cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Implementasi Imaginative Space dan Optimal Learning Space dalam Sekolah Dasar Shalahuddin Akbar Aviecena; Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.99836

Abstract

Pada awalnya, setelah dilahirkan manusia bertumbuh dan berkembang di Rumah. Sebagai sudut dunia pertama ternyata rumah memiliki peranan dalam membentuk kemampuan kognitif, karena pemikiran manusia terbentuk berdasarkan persepsi akan elemen elemen yang hadir di lingkungan. Elemen elemen tersebut dapat memicu sisi imajnatif anak yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih lanjut. Oleh karena itu elemen imajinatif seharusnya menjadi focus dalam membangun sebuah arsitektur. Selain rumah, sekolah merupakan tempat kedua yang menghabiskan waktu banyak, sehingga fokus akan mengembangkan kemampuan kognitif juga bisa terjadi disana. Elemen elemen imaginative space bersifat esensial dan implementasinya membutuhkan kriteria desain yang dapat bersifat menstimulasi pemikiran imajinatif otak anak. Selain imaginative space, dalam merancang sekolah juga diperlukan eksplorasi elemen elemen formal dan spasial berdasarkan syarat merancang bangunan sekolah yang optimal. Teori Optimal Learning Space menjadi kriteria yang juga diimplementasikan dalam desain, sehingga rancangan sekolah dasar dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak tanpa mengurangi kebutuhan dasar terbangunnya sekolah.
Pemulihan dan Perlindungan dari Trauma Hate-based Violence Melalui Arsitektur Anastasia Evangelista Sumanti; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.102356

Abstract

Diversitas masyarakat yang tinggi di Indonesia membuat adanya perbedaan pendapat menjadi sangat wajar, namun jika perbedaan tersebut didorong dengan kebencian maka itu dapat menimbulkan permasalahan baru. Hate-based Violence adalah salah satu contoh dari radikalisme yang dapat menghancurkan keragaman masyarakat yang hidup Bersama di Indonesia. Trauma yang ditimbulkan oleh hate-based violence memiliki efek yang berbeda dengan trauma biasa karena target penyerangan dengan kebencian ini adalah identitas dari seseorang atau sekelompok masyarakat. Skenario terburuk dari kekerasan ini adalah hilangnya identitas dari seseorang karena rasa takut dan tidak aman untuk hidup dengan identitas tersebut. Sedangkan identitas bukanlah hal yang dapat dihilangkan atau dilepaskan. Cara yang paling sesuai untuk mengatasi keberlanjutan trauma ini adalah dengan mencegah terpaparnya korban trauma maupun calon korhadap kejadian yang serupa, selain itu juga dapat diimplementasikan kondisi yang dapat memberikan efek psikologis yang kemungkinan dapat memberikan ketenagan batin bagi mereka.
Rancangan Integrasi Industri Perikanan dan Kawasan Wisata berbasis Sustainable Ecotourism sebagai Landmark Teluk Pacitan Muhammad Bintang Nabilunnuha; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.96588

Abstract

Kawasan Wisata Teluk Pacitan merupakan pusat kegiatan sektor wisata. Tidak hanya kegiatan wisata, namun kawasan ini juga menjadi pusat industri perikanan setempat. Hal ini menjadi dasar untuk mengembangkan kawasan Teluk Pacitan menjadi kawasan industri kreatif dengan mengusung konsep wisata ekoturisme yang berwawasan lingkungan dan menitikberatkan pada partisipasi aktif masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan penduduk lokal. Selain itu, integrasi wisata ekoturisme dan industri kreatif perikanan mampu menjadi identitas dan branding Kabupaten Pacitan, khususnya Teluk Pacitan untuk semakin dikenal dan mencapai isu strategis pertumbuhan ekonomi serta pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan. Dalam mewujudkan sustainable ecotourism, sustainable design menitikberatkan pada perancangan lingkungan binaan, objek fisik, maupun layanan yang berprinsip pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi. Metode desain yang digunakan adalah force-based design. Dalam hal ini force utama rancangan adalah kondisi tapak, yang berada di pinggir pantai yang berbatasan dengan muara sungai. Obyek rancangan merupakan sebuah unit pengolahan ikan (UPI) yang diintegrasikan dengan fasilitas wisata, komersial, dan edukasi. Rancangan ditujukan menjadi katalis kegiatan masyarakat lokal dengan aktivitas wisatawan berbasis ecological architecture dan urban landscape, serta menjadi landmark yang mampu merepresentasikan identitas kawasan dan juga masyarakat lokal Teluk Pacitan.
Konservasi Cagar Budaya Matan sebagai Ruang Publik dengan Pendekatan Critical Regionalism Nabil Almatin; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.96632

