cover
Contact Name
Eni Zulaiha
Contact Email
enizulaiha@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iat.s2@uinsgd.ac.id
Editorial Address
Kampus 2 UIN SGD Bandung Jl. Cimencrang, Kec. Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat – 40292
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 29634482     DOI : https://doi.org/10.15575/mjiat
Core Subject : Religion,
Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir is an open-access journal and peer-reviewed scientific work theoretically and practically studying the Quranic science and tafsir.
Articles 90 Documents
Pro dan Kontra Tafsir Periode Sahabat Sa'dina, Ahmad Midrar
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.21071

Abstract

Problematika penafsiran pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw menjadi landasan pembahasan tulisan ini. Proses penafsiran yang terbiasa diinterpretasikan oleh Nabi Muhammad Saw juga mengalami perubahan. Sumber penafsiran yang semula Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan sunah, berkembang hingga mengambil pendapat para sahabat. Pendapat yang dilandasi pemahaman yang lebih tentang bahasa Arab juga situasi saat Al-Qur’an itu diturunkan pun masih menjadi problem. Hal ini dikarenakan ada sumber lain yang menjadi acuan para sahabat, yakni hasil dari dialog para sahabat dengan ahlul kitab yang mengahasilkan kisah israiliyyat dalam tafsir. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana perkembangan tafsir periode sahabat, mengidentifikasi ciri-cirinya dan problematika pemahaman tafsir periode sahabat. Sehingga bisa memunculkan pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut. Metode penelitian tulisan ini adalah kualitatif melalui pengumpulan data secara library research. Langkah analisis juga dibahas dalam tiga tahapan. Pertama, menentukan tema pembahasan dengan mengambil sumber dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an dan Tafsir wa al-Mufassirun. Kedua, membahas aspek-aspek sentral dari pembahasan baik itu perkembangan, ciri-ciri dan problematika pemahaman tafsir periode sahabat. Ketiga, membuat kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan. Hasil dari penelitian ini memuat tiga poin: pertama, pemahaman dan ijtihad sahabat bisa dijadikan sumber, jika terpenuhi syarat-syarat dan adab-adab seorang mufassir. Kedua, tafsir periode sahabat belum sistematis, masih terpisah-pisah dan belum ada pembukuan. Terbukti dari tafsir Ibnu Abbas yang diriwayatkan Ali bin Abu Thalhah yang baru dibukukan pada abad 2. Ketiga, para mufassir sahabat yang menukil kisah-kisah israiliyyat hanya sedikit sekali. Sahabat justru mendahulukan pemahaman dan ijtihadnya sendiri. Hal ini membuktikan kredibilitas sahabat yang baik juga menjauhi perkara yang belum jelas benar atau tidaknya.
Każb dalam Al-Qur'an: Analisis Linguistik Struktural Ferdinand de Saussure Midrar Sa'dina, Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.21073

Abstract

Każb adalah salah satu kata yang sering diulang-ulang dalam Al-Qur'an. Pengulangan kata kazb dibagi menjadi derivasi dari dua belas każb dalam Al-Qur'an. Każb diletakkan sesuai dengan struktur kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga penempatan derivasi każb dalam al-Qur'an sesuai dengan konteks pembahasan di dalamnya. Pembahasannya cenderung pada ranah sosial dan kepercayaan. Oleh karena itu, menarik untuk menganalisisnya dengan menerapkan analisis terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui derivasi każb dalam Al-Qur'an dan menjelaskan struktur yang terkandung dalam derivasi Kazb dalam Al-Qur'an dengan menggunakan analisis struktural-linguistik Ferdinand de Saussure. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dan menggunakan pendekatan linguistik struktural yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure yang terdiri dari 4 tahapan analisis, yaitu penanda, langue parole, sinkronis-diakronis, dan sintagmatik-paradigmatik. Analisis data menggunakan model tematik yang melalui tahapan sebagai berikut: 1) mengumpulkan dan mengklasifikasikan data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung turunan każb, 2) memfokuskan pada data yang layak untuk dianalisis, 3) menyajikan hasil penelitian. data berupa deskripsi naratif pendek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara struktural dan linguistik, istilah każb berkaitan dengan hati. Hal ini karena pembahasan każb dalam Al-Qur'an banyak berkaitan dengan keyakinan akan kebenaran ajaran Allah. Perkembangan makna każb yang diawali dengan makna keraguan pada periode klasik tafsir Al-Qur’an, menjadi upaya untuk menipu Allah dengan alibi keimanan pada periode kontemporer. Hal ini disebabkan pengaruh ilmu yang tidak diimbangi dengan kebaikan hati. Oleh karena itu, hati menjadi alat yang signifikan bagi kemajuan berpikir dan keindahan moralitas manusia.
Variations of Lafaz Bahrun's Interpretation in the Al-Quran Nazhifah, Dinni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.21311

