cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
Prevention of Marriage: Legal Parameters and Guardianship Rights in Islamic Law Pancarani, Silvania
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 1 (2024): Contemporary Insights into Islamic Jurisprudence: Exploring Commerce, Culture,
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i1.98

Abstract

Abstract    Pencegahan Perkawinan Pencegahan perkawinan merupakan upaya untuk membatalkan perkawinan sebelum pelaksanaannya. Pencegahan perkawinan dapat terjadi jika calon suami atau calon isteri yang hendak menikah tidak memenuhi syarat-syarat yang diatur oleh hukum Islam sesuai dengan Pasal 13 Undang-undang (UU) Nomor 1 tahun 1974. Dalam literatur fikih, pencegahan perkawinan sering disebut sebagai I’tiradlun, yang merujuk pada intervensi, penolakan, atau tindakan pencegahan. Terutama, hal ini berkaitan dengan kafa'ah dan mahar. Anak perempuan dan wali memiliki hak yang setara terkait dengan kafa'ah dan mahar. Beberapa ulama, seperti dalam kalangan Hanafiyah dan Syi'ah, memperbolehkan perempuan dewasa untuk mengawinkan diri mereka sendiri, tetapi pencegahan perkawinan masih dapat diajukan oleh wali yang berhak berdasarkan kafa'ah. Jika terjadi ketidaksepakatan antara wali dan anak terkait kafa'ah dan mahar, keduanya memiliki hak untuk melakukan pencegahan perkawinan.  Kata Kunci: Perkawinan, Analisis, Pencegahan, Hukum   Abstract Prevention of marriage Prevention of marriage is an attempt to cancel a marriage before its implementation. Prevention of marriage can occur if the prospective husband or prospective wife who wants to get married does not fulfill the conditions regulated by Islamic law in accordance with Article 13 of Law (UU) Number 1 of 1974. In fiqh literature, prevention of marriage is often referred to as I'tiradlun, which refers to intervention, refusal, or preventive action. In particular, this relates to kafa''ah and dowry. Girls and guardians have equal rights with regard to kafa''ah and dowry. Some scholars, such as the Hanafis and Shi'a, allow adult women to marry themselves, but prevention of marriage can still be requested by the rightful guardian based on kafa''ah. If there is disagreement between the guardian and the child regarding kafa''ah and dowry, both have the right to prevent the marriage.
Pengetahuan Dan Sikap Orang Banjar Mengenai Produk Farmasi Bersertifikasi Halal Akhmad Jamaluddin Fikri; Anwar Hafidzi; M. Hanafiah
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.145

Abstract

Abstract This study discusses the knowledge and attitudes of the people of Banjarmasin about halal-certified pharmaceutical products. The halal status of pharmaceutical products is in the spotlight because the Product Halal Guarantee Act requires halal certification. In the field, many drugs are unclear about their halal status, perhaps due to a lack of knowledge and public attention to this matter. This research is a field study of the knowledge and attitudes of the Banajarmasin community, with a phenomenological approach that is analyzed qualitatively descriptive. Data collection techniques using interviews. The conclusion of this study is that the level of knowledge of the banjar people regarding halal certification is high but the attitude of the banjar people regarding halal certification is low because they do not pay attention to halal-certified products when buying a medicine. Keywords: Halal certificate, Knowledge, Attitude Abstrak Penelitian ini membahas tentang pengetahuan dan siakap masyarakat Banjarmasin tentang produk farmasi bersertifikasi halal. Status kehalalan produk farmasi menjadi sorotan karena Undang-Undang Jaminan Halal Produk mengharuskan sertifikasi halal. Di lapangan, banyak obat yang belum jelas kehalalannya, mungkin karena kurangnya pengetahuan dan perhatian masyarakat terhadap hal tersebut.. Penelitian ini bersifat kajian lapangan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat Banajarmasin, dengan pendekatan fenomenologi yang dianalisis secara kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat pengetahuan orang banjar mengenai sertifikasi halal terbilang tinggi tetapi sikap orang banjar mengenai sertifikasi halal terbilang rendah karena mereka ketika membeli suatu obat tidak memperhatikan produk yang bersertifikasi halalnya. Kata Kunci: Sertifikat halal, Pengetahuan, Sikap
Integrasi Keadilan Moral, Keadilan Hukum, dan Keadilan Sosial dalam Putusan Pengadilan Rasyid Rizani; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.179