Abstract

Kabupaten Ketapang adalah kabupaten terluas di Provinsi Kalimantan Barat dengan letak yang strategis dan aset pengembangan budaya yang cukup menjanjikan. Isu yang ditemukan dari rekam sejarah, sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa masih ada isu keterhambatan nilai sosial yang belum tertuang di kota itu. Agar dapat meningkatkan vitalitas kawasan, langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan usaha untuk mengkonservasi cagar budaya berupa komplek heritage Keraton Matan, melalui pendekatan kontekstual berupa Critical Regionalism, dilakukan penggalian berupa analisis tapak, analisis preseden, diagram layering sejarah & aktivitas, untuk melibatkan force sebagai acuan dalam proses merancang. Sehingga hadirlah konsep waterfront, keselarasan dan kontras sebagai respon estetika nusantara, serta ruang produktif yang adaptif.
Inovasi Rancangan Fasilitas Shelter Hybrid sebagai Solusi Pengembangan Kondisi Lingkungan Pondok Sosial dan Interaksi Sosial Masyarakat Kota Malang Satria Hervanda; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.95952

Abstract

Menganalisis mengenai fenomena isu sosial-ekonomi yang berada di lingkungan sosial masyarakat yang masih terjadi di negara kita, yang hingga saat ini masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Sebuah fenomena yang dapat mengganggu suatu citra kota hingga berdampak memunculkan masalah-masalah urban yang kompleks lainnya dengan adanya gelandangan dan pengemis yang memasuki kehidupan bersosial bermasyarakat di perkotaan. Tahapan yang telah dilakukan adalah meliputi identifikasi dan pengumpulan data kemiskinan dan gelandangan pengemis, melalui jurnal-jurnal yang membahas permasalahan sosial-ekonomi dan ketidaksetaraan sosial, perumusan masalah, pemahaman pendekatan, metode, teori pendukung, analisa aktivitas dan ruagnya, hingga perumusan usulan rancangan berdasarkan pengelompokkan kriteria desain. Pada akhirnya interpretasi dalam merespon isu kesenjangan sosial ini, menjadikan tahapan proses perancangan melalui pengaplikasian eksplorasi dalam konsep desain dalam menghadirkan sebuah objek rancangan yang terintegrasi yang memiliki fungsi sebagai shelter panti sosial dan community center dalam menghadirkan solusi rancangan arsitektural dalam mengentas masalah sosial dengan meningkatkan interkasi sosial dan membangun persepsi ruang berdasarkan aktivitasnya untuk mencapai kesejahteraan hidup yang lebih baik dari para gelandangan-pengemis.
Konsep Pencegahan Kriminalitas pada Terminal Baranangsiang Bogor Risanti Anne Aprillia; Irvansyah Irvansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.101553

Abstract

Terminal merupakan objek arsitektur yang memiliki fungsi untuk membantu jalannya mobilitas masyarakat perkotaan. Sebagai tempat pertemuan manusia berbagai latar dalam periode waktu yang singkat, terminal kerap mengundang perilaku kriminalitas. Pencopetan, pelecehan seksual,penculikan, dan pengalaman tak ramah seperti pemaksaan jasa tidak pernah luput dari kehadiran sebuah terminal. Kasus kriminalitas yang terjadipada satu terminal menimbulkan imej tidak aman pada terminal lainnya, hingga akhirnya semua terminal yang ada memiliki stigma akan keamanandan menimbulkan fear of crime. Pencegahan kriminalitas dan penghilangan imaji tidak aman pada terminal dapat dilakukan dengan memperbaiki manajerial dan perancangan terminal. Perancangan terminal dilakukan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku dengan mempelajari tata perilaku pengguna terminal dankriminal. Pola aktivitas kriminal terhadap calon korban dan analisis area dengan resiko kriminalitas yang tinggi mempermudah penghadiran solusirancang untuk menanggulangi masalah kriminalitas. Untuk dapat berhasil mencegah tindak perilaku kriminalitas, perancangan bekerjamenggunakan framework bernama situational crime prevention, yaitu konsep pencegahan kriminalitas dengan menentukan secara spesifik bentukkriminalitas seperti apa yang ingin dicegah. Pendekatan perilaku dengan pengaplikasian konsep framework situational crime prevention memiliki fokus pada aspek spasial bangunan dengantujuan untuk mempersulit upaya kriminalitas dan meningkatkan resiko pelaku kejahatan. Menghadirkan terminal yang aman dan nyaman.
Model Hunian Adaptif Kampung Nelayan pada Resiko Surabaya Tenggelam 2050 Rizky Olda Putri Salsabilla; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.97525

