cover
Contact Name
Irvon Fallz
Contact Email
welvaart@uho.ac.id
Phone
+6285947318505
Journal Mail Official
welvaart@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi TriDharma, Andonohu, Kendari 93232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : 27163679     DOI : https://doi.org/10.52423/welvaart
Core Subject : Social,
WELVAART: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu Oleo, yang merupakan forum penting untuk menyebarkan ide dan hasil penelitian di bidang Kesejahteraan Sosial, Kebijakan Sosial, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility), dan Studi Pemberdayaan Masyarakat
Articles 82 Documents
PERUBAHAN PERILAKU SADAR LINGKUNGAN PESERTA GERAKAN MEMUNGUT SEHELAI SAMPAH SUNGAI KARANG MUMUS Astrid Yolanda; Ian Tubangsa
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses perubahan perilaku sadar lingkungan peserta Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) di Kota Samarinda. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Analisis berdasarkan kerangka kerja Transtheorical Model (TTM) menunjukkan perubahan perilaku para peserta terjadi secara perlahan melalui enam tahapan. Tahap pertama yaitu pra-kontemplasi terlihat ketika dahulu para peserta beranggapan bahwa kebiasaaan membuang sampai di sungai merupakan hal yang wajar. Kemudian, tahap perenungan mulai terjadi ketika muncul kesadaran lingkungan tapi belum melakukan aksi nyata. Tahap persiapan ditandai dengan adanya niat untuk berubah dan mulai mengikuti kegiatan GMSS-SKM. Tahap aksi terlihat melalui keterlibatan aktif para peserta di setiap kegiatan. Tahap pemeliharaan terjadi ketika perilaku sadar lingkungan telah mengakar dan menjadi kebiasaan. Terakhir, tahap pemantapan yang menunjukkan perilaku sadar lingkungan telah menjadi jati diri para peserta. Penelitian ini menyarankan program kolaborasi antara pemerintah dengan gerakan lingkungan dalam mengubah perilaku sadar lingkungan masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Karang Mumus.
BIMBINGAN KONSELING ISLAM SEBAGAI DUKUNGAN PSIKOSOSIAL BAGI KESEHATAN MENTAL SISWA DARI KELUARGA PRASEJAHTERA: TINJAUAN LITERATUR Ghozali Nurfauzi; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.147

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji Bimbingan Konseling Islam sebagai dukungan psikososial bagi kesehatan mental siswa dari keluarga prasejahtera. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kerentanan siswa prasejahtera yang tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga tekanan psikologis berupa rendah diri, kecemasan masa depan, keterbatasan dukungan belajar, dan kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Literatur yang dianalisis terdiri atas 22 sumber berupa artikel jurnal ilmiah dan buku akademik yang relevan dengan Bimbingan Konseling Islam, kesehatan mental siswa, dukungan psikososial, tekanan sosial-ekonomi, dan pendampingan spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Bimbingan Konseling Islam dapat berfungsi sebagai dukungan psikososial melalui penguatan spiritual, pengelolaan emosi, penerimaan diri, pembentukan resiliensi, dukungan sekolah, dan kolaborasi keluarga. Kajian ini menegaskan bahwa Bimbingan Konseling Islam perlu dikembangkan sebagai layanan yang empatik, profesional, kontekstual, dan peka terhadap kondisi sosial-ekonomi siswa, bukan sekadar nasihat keagamaan yang bersifat normatif.
STRATEGI PEMBERDAYAAN SOSIAL PEREMPUAN RAWAN SOSIAL EKONOMI MELALUI PROGRAM KEWIRAUSAHAAN BERBASIS KOMUNITAS DI DESA JAYAGIRI KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Muammar Akbar Al Qhuraissy; Ghery Safitra Fahrun
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.148

