cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Identifikasi Potensi dan Kendala dalam Pengembangan Ekowisata RTH Pulau Bromo Kota Banjarmasin Nury Ahdiya Rif'ati; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65791

Abstract

Pulau Bromo yang berada di Kota Banjarmasin berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Banjarmasin tahun 2020-2040 telah ditetapkan sebagai Pelestarian Kawasan Ruang Terbuka Hijau dan Pengembangan Ekowisata. Penetapan tema penanganan ini dilakukan untuk mendukung upaya Pemerintah Kota Banjarmasin dalam memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di Kota Banjarmasin yang masih minim dan terbatas yaitu sebesar 2,52% dari total luas wilayah keseluruhan. Dimana berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 ditetapkan bahwa persentase luas RTH publik suatu kota minimal 20% dari total luas wilayah. Ditetapkannya Pulau Bromo serta upaya Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan RTH di Kota Banjarmasin menjadi dasar penelitian ini untuk mengetahui potensi dan kendala dalam mengembangkan Pulau Bromo menjadi kawasan Ekowisata RTH. Teknik analisis yang digunakan adalah Content Analysis (CA) dengan output berupa pemetaan potensi dan kendala pada Pulau Bromo berdasarkan konsep Ekowisata RTH. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei primer berupa wawancara secara mendalam (in-depth interview) dan observasi terhadap responden kunci. Responden kunci pada penelitian ini berasal dari Barenlitbangda Kota Banjarmasin, Disbudpar Kota Banjarmasin, Kelurahan Mantuil dan Tokoh Masyarakat Pulau Bromo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Bromo memiliki lebih banyak potensi daripada kendala, sehingga dengan adanya potensi tersebut dapat mendukung pengembangan Pulau Bromo sebagai kawasan Ekowisata RTH.
Alternatif Perencanaan Perbaikan Kelongsoran Lereng pada TPA Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud Dini Nabila Martiani; Musta'in Arif; Herman Wahyudi
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.67711

Abstract

TPA Melonguane merupakan satu-satunya TPA yang beroperasi di Kabupaten Kepulauan Talaud, tepatnya terletak di Pulau Karakelang. Lokasi dari TPA tersebut di daerah perbukitan dengan kontur bervariasi antara +70,00 hingga +86,00 yang dikelilingi lahan terbuka. Pada awal tahun 2019, TPA Melonguane mengalami kerusakan karena adanya bencana alam berupa tanah longsor. Kelongsoran terjadi di jalan tanah yang difungsikan sebagai jalan menuju IPL. Lalu, pada bulan Agustus 2019 terjadi longsor susulan di lereng dekat bangunan workshop IPLT. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi penyebab kelongsoran dan alternatif perbaikannya agar kelongsoran tidak terjadi lagi. Pada perencanaan ini, analisa stabilitas lereng existing dilakukan dengan 2 pendekatan, yaitu lereng dengan tinggi terbatas (finite slope) dan lereng menerus (infinite slope). Sulawesi merupakan daerah rawan gempa karena merupakan lokasi pertemuan tiga lempeng tektonik. Maka dari itu, dari 2 pendekatan tersebut, analisa stabilitas lereng dilakukan dengan 2 kondisi, yaitu tanpa gempa dan dengan gempa. Dalam Tugas Akhir ini, ada beberapa alternatif perbaikan lereng yang ditawarkan antara lain ialah perkuatan dengan turap, geotextile+subdrain, dan gabion+geotextile.
Araahan Pengembangan Kawasan Ekowisata Mangrove Gunung Anyar Surabaya Dionysius Herman Kristianto; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.67017

