cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
PENANDA FONOLOGI BAHASA JAWA DALAM TUTURAN MASYARAKAT TIONGHOA DI GANG BARU SEMARANG Sutarsih Sutarsih
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.103.89-102

Abstract

Bahasa Jawa tuturan masyarakat Tionghoa di Gang Baru Semarang sangat khas dari segi fonetis dibandingkan dengan BJ tuturan masyarakat etnis Jawa di Semarang. Rumusan penelitian ini adalah apa penanda fonetis BJ tuturan masyarakat Tionghoa di Semarang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penanda fonetis BJ tuturan masyarakat Tionghoa di Semarang. Metode pengumpulan data adalah metode simak dan cakap. Dalam metode simak teknik yang dipakai adalah teknik sadap. Teknik lanjutan dari metode simak adalah teknik rekam dan catat. Setelah data berupa bahasa tutur masyarakat Tionghoa direkam dan dicatat, dilanjutkan klasifikasi data menggunakan transkripsi sesuai dengan objek sasaran. Data dianalisis secara deskriptif fungsional dengan menggunakan metode kontekstual (pendekatan yang memperhatikan konteks situasi) dalam tuturan masyarakat Tionghoa Gang Baru di tataran fonetis. Tataran fonetis dalam penelitian ini dibatasi pada kata-kata BJ yang timbul sebagai akibat pelafalan dengan pelesapan/penghilangan fonem, perubahan fonem, dan penambahan fonem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya penjawaan kosakata BI. Suku kata terbuka cenderung mendapat tambahan fonem glotal [?]. Penanda fonetis berupa perubahan bunyi fonem [d] menjadi [.d]; [te] menjadi [fonetis]; [-~na] menjadi [-ne] dan   [-e]; [ti] menjadi [n-]; [se] menjadi [-an]; [me-] ditambah [-e] menjadi [Ø]; [O] menjadi [a]; [m] menjadi [-e]; [a] menjadi [Ø] dan [O]; [j] menjadi [c]; [ie] menjadi [|]; [Ø] menjadi [?], [m], [n], dan [-an]; [s] menjadi [b]; dan [a] menjadi [|]. Berdasarkan penanda fonetis kata-kata yang dituturkan diketahui bahwa kosakata dalam suatu tuturan merupakan BJ tuturan masyarakat Tionghoa Semarang. Dengan demikian, terjadi perubahan fonetis BJ tuturan masyarakat Tionghoa yang menyerap dari BI dan BJ dengan menyesuaikan BJ. 
Karakteristik Verba Aktivitas Bahasa Minangkabau: Pendekatan Makna Aspektualitas Elvina A. Saibi; Iman Laili
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.883.308--322

Abstract

The purpose of this study is to reveal the characteristic situation of activity verbs which emphasize the inherent aspectual meaning of verbs in verbal phrases as predicates. The situations expressed by the class of activity verbs have the characteristics of dynamic, atelic, durative, and nonhomogeneous situations. The method in this study uses a descriptive method and a structural approach, namely the principle of the unity of form and meaning is the starting point of the analysis. Furthermore, the data in this study are verbal phrases in the Minangkabau language which express the situation that occurs. The data source used comes from the Singgalang Newspaper published by West Sumatra, which uses the Minangkabau language. The data collection method is done by listening to the use of language. The technique used is note-taking technique. To analyze the data used distribution method. The techniques used in this study are expansion techniques, replacement techniques, and disappearance techniques. The results found in this research are incoative meaning, progressive meaning; continuative meaning, durative meaning, perfective meaning, iterative meaning, habituative meaning, and repetitive meaning. AbstrakTujuan penelitian ini mengungkapkan situasi karakteristik verba aktivitas yang menekankan pada makna aspektualitas inheren verba pada frasa verbal sebagai predikat. Situasi yang diungkapkan kelas verba aktivitas memiliki sifat-sifat situasi dinamis, atelik, duratif, dan nonhomogen. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan struktural, yakni prinsip kesatuan bentuk dan makna merupakan titik tolak analisis. Selanjutnya, data dalam penelitian ini merupakan frasa verbal berbahasa Minangkabau yang mengungkapkan situasi yang terjadi. Sumber data yang digunakan bersumber dari Surat Kabar Singgalang terbitan Sumbar yang menggunakan bahasa Minangkabau. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik yang digunakan adalah teknik catat. Untuk menganalisis data digunakan metode agih. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teknik perluasan, teknik ganti, serta teknik lesap. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah makna inkoatif, makna progresif; makna kontinuatif, makna duratif, makna perfektif, makna iteratif, makna habituatif, dan makna repetitif.
KARAKTERISTIK KOMUNITAS SASTRA DI BALI I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani; Maria Maltidis Banda; I Ketut Nama
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.434.239-250

