cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya
Published by Indo Publishing
ISSN : 3090644X     EISSN : 30906431     DOI : https://doi.org/10.63822/sujud
Sujud dimaknai sebagai tindakan menundukkan diri dengan meletakkan dahi ke tanah sebagai bentuk penghormatan, kepatuhan, atau kerendahan hati kepada Yang Maha Esa. Sujud menjadi simbol spiritualitas, kesetaraan sosial, dan nilai budaya yang luhur, menyatukan aspek religius dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, berfokus ada scope agama, sosial dan budaya berkaitan dengan isu-isu keislaman dan isu-isu sosial seperti kajian Alquran dan Hadits, Filsafat Islam, Pendidikan, Sosial, Kearifan Lokal, Politik, Ekonomi, Antropologi, Urbanisme, Multikulturalisme, dan lain-lain. Semua artikel yang diserahkan pada jurnal ini harus ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar
Articles 135 Documents
Penafsiran Ayat Tentang Bersatu dan Larangan Terpecah Belah Muhlis Aditya; Angelia Revi Marohima; Aisya Karima
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q6m87f68

Abstract

This article reviews the message of the Al-Qur'an regarding the importance of unity and commitment to the path of truth, as reflected in Surah Ali 'Imran verse 103 and Surah Al-An'am verse 153. Surah Ali 'Imran verse 103 commands Muslims to hold firmly to the ropes of Allah's religion, namely Islam, and prohibits division which can give strength to the people. This verse also reminds of the blessings of brotherhood that Allah bestowed on the early Muslims, especially between the Aus and Khazraj, as a clear example of how guidance can unite hearts that were previously friendly. On the other hand, Surah Al-An'am verse 153 emphasizes that Allah's path is one and straight, while other paths lead to division and deviation. Through a thematic approach and analysis of classical interpretation, this article shows that the unity of the Muslim Ummah can only be achieved if all elements of the Ummah consistently return to the Al-Qur'an and Sunnah, and stay away from circular teachings. Thus, this second verse becomes a strong theological foundation in maintaining the Islamic brotherhood, avoiding including the Ummah from ideological and social divisions that can damage the unity of the Ummah.
Studi Lapangan Terkait Hukum Islam dalam Budaya Viral antara Popularitas dan Prinsip Shafwah Natasya; Syafira Adelia; Tasya Octavia Putri; Azalea Putri Nabila; Abdul Fadhil
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zdpdvv48

Abstract

Perkembangan media sosial dalam satu dekade terakhir telah membentuk budaya viral yang memengaruhi cara masyarakat mengakses, memahami, dan memaknai informasi, termasuk konten keagamaan. Fenomena ini turut memengaruhi bagaimana hukum Islam dipersepsikan dan dipraktikkan di ruang digital, terutama ketika dakwah dan diskusi keagamaan disajikan dalam format singkat, cepat, dan visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya viral berdampak terhadap pemahaman mahasiswa mengenai prinsip-prinsip hukum Islam, serta menilai peran literasi digital dan pengaruh sosial dalam memoderasi hubungan tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 25 mahasiswa aktif pengguna media sosial yang pernah terpapar konten Islam viral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya viral berpengaruh signifikan terhadap cara pandang keagamaan, kecenderungan mengikuti tren, serta pembentukan identitas keislaman mahasiswa. Meskipun demikian, mayoritas mahasiswa menunjukkan kesadaran syar’i yang baik, ditandai dengan kemampuan memfilter konten, memahami batasan etika digital Islam, dan mempertimbangkan validitas informasi sebelum menyebarkannya. Literasi digital dan pengaruh sosial terbukti ikut memengaruhi cara mahasiswa menafsirkan serta merespons konten keislaman viral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konten Islam viral dapat menjadi sarana edukatif yang efektif apabila dikemas sesuai prinsip syariah, namun tetap berpotensi menimbulkan distorsi pemahaman jika tidak diimbangi dengan literasi keagamaan dan digital yang memadai.
Fungsi Bagas Godang dan Sopo Godang sebagai Media Pendidikan Nilai dan Moral pada Generasi Muda Mandailing Nuratikah; Manna Khoiri; Rosdelima Rangkuti; Dina Astika Siregar; Nur Azizah; Rahmi Wahyuni
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/akrhsb96