Abstract

Abstract This paper discusses the integration of moral justice, legal justice, and social justice in court decisions. The author begins by explaining the various theories of justice, both from Western and Islamic perspectives. The ideal court decision is one that balances these three principles of justice, but achieving this balance is not easy. Prioritizing legal certainty may neglect moral and social justice, while prioritizing moral and legal justice may neglect social justice. The author aims to describe and analyze how these three principles of justice can be integrated in court decisions for the benefit of the community. The paper includes a literature review, defining key terms such as integration, moral justice, legal justice, social justice, and court decisions. The author also discusses related writings on the concept of justice. The writing method used is library research supported by an empirical normative approach to a case. The paper addresses the difficulty of harmonizing the three principles of justice. Keywords: Integration, Justice, Moral, Decision, Court Abstrak Tulisan ini membahas tentang integrasi keadilan moral, keadilan hukum, dan keadilan sosial dalam putusan pengadilan. Penulis mengawalinya dengan menjelaskan berbagai teori keadilan, baik dari perspektif Barat maupun Islam. Putusan pengadilan yang ideal adalah putusan yang dapat menyeimbangkan ketiga prinsip keadilan tersebut, namun untuk mencapai keseimbangan tersebut tidaklah mudah. Mengutamakan kepastian hukum dapat mengabaikan keadilan moral dan sosial, sementara mengutamakan keadilan moral dan hukum dapat mengabaikan keadilan sosial. Penulis bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana ketiga prinsip keadilan tersebut dapat diintegrasikan dalam putusan pengadilan untuk kepentingan masyarakat. Tulisan ini mencakup tinjauan pustaka, mendefinisikan istilah-istilah kunci seperti integrasi, keadilan moral, keadilan hukum, keadilan sosial, dan putusan pengadilan. Penulis juga membahas tulisan-tulisan terkait mengenai konsep keadilan. Metode penulisan yang digunakan adalah penelitian kepustakaan yang didukung oleh pendekatan normatif empiris terhadap suatu kasus. Tulisan ini membahas tentang sulitnya menyelaraskan ketiga prinsip keadilan tersebut. Kata Kunci: Integrasi, Keadilan, Moral, Putusan, Pengadilan
Analisa Pasal 412 Kuhp Baru Tentang Kohabitasi (Pendekatan Maqashid As-Syari’ah As-Syathibi Dan Teori Social Engineering Roscoe Pound) Gusti Muslihuddin Sa’adi; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.187

