cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya
Published by Indo Publishing
ISSN : 3090644X     EISSN : 30906431     DOI : https://doi.org/10.63822/sujud
Sujud dimaknai sebagai tindakan menundukkan diri dengan meletakkan dahi ke tanah sebagai bentuk penghormatan, kepatuhan, atau kerendahan hati kepada Yang Maha Esa. Sujud menjadi simbol spiritualitas, kesetaraan sosial, dan nilai budaya yang luhur, menyatukan aspek religius dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, berfokus ada scope agama, sosial dan budaya berkaitan dengan isu-isu keislaman dan isu-isu sosial seperti kajian Alquran dan Hadits, Filsafat Islam, Pendidikan, Sosial, Kearifan Lokal, Politik, Ekonomi, Antropologi, Urbanisme, Multikulturalisme, dan lain-lain. Semua artikel yang diserahkan pada jurnal ini harus ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar
Articles 166 Documents
Kontroversi Praktik Tahlilan di Masyarakat : Analisis Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Naqsa Fazrul Rahman; Hijrah Maulana Ibrahim
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/gz49ke20

Abstract

The practice of tahlilan is a religious tradition deeply rooted in the lives of Indonesian Muslim communities as a result of the acculturation between local culture and Islamic teachings. This tradition not only possesses a spiritual dimension in the form of prayers and remembrance for the deceased but also embodies social values such as solidarity, mutual cooperation, and strengthening social relationships within the community. However, the existence of tahlilan has sparked controversy, particularly from the perspectives of Islamic Law and Customary Law. This study aims to analyze the practice of tahlilan from both perspectives and to identify solutions to the dynamics developing within society. The research employs a qualitative method with a sociological approach and descriptive-analytical techniques. The findings indicate that, from the perspective of Islamic Law, tahlilan is viewed differently among Islamic scholars. Some consider it part of ‘urf shahih and bid’ah hasanah because it contains elements of prayer, remembrance, and charity, while others reject it due to the absence of direct precedent from the practices of the Prophet Muhammad SAW and his companions. Meanwhile, from the perspective of Customary Law, tahlilan is regarded as a tradition with significant social functions in maintaining harmony and solidarity within society. The proposed solution is a moderation (wasathiyah) approach that balances cultural preservation with the purity of Islamic teachings while avoiding practices that contradict Islamic law. Therefore, tahlilan can be understood as a flexible socio-religious tradition that remains relevant as long as it does not contain elements of polytheism or impose burdens on the community.
Peran Ilmu Komunikasi Islam dalam Menciptakan Lingkungan Harmonis di Advertising Agency Mila Setyaningrum; Siti Khadijah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/1et4z057

Abstract

Penelitian ini menyelidiki peran komunikasi Islam dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis di agensi iklan. Dalam industri iklan, konflik komunikasi sering terjadi karena ritme kerja yang cepat, kompetitif, dan penuh tekanan. Dalam situasi seperti ini, komunikasi Islam menjadi penting untuk membangun hubungan kerja yang sehat dan produktif. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menerapkan prinsip komunikasi Islam seperti qaulan sadidan, qaulan layyinan, dan qaulan ma’rufan dapat mengurangi konflik internal, meningkatkan rasa saling menghargai, dan meningkatkan kerja sama tim. Selain itu, komunikasi Islam berkontribusi pada pembentukan budaya kerja moral dan humanis di tengah dinamika industri kreatif kontemporer. Budaya organisasi yang terbuka, kepemimpinan yang komunikatif, dan kesadaran publik akan pentingnya etika komunikasi adalah beberapa alasan yang mendukung penerapan komunikasi Islam. Tekanan deadline, kebanggaan pribadi, dan lingkungan kerja yang cepat, yang sering menyebabkan ketidaksepakatan, adalah penghalangnya. Studi ini menemukan bahwa komunikasi Islam sangat berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis di agensi iklan.
Implementasi Maqasid Syariah dalam Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia Muhammad Hamim Arriza
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/sn7wj386

Abstract

This study examines the implementation of the maqasid sharia principles in the Free Nutritional Meals (MBG) policy in Indonesia, a government program aimed at improving the quality of health and education by providing nutritious meals for students. Despite its noble objectives, numerous cases of mass poisoning have demonstrated weaknesses in governance and quality control, raising questions regarding its compliance with Islamic ethical principles, particularly the protection of the soul (ḥifẓ al-nafs) and the protection of the mind (ḥifẓ al-‘aql). Previous studies have focused primarily on the socio-economic impacts of the MBG, but few have examined it from an Islamic public policy perspective, creating a research gap that needs to be filled. This study employed qualitative methods with a library research approach and content analysis of policy documents, fatwas, and related scientific literature. The results demonstrate the importance of strengthening regulations, transparency, and public participation so that the MBG policy is not only socially effective but also aligns with the principles of welfare and Islamic governance ethics.
Pengaruh Shalat terhadap Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam: Tinjauan Sistematis Literatur Tahun 2017-2026 Endah Khamelia; Krisna Aditya; Annisa Baharuddin; Abul A’la Al Maududi
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ppjr3z29