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan perempuan rawan sosial ekonomi melalui program kewirausahaan berbasis komunitas, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program, serta mengevaluasi dampaknya terhadap peningkatan kapasitas dan kesejahteraan perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan strategi studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, informan penelitian teridiri pendamping sosial, serta tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive. Data yang diperoleh dianalisis secara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program kewirausahaan berbasis komunitas dilaksanakan melalui tahapan identifikasi kebutuhan dan potensi lokal, pelatihan keterampilan usaha, penyediaan akses permodalan, serta pendampingan usaha yang berkelanjutan. Pelaksanaan program ini terbukti meningkatkan kapasitas perempuan, terutama dalam keterampilan berwirausaha, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan ekonomi di tingkat rumah tangga. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, program juga memperkuat modal sosial melalui terbentuknya jaringan usaha dan solidaritas antarpeserta. Keberhasilan program didukung oleh dukungan keluarga dan komunitas, peran aktif pendamping, serta akses terhadap pelatihan dan sumber daya. Adapun kendala yang dihadapi meliputi rendahnya pendidikan, keterbatasan akses pasar, kurangnya inovasi produk, dan peran ganda perempuan. Oleh karena itu, penguatan kebijakan, peningkatan kualitas pendampingan, serta pengembangan akses pasar berbasis teknologi diperlukan untuk menjamin keberlanjutan program dan memperluas dampaknya terhadap kemandirian ekonomi serta kesejahteraan sosial perempuan.
PERAN SEKTOR PRIMER TERHADAP KETAHANAN SOSIAL-EKONOMI RUMAH TANGGA PERDESAAN DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR Asrani; Nur Azisyah Mukmin
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses perubahan perilaku sadar lingkungan peserta Banyak daerah agraris di Indonesia, termasuk Kabupaten Kolaka Timur, masih bergantung pada sektor primer sebagai penggerak ekonomi dan sumber penghasilan penduduk lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana sektor primer berpengaruh terhadap ekonomi dan lapangan kerja Kabupaten Kolaka Timur, serta bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Studi ini menganalisis peranan sektor primer terhadap ketahanan sosial‑ekonomi rumah tangga perdesaan di Kabupaten Kolaka Timur dengan fokus pada kontradiksi antara kekuatan sektor primer di level makro dan kerentanan ketahanan rumah tangga di level mikro. Data yang digunakan berasal dari data sekunder periode 2020–2024 mengenai ketenagakerjaan, produksi komoditas utama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan beberapa indikator kesejahteraan yang dikumpulkan dari publikasi resmi pemerintah daerah dan lembaga statistik. Fokus analisis deskriptif kuantitatif adalah makna sosial dari dinamika sektor primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB (sekitar 40 hingga 43 persen), mereka juga menyerap banyak tenaga kerja, tetapi produktivitas mereka rendah, nilai tambah mereka rendah, dan mereka menghadapi masalah dengan penghidupan rumah tangga mereka. Hasil ini menegaskan bahwa penguatan sektor primer sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup, perlindungan masyarakat lokal, dan pertumbuhan ekonomi.
PEREMPUAN DAN MEDIA SOSIAL: KONSTRUKSI IDENTITAS DALAM RUANG DIGITAL Tri Nur Putri; Tri Rahma Dana; Purnama Sari; Salwiyah Fitriani; Rivie Selvianti
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.150

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana perempuan membangun dan menegosiasikan identitasnya dalam ruang digital melalui media sosial. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang representasi diri yang kompleks. Dengan menggunakan perspektif teori performativitas gender, tulisan ini menyoroti bagaimana identitas perempuan tidak bersifat tetap, melainkan terus diproduksi dan direproduksi melalui praktik sehari-hari di platform digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis konten terhadap unggahan media sosial serta studi literatur terkait gender dan media digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa perempuan berada dalam posisi ambivalen: di satu sisi memiliki agensi untuk mengekspresikan diri, namun di sisi lain tetap terikat pada norma sosial, standar kecantikan, dan tekanan algoritmik yang membentuk cara mereka menampilkan diri. Media sosial dengan demikian menjadi arena tarik-menarik antara kebebasan ekspresi dan reproduksi struktur patriarki. Artikel ini menyimpulkan bahwa identitas perempuan di ruang digital merupakan hasil dari proses negosiasi yang dinamis antara subjektivitas individu dan kekuatan sosial yang lebih luas.
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM PERSPEKTIF ETNOGRAFI: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS TERHADAP MODEL WILLIAM B. GUDYKUNST Eka Kurnia Syawaliyah Subagio; Muhammad Ihlasul Amal; Muhammad Medriansyah Putra Kartika
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.151

