cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Penatalaksanaan Holistik pada Lansia dengan Sindrom Metabolik dan Osteoartritis TA Larasati; Dian Isti Anggraini; Danar Fahmi Sudarsono
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) menurut ADA (American Diabetes Association), didefinisikan sebagai suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. DM dan obesitas besar kemungkinannya untuk terjadi sindroma metabolik dengan faktor risiko antara lain dislipidemia aterogenik, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar glukosa plasma. Obesitas meningkatkan risiko timbulnya gejala osteoartritis (OA). Tujuan studi ini adalah menerapkan pendekatan dokter keluarga secara holistik dan komprehensif dalam mendeteksi faktor risiko internal dan eksternal serta menyelesaikan masalah berbasis Evidence Based Medicine yang bersifat family-approached dan patient-centered. Studi ini merupakan laporan kasus. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan ke rumah dan rekam medis pasien. Hasil, seorang pasien wanita lansia 65 tahun derajat fungsional 4 dengan DM tipe II, hipertensi dan obesitas memiliki faktor risiko pola makan dan jarang berolahraga, serta pengetahuan yang kurang tentang DM tipe II. Pasien diberikan edukasi mengenai pengetahuan, pola makan dan jenis diet yang sesuai, pola olahraga dan program penurunan berat badan dan pentingnya meminum obat secara rutin dan kontrol gula darah serta kadar kolesterol. Terdapat perubahan perilaku, pasien pada tahap trial yaitu mencoba mengatur pola makan, menambah aktifitas fisiknya dan rutin kontrol penyakitnya ke pelayanan kesehatan. Kata Kunci: diabetes melitus tipe II, hipertensi, obesitas, osteoartritis, pelayanan kedokteran keluarga
Pengelolaan Anestesi pada Pasien Neoplasma Ovarium Kistik Berukuran Besar dengan Anemia Tanpa Komplikasi Merry Indah Sari; Bambang Eko Subekti; Eduard Eduard
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan anestesi pada pasien neoplasma ovarium membutuhkan persiapan matang karena risiko yang ditimbulkan selama periode perioperatif. Neoplasma Ovarium adalah tumor yang berasal dari jaringan ovarium. Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin darah, yang mampu menimbulkan syok volume apabila tidak ditangani dengan tepat sebelum operasi. Ny.D 32 tahun datang dengan keluhan perut yang membesar sejak 8 bulan, dan sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit perut pasien dirasa semakin membesar dan menimbulkan rasa tidak nyaman serta menimbulkan sesak nafas. Pasien dalam keadaan kompos mentis dengan Glasgow Coma Scale (GCS) 15, tekanan darah 110/80mmHg, frekuensi nadi 110x/menit, frekuensi pernapasan 24x/menit, suhu 36,9oC, berat badan 65 kg, tinggi badan 154 cm. Pemeriksaan fisik abdomen diperoleh hasil perut tampak cembung, tegang, nyeri tekan (-), dan teraba massa terfiksir ukuran ± 20cm x 20cm. Pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 9,9gr/dl. Dari pemeriksaan USG tampak massa kistik dengan bagian padat di dalamnya, dengan ukuran yang terjangkau probe 18cm x 14cm. Pasien di diagnosa Neoplasma Ovarium Kistik dengan dilakukan operasi Sallfing-Ooforektomi Unilateral per Laparatomi Elektif. Pasca operasi pasien stabil tanpa komplikasi. Kata kunci: anestesia, komplikasi, neoplasma ovarium kistik
Komplikasi Malaria Berat pada Infeksi Plasmodium vivax Jhons Fatriyadi Suwandi; Martin Paskal Giovani; Ronald David Martua N
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria merupakan penyakit yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh parasit protozoa genus  Plasmodium dan ditularkan pada manusia oleh gigitan nyamuk anopheles betina yang bertindak sebagai vektor malaria. Seorang wanita berusia 19 tahun datang ke UGD Rumah Sakit Jendral Ahmad Yani Metro dengan keluhan utama demam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Demamnya memiliki pola intermitten yang disertai menggigil. Keluarga pasien mengatakan sudah pernah dirawat di RS selama 5 hari dengan diagnosis akhir viral infection. Pasien mengaku sering naik gunung dan terakhir kali naik gunung 2 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 104 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 38,8oC, dan didapatkan splenomegali. Pada pemeriksaan SADT didapatkan hasil yaitu ditemukannya anemia dan Plasmodium vivax. Pada pasien dilakukan terapi berupa artesunat 2,4 mg/kgBB/12 jam, obat-obatan simtomatik, transfusi PRC dan terapi cairan berupa infus RL 2000 cc/ 24 jam. Pasien diperbolehkan pulang pada hari ke tujuh perawatan dengan obat pulang ACT oral dan obat-obatan simtomatik. Simpulan, komplikasi malaria berat dapat terjadi pada infeksi Plasmodium vivax dan pengobatan dengan menggunakan artesunat injeksi yang dilanjutkan dengan ACT oral cukup efektif. Kata kunci: malaria berat, plasmodium vivax