Abstract

Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas shalat sebagai mekanisme koping dan terapi psikospiritual dalam menurunkan stres, kecemasan, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis. Metode penelitian menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan studi kepustakaan berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah dari database scholar, pubmed, sciencedirect, doaj, dan garuda kemdikbud tahun 2017-2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa shalat, termasuk shalat tahajud, shalat dhuha, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an, secara konsisten memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental, seperti menurunkan tingkat stres dan kecemasan, meningkatkan ketenangan batin, memperkuat regulasi emosi, meningkatkan kualitas tidur, serta membentuk ketahanan psikologis. Selain itu, shalat berjamaah juga berkontribusi dalam meningkatkan dukungan sosial dan rasa aman individu. Temuan ini sejalan dengan ajaran Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa mengingat Allah melalui shalat dapat menenteramkan hati dan menjaga keseimbangan jiwa. Dengan demikian, shalat dapat dijadikan sebagai pendekatan psikoterapi Islam yang holistik dan potensial untuk diintegrasikan dalam layanan kesehatan mental modern, khususnya pada masyarakat Muslim.
Struktur dan Fungsi Kepemimpinan Politik Aida Yusuf; Alencia Muryati; Citra Dwi Rahayuningsih; Nor Islamy; Surya Sukti
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/j8x06t04

Abstract

Leadership is a fundamental element in social life and political systems. In a social context, leadership is understood as the ability of an individual to influence, guide, and empower members of society in order to achieve common goals based on prevailing values and norms. Meanwhile, political leadership relates to the activities of power holders in decision-making processes and the implementation of public policies for the broader public interest. Political leadership requires not only managerial and strategic competence, but also moral integrity, as reflected in leadership concepts found in the Qur’an and Hadith. Furthermore, legitimacy is a crucial aspect of political leadership as it determines the extent to which a leader’s authority is accepted and recognized by society. Legitimacy may derive from tradition, charisma, or rational-legal foundations. In modern democratic systems, legitimacy is generally obtained through constitutional mechanisms and public support. The structure of political leadership consists of formal and informal elements that are interconnected, while its functions include decision-making, direction-setting, social integration, political communication, and the maintenance of stability. Therefore, effective leadership requires synergy between legitimacy, institutional structure, and the proper implementation of functions in order to achieve social welfare and political stability.  
Analisis Pengelolaan Donasi Digital dalam Perspektif Akuntansi Islam pada Platform Crowdfunding Syariah St Amirah Hasbir; Dhea Artika; Fadil Maulana; Masyhuri Masyhuri
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/fh7fxs15

Abstract

The rapid development of digital technology has encouraged the emergence of sharia crowdfunding platforms as a modern medium for collecting and distributing social funds. Digital donation systems provide convenience, efficiency, and increase public participation in Islamic philanthropic activities. However, the growing use of digital platforms also raises various issues related to transparency, accountability, and compliance with Islamic accounting principles. This study aims to analyze the management of digital donations from the perspective of Islamic accounting on sharia crowdfunding platforms. The research uses a descriptive qualitative method with a literature study approach by examining journals, books, regulations, and previous studies related to Islamic accounting and digital donation management. The findings indicate that sharia crowdfunding platforms have generally implemented the principles of transparency and accountability in fund management, although challenges still remain regarding supervision, financial reporting standardization, and public trust. From the perspective of Islamic accounting, digital donation management must prioritize honesty, justice, trustworthiness, and compliance with Islamic principles. Therefore, strengthening sharia supervision, improving digital security systems, and increasing public literacy regarding sharia financial technology are essential to optimize digital donation management on sharia crowdfunding platforms.
Metodologi Hadits di Era Modern: Urgensi Kritik Sanad dan Matan sebagai Fondasi Keilmuan Islam yang Otentik Abdul Azis; Hadrian Nur; Muhammad Nasir; Ahmad Supriadi
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/v5vbw165

Abstract

This article examines the methodology of isnad (sanad) and matn criticism in hadith studies as a scientific instrument to verify the authenticity of prophetic traditions. Hadith represents the second source of Islamic law after the Qur'an; therefore, its validity must be ensured through systematic critical mechanisms. Isnad criticism focuses on the chain of transmission, encompassing continuity of narration (ittishal al-sanad), moral integrity ('adalah) and precision (dhabt) of narrators, and evaluation through the sciences of jarh wa ta'dil and rijal al-hadith. Meanwhile, matn criticism examines the textual substance of hadith through its conformity with the Qur'an, stronger traditions, linguistic analysis, historical context (asbab al-wurud), and detection of shadhdh and 'illah. This study employs a library research approach with descriptive-analytical methods applied to classical sources and contemporary scholarly journals. The findings indicate that classical and contemporary methods are complementary rather than contradictory. Their integration produces a comprehensive methodological framework relevant to modern academic contexts, particularly for students of Islamic Education Management who require a valid and accountable hadith knowledge base.
Implementasi Metode Hafalan Al-Qur'an Turki Usmani dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Santri Indonesia: Studi Relevansi Menuju Bursa Uludağ Üniversitesi Ali Akbar; Arifian Awali; Daniel Fikri Nasution
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/4bepd330