Abstract

Some marine terms are words that are commonly used in scientific terms, especially in marine science. In Arabic and also as written in the Qur'an, the Arabian Sea is known as al-Bahr (البحر). In the oral dictionary ul a'rab lata, it is defined as a water poem with plenty of fresh and salt water. Most exegetes view lafaz (البحر) as the sea in general. In accordance with the field of each Mufasir, but of the many people who are most different lafaz (البحر) comes from among the Sufi mufasir they view lafaz (البحر) differently. There are variations in the interpretation of lafaz (البحر) according to the field or scientific background of the mufasir. Therefore, the author tries to reveal and examine how the variations in the interpretation of lafaz (البحر) that have been mentioned in the Qur'an. To achieve the purpose of this research, the author uses a literature study, namely using books of interpretation related to the discussion, such as the book of Al-āyātul Kauniyyah fil Qur'ānil Karīm, Tafsir Al-Muniir, Tafsir Haqaiqu, Tafsir As-Sulami and other books of interpretation to be used as primary sources and books written by others as secondary sources. In the end, it is framed with the Charles Sanders Pierce Semiotic method. The results of his research, in interpreting lafaz Bahrun, several mufasir have diverse opinions: first, mufasir who are characterized by fiqh, in interpreting lafaz bahrun, they only interpret it in general, they argue that lafaz bahrun in several verses that have been mentioned only means the sea, some refer to the Red Sea (Al-Baqarah: 50), while lafaz bahrun in the form of mutsana (Bahrain) he interprets with two salty and fresh seas that meet each other. While lafaz bahrun in the form of jama' is only interpreted with a vast ocean. Secondly, the mufasirs with science style interpret lafaz bahrun, they interpret it in detail in terms of modern science because the sea is one part of science, because many scientific events occur in the ocean. Some examples are when interpreting lafaz bahrun with the abode of creatures unknown to humans (al-an'am: 59), some also interpret it with one of the hydrothermal processes (At-Thur: 6) then when interpreting lafaz bahrun in the form of mutsana (Bahrain) what is meant is that the salty sea meets the fresh river flow at the estuary. Third, Mufasir has a Sufi style, we know that Sufis usually see a lafaz with what is implied not what is explicit, so they are more focused on what is behind the meaning, some lafaz bahrun (ocean) which overlaps with lafaz barr (land) is interpreted with the human heart, while lafaz bahrun in the form of mutsana (Bahraini) is interpreted with a ma'rifah heart. Then lafaz bahrun in the form of mutsana (bahraini) is interpreted as ma'rifah of the heart and nakirah (Al-Furqan: 53), and finally lafaz bahrun in the plural form is hell (At-Takwir: 6).
Penafsiran Feminis Pada Ayat-Ayat Kesehatan Alat Reproduksi Wanita Agustin, Kartini Fujiyanti; Syam, Ishmatul Karimah; Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.21312