Laki-laki 56 Tahun, dengan Vertigo Sentral et causa Iskemik Cerebellum Anggraeni Janar Wulan; Adietya Bima Prakasa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vertigo merupakan suatu perasaan gangguan keseimbangan yang seringkali dinyatakan sebagai sensasi badan atau dunia sekelilingnya berputar-putar. Pada artikel ini disampaikan kasus Laki-laki usia 56 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Ahmad Yani, Metro dengan keluhan pusing berputar sejak dua bulan yang lalu yang dirasakan hilang timbul, Pasien mengatakan keluhan dirasakan hampir 4 kali setiap bulannya dan bertambah berat sampai pasien sulit bangun dari tempat tidur sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 140/90 mmHg dan pada pemeriksaaan neurologis didapatkan gangguan pada tes koordinasi dan tes romberg. Pada  hasil CT-scan didapatkan kesan lesi slight hipodens di hemisfercerebellum dextra dan oedem cerebri. Pasien didiagnosis dengan diagnosis vertigo sentralet causa iskemik cerebellum dan hipertensi grade 1. pasien diberikan terapi farmakologis berupa:  pemberian IVFD RL 20 tetes per menit, injeksi Citicolin 500 mg/12 jam, aspilet 80 mg/12 jam, betahistine mesylate 8 mg/12 jam, flunarizine 5 mg/24 jam, amlodipine 10 mg/24 jam dan terapi non farmakologis berupa pembatasan aktivitas. Pasien dirawat selama 3 hari lalu diperbolehkan untuk pulang setelah pasien mendapatkan edukasi. Vertigo sentral dapat terjadi akibat gangguan organ yang mengatur keseimbangan tubuh pada sistem saraf pusat dan penatalaksanaannya berupa terapi kausatif dan simptomatis. Kata kunci: iskemik, sensasi berputar, vertigo sentral
P2A0 Post Partum Hemorrhagic Post Partum Et Causa Inversio Uteri, Syok Hemoragik dan Anemia Berat Rodiani Rodiani; Susianti Susianti; Gemayangsura Gemayangsura
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi setelah persalinan pervaginam melebihi 500 mL atau lebih dari 1000 mL pada seksio sesaria. Perdarahan post partum dapat disebabkan berbagai faktor salah satunya adalah tissue contohnya inversio uteri yaing didefinisikan sebagai fundus uteri masuk ke kavum uteri bahkan ke liang vagina. Perdarahan post partum dapat menyebabkan syok selain itu dapat menyebabkan anemia. Ny. T,  P2A0, 26 tahun, datang dengan keluhan pendarahan dari kemaluan setelah melahirkan, nyeri perut dan kemaluan Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, keadaan umum tampak sakit berat, tekanan darah 80/40 mmHg, nadi 130x/m, pernapasan 28x/m, dan suhu 36,5oC. Kedua konjungtiva mata anemis dan tidak ikterik, KGB pada leher tidak membesar, mammae tampak simetris dan membesar, areola hiperpigmentasi, paru-paru dan jantung dalam batas normal. Pada status obstetrik didapatkan kesan abdomen cembung, FUT tidak teraba, kontraksi (-), perdarahan (+). Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan massa di liang vagina, fluor (-), fluksus (+), darah tidak aktif. Pemeriksaan penunjang didapatkan Hb: 4.1 g/dl, leukosit: 25.500/mm3, Ht 12%, trombosit: 205.000 /mm3. Diagnosis pasien ini P2A0 post partum spontan dengan HPP  ec inversio uteri  dengan syok hemoragik dan anemia berat.Penatalaksanaan, yaitu  observasi  tanda vital ibu dan pendarahan, O2 10L/menit, resusitasi cairan  IVFD 2 line RL 20 tetes per menit, drip 20 IU oxytocin dalam 500cc RL 20 tetes per menit Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam IV, asam traneksamat 500 mg/ 8 jam IV,. Pada pasien ini direncanakan tindakan reposisi manual uterus dalam narkose dan transfusi PRC sampai  Hb mencapai >8 g/dL. Kata Kunci:, anemia, inversio, perdarahan post partum, uteri, syok