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara mendalam implementasi Metode Hafalan Al-Qur'an Turki Usmani sebagai pendekatan sistematis dalam meningkatkan kualitas hafalan santri di Indonesia. Metode Usmani yang berkembang sejak masa Kesultanan Ottoman (Turki Usmani) ini memiliki kekhasan berupa sistem hafalan non-linear, penggunaan mushaf standar 15 baris, dan penekanan pada takrir (pengulangan) intensif yang terstruktur. Melalui kajian literatur komparatif dan analisis studi kasus di pesantren Sulaimaniyah yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya dengan melibatkan 120 santri sebagai subjek penelitian, studi ini membuktikan bahwa metode Usmani secara signifikan meningkatkan retensi hafalan jangka panjang sebesar 40% dan kualitas jaudah sebesar 42% dibandingkan metode konvensional. Penelitian juga mengidentifikasi relevansi strategis antara metode ini dengan kurikulum Ilmu Al-Qur'an di Bursa Uludağ Üniversitesi (BUÜ), Turki, yang membuka peluang kolaborasi akademik internasional dalam pengembangan metodologi tahfizh modern berbasis riset. Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi reformasi kurikulum tahfizh nasional dan penguatan kerja sama pendidikan Islam Indonesia–Turki.  
Gaya Kepemimpinan Demokratis dalam Pengembangan Pendidikan Islam di MTs Al Ikhsan: Analisis Relasi Kuasa Partisipatif Sintya Amalia Sholikhah; Muh. Hanif
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/875xf457

Abstract

Penelitian ini mengkaji gaya kepemimpinan demokratis dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam di MTs Al Ikhsan Beji Kedungbanteng dengan menggunakan kerangka analisis relasi kuasa partisipatif dari perspektif Michel Foucault dan Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus instrumental. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan melalui rapat terbuka, pembagian wewenang, musyawarah kebijakan, penghargaan prestasi, dan pengambilan keputusan kolektif. Namun, di balik praktik demokrasi tersebut terdapat paradoks partisipasi, di mana guru dan staf tetap merasakan tekanan profesional meskipun dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan. Relasi kuasa partisipatif di MTs Al Ikhsan Beji Kedungbanteng juga memiliki dualitas: di satu sisi terjadi demokratisasi tata kelola dan peningkatan otonomi guru, tetapi di sisi lain tetap terdapat proses normalisasi dan pengawasan halus yang mempertahankan dominasi kepala madrasah melalui modal simbolik dan legitimasi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan lembaga pendidikan melalui pendekatan demokratis sangat bergantung pada kemampuan kepala madrasah membangun jaringan kolaborasi horizontal dan vertikal berbasis kepercayaan agar tidak terjebak dalam formalisme prosedural.
Pemikiran Ekonomi Islam Muhammad Abdul Mannan:Landasan Teori, Prinsip Dasar, dan Relevansinya bagi Perekonomian Modern Aulia Salma Dea Fathin; Salma Aprilia Tuhfatuzzulfa; Agus Waluyo
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/aybwbj95

Abstract

Islamic economics is a swiftly developing area of research aimed at establishing an economic system that conforms to Sharia laws. A central figure in the advancement of this perspective is Muhammad Abdul Mannan. This research intends to explore Muhammad Abdul Mannan’s views on Islamic economics and evaluate their significance for today's economic circumstances. The research utilizes a qualitative method through a literature review approach, referencing multiple sources including books, journals, and academic writings concerning Muhammad Abdul Mannan's Islamic economic ideas. The results indicate that Muhammad Abdul Mannan perceives Islamic economics as a framework that harmonizes material and spiritual dimensions. He believes that economic activities should focus not just on profit but also on the principles of justice, fair distribution of welfare, and social responsibility. Moreover, he highlights the significance of the government's involvement in regulating wealth distribution, enhancing zakat, and curbing usury in economic practices. The concepts proposed by Muhammad Abdul Mannan have greatly impacted the evolution of contemporary Islamic economics and have formed the basis for the application of sharia economics in numerous nations. Consequently, the ideas he put forward are still viewed as applicable to tackling several contemporary economic challenges, especially those concerning social disparities and ethical dilemmas in the economic realm.