Abstract

Ekowisata Mangrove Gunung Anyar merupakan salah satu Ekowisata yang terdapat di Kota Surabaya yang memiliki luas kawasan wisata seluas kurang lebih 10 Ha dan terletak di Kelurahan Gunung Anyar Tambak Surabaya. Pada Kawasan Ekowisata Mangrove Gunung Anyar ini memilik beberapa daya tarik wisata antara lain, terdapat jogging track sepanjang 80m, Spot selfie, Gazebo, Wisata Perahu. Oleh karena itu dalam penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan Ekowisata Mangrove Gunung Anyar Surabaya, dengan 3 (tiga) sasaran yaitu, (1) Menentukan Faktor Pengembangan Kawasan Ekwosata Mangrove Gunung Anyar Surabaya dengan menggunakan metode analisis Delphi dan memiliki 5 responden kunci, (2) Mengidentifikasi Karakteristik Tiap Faktor Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Potensi Masalah di Kawasan Ekowisata Mangrove Gununug Anyar Surabaya dengan menggunakan metode analisis deskriptif yang menghasilkan deskripsi potensi dan masalah pada tiap faktor pengembangannya, dan (3) Merumuskan Arahan Pengembangan Kawasan Ekowisata Mangrove Gunung Anyar Surabaya dengan menggunakan metode analisis Triangulasi dari hasil analisis sasaran 1 (satu) dan sasaran 2 (dua) serta studi literature maupun kebijakan yang relevan dengan penelitian ini. Dalam tahap analisis pertama dengan menggunakan metode analisis Delphi. Dimana pada tahap analisis ini menggunakan 18 variabel yang telah dirumuskan oleh peneliti dan menghasilkan 17 variabel yang kosensus. kemudian dilanjutkan pada tahap analisis kedua yaitu Mengidentifikasi Karakteristik Faktor Pengembangan Berdasarkan Potensi dan Masalah di Kawasan Ekowisata Mangeove Gunung Anyar Surabaya. Pada analisis tahap 2 (dua) ini menghasilkan narasi potensi dan masalah pada tiap faktornya berdasarkan hasil observasi lapangan dari peneliti. Kemudian dari hasil analisis sasaran pertama dan kedua, dilanjutkan dengan analisis triangulasi. Pada analisis triangulasi ini menggunakan data dari hasil dari analysis sasaran pertama dan sasaran kedua serta best practice dan kebijakan yang relevan dengan penelitian. Sehingga diperoleh 20 arahan Pengembangan Kawasan Ekowisata Mangrove Gunung Anyar Surabaya. Arahan tersebut seperti, memperluas pembenihan mangrove, dan penyediaan infrastruktur Smart Green House untuk keperluan edukasi bagi wisatawan.
Perencaan Sel Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan Sistem Controlled Landfill Pada TPA Lubuk Binjai - Lubuklinggau Rendy Cahya Putra Pamungkas; Noor Endah; Trihanyndio Rendy Satrya
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.68166

Abstract

Kota Lubuklinggau merupakan salah satu daerah administratif tingkat II di daerah administratif tingkat I/Provinsi Sumatera Selatan. Kepadatan penduduk di kota Lubuklinggau adalah sekitar 578 jiwa/km² dengan peningkatan penduduknya yaitu rata rata 3000 jiwa tiap tahunnya memberikan pengaruh terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah infrastruktur persampahan. TPA Petanang yang merupakan tempat penampungan sampah di wilayah Kota Lubuklinggau telah mencapai kapasitas maksimumnya. Dari permasalahan tersebut, maka diperlukan perencanaan TPA baru yaitu TPA Lubuk Binjai dengan pembangunan pada sel C dan D. Dalam tugas akhir ini dilakukan beberapa perencanaan diantaranya perencanaan tanggul dari timbunan tanah yang dipadatkan meliputi dimensi tanggul dengan perkuatan menggunakan geotextile, dan analisa stabilitas timbunan sampah dengan perkuatan cerucuk. Kondisi eksisting pada masing – masing sel harus sesuai persyaratan dalam penentuan lokasi sel TPA menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 3 Tahun 2013. Hasil analisa tanggul untuk sel D memiliki variasi ketinggian menyesuaikan elevasi dasar sampah dengan tinggi terendah 3 m hingga tertingginya 6.7m. Untuk perencanaan sel C tanggul dibuat setinggi 6m. Timbunan sampah sel C dan D direncanakan setinggi 15m dan terbagi menjadi 3 lift. Perencanaan sel D memiliki variasi ketinggian lift sampah, sedangkan untuk sel C memiliki tinggi lift sampah yang seragam yaitu sebesar 5m. Perkuatan geotextile dan cerucuk setiap sel mengikuti kebutuhan masing masing tanggul dan timbunan sampah sesuai analisa yang didapatkan.
Perencanaan Reklamasi & Shore Protection pada Proyek Perpanjangan Runway Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Kautsar Rizki Nashrullah; Yudhi Lastiasih; Herman Wahyudi
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69821