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat Al-Qur’an dalam memahami ayat-ayat tentang reproduksi perempuan dan perubahan kultural yang terjadi terhadap diskriminasi gender khususnya terhadap reproduksi perempuan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan data pustaka dan sumber primer pada Qs. Al Baqarah: 222-223, Qs. Al Baqarah: 187 dan Qs. Luqman: 31 yang membahas mengenai haid, pembuahan dan kehamilan. Hasilnya, sifat haid yang disebutkan dengan adza banyak ditafsirkan oleh ulama terdahulu sebagai kotoran atau penyakit, sehingga banyak perempuan mengalami diskrimansi ketika haid. Begitupun dengan masalah pembuahan, banyak Wanita hanya dijadikan budak nafsu semata tanpa memperhatikan kondisi dan kesiapan dirinya. Ketika hamil pun banyak suami yang tidak terlalu memperhatikan istrinya, karena tidak merasakan sakit dan lelahnya masa kehamilan, sehingga banyak dari mereka abai dan menganggap bahwa itu sudah tugas dan kodrat seorang wanita. Seiring perkembangan zaman akhirnya membawa perubahan dan pergeseran makna tafsir pada ayat-ayat reproduksi khususnya, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh feminis dunia dan Indonesia. Kesimpulannya, Al-Qur’an dan Islam telah membawa perubahan terhadap perlakuan diskriminasi masa Jahiliyah terhadap perempuan sampai saat ini. Allah SWT telah benar-benar mengangkat derajat perempuan dan memuliakannya Ketika melewati fase-fase dalam reproduksinya. Seorang laki-laki atau suami juga khususnya pada zaman ini dituntut untuk berbuat baik kepada istrinya dan membantunya melewati fase-fase tersebut. Sehingga tidak ada lagi tekanan dan diskriminasi perempuan yang seringkali hanya dianggap sebagai objek seksualitas. Penelitian sederhana ini diharapkan dapat memberi pengetahuan baru dan peringatan bagi laki-laki khususnya dalam memperlakukan seorang perempuan atau istrinya, dan dapat berguna bagi pengkaji Al-Qur’an dan masalah perempuan di masa depan.
Penafsiran Feminis Pada Ayat-ayat Tentang Relasi Perempuan dan Laki-laki di Wilayah Domestik Yahya, Muhammad; Ihsan, Muhammad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.21805

Abstract

Tulisan ini secara ringkas membahas ayat-ayat Al-Qur’an tentang relasi gender dalam wilayah domestik, yakni menyangkut penafkahan keluarga dan perceraian. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah kualitatif, melalui pengumpulan data secara pustaka (literature review). Tulisan ini kemudian menyimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan merupakan pasangan dan saling membutuhkan satu sama lain. Penafsiran dari kaum feminis menyatakan bahwa wanita juga memiliki hak untuk bekerja dan menafkahi keluarganya berdasarkan ayat ke-34 dalam surat An-Nisa, meskipun Allah Swt. telah mewajibkan laki-laki untuk menafkahi keluarga dengan tujuan untuk melindungi perempuan. Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan hak yang sama kepada wanita untuk bercerai dengan suaminya, yang dikenal dengan khulu’.
Jejak Perjalanan Perkembangan Israiliyyat Dalam Penafsiran Aisyiyyah, Lu'luatul; Fauzi, Muhammad Iqbal; Jamarudin, Ade
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.22556

Abstract

This paper aims to analyze the journey of the development of Israiliyyat in interpretation so that many influences on understanding are produced from it. The method of writing this research is qualitative library research by describing the data obtained both from the main source and other sources. This paper argues that the Qur'an is a mu'jizat book revealed by Allah SWT to His Messenger, Prophet Muhammad SAW The miracle of the Qur'an is clearly seen from the beautiful language structure with many implied meanings. Apart from being a book of miracles, the Qur'an is also a book of guidance that is able to guide humans and especially people who believe in Allah SWT towards happiness in this world and in the hereafter. In understanding this book of guidance, the scholars and even the Companions at the time of the Prophet SAW mobilized all available scientific capacity, so that the function of the Qur'an as a book of guidance could be felt in life. The stories of Israiliyyat contribute to the understanding of the implementation of the interpretation of the Qur'an. The news brought by the Jews and Christians is certainly accepted by the process of filtering the history. The entry of Israiliyyat into tafsir and hadith went through two periods: the period of narration and the period of codification. These two periods are very influential on the development of Israiliyyat which is used as a reference source or complement to existing stories. There are some scholars who reject and accept the presence of Israiliyyat into the interpretation, especially those who reject the view that Israiliyyat is one of the superstitious infiltration efforts that can shake the authenticity of the Qur'an. As for those who accept it as a complementary reference to the stories that are only briefly mentioned in the Qur'an.
Qira'at in Tafsir Al-Jalalayn: A Study of Qira'at Patterned Fi Qira'atin in Surah Al-Baqarah and Its Implications Barkia, Zulfadhli Rizqi
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.23616

