cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 1 (2010)" : 12 Documents clear
Moringa oleifera Meningkatkan Fungsi Memori pada Tikus Model Kurang Energi Protein Illiandri, Oski; Widjajanto, Edi; Mintaroem, Karyono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.827 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.3

Abstract

ABSTRAKMalnutrisi mempunyai pengaruh negatif  terhadap pertumbuhan dan perkembangan  janin,  khususnya pertumbuhan otak. Gangguan pertumbuhan otak serta perkembangannya dapat menyebabkan disfungsi pada penyimpanan informasi dan proses recalling, sehingga konsekuensinya akan terjadi gangguan memori. Kerusakan oksidatif merupakan salah satu jalur penyebab yang baru dikemukakan sebagai hipotesis penyebab kerusakan otak akibat malnutrisi pada tikus. Asupan nutrisi  yang  rendah  dapat menurunkan  kadar  antioksidan  pada  tikus  otak,  kemudian  akan menyebabkan  gangguan memori  yang progresif. Moringa oleifera merupakan  sebuah  tanaman  yang populer akhir-akhir  ini untuk digunakan sebagai tambahan makanan yang mengandung antioksidan di beberapa negara miskin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh   bubuk ekstrak Moringa oleifera terhadap perbaikan fungsi memori pada tikus dengan kekurangan energi protein. Pada penelitian ini digunakan tikus wistar sebanyak 20 ekor, yang dibagi kedalam 5 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol diet malnutrisi, kelompok diet normal, kelompok diet malnutrisi yang mendapatkan tambahan  diet  bubuk  daun Moringa  oleifera  dengan  dosis  180 mg,  kelompok  diet  malnutrisi  yang  mendapatkan tambahan diet bubuk daun Moringa oleifera dengan dosis 360 mg, dan kelompok diet malnutrisi yang mendapatkan tambahan diet bubuk daun Moringa oleifera dengan dosis 720 mg. Uji Morris watermaze digunakan untuk mengukur perbaikan memori, sedangkan metode xanthin oxidase digunakan untuk mengukur kadar antioksidan otak. Potongan hipokampus diambil sepanjang 5 s.d. 6 mm pada rostral sulcus cerebrocerebelaris. Penelitian  ini dapat membuktikan bahwa bubuk ekstrak daun Moringa oleifera mampu meningkatkan kadar antioksidan SOD pada otak tikus dan mampu memperbaiki  fungsi memori pada kekurangan energi protein. Kata Kunci: Kelor, malnutrisi, M. Oleifera, morris watermaze  test, superoxide dismutase
Hubungan antara Tipe Mutasi Gen Globin dan Manifestasi Klinis Penderita Talasemia Tamam, Moedrik; Hadisaputro, Suharyo; Sutaryo, Sutaryo; Setianingsih, Iswari; Astuti, Rini; Soemantri, Agustinus
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.469 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.9

Abstract

ABSTRAKThalassemia β di populasi umum  mempunyai manifestasi klinis  yang sangat bervariasi mulai dari thalassemia ringan sampai berat. Penentuan  jenis  mutasi adalah penting  karena pengetahuan tentang tipe mutasi yang mendasari thalassemia-β diperlukan dalam pengelolaan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara  tipe mutasi dengan manifestasi klinis penderita thalassemia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional kohort prospective dilaksanakan di Unit Transfusi Darah  (UTD PMI Kota Semarang mulai bulan Januari 2006-Desember 2009. Sampel menggunakan 38 pasien thalassemia  yang dipilih secara purposive sampling dari penderita thalassemia β yang menerima transfusi. Variabel penelitian adalah jenis mutasi gen globin , manifestasi klinis, status gizi, dan kadar Hb sebelum dan sesudah transfusi. Pengukuran kadar Hb dilakukan sebelum transfusi ke-1, setelah transfusi ke-1 dan sebelum transfusi ke-22. Analisis statistik menggunakan uji  dan uji Fisher-exact. Rerata umur subyek penelitian adalah 10,1 ± 3,26 tahun, laki-laki sebesar  16 orang (42,1%) dan perempuan 22 orang (57,9%). Jenis mutasi adalah HbE/ivsnt1-nt5 (55,3%), ivs1-nt5 dan HbE CD35 (masing-masing 13,2%), HbE/ivs1-nt1 (7,9%), dan ivs5-nt1/ivs1, ivs1-nt1/ivs1-nt1, HbE/CD41-42 dan exon 1-2 normal (masing-masing 2,6%). Manifestasi klinis derajat sedang 65,8% dan berat 34,2%. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan tidak bermakna antara jenis mutasi dengan manifestasi klinis thalassemia (p=0,5). Jenis tipe mutasi gen globin  tidak berhubungan dengan derajat manifestasi klinis thalassemia.Kata kunci : Manifestasi klinis, talasemia , tipe mutasi
Kombinasi Ekstrak Batang Talikuning dan Artemisin sebagai Obat Antimalaria terhadap Plasmodium berghei Muti'ah, Roihatul; Enggar F, Loeki; Winarsih, Sri; Soemarko, Soemarko; Simamora, Dorta
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.931 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.6