Abstract

This study aims to examine and analyze the role of Bagas Godang and Sopo Godang as instruments for moral and value education among Mandailing youth in the effort to preserve local wisdom and shape the character of the next generation. The background of this research stems from the declining understanding of young generations toward the noble values of Mandailing customs, particularly those reflected in the social system and traditional architecture of these two structures. The study employs a qualitative descriptive approach, with data collected through field observations, in-depth interviews with traditional leaders, community members, and youth, as well as analysis of various Mandailing cultural documents. The findings reveal that Bagas Godang and Sopo Godang are not merely historical buildings but also serve as social educational symbols rich in moral values such as mutual cooperation, deliberation, respect for elders, responsibility, and togetherness. Their role within the customary structure holds educational meaning that can be integrated into both formal and non-formal education systems as a medium for instilling national character. Thus, preserving the values embedded in Bagas Godang and Sopo Godang through value-based education is an essential step in maintaining the cultural identity of the Mandailing community and strengthening the moral foundation of the younger generation amid the challenges of globalization
Konsep Dasar Pengawasan dalam Manajemen Pelatihan Dakwah, Tahapan dan Proses Pengawasan dalam Manajemen Pelatihan Dakwah Sugiharto, Sugiharto; Alma Aulia; Lukman Hakim; Siti Khoirunnisa; Ahmad Musyaffa; Abdul Hafidz
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3nx7qc60

Abstract

Penelitian ini menyelidiki secara mendalam elemen-elemen fundamental, tahap-tahap, serta mekanisme pemantauan dalam manajemen training dakwah. Manajemen training dakwah dipahami sebagai suatu proses yang terintegrasi, meliputi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, dan pemantauan untuk meningkatkan mutu, kemampuan, serta profesionalisme para da’i. Program training dakwah tidak hanya fokus pada penguasaan materi dan keterampilan komunikasi, tetapi juga pengembangan karakter da’i yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Pemantauan dalam manajemen training dakwah menjadi unsur yang sangat vital untuk memastikan kesesuaian antara apa yang direncanakan dengan apa yang dilaksanakan, serta berfungsi sebagai alat ukur efektivitas dari program pelatihan. Proses pemantauan dilakukan dengan menetapkan standar, mengukur hasil kerja, menganalisis perbandingan dengan indikator yang telah ditentukan, dan melakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan yang muncul. Pemantauan terhadap da’i dibedakan menjadi dua jenis utama, yakni pemantauan internal yang menitikberatkan pada kualitas spiritual dan moral da’i, dan pemantauan eksternal yang mengevaluasi kemampuan substantif dan metodologi da’i dalam kegiatan dakwah. Penelitian ini menekankan bahwa pemantauan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting dalam mencapai tujuan dari pelatihan dakwah serta mencetak da’i yang berintegritas, kompeten, dan sanggup menghadapi tantangan dakwah di era modern.
Manajemen Pelatihan Dakwah untuk Penguatan Kompetensi Da’i Amar Faqihudin; Khoirur Rizqy; Muhammad Nadir Irfan; Nur Aisyah Permata Dewi; Muhammad Shalman Taufiqurahman; Fuad Fuadi; Sugiharto
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/mtpbg433

Abstract

Penelitian ini mengkaji manajemen pelatihan dakwah melalui analisis terhadap konsep dasar, prinsip, serta penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam kegiatan pelatihan bagi para dai. Permasalahan utama yang dijawab adalah bagaimana pelatihan dakwah dapat dirancang, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara efektif agar menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dakwah kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka kualitatif dengan menelaah buku-buku manajemen, literatur dakwah, serta artikel ilmiah terkait pelatihan. Analisis dilakukan menggunakan konsep POACE, prinsip manajemen dakwah, serta nilai etika dan spiritual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelatihan yang terstruktur, adaptif, berbasis nilai Islami, dan berorientasi pada penguatan kompetensi spiritual-emosional mampu meningkatkan kualitas dakwah secara signifikan. Selain itu, integrasi pendekatan manajerial dan etis menjadi kunci keberhasilan pelatihan dalam menjawab tantangan dakwah di era modern.
Hubungan Pendidik Dan Peserta Didik Persepektif Imam Al-Ghazali Maudiyah; Mohammad Haspi Rohyan; Moh. Faizin
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/z1xj5667

Abstract

This article is motivated by the fact that the relationship between educators and students, from an Islamic educational perspective, is central to the success of a learning process based on the values of faith and noble morals. This research aims to understand the concept, function, and nature of educators, and how the ideal relationship between educators and students can be realized in accordance with Islamic educational principles. The method used is library research with a qualitative descriptive approach through analysis of various relevant literature. The results show that educators act as mu'allim, murabbi, and muaddib (leaders), who not only teach knowledge but also instill moral and spiritual values, thus creating a harmonious educational relationship with worship values that shape perfect human beings.
Tiga Pilar Penafsiran Al-Qur’an: Analisis Komparatif Metode Bi Al-Ma’tsur, Bi Ar-Ra’yi, Dan Bi Al-Isyari Dalam Konteks Keilmuan Islam Kontemporer Anisatul Faizah; Halimatussa’diyah; Rahmat Hidayat
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/86mma410