Abstract

The purpose of this study is to explain the existence of qira'at with fi qira'atin pattern in Surah al-Baqarah in Tafsir Jalalayn with the theory of validity of qira'at and explain the implications of qira'at with fi qira'atin pattern on interpretation in Tafsir Jalalayn. This research uses descriptive analytical method, namely processing data with data collection techniques, then analyzing and describing it and then arranged systematically and in detail. The author collects verses in Tafsir Jalalayn which are interpreted with the Fi Qira'atin pattern in Surah Al-Baqarah. This study uses a qualitative approach that is library research. By using the theory of validity of qira'at, namely Sanad Mutawatir, in accordance with Rasm Uthmani and in accordance with the rules of Arabic. The results of this study have two findings: First, of the thirty-five readings with the pattern fi qira'atin in Surah al-Baqarah in Tafsir Jalalayn, in the aspect of sanad history, there are three qira'at that are not included in the Mutawatir qira'at (Qira'at Sab'ah and 'Asyrah), namely in Surah al-Baqarah verse 119 on the word تُسْئَلُ which is read تُسْئَلْ, Surah al-Baqarah verse 165 on the word تَطَوَّعَ which is read تَطَّوَّعَ, Surah al-Baqarah verse 254 on the word بَيْعٌ , خُلَّةٌ ,شَفَاعَةٌ read بَيْعُ , خُلَّةُ ,شَفَاعَةُ. While the other thirty-two examples are classified as qira'at Mutawatir. in the aspect of rasm utsmani there is only one letter al-Baqarah verse 259, namely the word يَتَسَنَّهْ becomes يَتَسَنَّ . From the aspect of Arabic language rules, everything is in accordance even though there are three qira'at shahzah. Second, of the thirty-five readings with the pattern of fi qira'atin in Surah al-Baqarah in Tafsir Jalalayn, all of them in terms of interpretative implications are divided into two, namely first, the interpretative implications of the nature of hypocrites, The deception of Iblis, the Actors of Repentance and the expression of repentance, the help of ALLAH to the Children of Israel, the story of the Children of Israel, the Children of Israel's denial of the promise, the impact of fanaticism, the impact of fanaticism, Akidah (about revelation and nasikh mansukh revelation), Kaaba as the center of worship, Testament to descendants, Every nation has a Qibla, Recompense for the wrongdoer, Related to Fasting, Ethics of warfare, Hajj and Umrah regulations, The law of alcohol and gambling, The recommendation to spend in the way of Allah, Related to divorce, Divorce for unmarried wives, Provisions of wills, The recommendation to spend in the way of Allah, The day of resurrection, Recognizing the power of Allah, Ethics in transactions (proof), The process of transactions (payment). Second, the implications for Arabic grammar and Qira'ah, namely in QS Al-Baqarah verse 98, QS Al-Baqarah verse 117, QS Al-Baqarah verse 119, QS Al-Baqarah verse 124, QS Al-Baqarah verse 158, QS Al-Baqarah verse 254, QS Al-Baqarah verse 259.
Critical Analysis of Aisyah Abd Al-Rahman’s Interpretation of Al-Insan’s Pronunciation in Al-Tafsir Al-Bayani Li Al-Qur’an Al-Karim Faqih, Sahlan Muhammad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.23666