Abstract

ABSTRAKMalaria, penyakit menular dengan tingkat kematian yang tinggi sekarang menghadapi penurunan kemanjuran obat obat pilihan pertama yaitu kombinasi artemisin dan amodiaquine. Talikuning (Anamirta cocculus), adalah jamu tradisional yang secara empiris digunakan sebagai antimalaria di Papua telah disarankan untuk meningkatkan efektivitas kombinasi obat antimalaria. Talikuning batang dan akar mengandung alkaloid kuartener yang dianggap memiliki aktivitas fisiologis sebagai antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk memahami efek antimalaria dari ekstrak batang talikuning dan kombinasinya dengan artemisin pada derajat parasitemia mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Peritoneal tikus yang terinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA 106 dan dibagi menjadi 11 kelompok perlakuan, kontrol negatif, kontrol positif; artemisin dosis 0,04 mg / g BB; talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB; 0, 1 mg / g BB, dan 1 mg / g BB. Dan kombinasi artemisin talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB, 0,1 mg / g BB; and1 mg / g BB. Pengobatan dimulai pada hari 0 di mana derajat parasitemia mencapai 5-15% dan dilanjutkan selama 7 hari, observasi parasitemia dilakukan pada hari 3, 5 dan 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak talikuning induk  bisa menghambat pertumbuhan Plasmodium berghei secara signifikan (p <0,05) terhadap kontrol dengan ED50 dari 0,043 mg / g BB tikus yang setara dengan 4,7 mg / kg BB manusia. Namun demikian, kombinasi dosis-talikuning artemisin tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan pengobatan monoterapi artemisin (p> 0,05) baik pada hari 3, 5 dan 7 hari pasca terapi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi-talikuning artemisin tidak berbeda dari penyediaan artemisin monoterapi.Kata Kunci : Antimalaria,  artemisin, derajat parasitemia, Plasmodium berghei, talikuning
Ekstrak Jinten Hitam Memperbaiki Penyempitan Jalan Nafas pada Model Mencit Asthma Sriwahyuni, Endang; Risza, Faradina; Yuni, Anita
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.443 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.10

Abstract

ABSTRAKRemodeling jalan nafas pada asma merupakan perubahan yang bersifat ireversibel dan di tunjukkan dengan penebalan epitel. Asma merupakan kondisi hipersensitif jalan nafas yang disebabkan inflamasi dan ditunjukkan dengan penyempitan bronkus. Jinten hitam sudah digunakan untuk pengobatan asma sejak lama. Studi dilakukan untuk menguji efek jinten hitam dalam mencegah penebalan bronkus dan membuktikan efek bronkodilator dengan peningkatan lingkar lumen bronkus pada model mencit asma betina dengan eksperimental in vivo. Mencit model asma dikembangkan dengan memberikan sensitisasi allergen ovalbumin yang diberikan intraperitoneal dua kali dalam 3 minggu (haro 0 dan 14) dilakukan per inhalasi tiga kali seminggu selama 6 minggu. Ekstrak jinten hitam diberikan dalam 3 dosis (1,2g; 2,4 g and 4,8 g/kgBB/hari) selama 9 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jintan hitam dapat mencegah penebalan epitel bronkus dengan dosisi efektif 2,4 g/Kg BB/hari dan meningkatkan lingkar lumen bronchial dengan dosis efektif 4,8 g/KgBB/hari. Dapat disimpulkan pemberian ekstrak jintan mencegah penebalan epital bronkus dan meningkatkan lingkar lumen bronchial pada mencit model asma.Kata Kunci : Asma, inflamasi, jinten hitam, lingkar lumen bronkus, penebalan epitel bronkus
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Keparahan Erupsi Obat pada Anak Barlianto, Wisnu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.006 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.7