Abstract

Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai terus dikembangkan dari tahun ke tahun. Hal tersebut dilakukan demi mendukung kenaikan jumlah pesawat yang sejalan dengan jumlah kenaikan penumpang yang keluar masuk Bandara Ngurah Rai setiap tahunnya. Oleh karena itu, pihak pengelola Bandara Ngurah Rai langsung mengambil langkah konkret dengan melakukan pengembangan air side Bandara. Rencana pengembangan yang akan dilakukan adaalah perpanjangan runway yang semula memeliki dimensi 3000x45 m akan diperpanjang 400 m sehingga menjadi 3400x45 m. Namun, keterbatasan lahan pada area bandara memaksa pengembangan harus dilakukan mengarah ke sisi pantai sebelah barat Bandara Ngurah Rai. Pengembangan dilakukan dengan membuat daratan baru dari dasar laut atau yang lebih dikenal reklamasi. Dalam penelitian ini dilakukan perencanaan reklamasi tersebut. Perencanaan reklamasi akan dilakukan dengan memperhatikan likuifaksi karena tanah di daerah reklamasi didominasi oleh tanah pasir ditambah lagi Pulau Bali pernah dilanda gempa dengan kekuatan 7,5 M. Selain itu, untuk menjaga tanah dibelakangnya agar tidak terbawa oleh arus dan gelombang ke laut lepas maka perlu direncanakan shore protectionnya juga. Saat ini telah direncanakan perbaikan tanah untuk mengantisipasi likuifaksi dengan metode dynamic compaction dan stone column. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada area yang berpotensi mengalami likuifaksi pada tanah lapisan 0-5 m zona D. Maka dari itu direncanakan perbaikan tanah alternatif untuk mengantisipasi likuifaksi tersebut berupa soil mixing dan compaction grouting. Semua variasi alternatif perbaikan tersebut dibandingkan dengan hasil perencanaan eksisting, ternyata metode perbaikan yang paling efektif untuk mengantisipasi likuifaksi pada Proyek Perpanjangan Runway Bandar Udara Ngurah Rai adalah dynamic compaction. Selanjutnya untuk shore protection dalam penelitian ini direncanakan menggunakan tetrapod dan revetment batu pecah. Hasil perbandingan dari kedua perencanaan shore protection tersebut menunjukan bahwa revetment batu pecah merupakan shore protection yang paling efektif.
Analisa Kelayakan Finansial Proyek Apartemen (Studi Kasus: Tower Aubrey Grand Shamaya Surabaya) Muhammad Ilham Najmuddin; Farida Rachmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69510

Abstract

Perkembangan kota Surabaya yang meningkat memberi dampak pada sektor pembangunan dan mengakibatkan permintaan tempat tinggal yang semakin tinggi. Hadirnya apartemen atau hunian vertikal ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal di tengah keterbatasan lahan, khususnya di area perkotaan seperti Surabaya. Apartemen Grand Shamaya adalah salah satu properti yang dibangun di Surabaya untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan tempat hunian yang nyaman, aman dan berlokasi strategis di Jl. Embong Sawo No.1, Surabaya 60271, Jawa Timur. Studi ini dilakukan untuk menganalisa kelayakan finansial apartemen Grand Shamaya Tower Aubrey. Analisa tersebut menggunakan 2 indikator kelayakan finansial, yaitu PP (Payback Period) NPV (Net Present V alue) dan IRR (International rate of Return) dengan asumsi masa investasi selama 20 tahun. Setelah dilakukan perhitungan analisa finansial, pembangunan Apartemen Grand Shamaya Tower Aubrey dikatakan layak dengan hasil Net Present Value (NPV) Rp 345.865.456.667, IRR sebesar 41,27% dan PP selama 3,05 tahun. Variabel paling sensitif pada analisa sensitivitas adalah penurunan harga unit.
Kriteria Livability pada Permukiman yang Dikembangkan oleh Informal Land Subdividers Like Daniela Thalia Siagian; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69949