Abstract

Abstract The phenomenon of cohabitation (kumpul kebo) has spreaded in the community, many couples live in the same house but do not have any marriage relations, especially among teenagers. This is very contrary to the norms that apply in society itself, the current shift in morality has triggered unrest among lawmakers, so that the cohabitation rule is included in Law No. 1 of 2023 concerning the Criminal Code (KUHP) article number 412. This research is a normative legal research, using qualitative literature research methods, the primary source used is Law No. 1 of 2023, and the sources include journals, books and scientific articles. This study aims to analyze article No. 412 of the new Criminal Code on cohabitation when viewed through the approach of Maqashid as-Shari'ah as-Syathibi and Roscoe Pound's social engineering theory. The results showed that article No. 412 on cohabitation in the new Criminal Code was in accordance with maqashid al-syariah hifz an-nasl, but was not included in dharuriyat, but included in the category of takmilat ad-dharuriyat, whose position was higher than al-hajiyat and at-tahsinaat. The prohibition of cohabitation is also an implementation of Roscoe Pound's legal theory of social engineering. The theory classifies the interests of society (public interest) precedence over private interests (private interest), so that cohabitation arrangements to maintain the morality and morals of the nation take precedence over individual freedom. Keywords: Cohabitation, Kumpul Kebo, Criminal Code, Maqashid as-Sharia, Roscoe Pound, Social Engineering Abstrak Fenomena kohabitasi (kumpul kebo) telah menjamur di masyarakat, banyak pasangan tinggal serumah namun tidak memiliki ikatan apapun, khususnya di kalangan remaja. Hal ini sangat bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat sendiri, pergeseran moralitas yang terjadi saat ini memantik keresahan pembuat undang-undang, sehingga aturan kohabitasi dimasukkan ke dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 412. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif kepustakaan, sumber primer yang digunakan adalah Undang-Undang No. 1 Tahun 2023, dan sumber skunder meliputi jurnal, buku dan artikel ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pasal 412 KUHP baru tentang kohabitasi jika ditinjau melalui pendekatan Maqashid as-Syari’ah as-Syathibi dan teori social engineering Roscoe Pound. Hasil penelitian menunjukkan pasal 412 tentang kohabitasi pada KUHP baru telah sesuai dengan maqashid al-syariah hifz an-nasl, namun tidak masuk ke dalam dharuriyat, tetapi masuk dalam katagori takmilat ad-dharuriyat, yang kedudukannya lebih tinggi dari al-hajiyat dan at-tahsinaat. Pelarangan kohabitasi juga merupakan implementasi dari teori hukum Roscoe Pound social engineering. Teori tesebut mengklasifikasikan kepentingan masyarakat (public interest) lebih didahulukan dari kepentingan pribadi (privat interest), sehingga pengaturan kohabitasi untuk menjaga moralitas dan akhlak bangsa lebih diutamakan dari pada kebebasan individual. Kata Kunci: Kohabitasi, Kumpul Kebo, KUHP Baru, Maqashid as-Syariah, Roscoe Pound, Social Engineering.
Tinjauan Teori Al-Mashlahah Al-Buthi Terhadap Hak Anak dalam Perspektif Hukum Islam dan Perjanjian Internasional Achmad Shobirin Hasbulloh; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.189

Abstract

Abstract This paper discusses children's rights in the perspective of Islamic law and international treaties and compares them using al-Buthi's al-mashlahah theory contained in his book entitled "Dlawābith al-Mashlahah fî al-Syarî'ah al-Islāmiyyah" with the aim of knowing which perspective is more accommodating to the benefit of children. This type of research is library research with a qualitative approach. According to al-Buthi, al-mashlahah becomes a proof if it is in line with maqashid al-syariah, does not contradict the Qur'an, does not contradict the Prophetic Hadith, does not contradict qiyas, and does not eliminate stronger benefits or commensurate benefits. Children's rights in the perspective of Islamic law include rights before birth and rights after birth. International treaties (Convention on the Rights of the Child) pay more attention to children's rights when they are born, so that many children's rights are forgotten. The provisions of Islamic Law regarding children's rights before and after birth are more in line with al-Buthi's al-mashlahah theory than the Convention on the Rights of the Child because they are in line with maqāshid al-syarî'ah. Children's rights should not only be in line with the child's benefit in the world, but must also be in line with the benefit for him in the hereafter. Islam has established the rights of children that benefit them in this world and in the hereafter. Keywords: Al-Buthi, Al-Mashlahah, Children's Rights, Islam, Convention Abstrak: Tulisan ini membahas hak anak dalam perspektif hukum Islam dan perjanjian internasional dan membandingkan antara keduanya menggunakan teori al-mashlahah al-Buthi yang termuat dalam kitab yang berjudul “Dlawābith al-Mashlahah fî al-Syarî’ah al-Islāmiyyah” dengan tujuan untuk mengetahui perspektif mana yang lebih mengakomodir kemaslahatan bagi anak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Menurut al-Buthi, al-mashlahah menjadi hujjah jika selaras dengan maqashid al-syariah, tidak bertentangan dengan al-Quran, tidak bertentangan dengan hadis nabawi, tidak bertentangan dengan qiyas, dan tidak menghilangkan kemaslahatan yang lebih kuat atau kemaslahatan yang sepadan. Hak anak dalam perspektif hukum Islam meliputi hak sebelum dilahirkan dan hak sesudah dilahiran. Perjanjian internasional (Konvensi Hak Anak) lebih memperhatikan hak anak saat telah dilahirkan saja sehingga banyak sekali hak anak yang terlupakan. Ketetapan Hukum Islam mengenai hak anak sebelum dan sesudah dilahirkan lebih sesuai dengan teori al-mashlahah al-Buthi daripada Konvensi Hak Anak karena sejalan dengan maqāshid al-syarî’ah. Hak anak seyogyanya tidak hanya sejalan dengan kemaslahatan anak di dunia, melainkan juga harus selaras dengan kemaslahatan untuknya di akhirat. Islam telah menetapkan hak anak yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat. Kata Kunci: Al-Buthi, Al-Mashlahah, Hak Anak, Islam, Konvensi
Analisis Hukum Islam Terhadap Batimung Dalam Pernikahan Adat Banjar Faisal, Akhmad; Nurdin, Nurdin; Hafidzi, Anwar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.192