Penatalaksanaan dan Pencegahan Tinea Korporis pada Pasien Wanita dan Anggota Keluarga Minerva Nadia Putri; Fitrianisa Burmana; Azelia Nusadewiarti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai lesi inflamasi maupun non inflamasi pada kulit yang tidak berambut (glabrous skin) yaitu seperti pada bagian muka, leher, badan, lengan, tungkai dan gluteal. Penegakan diagnosis tinea korporis berdasarkan dari gambaran klinis,  status lokalis dan pemeriksaan penunjang. Kasus ini akan membahas identifikasi faktor risiko dan klinis serta penatalaksanaan dan pencegahan tinea korporis pada wanita usia 42 tahun berdasarkan patient-centered dan family approach. Studi ini merupakan laporan kasus dengan data didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan ke rumah dan rekam medis pasien. Kasus, wanita usia 42 tahun bekerja sebagai wiraswasta, hidup dalam keluarga inti, aktifitas harian ringan, kebersihan diri dan lingkungan baik, dan hubungan antar anggota keluarga baik. Keluhan gatal dan kemerahan di sekitar lipatan ketiak, lipatan payudara dan di sekitar perut sejak kurang lebih 2 minggu. Setelah dilakukan intervensi secara holistik dengan metode edukasi didapatkan penurunan gejala klinis dan perubahan perilaku dengan menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan. Simpulan, pelayanan kedokteran keluarga efektif dalam penatalaksanaan tinea korporis. Provider tidak hanya menyelesaikan masalah klinis tetapi juga menanggulangi risiko internal, eksternal, psikososial, dan lingkungan. Kata kunci : pelayanan dokter keluarga, perubahan perilaku, tinea korporis
Sindrom Ekstra Piramidal pada Laki-Laki 29 Tahun dengan Skizofrenia Paranoid Khairun Nisa Berawi; Fathia Sabila Umar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia paranoid merupakan suatu gangguan jiwa dengan gambaran klinis di dominasi oleh waham-waham yang secara relatif stabil, sering kali bersifat paranoid, biasanya disertai oleh halusinasi-halusinasi, terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan persepsi. Gejala Sindrom Ektrapiramidal merupakan efek samping yang sering terjadi padapemberian obat antipsikotik. Tn. A 29 tahun sering mengamuk tanpa alasan yang jelas dan sering mendengar suara-suara. Pada status psikiatrikus diperoleh mood disforik, afek terbatas, keserasian appropriate, fungsi kognitif mengenai orientasi waktu dan orang baik, konsentrasi baik, daya ingat jangka pendek dan jangka panjang baik, gangguan persepsi ditemukan halusinasi audiotorik, visual, dan olfaktorik, gangguan pikiran ditemukan waham rujukan dan waham bizarre, daya nilai sosial dan uji daya nilai terganggu, tilikan terganggu derajat 1, taraf dapat dipercaya. Kemudian pasien ini dilakukan penatalaksanaan dengan medikamentosa berupa risperidone 2x3 mg, trihexyphenidyl 2x3 mg, chlorpromazine 1x25 mg. Psikoterapi edukasi dan psikoterapi suportif terhadap pasien dan keluarga, rehabilitasi sesuai bakat dan minat pasien.Diagnosa sindrom ekstra piramidal pada Tn.A 29 tahun dengan skizofrenia paranoid telah ditegakkan disertai halusinasi audiotorik, visual, olfaktori, waham rujukan dan waham bizarre. Stresor psikososial pada pasien ini adalah masalah keluarga.Kata kunci: halusinasi audiotorik, sindrom ekstrapiramidal, skizofrenia paranoid, waham bizarre
Dermatitis Kontak Iritan Et Causa Asam Salisilat Pada Lesi Post Herpes Zoster Thoracalis Sinistra Diana Mayasari; Andika Yusuf Ramadhan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis kontak iritan merupakan penyakit yang cukup sering mengenai masyarakat ditandai dengan 80% kasus dermatitis di Indonesia merupakan dermatitis kontak iritan. Insidensi dermatitis kontak iritan akibat obat di Indonesia mencapai 7,3 setiap 10.000 orang. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan asam salisilat dengan konsentrasi >5%.Pajanan asam salisilat dengan konsentrasi >5% pada lesi patologi seperti herpes zoster dapat menimbulkan dermatitis kontak iritan dengan efloresensi beragam dan lesi yang luas. Pria, 61 tahun datang ke poli penyakit kulit dan kelamin dengan keluhan sensasi panas dan nyeri serta timbul kemerahan pada kulit setelah penggunaan salep asam salisilat 12% pada lesi herpes zoster thoracalis sinistra. Sebelumnya pasien terdiagnosis herpes zoster dan sudah mengalami perbaikan, pasien lalu membeli dan menggunakan salep asam salisilat 12% dengan frekuensi 5 kali setiap hari selama 4 hari pada lesi herpes zoster. Efloresensi yang muncul setelah pajanan asam salisilat 12% berupa patches eritematosa, sebagian hiperpigmentasi dengan permukaan berskuama disertai dengan papul berdistribusi diskret berukuran lentikuler hingga numular berbentuk ireguler dengan batas tak tegas disertai dengan likenifikasi. Pasien didiagnosis dengan dermatitis kontak iritan et causa asam salisilat dan herpes zoster perbaikan. Terapi yang diberikan berupa menghentikan pajanan asam salisilat, pengobatan sistemik dan topikal. Pengobatan sistemik yang diberikan ceterizine 10 mg setiap 24 jam oral. Sedangkan pengobatan topikal yang diberikan berupa deoxymethasone cream serta chloramphenicol cream dioles setelah mandi 3 kali setiap hari.Kata kunci: asam salisilat, dermatitis kontak iritan, herpes zoster