Abstract

This article targets to respond critically to Bint Al-Syathi's interpretation of the term al-insan in his commentary ‘al-Tafsir al-Bayani li al-Qur'an al-Karim’. As a support for research, this article uses qualitative techniques through records collection the usage of library studies. The method uses an analytical descriptive technique if you want to provide an authentic description of the object. as well as using a historic technique to be extra comprehensive in photographing beyond events in a measurable manner. Bint Al-Syathi has an independent approach which he applies in his interpretation based totally on literary style. whilst he explains the that means of al-insan along side its context, the consequences of its meaning will now not be separated from the regulations of the Arabic language, even though he also makes use of historical considerations based on the guidelines of ‘sabab al-nuzul’. primarily based on those considerations, Bint al-Syathi constantly consistently interprets the pronunciation of al-insan because it's far interpreted as an ism of a kind which is judged based on its generality without exception. Bint al-Syathi's view is part of the consequence in strengthening his method of Tafsir, which of path additionally has some components that can not be prevented within the process of criticism.
Penafsiran Surah Al-Ma’un terkait “Orang Salat yang Celaka” Gandara, Sayiid Nurlie; Rusmana, Dadan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.23718

Abstract

Tulisan ini bertujuan membahas pendafsiran Surah Al-Mau’n terkait orang-orang salat tetapi celaka. Metode penulisannya dikerjakan secara kajian literatur (literature research). Hasil kajian pada tulisan ini bahwa seorang muslim tidak akan terlepas dari salat, karena salat itu adalah pondasi atau tiang dari agama tersebut, jadi salat merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan beragama. Jika dipahami secara mendalam di dalam salat selain ada hubungan secara langsung dengan Tuhannya secara substansi ada hubungannya juga secara sosial. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menerangkan tentang perintah salat, sebaliknya ada ancaman bagi yang meninggalkannya, akan tetapi dalam Al-Qur’an ada ayat yang mengecam bagi orang-orang yang salat. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un ayat empat fawailun lil mushallin yang artinya kecelakaan bagi orang-orang yang salat. Salat yang bagaimana yang mendapat kecaman Allah sehingga mendapat ancaman akan celaka? Dalam surat tersebut dinyatakan yaitu orang-orang yang lalai, orang-orang yang ria dan mencegah dari berbuat kebaikan. Karena itu, ayat-ayat tersebut orang-orang yang salat yang mendapat kecaman kecelakaan adalah orang-orang yang tidak menghayati secara substansi salat itu sendiri. Salat hanya dalam bentuknya saja, berdiri, ruku, sujud dan sebagainya akan tetapi tidak menghayati substansi dari salat itu senditi. Substansi dari salat diantaranya adalah penghormatan dan pengagungan kepada Allah, oleh karena itu selayaknya menghadap dan meminta harus dengan hormat dan penuh dengan kesungguhan jangan lalai, dan mintalah dengan penuh keikhlasan jangan hanya berpura-pura dan bantulah orang yang membutuhkan jangan menghalangi kepada orang yang akan berbuat baik sebagaimana kita pun ingin di bantu oleh Tuhan.  jadi makna kecelakaan dalam salat jika di rasionalkan seperti ada orang yang datang untuk meminta, akan tetapi permintaannya dengan cara yang tidak serius dan tidak sopan, dan permintaannyapun hanya berpura-pura dan dia datang meminta.
Kajian Semiotika Jacobson terhadap Dialog Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf dalam Surat Yusuf Yusuf, Maulana; Solehuddin, Solehuddin
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.23779

Abstract

Pandangan bahwa peran ayah hanya sekedar pencari nafkah mengakibatkan kurangnya tanggungjawab ayah dalam pendidikan anak. Di sisi lain, Al-Quran banyak mengkisahkan dialog antara ayah dan anak. Hal ini mengisyaratkan bahwa al-Quran mendorong agar ayah senantiasa berperan dalam pendidikan anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam al-Quran, yaitu pada kisah Nabi Ya’qub. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis data tersebut adalah penggunaan model semiotika Jakobson yaitu teori kode dan pesan (code massage). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa analisis semiotika Jacobson melahirkan kesimpulan bahwa dialog ayah dan anak pada surat Yusuf dapat dilihat dari enam faktor yaitu: (1) Pengirim yang semuanya baik kecuali sepuluh saudara Nabi Yusuf; (2) Penerima yang semuanya baik;(3) Pesan yang bervariasi dari Tauhid, Amal Shalih dan Etika; (4) Konteks situasi yang melatarbelakangi seluruh dialog; (5) Kode panggilan sebagian besar diucapkan dengan kata-kata lembut; dan (6) Kontak dalam dialog seluruhnya respon baik.