Abstract

Aktivitas pengembangan permukiman yang dilakukan oleh informal land subdividers dilakukan tanpa mengikuti kerangka peraturan yang ada sehingga mengarah pada permukiman yang tidak layak huni. Sementara pada kondisi idealnya, permukiman seharusnya menyediakan ruang yang nyaman dimana livability merupakan bentuk pencapaiannya. Untuk itu, diperlukan adanya kebijakan yang dapat mengakomodasi peningkatan livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Sebagai masukan terhadap terhadap penyusunan kebijakan tersebut, pada penelitian ini dilakukan perumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Metode pengumpulan data dalam perumusan kriteria tersebut dilakukan dengan studi pustaka yang selanjutnya dikonfirmasi dengan in-depth interview kepada para ahli untuk mengumpulkan pendapat para ahli terkait variabel yang tepat dalam menilai livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Hasil in-depth interview tersebut kemudian dianalisis dengan metode quantitative content analysis. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan rumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan informal land subdividers sejumlah 28 kriteria yang terbagi dalam 8 aspek diantaranya: jangkauan fasilitas umum; kondisi prasarana; kualitas utilitas; keselamatan dan keamanan; kondisi fisik bangunan; kondisi lingkungan; kondisi perekonomian masyarakat penghuni; dan aksesibilitas transportasi umum dan supermarket.
Arahan Pengembangan Infrastruktur Hijau sebagai Pendukung Pasokan Air di Surabaya Aniadela Wulandhanti; Rulli Pratiwi Setiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69653

Abstract

Surabaya merupakan salah satu kota yang pertumbuhan populasinya berkembang pesat. Semakin bertambahnya populasi, akan terjadi peningkatan konsumsi air yang dapat menyebabkan kelangkaan air apabila tidak dikelola dengan baik. Pada tahun 2017, rata-rata konsumsi air telah melebihi rata-rata nasional dan diprediksi akan terus meningkat. Selama pandemi Covid-19, masyarakat menggunakan air untuk kebutuhan domestik lebih banyak daripada saat kondisi normal. Berdasarkan praktik yang pernah dilakukan, implementasi infrastruktur hijau dapat menyediakan air tambahan untuk kebutuhan air kota. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan pengembangan infrastruktur hijau dalam mendukung suplai air di Kota Surabaya. Pertama, penelitian ini menggunakan proyeksi pertumbuhan penduduk dan proyeksi kebutuhan air bersih untuk mengetahui kebutuhan air untuk kegiatan domestik hingga tahun 2050. Selanjutnya, dilakukan analisis isi untuk mengetahui ketersediaan dan kondisi infrastruktur hijau di Surabaya. Tahap terakhir menggunakan analisis triangulasi untuk merumuskan arahan pengembangan infrastruktur hijau sebagai pendukung pasokan air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surabaya akan mengalami defisit air di tahun 2035. Boezem serta jalur hijau dan taman merupakan jenis infrastruktur hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pasokan air bersih di Surabaya. Arahan pengembangan infrastruktur hijau meliputi penyediaan instalasi pengolahan dan jaringan air di Kecamatan Semampir, Kenjeran, Bulak, Pakal, dan Benowo, yang tersebar dalam 15 kelurahan untuk menyuplai air kebutuhan domestik. Dengan memanfaatkan boezem yang ada di sekitarnya, akan menambah pasokan air sebesar ±10.805m³ di Surabaya utara dan ±297.272m³ di Surabaya barat.
Efek EM4 pada Penguraian Lumpur Tinja Secara Anaerobik Veny Herdiana; Eddy Setiadi Soedjono
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69927