Abstract

  This study examines three primary methods of Quranic interpretation that have developed within the Islamic scholarly tradition: tafsir bi al-ma'tsur (based on narration), bi ar-ra'yi (based on ijtihad), and bi al-isyari (based on spiritual indications). Through a comparative analysis approach, this study identifies the characteristics, advantages, disadvantages, and relevance of each method within the context of the development of contemporary tafsir. The results show that these three methods play complementary roles in providing a comprehensive understanding of the Quran. Tafsir bi al-ma'tsur ensures authenticity and purity of meaning through the transmission of authentic narrations; tafsir bi ar-ra'yi provides flexibility in responding to contemporary challenges through controlled rational reasoning; while tafsir bi al-isyari enriches the spiritual dimension of Quranic understanding. This study emphasizes that an integrative understanding of these three methods is essential for the development of a holistic tafsir science that is relevant to the dynamics of the times.
Analisis Efektivitas Kajian Pemuda Muslim Melalui Online Meeting Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Faiqah Yasmin; Nadira Saskia; Nur Intan Cendrawasih; Abdul Fadhil
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/t41ett50

Abstract

Di era digital, pemanfaatan teknologi telah membuka peluang baru dalam pembelajaran agama Islam, khususnya melalui kajian online. Kajian daring memungkinkan masyarakat, terutama mahasiswa, untuk mengakses materi keagamaan tanpa batasan ruang dan waktu, serta menawarkan fleksibilitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. Artikel ini membahas peran kajian online sebagai media dakwah dan pembentukan karakter spiritual mahasiswa di tengah tantangan globalisasi dan tekanan akademik. Melalui pendekatan studi literatur dan analisis deskriptif terhadap kajian bertema Islamic Thinking in FOMO Era yang dilakukan secara daring di lingkungan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, ditemukan bahwa meskipun kehadiran peserta cukup tinggi, keterlibatan aktif masih rendah. Faktor teknis dan minimnya interaksi emosional menjadi kendala utama dalam efektivitas kajian online. Namun, kajian daring tetap berperan penting dalam menjaga kesejahteraan spiritual dan membentuk nilai-nilai moral mahasiswa. Kajian ini menyoroti perlunya strategi interaktif dan sistem evaluasi yang lebih terstruktur agar transfer ilmu keagamaan dapat berjalan optimal di platform digital.
Pandangan Etika Terapan Kristen Tentang Kesetaraan Gender Juriani Luther; Wahyu Wijiati
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3qw9ed22

Abstract

Gender equality remains a relevant interdisciplinary discourse in social, ethical, and theological contexts, particularly within societies influenced by patriarchal structures. This study examines the issue through the lens of Christian Applied Ethics using a qualitative literature review. The theological foundation of Imago Dei affirms the equal dignity and worth of men and women, challenging interpretations that restrict women’s participation in leadership, ministry, and public roles. Feminist theological ethics provide a critique of structures that sustain unequal gender relations, while biblical texts—particularly Genesis 1:27 and Galatians 3:28—affirm gender equality as consistent with God’s intention. The findings indicate that gender injustice is not rooted in Scripture but in cultural interpretations shaped by historical patriarchy. Therefore, Christian Applied Ethics requires structural transformation and the elimination of discriminatory systems to promote justice, equity, and inclusion
Representasi Penerapan Hukum Islam Dalam Kehidupan Perempuan Iran: Analisis Komik Persepolis Salma Fitriyani; Fauzaan Taufiqurrahman; Sarah Novian; Yusthalya Nurfitri; Tenny Sudjatnika
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/88ezzh81

Abstract

This study discusses the representation of Islamic law in the lives of Iranian women through an analysis of Marjane Satrapi's autobiographical comic Persepolis. The background of this study stems from the socio-political changes following the 1979 Islamic Revolution in Iran, which made Islamic law the basis of state policy through the Wilāyat al-Faqīh system. This policy had a significant impact on the regulation of women's bodies, public spaces, and identities, particularly through dress codes, moral control, and social restrictions. This study uses a descriptive qualitative approach with literature study and visual text analysis methods. Persepolis is analyzed as a cultural text using gender theory, Stuart Hall's theory of representation, and contemporary fiqh and maqāṣid al-syarī‘ah perspectives. The results show that Persepolis represents the application of Islamic law in Iran more as an instrument of patriarchal political power than as a contextual and welfare-oriented practice of sharia. This comic depicts how women's bodies and lives become objects of state surveillance through the enforcement of the hijab, the segregation of social spaces, and the criminalization of behavior deemed deviant from the state's official morality. These findings reveal a gap between the normative principles of Islamic law, which emphasize justice and human dignity, and the state's repressive legal practices against women. Thus, Persepolis serves as a cultural critique of the rigid application of Islamic law and its insensitivity to gender experiences.

Page 10 of 14 | Total Record : 135