Abstract

Abstrak Komunitas sastra merupakan salah satu ujung tombak bagi tumbuh dan berkembangnya kesusastraan di suatu wilayah, termasuk Bali. Di dalam komunitas sastra tersebut dilakukan berbagai aktivitas, seperti diskusi sastra (baik cerpen, novel, puisi, maupun drama), peluncuran buku sastra, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pertunjukan teater, dan berbagai lomba. Komunitas sastra berperan menjaga iklim yang sehat dan kondusif bagi terciptanya kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya kehadiran komunitas sastra yang marak bermunculan di berbagai daerah di Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode deskriptif-analitik. Dalam pengumpulan data digunakan teknik kuesioner dan teknik wawancara. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh sejumlah informasi mengenai berbagai aspek terkait komunitas sastra, seperti karakteristik pendukung komunitas sastra dan aktivitas yang mereka lakukan. Kata kunci: komunitas sastra, karakteristik, kreativitas Abstract The existence of a literary community marks the growth and development of Indonesian literature in a region, such as Bali. In the literary community, various activities are carried out, such as book discussions (novels, poetry, and drama), publishing literary books, poetry reading, poetry musicals, theater performances, as well as various competitions. The literary community plays a role in maintaining a healthy and conducive climate for the creation of creativity. This research aims to show the importance of the presence of a literary community that is rife in various regions of Bali. To achieve these objectives, descriptive-analytic methods were used with interview techniques and questionnaire. Based on this research, obtained a number of information about various aspects related to the literary community and the activities they did. Keywords: literary community, characteristic, creativity
MAKNA KEJANTANAN DAN KESETIAAN DALAM NAGASASRA DAN SABUK INTEN KARYA S.H. MINTARDJA Saksono Prijanto
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.158.169-186

Abstract

Prosa silat Nagasasra dan Sabuk Inten mengungkapkan konsep kearifan lokal,khususnya dalam konteks kebudayaan Jawa. Hal itu tercermin melalui sikap bijaksana dan kasih sayang para tokoh pendekar golongan putih. Dalam kebudayaan Jawa diyakini bahwa ucapan, tindakan, perbuatan, dan perilaku yang dianggap baik dan pantas adalah yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Dengan pendekatan semiotik, melalui analisis sintaksis naratif, analisis semantik naratif, serta analisis tematik, makna prosa silat NSI akan terungkap secara utuh. Hasil penelitian membuktikan bahwa kejantanan dari tokoh utama dan kesetiaan tokoh utama terhadap Kesultanan Demak mendominasi keseluruhan cerita silat NSI. Kejantanan dan kesetiaan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Begawan Manikmaya, dan Jaka Tingkir terungkap dengan jelas sewaktu mereka secara ikhlas mempertaruhkan jiwa raga untuk merebut kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari tangan para pendekar golongan hitam.
Leksikologi Kata Tabu dalam Bahasa Indonesia Resticka, Gita Anggria; Nurdiyanto, Erwita
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4257.15--28