Abstract

Permukaan air laut yang terus meningkat menjadi dampak berkelanjutan dari permasalahan lingkungan diatas. Surabaya diisukan terancam tenggelam pada tahun 2050. Perubahan yang terjadi ini memberikan dampak yang menyebar dan kelanjutan pada perlambatan kehidupan dan pembangunan Kota Surabaya. Upaya preventif (mitigasi) dan adaptasi terhadap kondisi yang baru dapat direspon melalui peran arsitektur demi keberlanjutan. Desain Modul Hunian yang adaptif diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dengan harapan sebagai upaya mempertahankan area lahan kota Surabaya. Rancangan desain modul melalui pendekatan adaptive architecture dihadirkan pada rancangan ini. Konsep modul hunian memiliki struktur dan bentuk yang dapat beradaptasi dengan kenaikan air hingga mengapung. Terletak pada permukiman nelayan pesisir Kenjeran menjadi simulasi awal rancangan. Dengan rencana kedepan, hasil output modul permukiman dapat diterapkan lebih luas pada area lain Surabaya yang terdampak . Sehingga, harapannya desain yang ditawarkan dapat menjadi solusi dari permasalahan ini.
Konsep Multifungsi dan Multikultur pada Perancangan Kembali Alun-Alun Kota Gresik melalui Participatory Design Graciani Cahyadresta Dewanda; Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.95801

Abstract

Alun-Alun Gresik semula merupakan tanah lapang yang biasa digunakan berbagai kegiatan oleh warga sekitar. Namun pada 2017, Alun-Alun Gresik diubah menjadi sebuah Islamic Center. Banyak pro dan kontra di masyarakat hingga muncul banyak penolakan pula. Penolakan ini didasari oleh posisi Alun-Alun Gresik sebagai cagar budaya dan kondisi sekitar Alun-Alun tidak hanya dari budaya Islam saja. Hal ini ditandai dengan adanya Gereja Pantekosta dan Klenteng Kim Hin Kiong di dekat Alun-Alun. Dimana fenomena ini secara tidak sengaja mengalami fenomena placelessness yang disampaikan oleh Edward Relph (1976) dalam Seamon, David dan Sowers, Jacob (2008). Placelessness menjelaskan terjadinya penghapusan tempat-tempat khusus dan pembuatan lanskap standar yang dihasilkan dari ketidakpekaan terhadap pentingnya suatu tempat. Keberadaan Alun-Alun Gresik yang sebagai Islamic Center, perlahan dapat menghapus tempat-tempat khusus, seperti Gereja Pantekosta dan Klenteng Kim Hin Kiong yang juga kental akan tradisi budayanya. Berdasarkan permasalahan ini, kondisi Kota Lama Gresik yang multikultur menjadi dasar untuk mengembalikan Alun-Alun Gresik dengan menghormati kultur-kultur lainnya. Dengan memperhatikan komunitas sekitar, harapannya Alun-Alun Gresik dapat memberikan meaning of place bagi komunitas sekitar dan mengembalikan signifikansi Kota Lama Gresik. Menggunakan pendekatan participatory design, proyek ini berusaha melibatkan kontribusi partisipan dalam melihat isu ini dan bersama-sama memberikan aspirasi terkait rancangan Alun-Alun Gresik yang lebih multikultur secara kolaboratif. Pelaksanaan jaring pendapat dan pekerjaan kolaboratif ini dilakukan dengan media workshop/interview dan juga pemanfaatan teknologi untuk respon batasan jarak yang ada di era pandemi COVID-19. Konsep multifungsi diaplikasikan sebagai konsekuensi dari aktivitas yang ingin diwadahi dalam rancangan dan sebagaimana keberadaan ruang publik di tengah kota. Konsep ini diaplikasikan pada aktivitas dan ruangnya, aplikasi tangga dan ramp, serta street furniture. Selain itu, rancangan ini juga banyak memberikan familiaritas bagi masyarakat sekitar melalui penggunaan elemen yang identik dengan kultur sebagai penggambaran konsep multikultur. Kemudian konsep ini diaplikasikan pada penggunaan shelter, warna, street furniture dan vegetasi.
Desain Skyfarming: Area Produksi Pertanian Futuristik pada Lahan Produktif yang Terindustrialisasi Devi Novita Sari; Fenty Ratna Indarti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.97953