Abstract

ABSTRAKErupsi obat merupakan respon normal terhadap kandungan atau metabolit pada obat yang muncul selama atau sesudah pemberian obat pada dosis normal. Tingkat keparahan erupsi obat di bagi menjadi dua yaitu non SJS/TEN (Stevens Johnson Syndrome/Toxic Epidermal Necrolysis) dan SJS/TEN. Penelitian ini dilakukan untuk mengindentifikasi faktor yang mempengaruhi derajat keparahan erupsi obat dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Data yang di ukur meliputi usia, jenis kelamin, riwayat atopi dan obat yang menyebabkan. Dari 34 responden yang mengalami erupsi obat 14 (41.2%) termasuk tipe SJS/TEN dan 20 (58.8%) termasuk tipe non SJS/TEN. Obat yang paling sering menyebabkan erupsi obat  adalah paracetamol (41.2%),  amoxicillin  (34.4%),  carbamazepin  (8.8%),  cotrimoksazole  (8.8%),  ceftriaxone, tetracycline dan aspirin masing-masing 2.9%. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin dan riwayat atopi dengan tingkat keparahan obat.Kata Kunci : A erupsi obat, jenis kelamin,  malnutrisi, nak, atopi,  superoxide dismutase, tes morris watermaze, umur
Korelasi Antara Transforming Growth Factor -Î’1 Monosit dengan Kebocoran Vaskuler pada Demam Berdarah Dengue Supriatna, Mohamad; Tondy, Haryson; Ermin, Tatty; Istanti, Yusrina; RMD, Kisdjamiatun
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.587 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.1

Abstract

ABSTRAKSel monosit merupakan target utama infeksi virus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dapat memproduksi faktor vasoaktif yang mempengaruhi fungsi sel endotel dan berperan dalam kebocoran vaskuler. Transforming growth factor beta 1 (TGF-1) merupakan salah satu sitokin yang mempunyai banyak peran dalam patogenesis DBD. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara TGF-1 terhadap indeks efusi pleura (IEP), total protein, albumin dan hematokrit sebagai indikator kebocoran vaskular. Studi dilakukan dengan desain cross sectional pada pasien DBD usia 13-14 tahun di RS dr. Kariadi selama Juli 2005 hingga Juli 2006. Sampel pemeriksaan adalah kultur whole blood supernatant culture yang diinduksi LPS pada subyek penelitian. Kadar monosit TGF-1, PEI, total protein, albumin dan hematokrit diukur pada hari 0 dan 2. Data di analisis dengan uji Wilcoxon dan korelasi Spearman. Pada hari 0 dan 2 dianalisis korelasi antara kadar monosit TGF-1, PEI juga protein total, albumin dan hematokrit. Rerata kadar TGF-1 monosit pada hari ke 2 (43.29±28.012 pg/ml) lebih tinggi dari hari 0 (35.27 ± 34.642 pg/ml, p=0.09, Wilcoxon test). Pada hari 0 terdapat korelasi signifikan level TGF-1 monosit dengan PEI (r=-0.31, p=0.04), tetapi tidak dengan total protein (r=0.19, p=0.2), albumin (r=0.11, p=0.5 ; r=--.08, p=0.6). Pada hari kedua tidak ada korelasi signifikan antara level TGF-1 monosit level dan PEI (r=-0.2,p=0.3), total protein (r=0.2, p=0.2), albumin (r-0.2, p=0.2) dan hematokrit (r=-0.04, p=0.8). Dapat di simpulkan bahwa TGF-1 mungkin berperan dalam proses inflamasi DBD melalui PEI sebagai salah satu indikator kebocoran plasma.Kata Kunci : Albumin, DBD, hematokrit, IEP, TGF-1, protein totalβ
GANGGUAN KESEIMBANGAN ELEKTROLIT SESUDAH KEMOTERAPI INDUKSI REMISI PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT Nugroho, Susanto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.713 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.11

Abstract

ABSTRAKGangguan keseimbangan elektrolit sering di jumpai pada leukemia limfoblastik akut pada anak karena proses leukemia, infiltrasi organ dan kematian sel akibat efek samping obat sitotoksik. Dari berbagai gangguan tersebut, gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemi, hiperfosfatemi dan hipokalsemi) juga hyperuricemia dan azotemia paling sering ditemukan. Meskipun tidak mengancam jiwa, gangguan ini berpotensi menyebabkan efek kardiotoksi akibat kemoterapi seperti kematian mendadak karena aritmia malignant. Studi retrospektif ini dilakukan untuk mengevaluasi perubahan level serum elektrolit (potasium, kalsium, dan fosfor), asam urat dan ureum pada anak dengan ALL dan menerima induksi remisi kemoterapi menggunakan protokol Indonesia ALL-2006. Subjek penelitian adalah 34 anak dengan kasus baru ALL yang menerima remisi induksi kemoterapi. Terdapat peningkatan signifikan level serum potasium (p=0,035) dan fosfor (p=0,039), sebaliknya terdapat penurunan signifikan kadar calcium serum (p=0,008). Disamping itu juga ditemukan peningkatan kadar asam urat dan ureum serum tetapi tidak signifikan. Dapat disimpulkan bahwa induksi remisi kemoterapi menggunakan protokol ALL 2006 dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit.Kata Kunci : A  ketidakseimbangan elektrolit, leukemia limfoblastik akut nak, kemoterapi,
Polimorfisme Gen CYP1A1 (3801 T/C dan Ile462Val) pada Pasien Kanker Serviks Paramita, Swandari; Soewarto, Soetomo; Aris, Mohammad; Bambang, Sutiman
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.783 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.5