Abstract

Abstract Batimung is a part of the traditional Banjar wedding ceremony performed by the prospective bride and groom before the wedding celebration. This tradition aims to cleanse oneself from all types of impurities, both physical and non-physical. Qualitative field research involving informants from the Banjar region through interviews was conducted to explore issues, gather facts, and provide a comprehensive explanation. From the perspective of Islamic law, batimung has permissible and prohibited aspects. Permissible aspects include cleanliness and health, where bathing with warm water and using natural ingredients like spices and flowers help cleanse the body from impurities and germs. Additionally, batimung can be seen as a way to draw closer to Allah SWT. However, prohibited aspects are related to non-Islamic beliefs, such as the belief that batimung can protect the couple from supernatural entities, which lacks a basis in Islamic teachings. In general, batimung is acceptable in Islamic law as long as it doesn't involve forbidden elements and can be interpreted as an effort to maintain cleanliness, health, and draw closer to Allah SWT. Keywords: batimung, Banjar traditional wedding, Islamic law. Abstrak Batimung merupakan bagian dari upacara pernikahan adat Banjar yang dilaksanakan oleh calon pengantin sebelum perayaan pernikahan. Tradisi ini bertujuan membersihkan diri dari segala jenis kotoran, baik secara fisik maupun non-fisik. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif di lapangan dengan melibatkan beberapa informan dari wilayah Banjar melalui wawancara, dengan tujuan menggali permasalahan, mengumpulkan fakta, dan menjelaskan secara menyeluruh. Dari perspektif hukum Islam, batimung memiliki aspek yang diperbolehkan dan yang dilarang. Aspek yang diperbolehkan termasuk kebersihan dan kesehatan, di mana mandi dengan air hangat dan menggunakan bahan alami seperti rempah-rempah dan bunga membantu membersihkan tubuh dari kotoran dan kuman. Selain itu, batimung juga dapat dianggap sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, aspek yang dilarang terkait dengan keyakinan non-Islam, seperti keyakinan bahwa batimung dapat melindungi calon pengantin dari gangguan makhluk halus, yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Secara umum, batimung dapat diterima dalam hukum Islam selama tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang, dan dapat diartikan sebagai upaya menjaga kebersihan, kesehatan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata Kunci: batimung, pernikahan adat Banjar, hukum Islam
Perampasan Aset karena Kejahatan, Tak Bertuan dan Telantar Oleh Negara untuk Pembangunan dan Investasi dalam Perwujudan Walfare State Andhi Irawan; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.194