Abstract

Taboo expressions are one example of the growing use of figurative language. The word taboo (taboo) means actions that are prohibited or avoided. The focus of this research is verbal taboo expressions which are partial or complete prohibitions against the use of certain words, expressions, and topics in social interactions. This research discusses lexical items (taboo lexicon) in Indonesian, examining their origins, form and formation, fields, and semantic aspects of taboo vocabulary in Indonesian. The lexicological research aims to identify taboo vocabulary or lexicon based on semantic division (nouns, verbs, adjectives), usage division (frequency, general/local), activity division, and grammatical division. This study used a descriptive qualitative method. The object of this research is vocabulary or lexicon of taboo in Indonesian. The data were collected by basic o techniques of observation, that is observing to taboo words of Indonesian in dictionaries, books, etc., while the advanced technique uses note-taking techniques. The data of this research were analyzed by distribution and matching methods. The results of this research identified divisions of Indonesian taboo vocabulary in terms of sources of acquisition, semantic divisions, usage divisions, and field of activity divisions. This research identifies the grammatical formation of taboo words through the affixation process, reduplication, and composition. Apart from that, this research also identifies the semantic aspects of Indonesian taboo vocabulary. AbstrakUngkapan tabu merupakan salah satu contoh dari semakin berkembangnya penggunaan bahasa kias. Kata tabu (taboo words) mempunyai makna tindakan yang dilarang atau dihindari. Fokus dalam penelitian ini adalah kata tabu, yang secara verbal  merupakan larangan secara sebagian atau keseluruhan terhadap penggunaan kata-kata, ekspresi, dan topik tertentu dalam interaksi sosial. Penelitian ini membahas mengenai butir-butir leksikal (leksikon) tabu dalam bahasa Indonesia yang dikaji dari asal-usulnya, bentuk dan pembentukannya, pembidangannya, serta aspek semantik kosakata tabu dalam bahasa Indoenesia. Tujuan penelitian leksikologi ini adalah untuk mengidentifikasi kosakata atau leksikon tabu berdasarkan pembidangan semantik (nomina, verba, adjektiva), pembidangan penggunaan (frekuensi, umum/lokal), pembidangan kegiatan, dan pembidangan gramatikal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek dalam penelitian ini adalah kosakata atau leksikon tabu dalam bahasa Indonesia. Metode pengumpulan data menggunakan teknik dasar simak, yaitu menyimak kata-kata tabu dalam bahasa Indonesia yang ada di kamus, buku-buku, dan lain-lain, sedangkan teknik lanjutannya menggunakan teknik catat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih dan metode padan. Hasil penelitian ini mengidentifikasi pembidangan kosakata tabu bahasa Indonesia berdasarkan pembidangan sumber ambilan, semantik, penggunaan, dan bidang kegiatan. Penelitian ini mengidentifikasi pembentukan gramatikal kata tabu melalui proses afiksasi, reduplikasi, komposisi. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi aspek semantik kosakata tabu bahasa Indonesia
KRITIK SOSIAL BERMUATAN LOKAL BALI DALAM KUMPULAN CERITA NGUNTUL TANAH NUNULÉNGÉK LANGIT KARYA I MADE SUARSA/LOCAL BALINESE SOCIAL CRITICISTS IN THE STORIES COLLECTION OF NGUNTUL TANAH NULÉNGÉK LANGIT BY I MADE SUARSA Ni Nyoman Tanjung Turaeni; Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.660.223-234

Abstract

Abstrak Kritik sosial sebagai sebuah ide atau berbagai bentuk gagasan yang bertolak belakang dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan tujuan dan harapan dari tatanan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan membahas aspek sosial yang meliputi struktur cerita, masalah sosial dan kritik sosial bermuatan lokal Bali yang tercermin dalam kumpulan cerita pendek berbahasa Bali Nguntul Tanah Nulengék Langit karya I Made Suarsa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan teknik interpretatif. Dalam pengolahan data dilakukan tahapan klasifikasi, pendeskripsian, penerjemahan, dan penganalisisan data. Untuk mengetahui masalah sosial dan kritik sosial dalam cerpen tersebut, digunakan teori sosiologi sastra dan teori struktural untuk mengetahui struktur formal yang membangun cerita tersebut. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa kritik sosial yang dapat terhimpun dalam cerita tersebut adalah kritik sosial terhadap kemiskinan, kritik sosial disorganisasi keluarga dan kritik terhadap adat dan tradisi serta serta kehidupan sosial masyarakat Bali. Dengan demikian, lahirnya cerpen karya I Made Suarsa ini memperlihatkan kemegahan pariwisata, masih terdapat ketimpangan sosial dalam masyarakat Bali. Kata kunci: cerpen, kritik sosial, masalah sosial, muatan lokal Bali Abstract Social criticism as an idea or various forms of ideas that are contrary to reality is not in accordance with the goals and expectations of the order in society. This study aims to discuss the social aspects which include story structure, social issues and social criticism with local Balinese content as re ected in a collection of short stories in Balinese language “Nguntul Tanah Nulengék Langit” by I Made Suarsa. The method used in this research is descriptive qualitative and note taking techniques. In data processing, the stages of classi cation, description, translation and data analysis are carried out. To nd out the social problems and social criticism in the short story, the sociology approach of Sapardi Djoko Damono’s view is used and is assisted by a structural approach to determine the formal structure that builds the story. The results of the study show that the social criticisms that can be collected in the story are social criticism of poverty, social criticism of family disorganization and criticism of customs and traditions as well as the social life of Balinese people who seem famous by tourism, but in fact there are still social inequalities in Balinese society. Keywords: social problems, social criticism, short stories 
TIPE KLAUSA DAN PERILAKU UNSURNYA DALAM BAHASA SASAK Ida Ayu Putu Aridawati
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.182.171-183