Abstract

ABSTRAKKanker serviks menempati peringkat pertama kanker di Indonesia dengan faktor risiko merokok, paritas tinggi dan penggunaan kontrasepsi hormonal. Sitokrom P450 1A1 (CYP1A1) memegang peran dalam metabolism karsinogen pada kanker servik yaitu Benzo[a]pyrene dan estrogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi frekuensi dan distribusi polimosfisme gen CYP1A1 (3801 T/C and LLe462Val) pada kanker servik. Polimorfirme gen CYP1A1 dianalisis dengan menggunakan metode PCR-RFLP. Pada polimorfisme gen CYP1A1 (3801TC) ditemukan 36.1% dengan tipe wild-types T/T, 37.9% heterozigot T/C dan 25.9% homozigot C/C. Pada polimorfisme gen CYP1A1 (Ile 462Val) didapatkan 56.9% tipe wild-types Ile/Ile, 37.9% heterozigot Ile/Val dan 5.2% homozigot Val/Val. Gambaran polimorfisme tersebut sama dengan penelitian lain di Asia.Kata Kunci:  CYP1A1 gene polymorphisms, kanker servik
Efek Quercetin terhadap Kadar Adipocyte-Fatty Acid Binding Protein Sudiarto, Sudiarto; Soeharto K, Setyawati; Febrina, Shinta
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.29 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.2

Abstract

ABSTRAKDiet tinggi lemak, meningkatkan resiko aterosklerosis akibat stress oksidatif LDL yang di tunjukkan dengan peningkatan petanda  inflamasi Adipocyte Fatty Acid Binding Protein  ( A-FABP  ). Quercetin, senyawa  flavonoid mempunyai potensi antioksidan. Penelitian dilakukan untuk membuktikan efek pemberian quercetin  terhadap penurunan serum A-FABP. Desain post test only control group dilakukan dengan hewan coba tikus wistar  jantan yang di bagi dalam 2 kelompok control  dengan  diet  normal  dan  1% methylcellulose  group,  diet  tinggi  lemak  dengan  1% methylcellulose,  dan  tiga kelompok  perlakuan  dengan  diet  tinggi  lemak  dan  pemberian  quercetin  dosis  2mg/kgBB,  10mg/kgBB,  quercetin 50mg/kgBB. Berbeda dengan hipotesis uji pearson menunjukkan hubungan korelasi positif peningkatan dosis quercetin   dengan AFBP serum concentrations  ( p<0.05,  r=0,97).Kata Kunci  : Adipocyte –Fatty Acid Binding Protein, diet  tinggi  lemak, quercetin
Pemberian Jus Tomat (Lycopersicum esculentum) Per Oral Dapat Menurunkan Jumlah Sel Epitel Bronkhus Utama Tikus Putih yang Dipapar Asap Rokok Sub Kronik Handaru, Mudjiwijono; Sri, Nunuk; Srini, Indah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.009 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.12

Abstract

ABSTRAKAsap rokok mengandung radikal bebas yang dapat dipercaya dapat meningkatkan sel epitel bronkhus. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi efek jus tomat yang mengandung likopen dalam menurunkan sel epitel bronkhus akibat stres oksidatif  yang di sebabkan paparan asap subkronik pada tikus. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental pada 20 tikus jantan usia 2-3 bulan dengan berat badan 150-200 gram dan di kelompokkan dalam  kelompok kontrol positif dan negatif juga tiga kelompok perlakuan dengan pemberian jus tomat 1.15 ml/hari, 2.3 ml/hari, dan 4.6 ml/hari. Uji One-Way ANOVA dan Post hoc LSD menunjukkan bahwa peningkatan intake jus tomat menurunkan  jumlah sel epitel bronkus secara signifikan hingga sama dengan kondisi normal.Kata Kunci : Jus tomat, likopen, paparan asap rokok sub kronis, sel epitel bronkus.

Page 1 of 2 | Total Record : 12