Abstract

Abstract Asset forfeiture is a process in which the state takes control or ownership of assets that were obtained through criminal acts. It is based on court decisions that have legal force and is not dependent on punishing the perpetrators. The purpose of asset forfeiture is to recover state assets that were embezzled in cases of corruption, taxation, customs, economic crimes, and drug offenses. It also aims to recover state losses without requiring the punishment of the criminals. The proposed Asset Forfeiture Bill in Indonesia aims to provide a legal framework for cases involving large sums of money, such as corruption and drug crimes. The bill follows a non-conviction based approach, making it easier to confiscate assets derived from criminal acts. The teaching of law as a tool of social control is relevant in examining this bill and determining its commitment to justice. The current debt burden faced by the Indonesian government also adds urgency to finding solutions like asset forfeiture in order to ensure the welfare of every citizen. Keywords: Asset, seizure, investment, stranded Abstrak: Perampasan aset adalah proses di mana negara mengambil alih penguasaan atau kepemilikan aset yang diperoleh melalui tindak pidana. Proses ini didasarkan pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dan tidak tergantung pada penghukuman terhadap pelaku tindak pidana. Tujuan perampasan aset adalah untuk mengembalikan aset negara yang dikorupsi dalam kasus-kasus korupsi, perpajakan, bea cukai, kejahatan ekonomi, dan kejahatan narkoba. Perampasan aset juga bertujuan untuk mengembalikan kerugian negara tanpa harus menghukum para pelaku kejahatan. RUU Perampasan Aset yang diusulkan di Indonesia bertujuan untuk memberikan kerangka hukum untuk kasus-kasus yang melibatkan uang dalam jumlah besar, seperti korupsi dan kejahatan narkoba. RUU ini mengikuti pendekatan berbasis non-keyakinan, sehingga lebih mudah untuk menyita aset yang berasal dari tindak pidana. Ajaran hukum sebagai alat kontrol sosial sangat relevan dalam mengkaji RUU ini dan menentukan komitmennya terhadap keadilan. Beban utang yang dihadapi pemerintah Indonesia saat ini juga menambah urgensi untuk mencari solusi seperti perampasan aset untuk memastikan kesejahteraan setiap warga negara. Kata Kunci: Aset, perampasan, investasi, terlantar
Membangun Hukum Yang Adil Dalam Bingkai Moralitas Pancasila Noor Efendy; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.195

Abstract

Abstract Pancasila is used in lawmaking or becomes a big step in making laws and regulations in accordance with the spirit of the Indonesian state which is humane, just, civilized and guarantees social justice for all Indonesian people. Therefore, an understanding of Pancasila justice needs to be done to provide a common perception of justice as the basis for the formation of good law. The research method used is normative research method in positive law with a focus on analyzing legal norms which are essentially prescriptive, specific provisions and tendencies in use. Using deductive logic analysis. The characteristics of justice based on Pancasila are the values of justice in the form of principles of justice, which fulfill certain principles or principles including the principle of justice based on faith in God Almighty. Promoting justice based on God's justice, the Pancasila principle of justice prioritizes human rights and humanizes humans as social beings whose justice must be protected, the Pancasila principle of justice upholds the values of solidarity and cohesiveness to create an atmosphere conducive to the nation, providing justice to Indonesian citizens, the Pancasila principle of justice adheres to the principle of deliberation for consensus through representation in order to create justice for citizens in expressing their respective opinions and the Pancasila principle of justice provides justice to all citizens without exception in accordance with applicable regulations. Keywords: Justice, Morality, Pancasila Abstrak: Pancasila digunakan dalam pembuatan undang-undang atau menjadi langkah besar dalam pembuatan peraturan perundang-undangan sesuai dengan semangat negara Indonesia yang manusiawi, adil, beradab dan menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman tentang keadilan Pancasila perlu dilakukan untuk memberikan kesamaan persepsi tentang keadilan sebagai landasan terbentuknya hukum yang baik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian normatif dalam hukum positif dengan fokus pada analisis norma hukum yang pada hakikatnya bersifat preskriptif, khusus ketentuan dan cenderungan digunakan. Menggunakan analisis logika deduktif. Ciri-ciri keadilan berdasarkan Pancasila adalah nilai-nilai keadilan yang berupa asas keadilan, yang memenuhi asas atau asas tertentu termasuk asas keadilan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengedepankan keadilan berdasarkan keadilan Tuhan, Asas Keadilan Pancasila mengutamakan Hak Asasi Manusia dan memanusiakan manusia sebagai makhluk sosial yang keadilannya harus dilindungi, Asas Keadilan Pancasila menjunjung nilai nilai solidaritas dan kekompakan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi bangsa, memberikan keadilan kepada warga negara Indonesia, asas keadilan Pancasila menganut asas musyawarah untuk mufakat melalui perwakilan demi terciptanya keadilan bagi warga negara dalam mengemukakan pendapatnya masing-masing dan asas keadilan Pancasila memberikan keadilan kepada seluruh warga negara tanpa terkecuali sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kata Kunci: Keadilan, Moralitas, Pancasila
Demokrasi di Indonesia Mewujudkan Kedaulatan Rakyat Erla Sharfina Permata Noor; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.196