Abstract

Kajian tentang tipe klausa bahasa Sasak, tidak dapat dipisahkan antaraspek-aspek pendukungnya, seperti konstruksi, fungsi dan peran. Perilaku unsur-unsurnya akan dapat memberi petunjuk tentang jati diri (identitas) klausa bahasa Sasak. Relasi unsur-unsurnya terikat satu sama lain sehingga diketahui pelbagai tipenya, serta fungsi dan perannya. Masalah yang dibahas, yaitu (1) tipe klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, (2) kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan (3) ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. Tujuan penelitian ini memperoleh deskripsi yang rinci tentang (1) tipe klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, (2) kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan (3) ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. Manfaat penelitian ini, turut memberi andil dalam memperkaya khazanah ilmu bahasa, khususnya bidang struktur. Teori yang dipergunakan adalah teori linguistik struktural. Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan metode cakap. Metode simak dibantu dengan teknik dasar dan teknik lanjutan. Dalam analisis data dipergunakan metode distribusional yang terjabar dalam teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar metode ini adalah teknik bagi unsur langsung. Adapun teknik lanjutan yang diterapkan, yaitu teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, teknik sisip, dan teknik perluasan. Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode formal dan informal, dibantu dengan teknik induktif dan deduktif. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan, ada tiga hal pokok yang menjadi dasar pembentukan tipe klausa bahasa Sasak jika ditinjau dari perilaku unsurnya, yaitu: berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, berdasarkan kategori kata/frasa yang mampu menduduki fungsi predikat, dan berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik mengingkarkan predikat. 
Masalah dan Pengucilan Sosial Masyarakat Kampung Barutikung dalam Cerpen Gelang Sipaku Gelang (2) Karya Yusi Avianto Pareanom Sugiarto, Septian Rifki; Nurulhady, Eta Farmacelia
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4264.225-238

Abstract

Masyarakat yang tinggal di kota tidak lepas dari problematika. Terlebih, bagi masyarakat kampung yang banyak terdapat di kota-kota besar. Cerpen “Gelang Sipaku Gelang (2)” karya Yusi Avianto Pareanom menggambarkan problematika berupa masalah dan pengucilan sosial yang dialami oleh masyarakat Kampung Barutikung di Kota Semarang. Tulisan ini menjelaskan gambaran masalah dan pengucilan sosial masyarakat Kampung Barutikung dalam cerpen, serta penyebab terjadinya. Untuk dapat menjelaskan masalah tersebut, penulis menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Analisis yang dilakukan didasarkan pada interpretasi objektif, dengan didukung berbagai referensi terkait yang digunakan untuk mendukung analisis dan argumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah sosial yang terjadi di Kampung Barutikung dalam cerpen, yakni berupa kriminalitas (tawuran atau perkelahian massal, pencurian, dan judi), kemiskinan, banjir dan rob, masalah kepadatan penduduk, serta penyakit. Masalah sosial yang dialami sangat berkaitan erat dengan posisi masyarakat Barutikung sebagai bagian dari masyarakat bawah dan pinggiran di Kota Semarang. Kondisi tersebut menjadi semakin parah lantaran berbagai pengucilan sosial masyarakat Barutikung. Pengucilan sosial yang terjadi yakni berupa rasa malu, marginalisasi, diskriminasi, dan stigmatisasi. Hal ini membuat masyarakat Barutikung dalam cerpen menjadi tidak percaya diri, malu, menderita, sengsara, terkucil, dan bahkan mencoba melepaskan identitasnya.
EFL PHONOLOGY: A CASE STUDY OF ENGLISH FRICATIVE PRODUCTION BY INDONESIAN LEARNERS/FONOLOGI BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING: STUDI KASUS PELAFALAN BUNYI GESER OLEH MAHASISWA INDONESIA  Ni Luh Putu Sri Adnyani
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.645.283-294

