digital literacy, and personal data protection. This article emphasizes that village digital public services must be developed inclusively to prevent the emergence of new inequalities among vulnerable groups, including older adults, low-income communities, persons with disabilities, and residents with limited internet access. The novelty of this article lies in positioning DigiDes as an instrument for reorienting village government governance, rather than merely as a technical innovation in administrative services.
Menyiapkan Generasi Pancasila: Urgensi Pendidikan Multikultural di Era Digital Sapuadi Sapuadi; Fathor Rosi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/wfzdvf31

Abstract

The digital era poses new challenges to the preservation of Indonesia's national diversity, ranging from algorithmic polarization and SARA-based hoaxes to ethical biases in artificial intelligence (AI) targeting the youth. This research aims to analyze multicultural challenges in cyberspace and formulate strategies for instilling Pancasila values through adaptive multicultural education for teenagers as digital natives. The research method employed is qualitative descriptive with a library research approach. The findings indicate that free digital spaces frequently transform into echo chambers that trigger intolerance and erode local cultural identity due to global homogenization. As a transformative solution, integrating multicultural education through the Merdeka Curriculum specifically via the Project for Strengthening the Profile of Pancasila Students (P5) and differentiated learning proves effective in fostering the characters of Global Diversity and Critical Thinking as students' cognitive filters and digital empathy. Furthermore, the success of this movement requires synergy among the Tri Sentra Pendidikan (schools, families, and communities) and the formulation of Pancasila Ethics as a moral direction for future technology development (such as AI). This study concludes that grounding Pancasila in virtual spaces is no longer just a curricular choice, but an urgent long-term strategic investment to safeguard the fabric of Indonesian nationhood on the global stage.
Penguatan Identitas Budaya Lokal Melalui Sosialisasi Program Kamis Ber-Adat dalam Kajian Sosiologi Hukum pada Peserta Didik SMA Negeri 14 Bandar Lampung Atikah Ramadhani; Edi Siswanto; Zaskia Falia Putri; Fina Tri Nur Maharani; Irma Yunita; Komang Windasari; Ratri Pramudita; Della Soraya; Adinda Salsabila Rizki Oktavia; Najua Fauzani; Nourel Islamay Diandra; Yashinta Zahra Alfitri; Raden Muhammad Setiawan; Teki Prasetyo Sulaksono
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/aq722a61

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan identitas budaya lokal melalui sosialisasi Program Kamis Ber-Adat dalam kajian sosiologi hukum pada peserta didik SMA Negeri 14 Bandar Lampung. Program Kamis Ber-Adat merupakan kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung yang mendorong penggunaan Bahasa Lampung dan pemakaian atribut budaya daerah sebagai upaya pelestarian budaya lokal di tengah arus globalisasi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan penyebaran angket kepada peserta didik kelas X.6 dan X.7 SMA Negeri 14 Bandar Lampung. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif melalui perhitungan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi Program Kamis Ber-Adat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman dan kesadaran budaya peserta didik. Sebagian besar siswa memahami tujuan program serta menyadari pentingnya Bahasa Lampung sebagai identitas budaya daerah yang perlu dilestarikan. Program ini juga berperan sebagai sarana rekayasa sosial yang membentuk kesadaran budaya melalui proses pembiasaan di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, penggunaan Bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari masih menghadapi kendala berupa rendahnya pembiasaan di lingkungan keluarga, dominasi penggunaan Bahasa Indonesia, serta pengaruh globalisasi dan media digital. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program Kamis Ber-Adat sehingga pelestarian budaya Lampung dapat berjalan secara berkelanjutan.  
Media Sosial Sebagai Arena E-Partisipasi: Studi Kasus Ekspresi Tuntutan Publik 17+8 Edrea Rahma Nabilah; Fadiyah Salsabila Putri; Nabila Amelia Putri Sahira; Fatkhuri Fatkhuri; Reja Reja
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/7mdaz445

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang baru yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam isu politik melalui e-participation. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran media sosial dalam fenomena 17+8 Tuntutan Rakyat, bentuk partisipasi masyarakat yang muncul, serta kualitas partisipasi yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus dan analisis konten terhadap unggahan, komentar, dan diskusi publik pada berbagai platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai sarana penyampaian aspirasi publik sekaligus alat mobilisasi massa yang memungkinkan penyebaran tuntutan secara cepat dan luas. Kemunculan gerakan 17+8 dipengaruhi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, kekhawatiran terhadap tindakan represif aparat, serta dukungan influencer dan organisasi masyarakat sipil. Bentuk partisipasi yang berkembang meliputi penyebaran informasi, diskusi publik, dan dukungan terhadap tuntutan melalui media sosial. Namun, kualitas partisipasi yang terbentuk cenderung bersifat reaktif dan simbolik sehingga belum sepenuhnya mencerminkan keterlibatan politik yang substantif. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial berpotensi memperluas partisipasi politik masyarakat, tetapi masih memerlukan penguatan kapasitas deliberatif agar menghasilkan partisipasi yang lebih bermakna dalam proses demokrasi.
Paradoks Empati: Tinjauan Sistematis Komunikasi Antarpribadi Manusia dalam Pelayan Pelanggan Berbasis Kecerdasan Buatan Hibrida Elza Evelina Amanta Simanjuntak; Naztia Maulida Putri; Fera Widianata; Santa Clara Sitanggang; Iza Alfira; Wilda Sarwangi; Aulia Risky
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/dscdya14

Abstract

The development of digital technology, particularly Artificial Intelligence (AI), has brought about significant changes in the way companies communicate with customers. The use of AI in customer service, such as chatbots and virtual assistants, provides convenience through faster, more efficient, and more accessible services. However, these developments also pose challenges in interpersonal communication, particularly regarding AI's ability to convey empathy, which is typically found in human interactions. This study aims to analyze how the use of Artificial Intelligence affects interpersonal communication in a Hybrid AI-Driven Customer Services system and to identify the role of empathy in building a better customer experience. This study used the Systematic Literature Review (SLR) method by analyzing various scientific articles related to Artificial Intelligence, interpersonal communication, empathy, Computer-Mediated Communication (CMC), and customer satisfaction. The results show that AI makes a positive contribution to improving service effectiveness through automation, response speed, and ease of access to information. However, AI still has limitations in deeply understanding customer emotions because it lacks the emotional experience of humans. Therefore, implementing a Hybrid AI-Driven Customer Services system provides a solution by combining the capabilities of AI technology with the role of humans. While AI can help address simple customer needs, humans are still needed to provide empathy and resolve more complex issues. This research demonstrates that the development of AI in customer service should not only focus on technological efficiency but also consider interpersonal communication aspects to create a more personalized and meaningful customer experience.
Menelaah Tipologi dan Karakteristik Kepemimpinan Kepala Sekolah di Lembaga Pendidikan Indonesia(Studi Literatur Kepemimpinan) Dinda Aprilia Putri; Adil Mubarok; Nora Eka Putri; Padrison Padrison
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/x5mrbp35

Abstract

The progress of educational institutions in Indonesia is largely determined by the principal or school leader. This article examines the typology and characteristics of principal leadership in Indonesian educational institutions using a literature review analysis. Based on five research findings, it was found that educational institutions in Indonesia implement various leadership typologies: mixed (democratic-paternalistic), transformational, religio-paternalistic, socialistic, and laissez-faire. Furthermore, leadership characteristics depend on or are related to the typology implemented by each principal within the educational institution. For example, if the principal's leadership typology applies a transformative type, then the leadership characteristics tend to be able to work together, communicate with all parties, have a varied identity and leadership style and are able to accept suggestions and criticism from others.