Multigravida Hamil 36 Minggu dengan Gemeli dan Peripartum Kardiomiopati Rodiani Rodiani; Gheavani Legowo
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kardiomiopati peripartum (PPCM) adalah bentuk kegagalan jantung yang terjadi pada wanita hamil terutama dalam beberapa bulan terakhir kehamilan atau puerperium dini. Karakteristik dari kardiomiopati peripartum adalah menurunnya fraksi ejeksi ventrikel kiri dan berhubungan dengan gagal jantung kongestif, meningkatkan resiko aritmia, tromboemboli dan henti jantung mendadak. Pasien dengan preeklamsia dapat memperburuk keadaan klinis dari gagal jantung. Wanita mutigravida dengan usia kehamilan 36 minggu datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Ahmad Yani, Metro dengan keluhan sesak sejak 3 hari yang lalu, pasien juga mengeluhkan nyeri kepala serta bengkak pada kaki. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi pernapasan 32 x/menit dan pada perkusi jantung ditemukan batas jantung melebar, serta perkusi paru redup dengan auskultasi paru didapatkan suara wheezing dan ronkhi pada kedua lapang paru. Pada pemeriksaan obstetri dan USG abdomen ditemukan bahwa pasien sedang dalam keadaan hamil janin gemeli hidup dengan usia kehamilan sesuai dengan 36 minggu. Pada hasil urinalisis didapatkan protein +2, Pemeriksaan EKG didapatkan sinus takikardi dan hipertrofi ventrikel kiri. Pasien di diagnosis dengan G2P1A0 usia kehamilan 36 minggu, janin gemeli hidup intrauterine presentasi kepala dengan Peripartum Kardiomiopati. Terapi farmakologis berupa: pemberian O2 NRM 2 liter/menit, IVFD RL 10 tpm, inj. Dexametason 2x10 mg, nifedipin 10 mg/6 jam, MgSO4 sesuai protap, serta terminasi kehamilan dengan section caesaria. Kardiomiopati peripartum adalah bentuk kegagalan jantung pada wanita hamil dan penatalaksanaannya berupa terapi konsevatif dan aktif.Kata kunci: gemeli, multigravida, peripartum kardiomiopati
Diatesis Hemoragik e.c Suspek Hemofilia pada Anak Laki-Laki 8 Tahun Rasmi Zakiah Oktarlina; Radita Dewi Prasetyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diatesis hemoragik merupakan keadaan patologi yang timbul akibat kelainan faal hemostasis. Salah satu penyakit akibat kurangnya faktor koagulasi adalah hemofilia. Diatesis hemoragik akibat kelainan vaskuler, defisiensi atau disfungsi trombosit dan kurangnya faktor koagulasi. Hemofilia adalah salah satu penyakit akibat gangguan produksi faktorpembekuan yang diturunkan. Pasien hemofilia mencakup 63% seluruh pasien dengan kelainan perdarahan. Manifestasi klinis hemofilia yaitu perdarahan yang sukar berhenti. Pasien anak laki-laki, usia 8 tahun 5 bulan, datang dengan keluhan gusi berdarah yang sukar berhenti sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengaku sebelum gusi berdarah merasakan bahwa giginya goyang. Enam bulan yang lalu pasien mengalami perdarahan pada gusi yang sukar berhenti setelah melakukan pencabutan gigi oleh dokter gigi. Pada waktu itu, gusi yang berdarah tidak kunjung mengering. Dari pemeriksaan fisik keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran komposmentis, konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-), gusi berdarah (+), abdomen datar (+), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba pembesaran. Pada ektremitas tidak ditemukan memar, purpura sertapucat (-). Pada pemeriksaan penunjang laboratorium, trombosit 270.000/uL dan PT: 16,8 detik, APTT: 75,1 detik. Penatalaksanaan terdiri dari non medikamentosa meliputi rest, ice, compression, elevation pada lokasi yang mengalami perdarahan, edukasi dan memberikan dukungan psikososial bagi pasien dan keluarganya. Penatalaksanaan edikamentosaberupa injeksi asam traneksamat 250mg/8jam dan transfusi Fresh Frozen Plasma (FFP) 2x150cc. Setelah itu, pasien dirujuk ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk melakukan pemeriksaan kadar faktor VIII dan faktor IX.Kata kunci: defisiensi faktor koagulasi, diatesis hemoragik, hemofilia