Abstract

Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis literatur (Systematic Literature Review/SLR) yang bertujuan untuk menganalisis penerapan model komunikasi antarbudaya William B. Gudykunst dalam perspektif etnografis berdasarkan kajian atas 24 artikel ilmiah dari basis data Scopus (open access) dan jurnal terindeks SINTA (periode 2013–2025). Mengacu pada protokol PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses), sebanyak 187 artikel diidentifikasi, disaring menjadi 84, dan 24 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa: (1) Teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) Gudykunst secara konsisten terbukti relevan dalam menjelaskan dinamika komunikasi lintas budaya di berbagai konteks; (2) Perspektif etnografis memperkaya analisis AUM dengan menyingkap pola situasi komunikatif, peristiwa tutur, dan tindak tutur yang khas pada masing-masing budaya; (3) Faktor psikobudaya kecemasan, ketidakpastian, stereotip, dan prasangka merupakan hambatan utama yang ditemukan secara konsisten di seluruh studi yang ditinjau; (4) Mindfulness dan kompetensi komunikasi antarbudaya berperan sebagai variabel kritis yang memediasi dan memoderasi efektivitas komunikasi; (5) Konteks Indonesia dengan keberagaman etniknya memberikan lahan uji yang kaya bagi teori Gudykunst, sekaligus mengidentifikasi beberapa keterbatasan kulturalnya. Tinjauan ini berkontribusi pada pemahaman teoritik dan praktis serta bagaimana model AUM dengan pendekatan etnografis dalam penelitian komunikasi antarbudaya di Indonesia.
HOUSEHOLD LIVELIHOOD SECURITY (HLS) PADA RUMAH TANGGA NELAYAN DALAM MENGHADAPI RISIKO AKTIVITAS PERTAMBANGAN DI DESA WAWATU PROVINSI SULAWESI TENGGARA Kartika Nurfadila
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.152

Abstract

Penelitian ini membahas kondisi household livelihood security pada rumah tangga nelayan di Desa Wawatu dalam menghadapi risiko aktivitas pertambangan. Bagi rumah tangga nelayan, perubahan kondisi laut tidak hanya berdampak pada hasil tangkapan, tetapi juga pada pendapatan, biaya melaut, dan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari rumah tangga nelayan, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan menghadapi hambatan lingkungan dan sumber daya, hambatan ekonomi rumah tangga, serta hambatan sosial dan kelembagaan. Hambatan tersebut terlihat dari berkurangnya hasil tangkapan, keruhnya air laut, perubahan wilayah tangkap, meningkatnya biaya operasional, pendapatan yang tidak stabil, keterbatasan modal dan alat tangkap, serta terbatasnya keterlibatan nelayan dalam pengambilan keputusan. Untuk bertahan, rumah tangga nelayan melakukan strategi saat melaut dan strategi di darat. Strategi tersebut dilakukan dengan melaut lebih jauh, menyesuaikan waktu melaut, menggunakan alat tangkap yang tersedia, mencari pekerjaan tambahan, mengolah hasil tangkapan, meminjam uang, serta memanfaatkan bantuan keluarga dan jaringan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa keamanan penghidupan rumah tangga nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pesisir, akses terhadap sumber daya, aset rumah tangga, dan strategi yang mampu dilakukan keluarga.
KONTESTASI AKSES DALAM FENOMENA “WAR TIKET HAJI” REGULER DI INDONESIA Rety Reka Merlins; Bunga Kartika; Siti Nurhayati; Nur Azizah; Rosikah; Astin
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.154

Abstract

Fenomena war tiket haji reguler di Indonesia muncul sebagai konsekuensi dari tingginya jumlah pendaftar haji yang tidak sebanding dengan kuota keberangkatan yang tersedia. Dalam ruang publik, istilah tersebut tidak hanya merujuk pada kompetisi untuk memperoleh nomor porsi haji, tetapi juga merepresentasikan konstruksi wacana mengenai akses, peluang, dan keadilan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wacana war tiket haji reguler dikonstruksikan serta bagaimana relasi kuasa bekerja dalam membentuk akses masyarakat terhadap layanan haji. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana Michel Foucault yang berfokus pada hubungan antara pengetahuan (knowledge), kuasa (power), dan praktik sosial dalam produksi suatu wacana. Data penelitian diperoleh dari pemberitaan media daring, dokumen kebijakan penyelenggaraan haji, serta narasi yang berkembang di ruang publik terkait pendaftaran haji reguler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana war tiket haji reguler diproduksi melalui interaksi antara regulasi negara, sistem kuota, teknologi pendaftaran, dan narasi publik yang membentuk cara masyarakat memahami akses terhadap ibadah haji. Melalui mekanisme tersebut, kuasa tidak beroperasi secara represif, melainkan secara produktif dengan menghasilkan kategori, aturan, dan praktik yang mengatur perilaku calon jamaah dalam memperoleh nomor porsi haji. Wacana ini sekaligus mereproduksi persepsi mengenai siapa yang dianggap memiliki peluang lebih besar untuk mengakses layanan haji dan siapa yang harus menghadapi hambatan dalam proses tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa akses terhadap ibadah haji bukan semata-mata persoalan administratif, melainkan merupakan hasil konstruksi diskursif yang dipengaruhi oleh relasi kuasa dalam tata kelola penyelenggaraan haji di Indonesia. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian sosiologi agama dan studi kebijakan publik, khususnya dalam memahami praktik-praktik kuasa yang bekerja di balik distribusi akses layanan keagamaan.
COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN: TINJAUAN SISTEMATIS ATAS PERAN PEMERINTAH, SWASTA, DAN MASYARAKAT SIPIL Nurul Arsy Utami; La Ode Muhammad Juanda; La Ode Andi Hermawan
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.156