Abstract

Lumpur tinja (septage) dalam septic tank terdiri atas feses, urine, dan air. Produk biostarter EM4 merupakan salah satu alternatif penanganan lumpur tinja dengan harga terjangkau dan mudah ditemukan di pasaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek EM4 pada penguraian lumpur tinja dalam kondisi anaerobik. Penelitian skala laboratorium ini menggunakan reaktor dengan sistem batch sebanyak 66 buah, dengan destructive sampling method. Setiap reaktor diisi dengan lumpur tinja sebanyak 1200 mL. Penelitian ini dilakukan dalam waktu 2 (dua) bulan. Terdapat 5 (lima) variasi perlakuan yaitu tanpa EM4 atau blanko (P1), EM4 1,2 mL atau 0,1% v/v (P2), EM4 4,8 mL atau 0,4% v/v (P3), EM4 9,6 mL atau 0,8% v/v (P4), dan EM4 1,2 mL + media attached growth (P5). Parameter yang dianalisis meliputi TSS (termasuk VSS dan FSS), BOD5, COD (termasuk CODrb), volume lumpur dan supernatan dalam reaktor, pH, dan temperatur. Nilai BOD5, COD (0,45 mikron), CODrb (0,22 mikron) semakin menurun selama penelitian berlangsung, namun TSS mengalami kenaikan. Pemisahan antara lumpur dan supernatan terbaik adalah pada P4 = P5 > P3 > P2 > P1. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan berada pada rentang pH optimum yaitu 6,5 hingga 8,0. Sementara itu, temperatur semua perlakuan berada dalam rentang 30-34°C (mesophilic). Konsentrasi terbaik yang dipilih untuk penguraian lumpur tinja secara anaerobik menggunakan EM4 adalah 9,6 mL atau 0,8% v/v. Konsentrasi ini dipilih karena menunjukkan penyisihan paling signifikan terhadap volume lumpur, BOD5, COD, dan CODrb masing-masing sebesar 71%, 91%, 94%, dan 100%, dibandingkan variasi konsentrasi lainnya.
Analisis Kinerja Waktu pada Proyek Pembangunan Gedung Kampus II UIN Sunan Ampel Surabaya Faizal Tri Mahardho; Retno Indryani; Yusroniya Eka Putri Rachman Waliulu
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.70541

Abstract

Dalam proses pelaksanaan proyek dengan nilai kontrak yang besar dan waktu pelaksanaan yang lama perlu dilakukan pengendalian agar proyek dapat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan. Proyek pembangunan gedung kampus II UIN Sunan Ampel Surabaya dengan nilai kontrak sebesar Rp.453.343.000.000,- dan durasi pelaksanaan proyek kurang lebih selama 32 bulan (multiyears mulai 27 Januari 2020 sampai dengan 29 Agustus 2022, untuk pembangunan beberapa gedung) memerlukan pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja waktu proyek pembangunan gedung kampus II UIN Sunan Ampel Surabaya, sebagai bagian dari pengendalian proyek. Metode yang digunakan untuk analisis kinerja waktu adalah Earned Value Analysis. Metode Earned Value Analysis dapat mengetahui kinerja proyek dari segi waktu serta memperkirakan berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Analisis kinerja waktu dilakukan untuk keseluruhan gedung, baik untuk kontrak multiyears maupun per tahun anggaran, dan untuk masing-masing gedung. Dari hasil analisis pada peninjauan keseluruhan gedung, baik untuk kontrak multiyears maupun per tahun anggaran, didapatkan Schedule Performance Index (SPI) lebih dari satu, yang berarti proyek berjalan lebih cepat dari yang direncanakan. Untuk peninjauan masing-masing gedung, didapatkan SPI lebih dari satu untuk gedung AEFG, F1, dan C; serta SPI kurang dari satu untuk gedung AEFG, H, dan I. Dapat disimpulkan bahwa meskipun secara jadwal keseluruhan proyek lebih cepat dari yang direncanakan, namun ada gedung yang pelaksanaannya terlambat.