Abstract

Abstract Since the reform era in 1998, democracy has been highly valued and implemented as the governing system in Indonesia. The concept of popular sovereignty has become the main principle in democracy, where the power of governance rests in the hands of the people as the highest authority. However, realizing popular sovereignty in the complex context of Indonesia is not an easy task. This study examines various aspects that influence the implementation of democracy in Indonesia, such as the role of political parties, mass media, elections, and public participation in political decision-making. Additionally, this study also discusses the challenges and obstacles faced in achieving popular sovereignty in Indonesia, including corruption, restrictions on freedom of expression from a human rights perspective, lack of transparency, controversial money politics in elections, intolerance, discrimination, and social injustice. Overcoming these challenges requires collaborative efforts among the government, society, and all elements of the nation. This research aims to provide a deep understanding of the journey of democracy in Indonesia in realizing popular sovereignty and to encourage active contributions in strengthening democracy and preserving the integrity of the Indonesian nation. Keywords: Democracy, sovereignty, people Abstrak: Sejak reformasi tahun 1998, demokrasi telah menjadi sistem pemerintahan yang dijunjung tinggi di Indonesia. Konsep kedaulatan rakyat menjadi prinsip utama dalam demokrasi, di mana kekuasaan pemerintahan berada di tangan rakyat sebagai pemilik kekuasaan tertinggi. Namun, mewujudkan kedaulatan rakyat dalam konteks yang kompleks seperti Indonesia bukanlah hal yang mudah. Penelitian ini mengkaji berbagai aspek yang mempengaruhi pelaksanaan demokrasi di Indonesia, seperti peran partai politik, media massa, pemilihan umum, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan politik. Selain itu, penelitian ini juga membahas tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam mewujudkan kedaulatan rakyat di Indonesia, termasuk praktik korupsi, keterbaratasan kebebasan berekspresi dal persfektif hak asasi manusia, kurangnya transparansi, adanya money politic dalam pemlilihan umum yang kontroversial, intoleransi, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan demokrasi di Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan rakyat, serta mendorong kontribusi aktif dalam memperkuat demokrasi dan menjaga keutuhan negara Indonesia. Kata Kunci: Demokrasi, kedaulatan, rakyat
Menelisik Harta Perpantangan: Menggali Nilai Keadilan Distributif Dalam Adat Banjar Zainul Erfan; Ahmadi Hasan; Masyithah Umar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 4 (2023): Islamic Law, Religious Court System, and Judicial Decisions in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i4.197

Abstract

Abstract In Banjar society, inheritance is governed by three legal systems: Islamic law, customary law, and state law. These systems have been influenced by Islamic principles, but their dynamics and relationship have changed over time. In the premodern era, there was accommodation, followed by confrontation during the colonial period, legal unification in the independence era, and advancement of Islamic law in the post-modern era. This research aims to examine how the legal system operates in society, focusing on restorative justice and the principles of justice in property challenges. Specifically, the study explores the value of distributive justice in Banjar custom. Despite the theoretical expectation that the practice of inheritance division should align with the advancement of Islamic law, the reality is that Banjar society still prefers the division based on adat (customary law) and Islam, rather than solely Islamic law. Keywords: Harta, Perpantangan, justice, distributive, Banjar Abstrak: Dalam masyarakat Banjar, warisan diatur oleh tiga sistem hukum: Hukum Islam, hukum adat, dan hukum negara. Sistem-sistem ini telah dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Islam, tetapi dinamika dan hubungan mereka telah berubah dari waktu ke waktu. Pada era pramodern, terjadi akomodasi, diikuti dengan konfrontasi selama masa kolonial, penyatuan hukum pada era kemerdekaan, dan kemajuan hukum Islam pada era pasca-modern. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana sistem hukum beroperasi di masyarakat, dengan fokus pada keadilan restoratif dan prinsip-prinsip keadilan dalam sengketa properti. Secara khusus, penelitian ini mengeksplorasi nilai keadilan distributif dalam adat Banjar. Terlepas dari harapan teoritis bahwa praktik pembagian warisan seharusnya sejalan dengan kemajuan hukum Islam, kenyataannya masyarakat Banjar masih lebih memilih pembagian berdasarkan adat (hukum adat) dan Islam, daripada semata-mata hukum Islam. Kata Kunci: Harta, Perpantangan, keadilan, distributive, Banjar

Page 6 of 55 | Total Record : 550