Abstract

AbstractThis study reports the difficulties 40 first-year Indonesian college students, majoring in English, had in pronouncing the English fricatives. The aim of this paper is, first, to reveal how these Indonesian EFL learners produced English fricatives, the order of difficulties, and the pronunciation constraints they experienced. The second aim is to identify the possible causes of the pronunciation difficulties. In collecting the data, two types of tasks were administered: a word-list-reading task (Task 1) and a sentence-list-reading task (Task 2). By using Wilcoxon based T-Test, it was revealed that there was a significant difference in the number of errors in Task 1 and Task 2. There was also an increase in errors in Task 2. The results show that the order of difficulties Indonesian learners had in producing fricative sounds (from the most to the least problematic) were: /v/, /ʃ/, /ð/, /θ/, /z/, /ʒ/, /f/, and /s/. It is likely that the influence of the challenging English spelling system played the most important role in the students’ errors. Other factors such as transfer of L1 and the developmental process also contributed to the errors. This research implies that teachers need to apply certain strategies to meet students’ needs.  Keywords: English, fricative, Indonesian students, errors AbstrakPenelitian ini melaporkan kesulitan yang dialami mahasiswa tahun pertama Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris  dalam melafalkan bunyi geser , urutan kesulitan  dan kendala dalam pelafalan bunyi tersebut. Tujuan kedua penelitian ini adalah mengidentifikasi kemungkian sebab-sebab dari kesulitan ini. Dua jenis tugas diberikan kepada siswa untuk mengumpulkan data yaitu tugas membaca daftar kata (Tugas 1) dan tugas membaca daftar kalimat (Tugas 2). Berdasarkan hasil Uji T  Wilcoxon terungkap bahwa  terdapat perbedaan yang signifikan dari segi jumlah kesalahan dalam mengerjakan tugas I dan tugas 2. Juga terdapat peningkatan kesalahan dalam Tugas 2. Hasil-hasil ini memperlihatkan bahwa urutan kesulitan yang dialami mahasiswa Indonesia dalam melafalkan bunyi frikatif ( dari yang paling bermasalah hingga yang kurang bermasalah ) adalah : /v/, /ʃ/, /ð/, /θ/, /z/, /ʒ/, /f/, dan /s/. Ada kecenderungan bahwa sistem ejaan Bahasa Inggris yang rumit sangat besar pengaruhnya terhadap  kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa. Faktor-faktor lain seperti transfer dari BI dan  proses perkembangan juga berkontribusi terhadap kesalahan-kesalahan tersebut.  Implikasi penelitian ini adalah dosen atau guru  dapat menerapkan strategi-srategi tertentu untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa atau siswa.  Kata kunci: bahasa Inggris, bunyi geser, mahasiswa Indonesia, kesalahan 
Postcolonial Ecocriticism in Travel Memoir: The Paradox of Socio-Environmental Justice in Vladimir Arsenyev’s Novel Dersu Uzala Pranantika Oktaviani
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.855.196--209

Abstract

This research aims to reveal the colonial gaze and paradoxical sense of travel memoir on nature expedition conducted during Russian imperial era by explorer and scientist Vladimir Arsenyev. Arsenyev’s expedition to the Far East is memorized in his 1923 novel Dersu Uzala about Arsenyev’s indigenous guide Dersu. In this analysis, the theory used is postcolonial ecocriticism by Graham Huggan and Helen Tifffin on the correlation between the effect of colonialism in physical environment and its effect on relation between human and nature. Another theory used is from Reuel K. Wilson’s investigation of the motives behind various travel memoirs from the late nineteenth century. The main data of this qualitative research is gathered from relevant passages of the novel and analysed under postcolonial ecocriticism framework. The result shows the author’s paradox on disclosure of indigenous tribes as colonial ‘other’ in Russian Empire, the violation of hunting ethics by Russian explorers and the conflict between nature and urban development in Russia. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengungkap pandangan kolonial dan paradoks dari memoar perjalanan expedisi alam yang dilakukan pada masa Kekaisaran Rusia oleh penjelajah dan ilmuwan Vladimir Arsenyev. Ekspedisi Arsenyev ke Timur Jauh diabadikan dalam novelnya yang menceritakan pemandu dari suku asli bernama Dersu. Dalam analisis ini, teori yang digunakan adalah kajian ekokritik pascakolonial yang dikemukakan oleh Graham Huggan dan Helen Tiffin mengenai hubungan antara efek kolonialisme pada lingkungan fisik dan efek pada hubungan antara manusia dengan alam. Teori lain yang digunakan berasal dari investigasi oleh Reuel K. Wilson mengenai motif dibalik memoar perjalanan pada akhir abad ke sembilan belas. Data utama pada penelitian kualitatif ini diperoleh dari bagian relevan pada novel dan kemudian dianalisis dengan konsep kajian ekokritik pascakolonial. Hasil analisis mengungkap adanya sikap paradox pengarang pada pandangan ‘liyan’ masyarakat kekaisaran Rusia terhadap penduduk asli, pelanggaran etika dalam berburu yang dilakukan penjelajah Rusia dan konflik antara alam dan pembangunan kota di Rusia.

Page 3 of 21 | Total Record : 201