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis konsep dan implementasi collaborative governance dalam penanggulangan kemiskinan melalui tinjauan sistematis literatur (Systematic Literature Review/SLR) terhadap 25 artikel ilmiah yang bersumber dari Scopus, jurnal terindeks SINTA, dan laporan lembaga internasional yang dipublikasikan pada tahun 1996–2025. Menggunakan protokol PRISMA dan 8 kriteria inklusi yang ketat, penelitian ini mengidentifikasi 312 artikel pada tahap identifikasi awal dan menetapkan 25 artikel untuk dianalisis secara mendalam. Sintesis tematik menunjukkan empat temuan utama. Pertama, collaborative governance terbukti menjadi pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif dibanding model administrasi publik konvensional karena mengintegrasikan sumber daya, kapasitas, dan legitimasi dari berbagai aktor. Kedua, pemerintah berperan sebagai regulator, koordinator, fasilitator, dan penjamin akuntabilitas, sementara sektor swasta berkontribusi melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, dan investasi sosial. Ketiga, masyarakat sipil berperan sebagai advokat, pendamping komunitas, dan pengontrol sosial yang memastikan kebijakan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat miskin. Keempat, keberhasilan collaborative governance ditentukan oleh kepercayaan antaraktor, mekanisme koordinasi yang efektif, data kemiskinan yang terintegrasi, dan kepemimpinan kolaboratif yang kuat. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teoritis collaborative governance dalam konteks administrasi publik Indonesia yang multidimensional dan beragam secara kelembagaan.
PEMBERDAYAAN SEBAGAI DISIPLIN SOSIAL: PENGALAMAN PEREMPUAN MARGINAL DALAM EKONOMI INFORMAL PERKOTAAN Syaifudin Suhri Kasim
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.157

Abstract

Artikel ini mengkaji pemberdayaan perempuan marginal perkotaan bukan semata sebagai proses emansipatoris, tetapi sebagai bentuk disiplin sosial yang bekerja melalui mekanisme kebijakan, program ekonomi, dan praktik institusional dalam sektor informal. Berangkat dari perspektif feminis kritis dan teori relasi kuasa, studi ini menganalisis bagaimana diskursus pemberdayaan membentuk subjek perempuan sebagai individu yang “mandiri”, “produktif”, dan “bertanggung jawab” atas kemiskinan mereka sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus pada perempuan pekerja sektor informal di wilayah perkotaan, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kebijakan.Temuan menunjukkan bahwa program pemberdayaan; melalui pelatihan kewirausahaan, akses mikro-kredit, dan pendampingan usaha; seringkali mereproduksi logika neoliberal yang menekankan tanggung jawab individual, sementara mengabaikan ketimpangan struktural seperti keterbatasan akses modal, perlindungan sosial, dan ketidaksetaraan gender di pasar kerja. Alih-alih sepenuhnya membebaskan, praktik pemberdayaan tersebut membentuk mekanisme kontrol simbolik yang menormalkan kerja prekar, beban ganda, dan internalisasi etos kerja berbasis survival. Namun demikian, perempuan marginal tidak sepenuhnya pasif; mereka menegosiasikan, mengadaptasi, dan dalam beberapa konteks meredefinisi makna pemberdayaan sesuai dengan kebutuhan kolektif dan jaringan sosial mereka. Studi ini berkontribusi pada literatur feminis tentang ekonomi informal dengan menunjukkan bahwa pemberdayaan beroperasi sebagai arena ambivalen: sekaligus membuka ruang agensi dan memperkuat disiplin sosial. Dengan demikian, artikel ini menegaskan pentingnya membaca ulang agenda pemberdayaan dalam kerangka keadilan struktural dan transformasi institusional, bukan sekadar peningkatan kapasitas individual.