Abstract

Sektor industri kini menjadi sektor andalan negara untuk mendongkrak kegiatan perekonomian yang berpengaruh besar terhadap tingkat kemakmuran rakyatnya. Industrialisasi merupakan fenomena yang umum terjadi dalam prosesnya, pembukaan lahan baru untuk pembangunan infrastruktur industri kini mulai marak dijalankan. Parahnya, konversi lahan mulai merambah pada alih fungsi lahan produktif, hal ini akan menimbulkan permasalahan baru yakni penurunan kuantitas hasil pangan yang rentan mempengaruhi ketahanan pangan. Selain itu dampak lain dari kehadiran industri di area pertanian adalah adanya polutan yang dilepaskan ke lingkungan sekitarnya sehingga berdampak buruk bagi kesehatan warga sekaligus menurunkan kualitas tanaman pangan. Dengan menggunakan scenario based design dan pendekatan dystopia, penulis merancang sebuah gagasan baru mengenai bentuk pertanian di masa mendatang menanggapi isu industrialisasi. Berbasis Shared Socioeconomic Pathway (SSP) dengan titik acuan waktu pada tahun 2100, rancangan menjadikan skenario tersebut menjadi threats yang harus dihadapi oleh pertanian dan berperan dalam proses developing concept. Rancangan skyfarming merujuk pada prinsip-prinsip fisika, kinerja benda sekitar seperti xylem dan floem, preseden-preseden baik terbangun maupun belum terbangun, sekaligus teknologi yang mungkin diwujudkan di masa mendatang. Rancangan ini menjadi salah satu contoh bagaimana arsitektur mampu melahirkan bentuk baru dari pertanian melalui respon skenario distopia di masa depan.
Analisis Skala Ruang Dalam Perencanaan Arsitektur Exhibition Plants Prisqilia Aurista Juwita; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.92748

Abstract

Kota Utopia adalah konsep kota ideal yang didambakan oleh banyak orang di perkotaan. Namun perencanaan sebuah Kota Utopia seringkali gagal, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak mendukung kehidupan yang layak dan bebas di perkotaan. Salah satu faktor kegagalan konsep Kota Utopia adalah karena tidak menerapkan human scale planning. Human scale planning sendiri merupakan sebuah konsep dalam arsitektur dalam mewujudkan bangunan yang ramah dan dapat diterima oleh manusia. Skala manusia adalah sebuah teori yang berkaitan dengan indera manusia secara visual dan jarak pandang manusia terhadap suatu obyek. Berkaitan dengan jarak pandang manusia, hal ini dapat diintegrasikan dalam bidang arsitektur dan dikaitkan dengan skala ruang. Skala manusia dapat menjadi tolak ukur rancangan arsitektur dalam menghadirkan sebuah ruang dan suasana. Dalam proses perancangana arsitktur pada ranah kota, harus dilakukan analisis dengan metode comparative study-case untuk melihat strength, weakness, opportunity, threat dari konteks yang diangkat. Dengan melihat SWOT dapat menentukan respon yang harus dilakukan. Dari analisis yang telah dilakukan pada konteks, respon yang harus dilakukan adalah melakukan perancangan arsitektur ranah kota dengan menggunakan konsep skala ruang dalam menciptakan perspektif ruang, dan membangkitkan suasana yang dapat dirasakan pengguna. Pendekatan dilakukan dengan cara menganalisis titik-titik tertentu pada kawasan Tunjungan dengan indikator skala manusia terhadap tipologi sebuah Pasar Tanaman Hias. Kriteria rancang dan konsep desain juga akan berjalan beriringan dengan tujuan yang sama yaitu penerpan skala manusia dalam desain arsitektural.